Ditemukan 30012 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Ni Putu Eka Puspitasari; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Hendra, Agus Triyono
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Driver Performance pada pengemudi bus Perum DAMRI Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Lampung tahun 2017. Variabel yang di teliti adalah faktor individu (umur, masa kerja dan tingkat pendidikan), faktor pekerjaan (jadwal kerja dan waktu istirahat) dan faktor lingkungan (sarana prasarana jalan, gangguan selama perjalanan dan kondisi kendaraan).
Driver Performance diukur berdasarkan pada 5 indikator dari Driver and Vehicle Standards Agency (DVSA) yaitu persiapan sebelum perjalanan, kontrol pengemudi, kepatuhan lalu lintas, keselamatan berkendara dan peninjauan peningkatan mengemudi. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kuantitatif observasional dengan menggunakan studi cross sectional melalui penyebaran kuesioner dengan jumlah sampel sebanyak 53 responden dan observasi lapangan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan univariat menggunakan analisis distribusi dan analisis bivariat untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang bermakna secara statistik.
Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa Driver Performance responden sebagian besar adalah baik (67,9%). Hasil analisis bivariat menyatakan ada hubungan yang secara statistik bermakna antara driver performance dengan variabel kondisi kendaraan (p-value 0,0, OR 9,7 (2,5-37).
Kata Kunci: bus, pengemudi, driver performance
This study aims to explain the factors associated with Driver Performance on DAMRI Lampung Intercity bus drivers. Variables in the observation are the individual factors (age, years of service and education level), work factors (work schedule and rest period) and environmental factors (road infrastructure, disruption during trip and vehicle conditions).
Driver performance are measured based on the 5 indicators of the Driver and Vehicle Standards Agency (DVSA) of pre-trip preparation, driver control, traffic compliance, driving safety and improved driver review. This study was conducted through an observational quantitative approach using cross sectional study through the spreading of questionnaires with the number of samples of 53 respondents and field observation. The data obtained in this study were analyzed by univariate using distribution analysis and bivariate analysis to know whether there was a significant relationship statistically.
The result of univariate analysis shows that the Driver Performance of respondent is mostly good (67,9%). The result of bivariate analysis stated that there was a statistically significant relationship between driver performance and vehicle condition (p-value 0,0, OR 9,7(2,5-37).
Keywords: bus, driver, driver performance
Read More
Driver Performance diukur berdasarkan pada 5 indikator dari Driver and Vehicle Standards Agency (DVSA) yaitu persiapan sebelum perjalanan, kontrol pengemudi, kepatuhan lalu lintas, keselamatan berkendara dan peninjauan peningkatan mengemudi. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kuantitatif observasional dengan menggunakan studi cross sectional melalui penyebaran kuesioner dengan jumlah sampel sebanyak 53 responden dan observasi lapangan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan univariat menggunakan analisis distribusi dan analisis bivariat untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang bermakna secara statistik.
Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa Driver Performance responden sebagian besar adalah baik (67,9%). Hasil analisis bivariat menyatakan ada hubungan yang secara statistik bermakna antara driver performance dengan variabel kondisi kendaraan (p-value 0,0, OR 9,7 (2,5-37).
Kata Kunci: bus, pengemudi, driver performance
This study aims to explain the factors associated with Driver Performance on DAMRI Lampung Intercity bus drivers. Variables in the observation are the individual factors (age, years of service and education level), work factors (work schedule and rest period) and environmental factors (road infrastructure, disruption during trip and vehicle conditions).
Driver performance are measured based on the 5 indicators of the Driver and Vehicle Standards Agency (DVSA) of pre-trip preparation, driver control, traffic compliance, driving safety and improved driver review. This study was conducted through an observational quantitative approach using cross sectional study through the spreading of questionnaires with the number of samples of 53 respondents and field observation. The data obtained in this study were analyzed by univariate using distribution analysis and bivariate analysis to know whether there was a significant relationship statistically.
The result of univariate analysis shows that the Driver Performance of respondent is mostly good (67,9%). The result of bivariate analysis stated that there was a statistically significant relationship between driver performance and vehicle condition (p-value 0,0, OR 9,7(2,5-37).
Keywords: bus, driver, driver performance
S-9340
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Devani Ersa; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Candra Satrya, Yuni Kusminanti
S-6775
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Olivia Yolanda; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Farida Tusafariah
Abstrak:
Bus merupakan sarana transportasi publik yang masih menjadi pilihanmasyarakat luas untuk menempuh perjalanan jarak dekat maupun jarak jauhkarena biayanya yang relatif lebih murah. Kondisi pengemudi berperanpenting dalam penyediaan pelayanan kebutuhan masyarakat akantransportasi ini. Pengemudi yang mengalami kelelahan dan tidak diatasimaka akan meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan. Oleh karena itu,survei ini bertujuan untuk melihat kelelahan dan faktor-faktor yangmempengaruhinya yang mungkin terjadi pada pengemudi Bus Antar KotaAntar Propinsi (AKAP) Jurusan Jakarta-Solo.
Variabel yang diteliti diantaranya faktor internal pengemudi (usia, jenis, IMT, kondisi fisik, masakerja, waktu tidur) dan faktor eksternal pengemudi (durasi mengemudi, waktu kerja dan jadwal kerja). Kelelahan diukur menggunakan kuesioner berdasarkan gejala kelelahan subjektif. Hasil survei menunjukkan sebagian besar pengemudi mengalami kelelahan ringan dan hanya sebagian kecil yang mengalami kelelahan sedang dengan durasi mengemudi dan kurangnya waktu tidur sebagai faktor yang berhubungan terhadap terjadinya kelelahan pengemudi Bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) Jurusan Jakarta-Solo.
Kata Kunci : kelelahan pengemudi.
Read More
Variabel yang diteliti diantaranya faktor internal pengemudi (usia, jenis, IMT, kondisi fisik, masakerja, waktu tidur) dan faktor eksternal pengemudi (durasi mengemudi, waktu kerja dan jadwal kerja). Kelelahan diukur menggunakan kuesioner berdasarkan gejala kelelahan subjektif. Hasil survei menunjukkan sebagian besar pengemudi mengalami kelelahan ringan dan hanya sebagian kecil yang mengalami kelelahan sedang dengan durasi mengemudi dan kurangnya waktu tidur sebagai faktor yang berhubungan terhadap terjadinya kelelahan pengemudi Bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) Jurusan Jakarta-Solo.
Kata Kunci : kelelahan pengemudi.
S-7658
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kelvin; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Adenan
Abstrak:
Skripsi ini membahas mengenai kelelahan pada pengemudi Bus Malam CepatAntar Kota Antar Provinsi PO. X tahun 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kelelahan pada pengemudi berdasarkan faktor usia,status gizi, kondisi kesehatan masa kerja, waktu tidur, monotoni kerja, jadwal kerja dan durasi mengemudi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara tidak terstruktur dan kuesioner. Hasil penelitian menyatakan bahwa 33 (97,1 %) pengemudi BusMalam Cepat Antar Kota Antar Provinsi PO. X mengalami kelelahan ringan dan 1(2,9 %) pengemudi mengalami kelelahan sedang.Kata kunci:Pengemudi, bus malam cepat antar kota antar provinsi, kelelahan.
Read More
S-7773
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hanifah; Pambimbing: Indri Hapsari Susilowati; Panguji: Hendra, Agus Triono
S-9388
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rani Sulastri; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Hanny Harjulianti, Neni Herlina
Abstrak:
Read More
Perilaku mengemudi berisiko merupakan salah satu faktor utama penyebab kecelakaan lalu lintas, terutama pada pengemudi transportasi umum yang memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan penumpang dalam jumlah besar. Pada periode libur Idul Fitri, peningkatan mobilitas masyarakat dan kepadatan lalu lintas berpotensi meningkatkan tekanan kerja, distres psikologis, serta mempengaruhi perilaku pengemudi. Faktor psikologis dan kondisi kesehatan pengemudi diperkirakan berperan terhadap munculnya perilaku mengemudi berisiko pada pengemudi bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku mengemudi berisiko pada pengemudi bus AKAP di Terminal Kampung Rambutan selama periode libur Idul Fitri tahun 2026. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif pada 97 pengemudi bus AKAP. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk menilai faktor sosiodemografi, distres (aggresif, ketidaksukaan mengemudi, pemantauan bahaya, dan pencarian sensasi), kesehatan fisik, serta perilaku mengemudi berisiko berdasarkan dimensi pelanggaran, kesalahan dan kelalaian. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dan Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berusia ≥40 tahun (67%), memiliki masa kerja ≥10 tahun (58,8%), mengalami agresivitas tinggi (54,6%), serta dinyatakan laik mengemudi (77,3%). Perilaku mengemudi berisiko tinggi ditemukan pada dimensi pelanggaran sebesar 21,6%, kesalahan sebesar 7,2%, dan kelalaian sebesar 6,2%. Faktor psikologis menunjukkan hubungan bermakna terhadap perilaku mengemudi berisiko, terutama aggresif (OR=24,03; 95%CI=3,06–186,54; p=0,001), ketidaksukaan mengemudi (RR=2,818; 95%CI=1,753–4,530; p=0,001), dan mencari sensasi berkendara (OR=29,77; 95%CI=3,785–234,11; p=0,001). Variabel pemantauan bahaya tidak menunjukkan hubungan bermakna (p=0,054). Faktor kesehatan fisik dan status laik mengemudi tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan perilaku mengemudi berisiko (p>0,05). Disimpulkan bahwa faktor distress memiliki kontribusi lebih besar terhadap perilaku mengemudi berisiko dibandingkan faktor kesehatan fisik dan sosiodemografi pada pengemudi bus AKAP. Intervensi berupa skrining psikologis berkala, manajemen stres kerja, pelatihan keselamatan berkendara, dan penguatan program kesehatan kerja perlu dikembangkan untuk menurunkan risiko kecelakaan lalu lintas pada pengemudi transportasi umum. Kata kunci: perilaku mengemudi berisiko, pengemudi bus AKAP, distres psikologis, keselamatan berkendara, kesehatan kerja
Risky driving behavior is one of the major contributing factors to traffic accidents, particularly among public transportation drivers who bear responsibility for the safety of a large number of passengers. During the Eid al-Fitr holiday period, increased population mobility and traffic congestion may intensify work-related pressure, psychological distress, and consequently influence drivers’ behavior. Psychological factors and drivers’ physical health conditions are considered to contribute to the occurrence of risky driving behavior among intercity and interprovincial (AKAP) bus drivers. This study aimed to analyze factors associated with risky driving behavior among AKAP bus drivers at Kampung Rambutan Terminal during the 2026 Eid al-Fitr holiday period. A cross-sectional study with a quantitative approach was conducted among 97 AKAP bus drivers. Data were collected using questionnaires to assess sociodemographic factors, psychological distress (aggression, dislike of driving, hazard monitoring, and thrill seeking), physical health conditions, and risky driving behavior based on the dimensions of violations, errors and lapses. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analyses through Chi-square and Fisher Exact tests. The results showed that the majority of respondents were aged ≥40 years (67%), had work experience of ≥10 years (58.8%), experienced high levels of aggression (54.6%), and were considered fit to drive (77.3%). High-risk driving behavior was found in the violations dimension (21.6%), , errors (7.2%), and lapses (6.2%). Psychological factors demonstrated significant associations with risky driving behavior, particularly aggression (OR=24.03; 95% CI=3.06–186.54; p=0.001), dislike of driving (RR=2.818; 95% CI=1.753–4.530; p=0.001), and thrill seeking (OR=29.77; 95% CI=3.785–234.11; p=0.001). The hazard monitoring variable did not show a significant association (p=0.054). Physical health factors and driving fitness status also did not show significant associations with risky driving behavior (p>0.05). It can be concluded that psychological distress factors contribute more substantially to risky driving behavior than physical health and sociodemographic factors among AKAP bus drivers. Interventions such as periodic psychological screening, occupational stress management, road safety training, and strengthening occupational health programs should be developed to reduce the risk of traffic accidents among public transportation drivers. Keywords: risky driving behavior, AKAP bus drivers, psychological distress, road safety, occupational health
T-7615
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gloria Anandara Azharil Pembimbing: Hendra; Penguji: Robiana Modjo, Syafrijal Fajri Lubis
Abstrak:
Driver performance adalah sebuah luaran atau hasil dari perilaku pengemudi dan kondisi mengemudi yang dibandingkan dengan standar atau peraturan yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor pekerjaan dan non pekerjaan yang berhubungan dengan driver performance pada PT. X. Variabel yang termasuk dalam faktor pekerjaan meliputi durasi kerja, waktu istirahat, kondisi kendaraan, dan kondisi jalan. Sedangkan variabel yang termasuk dalam faktor non pekerjaan meliputi usia, tingkat pendidikan, status pernikahan, pengalaman mengemudi, kuantitas tidur, fatigue, merokok, konsumsi obat-obatan, dan konsumsi alkohol. Desain studi cross sectional digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan kuesioner dari Driver and Vehicle Standard Agency (DVSA) pada 74 responden pengemudi bus PT. X trayek Bogor dan Purwakarta. Hasil penelitian menunjukkan 81,1% pengemudi memiliki driver performance baik dan 18,9% memiliki driver performance cukup. Berdasarkan hasil uji statistik, variabel durasi kerja, kondisi jalan, kuantitas tidur, dan fatigue memiliki hubungan yang signifikan terhadap driver performance.
Read More
S-10170
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Candra Tri Prasetyo; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Chandra Satrya, Ike Pujiriani
Abstrak:
Kelelahan pada pengemudi bus antarprovinsi jurusan Blitar-Jakarta berisiko tinggi dalam kecelakaan lalu lintas yang dapat menyebabkan kerugian terutama pada penumpang, pengemudi dan perusahaan otobus. Hasil prasurvey di PT CTP menunjukkan bahwa 3 dari 7 pengemudi mengeluh kelelahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kelelahan dan faktor risiko yang memengaruhi kelelahan pada pengemudi bus antarprovinsi jurusan Blitar-Jakarta.
Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional, bersifat deskriptif dengan pendekatan semikuantitatif observasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling yang berjumlah 31 responden. Variabel yang diteliti di antaranya faktor risiko terkait kerja (shift kerja, durasi mengemudi, dan waktu istirahat) dan faktor risiko tidak terkait kerja (usia, indeks masa tubuh, waktu tidur, masa kerja, pekerjaan sampingan, dan kondisi kesehatan). Data dianalisis dengan metode Fisher exact, Fatigue Severity Scale digunakan sebagai instrumen untuk mengukur kelelahan.
Hasil penelitian ini menunjukkan hampir semua pengemudi mengalami kelelahan. Meskipun secara statistik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat kelelahan dengan faktor risiko baik yang terkait maupun tidak terkait dengan pekerjaan. Namun, faktor risiko terkait pekerjaan dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan memiliki kontribusi dalam menaikkan risiko kelelahan pada pengemudi bus.
Read More
Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional, bersifat deskriptif dengan pendekatan semikuantitatif observasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling yang berjumlah 31 responden. Variabel yang diteliti di antaranya faktor risiko terkait kerja (shift kerja, durasi mengemudi, dan waktu istirahat) dan faktor risiko tidak terkait kerja (usia, indeks masa tubuh, waktu tidur, masa kerja, pekerjaan sampingan, dan kondisi kesehatan). Data dianalisis dengan metode Fisher exact, Fatigue Severity Scale digunakan sebagai instrumen untuk mengukur kelelahan.
Hasil penelitian ini menunjukkan hampir semua pengemudi mengalami kelelahan. Meskipun secara statistik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat kelelahan dengan faktor risiko baik yang terkait maupun tidak terkait dengan pekerjaan. Namun, faktor risiko terkait pekerjaan dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan memiliki kontribusi dalam menaikkan risiko kelelahan pada pengemudi bus.
S-10087
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Raha Dwi Purwa; Pembimbing: Baiduri; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Syahrul Effendi
T-2643
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syafrijal Fajri; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Abdul Kadir, Ahmad Wildan, Jonter Sitohang
Abstrak:
Read More
Mengemudi bus merupakan salah satu jenis pekerjaan yang mempunyai risiko tinggi terhadap kecelakaan lalu lintas. Seorang pengemudi harus selalu mengharapkan sesuatu yang tidak diharapkan, sehingga akan selalu waspada dan sadar serta berhati-hati dalam bertingkah laku saat mengemudikan kendaraan. Safety driving merupakan dasar perilaku mengemudi yang lebih memperhatikan keselamatan khususnya bagi pengemudi itu sendiri dan orang disekitarnya. Safety driving didesain untuk meningkatkan kesadaran pengemudi terhadap segala kemungkinan yang tejadi selama mengemudi. Pentingnya safety driving pada saat berkendara merupakan salah satu pilar dalam mewujudkan keamaan dan keselamatan berlalu lintas dan sangat berpeluang untuk mengurangi kecelakaan yang terjadi. Desain penelitian pada penelitian ini adalah cross sectional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan perilaku berkendara selamat dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 308 pengemudi bus di PT XYZ. Adapun metode pengambilan data dilakukan dengan melakukan pengisian kuesioner kepada responden. Selanjutnya data yang didapatkan diolah secara deskriptif dan inferensial menggunakan software statistik untuk melihat gambaran dan hubungan dari setiap variabel. Variabel independen pada penelitian ini adalah usia, masa kerja, status kebugaran, komunikasi dengan atasan, komunikasi dengan rekan kerja, kondisi jalan, kondisi kendaraan, waktu kerja pengemudi, jarak tempuh, SOP, kebijakan, pengawasan, kompensasi, status kepegawaian, training improvement, dan pemberian reward & punishment. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status kebugaran (POR=6.203 (3.649 – 10.547)), komunikasi dengan atasan (POR=4.025 (2.500–6.478)), kondisi kendaraan (POR=2.602 (1.622-4.173)), waktu kerja pengemudi (POR=2.287 (1.447-3.614)), jarak tempuh (POR=1.904 (1.209-2.998)), SOP (POR=1.850 (1.175-2.913)), kebijakan (POR=1.860 (1.182-2.925)), pengawasan (POR=1.904 (1.209-2.998)), kompensasi (POR=2.570 (1.622-4.072)), training improvement (POR=8.069 (4.790-13.593)), dan pemberian reward & punishment (POR=2.199 (1.384-3.493)) dengan perilaku berkendara selamat. Sedangkan variabel usia, masa kerja, komunikasi dengan rekan kerja, kondisi jalan, dan status kepegawaian tidak menunjukan adanya hubungan dengan perilaku berkendara selamat. Status kebugaran menjadi faktor dominan yang mempengaruhi perilaku berkendara selamat pada pengemudi bus di PT. XYZ.
Driving a bus is one of the types of jobs that carries a high risk of traffic accidents. A driver must always expect the unexpected, so they remain vigilant, aware, and cautious in their behavior while driving. Safety driving is a driving behavior foundation that focuses on safety, especially for the driver themselves and those around them. Safety driving is designed to raise driver awareness of all potential events that may occur during driving. The importance of safety driving while driving is one of the pillars in achieving road safety and can significantly reduce the occurrence of accidents. The design of this research is cross-sectional. The aim of this study is to analyze factors associated with safe driving behavior using a quantitative approach. The sample in this study consisted of 308 bus drivers at PT XYZ. Data collection was done by administering questionnaires to the respondents. The data obtained were processed descriptively and inferentially using statistical software to examine the relationships and patterns of each variable. The independent variables in this study include age, years of service, health status, communication with superiors, communication with coworkers, road conditions, vehicle conditions, driving duration, travel distance, SOP, policies, supervision, compensation, employment status, training improvement, and reward & punishment. The results showed a significant relationship between health status (POR = 6.203 (3.649 – 10.547)), communication with superiors (POR = 4.025 (2.500 – 6.478)), vehicle conditions (POR = 2.602 (1.622 – 4.173)), driving duration (POR = 2.287 (1.447 – 3.614)), travel distance (POR = 1.904 (1.209 – 2.998)), SOP (POR = 1.850 (1.175 – 2.913)), policies (POR = 1.860 (1.182 – 2.925)), supervision (POR = 1.904 (1.209 – 2.998)), compensation (POR = 2.570 (1.622 – 4.072)), training improvement (POR = 8.069 (4.790 – 13.593)), and reward & punishment (POR = 2.199 (1.384 – 3.493)) with safe driving behavior. On the other hand, the variables of age, years of service, communication with coworkers, road conditions, and employment status did not show any relationship with safe driving behavior. Health status is a dominant factor that influences safe driving behavior of bus drivers at PT. XYZ.
T-7225
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
