Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31562 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fakhri Rahman; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Zakiah
Abstrak: Program Operasi Katarak Gratis merupakan salah satu program kerja Dinas Kesehatan Kota Depok yang telah dilaksanakan sejak tahun 2004 dan pada tahun 2015 target program operasi katarak di Kota Depok tidak terpenuhi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang membahas tentang evaluasi program operasi katarak gratis di Kota Depok pada tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak tercapainya target program operasi katarak gratis di Kota Depok disebabkan oleh kurangnya pelatihan yang diberikan kepada petugas kesehatan di masyarkat, kurangnya sosialisasi program operasi katarak gratis di masyarakat dan banyaknya masyarakat Kota Depok yang telah terdaftar menjadi pasien BPJS. Di era BPJS saat ini masyarakat yang terdaftar menjadi pasien BPJS tidak diperbolehkan mengikuti program operasi katarak gratis karena dapat berpotensi terjadinya pembiayaan ganda terhadap pasien tersebut.
 

 
Free Cataract Surgery Program has been implemented since 2004 in Depok. However, in 2015 the target of cataract surgery program in Depok is not fulfilled. This study is a qualitative descriptive study with aim to evaluate the free cataract surgery program in Depok 2015. The results showed that the target of free cataract surgery program not fulfilled caused by the lack of training that given to health workers in the community, lack of socialization about free cataract surgery program, and majority of public who already have registered in BPJS. In BPJS era, people who have registered in BPJS are not allowed to register for free cataract surgery program because it would be a double burden for BPJS.
Read More
S-9182
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fazryani Mazita Torano; Pembimbing: Surya Ede Darmawan; Penguji: Vetty Yulianti Permanasari, Wayu Sulistiadi, Didik Supriyono, Yana Supiana
Abstrak: Kota Serang telah menjalankan program Sanitasi Total BerbasisMasyarakat (STBM) sejak tahun 2012. Namun masih ditemukan perilaku BuangAir Besar Sembarangan (BABS) dan akses masyarakat terhadap penggunaanjamban masih cederung sama dengan sebelum dilaksanakan program yaitu barumencapai 60% dari target sebesar 90%. Penelitian ini bertujuan menganalisisimplementasi program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Kota Serang.Subyek penelitian adalah Dinas Kesehatan, Puskesmas, kader, dan masyarakat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi Program STBM PilarPertama di Kota Serang belum dilaksanakan secara optimal, media informasisebagai sarana sosialisasi kebijakan masih kurang. Sikap pelaksana menunjukkankurangnya komitmen dari pelaksana kebijakan dalam mengimpelentasikankebijakan program STBM. Koordinasi dengan pihak eksternal belum berjalandengan baik. Dibutuhkan strategi sosialisasi yang tepat dan merata kepada semuakalangan.
Kata kunci : STBM, implementasi, evaluasi
Serang has been doing the program of Community Based Total Sanitation(STBM) since 2012. However, there are still found the behavior of defecationcarelessly (BABS) and the public access toward of the use of toilet is still same asbefore the program implemented, it is only reach 60% of the target of 90%. Thisstudy aims to analyze the implementation of program of Community Based TotalSanitation in Serang. The subjects are the Department of Health, Clinic, cadresand the public.The results of the study shows that the implementation of the First PillarSTBM program in Serang city has not been implemented optimally, media as ameans of policy socialization is still lacking. The attitude of executive shows thelack of commitment of implementing policy in implementing the program policiesSTBM. Coordination with external parties have not been going well. It needsproper and equitable socialization strategy to all parties.
Keywords: STBM, implementation, evaluation.
Read More
T-4579
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nelty Rosanna; Pembimbing: Wiku B. Adisasmito; Penguji: Mieke Savitri, Ernawati
S-4451
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahrina; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Rita Damayanti, Hamid Chalid
Abstrak: Indonesia menjadi negara ketiga dengan konsumsi tembakau terbesar di dunia dan terus meningkat prevalensinya. Paparan asap rokok akan membahayakan bagi orang lain, perokok pasif akan menjadi korban dari perilaku merokok yang semena-mena. Kawasan Tanpa Rokok merupakan peraturan yang harus diterapkan berdasarkan UU Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Tempat Belajar mengajar menjadi salah satu Kawasan Tanpa Rokok yang ditetapkan oleh Pemerintah. Universitas Indonesia sebagai institusi pendidikan yang menjadi contoh dan peduli lingkungan sudah mentapkan UI sebagai kawasan Tanpa Rokok berdasarkan SK Rektor UI. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok di universitas Indonesia Tahun 2015. Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif dengan mertode wawancara mendalam dan observasi dengan pendekatan kerangka kerja logis. Hasil penelitian adalah Kawasan Tanapa Rokok UI belum memiliki indikator yang sesuai dengan peraturan kementerian kesehatan dan belum optimal dalam pelaksanaannya. Faktor kendala utama adalah tidak adanya komitmen, konsistensi, ketegasan penegakan peraturan, kejelasan tanggung jawab dan wewenang Pelaksana Tugas Harian KTR UI sehingga akan berdampak pada alokasi anggaran dan aktivitas dalam pelaksanaan kawasan tanpa rokok serta output yang dicapai. Kata Kunci : Evaluasi, Kawasan tanpa Rokok, Kerangka Kerja Logis
Read More
S-8724
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmah Kusuma Dewi; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Ede Surya Darmawan, Pujiyanto, Enny Ekasari, Rachma Dewi
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan efisiensi Puskesmas di Kota Depok tahun 2015. Penelitian ini menggunakan disain cross sectional, dengan pendekatan kuantitatif. Efisiensi Puskesmas diperoleh dengan menggunakan metode Data Envelopment Analysis, model Variable Returns to Scale, dan berorientasi output. Penelitian dilakukan di seluruh Puskesmas wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Depok, yaitu sebanyak 35 Puskesmas, yang terdiri dari 7 Puskesmas Rawat Inap dan 28 Puskesmas Non Rawat Inap, serta terbagi dalam 11 Kecamatan. Hasil perhitungan efisiensi teknik menunjukkan bahwa semua Puskesmas Rawat Inap sudah efisien, Puskesmas Non Rawat Inap sebanyak 14 Puskesmas (50%) efisien. Berdasarkan wilayah, sebanyak 8 kecamatan (72,7%) efisien. Ketidakefisienan Puskesmas Non Rawat Inap, berdasarkan slack input masih terdapat pemanfaatan input yang belum optimal pada semua variabel, dan berdasarkan slack output masih terdapat pencapaian output yang belum maksimal pada variabel jumlah kunjungan. Perhitungan efisiensi skala, diperoleh hasil bahwa sebanyak 3 Puskesmas Rawat Inap (42,86%) sudah efisien, sebanyak 18 Puskesmas Non Rawat Inap (64,29%) sudah efisien, sedangkan berdasarkan wilayah, sebanyak 4 kecamatan (36,37%) sudah efisien. Kata Kunci: efisiensi, DEA, Puskesmas This study aims to identify efficiency and factors related to efficiency in PHC in Depok City 2015. This study used a cross-sectional design with quantitative approach. The efficiency of PHC was collected with Data Envelopment Analysis method, Variable Returns to Scale model, and output orientation. The number of samples in this study were 35 PHCs, which was the total sample that consisted of 7 PHCs with inpatient facility and 28 PHCs without inpatient facility, and were divided into 11 districts. The results from the technical efficiency calculation showed that all PHCs with inpatient facility were efficient. As many as 50% PHCs without inpatient facility were efficient. According to district area, 72,7% PHCs were efficient. The inefficiency of PHCs without inpatient facility according to the slack input was that the utilization of all variables were not optimal, and according to the slack output, the output achievement in the visit amount variable was still not maximal. The results from scale efficiency calculation showed that as many as 42,86% PHCs with inpatient facility were efficient, as many as 64,29% PHCs without inpatient facility were efficient. According to district area, 36,37% PHCs were efficient. Keywords: efficiency, DEA, PHC
Read More
T-4843
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tibia Kesuma Putri; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Pujianto, Samsul Bahri
S-9368
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hermawati; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Ede Surya Darmawan, Zakiah
Abstrak:
ABSTRAK Nama : Hermawati Program Studi : Kesehatan Masyarakat Judul : Evaluasi Efektifitas Pelaksanaan Sistem Rekam Medis Elektronik di Puskesmas Sukmajaya Kota Depok Tahun 2022 Pembimbing : Prof. Dr. drg. Wachyu Sulistiadi, M.A.R.S Peraturan Menteri Kesehatan No 24 tahun 2022 tentang Rekam Medis menyatakan bahwa seluruh Fasilitas Pelayanan Kesehatan sudah harus wajib untuk menyesuaikan dan melaksanakan Rekam Medis Elektronik. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mempercepat pelayanan dengan mengimplementasikan Rekam Medis Elektronik secara maksimal. Puskesmas sudah menerapkan rekam medis berbasis elektronik akan tetapi rekam medis berbasis kertas masih digunakan pada pelayanan kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem RME masih dalam pengembangan. Dari segi waktu, rekam medis konvensional kurang efisien karena dibutuhkan waktu untuk mencari, mengambil dan mengantar Rekam Medis ke masing-masing unit. Untuk mengetahui permasalahan rekam medis elektronik di Puskesmas Sukmajaya dilakukan evaluasi dengan metode Human, Organization, Technology dan Net Benefit (HOT fit Model). Jenis Penelitian adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam menggunakan pedoman wawancara. Pengolahan dan analisis data menggunakan pendekatan analisis isi (content analysis). Hasil Penelitian Human pedaftaran pasien pendidikan SMA, pengguna dapat menerima sistem RME, Organization manajemen sangat mendukung, Infrastruktur belum lengkap, dan belum adanya Pedoman dan SOP RME, Technology internet yang tidak stabil, Pelatihan yang jarang diadakan, sering terjadi Eror Sistem sehingga data yang sudah di input tidak tersimpan, Fitur RME belum disesuaikan dengan kebutuhan tiap unit, belum adanya integrasi RME oleh semua unit. Kata Kunci : RME, Hot Fit, Efektifitas, Evaluasi

ABSTRACT Name : Hermawati Study Program : Public Health Title : Evaluation of the Effectiveness of the Implementation of the Electronic Medical Record System at the Sukmajaya Health Center in Depok City in 2022. Supervisor : Prof. Dr. drg. Wachyu Sulistiadi, M.A.R.S Minister of Health Regulation No. 24 of 2022 concerning Medical Records states that all Health Service Facilities are required to adapt and implement Electronic Medical Records. One of the efforts made to speed up service is by implementing Electronic Medical Records to the fullest. The Puskesmas has implemented electronic-based medical records, but paper-based medical records are still used in health services. This shows that the RME system is still under development. In terms of time, conventional medical records are less efficient because it takes time to search, retrieve and deliver medical records to each unit. To find out the problems with electronic medical records at the Sukmajaya Health Center, an evaluation was carried out using the Human, Organization, Technology and Net Benefit (HOT fit Model) method. This type of research is descriptive qualitative. Data collection through in-depth interviews using interview guidelines. Processing and analysis of data using content analysis approach (content analysis). Results of Human Research registration of high school education patients, users can receive the RME system, Management organizations are very supportive, Infrastructure is incomplete, and there is no RME Guidelines and SOP, Internet technology is unstable, Training is rarely held, System Errors often occur so that the data is the input is not stored, the RME feature has not been adapted to the needs of each unit, there is no RME integration by all units. Keywords: RME, Hot Fit, Effectiveness, Evaluation
Read More
S-11201
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eni Dwijayanti; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Mardiati Nadjib, Kurnia Sari, Mary S. Maryam, Wirabrata
Abstrak:

ABSTRAK Kemajuan teknologi dalam peralatan kedokteran menciptakan alternatif baru dalam pelayanan kedokteran, termasuk di oftalmologi. Salah satu cara operasi katarak yang baru disebut fakoemulsifikasi (Fako) yang memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan cara konvensional yaitu Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular (EKEK). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas biaya dari dua metode operasi katarak yaitu Fako dan EKEK yang dilakukan di RSUP Fatmawati di Jakarta. Penelitian ini deskriptif, namun beberapa pendekatan analitis juga digunakan. Pengambilan data secara cross sectional dengan sampel sebanyak 192 pasien operasi katarak (96 pasien Fako dan 96 pasien EKEK) yang dipilih secara acak dari 300 populasi. Data sekunder diperoleh dari rekam medis pasien yang menjalani operasi katarak pada tahun 2009 di rumah sakit untuk mengetahui tiga indikator keberhasilan operasi. Activity-based costing (ABC) digunakan untuk menghitung biaya dari setiap metode, dan teknik pembobotan oleh duabelas dokter mata dari RSUP Fatmawati dan RSU Dr. Sardjito dilakukan untuk mendapatkan nilai tunggal (indeks komposit) dari efektivitas operasi katarak. Biaya yang dihitung adalah biaya langsung yang berhubungan dengan operasi katarak, yaitu biaya pemeriksaan mata, biaya laboratorium, biaya rontgen thorax, biaya konsultasi, biaya operasi, biaya pelayanan farmasi, dan biaya administrasi. Efektivitas diperoleh melalui pembobotan tiga indikator keberhasilan operasi katarak, yaitu ketajaman visus pasca operasi, tidak adanya astigmat pasca operasi, dan tidak adanya komplikasi intra-operasi dan pasca-operasi. Perhitungan efektivitas operasi katarak dilakukan dengan modifikasi metode Bayes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya satuan normatif operasi Fako sebesar Rp. 4.419.755,17, yang lebih mahal dibandingkan EKEK (Rp. 3.369.549,24). Biaya obat-obatan dan bahan medis adalah komponen biaya terbesar pada operasi katarak di RSUP Fatmawati. Hasil penelitian menunjukkan ketajaman visus pasca-operasi untuk grup Fako secara signifikan lebih baik daripada kelompok EKEK (p <0,05 dan odds ratio = 28.5). Dalam hal tidak adanya astigmat pasca-operasi, kelompok Fako secara signifikan lebih baik daripada kelompok EKEK (p <0,05, rasio odds = 22.7). Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok untuk tidak adanya komplikasi intra-operasi dan pasca-operasi (p> 0,05). Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa Average Cost-effectiveness Ratios (ACER) metode Fako lebih rendah (Rp.1.379.326,08) dibandingkan dengan ACER EKEK (Rp. 1.485.113,49). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa, dalam penelitian ini metode Fako lebih cost effective daripada metode EKEK. Disarankan penelitian lebih lanjut yang mencakup seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pasien operasi katarak dengan menggunakan jumlah sampel yang lebih besar, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif terhadap dua teknik operasi katarak dan pilihan yang lebih baik terhadap teknik operasi yang dapat ditawarkan untuk populasi yang lebih luas.


 

Abstract Technological advancement in medical equipment has created new alternatives in medical care, including in ophthalmology. One of the new cataract operation called Phacoemulsification (Phaco) provides better results as compared to conventional Extracapsular Cataract Extraction (ECCE). This study aimed at exploring the cost-effectiveness of two methods of cataract surgeries i.e. Phaco and ECCE done at Fatmawati General Hospital in Jakarta. It was a descriptive inquiry in nature; however, some analytical approaches were also used. A cross sectional examination of a sample of 192 cataract surgery patients (96 phaco patients and 96 ECCE patients) was randomly selected from 300 populations. Secondary data were obtained from patients? medical records undergoing cataract surgeries in 2009 at the hospital to explore three success indicators of the surgeries. Activity-based costing (ABC) was used to calculate the costs of each method, and weighing technique of twelve peer ophthalmologists from Fatmawati General Hospital and Dr. Sardjito General Hospital was done to obtain a single value (composite index) of the effectiveness indicators of the cataract surgery. The costs were calculated for direct costs relevant to cataract surgery, i.e. the costs of eye examinations, laboratory tests, thorax roentgen, consultation, surgical fees, pharmaceutical services, and administrative costs. The effectiveness were obtained through the weighing of three success indicators of cataract surgery, i.e. post-operative visual acuity, the absence of post-operative astigmatism, and the absence of intra-operative and post-operative complications. The calculation of effectiveness of cataract surgery was performed by modified Bayes Method. The findings of the study showed that the normative unit cost of Phaco surgery was Rp. 4.419.755,17, which was more expensive than that of ECCE (Rp. 3.369.549,24). The costs of medicines and medical supplies were the largest cost components in cataract surgery in Fatmawati General Hospital. The result of study showed that post-operative visual acuity for Phaco group was significantly better than ECCE group (p 0.05). The result of this study also found that the average cost-effectiveness ratio (ACER) of Phaco method was lower (Rp.1.379.326,08) than that of ECCE (Rp. 1.485.113,49). Therefore, it was concluded that, in this study, Phaco method was more cost effective than ECCE method.More rigorous studies covering all the costs incurred to patients of cataract surgeries using a bigger sample size were suggested, so that a more comprehensive understanding of the two cataract surgery techniques could be obtained and a better choice of the surgery technique could be offered for wider population.

Read More
T-3280
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Randi Irmayanto; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Wahyu Sulistiadi, Roberia, Zakiah Muhammad
Abstrak:
Pengambilan keputusan tentang penanganan COVID-19 dalam situasi pandemi sangat penting untuk dilakukan di tengah banyaknya keputusan yang harus dibuat dalam rangka pembuatan kebijakan publik di sektor kesehatan. Penelitian ini berusaha melakukan evaluasi terhadap efektivitas kebijakan penanganan COVID-19 yang dilakukan di Kota Depok. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan fenomologi. Fenomena yang dilihat dalam penelitian ini adalah perkembangan kebijakan COVID-19 yang dikaitkan dengan aspek dukungan sumber daya dan strategi penanganan yang terdiri dari pencegahan, deteksi, dan respons. Hasil penelitian menunjukkan dukungan sumber daya yang digunakan untuk penanganan COVID-19 dinilai belum sesuai seperti yang diharapkan karena lebih banyak berfokus pada kegiatan respons. Sementara itu, Secara umum kebijakan penanganan COVID-19 yang ditetapkan oleh Kota Depok dinilai sudah efektif jika dilihat dari perkembangan kasus yang tertangani sampai dengan tahun 2022. Namun begitu, berdasarkan hasil dari evaluasi efektivitas penanganan COVID-19 masih diperlukan peningkatan efektivitas pada kebijakan terkait pencegahan dan deteksi.

Decision-making on the handling of COVID-19 in a pandemic situation is very important to do in the midst of many decisions that must be made in the context of making public policies in the health sector. This study seeks to evaluate the effectiveness of covid-19 handling policies carried out in Depok City. In this study, qualitative proximity to phenomological design was used. The phenomenon seen in this study is the development of COVID-19 policies which are associated with aspects of resource support and handling strategies consisting of prevention, detection, and response. The results showed that the support resources used for handling COVID-19 were considered not as expected because they focused more on response activities. Meanwhile, in general, the COVID-19 handling policy set by Depok City is considered effective when viewed from the development of cases handled until 2022. However, based on the results of the evaluation of the effectiveness of handling COVID-19, it is still necessary to increase the effectiveness of policies related to prevention and detection.
Read More
T-6526
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evi Dwi Yanti; Pembimbing: Amila Megraini; Penguji: Enny Ekasari, Pujiyanto
S-9183
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive