Ditemukan 36876 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Nita Medy Ana; Pembimbing: Hendra; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Dede Dwicahyo Atmojo
Abstrak:
Kelelahan kerja merupakan bahaya yang penting dalam berbagai sektor industri karena dampaknya yang memengaruhi kemampuan pekerja untuk dapat melakukan pekerjaannya dengan aman. Sektor manufaktur, yang umumnya menerapkan sistem produksi 24 jam memiliki risiko kelelahan pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kelelahan pekerja dan menganalisis faktor-faktor yang dapat memengaruhinya di sektor manufaktur. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan terikat yang diteliti. Sampel dalam penelitian ini adalah 110 orang pekerja pada bagian produksi di stamping plant milik PT. XYZ. Pengumpulan data akan dilakukan secara subjektif dengan menggunakan kuesioner. Tingkat kelelahan pekerja akan diukur menggunakan subjective self rating test dari ifrc, data kualitas dan kuantitas tidur menggunakan kuesioner pittsburgh sleep quality index, data beban kelelahan akan menggunakan kuesioner nasa-tlx, sedangkan untuk data kebisingan akan menggunakan data sekunder perusahaan. Hasil penelitian didapatkan 47,3% dari seluruh responden mengalami kelelahan terkait dengan durasi kerja, beban kerja, kualitas tidur, dan kuantitas tidur.
Kata kunci: faktor risiko; kelelahan; manufaktur
Read More
Kata kunci: faktor risiko; kelelahan; manufaktur
S-9802
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Riska Nur Hendriyanti; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Baiduri Widanarko, Dyah Fitri Wulandari
Abstrak:
Kelelahan adalah suatu kondisi fisik dan / atau mental, yang mengakibatkanpekerja menjadi tidak fokus ketika bekerja dan berdampak negatif padapekerjaannya. Kelelahan merupakan salah satu dari tiga penyebab kesalahandalam pemberian obat. Konsekuensi dari kelelahan kerja perawat salah satunyaadalah terjadinya penurunan dalam mengantisipasi pekerjaan dan keselamatanpasien. Penelitian ini dilakukan untuk melihat adanya hubungan antara faktorterkait pekerjaan maupun non-pekerjaan dengan kelelahan kerja pada perawatUnit Rawat Inap di RSUD Kota Depok. Data yang dikumpulkan secarakeseluruhan diperoleh dari bidang terkait RSUD Kota Depok dengan subjekpenelitian adalah perawat Unit Rawat. Desain penelitian yang digunakan adalahcross sectional dengan menggunakan pendekatan metode kuantitatif (Chi Square).Hasilnya, tidak terdapat hubungan antara faktor terkait pekerjaan maupun non-pekerjaan dengan kelelahan kerja pada perawat Unit Rawat Inap RSUD KotaDepok.
Kata kunci : Kelelahan, perawat Unit Rawat Inap, faktor pekerjaan dan nonpekerjaan.
Read More
Kata kunci : Kelelahan, perawat Unit Rawat Inap, faktor pekerjaan dan nonpekerjaan.
S-9071
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mufida Fati`ah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Muhammad Yuliansya Idul Adha
Abstrak:
Dalam industri transportasi, permasalahan kelelahan menjadi salah satu isu penting yang erat kaitannya dengan kesehatan dan kualitas hidup pengemudi, serta potensi kecelakaan. Pekerjaan mengemudi merupakan suatu pekerjaan yang membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi karena memerlukan koordinasi yang cepat dan tepat antara indera, sehingga mengemudi merupakan suatu pekerjaan yang sangat berisiko tinggi mengalami kelelahan. Terdapat banyak faktor risiko kelelahan pada pengemudi, baik itu dari faktor pekerjaan maupun faktor non pekerjaan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko pekerjaan dan non pekerjaan dengan kelelahan pada pengemudi. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang diadopsi dari kuesioner Fatigue Assessment Scale (FAS) dan Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) untuk mengukur kelelahan pengemudi secara subjektif dan menggunakan aplikasi Sleep-2-Peak untuk mengukur kelelahan pengemudi secara objektif. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja, waktu isitrahat, jenis pekerjaan, monotoni, usaha kerja, penghargaan kerja, stress kerja, usia, dan kualitas tidur dengan kelelahan. Oleh karena itu perlu diadakan pengembangan program pencegahan dan pengendalian kelelahan (fatigue management) di tempat kerja, melihat hubungan faktor pekerjaan lebih dominan terhadap kelelahan dibandingkan faktor non pekerjaan.
Read More
S-10049
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Megapuspadewi Rolasma; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri Widanarko, Kusmanto
S-9013
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dimas Kusuma Wardhana; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Gatot Kusbinuko, Michael Bindu Hutahaean
Abstrak:
Read More
Pertambangan sangat rentan terhadap peningkatan prevalensi kelelahan dibanding pekerjaan pada industri lain, disebabkan banyaknya faktor di lingkungan pertambangan yang dapat mempengaruhi kelelahan. Penelitian ini mengkaji kelelahan pekerja tambang bawah tanah di PT XYZ, Indonesia, menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional. Tujuannya adalah mendapatkan gambaran kelelahan dan hubungan antara kelelahan (variabel dependen) dengan faktor individu, pekerjaan, dan lingkungan fisik (variabel independen). Sampel terdiri dari 119 responden dari total 300 pekerja bagian development, dengan data primer diperoleh melalui kuesioner IFRC dan data sekunder dari literatur serta data pendukung perusahaan. Hasil menunjukkan kelelahan berhubungan signifikan dengan waktu perjalanan (p value=0.042 (pelemahan aktivitas)); (p value=0.043 (pelemahan motivasi)); (p value=0.012 (pelemahan fisik)), kuantitas tidur (p value=0.000 (kelelahan umum)); (p value=0.001 (pelemahan aktivitas)); (p value=0.000 (pelemahan motivasi)); (p value=0.016 (pelemahan fisik)), shift kerja (p value=0.033 (kelelahan umum)), lama jam kerja (p value=0.023 (pelemahan aktivitas)); (p value=0.049 (pelemahan motivasi)), dan suhu (p value=0.016 (pelemahan fisik)), namun tidak berhubungan dengan usia, IMT, status perkawinan, masa kerja, kebisingan, pencahayaan, dan kelembaban. Peneliti merekomendasikan peninjauan terhadap kebijakan perusahaan dalam mengelola faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan untuk meminimalkan risiko kelelahan kerja.
Mining is highly susceptible to increased prevalence of fatigue compared to other industries due to numerous factors in the mining environment that can affect fatigue. This study examines the fatigue of underground mine workers at PT XYZ, Indonesia, using a quantitative cross-sectional approach. The objective is to obtain an overview of fatigue and analyze the relationship between fatigue (dependent variable) and individual factors, job-related factors, and physical environmental factors (independent variables). The sample consists of 119 respondents out of a total of 300 development workers, with primary data obtained through IFRC subjective questionnaires and secondary data from literature and company supporting data. The results show that fatigue significantly correlates with travel time (p value=0.042 (reduce activity)); (p value=0.043 (reduce motivation)); (p value=0.012 (physical fatigue)), sleep quantity (p value=0.000 (general fatigue)); (p value=0.001 (reduce activity)); (p value=0.000 (reduce motivation)); (p value=0.016 (physical fatigue)), shift work (p value=0.033 (general fatigue)), long working hours (p value=0.023 (reduce activity)); (p value=0.049 (reduce motivation)), and temperature (p value=0.016 (physical fatigue)), but not with age, BMI, marital status, length of service, noise, lighting, and humidity. The researchers recommend reviewing company policies to manage fatigue-related factors to minimize the risk of work fatigue.
T-7034
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Azhary Azwar; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri, Hendra, Anton Ojong, Amirullah
T-4854
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Megan Roos Febransyah; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri Widanarko, Umar Fauzi
S-8972
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gloria Anandara Azharil Pembimbing: Hendra; Penguji: Robiana Modjo, Syafrijal Fajri Lubis
Abstrak:
Driver performance adalah sebuah luaran atau hasil dari perilaku pengemudi dan kondisi mengemudi yang dibandingkan dengan standar atau peraturan yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor pekerjaan dan non pekerjaan yang berhubungan dengan driver performance pada PT. X. Variabel yang termasuk dalam faktor pekerjaan meliputi durasi kerja, waktu istirahat, kondisi kendaraan, dan kondisi jalan. Sedangkan variabel yang termasuk dalam faktor non pekerjaan meliputi usia, tingkat pendidikan, status pernikahan, pengalaman mengemudi, kuantitas tidur, fatigue, merokok, konsumsi obat-obatan, dan konsumsi alkohol. Desain studi cross sectional digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan kuesioner dari Driver and Vehicle Standard Agency (DVSA) pada 74 responden pengemudi bus PT. X trayek Bogor dan Purwakarta. Hasil penelitian menunjukkan 81,1% pengemudi memiliki driver performance baik dan 18,9% memiliki driver performance cukup. Berdasarkan hasil uji statistik, variabel durasi kerja, kondisi jalan, kuantitas tidur, dan fatigue memiliki hubungan yang signifikan terhadap driver performance.
Read More
S-10170
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ulfha Aulia Nasution; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Hendra, Robiana Modjo, Bonardo Prayogo Hasiholan, Riana Ranny Diponegara
Abstrak:
Read More
Kelelahan kerja merupakan hal yang sering terjadi di berbagai industri, salah satunya termasuk industri konstruksi. Jenis pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja di industri konstruksi memiliki potensi menimbulkan terjadinya kelelahan kerja oleh karena karakteristik pekerjaan yang berisiko terpajan berbagai faktor. Selain itu kelelahan merupakan masalah umum di antara populasi pekerja. Namun, sedikit yang diketahui tentang hubungan antara faktor risiko pekerjaan dan gejala kelelahan. Desain penelitian pada penelitian ini adalah cross sectional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja konstruksi dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 50 pekerja konstruksi di PT XYZ. Adapun metode pengambilan data dilakukan dengan melakukan pengisian kuesioner kepada responden dan pengukuran menggunakan alat. Selanjutnya data yang didapatkan diolah secara deskriptif dan inferensial menggunakan software statistik untuk melihat gambaran dan hubungan dari setiap variabel. Variabel independen pada penelitian ini adalah umur, masa kerja, perilaku merokok, status menikah, usaha, penghargaan, overcommitment, postur kerja, suhu, dan kebisingan. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok (POR=6.000 (1.558-23.113)), postur kerja (POR=13.000 (2.463–68.604)), usaha (POR=5.296 (1,533-18.299)), penghargaan (POR=5.520 (1.534-19.863)), overcommitment (POR=4.375 (1,325-14.446)), dan kebisingan (POR=6.333 (1.523-26.341)) dengan kejadian kelelahan kerja. Sedangkan variabel umur, masa kerja, dan status menikah tidak menunjukan adanya hubungan dengan kejadian kelelahan kerja.
Work fatigue is a common occurrence across various industries, including the construction industry. The type of work performed by workers in the construction industry has the potential to cause work fatigue due to the nature of the job, which is at risk of exposure to various factors. Additionally, fatigue is a common issue among the working population. However, little is known about the relationship between work risk factors and fatigue symptoms. The research design of this study was cross-sectional. The aim of this study was to analyze the factors related to work fatigue among construction workers using a quantitative approach. The sample for this study consisted of 50 construction workers at PT XYZ. Data collection was carried out by administering questionnaires to respondents and measuring using tools. The data obtained were then processed descriptively and inferentially using statistical software to examine the patterns and relationships of each variable. The independent variables in this study included age, length of service, smoking behavior, marital status, effort, appreciation, overcommitment, work posture, temperature, and distractions. The results showed a significant relationship between smoking behavior (POR=6.000 (1.558-23.113)), work posture (POR=13.000 (2.463–68.604)), effort (POR=5.296 (1.533-18.299)), reward (POR=5.520 (1.534-19.863)), overcommitment (POR=4.375 (1.325-14.446)), and distraction (POR=6.333 (1.523-26.341)) with the occurrence of work fatigue. In contrast, the variables of age, length of service, and marital status did not show any relationship with the occurrence of work fatigue.
T-7172
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Intan Pardyani; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Fatma Lestari, L. Meily, Selamat Riyadi, Bonny Lunrang
Abstrak:
Read More
Kelelahan kerja menjadi perhatian di tempat kerja karena sangat berpotensi mempengaruhi produktivitas, kesehatan dan keselamatan para pekerja yang menjadi penyebab utama kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK) pada pekerja konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis determinan kelelahan kerja pada pekerja konstruksi pekerjaan atap di Proyek ABC di PT. XYZ pada tahun 2024. Desain penelitian pada penelitian ini adalah cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 105 pekerja konstruksi pemasangan atap. Metode pengambilan data dengan melakukan pengisian kuesioner kepada responden dan pengukuran lingkungan kerja. Variabel independen pada penelitian ini adalah faktor work related (jam kerja, penghargaan, kebisingan, pencahayaan, suhu, lama perjalanan, beban kerja) dan faktor individu (usia, Indeks Masa Tubuh, gangguan tidur, masa kerja, overcommitment, riwayat penyakit kronis, pengaruh obat, kemampuan tidur di jam istirahat). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kebisingan, beban kerja, gangguan tidur, masa kerja dan kelelahan kerja. Sehingga faktor dominan yang paling berpengaruh terhadap kelelahan kerja pada pekerja konstruksi pekerjaan atap yaitu pekerja dengan beban kerja tinggi memiliki risiko 23 kali lebih besar berisiko untuk mengalami kelelahan kerja dibandingkan yang memiliki beban kerja rendah pada pekerja konstruksi pekerjaan atap.
Fatigue is a concern in the workplace because it has the potential to affect the productivity, health, and safety of workers, which is the main cause of work accidents and work-related diseases (PAK) in construction workers. This research aims to analyze the determinants of fatigue in roofing construction workers on the ABC Project at PT. XYZ in 2024. The research design in this study is cross-sectional. The sample in this study consisted of 105 roof installation construction workers. The data collection method is by filling out questionnaires to respondents and measuring the work environment. The independent variables in this study are work-related factors (working hours, rewards, noise, lighting, temperature, travel time, workload) and individual factors (age, Body Mass Index, sleep disorders, years of work, overcommitment, history of chronic disease, influence medication, ability to sleep during rest hours). The research results show that there is a significant relationship between noise, workload, sleep disturbances, work experience, and work fatigue. So the dominant factor that has the most influence on work fatigue in roofing construction workers is that workers with a high workload have a 23 times greater risk of experiencing work fatigue than those with a low workload in roofing construction workers.
T-7054
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
