Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36654 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ibnu Mas`ud; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Mardiati Nadjib, Vetty Yulianty Permanasari, Soeko Nindito
B-1676
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R.A. Wita Ferani Kartika; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Mardiati Nadjib, Prastuti Soewondo, Sjahrul Amri, Herlin Putri Tanjung
Abstrak:
Latar Belakang. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan di Indonesia yang juga membebani kondisi RSU Bhakti Yudha karena merupakan kasus penyakit tertinggi yang memiliki nilai defisit negatif tertinggi (-112%) untuk kasus rawat inap JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) non tindakan tahun 2021. Perhitungan Cost of Treatment (COT) DBD diperlukan sebagai evaluasi biaya pelayanan agar tercipta kendali mutu dan biaya. Tujuan Penelitian ini agar diketahui cost of treatment rawat inap DBD pada pasien JKN di RSU Bhakti Yudha tahun 2021. Metode Penelitian yaitu dengan pendeketan kuantitatif untuk memperoleh informasi cost of treatment DBD. Perhitungan cost of treatment didasari oleh perhitungan unit cost pada unit produksi pelayanan DBD yaitu IGD, Laboratorium, Radiologi, dan Rawat Inap dengan metode Activity Based Costing. Sampel penelitian yaitu 109 pasien yang dipilih sesuai kriteria inklusi dan perhitungan metode Slovin. Perhitungan biaya dilakukan melalui wawancara serta studi dokumentasi dari data rekam medis, laporan keuangan, dan data terkait lainnya. Hasil penelitian diperoleh karakteristik pasien JKN dengan diagnosis DBD mayoritas kelompok umur 10-14 tahun, jenis kelamin perempuan, ruang perawatan kelas 1, dan rata-rata LOS 3,5 hari. Variasi aktivitas DBD cukup tinggi. Unit cost untuk setiap tindakan/aktivitas di unit produksi telah didapatkan untuk menghitung COT DBD. COT DBD untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 secara berurutan yaitu Rp1.910.461, Rp1.639.751, dan Rp1.906.122. Kesimpulan. Telah diperoleh COT DBD untuk pasien DBD dimana hasil COT DBD masih menunjukkan selisih negatif kelas 3 dengan tarif INA-CBG. Perlu adanya upaya efisiensi yang dilakukan dengan cara menurunkan biaya tidak langsung dengan meningkatkan utilisasi pelayanan. Upaya efisiensi yang dapat dilakukan khusus untuk pelayanan DBD adalah pembuatan Clinical Pathway dan audit kepatuhannya agar tercipta kendali mutu dan kendali biaya.
Background. Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a health problem in Indonesia which also a burden to Bhakti Yudha General Hospital due to its highest case with the highest negative deficit value (-112%) for non-operative JKN (National Health Insurance) inpatient cases in 2021. The Cost of Treatment (COT) of DHF is needed as an evaluation of service costs in order to create quality and cost control. Purpose. This study aimed to identify the cost of treatment of DHF JKN inpatients at Bhakti Yudha General Hospital in 2021. Research method. A quantitative approach to obtain information on the costs of DHF treatment. The calculation of the cost of treatment was based on the calculation of the unit cost in production units for DHF services, namely the Emergency Room, Laboratory, Radiology, and Inpatient Care using the Activity Based Costing method. The research sample was 109 patients selected according to the inclusion criteria and the calculation of the Slovin method. Cost calculations were carried out through interviews and documentation studies from medical record data, financial reports, and other related data. Result. The results show that the significant characteristics of JKN patients with DHF were age group of 10-14, female sex, class 1 treatment room, and an average LOS of 3.5 days. The variation of DHF activity was quite high. The unit costs for each activity in the production unit were obtained to calculate the COT of DHF. COT of DHF for class 1, class 2, and class 3 respectively were Rp1,910,461, Rp1,639,751, and Rp1,906,122. Conclusion. The results of DHF COT show a negative difference with INA-CBG rates for class 3. Management should carry out efficiency efforts by reducing indirect costs by increasing service utilization. Efficiency efforts that can be made specifically for DHF services are the creation of a Clinical Pathway and compliance audit to create quality control and cost control.
Read More
B-2333
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gina Tania; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Purnawan Junadi, Zulvi Wiyanti
Abstrak: Di era JKN ini, rumah sakit dituntut harus efisien dalam mengendalikan biaya layanan agar tidak melebihi tarif INA CBGs dengan catatan mutu layanan harus tetap terjaga dengan baik. Penelitian deskriptif kuantitatif ini bertujuan menganalisis biaya berdasarkan tarif rumah sakit dan klaim INA CBGs pada pasien peserta BPJS kasus sectio caesarea di RSUD dr. Doris Sylvanus pada Januari sampai Agustus Tahun 2016.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui biaya yang tidak dibayar sesuai tarif rumah sakit sebesar Rp 1.708.663.354 (42%). Biaya pelayanan persalinan sesar ringan sesuai tarif rumah sakit pada kelas 1 sebesar Rp 10.267.710,-, kelas 2 sebesar Rp 9.441.399,- dan kelas 3 sebesar Rp 8.591.730,-. Komponen biaya tertinggi adalah biaya tindakan operasi. Sehingga perlu dilakukan kajian ulang tarif pelayanan Sectio caesarea.
Kata Kunci : tarif rumah sakit, tarif INA CBGs, Sectio Caesaria.

In this National Health Insurance period, hospital ospitals are required to be efficient in controlling the cost of services so as not to exceed the tariff of INA CBGs with the quality record of the service must be maintained properly. This quantitative descriptive study aims to analyze the cost of Sectio caesarea of BPJS participants based on hospital rates and INA CBGs rates in dr. Doris Sylvanus regional public hospital on January until August 2016.
The result revealed that the unpaid cost according to hospital rates is Rp 1.708.663.354 (42%). The cost of light cesarean delivery service according to hospital rates in grade 1 is Rp 10,267,710,-, 2nd grade is Rp 9,441,399,- and grade 3rd is Rp 8,591,730,-. The highest cost component is the cost of surgery. So it is necessary to review the hospital rates of cesarean delivery service.
Keywords : hospital rate, INA CBGs rate, Sectio Caesaria
Read More
S-9621
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuliani; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Surya Ede Darmawan, Prastuti Soewondo, Puji Triastuti, Priscilla Kristianti
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kelengkapan dan ketepatan diagnosis prosedur dan koding pada klaim pasien rawat inap JKN di RSU Mayjen H. A. Thalib Kabupaten Kerinci. Penelitian ini menggabungkan penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan model triangulasi. Hasil penelitian ditemukan ketidaktepatan koding dari 105 sampel klaim yang menyebabkan kerugian rumah sakit dengan selisih klaim kurang lebih 4 %. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan dokter spesialis mengenai aturan koding yang masih rendah, pelatihan koding yang masih kurang bagi dokter spesialis, koder dan verifikator, beban kerja verifikator yang tinggi, rekam medis yang masih manual, ketiadaan SIMRS, alokasi anggaran yang masih rendah untuk meningkatkan kualitas rekam medis dan koding. Manajemen harus menyusun alur klaim, melaksanakan monitoring dan evaluasi klaim, melakukan pelatihan koding rutin, menyediakan SIMRS terintegrasi dengan billing system, rekam medis elektronik, dan menyusun indikator penilaian kinerja untuk remunerasi, menerapkan reward dan punishment bagi yang terlibat dalam klaim.
Read More
B-2134
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mastika Talib; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Mardiati Nadjib, Amal Chalik Sjaaf, Lony Novita, Trisna B. Widjayanti
Abstrak: Sistem pembayaran prospektif dengan paket INA-CBGs pada pasien JKN menuntut rumah sakit agar dapat melakukan kendali biaya dan kendali mutu. Penelitian ini bertujuan untuk menilai upaya kendali biaya dan kendali mutu di RS MH Thamrin Salemba. Penelitian dilakukan pada kasus Demam Berdarah Dengue periode Januari-Maret 2017 secara kuantitatif (n=31), dengan membandingkan selisih klaim INA-CBGs dan tagihan rumah sakit, dan secara kualitatif dengan wawancara mendalam (6 informan). Selisih negatif yang didapat sebesar Rp177.880 dengan rerata selisih negatif sebesar Rp5.738 per kasus. Komponen kamar perawatan adalah komponen biaya tertinggi pada tagihan rumah sakit (30,62%). Manajemen rumah sakit menerapkan upaya kendali biaya mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi dengan tetap mengutamakan mutu. Upaya efisiensi biaya dilakukan pada komponen farmasi, pemeriksaan penunjang, jasa medis dokter, dan kamar perawatan. Formularium RS yang digunakan sesuai dengan formularium nasional. RS MH Thamrin Salemba belum memiliki clinical pathways untuk mengontrol dan mengevaluasi pelayanan. Sistem insentif yang digunakan adalah sistem fee for service yang tidak sesuai dengan metode pembayaran prospektif. Kata kunci: kendali biaya, kendali mutu, pembayaran prospektif, tarif INA-CBGs
Read More
B-1873
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cissie Nugraha; Pembimbing: Mary Wangsarahardja; Penguji: H. M Hafizurrachman, Wresti Indriatmi
Abstrak:
Rumah sakit harus selalu berusaha untu.k meningkatkan mutu pelayanannya kepada pasien untuk menjadi yang terbaik di era globalisasi saat ini, Salah satu upaya untuk mengukut mutu pelayanan kesebatan adalah dengan mengukur kepuasan pasien. Saat ini beJum ada instrumen yang sahih dan handal untuk mengukur kepuasan pasien di lnsta1asi Rawat Jalan Poliklinik Kulit dan Kelamin RSCM. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan instrumen yang sahih dan handa1, untuk mendapatkan gambaran karakteristik pasien dan tingkat kepuasan pasien. Jenis penelitian berupa kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dipilih secara acak dengan menggunakan metode systemaric random sampling, Metode pengukuran kepuasan dengan menggunakan konsep ServQual. Penelitian ini menghasilkan instrumen yang sahih dan handal untuk mengukur kepuasan pasien, dengan nilai corrected item total correlation dan Crombach S alpha > 0,361, dan mempunyai bubungan yang kuat dan sempurna (r > 0.5). Sebagian besar responden memiliki persepsi baik terhadsp cilta RS (68,4%). persepsi mabal terhadap tarif(89,55%), ingin kembali berobat ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSCM (86,5%) dan ingin merekomendasikan kepada teman atau keluarga (84,2%). Responden yang puas adalab 18,8% dan yang Hdak puas adalah 81.2%. Nilai kapuasan tertinggi didapat pada aspek empati (0,84) dan teretulah pada aspek ketanggapan (0,80). Diperlihatkan juga adanya bubungan antara persepsi responden terhadap citra RS dengan tingkat kapuason (p=0.036), kepuasan dengan keinginan berobat kembali (p=0.024), kepuasan dengan keinginan merekomendasikan (p=O,Ol3), persepsi terhadap citra RS dengan keinginan berobat kembali (p=O,OOO), persepsi terhadap klinik RS dengan keinginan merekomendasikan klinik.
Read More
B-1008
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Alwainy; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Atik Nurwahyuni, Dumilah Ayuningtyas, Mardiati Nadjib, Fariz Mohamad Sidiq
Abstrak:
Latar Belakang. Pelayanan obat kronis pada pasien Program Rujuk Balik (PRB) dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dibiayai melalui mekanisme klaim Non INA-CBGs untuk pemenuhan terapi selama 23 hari. Posisi finansial adalah selisih biaya dengan pendapatan dalam hal ini yaitu besaran biaya pokok perolehan obat yang dikeluarkan rumah sakit dengan nilai klaim obat kronis yang diterima. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan defisit ataupun surplus yang berdampak pada keberlanjutan pembiayaan pelayanan, namun bukti empiris mengenai besarnya posisi finansial serta faktor-faktor yang berhubungan masih terbatas. Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis posisi finansial klaim obat kronis Non INA-CBGs serta faktor-faktor yang berhubungan pada pasien Program Rujuk Balik di RSU Menteng Mitra Afia. Metode. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) menggunakan data sekunder periode November 2024 hingga Mei 2026. Unit analisis terdiri atas 170 episode pelayanan obat kronis pada pasien PRB. Posisi finansial dihitung berdasarkan selisih antara biaya pokok perolehan obat dan nilai klaim obat kronis. Analisis dilakukan menggunakan uji bivariat, regresi linear multivariat, serta analisis deskriptif terhadap distribusi defisit berdasarkan kelompok diagnosis dan obat dengan selisih biaya terbesar. Hasil. Sebanyak 70,6% episode pelayanan berada pada kondisi defisit. Kelompok hipertensi memberikan kontribusi defisit kumulatif terbesar, sedangkan penyakit paru dan kelompok diagnosis lainnya memiliki rata-rata defisit per episode yang lebih tinggi. Analisis bivariat dan multivariat menunjukkan bahwa diagnosis PRB (p=0,005; p=0,002) dan jenis obat (p=0,006; p=0,013) berhubungan dengan posisi finansial. Telaah lebih lanjut menunjukkan bahwa insulin analog dan inhaler kombinasi merupakan kelompok obat dengan kontribusi defisit terbesar akibat tingginya selisih antara harga pokok perolehan dan nilai klaim yang diterima rumah sakit. Kesimpulan. Pelayanan obat kronis Non INA-CBGs pada pasien PRB di RSU Menteng Mitra Afia masih didominasi oleh kondisi defisit. Posisi finansial dipengaruhi oleh karakteristik diagnosis dan jenis obat, sementara besarnya defisit juga dipengaruhi oleh kesenjangan antara harga pokok perolehan obat dan tarif penggantian yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan perlunya penguatan strategi pengelolaan farmasi, pengadaan obat berbasis data, serta evaluasi kebijakan pembiayaan obat kronis untuk mendukung keberlanjutan pelayanan dalam sistem JKN.

Background. Chronic medication services for patients enrolled in the BPJS Kesehatan Back-Referral Program (Program Rujuk Balik/PRB) are reimbursed through the Non INA-CBG claims scheme, which covers a 23-day medication supply. The financial position reflects the difference between total revenue and total cost, represented in this study by the difference between the hospital's drug acquisition cost and the reimbursement received for chronic medication claims. This financing mechanism may result in either a financial surplus or deficit, potentially affecting the sustainability of hospital pharmaceutical services. However, empirical evidence regarding the financial position of chronic medication claims and the factors associated with it remains limited. Objective. To analyze the financial position of Non INA-CBG chronic medication claims and identify factors associated with the financial position among patients enrolled in the BPJS Kesehatan Back-Referral Program at Menteng Mitra Afia General Hospital. Methods. A quantitative cross-sectional study was conducted using secondary data collected from November 2024 to May 2026. The unit of analysis consisted of 170 chronic medication service episodes among PRB patients. Financial position was calculated as the difference between drug acquisition cost and reimbursement received for chronic medication claims. Data were analyzed using bivariate analysis, multiple linear regression, and descriptive analysis to evaluate the distribution of financial deficits across PRB diagnostic groups and medications with the largest cost-reimbursement gaps. Results. Of the 170 service episodes analyzed, 70.6% resulted in a financial deficit. Hypertension contributed the largest cumulative deficit because of its high service volume, whereas pulmonary diseases and other diagnostic groups showed higher average deficits per service episode. Both bivariate and multivariable analyses demonstrated that PRB diagnosis (p=0.005; p=0.002) and medication type (p=0.006; p=0.013) were significantly associated with financial position. Further analysis revealed that insulin analogs and combination inhalers accounted for the largest financial deficits due to substantial gaps between drug acquisition costs and reimbursement rates.Conclusion. Non INA-CBG chronic medication services for PRB patients at Menteng Mitra Afia General Hospital were predominantly characterized by financial deficits. Financial position was associated with diagnostic category and medication type, while the magnitude of the deficit was also influenced by the discrepancy between drug acquisition costs and reimbursement rates. These findings highlight the need to strengthen pharmaceutical management strategies, implement data-driven procurement practices, and periodically evaluate chronic medication reimbursement policies to support the sustainability of healthcare financing within Indonesia's National Health Insurance system. Keywords: Back-Referral Program (PRB), chronic medication services, Non INA-CBG claims, financial position, drug acquisition cost, National Health Insurance
Read More
B-2626
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Made Surya Agung; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Adang Bachtiar Kantaatmadja, Prastuti Soewondo, Budi Hartono
Abstrak: Dilaksanakannya program Jaminan Kesehatan Nasional, diharapkan memberi kepastian jaminan kesehatan menyeluruh bagi semua lapisan masyarakat. Sistem klaim pelayanan kesehatan di Rumah Sakit era JKN, dilakukan dengan tarif INACBGs. Namun terdapat keluhan adanya ketimpangan biaya tindakan dengan tarif INA-CBGs terutama pada tindakan bedah kelas III. Penelitian ini bertujuan menganalisis selisih biaya aktual pelayanan dengan tarif INA-CBGS pada tindakan Sectio Caesarea pasien JKN kelas III di Rumah Sakit Wisma Prashanti. Diambil sampel dari periode bulan Januari - Oktober 2017 sebanyak 27 pasien dengan kriteria inklusi pasien JKN kelas III dengan diagnosa utama maternal care due to uterine scar from previous surgery, untuk mengetahui perbandingan pemanfaatan layanan aktual dengan Clinical Pathway Sectio Caesarea. Perhitungan biaya aktual dilakukan dengan menggunakan metode double distribution berdasarkan data dari bagian keuangan dan laporan rumah sakit. Hasil penelitian mendapatkan bahwa biaya aktual pelayanan tindakan SC pada pasien kelas III yakni Rp. 5.658.016,75 dengan tarif INA CBGs yang dibayarkan adalah Rp.5.019.900,00, sehingga terdapat selisih negatif sebesar Rp. 638.116,75. Komponen biaya yang dinilai dapat dikontrol adalah komponen biaya operasional seperti biaya listrik, air, telepon, serta bahan medis habis pakai. Meskipun demikian, belum patuhnya staf terhadap Clinical Pathway (CP) juga berpotensi menyebabkan variasi komponen pelayanan, yang berdampak terhadap kenaikan biaya pelayanan. Pembentukan Tim Kendali Mutu dan Kendali Biaya dan Tim Anti Fraud diperlukan agar dapat secara rutin berkoordinasi dengan manajemen sehingga diketahui lebih dini penyimpangan yang ada untuk mencegah kemungkinan kerugian rumah sakit lebih banyak. Koordinasi antara manajemen dengan dokter spesialis terkait Clinical Pathway juga perlu diintensifkan agar Clinical Pathway menjadi kesepakatan bersama, serta adanya sosialisasi dan pengawasan pelaksanaannya. Selain itu upaya efisiensi juga dapat dilakukan melalui briedging Sistem Informasi Manajemen RS (SIMRS) dengan sistem INA-CBGS, dan pelaksanaan analisis unit cost setiap tahunnya untuk mengetahui tingkat efisiensi dan pencapaian kinerja unit.
Kata Kunci : Biaya aktual, Sectio Caesarea, Pasien JKN kelas III, Tarif INA-CBGs

The implementation of the National Health Insurance (JKN) program, is expected to provide health coverage for all levels of society. The claim system of health services at the Hospital, conducted by INA-CBGs tariff. However, there are complaints of cost difference between actual cost with INA-CBGs tariff especially for surgical treatment on the patients of class III. This study aims to analyze the cost differences between the actual cost of Sectio Caesarea services and INACBGS tariffs on patients JKN class III at Wisma Prashanti Hospital. 27 samples were taken from the period time of January - October 2017 with the inclusion criteria are patients of JKN class III with a primary diagnosis of maternal care due to uterine scar from previous surgery, to determine the actual service utilization compare with Clinical Pathway of Sectio Caesarea. Actual cost calculation is done by using double distribution method based on data from financial section and hospital report. The results of the study found that the actual cost of SC services in patients class III is Rp. 5,658,016.75 with INA CBGs tariff paid is Rp.5.019.900,00, so there is a negative difference of Rp. 638.116,75. Cost components that are assessed to be controlled are the components of operational costs such as electricity, water, telephone, and medical consumables. However, the lack of compliance of staff to CP also has the potential to cause variations in service components, which have an impact on the increase in service costs. It is recommended to establish a Quality and Cost Control Team and an Anti Fraud Team that can routinely coordinate with the management so that we have known the irregularities earlier to prevent hospital losses. There should be a coordination between management and specialist doctors related to Clinical Pathway as a mutual agreement, as well as the socialization and supervision of its implementation. In addition, efficiency efforts can also be done through briedging the hospital management information system with INA-CBGS system, and implementation of unit cost analysis every year to know the level of efficiency and achievement of unit performance.
Keywords: Actual Cost, Sectio Caesarea, Patients of class III with JKN, Rates INA-CBGs
Read More
B-2002
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safaruddin; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Prastuti C. Soewondo, Amila Megraini, Wibowo B. Sukijat
B-1085
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Esi Daktari Nanda; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Prastuti Soewondo, Pujiyanto, Ratna Idayati, Ns. Rachmah
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan di dunia dengan Indonesia merupakan negara tertinggi di Asia Tenggara yang masih endemik DBD. Pada tahun 2022, terjadi peningkatan kasus DBD di Aceh dengan kematian tertinggi di kota Banda Aceh. Rumah Sakit Pendidikan Universitas Syiah Kuala (RSPUSK) merupakan rumah sakit tipe D di Aceh yang beroperasional sejak tahun 2012 hingga sekarang, dengan sebagian besar kunjungan pasien merupakan pasien JKN (98,5%) dan memberikan pelayanan rawat jalan (emergensi dan poliklinik), rawat inap dan penunjang. DBD merupakan penyakit tertinggi yang dirawat inap di RSPUSK sejak tahun 2016 hingga 2022, dengan perbandingan pembayaran klaim INACBGs lebih rendah yaitu sebesar 50% daripada besaran tagihan perawatan rumah sakit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tagihan perawatan DBD pasien JKN di RSPUSK Aceh pada tahun 2022. Metode penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional digunakan dalam penelitian ini dengan sampel berupa total sampling dari data sekunder rekam medis RSPUSK tahun 2022 yang telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian menemukan bahwa rata-rata tagihan perawatan DBD pasien JKN di RSPUSK Aceh tahun 2022 adalah sebesar Rp. 2.549.946. Faktor lama rawat / Lenght of Stay (LOS) berhubungan dengan tagihan perawatan DBD pasien JKN di RSPUSK Aceh tahun 2022 sedangkan faktor umur, jenis kelamin, kelas rawatan, Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) dan komorbid tidak berhubungan secara signifikan. Terdapat peluang efisiensi yang harus dilakukan di internal manajemen terkait dengan tata kelola pelayanan DBD yang dipicu oleh pemeriksaan laboratorium, radiologi, pemberian obat dan perilaku DPJP. Apabila hal ini bisa dikendalikan dengan baik maka overutilisasi dapat dikendalikan. Upaya yang dapat dilakukan berupa penyusunan struktur tarif rumah sakit berbasis unit cost; optimalisasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS); dan update Clinical Pathway yang dilanjutkan dengan sosialisasi, supervisi maupun monitoring evaluasi secara berkala sebagai upaya mengawal perilaku DPJP dan menjaga mutu layanan rumah sakit.

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) still being a health problem in the world that Indonesia is the highest country in Southeast Asia where DHF is still endemic. In 2022, DHF cases increase in Aceh with the highest morbidity in Banda Aceh. The Syiah Kuala University Teaching Hospital (RSPUSK) is a type D hospital in Aceh which has been operating since 2012 until now, with the majority of patient visits are JKN patients (98.5%) and providing emergency, policlinic, inward hospitalization and another healthcare support services. DHF is the highest disease that was hospitalized at RSPUSK from 2016 to 2022, with INACBGs claim payments 50% lower than the amount of hospital bill. This study was conducted to determine the factors associated with DHF treatment bills for JKN patients at the Aceh RSPUSK in 2022. The quantitative research method with a cross-sectional design was used in this study with the sample being the total sampling from secondary data from medical records at RSPUSK in 2022 which had fulfilled inclusion and exclusion criteria. The results of the study found that the average DHF treatment bill for JKN patients at the Aceh RSPUSK in 2022 was Rp. 2.549.946. Length of Stay (LOS) is a factor associated to DHF treatment bills for JKN patients at RSPUSK Aceh in 2022, while the factors of age, gender, class of treatment, medical specialist and comorbidities are not significantly associated. There are efficiency opportunities that must be carried out in internal management hospital related to DHF healthcare services which are triggered by laboratory tests, radiology, drug administration and medical specialist behavior. If this can be controlled properly then overutilization can be controlled well. Efforts that can be made are: calculating and forming the hospital tariff structure based on unit cost method; optimizing the Hospital Management Information System; and updating the Clinical Pathway which is followed by socialization, supervision and evaluation monitoring regularly as an effort to oversee the behavior of specialist and maintain the quality of hospital services.
Read More
B-2314
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive