Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29509 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Atika Ramadhani; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Endang L. Achadi, Casilia Meti Dwiriani
Abstrak: KEJADIAN STATUS GIZI LEBIH PADA REMAJA MERUPAKAN MASALAH YANG SUDAH TERJADI DIMANA-MANA. PREVALENSI STATUS GIZI LEBIH PADA REMAJA DI JAKARTA TIMUR LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN DENGAN ANGKA PROVINSI DKI JAKARTA. REMAJA YANG MEMILIKI STATUS GIZI LEBIH DAPAT BERISIKO TERKENA BERBAGAI PENYAKIT DEGENERATIF , MEMILIKI STATUS GIZI LEBIH DIMASA MENDATANG, DAN DAMPAK PALING BURUKNYA, YAITU KEMATIAN DINI. PENELITIAN INI MERUPAKAN PENELITIAN KUANTITATIF YANG BERTUJUAN UNTUK MENGETAHUI HUBUNGAN ANTARA FAKTOR-FAKTOR RISIKO TERHADAP STATUS GIZI LEBIH PADA MURID SLTA X DI JAKARTA TIMUR TAHUN 2017. DESAIN PENELITIAN YANG DIGUNAKAN ADALAH DESAIN POTONG LINTANG PADA 130 ORANG RESPONDEN USIA 15-17 TAHUN. METODE PENGAMBILAN DATA YANG DIGUNAKAN ANTARA LAIN PENGUKURAN TINGGI BADAN DAN BERAT BADAN DENGAN MICROTOISE DAN TIMBANGAN DIGITAL, PENGISIAN KUESIONER, DAN PENCATATAN WAKTU MAKAN. ANALISIS STATISTIK YANG DIGUNAKAN ADALAH UNIVARIAT DAN BIVARIAT MENGGUNAKAN UJI CHI-SQUARE. HASIL PENELITIAN MENUNJUKKAN BAHWA 33,8% MURID MEMILIKI STATUS GIZI LEBIH. HASIL ANALISIS BIVARIAT MENUNJUKKAN BAHWA TIDAK ADA HUBUNGAN YANG SIGNIFIKAN ANTARA VARIABEL INDEPENDEN, YAITU JENIS KELAMIN, ASUPAN ENERGI DAN ZAT GIZI MAKRO, KEBIASAAN JAJAN, PENGETAHUAN GIZI, AKTIVITAS FISIK, KECEPATAN MAKAN, DAN PERSEPSI CITRA TUBUH DENGAN STATUS GIZI LEBIH. NAMUN, TERDAPAT BEBERAPA VARIABEL YANG MEMILIKI KECENDERUNGAN TERHADAP STATUS GIZI LEBIH, YAITU ASUPAN LEMAK, KEBIASAAN JAJAN, PENGETAHUAN GIZI, AKTIVITAS FISIK, KECEPATAN MAKAN, DAN PERSEPSI CITRA TUBUH. UNTUK ITU, PERLU ADANYA EDUKASI ATAU PENYULUHUAN MENGENAI CARA MENJAGA STATUS GIZI DAN MENGAPLIKASIKAN PEDOMAN GIZI SEIMBANG.
KATA KUNCI : STATUS GIZI LEBIH, REMAJA
Read More
S-9480
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Manzilla; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Nazhif Gifari
Abstrak: Dehidrasi merupakan kondisi yang terjadi apabila air yang keluar dari dalam tubuh melebihi air yang masuk ke dalam tubuh. Kejadian dehidrasi pada remaja lebih tinggi dibandingkan pada orang dewasa dan dapat berdampak pada penurunan performa fisik dan kognisi, serta meningkatkan risiko berbagai gangguan atau penyakit.
 
Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status dehidrasi pada murid di SLTA X Jakarta Timur tahun 2017. Data yang dikumpulkan berupa status dehidrasi, konsumsi air, kebiasaan minum, pengetahuan air dan dehidrasi, aktivitas fisik, status gizi dan jenis kelamin. Pengambilan data diukur melalui kuesioner, metode food recall 2x24 jam, pengukuran antropometri, serta pengukuran status dehidrasi melalui warna urin dengan menggunakan Kartu PURI Periksa Urin Sendiri.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 64.2 responden mengalami status dehidrasi dari 134 responden. Berdasarkan uji statistik Chi Square diketahui bahwa terdapat hubungan bermakna antara status dehidrasi dengan konsumsi air dan status gizi. Proporsi kejadian dehidrasi lebih banyak terjadi pada remaja yang memiliki konsumsi air rendah dan status gizi lebih.
 

Dehydration is a condition that happens when the output of water from the body exceeds the body rsquo s water intake. Dehydration happens to adolescents more often than to adults and can contribute in the lowering physical performance and cognition, and may also increase the risk of several disabilities or diseases.
 
This study takes on a cross sectional design in order to know the factors related to dehydration status in SLTA X students, East Jakarta 2017. Data collected in this study includes dehydration status, water intake, drinking habit, knowledge towards water and dehydration, physical activity, nutritional status, and gender. Data was collected using a questionnaire, 2 x 24 hours food recall, anthropometry measures, and measuring dehydration status using PURI cards.
 
Results of this study conclude that 64.2 of the 134 respondents were dehydrated. Furthermore, Chi Square analysis shows that there is a significant relation between water intake and nutritional status. Also, the proportion of dehydration occurs more on adolescents with low water intake and an over nutrition status.
Read More
S-9407
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eva Dayu Yohana Sihombing; Pembimnbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Avliya Quratul Marjan
Abstrak:
Gizi lebih merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat pada populasi dewasa dan pekerja. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular serta berdampak pada produktivitas kerja. Pekerja sektor konstruksi memiliki karakteristik pekerjaan dan lingkungan kerja yang berpotensi memengaruhi status gizi melalui karakteristik individu, asupan zat gizi, dan faktor perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada pekerja di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional Sampel penelitian berjumlah 124 pekerja laki-laki yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara, dan pengisian kuesioner. Variabel yang diteliti meliputi karakteristik individu (usia, jenis pekerjaan, status pernikahan, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan), asupan zat gizi (energi, karbohidrat, protein, dan lemak), serta faktor perilaku (aktivitas fisik, perilaku merokok, dan durasi tidur). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69,4% pekerja mengalami status gizi lebih. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara usia (p=0,035), tingkat pendapatan (p=0,021), asupan energi (p=0,031), aktivitas fisik (p=0,036), dan perilaku merokok (p=0,004) dengan status gizi lebih pada pekerja PT X. Sementara itu, jenis pekerjaan, status pernikahan, tingkat pendidikan, asupan karbohidrat, asupan protein, asupan lemak, dan durasi tidur tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan status gizi lebih (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa status gizi lebih merupakan masalah kesehatan yang cukup tinggi pada pekerja PT X. Faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih meliputi karakteristik individu berupa usia dan tingkat pendapatan, faktor asupan berupa asupan energi, serta faktor perilaku berupa aktivitas fisik dan perilaku merokok. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian status gizi lebih melalui pengendalian asupan, peningkatan aktivitas fisik di luar jam kerja, serta edukasi kesehatan yang mempertimbangkan karakteristik pekerja yang berisiko.

Overnutrition is one of the health problems that continues to increase among adult and working populations. This condition can increase the risk of various non-communicable diseases and negatively affect work productivity. Construction workers have occupational and work-environment characteristics that may influence nutritional status through individual characteristics, nutrient intake, and behavioral factors. This study aimed to analyze the factors associated with overnutrition among workers at PT X in 2026. This study employed a cross-sectional design. A total of 124 male workers were selected using a convenience sampling technique. Data were collected through anthropometric measurements, interviews, and questionnaires. The variables studied included individual characteristics (age, type of work, marital status, educational level, and income level), nutrient intake (energy, carbohydrate, protein, and fat intake), and behavioral factors (physical activity, smoking behavior, and sleep duration). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the chi-square test. The results showed that 69.4% of workers had overnutrition. Bivariate analysis demonstrated significant associations between age (p=0.035), income level (p=0.021), energy intake (p=0.031), physical activity (p=0.036), and smoking behavior (p=0.004) and overnutrition among PT X workers. Meanwhile, type of work, marital status, educational level, carbohydrate intake, protein intake, fat intake, and sleep duration were not significantly associated with overnutrition (p>0.05). It can be concluded that overnutrition is a relatively prevalent health problem among PT X workers. Factors associated with overnutrition include individual characteristics (age and income level), dietary factors (energy intake), and behavioral factors (physical activity and smoking behavior). Therefore, efforts to prevent and control overnutrition among workers are needed through the management of intake, promotion of physical activity outside working hours, and health education programs that take into account the characteristics of at-risk workers.
Read More
S-12365
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fildzah Khairunna Huwaida; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Trini Sudiarti, Salimar
Abstrak: Konsumsi sayur merupakan salah satu bagian penting dalam mewujudkan gizi seimbang, untuk itu dianjurkan mengonsumsi sayur sebanyak 3-4 porsi/hari. Namun, anjuran tersebut belum terealisasi ditandai dengan tingginya data kurang konsumsi sayur dan buah dalam Riskesdas 2007 (93,6%) dan 2013 (93,5%), khususnya di DKI Jakarta sebesar 94,5%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan konsumsi sayur menurut faktor individu dan faktor lingkungan serta sumbangannya terhadap kecukupan serat dan zat gizi mikro pada remaja di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, dilakukan pada bulan April-Mei 2017 di SLTA X Jakarta Timur dengan 146 murid. Sampel didapatkan dengan metode purposive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh responden dan wawancara 2x24-hour food recall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi sayur murid hanya sebesar 25 g/hari (1,25 porsi/hari). Konsumsi sayur tersebut menyumbang 0,95% terhadap kecukupan serat, 5,08% terhadap kecukupan vitamin A, 3,86% terhadap kecukupan vitamin C, dan 1,32% terhadap kecukupan zat besi. Analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna pada konsumsi sayur murid menurut sikap (nilai-p=0,001), preferensi (nilai-p=0,007), keyakinan diri (nilai-p=0,019), pengaruh teman (nilai-p=0,024), dan pengaruh orang tua (0,005). Berdasarkan hasil tersebut diharapkan sekolah dapat membuat program kesehatan, khususnya edukasi gizi untuk menambah pengetahuan murid mengenai pentingnya konsumsi sayur setiap hari sesuai anjuran Pedoman Gizi Seimbang. Kata Kunci : konsumsi sayur, remaja, faktor individu, faktor lingkungan Vegetables consumption is one important part in realizing balanced nutrition, so it recommended to consume vegetables as much as 3-4 servings per day. However, national scale showed that vegetables and fruits consumption was less (93.6% in 2007 and 93.5% in 2013), especially in DKI Jakarta at 94.5%. This study aims to know the differences of vegetables consumption according to individual factors and environmental factors and their contribution to fiber and micronutrients in adolescents in DKI Jakarta. This study used cross sectional design, conducted in April-May 2017 at SLTA X in East Jakarta with 146 students. The sample was obtained by purposive sampling method. Data were collected by using questionnaires filled by respondents and 2x24-hour food recall interview. The results showed that the vegetables consumption students 25 gram per day (1.25 servings per day). Vegetables consumption contributes 0.95% to fiber adequacy, 5.08% to vitamin A adequacy, 3.86% to vitamin C adequacy, and 1.32% to iron adequacy. The bivariate analysis showed that there were significant differences of vegetables consumption according to the attitude, preference, selfefficacy, peer influence, and parenal influence (p-value = 0.001, 0.007, 0.019, 0.024, and 0.005). Based on that, it is expected that schools can create health programs, especially nutrition education to increase students knowledge about the importance of daily consumption of vegetables as recommended by the Balanced Nutrition Guide. Keywords: vegetables consumption, adolescents, individual factors, environmental factors
Read More
S-9510
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisa; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Sinta Fransiske Simanungkalit
Abstrak:
Status gizi lebih adalah kondisi penumpukan lemak yang berlebihan dan jika terjadi dalam jangka panjang dapat berdampak buruk pada kesehatan (WHO, 2024b). Berdasarkan data WHO, prevalensi overweight pada remaja usia 10–19 tahun di seluruh dunia mencapai 18,9%, naik dari 7,5% pada tahun 1990. Prevalensi obesitas juga melonjak dari 1,7% pada 1990 menjadi 7,2% pada 2022 (WHO, 2024c). Peningkatan prevalensi kejadian status gizi lebih pada siswa/i SMA juga terjadi di Jakarta Utara. Berdasarkan data Riskesdas 2013 dan 2018, prevalensi status gizi lebih pada usia 16-18 tahun naik dua kali lipat dari 6,9% menjadi 14,77% (Kemenkes RI, 2013, 2018b). Status gizi lebih pada remaja dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik, psikologis, dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian status gizi lebih pada siswa SMA Negeri 13 Jakarta. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Pengambilan data dilakukan melalui pengukuran antropometri, pengisian formulir SQ-FFQ, serta pengisian kuesioner online. Penelitian dilakukan pada 132 responden dengan metode simple random sampling. Data yang diperoleh dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menemukan bahwa 22% responden mengalami status gizi lebih, dengan 15,2% gizi lebih dan 6,8% obesitas. Analisis uji chi-square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara asupan energi (p-value 0,001; OR 14,4) dan asupan karbohidrat (p-value 0,001; OR 10,3 dengan status gizi lebih pada siswa SMA Negeri 13 Jakarta tahun 2025. Namun, tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan lemak, asupan protein, asupan serat, aktivitas fisik, durasi tidur, screen time, emotional eating (p-value > 0,05) dan pengetahuan status gizi lebih (p-value 0,046; OR 2,806; 95% CI 0,989-7,966) dengan status gizi lebih pada siswa SMA Negeri 13 Jakarta tahun 2025. Walaupun demikian, terdapat kecenderungan responden dengan asupan lemak berlebih, asupan protein berlebih, aktivitas fisik kurang, durasi tidur kurang, screen time tinggi, dan pengetahuan status gizi lebih yang kurang untuk mengalami status gizi lebih. Oleh karena itu, SMA Negeri 13 Jakarta disarankan untuk melakukan pemantauan status gizi siswa secara periodik disertai edukasi mengenai status gizi dan pedoman gizi seimbang. 

Overnutrition is a condition of excessive fat accumulation, and if it occurs over a long period, it can have negative impacts on health (WHO, 2024b). According to WHO data, the global prevalence of overweight among adolescents aged 10–19 years has reached 18.9%, up from 7.5% in 1990. The prevalence of obesity also surged from 1.7% in 1990 to 7.2% in 2022 (WHO, 2024c). An increase in the prevalence of overnutrition among senior high school students has also been observed in North Jakarta. Based on Riskesdas data from 2013 and 2018, the prevalence of overnutrition among those aged 16–18 years doubled from 6.9% to 14.77% (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2013, 2018b). Overnutrition in adolescents can negatively affect physical, psychological, and social health. This study aims to identify the factors associated with overnutrition among students of SMA Negeri 13 Jakarta. The results showed that 22% of respondents had overnutrition, with 15.2% classified as overweight and 6.8% as obese. Chi-square test analysis indicated a significant association between energy intake (p-value 0.001; OR 14,4) and carbohydrate intake (p-value 0.001; OR 10.3 with overnutrition status among students at SMA Negeri 13 Jakarta in 2025. However, no significant relationship was found between fat intake, protein intake, fiber intake, physical activity, sleep duration, screen time, emotional eating (p-value > 0.05), and knowledge of overnutrition status (p-value 0.046; OR 2.806; 95% CI 0.989–7.966) with overnutrition status among the students. Nevertheless, there was a tendency for respondents with excessive fat intake, excessive protein intake, low physical activity, insufficient sleep duration, high screen time, and poor knowledge of overnutrition to experience overnutrition. Therefore, it is recommended that SMA Negeri 13 Jakarta conduct regular monitoring of students' nutritional status along with education on nutrition status and balanced nutrition guidelines.
Read More
S-12023
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sherly Ardi Vantono; Pembimbing; Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Triyanti, Kusuma Wijayanti
Abstrak: GIZI LEBIH MERUPAKAN MASALAH KESEHATAN YANG DAPAT BERDAMPAK BURUK PADA ANAK SEKOLAH. SD X JAKARTA TIMUR TELAH MEMILIKI PROGRAM KESEHATAN, NAMUN PREVALENSI GIZI LEBIH TAHUN 2016 MASIH TINGGI YAITU SEBESAR 20%. TUJUAN UMUM PENELITIAN INI ADALAH DIKETAHUINYA FAKTOR DOMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI LEBIH PADA SISWA KELAS 4 DAN 5 DI SD X JAKARTA TIMUR TAHUN 2017. PENELITIAN INI MENGGUNAKAN DESAIN CROSS-SECTIONAL. RESPONDEN DALAM PENELITIAN INI SEBANYAK 201 RESPONDEN DI SD X JAKARTA TIMUR. HASIL PENELITIAN MENUNJUKKAN SEBESAR 58,2% SISWA MENGALAMI GIZI LEBIH. PADA ANALISIS BIVARIAT MENUNJUKKAN HUBUNGAN ANTARA JENIS KELAMIN DAN ASUPAN LEMAK DENGAN STATUS GIZI LEBIH. PENELITIAN INI JUGA MENDAPATKAN HASIL ANALISIS MULTIVARIAT YAITU JENIS KELAMIN SEBAGAI FAKTOR DOMINAN KEJADIAN GIZI LEBIH PADA SISWA DI SD X JAKARTA TIMUR TAHUN 2017. OLEH KARENA ITU SEKOLAH DIHARAPKAN DAPAT MEMBERIKAN EDUKASI MENGENAI MAKANAN SEIMBANG, MEMILIKI CONTROLLER DI KANTIN SEKOLAH SERTA DAPAT MEMPERBARUI PROGRAM KESEHATAN DI SEKOLAH. KATA KUNCI: GIZI LEBIH, SISWA, SEKOLAH DASAR, JENIS KELAMIN. OVERNUTRITION IS HEALTH PROBLEM THAT CAN AFFECT ADVERSELY TO SCHOOL CHILDREN. X PRIMARY SCHOOL EAST JAKARTA ALREADY HAVE HEALTH PROGRAM, BUT PREVALENCE OF OVERNUTRITION IN 2016 IS STILL HIGH AT 20%. GENERAL PURPOSE OF THIS RESEARCH IS TO KNOW THE DOMINANT FACTOR RELATED TO OVERNUTRITION AT 4TH AND 5TH GRADE STUDENT AT X PRIMARY SCHOOL EAST JAKARTA IN 2017. THIS RESEARCH USE CROSS-SECTIONAL DESIGN. THERE IS 201 RESPONDENT OF THIS RESEARCH AT X PRIMARY SCHOOL EAST JAKARTA. RESULT OF THIS RESEARCH SHOWN THAT 58,2% STUDENTS SUFFER FROM OVERNUTRITION. ON BIVARIATE ANALYSIS SHOWN RELATION BETWEEN GENDER AND FAT INTAKE WITH OVERNUTRITION. THIS RESEARCH ALSO OBTAINED MULTIVARIATE ANALYSIS RESULT THAT GENDER IS THE DOMINANT FACTOR OF OVERNUTRITION AT X PRIMARY SCHOOL STUDENT EAST JAKARTA IN 2017. KEYWORDS: OVERNUTRITION, STUDENT, PRIMARY SCHOOL, GENDER.
Read More
S-9517
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Destia Fitriyanti; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Debby Permata Sari
Abstrak:
Kejadian gizi lebih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya terus meningkat pada penduduk dewasa di Jakarta Pusat, terutama di Kecamatan Kemayoran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada penduduk dewasa usia 40−59 tahun di Kecamatan Kemayoran tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan menggunakan data primer yang melibatkan 170 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan 80,59% responden berisiko gizi lebih (IMT ≥ 23 kg/m2). Pada analisis multivariabel, diketahui asupan energi berlebih, sering konsumsi makanan berlemak, sering konsumsi junk food, durasi tidur pendek, interaksi jenis kelamin dan konsumsi junk food, serta interaksi asupan karbohidrat dan durasi tidur menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian gizi lebih. Konsumsi junk food menjadi faktor dominan yang memengaruhi kejadian gizi lebih pada penduduk dewasa usia 40−59 tahun di Kecamatan Kemayoran tahun 2025. Dapat disimpukan bahwa perilaku konsumsi makanan yang padat energi dan tinggi lemak berpengaruh terhadap kejadian gizi lebih. Upaya pencegahan gizi lebih pada kelompok usia dewasa akhir perlu difokuskan pada pengendalian konsumsi junk food melalui pendekatan promotif dan preventif berbasis masyarakat. Kolaborasi antara fasilitas kesehatan tingkat pertama dan dinas kesehatan diperlukan untuk memperluas jangkauan edukasi gizi kepada masyakat.


Overnutrition is a significant public health issue with an increasing prevalence among adults in Central Jakarta, including Kemayoran Sub-District. This study aims to examine the characteristics and factors associated with overnutrition among adults aged 40–59 years in Kemayoran District in 2025. A cross-sectional study design was employed, utilizing primary data from 170 respondents. The results showed that 80.59% of respondents were at risk of overnutrition (BMI ≥ 23 kg/m²). Multivariable analysis identified excessive energy intake, frequent consumption of fatty foods, frequent junk food intake, short sleep duration, the interaction between gender and junk food consumption, and the interaction between carbohydrate intake and sleep duration as significant factors influencing overnutrition. Junk food consumption emerged as the dominant factor contributing to overnutrition among adults aged 40–59 in Kemayoran Subdistrict in 2025. It can be concluded that energy-dense and high-fat dietary behaviors significantly contribute to overnutrition. Preventive efforts targeting this age group should focus on controlling junk food intake through community-based promotive and preventive approaches. Collaboration between primary healthcare services and the health department is essential to broaden the reach of nutrition education among the public.
Read More
S-12091
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dodi Wijaya; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Yvonne M. Indrawani, Sardjono, Marzuki Iskaskar
T-2608
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Larissa Zalfa Fauziah; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Asih Setiarini, Sugiatmi
Abstrak:
Gizi lebih terjadi ketika tubuh menerimaa asupan energi melebihi kebutuhannya sehingga kelebihannya disimpan dalam bentuk lemak. Kondisi ini merupakan faktor risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung koroner, serta dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi sindrom metabolik yang berdampak pada penurunan kualitas hidup dan peningkatan risiko kematian. Tujuan peenelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian status gizi lebih pada Warga Binaan Pemasyarakatan. Metode Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan variabel dependen status gizi lebih dan variabel independen meliputi asupan energi, karbohidrat, protein, lemak, tingkat pendidikan, pengetahuan gizi, aktivitas fisik, durasi tidur, tingkat stres, status merokok, dan riwayat konsumsi alkohol. Pengambilan data dilakukan terhadap 126 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuesioner secara langsung. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil status gizi lebih pada responden sebesar 52,4%. Sebagian besar responden memiliki asupan energi tidak lebih (93,7%), karbohidrat tidak lebih (92,9%), protein tidak lebih (95,2%), dan lemak tidak lebih (65,1%). Karakteristik responden menunjukkan Sebagian besar berpendidikan tinggi (72,2%), pengetahuan gizi baik (59,5%),  aktivitas fisik kurang (93,7%), durasi tidur cukup (77,0%), tingkat stres tinggi (65,1%) berstatus perokok (95,2%), dan memiliki riwayat konsumsi alkohol (58,7%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara asupan energi (p = 0,027; OR = 0,116) dan durasi tidur (p = 0,042; OR = 2,464) dengan kejadian status gizi lebih. Variabel lainnya, yaitu asupan karbohidrat, protein, lemak, tingkat pendidikan, pengetahuan gizi, status merokok, riwayat konsumsi alkohol, dan tingkat stres tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Asupan energi dan durasi tidur merupakan faktor yang secara signifikan berhubungan dengan kejadian status gizi lebih pada WBP. Oleh karena itu, disarankan kepada pihak lembaga pemasyarakatan untuk melakukan pemantauan status gizi secara berkala, memperbaiki kualitas dan kecukupan asupan makan, menyediakan pilihan pangan bergizi di kantin, serta mengadakan edukasi gizi dan program aktivitas fisik secara rutin. Kementerian Kesehatan diharapkan memperluas program gizi hingga menjangkau kelompok WBP melalui kerja sama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

Overnutrition occurs when the body receives excess energy intake beyond its needs, which is then stored as fat. This condition is a risk factor for non-communicable diseases such as hypertension, diabetes mellitus, and coronary heart disease, and in the long term can develop into metabolic syndrome, leading to reduced quality of life and increased risk of mortality. This study aimed to analyze factors associated with overnutrition among prison inmates, including energy, carbohydrate, protein, and fat intake, education level, physical activity, nutritional knowledge, sleep duration, smoking status, stress level, and history of alcohol consumption. This study used a cross-sectional design with overnutrition as the dependent variable and energy intake, carbohydrate, protein, fat, education level, nutritional knowledge, physical activity, sleep duration, stress level, smoking status, and history of alcohol consumption as independent variables. Data were collected from 126 respondents who met the inclusion and exclusion criteria through direct interviews and questionnaire completion. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-square test. The prevalence of overnutrition among respondents was 52.4%. Most respondents had normal energy intake (93.7%), carbohydrate (92.9%), protein (95.2%), and fat (65.1%). The majority had high education (72.2%), good nutritional knowledge (59.5%), insufficient physical activity (93.7%), adequate sleep duration (77.0%), high stress levels (65.1%), smoking status (95.2%), and history of alcohol consumption (58.7%). Bivariate analysis showed significant associations between energy intake (p = 0.027; OR = 0.116) and sleep duration (p = 0.042; OR = 2.464) with overnutrition. Other variables including carbohydrate, protein, and fat intake, education level, nutritional knowledge, smoking status, alcohol consumption history, and stress level showed no significant associations. Energy intake and sleep duration are factors significantly associated with overnutrition among prison inmates. Therefore, correctional facilities are advised to conduct regular nutritional status monitoring, improve food quality, provide nutritious food options in the canteen, and organize nutrition education and physical activity programs routinely. The Ministry of Health is expected to expand nutrition programs to reach prison inmates through collaboration with the Directorate General of Corrections.
Read More
S-12474
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Almira Keviena; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Arie Sumaryadi
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gizi serta faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada karyawan shift di PT Akebono Brake Astra Indonesia tahun 2013. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional, pengambilan sampel secara acak sederhana (simple random sampling), dan dianalasis dengan menggunakan uji chi-square dan uji t independen. Sampel penelitian ini terdiri dari 150 karyawan shift. Pengambilan data penelitian dilakukan pada bulan April 2013. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 34% responden memiliki status gizi lebih. Penelitian ini juga menemukan bahwa status gizi lebih berhubungan dengan asupan energi (p value 0,000), asupan protein (p value 0,004), asupan lemak (p value 0,000) dan asupan karbohidrat (p value 0,000). Disarankan agar perusahaan melakukan pemantauan status gizi karyawan secara rutin, minimal dengan cara melakukan penimbangan berat badan sebulan sekali agar terbangun kesadaran bersama akan keadaan status gizi karyawan sehingga perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat dapat terjadi.
 

The focus of this study was to determine nutritional status and factors that associated with overweight and obesity among shift workers at PT Akebono Brake Astra Indonesia. This study used a cross-sectional design, simple random sampling method and analyzed using the chi-square test and independent t test. The study sample consisted of 150 shift workers. This study was conducted on April 2013. The result of this study shows that 34% of respondents were overweight and obesity. This study also found that overweight and obesity has been associated with energy intake (p value 0,000), protein intake (p value 0,004), fat intake (p value 0,000) and carbohydrate intake (p value 0,000). The researcher suggest that company should take a part to monitoring employees’ nutritional status, minimum by conducting weighing weight once a month to raise awareness about the current condition of employees’ nutritional status so the behavioral changes toward healthy life style could happen.
Read More
S-8001
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive