Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31849 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Faisal; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti, Edi Kusnadi, Wahyu Hapsari
Abstrak: Langkah awal membangun keselamatan pasien adalah melakukan penilaianterhadap budaya keselamatan pasien yang mana sebagai panduan dalammenerapkan keselamatan pasien.Penelitian ini di lakuakan di RSIA KurniaCilegon dengan sampel tenaga medis 79 responden yang terdiri dari dokter umum,dokter gigi,dokter spesialis, bidan dan perawat dengan metode kuantitatif potonglintang dengan menggunakan instrument AHRQ mengukur persepsi budayakeselamatan pasien dilanjutkan metode kualitatif ini bertujuan untuk mengetahuifaktor-faktor penghambat dan faktor-faktor pendukung serta mengetahui langkah-langkah upaya peningkatan budaya keselamatan pasien di RSIA Kurnia .Hasilpenelitian ini didapatkan gambaran budaya keselamatan pasien sedang di RSIAKurnia tahun 2015 dengan saran Tim KPRS melakukan sosialisasi tentangkeselamatan pasien, memberikan reward dan selalu mensosialisasikan responnon-punitive terhadap kesalahan, melakukan Inhouse Training keselamatanpasien, menyusun jadwal pertemuan rutin bulanan, dan melakukan investigasidisetiap ruangan dengan melakukan ronde keselamatan pasien secara rutin gunameningkatkan pelaporan insiden keselamatan pasien dan meningkatkan budayakeselamatan di RSIA Kurnia.Kata kunci : budaya keselamatan pasien ; instrument AHRQ; persepsi tenagamedis
The initial step to build patient safety is assessing patient safety culture in whichas a guide in implementing patient safety. The research was done in RSIA KurniaCilegon with a sample of medical personnel 79 respondents consisting of generalpractitioners, dentists, specialists, midwives and nurses with quantitative methodscross-sectional by using instrument AHRQ measure perceptions of patient safetyculture continued qualitative method aims to find out factors inhibiting andsupporting factors and knowing the steps efforts to improve patient safety culturein RSIA Kurnia results of this study, it was shown in patient safety culture is beingRSIA Kurnia 2015 with Tim advice KPRS socialize patient safety, reward andalways socialize a non-punitive response to faults, do Inhouse Training patientsafety, scheduling regular monthly meetings, and conduct an investigation in eachroom to do patient safety rounds regularly to improve the reporting of patientsafety incidents and improve safety culture at RSIA Kurnia.Keywords: patient safety cultur;AHRQ instrument;, medical personnel perception.
Read More
B-1756
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Awaliyah Ulfah Ayudytha Ezdha; Pembimbing: Hasbulah Thabrany; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Ambarwati, Satrio Nugroho Pratomo
Abstrak: Penerapan keselamatan pasien di Rumah Sakit Setia Mitra belum berjalandengan optimal maka perlu pengukuran budaya keselamatan pasien tertutama dikalangan perawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsiperawat tentang budaya keselamatan pasien dan bagaimana penerapan sasarankeselamatan pasien di Rumah Sakit Setia Mitra. Penelitian deskriptif ini dilakukandengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Populasi adalah seluruh perawat yangada di Rumah Sakit Setia Mitra yaitu 77 perawat dengan sampel 68 perawat.Hasil penelitian menunjukkan persepsi perawat tentang budaya keselamatanpasien di Rumah Sakit Setia Mitra yaitu 72.1% baik. Dimensi paling banyakdipersepsikan baik yaitu dimensi operan sebesar 75% dan paling sedikitdipersepsikan baik adalah dimensi dukungan manajemen sebesar 1.5%. Secarastatistik usia (p value = 0.048), masa kerja (p value = 0.016) dan jabatan perawat (pvalue = 0.049) memiliki hubungan dengan persepsi perawat terhadap budayakeselamatan pasien (p<0.05). Pada penerapan sasaran keselamatan pasien yaitu55.15% memahami dengan baik bagaimana penerapan sasaran keselamatan pasien diRumah Sakit Setia Mitra. Disarankan agar tim keselamatan pasien yang ada lebihdioptimalkan tugas dan fungsinya sehingga budaya keselamatan pasien di rumahsakit dapat terus ditingkatkan.Kata Kunci : Budaya Keselamatan Pasien, Persepsi Perawat, Penerapan SasaranKeselamatan Pasien
it is necessary to measure patient safety culture especially among nurses.This study aims to describe the nurses perception about patient safety culture andhow the implementation of patient safety goals at Setia Mitra Hospital. Thisdescriptive research conducted with quantitative and qualitative approaches.Population in this study is all nurses in Setia Mitra hospital that consist of 77 nurseswith sample 68 nurses.The result of study shows the nurse's perception about patient safety in SetiaMitra hospitals is 72.1% good. Dimension with the most good nurse perception ishospital handoffs and transitions dimension by 75% and at least perceived good ismanagement support dimension of 1.5%. Statistically, age (p value = 0.048), workperiod (p value = 0.016) and the level of nurses (p value = 0.049) have arelationship with the nurses perception on patient safety culture (p <0.05). In theimplementation of patient safety goals in Setia Mitra Hospital, namely 55.15% with agood understanding. It is recommended that patient safety team in the Setia MitraHospital further optimized its duties and functions so that the patient safety culture inhospitals can be improved.Keywords : Patient Safety Culture, Nurse Perception, Patient Safety Goal.
Read More
B-1754
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hermawan Saputra; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Dewi Lestari
Abstrak:

Peningkatan Kemampnan Sistem Informasi Dalam Menunjang Penyajian Indikator Pelayanau Unit Rawat Inap RSIA Kurnia Cilegon Tahun 2008 Xvii + 84 nulaman, 6 tabel, I7 gambar, 10 macam Iampiran Sistem informasi manajemen rumah sakit yang cfektif dan efisien akan lebih sempuma, bila disenai dengan Iompatan teknoiogi dengan menerapkan sistem informasi manajemen rumah sakit menggunakan komputer. Menyadari bahwa sistem informasi yang baik akan menoenninkan keadaan manajemen rumah sakit yang baik pula, maka tentu perlu ditcliti bagaimana komputeriswi sistem informasi manajemen yang ada. RSIA Kumia telah mengembangkan paket sistem informasi yang dibangun secara bertahap olch sumber daya yang ada di rumah sakit tersebut. Sistem informasi dirancang agar dapat mencakup hampir seluruh kegiatan di rumah sakit, dan sudah mulai dioperasikan sejak mulai dibukanya RSIA. Dari penclitian yang dilakukan di RSIA Kumia diketahui bahwa pemanfaatan sistem infomxasi rumah sakit masih belum seperti yang diharapkan. Sistem yang ada belum mampu menyajikan informasi mengenai cakupan, mutu dan efisiensi pelayanan terutama di unit mwat inap. Berbagai infom1asi tersebut sangat dipcrlukan dalarn manajemen rumah sakit untukperencanaan strategis, pengendalian manajcrial maupun operasional kegiatan pelayanan rumah sakit. Pcneliuan ini bertujuan meningkatkan kemampuan sistem infonnasi untuk mcnunjang penyajian indikator pelayanan unit rawat inap melalui pemcnuhan kebutuhan infonnasi cakupan, mutu dan eiisiensi pelayanan dari sistem yang sudah ada. Studi ini menghasilkan langkah-langkah strategis untuk terwujudnya informasi mengenai cakupan, mutu dan ehsiensi kegiatan pelayanan dari setiap unit pelayanan RSIA Kumia yang terkomputerisasi. Langkah-langkah strategis penyajian indikator pelayanan dalam sistem infonnasi m_anajemen yang dihasilkan pada penelitian ini diharapkan mampu menampilkan informasi secara cepat dan tepat lewat proses yang terkomputerisasi.


Increasing Ol' Ability Of Information System In Subvention Presentation Ol’ Indicator Service Ot' Inn Patient Unit RSIA Kurnia Cilegon 2008 Xvii + 84 pages, 6 tables, 17 pictures, I0 appendix In effective and etlicient infomation system hospital management, it wili be perfect if along with hurdle technologies with to apply computer using of information system management of computer applications. To realism of information system reflect of good situation of hospital management, and also in needed of through how computerized management infomation system which available. Kumia Mother and Children Hospital has implemented a comprehensive Management information System which builded step to step by resources in there hospital. Infomation System which was designed to meet almost every aspect of hospital practices has been in operation since the very beginning of the mother and children hospital operation. Studies in several unit of the hospital showed that the utilization of hospital information systems was still far behind the expectation. The system not yet can realize infomation concerning coverage, quality and service efficiency especially in unit of Inn Patient. information about hospital services utilization, quality and efficiency is needed in hospital management for strategic planning, managerial control and operational services. This Study objectives to increase information system performance to increase productivity of inn patient unit with meets the needs of information about utilization, quality and service: efficiency iiom the available system. The management infomation system results in those infomation from each unit in RSIA Kumia by presenting their indicators. The Strategic stages of presentation of service indicator in MIS which yielded at this research expected can present information quickly and acurate by computerized process.

Read More
B-1053
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulia Yasmi; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Suprijanto Rijadi, Kurnia Sari, Tiningsih Hardiani, Rahmad Ramahan
B-1694
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muchamad; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Puput Oktamianti, Budiman Widjaja
Abstrak: Keselamatan pasien adalah merupakan suatu sistem yang memberikan keamanan asuhan kepada pasien. Keselamatan pasien merupakan masalah yang serius dalam kesehatan masyarakat secara global. Kewajiban setiap fasilitas kesehatan memberikan pelayanan sesuai dengan Standart Prosedur operasional (SPO) keselamatan pasien telah diatur dalam beberapa peraturan dan undang undangyang berlaku. Dalam penelitian sebelumnya telah disampaikan pelaksanaan SPO keselamatan pasien oleh perawat masih rendah. Masih rendahnya pelaksanaan SPO keselamatan pasien oleh perawat di RSIA H amarinda menjadi dasar peneliti melakukan penelitian. Pelaksanaan SPO keselamatan pasien oleh perawat masih rendah disebabkan oleh beberapa faktor. Analisis faktor penyebab menggunakan teori sarana manajemen 5M (Men, Machines, Money, Methods, Materials) sebagai unsur input, dan atas dasar teori sistem yang terdiri dari unsur input,proses,output. Faktor yang menyebabkan kendala dalam pelaksanaan SPO keselamatan pasien rawat inap adalah unsur input 5M, dan unsur proses yang terdiri dari proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi. Unsur input dan proses adalah faktor yang penting mempengaruhi dalam pelaksanaan kegiatan manajemen. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan acuan wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi kesesuaian pelaksanaan SPO keselamatan pasien. Hasil penelitian penyebab rendahnya pelaksanaan SPO keselamatan pasien oleh perawat adalah pada unsur input kurang tersedianya dana, sarung tangan baik dari jumlah dan variasi ukuran, serta sabun pencuci tangan, tidak ada borang komunikasi perawat kepada pasien, materi isi SPO tidak sesuai dengan standart. Pada unsur proses, masih rendahnya komunikasi dan sosialisasi dari pihak manajemen ke perawat dan perawat ke manajemen, kurangnya motivasi dari pihak manajemen, rendahnya komitmen perawat, kurangnya koordinasi antar perawat, rendahnya kedisiplinan perawat, kurangnya pelatihan keselamatan pasien, kurangnya pengawasan oleh tim, belum diadakan evaluasi dan revisi isi dari SPO keselamatan pasien serta evaluasi inadequate policy . Pada unsur output memberikan hasil di observasi kesesuaian pelaksanaan SPO keselamatan pasien oleh perawat di unit rawat inap RSIA H Samarinda masih rendah
Read More
B-2048
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Dwi Anggraini; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Puput Oktamianti, Anhari Achadi, Irma Rismayanty, Danyel Suryana
Abstrak:
Keselamatan adalah isu fundamental bagi rumah sakit, dimana keselamatan pasien merupakan prioritas utama karena berkaitan dengan kualitas dan nama baik rumah sakit. Pelaksanaan keselamatan pasien di rumah sakit dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor individu, faktor psikologis dan faktor organisasi. Pada tahun 2021, RSIA Bina Medika telah melakukan pengukuran budaya keselamatan pasien dimana diketahui bahwa budaya keselamatan pasien di RSIA Bina Medika masih tergolong rendah. Selain itu, pada tahun 2021 tercatat telah terjadi 37 insiden keselamatan pasien di RSIA Bina Medika, dimana tercatat telah terjadi 1 kejadian sentinel. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran penerapan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika pada tingkat individu dengan melakukan tela?ah dokumen Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE). Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui gambaran sikap petugas terhadap keselamatan pasien dan hubungannya, serta gambaran pengetahuan petugas terhadap keselamatan pasien dan hubungannya. Selain itu, penelitian ini dilakukan untuk menemukan strategi yang tepat yang harus dilakukan manajemen rumah sakit dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Penelitian ini adalah penelitian mix method dengan pendekatan cross-sectional, dimana dilakukan survei kuesioner terkait sikap (dengan SAQ-INA) dan pengetahuan, serta wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD) dan tela?ah dokumen terkait termasuk OPPE bagian Keperawatan tahun 2021. Dari hasil penelitian diketahui bahwa 54% petugas menerapkan keselamatan pasien dengan baik. Lalu, diketahui bahwa 56% petugas bersikap negatif terhadap keselamatan pasien dan 78% petugas berpengetahuan baik. Tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap petugas dengan keselamatan pasien, begitu pula pengetahuan (p =1 dan p=0,08). Dari wawancara mendalam diketahui terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Dari FGD didapatkan berbagai strategi peningkatan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika yang akan diterapkan kedepannya. Dari keseluruhan penelitian ini diketahui bahwa penerapan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika masih belum baik karena terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Mayoritas petugas sudah berpengetahuan baik, namun masih banyak petugas yang bersikap negatif terhadap keselamatan pasien. Selain sikap dan pengetahuan, diketahui banyak faktor lainnya yang juga turut berkontribusi dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika.

Safety is a fundamental issue for hospitals, where patient safety is a top priority because it relates to hospital?s quality and reputation. The implementation of patient safety in hospitals is influenced by various factors, such as individual factor, psychological factor and organizational factor. In 2021, RSIA Bina Medika had measured patient safety culture where the result showed that patient safety culture at RSIA Bina Medika was still relatively low. In addition, in 2021 there was 37 patient safety incidents at RSIA Bina Medika, where 1 sentinel incident had been recorded. Therefore, this research was conducted to find out the description of the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika at individual level by conducting a review of the Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE) document. This study was also conducted to describe staff?s attitude towards patient safety and its relationship, as well as an overview of the staff's knowledge of patient safety and its relationship. In addition, this research was conducted to find the right strategy that hospital management must implement in order to improve patient safety at RSIA Bina Medika. This research was a mixed method research with a cross-sectional approach, in which a questionnaire survey was carried out regarding attitudes (with SAQINA) and knowledge, as well as in-depth interviews, Focus Group Discussion (FGD) and a review of related documents including the 2021 OPPE of Nursing section. The research results showed that 54% of staff implement patient safety well. Then, it was known that 56% of staff had a negative attitude towards patient safety and 78% of staff had good knowledge. There was no significant relationship between staff?s attitudes and patient safety, as well as knowledge (p = 1 and p = 0.08). From in-depth interviews it was known that there were several obstacles in implementing patient safety at RSIA Bina Medika. From the FGD, various strategies were obtained to improve patient safety at RSIA Bina Medika which will be implemented in the future. From all of this research it was known that the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika was still not good because there were several obstacles in implementing patient safety at RSIA Bina Medika. The majority of staffs had good knowledge, but there were still many staffs who had negative attitude towards patient safety. Apart from attitude and knowledge, it was known that there were many other factors that also contribute to the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika.
Read More
B-2304
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Aniza Winanda; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Helen Andriani, Wachyu Sulistiadi, Tirsa Persila Awairaro, Sutopo Patria Jati
Abstrak:
Budaya organisasi dapat menjadi jembatan untuk mencapai tujuan organisasi pelayanan kesehatan namun juga sebaliknya dapat menjadi pemicu terjadinya hambatan dalam menunjang keselamatan pasien. Budaya organisasi dan budaya keselamatan pasien menjadi landasan untuk dilakukannya perubahan, terutama dalam hal peningkatan mutu pelayanan di rumah sakit. Untuk menciptakan budaya organisasi yang positif, salah satu faktor esensial yang harus dimiliki rumah sakit adalah sumber daya manusia (SDM) yang mampu mendukung tujuan organisasi. Penelitian ini ditujukan untuk memahami bagaimana kepribadian individu sebagai staf di rumah sakit memengaruhi pembentukan budaya organisasi dan penerapan budaya keselamatan pasien di RSUD Scholoo Keyen. 131 tenaga medis fungsional dan struktural menjadi responden dalam penelitian kuantitatif. Selanjutnya dilakukan wawancara mendalam terhadap 9 informan dan diskusi kelompok terfokus bersama 3 perwakilan manajemen rumah sakit. Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa banyak staf yang cenderung mengalami sikap permusuhan, kurang mampu bertanggung jawab dalam pekerjaan, dan memiliki kapasitas menyelesaikan masalah yang rendah. Penilaian terhadap budaya organisasi menunjukkan bahwa nilai-nilai organisasi di tingkat makro masih dinilai rendah. Selain itu, 84.7% staf menilai penerapan budaya keselamatan pasien di rumah sakit masih negatif dan belum efektif. Staf menilai bahwa manajemen rumah sakit masih perlu melakukan perbaikan dari aspek kepemimpinan, kerja sama tim, pengenalan stres, dan pengembangan potensi staf.

Organizational culture (OC) serves as a bridge to achieve a health service organization’s purpose, but on the contrary, a negative OC can impede patient safety. Organizational culture and patient safety culture (PSC) aims to improve the quality of services in hospitals. To create a positive OC & PSC, one of the essential factors is human resources (HR) that organizational goals. This research aims to understand how individual staff personalities influence the formation of OC and the implementation of PSC at Scholoo Keyen Regional Hospital. medical personnel were included in the quantitative research. Qualitative research was then conducted through in-depth interviews with 9 informants and a focused group discussion with 3 hospital management representatives. The results of this research found that a substantial portion of staff had hostile attitudes, are less able to take responsibility at work, and have a low capacity to solve issues. Assessment of OC shows that organizational values at the macro level are still considered low. In addition, 84.7% of staff assessed that the implementation of PSC in the hospital was negative and not effective. Staff reported that hospital management needs to improve in terms of leadership, teamwork, stress recognition, and developing staff potential.
Read More
B-2492
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indera; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Purnawan Junadi, Masyitoh, Ferdy D. Tiwow, Dini Handayani
Abstrak: Penelitian menggunakan desain sequential explanatory melalui analisis kuantitatif menggunakan kuesioner Survei Farmasi dalam Budaya Keselamatan Pasien dari AHRQ dilanjutkan focus group discussion untuk merumuskan strategi dan kebijakan dalam membangun budaya keselamatan pasien di Instalasi Farmasi RS Santa Elisabeth Batam Kota.

Analisis budaya keselamatan pasien menghasilkan 4 dimensi kategori budaya sedang yang memerlukan perbaikan keselamatan pasien serta 7 dimensi kategori budaya baik yang menjadi kekuatan dalam keselamatan pasien. Pengorganisasian ketenagaan, beban kerja dan pola kerja; konseling pasien; keterbukaan komunikasi; dan respons terhadap kesalahan menjadi kelemahan budaya keselamatan pasien yang menjadi prioritas perbaikan. Tingkat pelaporan kejadian masih rendah dan harus mendapat perbaikan.

Kata kunci: budaya keselamatan pasien, instalasi farmasi

This research uses sequential explanatory design started from quantitative analysis using questionnaire The Pharmacy Survey on Patient Safety Culture (PSOPSC) from AHRQ followed by focus group discussion to formulate strategy to build patient safety culture.

Analysis of patient safety culture resulted in 4 dimensions of moderate cultural categories that require improvement and 7 dimensions of good cultural categories that be strength of the patient safety culture. Staffing, Work Pressure and Pace; Patient counseling; Communication openness; and Response to Mistakes is weakness of the patient safety culture that become priority improvement. Level of incident reporting is still low and need improvement.

Keywords: patient safety culture, pharmacy installation
Read More
B-1904
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imelda; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Masyitoh, Ferdi D. Tiwow, Dini Handayani
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui status budaya keselamatan pasien di RS Awal Bros Batam tahun 2016. Konsep yang digunakan adalah konsep budaya keselamatan pasien dari AHRQ (2004) yang diadopsi dari penelitian Puspitasari M. (2009), kemudian untuk perbaikan digunakan konsep keandalan sistem dari Marx D. (2010). Desain penelitian adalah sequential explanatory, menggunakan kuesioner AHRQ yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dilanjutkan dengan FGD untuk merumuskan upaya perbaikan dimensi lemah. Status budaya keselamatan pasien termasuk kategori budaya sedang, rerata persepsi positif 70,82%. Kekuatan terbesar adalah pembelajaran organisasi dan perbaikan berkelanjutan, umpan balik dan komunikasi tentang keselamatan pasien, keterbukaan komunikasi. Dimensi terlemah terutama pada staffing, respon non punitive terhadap kesalahan, serah terima dan transisi. Saran perbaikan dengan mengurangi tugas non core job, program retensi karyawan, hotline service internal, leader lead tracer, pelatihan investigator.
Kata kunci : Budaya keselamatan pasien rumah sakit, keselamatan pasien, budaya keselamatan

This study aims to analys the hospital of patient safety culture of Awal Bros Hospital Batam in 2016. The concept used was the concept of patient safety culture from AHRQ (2004) which is adopted from Puspitasari M. research (2009), then for improvement used the concept of system reliability form Marx D. (2010). The research design was sequential explanatory, used questionnaire from AHRQ which has been translated to Indonesia language, followed by FGD to formulate the weak dimension improvement effort. Patient safety culture status categorized into medium culture, average of positive perception 70,82%. The greatest strengths are in organizational learning and continuous improvement, feedback and communication about patient safety, communication openness. Weaknesses are primarily in staffing, non-punitive responses to errors, handover and transitions must be fixed immediately. Improvement suggestions by reducing non core job assignments, employee retention programs, hotline service internal, leader lead tracer, investigator training.
Keywords: Hospital of patient safety culture, patient safety, safety culture
Read More
B-1894
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yekti Wulandari Agustini; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Dumilah Ayuningtyas, Ferry Irwansyah, Ignatius Kusumo Budiono
Abstrak: Instalasi Farmasi RSUD Balaraja berusaha menerapkan keselamatan pasienuntuk meningkatkan pelayanannya. Penelitian ini bertujuan mengetahuitingkat kematangan budaya keselamatan pasien di Instalasi Farmasi RSUDBalaraja serta komitmen RSUD Balaraja dalam menerapkan keselamatanpasien. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan FGDberdasarkan Manchester Patient Safety Assessment Framework. Hasilpenelitian menyatakan bahwa penerapan budaya keselamatan pasien diInstalasi Farmasi RSUD Balaraja berada pada tingkat birokratis. Disarankanagar diadakan pelatihan keselamatan pasien kepada seluruh staf farmasi agarmereka memiliki kompetensi dalam hal keselamatan pasien. TimKeselamatan Pasien Rumah Sakit harus diaktifkan untuk menegakkanpenerapan budaya keselamatan pasien.Kata Kunci : Penerapan, Budaya Keselamatan Pasien, Instalasi Farmasi.
Read More
B-1799
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive