Ditemukan 73 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Dadang Iskandar; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Bambang Wispriyono
T-2050
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Elfydec; Pemb. Budi Haryanto; Penguji: Bambang Wispriyono, Esrom Hamonangan
S-5216
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hana Nika Rustia; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Bambang Wispriyono, Warmo Sudrajat
S-5722
Depok : FKM UI, 2009
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 Pada Stasiun dan Kereta Commuter Line di DKI Jakarta Tahun 2021
Almadinah Putri Brilian; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Bambang Wispriyono, Hafizhuddin Ali
Abstrak:
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran upaya penyedia jasa transportasi umum dalam pengendalian dan pencegahan COVID-19 di transportasi umum di DKI Jakarta. Metode penelitian ini menggunakan gabungan dari penelitian kuantitatif dan kualitatif. Variabel yang diteliti yaitu pelaksanaan teknis (disinfeksi dan pembersihan lingkungan, pembersihan ventilasi, jaga jarak), aspek tenaga kerja, serta fasilitas dan penyebaran informasi pencegahan COVID-19.Data dan informasi yang digunakan berasal dari hasil wawancara serta observasi di stasiun-stasiun dan kereta.
Read More
S-10850
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lisa Dea Plasenta; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Bambang Wispriyono, Aprilia Krisliana
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit demam akut dengan pendarahan minor atau mayor, trombositopenia, dan kebocoran plasma yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypti. WHO mencatat sejak tahun 1968-2009, Indonesia menjadi negara urutan pertama di Asia Tenggara dengan kasus DBD terbanyak dan urutan kedua di dunia. Di tahun 2015, Kemenkes RI telah mencatat peningkatan jumlah Kabupaten/Kota yang terjangkit DBD di Indonesia. Dari 384 Kabupaten dan Kota meningkat menjadi 446 Kabupaten dan Kota. Salah satu Kabupaten/Kota dengan kasus DBD yang tinggi adalah Kota Tangerang Selatan. Bahkan, pada tahun 2014, Kota Tangerang Selatan menjadi penyumbang kasus DBD terbanyak di Provinsi Banten dengan 768 kasus. Terdapat faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab tingginya kasus DBD, yaitu faktor iklim, kepadatan penduduk, dan populasi nyamuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim, kepadatan penduduk, dan Angka Bebas Jentik (ABJ) dengan kejadian DBD di Kota Tangerang Selatan tahun 2016-2021. Penelitian ini menggunakan desain studi ecological time series dengan metode kuantitatif dan analisis korelasi dan regresi linear ganda. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berasal dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan; Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan; dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara suhu, kelembaban, dan ABJ dengan kejadian DBD di Kota Tangerang Selatan tahun 2016-2021 (p = 0,016; r = -0,282) (p = 0,000; r = 0,506) (p = 0,000; r = -0,558), sementara untuk curah hujan dan kepadatan penduduk menunjukkan hasil tidak signifikan dengan kejadian DBD di Kota Tangerang Selatan tahun 2016-2021 (p = 0,064; r = 0,220) (p = 0,759; r = -0,037). Dari hasil regresi linear ganda, didapatkan hasil bahwa variabel yang masuk model akhir adalah variabel kelembaban dan ABJ dan dapat menjelaskan 39,9% variasi variabel dependen kejadian DBD (R square = 0,399). Variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian DBD di Kota Tangerang Selatan tahun 2016-2021 adalah variabel kelembaban.
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an acute febrile disease with minor or major bleeding, thrombocytopenia, and plasma leakage caused by the dengue virus and transmitted by the Aedes aegypti mosquito vector. WHO noted that from 1968-2009, Indonesia became the first country in Southeast Asia with the most dengue cases and the second in the world. In 2015, the Indonesian Ministry of Health has recorded an increase in the number of districts/cities infected with dengue fever in Indonesia. From 384 regencies and cities, it increased to 446 regencies and cities. One of the districts/cities with high dengue cases is South Tangerang City. In 2014, South Tangerang City became the largest contributor to DHF cases in Banten Province with 768 cases. There are factors that can be the cause of high dengue cases, namely climate factors, population density, and mosquito populations. The purpose of this study was to determine the relationship between climatic factors, population density, and larval free rate (LFR) with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021. This research uses an ecological time series design study with quantitative methods and correlation analysis and multiple linear regression. This study uses secondary data from the South Tangerang City Health Office; Central Bureau of Statistics of South Tangerang City; and the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG). The results of this study are that there is a significant relationship between temperature, humidity, and LFR with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 (p = 0.016; r = -0.282) (p = 0.000; r = 0.506) (p = 0.000 ; r = -0.558), while rainfall and population density showed insignificant results with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 (p = 0.064; r = 0.220) (p = 0.759; r = -0.037). From the results of multiple linear regression, it was found that the variables that entered the final model were humidity and LFR variables and could explain 39.9% of the variation in the dependent variable of DHF incidence (R square = 0.399). The most influential variable on the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 is the humidity variable.
Read More
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an acute febrile disease with minor or major bleeding, thrombocytopenia, and plasma leakage caused by the dengue virus and transmitted by the Aedes aegypti mosquito vector. WHO noted that from 1968-2009, Indonesia became the first country in Southeast Asia with the most dengue cases and the second in the world. In 2015, the Indonesian Ministry of Health has recorded an increase in the number of districts/cities infected with dengue fever in Indonesia. From 384 regencies and cities, it increased to 446 regencies and cities. One of the districts/cities with high dengue cases is South Tangerang City. In 2014, South Tangerang City became the largest contributor to DHF cases in Banten Province with 768 cases. There are factors that can be the cause of high dengue cases, namely climate factors, population density, and mosquito populations. The purpose of this study was to determine the relationship between climatic factors, population density, and larval free rate (LFR) with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021. This research uses an ecological time series design study with quantitative methods and correlation analysis and multiple linear regression. This study uses secondary data from the South Tangerang City Health Office; Central Bureau of Statistics of South Tangerang City; and the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG). The results of this study are that there is a significant relationship between temperature, humidity, and LFR with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 (p = 0.016; r = -0.282) (p = 0.000; r = 0.506) (p = 0.000 ; r = -0.558), while rainfall and population density showed insignificant results with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 (p = 0.064; r = 0.220) (p = 0.759; r = -0.037). From the results of multiple linear regression, it was found that the variables that entered the final model were humidity and LFR variables and could explain 39.9% of the variation in the dependent variable of DHF incidence (R square = 0.399). The most influential variable on the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 is the humidity variable.
S-11141
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muhammad Iqbal; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Bambang Wispriyono, Yumu Kusminanti
S-10138
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Raden Pashya Mauluddy Syalsabila; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Bambang Wispriyono, Esti Tusminarti
Abstrak:
Timbal yang bersifat neurotoksik dapat diemisikan dari kegiatan daur ulang aki bekas. Terdapat aktivitas daur ulang aki bekas rumahan di Desa Cinangka yang telah beroperasi sejak 1978. Penelitian ini mengenai faktor risiko pajanan timbal yang berhubungan dan berpengaruh terhadap kejadian gangguan perkembangan mental di wilayah daur ulang aki bekas, Desa Cinangka. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol dengan analisis bivariat. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran kadar timbal dalam tanah dan air, kuesioner, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar timbal dalam tanah adalah 4.448,21 ppm dan rata-rata kadar timbal dalam air adalah 0,02 ppm. Variabel yang berhubungan dan berpengaruh terhadap gangguan perkembangan mental di wilayah daur ulang aki bekas adalah riwayat aktivitas daur ulang aki bekas di rumah (p=0,036; OR=7,000). Kesimpulan dari penelitian ini adalah di Desa Cinangka, wilayah daur ulang aki bekas, terdapat area yang memiliki kadar timbal dalam tanah melebihi baku mutu 400 ppm dari US EPA dan variabel yang berpengaruh signifikan terhadap gangguan perkembangan mental di wilayah daur ulang aki bekas adalah riwayat aktivitas daur ulang aki bekas di rumah.
Read More
S-9955
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Widyamurti; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Bambang Wispriyono, Aria Kusuma
Abstrak:
Tujuan dari penilitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara persepsi masyarakat dengan kepatuhan menerapkan kebijakan social distancing. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam Penelitian ini adalah seluruh masyarakat DKI Jakarta usia produktif (15-64 tahun). Sampel penelitian ini berjumlah 408 orang, Variabel independen berupa persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi manfaat, persepsi hambatan dan efikasi diri. Variabel dependent berupa kepatuhan menerapkan kebijakan social distancing. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner online dengan analisis data yang digunakan dalam penelitianini berupa analisis bivariate menggunakan uji chi square sedangkan analisa multivariate menggunkan uji regresi logistic.
Read More
S-10614
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tri Noviyanti Nurzanah; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Bambang Wispriyono, Athena Anwar
S-10151
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aisyah Kharisma Khan Pamrih; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Bambang Wispriyono, Mutmainah Indriyati
Abstrak:
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh yang menyebabkan anak terlalu pendek untuk umurnya sebagai akibat dari kerkurangan gizi kronis. Stunting dapat diidentifikasi dengan menilai panjang atau tinggi badan anak sesuai umurnya dimana balita dikatakan stunting jika hasil penilaian tersebut memiliki Z score <-2 standar deviasi. Pada tahun 2023 prevalensi stunting Kota Depok mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Stunting dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya higiene dan sanitasi masyarakat. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan higiene dan sanitasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara STBM dengan kejadian stunting di Kota Depok pada tahunn 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis 63 kelurahan di Kota Depok menggunakan data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Depok. Analisis data dilakukan baik secara statistik menggunakan uji korelasi dan spasial menggunakan metode overlay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara capaian pilar 5 STBM Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga dengan kejadian stunting di Kota Depok tahun 2023. Sementara, keempat pilar STBM lainnya tidak menunjukkan adanya hubungan dengan kejadian stunting di Kota Depok tahun 2023.
Stunting is a condition of failure to thrive that causes a child to be too short for his/her age as a result of chronic malnutrition. Stunting can be identified by assessing the length or height of a child according to his/her age where a child is said to be stunted if the assessment results have a Z score <-2 standard deviations. In 2023, the prevalence of stunting in Depok City increased from the previous year. Stunting is influenced by several factors, one of which is community hygiene and sanitation. Community-Led Total Sanitation (CLTS) is a government program that aims to improve community hygiene and sanitation. This study aims to analyze the relationship between STBM and the incidence of stunting in Depok City in 2023. This study used ecological study design with an analysis unit of 63 sub-districts in Depok City using secondary data from the Depok City Health Office. Data analysis was carried out both statistically using correlation tests and spatially using the overlay method. The results of this study showed that there was a significant relationship between the achievement of pillar 5 CLTS Household Liquid Waste Management and the incidence of stunting in Depok City in 2023. Meanwhile, the other four CLTS pillars did not show any relationship with the incidence of stunting in Depok City in 2023.
Read More
Stunting is a condition of failure to thrive that causes a child to be too short for his/her age as a result of chronic malnutrition. Stunting can be identified by assessing the length or height of a child according to his/her age where a child is said to be stunted if the assessment results have a Z score <-2 standard deviations. In 2023, the prevalence of stunting in Depok City increased from the previous year. Stunting is influenced by several factors, one of which is community hygiene and sanitation. Community-Led Total Sanitation (CLTS) is a government program that aims to improve community hygiene and sanitation. This study aims to analyze the relationship between STBM and the incidence of stunting in Depok City in 2023. This study used ecological study design with an analysis unit of 63 sub-districts in Depok City using secondary data from the Depok City Health Office. Data analysis was carried out both statistically using correlation tests and spatially using the overlay method. The results of this study showed that there was a significant relationship between the achievement of pillar 5 CLTS Household Liquid Waste Management and the incidence of stunting in Depok City in 2023. Meanwhile, the other four CLTS pillars did not show any relationship with the incidence of stunting in Depok City in 2023.
S-11920
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
