Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33411 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ruth Handayani; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Krisnawati Brantas, Fatum Basalama
Abstrak: Tahun 2012, kanker serviks merupakan kanker terbanyak keempat yang diderita perempuan di dunia dan merupakan kanker terbanyak kedua di Indonesia. Pencegahan kanker serviks dapat dilakukan dengan deteksi dini. Tahun 2007 Indonesia menerapkan program skrining IVA (Inspeksi Visual Asam asetat) sebagai bentuk deteksi dini kanker serviks. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan provinsi sebaga unit agregat. Data sekunder yang digunakan berasal dari subdirektorat penyakit kanker, Kementerian Kesehatan dengan variabel terikat cakupan skrining IVA dan variabel bebas tenaga kesehatan, puskesmas IVA, kasus IVA positif, kasus IVA positif yang dikrioterapi, dan curiga kanker serviks. Korelasi kuat ditujukan antara persentase kasus IVA positif yang dikrioterapi dengan cakupan skrining IVA (Rs=0,661; p=0,001) dan antara curiga kanker serviks dengan cakupan skrining IVA (Rs=0,549; p=0,001). Meningkatnya cakupan IVA akan meningkatkan pengobatan segera kanker serviks. Untuk meningkatkan cakupan skrining IVA diperlukan kurikulum pendidikan skrining IVA untuk pendidikan dokter dan kebidanan.
 

 
In 2012 cervical cancer is the fourth highest cancer suffered by women in the world and is the second largest cancer in Indonesia. Cervical cancer can be prevented by early detection. In 2007, Indonesia implemented a screening programe named VIA (Visual Inspection Acetic Acid) for early detection for cervical cancer. This study uses the ecological design with Province as the aggregate unit. We used secondary data from subdit cancer, Ministry of Health Republic of Indonesia with the dependent variable of VIA screening coverage and independent variables of health personnel, VIA health centers, VIA positive, Cryoteraphy for VIA positive, and suspected of cervical cancer. The strong correlation shows between the percentage of positive VIA with cryoteraphy and coverage VIA screening (Rs=0,661; p= 0,001) and among suspected of cervical cancer with coverage of cervical cancer VIA screening (Rs= 0,549; p= 0,001). The increase of VIA coverage will improve immediate treatment for cervical cancer. To improve VIA screening we required educational curriculum for medical education and midwifery.
Read More
S-8856
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Livian Chessa Evangelista; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Ratna Djuwita, Radhiana Purisanti
Abstrak:
Kanker serviks menempati urutan ketiga kanker terbanyak di Indonesia dengan 36.964 kasus baru dan menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi kedua pada perempuan dengan 20.708 kematian. Kementerian Kesehatan merespon situasi ini dengan menginisasi Rencana Aksi Nasional: Eliminasi Kanker Leher Rahim Tahun 2023-2030 untuk memperkuat deteksi dini pada perempuan. Di Provinsi DKI Jakarta, program skrining telah dilaksanakan melalui pendekatan co-testing HPV DNA dan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan hasil IVA positif menggunakan desain cross-sectional berdasarkan Data Hasil Skrining Kanker Serviks Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2025, dengan melibatkan 149.879 peserta yang dianalisis menggunakan perhitungan prevalence ratio (PR). Prevalensi IVA positif ditemukan sebesar 0,7% (1.093 peserta). Analisis bivariat menunjukkan kelompok usia < 30 tahun memiliki prevalensi IVA positif tertinggi, di mana kelompok usia 30-39 tahun (PR: 0,65; 95% CI: 0,568-0,750), 40-49 tahun (PR: 0,34; 95% CI: 0,293-0,411), dan ≥ 50 tahun (PR: 0,17; 95% CI: 0,144-0,222) menunjukkan prevalensi yang lebih rendah. Infeksi high-risk HPV merupakan faktor dengan asosiasi terkuat terhadap IVA positif (PR: 3,3; 95% CI: 2,656-4,101), dengan asosiasi yang semakin kuat pada genotipe hr-HPV tipe 16/18 (PR: 3,92; 95% CI: 2,869-5,365). Inisiasi hubungan seksual <18 tahun (PR: 1,51; 95% CI: 1,231-1,841), riwayat persalinan pertama <20 tahun (PR: 1,46; 95% CI: 1,196-1,784), dan status nullipara berhubungan dengan peningkatan prevalensi IVA positif, di mana kelompok multipara rendah (PR: 0,61; 95% CI: 0,535-0,695) dan kelompok grand multipara (PR: 0,40; 95% CI: 0,319-0,507) menunjukkan prevalensi lebih rendah dibanding nullipara. Penggunaan kontrasepsi, baik hormonal (PR: 1,44; 95% CI: 1,172-1,795) maupun non-hormonal (PR: 1,41; 95% CI: 1,175-1,701), menunjukkan prevalensi IVA positif yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak menggunakan KB. Status merokok membentuk pola dose-response yang konsisten, di mana perokok aktif memiliki prevalensi IVA positif 2,94 kali lebih tinggi (PR: 2,94; 95% CI: 2,294-3,774) dan perokok pasif 1,20 kali lebih tinggi (PR: 1,20; 95% CI: 1,018-1,437) dibandingkan yang tidak merokok. Studi ini menyimpulkan bahwa infeksi hr-HPV, usia muda, inisiasi seksual dan persalinan dini, paritas, penggunaan kontrasepsi, serta status merokok berhubungan bermakna dengan hasil IVA positif, sekaligus menekankan perlunya penguatan program skrining yang lebih inklusif dan berbasis faktor risiko di DKI Jakarta.

Cervical cancer ranks third among the most common cancers in Indonesia with 36,964 new cases and stands as the second leading cause of cancer death among women with 20,708 deaths. The Ministry of Health responded to this situation by initiating the National Action Plan: Elimination of Cervical Cancer 2023-2030 to strengthen early detection among women. In DKI Jakarta, screening has been implemented through a co-testing approach combining HPV DNA testing and Visual Inspection with Acetic Acid (VIA). This study aimed to analyze factors associated with positive VIA results using a cross-sectional design, drawing on cervical cancer screening data from the DKI Jakarta Provincial Health Office for 2025, involving 149,879 participants analyzed using prevalence ratio (PR) calculations. The prevalence of positive VIA was 0.7% (1,093 participants). Bivariate analysis showed that the age group below 30 years had the highest positive VIA prevalence, with older age groups showing lower prevalence: 30-39 years (PR: 0.65; 95% CI: 0.568-0.750), 40-49 years (PR: 0.34; 95% CI: 0.293-0.411), and ≥ 50 years (PR: 0.17; 95% CI: 0.144-0.222). High-risk HPV infection demonstrated the strongest association with positive VIA (PR: 3.3; 95% CI: 2.656-4.101), particularly for hr-HPV genotypes 16/18 combined (PR: 3.92; 95% CI: 2.869-5.365). Sexual debut before age 18 (PR: 1.51; 95% CI: 1.231-1.841), first delivery before age 20 (PR: 1.46; 95% CI: 1.196-1.784), and nulliparity were associated with higher positive VIA prevalence, while low multiparity (PR: 0.61; 95% CI: 0.535-0.695) and grand multiparity (PR: 0.40; 95% CI: 0.319-0.507) showed lower prevalence compared to nulliparous women. Contraceptive use, both hormonal (PR: 1.44; 95% CI: 1.172-1.795) and non-hormonal (PR: 1.41; 95% CI: 1.175-1.701) was associated with higher positive VIA prevalence compared to non-users. Smoking status demonstrated a consistent dose-response pattern, with active smokers showing 2.94 times higher prevalence (PR: 2.94; 95% CI: 2.294-3.774) and passive smokers 1.20 times higher (PR: 1.20; 95% CI: 1.018-1.437) compared to non-smokers. This study concludes that hr-HPV infection, young age, early sexual debut and childbearing, parity, contraceptive use, and smoking status are all significantly associated with positive VIA results, underscoring the need for more inclusive, risk-factor-based cervical cancer screening programs in DKI Jakarta.
Read More
S-12478
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uswatun Hasanah; Pembimbing: Ratna Djuita; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Ocvianty, Dwiana, Deliani, Santi
Abstrak: Kanker leher rahim merupakan kanker nomer dua terbanyak diderita oleh perempuan di seluruh dunia dan penyebab kematian akibat kanker yang paling utama, khususnya bagi perempuan di negara-negara berkembang (WHO, 2002). Prevalensi kanker leher rahim di wilayah DKI Jakarta sebesar 1,2 dari 5.919 pada wanita yang melakukan skrining dan Provinsi Jawa Barat sebesar 0,7 dari 15.635 wanita. Sebelum terjadinya kanker leher rahim akan didahului dengan keadaan yang disebut lesi prakanker. Prevalansi lesi prakanker leher rahim tahun 2012 sebesar 4,5%. Salah satu faktor resiko lesi prakanker leher rahim yaitu usia pertama kali berhubungan seksual < 17 tahun yang saat ini masih tinggi di masyarakat. Penelitian ini membahas hubungan usia pertama kali berhubungan seksual dengan kajadian lesi prakanker leher rahim pada wanita yang melakukan skrining dengan metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) di wilayah kerja Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa dengan sasaran penerima manfaat. Penelitian dilakukan dengan desain kasus kontrol dengan jumlah sampel 230 yang terdiri dari 46 kasus dan 184 kontrol. Analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil menunjukkkan bahwa usia pertama kali berhubungan seksual < 17 tahun meningkatkan resiko lesi prakanker leher rahim OR 4,092 (CI,1,769-9,464). Oleh karenanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang faktor resiko kanker leher rahim melalui edukasi, pendewasaan usia pernikahan serta deteksi dini melalui pemeriksaan rutin akan membantu mengurangi kasus lesi prakanker leher rahim. Kata Kunci: Kanker Leher Rahim, Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) positif Cervical cancer is second most common worldwide cancer afflict to women and leading cause of cancer deaths, particularly for women in developing countries (WHO, 2002). The prevalence of cervical cancer in women who has been screening in Jakarta around 1,2 from 5,919 and around 0.7 out of 15,635 in West Java. The diagnosis of cervical cancer will be preceded by a condition called pre-cancerous lesions. Prevalence of pre-cancerous cervical lesions in 2012 is 4.5%. One of the risk factors of pre-cancerous cervical lesions is age less than <17 years of first sexual intercourse which is still high in society. This study explained relationship between first-time sexual intercourse with the occurrence of cervical pre-cancer lesions in female beneficiaries doing early detection using Visual Acetic Acid Inspection (IVA) at Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa. The study was conducted with case control design of 230 total sample consisting of 46 cases and 184 control. Multivariate analysis used logistic regression. Results showed first age of intercourse less than <17 years increased risk of pre-cancerous cervical lesions OR 4,092 (CI, 1,769-9,464). According to this study increased knowledge and understanding of risk factors for cervical cancer through education, control of marriage age and early detection with periodically checkup will reduce cases of pre-cancerous cervical lesions. Keywords: Cervical Cancerous, Positive Visual Inspection With Acetic Acid
Read More
T-5075
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Frides Susanty; Pembimbing: Krisnawati Bantas, Helda; Penguji: Yovsyah, Laila Nuranna
Abstrak: ervisitis merupakan bagian dari Infeksi Menular Seksual (IMS), dengan perkembangan bidang sosial, demografik dan meningkatnya migrasi penduduk, populasi berisiko tinggi akan semakin meningkat. WHO memperkirakan 376 juta infeksi baru dengan 1 dari 4 IMS yaitu: klamidia (127 juta), gonore (87 juta), sifilis (6,3 juta) dan trikomoniasis (156 juta). Penelitian Gatot dkk menunjukkan 11,9 % pasien mengalami servisitis. Penelitian Iskandar, dkk prevalensi infeksi serviks (klamidia 9,3 % dan gonore 1,2 %). Berdasarkan hasil SDKI, terjadi peningkatan tren pemakaian kontrasepsi di Indonesia sejak tahun 1991 sampai 2017. Secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara servisitis dengan infeksi HPV, sehingga bila servisitis tidak ditangani dengan baik, maka akan meningkatkan risiko untuk terinfeksi HPV. Seseorang dengan gejala servisitis mukopurulen meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian servisitis. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, dengan desain cross sectional study. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari hasil pemeriksaan IVA puskesmas yang didampingi Female Cancer programme (FcP) di DKI Jakarta tahun 2017-2019. Jumlah sampel 3563 orang, yaitu memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis yang digunakan logistic regression. Prevalensi penyakit servisitis pada penelitian ini 11,20%. Terdapat hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian servisitis yang bermakna signifikan secara statistik dengan p-value =0,0000 POR 1,673 95% CI (1,323 - 2.115). Perlu dilakukan pemeriksaan secara berkala pada perempuan yang menggunakan kontrasepsi hormonal untuk mencegah terjadinya servisitis dan .kanker leher rahim
Cervicitis is one of the Sexually Transmitted Infections (STIs). There is a correlation between socio-demographic development and migration with increase of the number of high-risk populations. WHO estimates there are 376 million new infections by 1 out of 4 STIs, such as chlamydia (127 million), gonorrhea (87 million), syphilis (6.3 million) and trichomoniasis (156 million). Gatot et al, showed that 11.9% of patients had cervicitis. Iskandar, et al, also showed the prevalence of cervical infections (chlamydia 9,3% and 1,2% gonorrhea). Based on the results of the SDKI, there had been an increasing trend in contraceptive use in Indonesia from 1991 to 2017. There was a statistically significant association between cervicitis and HPV infection. It will increase the risk of getting infected by HPV if cervicitis is left untreated. Additionally, a person with mucopurulent cervicitis symptoms has an increased risk of cervical cancer. This study aims to determine the relationship between the use of hormonal contraceptives and the incidence of cervicitis. This is a quantitative study with a cross sectional study design. This study used secondary data from the results of the VIA examination at the primary health care supervised by the Female Cancer Program (FcP) in DKI Jakarta in 2017-2019. The number of samples were 3563 people, who met the inclusion and exclusion criteria. This study used logistic regression to analyze the data. The prevalence of cervicitis in this study was 11.20%. There is a relationship between hormonal contraceptive use and the incidence of cervicitis which is statistically significant with p-value<0.0001. Thus, it is necessary to carry out periodic checks on women who use hormonal contraception to prevent cervicitis and cervical cancer.
Read More
T-6019
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indi Susanti; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Fatum A.R. Basalamah, Rohim Hamdani
T-3199
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novi Indriastuti; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sudarato Ronoatmodjo, Gatot Purwoto, Niken Wastu Palupi
T-4752
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rina Aprini; PEmbimbing: Nurhayati Adnan Prihartono; Penguji: Ratna Djuwita, Yovsyah, Sulistyo
T-4712
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indriya Wardhani; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Suhardini
Abstrak: Tuberkulosis merupakan salah satu dari 9 penyebab kematian di dunia pada tahun 2015. Sebanyak 62% kasus tuberkulosis di dunia pada tahun 2017 berada di Wilayah SEAR (South-East Asia Region). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan tuberkulosis pada usia ≥ 15 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari hasil Indonesia Family Life Survey (IFLS) 5 tahun 2014 dan memakai desain penelitian studi longitudinal. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebesar 31.916 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis multivariat yang digunakan adalah Cox Regression. Insiden tuberkulosis pada usia ≥ 15 tahun di Indonesia tahun 2014 sebesar 1% (327 orang) responden. Hasil Multivariat yaitu: Usia ≥ 65 tahun (RR= 3,86; 95% CI 2,46- 6,06), pendidikan (RR=0,76; 95% CI 0,60-0,98), malnutrisi (RR=1,30; 95% CI 1,02- 1,62), merokok (RR= 0,62; 95% CI 0,46-0,82), lantai rumah (RR= 0,26; 95% CI 0,06- 1,04), bahan bakar memasak (RR= 0,54; 95% CI 0,36-0,79), dan kontak serumah dengan penderita (RR= 69,68; 95% CI 34,07-142,49). Faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap tuberkulosis pada usia ≥ 15 tahun dan lebih akurat yaitu usia baik hubungan langsung (bivariate) maupun hubungan dengan tuberkulosis setelah dikontrol dengan variabel lainnya (multivariate) (RR= 3,86; 95% CI 2,46-6,06 untuk responden yang berusia ≥ 65 tahun)
Read More
T-5684
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Patricia Josephine Elzabetty; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Sulistya Widada
Abstrak:
Hepatitis B merupakan masalah kesehatan di dunia, termasuk Indonesia. Untuk mencegah dan mengeliminasi HBV, telah dilakukan pemberian imunisasi HB0. Namun, cakupan pemberian imunisasi HB0 masih belum mencapai target yang ditetapkan dan menunjukkan disparitas antar provinsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan cakupan pemberian Imunisasi HB0 di Indonesia berdasarkan data SDKI 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang dengan analisis bivariat, menggunakan sampel anak yang lahir dalam 2 tahun terakhir dari ibu berusia 15-49 tahun. Hasil penelitian menemukan cakupan tidak imunisasi HB0 sebesar 15,8%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan cakupan pemberian imunisasi HB0 adalah pendidikan ibu rendah (PR:1,599; 95% CI: 1,364-1,874), indeks kekayaan terbawah (PR: 2,890; 95% CI: 2,283-3,657) dan menengah bawah (PR:1,826; 95% CI: 1,408-2,366), urutan kelahiran ≥3 (PR: 1,453; 95% CI: 1,234-1,710), tinggal di daerah rural (PR: 1,734; 95% CI: 1,475-2,038), kunjungan ANC

Hepatitis B remains a global health problem, including in Indonesia. Hepatitis B birth dose vaccination (HepB-BD) has been implemented to prevent and eliminate HBV. Unfortunately, HepB-BD coverage has not yet reached target and shows disparities between provinces. This study aims to identify the factors associated with HepB-BD coverage in Indonesia using 2017 IDHS data. This study uses a cross sectional study design with bivariate analysis, using a sample of children born in the las two years from mother aged 15-49 years. The study found that the coverage of HepB-BD non vaccination coverage of 15,8%. Factors that is statistically associated with HepB-BD vaccination coverage include predisposing factor such as low maternal education (PR:1,599; 95% CI: 1,364-1,874), lowest wealth index (PR: 2,890; 95% CI: 2,283-3,657) and lower-middle wealth indeks (PR:1,826; 95% CI: 1,408-2,366), birth order ≥3 (PR: 1,453; 95% CI: 1,234-1,710), rural residence (PR: 1,734; 95% CI: 1,475-2,038),
Read More
S-11740
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sakurta Harapen Ginting; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Cut Putri Arianie
Abstrak: Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang paling umum dan banyak disandang masyarakat. Data dari World Health Organization (WHO), diperkirakan pada tahun 2025 setiap tahunnya 9,4 juta orang akan meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada penduduk Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjut Indonesian Family Life Survey 5 / SAKERTI 2014. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan uji bivariat. Secara statistik, terdapat hubungan yang signifikan (p-value < 0,05) antara kejadian hipertensi dengan usia, wilayah tinggal, tingkat pendidikan, aktivitas fisik, merokok, obesitas, dan depresi. Upaya yang dilakukan untuk mengendalikan hipertensi dapat melalui kerjasama lintas sektor, seperti penguatan UKBM (Usaha Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat) yang memadai di area urban serta rural untuk menjaga pola hidup sehat. Kegiatan difokuskan kepada upaya surveilans berbasis masyarakat, meningkatkan screening/deteksi dini dengan menjangkau masyarakat melalui pemanfaatan kader dan tokoh-tokoh masyarakat. Kata kunci: Hipertensi, IFLS 5, SAKERTI 2014, Cross-Sectional. Hypertension is one of the most common cardiovascular diseases. World Health Organization (WHO) estimated that in 2025 every year 9.4 million people will die from hypertension and its complications. This study aims to determine factors are associated with the incidence of hypertension in the Indonesian population. This research is a further analysis of the 2014 Indonesian Family Life Survey (IFLS 5 / SAKERTI 2014). The research methodology used in this study was cross-sectional with a bivariate test. Statistically, there is a significant relationship (p-value <0.05) between the incidence of hypertension and age, area of residence, level of education, physical activity, smoking, obesity, and depression. Efforts made to control hypertension can be through crosssectoral collaboration, such as strengthening adequate UKBM (Usaha Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat) in urban and rural areas to maintain a healthy lifestyle. The activity focused on community-based surveillance efforts, improving screening / early detection by reaching out to the community through the use of cadres and community leaders. Keywords: Hypertension, IFLS 5, SAKERTI 2014, Cross-Sectional.
Read More
S-10422
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive