Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41886 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Gunawan Widjaya; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Suprijanto Rijadi, Adang Bachtiar, Budi Sampurna, Liman Harijono
Abstrak: Setiap negara memiliki sejarah perkembangan rumah sakitnya, meskipun dewasa ini,dengan berbagai alasan semua negara membicarakan tata kelola rumah sakit. DiIndonesia dewasa ini Undang-Undang Rumah Sakit (UURS) tidak secara tegasmerujuk istilah corporate governance, namun demikian dalam Penjelasan Pasal 29ayat (1) butir r UURS, secara tersirat diketahui bahwa corporate governance adalahbagian dari hospital governance. Sedangkan konsepsi dan terminologi corporategovenance di Indonesia mengacu pada perseroan terbatas, khususnya perseroanterbatas terbuka. Dalam konsepsi tersebut, semua perseroan terbatas harus taat padaUndang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT), termasuk perseroan terbatas denganbidang usaha rumah sakit. Penelitian ini bertujuan membuktikan telah terjadimispersepsi penggunaan istilah corporate governance dalam manajemen rumahsakit. Penelitian ini membandingkan corporate governance dalam UURS denganUUPT. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan data sekunder.Triangulasi dilakukan untuk mempertahankan validitas hasil. Penelitian ini jugamenggunakan metoda perbandingan hukum untuk memahami konsep korporasi dancorporate governance dalam rangka menjelaskan pelaksanaan corporate governancedi rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UURS telah salahmenginterpretasikan status rumah sakit. UURS telah meletakkan fungsi rumah sakitsecara kurang tepat, yang seharusnya dilihat sebagai kegiatan (usaha) dari perseroanterbatas. Artinya rumah sakit harus dipandang sebagai bagian perseroan terbatas danbukan sebaliknya. Kesalahan interpretasi ini telah menyebabkan terjadinyamiskonsepsi dan kesalahan penggunaan istilah corporate governance dalam UURS.Peneliti menyarankan untuk melakukan perubahan terhadap beberapa ketentuandalam UURS agar sejalan dengan konsep yang berlaku dan dapat diterapkan secarakonsisten.Kata kunci: corporate governance, korporasi, tata kelola rumah sakit, rumah sakit
Each state has its own history on the development of hospital, eventhough nowadaysfor many different reason, all countries in the world is talking about governance inhospital. In Indonesia cuurent situation, Indonesian Hospital Law does notspecifically refer to corporate governance, however in the Elucidation of Article 29para (1) point r of the Hospital Law, it is implied that corporate governance waspart of hospital governance. Meanwhile the conception and terminology of corporategovenance in Indonesia belongs to corporation, especially public corporation. Insuch conception, all corporations must comply with Corporate Law, including allcorporations with line of business of hospital. The aim of this research is to provethat there has been a misconception of corporate governance terminology in hospitalmanagement. This research tries to contrast the conception of corporate governanceused in Hospital Law against the Corporate Law. This research uses qualitativeresearch. This reseacrh uses secondary data, with triangulation to maintain validityof result. This research also uses comparative legal method to understand theconcept of corporation and corporate governance in order to explain the applicationof corporate governance in hospital. Result of the research shows that Hospital Lawhas misinterpreted the status of hospital. It has mislead the function of hospital,which shall be seen as a line of business of a corporation. It means that hospital mustbe seen as part of the corporation as organisation and not vice versa. Researcherrecommends to make amendments to some articles of the Hospital Act in order tomake it inline with the prevailing concept and can be consistently applied.Key Words: corporate governance, corporation, governance in hospital, hospital
Read More
B-1725
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Hasan; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Mieke Savitri, Wachyu Sulistiadi, Yuli Prapancha Satar, Amila Megraini
Abstrak:

ABSTRAK

Diabetes Mellitus Tipe 2 (DM Tipe 2) adalah kelainan metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia yang diakibatkan kurangnya sekresi insulin, resistensi insulin, atau keduanya. Kondisi hiperglikemia yang kronis dapat menyebabkan berbagai komplikasi salah satunya adalah kaki diabetik yang menjadi penyebab utama dilakukannya amputasi pada klien dengan DM tipe 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengalaman klien DM tipe 2 pasca amputasi mayor ekstremitas bawah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Hasil analisa data menghasilkan enam tema, yaitu: perubahan dalam kehidupan setelah amputasi, respon atau perasaan terkait amputasi, mekanisme koping, dukungan sosial yang diterima, makna hidup, dan pelayanan kesehatan yang diterima. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam meningkatkan kualitas asuhan keperawatan melalui peningkatan dukungan rehabilitasi secara fisik, psikososial, dan spiritual pada klien DM tipe 2 pasca amputasi mayor ekstremitas bawah.


ABSTRACT

Type 2 Diabetes Mellitus (Type 2 DM) is a metabolic disorder characterized by hyperglycemia as a result of insulin deficiency, insulin resistance, or both. Chronic hyperglycemia conditions can lead complications such as the diabetic foot as a major cause of amputation in clients with type 2 DM. The purpose of this study was to determine the experience of client with type 2 DM following major lower limb amputation. This study used a qualitative method with descriptive phenomenology approach. Result of the data analysis revealed six themes: live changes of amputees, amputation response or related feelings, coping mechanisms, social support received, the meaning of life, and health care received. The results of this research are expected to contribute positively in improving the quality of nursing care through physical, psychosocial, and spiritual rehabilitation support enhancement in client with type 2 DM following major lower limb amputation.

Read More
B-1472
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Bagus Surya Putra Munuaba; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Mieke Savitri, Yuli Prapancha Satar, Budi Hartono
Abstrak:

ABSTRAK Budaya  keselamatan  pasien  baru  mulai  tumbuh  di  RSU  Manuaba  setelah dicanangkan  dan  dibentuknya  Tim  Keselamatan  Pasien  Rumah  Sakit  RSU Manuaba tahun 2009. Belum berjalan dengan baiknya sistem pelatihan yang ada  terutama  dalam  konsep  keselamatan  pasien  menggambarkan  belum adanya upaya rumah sakit dalam meningkatkan mutu rumah sakit terutama mutu SDMnya. Oleh karena itu peneliti  ingin  mengetahui  kesiapan perawat dalam menerapkan konsep keselamatan pasien di Rumah Sakit. Penelitian ini menggunakan menggunakan desain  operational  research dengan pendekatan kualitatif  jumlah sampel sebanyak 51 orang, yang merupakan jumlah total perawat RSU Manuaba. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahwa untuk saat ini perawat belum siap untuk menerapkan konsep keselamatan pasien di rumah sakit, kebijakan keselamatan pasien dan SOP sudah ada tapi belum disosialisasikan dengan baik dan berkelanjutan. Ada perubahan nilai pengetahuan dan sikap perawat ketika diukur sebelum dan sesudah diberikan pelatihan. Anggaran mengenai pendidikan dan pelatihan  keselamatan pasien belum ada. Pihak rumah perlu meningkatkan pendidikan dan pelatihan mengenai konsep keselamatan pasien agar terwujud budaya keselamatan pasien di lingkungan perawat RSU Manuaba. Kata Kunci :  Keselamatan Pasien, Perawat, Pendidikan, Pelatihan.


 Patient safety culture has just begun at Manuaba General Hospital after declerated and performed patient safety  team at 2009. The Patient Safety concept had not worked out properly,the hospital had not strongly forced to improve quality of human resources. The  study investigated the preparation of nurses in managing patient safety concept at Manuaba General Hospital. The study used research operational design with qualitative method, total sample were 51 nurses who worked at Manuaba General Hospital. The result showed nurses had not ready to implemantation patient safety  concept, patient safety policy and standart operational procedure had established but not been good and continously sosialized. There was proggression of knowledge and attitude of nurses pre and post training.There was no budget for patient safety training. The manangement of Hospital need to increase education anda training of patient safety to create it concept as a culture in Manuaba General Hospital. Key words : Patient Safety, Nurse, Education, Training

Read More
B-1454
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pitoyo; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Purnawan Junadi, Ronnie Rivany, Inna Karunia
Abstrak:

Rumah sakit sebagai suatu lcmbaga usaha harus memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi customer satisfaction dan merupakan perpaduan unsur Keramah tamahan., Kecapatan., Ketelitian dan K.enyamanan dalam pelayanannya.Untuk itu Rumah sakit perlu wadah dalam memberikan pelayanan itu yaitu suatu hangunan phisik yang memenuhi persaratan teknis dan kesehatan. Bangunan rumah sakit ini secara prinsip ada dua type sistem desain yaitu Sistem Desain Horisontal dan sistem desaio VertikaL Pada sislem desain horisontal senlua bangunannya disebar secara blok hangunan ke arab laban yang tersedia. Pada sistem desain Vertikal semua hangunan yarg menjalankan fungsi medis disehar kearah Vertikal keatas. Tujuan dari penelitiaan ini adalah un!uk mengkaji besar biaya pemhangunan dari dua sistem diatas serta untuk mengetahui efek.tifitasnya dari masing-masing sitem. Metode yang dipakai adalah menggunakan obyek Rumah Sakit Islam Jakarta yang menggunakan konsep desain sec.ara borisontal, Kemudian dibuatkan simniasi desain secara horiosntal dibandingkan der gan Simulasi desain seeam vertikal dari rumah sakit obyek tersebut. Kemudian dilakukan Analisa perhitungan biaya dan Analisa Efektifitas Biaya.


Hospital as business institution must give good services in health care which is oriented to the Customer satisfaction and include of some attitude such as Kindly., Speed accurate and convenience services. Hospital must have good building for supporting medical services that follow technical and healthy requirement. Principally hospital building is using two design system consist of design system horizontal and vertika) system. The Horizontal design system commonly conctructs buildings in horizontal direction on wide ground. The Vertical design system commonly constructs buildings in vertical direction or above manner on certainty ground. The aim of study is to observe and calculate two design prototype horizontal and vertical system of building in Cost Effectiveness. Methods used in this study is observe and calculate base on the exiting Jakarta Islam hospital as horizontal design object. Then design sumulation for Horizontal system should be made and compare with vertical simulation design hollding in 4 th stories. The two prototype design will be calculated in cost for construction. ThenAnalysis of Cost effectiveness will be calculated.

Read More
B-1126
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Made Asminingsih; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Helen Andriani, Puput Oktamianti, Fajar Manuaba, Ida Ayu S. Sri Krisna Dewi
Abstrak:
Pandemi covid-19 ini memberikan perubahan di berbagai aspek kehidupan, utamanya pada bidang kesehatan. Rumah sakit menjadi salah satu garda terdepan untuk memastikan keselamatan dan kesehatan pasien. Untuk memaksimalkan pelayanan, kinerja karyawan perlu diperhatikan dan dievaluasi utamanya pada saat masa pandemi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan kinerja karyawan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien pada masa Pandemi Covid-19 di Rumah Sakit Umum Parama Sidhi yang dilakukan terhadap seluruh karyawan bidang pelayanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian cross sectional study, yang bertujuan untuk mempelajari hubungan antara variabel bebas yaitu faktor yang berhubungan dengan organisasi (dukungan manajemen dan implementasi SIMRS), faktor yang berhubungan dengan pekerjaan (lingkungan kerja), faktor yang berhubungan dengan karyawan (kemampuan beradaptasi dan komitmen kerja), dan faktor yang berhubungan dengan pandemic covid-19 (ketakutan pada virus Covid-19) dengan variabel terikat yaitu variabel kinerja karyawan. Sampel penelitian adalah karyawan bidang pelayanan sebanyak 100 orang. Hasil penelitian menunjukkan kinerja karyawan pada masa pandemic covid-19 masih berkategori baik. Dari hasil uji bivariat, terdapat hubungan antara setiap variabel determinan kinerja terhadap kinerja. Dari pengujian hipotesis diperoleh adanya hubungan dan pengaruh signifikan oleh keempat faktor determinan terhadap kinerja karyawan. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kinerja adalah faktor yang berhubungan dengan karyawan yaitu kemampuan beradaptasi dan komitmen kerja. Variabel yang memiliki hubungan yang paling erat atau dominan adalah variabel komitmen. Faktor yang perlu viii Universitas Indonesia ditingkatkan dan menjadi catatan pimpinan untuk dilakukan perbaikan berdasarkan hasil analisis data adalah pada faktor yang berhubungan dengan organisasi terutama pada dukungan manajemen. Dari hasil penelitian ini, RSU. Parama Sidhi diharapkan dapat terbantu dalam meningkatkan kinerja utamanya dalam pelayanan kepada pasien. Kata Kunci: Pandemi Covid-19, Determinan Kinerja, Kinerja Karyawan, Cross Sectional Study

During the Covid-19 pandemic, an indicator of hospital services at the hospital. Parama Sidhi is below standard which correlates with the quality of employee performance. During this pandemic, the performance of service employees has never been evaluated. This study aims to determine the determinant factors of employee performances in providing health services to patients during the Covid-19 Pandemic at Parama Sidhi General Hospital which was carried out on all employees in the service sector, such as doctors, nurses, fields, cashiers, front office clerk, customer care officers, pharmacy officers, and care givers. The research used a quantitative approach with cross sectional study, which aims to study the relationship between independent variables and dependent variabel. The independent variables are factors related to organizations (management support and implementation of HIS), factors related to works (work environment), factors related to employees (adaptability and motivation), and factors related to the Covid-19 pandemic (fearness of the Covid-19 virus). The dependent variable is the employee performance variable. Ther research sample was 100 employess. The results of the study showed that employees’ performance during Covid-19 pandemic was in a good category. From the result of the bivariate test, there is a relationship between each independent variabel on work performance. From the hypothesis, it is obtained that there are significant influences by the four determinants of employee performance. The most dominant factors that influence performance are factors related to employees are adaptability and commitment. The variable that has the closest or dominant relationship is the variable of commitment. Factors that need to be improved and become management’s notes to make improvements based on the results of data x Universitas Indonesia analysis are factors related to the organization, especially management support. From the results of this study, RSU. Parama Sidhi is expected to be helped in improving employees’ work performance in serving patients. Keywords: Covid-19 Pandemic, Performance Determinants, Employee Performance, Cross Sectional
Read More
B-2588
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Safar; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Amal Chalik Sjaaf, Muhammad Dian Luthfy Lubis, Markus Waseso Suharyono
Abstrak: Pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi RS UI dalam mengedepankan pelayanan kepada pasien yang bersifat holistik, demi kepentingan dan keselamatan pasien. Case manager merupakan jabatan baru di RS UI, sehingga dianggap masih memiliki banyak celah dalam penerapannya. Peran case manager dirasakan belum optimal di lapangan, terutama oleh klinisi dan manajemen. Tujuan penelitian adalah untuk merumuskan tugas pokok fungsi case manager dalam pelayanan pasien Covid-19, dan mengidentifikasi peran yang telah dilaksanakan oleh case manager. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental kualitatif, menggunakan pendekatan fenomenologi dengan desain potong lintang. Peneliti menemukan bahwa case manager RS UI belum menjalankan peran sesuai rumusan tugas pokok fungsi case manager yang ada dalam standar akreditasi RS; rumusan tugas pokok fungsi case manager belum sesuai dengan kebutuhan pelayanan pasien Covid-19 di RS UI, sehingga case manager RS UI belum menjalankan peran sesuai rumusan tugas pokok fungsi case manager untuk kebutuhan pelayanan pasien Covid-19 di RS UI. Secara garis besar, terdapat tiga hambatan peran case manager, yaitu hambatan pengorganisasian, hambatan aktivitas, dan hambatan evaluasi. Peneliti merekomendasikan agar tupoksi case manager tetap memenuhi standar akreditasi, dan disesuaikan dengan karakteristik RS. Selain itu, perlu dilakukan penguatan case manager secara kualitas dan kuantitas, agar dapat berperan lebih optimal.
Read More
B-2251
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Satria Pratama; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Sutan Finekri Arifin Abidin, Bambang Wibowo
Abstrak:

Penelitian ini menganalisis pemahaman, implementasi, dan kepercayaan petugas rumah sakit TNI AD Ridwan Meuraksa dan RS Salak terhadap visi bersama, dengan fokus pada pengaruh gaya kepemimpinan transformasional, transaksional, dan laissez-faire. Modifikasi Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ 5X) digunakan untuk mengevaluasi efektivitas kepemimpinan. Studi ini juga mengintegrasikan pendekatan delapan langkah perubahan dari John Kotter untuk memahami dinamika penerapan visi di lingkungan militer yang hierarkis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional memiliki pengaruh signifikan terhadap pemahaman dan implementasi visi bersama dibandingkan gaya kepemimpinan lainnya. Pemimpin dengan pendekatan transformasional mampu meningkatkan motivasi dan komitmen petugas melalui pengaruh ideal, inspirasi, dan perhatian individu. Sebaliknya gaya kepemimpinan laissez-faire cenderung kurang efektif dalam mendukung penerapan visi rumah sakit.

Evaluasi dilakukan dengan pendekatan mixed methods, menggabungkan survei kuantitatif melalui kuesioner dengan wawancara mendalam untuk menggali persepsi dan pengalaman narasumber. Penelitian ini melibatkan 100 responden di dua rumah sakit dengan desain studi cross-sectional. Analisis kualitatif memberikan konteks tambahan terhadap hasil kuantitatif, terutama dalam memahami faktor-faktor yang memengaruhi implementasi visi.

Penelitian ini memberikan rekomendasi strategis untuk memperkuat kepemimpinan transformasional dalam rumah sakit militer, dengan penekanan pada pelatihan dan pengembangan kepemimpinan yang berorientasi pada visi bersama. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan serta mendukung keberlanjutan operasional rumah sakit TNI AD.

Kesimpulannya, gaya kepemimpinan yang adaptif dan inspiratif merupakan kunci dalam memastikan visi bersama diterima dan diinternalisasi oleh seluruh komponen organisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan literatur akademik tentang kepemimpinan di rumah sakit militer, khususnya dalam konteks Indonesia.


This study analyzes the understanding, implementation, and trust of hospital staff at TNI AD Ridwan Meuraksa Hospital and RS Salak towards a shared vision, focusing on the influence of transformational, transactional, and laissez-faire leadership styles. The modified Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ 5X) was utilized to evaluate leadership effectiveness. The study also integrates John Kotter's eight-step change model to comprehend the dynamics of vision implementation in a hierarchical military environment. The results indicate that transformational leadership style significantly impacts the understanding and implementation of the shared vision compared to other leadership styles. Leaders employing transformational approaches enhance motivation and commitment among staff through ideal influence, inspiration, and individual consideration. Conversely, laissez-faire leadership style tends to be less effective in supporting the implementation of the hospital's vision. The evaluation employed a mixed-methods approach, combining quantitative surveys through questionnaires with in-depth interviews to explore participants' perceptions and experiences. The study involved 100 respondents from two hospitals using a cross-sectional study design. Qualitative analysis provided additional context to the quantitative findings, particularly in understanding the factors influencing vision implementation. This research provides strategic recommendations to strengthen transformational leadership in military hospitals, emphasizing training and leadership development focused on the shared vision. This approach is expected to improve healthcare quality and support the sustainability of TNI AD hospital operations. In conclusion, adaptive and inspiring leadership styles are key to ensuring the shared vision is embraced and internalized by all organizational components. This study contributes significantly to the academic literature on leadership in military hospitals, particularly in the Indonesian context.

Read More
B-2516
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurulita Cahyani; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Wahyu Sulistiadi, R. Sutiawan, Muhammad Dian Luthfy Lubis, Dessy Rosmelita
Abstrak: Pendahuluan : Rumah sakit Universitas Indonesia (RSUI) mengadopsi telemedicine sebagai alternatif pelayanan kesehatan. Implementasi telemedicine tidak hanya terfokus tentang teknologi yang digunakan, melainkan banyak sumber daya dan investasi yang berkontribusi. Tujuan : menilai efektivitas telemedicine sebagai pengganti konsultasi tatap muka dan menganalisa faktor aktor yang menghambat efektivitas telemedicine. Metode : penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan menganalisis sistem (input-proses-output) pada pelyanan telemedicine di poliklinik rawat jalan RSUI. Hasil : RSUI memanfaatkan teknologi sederhana dalam implementasi telemedicine menggunakan google meeting online. Telemedicine RSUI dinilai efektif sebagai pengganti layanan tatap muka karena RSUI mampu mengoptimalkan seluruh sumberdaya yang ada, menyelesaikan 93 % dari 1665 jadwal kunjungan telemedicine yang terdaftar, dan pengguna menyatakan kepuasaan akan layanan ini. Hambatan dalam pencapaian efektivitas mulai dari kurangnya tingkat promosi dan belumnya digunakannya aplikasi/fitur yang memudahkan pengguna mengakses telemedicine. Pembahasan : Telemedicine di RSUI meningkatkan aksesibilitas pelayanan klinis, keberhasilan telemedicine didasarkan kepada kepuasan para penggunaannya. Pemanfaatan metode video panggil, kemampuan sumber daya dan konektivitas jaringan internet menjadi faktor pendukung utama keefektifan telemedicine. Percepatan pengembangan telemedicine melalui strategi digital yang inovatif akan meningkatkan efektivitas pelayanan telemedicine di RSUI. Alternatif strategi tersebut dapat berupa pengembangan aplikasi secara mandiri ataupun kerjasama dengan pihak swasta. Aplikasi yang inovatif, inklusif, dan ramah pengguna menjadi solusi untuk meningkatkan efektivitas telemedicine. Kesimpulan : Implementasi layanan telemedicine di RSUI efektif sebagai alternatif pengganti layanan tatap muka pada pandemi COVID-19. Strategi digital yang inovatif dengan konsep terintegrasi dari pelayanan telemedicine akan meningkatkan efektivitas telemedicine di RSUI.
Introduction: The University of Indonesia Hospital (RSUI) implements telemedicine services as alternative health. The implementation of telemedicine is not only focused on the technology used but also on the many resources and investments that contribute. Objectives: To assess telemedicine's effectiveness as a substitute for face-to-face consultations and to analyze the factors that hinder the effectiveness of telemedicine. Method: This research is a qualitative descriptive with a case study approach by analyzing the system (input-process-output) in telemedicine services at the outpatient polyclinic of RSUI. Result: RSUI utilizes simple technology in implementing telemedicine using online google meetings. RSUI telemedicine is considered adequate as a substitute for face-toface services because RSUI can optimize all available resources by presenting online clinics, completing 93% of the 1665 registered telemedicine visits, and telemedicine users expressing satisfaction with this. Barriers to the effectiveness of telemedicine services are not aware of the lack of promotion and the lack of applications/features that make it easier for users to access telemedicine. Discussion: Telemedicine at RSUI increases the accessibility of clinical services. The success of telemedicine is based on the satisfaction of its users. The utilization of video calling methods, resource capabilities, and internet network connectivity are the main supporting factors for the effectiveness of telemedicine. The acceleration of telemedicine development through innovative digital strategies will increase the effectiveness of telemedicine services at RSUI. The alternative approach can be in the form of application development independently or in collaboration with private parties. Innovative, inclusive, and user-friendly applications are the solution to increasing the effectiveness of telemedicine. Conclusion: Implementation of telemedicine services at RSUI is effective as an alternative to face-to-face services during the COVID-19 pandemic. An innovative digital strategy with an integrated telemedicine service concept will increase telemedicine's effectiveness at RSUI.
Read More
B-2222
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sakinah Azzahra Adam; Ppembimbing: Masyitoh; Penguji: Puput Oktamianti, Novita Dwi Istanti, Melanie Husna
Abstrak:
Rumah sakit menghadapi berbagai risiko kompleks yang dapat berdampak pada keselamatan pasien dan mutu pelayanan. Risk register merupakan instrumen penting dalam manajemen risiko yang mencatat proses identifikasi, analisis, evaluasi, dan perlakuan risiko secara terstruktur. Namun, temuan di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Indonesia (RSP UI) menunjukkan bahwa implementasi risk register belum optimal, ditandai dengan ketidaklengkapan pencatatan risiko, absennya perhitungan tingkat risiko, ketidakjelasan penetapan prioritas, serta tidak adanya dokumentasi hasil monitoring dan evaluasi. Penelitian ini menganalisis implementasi risk register sebagai instrumen pengendali risiko di RSP UI serta peranan faktor individu dan faktor organisasi dalam proses penyusunannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, dilaksanakan pada periode Januari hingga Juni 2026. Informan dipilih secara purposive sampling yang terdiri atas perwakilan direksi, Komite Mutu dan Keselamatan (KMK), pimpinan unit, dan Agent of Change (AoC). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan telaah dokumen, serta dianalisis menggunakan triangulasi sumber dan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada faktor individu, pengetahuan dan keterampilan teknis, pengalaman kerja, sikap positif terhadap risk register, program edukasi, dan kerja sama tim mendukung pelaksanaan pengelolaan risiko. Namun, pengetahuan konseptual manajemen risiko masih bervariasi antarpelaksana dan implementasi risk register cenderung responsif terhadap monitoring dan pengingat KMK. Pada faktor organisasi, dukungan kepemimpinan, budaya keselamatan yang berkembang, regulasi, pengelolaan sumber daya manusia, serta sistem kerja dan teknologi menjadi faktor pendukung implementasi risk register. Meskipun demikian, masih ditemukan kesenjangan antara regulasi dan praktik di lapangan, belum optimalnya peran SDM KMK dan AoC, serta keterbatasan sistem pemantauan risiko yang masih bergantung pada monitoring manual. Telaah terhadap dokumen risk register menunjukkan bahwa proses identifikasi, analisis, evaluasi, dan perlakuan risiko telah dilaksanakan pada seluruh unit kerja. Namun, dokumentasi risiko belum sepenuhnya komprehensif dan belum seluruhnya selaras dengan komponen proses manajemen risiko yang dijelaskan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1354/2024. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor individu dan faktor organisasi berperan sinergis dalam implementasi risk register sebagai instrumen pengendalian risiko di RSP UI, namun masih diperlukan penguatan pada aspek pengetahuan konseptual manajemen risiko, penyempurnaan regulasi dan panduan teknis, optimalisasi SDM KMK, serta pengembangan sistem pemantauan risiko yang terintegrasi guna meningkatkan keselamatan pasien secara berkelanjutan.

Hospitals face complex and multidimensional risks that can adversely affect patient safety and the quality of care. The risk register is an important risk management instrument that structurally records the processes of risk identification, analysis, evaluation, and treatment. However, findings at Universitas Indonesia Educational Hospital (RSP UI) revealed that the implementation of the risk register remains suboptimal, characterized by incomplete risk documentation, the absence of risk level calculations, unclear priority setting, and a lack of monitoring and evaluation records. This study analyzes the implementation of the risk register as a risk control instrument at RSP UI by examining the role of individual and organizational factors across all stages of its development. This study employed a qualitative approach with a case study design, conducted from January to June 2026. Informants were selected through purposive sampling, comprising representatives from the hospital board of directors, the Quality and Safety Committee (KMK), unit heads, and the Agent of Change (AoC) team. Data were collected through in-depth interviews, field observations, and document review, and analyzed using source and method triangulation. The findings revealed that individual and organizational factors synergistically influenced the implementation of the risk register at RSP UI. Individual factors, including technical knowledge and skills, work experience, positive attitudes toward the risk register, educational programs, and teamwork, supported risk management practices. However, conceptual knowledge of risk management varied among implementers, and risk register activities tended to remain reactive, relying on monitoring and reminders from the KMK. Organizational factors, including leadership support, a developing safety culture, regulations, human resource management, work systems, and technology, also facilitated implementation. Nevertheless, gaps remained between formal regulations and actual practices, particularly regarding the limited human resource capacity of the KMK, suboptimal understanding of AoC roles, and risk monitoring systems that still depended largely on manual processes. Document review showed that risk identification, analysis, evaluation, and treatment had been implemented across all units. However, risk documentation was not yet fully comprehensive and had not entirely aligned with the risk management process components required by the Decree of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number HK.01.07/MENKES/1354/2024. Key findings included incomplete documentation of risk causes and impacts, the absence of residual risk and risk decision records, the lack of an integrated organizational risk map, and inconsistencies in documenting risk treatment strategies. This study concludes that the risk register has functioned as a risk control instrument at RSP UI. However, improvements are still needed in conceptual knowledge of risk management, refinement of regulations and technical guidelines, optimization of KMK human resources, and development of a more integrated risk monitoring system to support effective risk management and continuous improvement of patient safety.
Read More
B-2599
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suharty Muhammad; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Anhari Achadi, Santoso Soemidjo
B-1633
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive