Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 112 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fenny Virginia Sandra Dewi; Pembimbing: Meiwita Budiharsana; Penguji: R. Sutiawan, Yulia
Abstrak: Latar belakang: Diabetes Melitus tipe 2 tidak dapat disembuhkan. Edukasimerupakan salah satu penanganan DM tipe 2. Edukasi atau Diabetes SelfManagement Education (DSME) di rumah sakit tidak optimal berdampak padalama hari rawat yang panjang.
Tujuan: untuk mengetahui karakteristik pasienDM tipe 2 di RSUP NTB tahun 2012-2013, serta mengukur asosiasi sederhana DSME terhadap lama hari rawat pasien di RSUP NTB. Desain dan
Metode: Tinjauan secara retrospektif terhadap 199 rekam medis pasien DM tipe 2.
Hasil: DSME disampaikan oleh perawat dan ahli gizi. Akan tetapi, tidak seluruh pasien mendapat edukasi. Di RSUP NTB, yang tercatat edukasi tentang: diet (53%),aktivitas fisik (33%), tentang obat (8%), komplikasi (1%), edukasi lainnya (6%),dan 27% pasien yang tidak mendapat edukasi apapun oleh perawat. Sebanyak 43.7% pasien yang mendapat konseling gizi oleh ahli gizi. Pasien yang mendapatDSME memiliki lama hari rawat yang lebih singkat dibandingkan dengan yang tidak mendapat edukasi.
Kesimpulan: berdasarkan catatan rekam medis DSMEdi RSUP NTB belum optimal dan DSME berperan mempersingkat lama harirawat pasien.
Kata kunci: Diabetes Self Management Education, DM tipe 2, lama hari rawat,rawat inap, RSUP NTB.

Background: Type 2 Diabetes Mellitus (type 2 DM) is a disease that can not becured. An adequate education is one of way management of type 2 DM. DiabetesSelf Management Education (DSME) in hospitals not adequate and impact onlength of stay.
Purpose: this study to describe characteristics of patients withtype 2 DM at General Hospital West Nusa Tenggara 2012-2013, and measuredassociation of DSME to length of stay.
Design and Method: Descriptiveresearch method with retrospective design. Number of samples involved in thisstudy is 199 medical records of patients with type 2 DM.
Result: DSMEdelivered by nurses and nutritionists. But, not all patients get DSME. DSMErecorded was about: diet (53%), exercises (33%), medicines (8%),complications of type 2 DM (1%), other education (6%), and 27% of patients donot get any DSME. Patients with DSME has shorter length of stay than patientwithout DSME.
Conclusion: according to medical records, DSME at GeneralHospital West Nusa Tenggara 2012-2013 is not optimal and DSME role inlength of stay of patients with type 2 Diabetes Mellitus.
Keywords: Diabetes Self Management Education; type 2 DM; length of stay,inpatient, RSUP NTB.
Read More
S-8468
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Listiani; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Pujiyanto, Yulia Astri FDH
Abstrak: Angka pelaporan insiden di rumah sakit merupakan standard keselamatan pasien yangmemerlukan kesadaran bagi perawat untuk melaporkannya. Rendahnya pelaporan insidendi IGD RSUPN Dr.Ciptomangunkusumo perlu diketahui penyebabnya agar insiden yangtidak dihrapkan dapat dicegah. Skripsi ini membahas tentang factor-faktor apa saja yangmemengaruhi rendahnya pelaporan insiden di IGD RSUPN dr.Cipto MangunkusumoJakartatujuan dari skripsi ini adalah untuk mengetahui factor apa saja yang berhubungandengan rendahnya pelaporan insiden di RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo serta factor apayang paling dominan. Penelitian menggunakan metode penelitian kuantitatif denganpendekatan Cross Sectional. jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 143perawat. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat, Bivariat dan multivariate.Analisis menggunakan program SPSS versi 22. Hasil penelitian 81 responden (56,6%)tidak melakukan pelaporan insiden selama 12 bulan terakhir, 62 responden (43,4%)melakukan pelaporan insiden selama 12 bulan terakhir.Hasil uji chi-square didapatkanhubungan yang bermakna (P<0,05) pada variabel Pengalaman kerja, lama jamkerja,Kepemilikan sertifikat pelatihan, Pengetahuan, Kepemimpinan Transformasional danBudaya Keselamatan Pasien.Hasil multivariate regresi logistic di dapatkan variabel yangberhubungan dengan rendahnya pelaporan insiden adalah kepemilikan sertifikat,Pengetahuan dan Budaya Keselamatan.
Kata Kunci : Pelaporan insiden, pengalaman kerja, jam kerja, setifikasi pelatihan, pengetahuan, kepemimpinan transformasional, Budaya keselamatan pasien
Read More
S-10199
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zuraida; Pembimbing: Besral; Penguji: Budi Hartono, Yulia Oktavia
Abstrak: Bakteri E.coli dapat berada dalam saluran usus halus manusia, digunakansebagai organisme indeks kontaminasi fecal, sebagai indikator kesehatankontaminasi dari sumber pencemaran makanan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungandengan adanya bakteri E.coli pada makanan, menggunakan desain cross-sectional, sampel sebanyak 36 sampel warung makan wilayah Margonda Rayadan Kartini Depok Jawa Barat, teknik sampling yang digunakan adalah totalsampling, penentuan Adanya bakteri dengan metode TPC (Total Plate Count)serta variabel independen dengan wawancara dan ceklist.Hasil penelitian faktor yang berhubungan adalah Pengetahuan, TindakanPengolahan, Fasilitas, Kondisi warung makan, dan pendidikan. Setiappeningkatan skor pengetahuan pengolahan sebesar 10 unit akan menurunkanresiko kontaminasi E.coli sebesar 1,5. Setiap peningkatan skor tindakanpengolahan sebesar 10 unit akan menurunkan resiko kontaminasi E.coli sebesar1,506. Setiap peningkatan skor fasilitas sanitasi warung makan sebesar 10 unitakan menurunkan resiko terjadinya kontaminasi E.coli sebesar 1,3. Setiappeningkatan skor kondisi warung makan sanitasi makanan penjamah sebesar 10unit akan menurunkan resiko kontaminasi E.coli sebesar 1,3. Pendidikan SMAsederajat dan lebih tinggi akan menurunkan resiko terjadinya kontaminasi E.colisebesar 5,0 kali dibandingkan dengan pendidikan kurang dari SMP sederajat.Kata Kunci : E.Coli, higiene sanitasi makanan, warung makan.
Read More
T-4559
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herol Efendi; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Hendra, Yulia Kusminanti
Abstrak: Shift kerja menjadi salah satu solusi meningkatkan produktivitas. Namun, dengan adanya shift kerja ini, akan menimbulkan berbagai dampak salah satunya adalah terganggunya siklus sirkadian yang akan menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas tidur pekerja, sehingga berdampak pada kelelahan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan shift kerja , kuantitas kualitas tidur serta faktor risiko kelelahan terhadap kelelahan tersebut penelitian ini menggunakan pendekatan observasional dengan desain studi cross sectional yang dilakukan pada pekerja petugas pengamanan kampus universitas indonesia dalam periode mei sampai juni 2017 dengan sampel 150 responden instrument yang digunakan dalam penenlitian ini adalah kuesioner industrial fatigue research committe (ifrc) dan the pittsburgh sleep quality index (psqi), serta pengukuran kualitas kuantitas tidur secara objektif melalui alat actigraph. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara sleep hygiene dengan kuantitas tidur para pekerja petugas pengamanan lingkungan kampus ui dengan nilai-p 0,044 dan ada hubungan antara kelelahan kerja dengan sleep hygiene dengan memperlihatkan hasil nilai-p 0,006

Work shift to be one solution to increase productivity. However, with the existence of this work shift, will cause various impacts one of them is the disruption of circadian rhythm which will cause decrease of quality and quantity of worker sleep, so that impact on worker fatigue. This study aims to see the correlation shift work, the quantity of sleep quality and fatigue risk factors to fatigue. The study used an observational approach with cross-sectional study design conducted on campus security guards universitas indonesia in the period may to june 2017 with a sample of 150 respondents. Used in this study are the industrial fatigue research committee (ifrc) and the sleep sleep quality index (psqi) questionnaires, as well as objective measurements of the quantity of sleep quality through the actigraph (fitbit blaze ) tool. The results showed that there was a correlation between sleep hygiene and sleep quantity of the workers of the ui campus security officer with p-value 0.044 and there was a correlation between work fatigue with sleep hygiene by showing p-value of 0.006
Read More
S-9354
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ria Siti Rabiah Zacky; Pembimbing: Ronnie Rivanie; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Yulia Sayanthi
S-5298
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayesha Nuraini; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Zakianis, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesiapsiagaan masyarakat di Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi dalam menghadapi bencana banjir saat pandemi COVID-19 yang diukur berdasarkan empat parameter yaitu a) parameter pengetahuan dan sikap tentang risiko bencana; b) parameter rencana tanggap darurat bencana banjir; c) parameter sistem peringatan bencana banjir; dan d) parameter mobilisasi sumber daya. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan metode kualitatif. Sebanyak 150 rumah tangga menjadi sampel dalam penelitiaan ini. Terdapat juga 3 informan yang diwawancari untuk mendapatkan gambaran lebih dalam mengenai lokasi penelitian. Data yang didapatkan dari rumah tangga melalui kuesioner dianalisis dengan analisa univariat dan analisa indeks kesiapsiagaan.
Read More
S-10770
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Radhia Urfa; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Puput Oktamianti, Yulia Fitria
Abstrak: Tuberkulosis merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis, sebagai kuman TB yang menyerang paru tetapi dapat mengenai organ tubuh lainnya. Kuman ini mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA). Perencanaan program penanggulangan tuberkulosis adalah proses perencanaan yang bersifat multidisiplin, lintas sektor dan lintas program untuk memberantas penyakit tuberkulosis dengan menurunkan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) karena penyakit tuberkulosis. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Penelitian menggunakan metode wawancara mendalam dan telaah dokumen. Secara umum belum tercapainya angka penemuan penderita baru BTA positif dan angka kesembuhan lebih disebabkan karena sumber daya manusia yang belum optimal baik dari segi jumlah, kemampuan dan kualifikasinya, sarana pendukung untuk proses perencanaan program yang masih kurang yaitu data yang masih kurang lengkap dan dana program untuk penanggulangan program yang masih tebatas. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan agar dalam melakukan tahapan perencanaan program penanggulangan Tuberkulosis di Puskesmas Singkil Utara perlu dilakukan lebih maksimal sehingga dalam masing-masing tahapan perencanaan tersebut memang benar-benar dilakukan dengan teratur dan terencana, diharapkan pula koordinasi dan keterpaduan antar program dan sektor lebih ditingkatkan lagi sehingga efektifitas dan efisiensi dalam penanggulangan Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Singkil Utara dapat tercapai
Read More
S-10137
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arinda Kurnitasari; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Atik Nuyrwahyuni, Yulia Oktavia
Abstrak: Skripsi ini membahas mengenai utilisasi pelayanan rawat inap program Jamkesda Kota Yogykarta tahun 2013-3015 berdasarkan jenis kepesertaan, jenis kelamin, umur, dan kelas rumah sakit. Penelitian ini adalah penelitian analisiskuantitaf yang bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional dengan mengolah data sekunder yang di dapat dari tempat penelitian. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling. Seluruh data klaim dari 1 Januari 2013 s/d 31 Desember 2015 digunakan sebagai sampel. Analisis yang dilakukan adalah analisis Univariat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengguna pelayanan rawat inap program Jaminan kesehatan Daerah Kota Yogyakarta menurun hingga setengahnya dari tahun 2013 ke tahun 2015 yaitu dari 4.644 menjadi 2.422 yang sebanding dengan peningkatan jumlah peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sedangkan rerata cost sharing pengguna berkisar Rp 1.004.640 s/d Rp 1.279.369 yang menunjukkan bahwa kemampuan bayar pengguna Jamkesda setara iuran BPJS kesehatan selama tiga tahun. Jumlah kasus rawat inap dari semua kelompok peserta menurun tetapi rata-rata biaya rawat inapnya memiliki tren bervariasi yang dipengaruhi besaran biaya diagnosis penyakit dan besaran cost sharing, yaitu pada tahun 2013 sebesar 28,7% naik menjadi 40% pada tahun 2014 dan turun di tahun 2015 menjadi 26,2%. Jumlah kasus untuk jenis kelamin perempuan lebih tinggi yaitu 1.933 (55,4%) dan 1.371 (56,6%). Meskipun demikian, rata-rata biaya rawat inap untuk jenis kelamin lakilaki selalu lebih tinggi dari jenis kelamin perempuan. Jumlah kasus terbanyak pada umur 0-4 tahun (>10%) kemudian menurun hingga umur 10-14 tahun (<4%) lalu naik lagi hingga puncaknya pada umur 50-54 tahun (7,6%-10,6%) dan setelah itu menurun hingga umur 80+. Rata-rata biaya rawat inap semakin tinggi sebanding dengan kenaikan klasifikasi kelas rumah sakit. Rumah sakit kelas A adalah yang paling tinggi rata-rata biaya rawat inapnya dan rumah sakit kelas B adalah rumah sakit yang paling banyak penggunanya sedangkan rumah sakit kelas C penggunanya paling sedikit Kata kunci: Jamkesda; Pelayanan Rawat Inap; Utilisasi
Read More
S-9045
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Athaya Rofifah Fajriah; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Atik Nurwahyuni, Yulia Fitriani
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi penyebab utama kunjungan layanan kesehatan primer di Indonesia. Data menunjukkan peningkatan jumlah kunjungan ISPA, baik pada Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP) maupun Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP), dengan rata-rata tahunan masing-masing sebesar 3,7 juta dan 19,3 juta kunjungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor sosiodemografi individu (usia, jenis kelamin, segmentasi peserta, kelas rawat) serta faktor keehatan lingkungan tingkat kabupaten/kota (kepadatan penduduk, tempat tinggal, curah hujan, suhu rata-rata, kelembapan udara, dan kecepatan angin) dan tingkat provinsi (ISPU) terhadap jumlah kunjungan ISPA di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) rawat jalan Program JKN tahun 2023. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, menggunakan unit analisis individu dan agregat wilayah. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel usia, jenis kelamin, segmentasi peserta, kelas rawat, kepadatan penduduk, tempat tinggal, suhu, kelembapan relatif, dan ISPU memiliki hubungan yang signifikan secara statistik terhadap kunjungan ISPA di FKTP lebih dari sekali. Pada analisis multivariat, faktor usia, segmentasi peserta, kepadatan penduduk, suhu, dan kecepatan angin berhubungan secara signifikan dengan kunjungan peserta ISPA ke FKTP. Variabel yang paling berpengaruh dalam model ini adalah usia balita. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan multi-level dalam upaya pengendalian ISPA melalui intervensi berbasis individu dan lingkungan.
Acute Respiratory Infections (ARI) remain a leading cause of visits to primary healthcare services in Indonesia. Data show an increase in ARI visits, both inpatient and outpatient at the primary level, with an average annual total of 3.7 million and 19.3 million visits, respectively. This study aims to analyze the relationship between individual sociodemographic factors (age, gender, participant segmentation, and treatment class), environmental health factors at the district/city level (population density, residence type, rainfall, average temperature, humidity, and wind speed), and provincial level factors (Air Pollution Standard Index, ISPU) on the number of ARI visits to Primary Healthcare Facilities (FKTP) outpatient services under the JKN program in 2023. This quantitative study uses a cross-sectional design, with individual and regional aggregate units of analysis. Bivariate analysis results show that age, gender, participant segmentation, treatment class, population density, residence, temperature, relative humidity, and ISPU have a statistically significant relationship with ARI visits to FKTP more than once. Multivariate analysis further reveals that age, participant segmentation, population density, temperature, and wind speed are significantly associated with ARI visits to FKTP. The most influential variable in the model is the age group of children under five. These findings highlight the importance of a multi-level approach in controlling ARI through both individual and environmentbased interventions.
Read More
S-12001
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Indah Iriana; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Zakianis, Yulia fitria
Abstrak:
Latar Belakang : Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang bisa menimbulkan kematian di Indonesia. Salah satu wilayah Puskesmas di Banyuwangi yang mengalami peningkatan kasus DBD tahun 2022 yang signifikan adalah Puskesmas Purwoharjo yakni lebih dari 7 kali lipat. Salah satu cara untuk mengendalikan penyakit DBD yakni dengan mengendalikan pertumbuhan jentik yakni melalui program Pemberantsan Sarang Nyamuk 3M Plus. Untuk mengetahui apakah program PSN berjalan dibutuhkan evaluasi. Tujuan : Mengevaluasi program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Demam Berdarah di Puskesmas Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan evaluasi CIPPO (Context, Input, Process, Product, Outcome) dengan pemilihan informan penelitian menggunakan metode purposive sampling serta pengambilan data menggunakan metode telaah dokumen, observasi, dan wawancara yang akan divalidasi dengan triangulasi. Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial dan fisik, termasuk masyarakat dan kebersihan lingkungan, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap program pemberantasan sarang nyamuk di lokasi pedesaan. Tujuan program ini sesuai dengan petunjuk teknis Kementerian Kesehatan, dengan sasaran utama program adalah masyarakat. Meskipun input petugas yang terlibat sudah mencukupi untuk menjalankan program ini dan dana berasal dari bantuan operasional kesehatan, anggaran yang ada belum secara spesifik dialokasikan untuk program pemberantasan sarang nyamuk. Meskipun sarana dan prasarana yang digunakan sudah cukup, namun belum ada standar operasional prosedur yang ditetapkan. Proses pemilihan kader jumantik dilakukan secara langsung dengan hambatan tugas yang tumpeng tindah, sedangkan penyuluhan kesehatan dilakukan oleh petugas puskesmas. Pemberantasan jentik nyamuk terkendala oleh kurangnya kesadaran masyarakat, dan pencatatan jentik oleh masyarakat belum terlaksana karena kurangnya sosialisasi dan peraturan yang mengikat. Selain itu, cakupan pemeriksaan rumah dan Angka Bebas Jentik (ABJ) belum memenuhi target sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan. Oleh karena itu, diharapkan agar Puskesmas Purwoharjo dapat meningkatkan koordinasi, partisipasi, dan pemberdayaan kepada masyarakat guna mencapai optimalisasi program ini.

Background: Dengue fever (DF) remains a public health problem in Indonesia that can lead to fatalities. One of the areas served by a Community Health Center (Puskesmas) in Banyuwangi that experienced a significant increase in DF cases in 2022 is Puskesmas Purwoharjo, which saw a seven-fold rise. One way to control DF is by managing mosquito breeding sites through the 3M Plus Mosquito Nest Eradication Program. An evaluation is needed to assess the implementation of the DF Mosquito Nest Eradication Program (PSN) in Puskesmas Purwoharjo, Banyuwangi Regency. Objective: To evaluate the DF Mosquito Nest Eradication Program (PSN) in Puskesmas Purwoharjo, Banyuwangi Regency. Method: This study employed a qualitative research design with the CIPPO (Context, Input, Process, Product, Outcome) evaluation approach. The selection of research informants was done using purposive sampling, and data were collected through document review, observation, and interviews, which were validated through triangulation. Results: The findings of this study indicate that the social and physical environment, including the community and environmental hygiene, significantly influence the mosquito nest eradication program in rural areas. The program's objectives align with the technical guidelines provided by the Ministry of Health, with the primary target being the community. Although the input of the involved personnel is sufficient to carry out the program and funding comes from operational health assistance, there is no specific budget allocated for mosquito nest eradication. While the facilities and infrastructure are adequate, there is a lack of established standard operating procedures. The selection process of jumantik cadres is done directly, with the challenge of overlapping duties. Health education is conducted by Puskesmas personnel. The eradication of mosquito larvae is hindered by the community's lack of awareness, and the recording of larvae by the community has not been implemented due to insufficient socialization and binding regulations. Additionally, the coverage of house inspections and the Larval-Free Index (LFI) have not met the targets set by the Ministry of Health. Therefore, it is hoped that Puskesmas Purwoharjo can improve coordination, participation, and community empowerment to optimize the program's effectiveness.
Read More
S-11409
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive