Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37910 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dewa Ayu Dyah Widya; Pembimbing: Kurniasari; Penguji: Adik; Mieke Savitri Wibowo, Lestaria, Chairulsjah Sjahruddin
Abstrak: Latar belakang: Insiden keselamatan pasien didefinisikan sebagai bentukkejadian yang berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah ketika sistempemberian asuhan yang aman tidak dikelola dengan baik oleh suatu rumah sakit.Mengingat masalah keselamatan pasien merupakan masalah yang penting dalamsebuah rumah sakit, maka diperlukan standar keselamatan pasien yang digunakansebagai acuan bagi rumah sakit di Indonesia. Patient Safety Curriculum Guidemerupakan suatu standar pedoman baru yang di buat oleh World HealthOrganization. Hal ini meberikan adanya suatu kurikulum yang baru terkaitdengan penerapa kaidajh keselamatan pasien.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penerapan WHO PSCG padaRumah Sakit Bali Royal dan menilai kaitan penerapan tersebut pada kejadiansalah identifikasi dan perubahan kompetensi perawat yang dinilai melalui metodeOSCE.
Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan one group pre-test and post-testdesign. Akan dinilai berupa efek pemberian pedoman WHO PSGC melalui suatuwork shop dan hands on pada perawat di RS Bali Royal. Evaluasi akan dilakukanterhadap perubahan kompetensi perawat melalui metode OSCE dengan kasuspemasanan infus yang berorientasi pada kaidah patient safety yang dinilaisebelum dan sesudah intervensi oleh penguji idependen. Kemudian dilakukanevaluasi terhadap penurunan kejadian salah identifikasi di RS Bali Royal. Analisisstatistik menggunakan uji normalitas, dan paired sample t-test untukmembandingkan adanya perubahan nilai OSCE dan kejadian salah identifikasisaat sebelum dan sesudah intervensi.
Hasil: Karakteristik subjek penelitian menunjukkan rerata usia adalah 28 tahun,perempuan lebih banyak dari pada laki-laki (72,3%), perawat dari unit kerja rawatinap merupakan unit kerja yang terbanyak (34%), pendidikan sampel lebih banyapada tingkatan sarjana keprawatan (57,4%), pelatihan keselamatn pasien palingbanyak pernah diikuti sebanyak satu kali (59,6%), rerata lama kerja sampel adalahdua tahun. Penelitian ini menemukan bahwa pemberian intervensi berbasis WHOPSCG mampu meningkatkan kompetensi perawat dalam melakukan identifikasi(skor OSCE pre: 57,29 ± 13,81; skor OSCE post: 84,58 ± 7,37; p = 0,000) sertamampu menurunkan kejadian salah identifikasi yang diukur dalam periode satubulan sebelum dan sesudah intervensi (insiden pre: 12,50 ± 2,38; insiden post:7,25 ± 0,95; p=0,006).
Simpulan: Penerapan intervensi berbasis WHO PSCG mampu meningkatkankompetensi perawat dalam melakuka identifikasi yang dinilai melalui metodeOSCE dan mampu menurunkan kejadian salah identifikasi di RS Bali Royal.Kata
kunci: WHO PSCG, salah identifikasi, kompetensi perawat.
Read More
B-1967
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deity Indrayati Nugraha; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Puput Oktamianti, Irena Sakura Rini, Handayani Dini
Abstrak: Angka kunjungan ke poli bedah estetik BROS Denpasar mengalami penurunan yang sangat drastis di tahun 2015, padahal bedah estetik menjadi tren di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi pemasaran yang baik untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi sehingga diharapkan pada akhirnya jumlah kunjungan ke poli bedah estetik BROS Denpasar mengalami peningkatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan observasi, dan wawancara mendalam. Dari Bauran product-price, didapatkan beberapa strategi, yaitu dengan memberikan variasi produk atau tambahan pelayanan, membeli alat bedah estetik dengan teknologi terbaru, dan bisa juga dengan menurunkan tarif layanan bedah estetik. Untuk bauran price-place, strateginya yaitu dengan memindahkan poli bedah estetik ke ruangan yang lebih private. Strategi utnuk bauran people-promotion, yaitu dengan menambah kerjasama dengan agen-agen medical tourism lain, mengubah isi website BROS sehingga lebih menonjolkan layanan bedah estetik, dan lebih aktif lagi untuk promosi layanan bedah estetik di media sosial. Strategi dari bauran people-physical evidence, yaitu dengan memberikan kursus singkat bahasa asing bagi dokter dan perawat, mencari dokter spesialis bedah plastik tetap, dan menempatkan perawat tetap untuk poli bedah plastik. Strategi process-promotion, yaitu dengan mengurangi perantara atau memotong alur proses layanan bedah estetik yang bekerjasama dengan agen asing (ABA). Kata Kunci: Strategi pemasaran, segmenting, targeting, positioning, bauran pemasaran, bedah estetik, The number of visits to BROS Denpasar aesthetic surgery has decreased drastically in 2015, whereas aesthetic surgery has become a worldwide trend, including Indonesia. Therefore, it takes a good marketing strategy to find out the problems faced so it is expected that in the end the number of visits to the aesthetic surgery surgery BROS Denpasar has increased. This research uses qualitative method with observation, and in-depth interview. From the product-price mix, there are several strategies, namely by providing variations of products or additional services, buying aesthetic surgical instruments with the latest technology, and can also lower the rates of aesthetic surgery services. For the price-place mix, the strategy is to move the esthetic surgical poly to a more private room. Strategy for people-promotion mix, by increasing cooperation with other medical tourism agents, changing the content of BROS website so that more emphasis on aesthetic surgery services, and more actively for promotion of aesthetic surgery services in social media. The strategy of the people-physical evolution mix, which is to provide short courses of foreign languages for doctors and nurses, to find a permanent plastic surgeon, and to place a permanent nurse for plastic surgery. Process-promotion strategy, by reducing intermediaries or cutting the flow of aesthetic surgical service process in cooperation with foreign agents (ABA). Keywords: aesthetic surgery, marketing strategic, mix marketing, positioning, segmenting, targeting.
Read More
B-1880
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Bagus Yudistira Nugraha Yustama; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Masyitoh, Prastuti Soewondo, Kalsum Komaryani, Ni Putu Ayu Prima Dewi
Abstrak:

Pemanfaatan ketiga indikator (casemix, CMI, dan HBR) secara berkala untuk mempertahankan mutu sembari menjaga efisiensi pelayanan RS di era JKN. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan strategi peningkatan capaian indikator casemix, casemix index dan hospital baserate RSU Bali Royal tahun 2019 - 2024.
Penelitian dilakukan di RSU Bali Royal selama bulan Mei - Juni 2025, menggunakan data primer wawancara mendalam dan focus group discussion dan sekunder yang didapatkan dari rekapitulasi elektronik klaim (e-klaim) Kemenkes, laporan keuangan, dan laporan rumah sakit. Penelitian ini menggunakan studi observasional pendekatan kualitatif untuk menganalisis capaian indikator Casemix, CMI dan HBR rawat inap dan rawat jalan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat unsur struktur (sumber daya manusia, material, mesin, anggaran, dan metode) dan unsur proses (manajemen pasien, manajemen koding, dan manajemen klaim) membuahkan unsur output (indikator casemix, casemix index, dan hospital baserate) Dinamika penambahan unsur struktur berdampak pada proses pelayanan pasien, efisiensi koding hingga 50%, dan keberhasilan klaim. Casemix rawat jalan tahun 2019 – 2024 diperoleh 11.393; 16.037; 32.763; 59.520; 111.193; dan 129.423. Casemix rawat inap kelas 1 tahun 2019 – 2024 diperoleh 907; 1.321; 2.657; 3.165; 3.829; dan 4.014. Casemix rawat inap kelas 2 tahun 2019-2024 diperoleh 818; 1.013; 1.800; 2.511; 3.052; dan 3.309. Casemix rawat inap keas 3 tahun 2019 – 2024 diperoleh 205; 539; 1.557; 2.023; 2.646; dan 3.038. Nilai CMI rawat jalan tahun 2019 – 2024 diperoleh 0,98; 1,11;1,16; 1,21; 1,35;dan 1,24. CMI rawat inap kelas 1 tahun 2019 – 2024 diperoleh 1,32; 1,60; 1,84; 1,57; 1,45; dan 1,37. CMI rawat inap kelas 2 tahun 2019 – 2024 diperoleh 1,17; 1,36; 1,58; 1,41; 1,33; dam 1,33. CMI rawat inap kelas 3 tahun 2019 – 2024 diperoleh 1,46; 1,82; 1,67; 1,54; 1,53; dan 1,45. HBR rawat jalan tahun 2019 – 2024 diperoleh 354.393; 333.231; 257.536; 243.675; 226.650; dan 238.494. HBR rawat inap kelas 1 tahun 2019 – 2024 diperoleh 5.257.416; 6.028.120; 5.477.120; 5.970.918; 6.542.667; dan 7.082.825. HBR rawat inap kelas 2 tahun 2019 – 2024 diperoleh 4.449.693; 5.628.665; 4.817.066; 4.993.043; 5.156.750; dan 5.563.012. HBR rawat inap kelas 3 tahun 2019 – 2024 diperoleh 3.616.138; 4.594.204; 3.746.071; 4.325.317; 4.584.260; dan 4.789.356. Nilai casemix dan casemix index mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan capaian CMI di atas standar rumah sakit swasta kelas C regional 2. HBR rawat jalan pada tahun 2021-2024 dibawah HBR nasional, namun HBR rawat inap kelas 1, 2, dan 3 selalu berada di atas HBR nasional. Strategi yang dapat ditempuh untuk peningkatan casemix, casemix index, dan penurunan HBR adalah optimalisasi unsur struktur dengan perbaikan sumber daya manusia dan pengkajian metode, efisiensi mesin, material, dan anggaran, dan evaluasi pada unsur proses (manajemen pasien, koding, dan klaim).


 

The periodic utilization of three key indicators—casemix, Casemix Index (CMI), and Hospital Base Rate (HBR)—is crucial for maintaining service quality while ensuring operational efficiency in hospitals, particularly within Indonesia's National Health Insurance (JKN) system. This study aimed to analyze factors influencing, and develop strategies for enhancing the performance of, casemix indicators, the Casemix Index, and the Hospital Base Rate at Bali Royal General Hospital over the period 2019–2024. The research was conducted at Bali Royal General Hospital from May to June 2025. Primary data were collected through in-depth interviews and focus group discussions, while secondary data were obtained from the Ministry of Health's electronic claim (e-claim) database, hospital financial reports, and institutional records. This study employed an observational design with a qualitative approach to analyze the performance of casemix indicators, CMI, and HBR for both inpatient and outpatient services. The findings revealed that structural elements (i.e., human resources, materials, machinery, budget, and methods) and process elements (i.e., patient management, coding management, and claims management) collectively determine output elements, identified as casemix indicators, the Casemix Index, and the Hospital Base Rate. Strategic enhancements to these structural elements were found to positively impact patient service processes, improve coding efficiency by up to 50%, and increase claim success rates. Results for the 2019–2024 period were as follows: Outpatient casemix counts were 11,393; 16,037; 32,763; 59,520; 111,193; and 129,423 for the years 2019 to 2024, respectively. Inpatient casemix counts for the years 2019 to 2024 were, respectively: Class 1: 907; 1,321; 2,657; 3,165; 3,829; and 4,014. Class 2: 818; 1,013; 1,800; 2,511; 3,052; and 3,309. Class 3: 205; 539; 1,557; 2,023; 2,646; and 3,038. Casemix Index (CMI) values for the years 2019 to 2024 were, respectively: Outpatient CMI: 0.98, 1.11, 1.16, 1.21, 1.35, and 1.24. Inpatient CMI: Class 1: 1.32, 1.60, 1.84, 1.57, 1.45, and 1.37. Class 2: 1.17, 1.36, 1.58, 1.41, 1.33, and 1.33. Class 3: 1.46, 1.82, 1.67, 1.54, 1.53, and 1.45. Hospital Base Rate (HBR) values for the years 2019 to 2024 were, respectively (currency unit not specified in the original text): Outpatient HBR: 354,393; 333,231; 257,536; 243,675; 226,650; and 238,494. Inpatient HBR: Class 1: 5,257,416; 6,028,120; 5,477,120; 5,970,918; 6,542,667; and 7,082,825. Class 2: 4,449,693; 5,628,665; 4,817,066; 4,993,043; 5,156,750; and 5,563,012. Class 3: 3,616,138; 4,594,204; 3,746,071; 4,325,317; 4,584,260; and 4,789,356. Overall, casemix counts and the Casemix Index exhibited an upward trend annually, with CMI performance exceeding the established standard for Class C private hospitals in Regional Area 2. While the outpatient HBR from 2021 to 2024 fell below the national HBR, the inpatient HBR for Classes 1, 2, and 3 consistently surpassed the national benchmark. Recommended strategies to enhance casemix performance, improve the Casemix Index, and reduce the Hospital Base Rate center on optimizing structural elements. This includes improving human resource competencies, refining methodologies, and increasing the efficiency of machinery, materials, and budget allocation. Furthermore, a rigorous evaluation of process elements—such as patient management, clinical coding accuracy, and claims management procedures—is deemed essential.

 

Read More
T-7325
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Gusti Gede Utara Hartawan; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Amila Megraini, Puput Oktamianti, Mustikasari, Komang Ayu Mustriawati
Abstrak: Peningkatan jumlah kunjungan pasien di UGD Rumah Sakit Bali Royal tidak diikutidengan perubahan jumlah ketenagaan perawat. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui beban kerja perawat dan kebutuhan perawat di UGD Rumah Sakit BaliRoyal. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Pengamatandilakukan oleh peneliti untuk mengetahui waktu yang dihabiskan oleh perawatdalam melayani pasien dengan menggunakan metode Time Motion Study. Hasilpenelitian menunjukkan beban kerja untuk pasien gawat darurat sebesar 63,4 menitper hari (1,1 jam per hari), pasien gawat tidak darurat 1.585,5 menit per hari (26,4jam per hari), dan pasien darurat tidak gawat 2.187,7 menit per hari (36,5 jam perhari) dan kebutuhan tenaga perawat di UGD Rumah Sakit Bali Royal sebesar 17orang. Diperlukan penambahan tenaga perawat pelaksana sebanyak 3 orang.Kata Kunci : unit gawat darurat, perawat, time motion study, beban kerja, kebutuhanperawat.
The increasing number of patients visit in the Emergency Unit of Bali RoyalHospital is not followed by a change in the number of nurses. The purpose of thisstudy was to determine the workload of nurses and nurses needs in the EmergencyUnit of Bali Royal Hospital. This research was a descriptive quantitative research.Observations were made by the researcher to determine the time spent by nurses inserving patients by using the Time Motion Study. The results shown the workloadfor critically emergency patients at 63.4 minutes per day (1.1 hours per day),critically non emergency patients 1,585.5 minutes per day (26.4 hours per day), and2,187 minutes per day (36.5 hours per day) for non critical-but emergency patientsand the need for nurses in the Emergency Unit of Bali Royal Hospital was 17 people.Nurses needed additional power as much as 3 people.Keywords : emergency unit, a nurse, time motion study, workload, the need fornurses
Read More
B-1611
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Santosa; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty Permanasari, Endang Adriyani, Iih Supiasih
Abstrak: Faktor penyebab kesalahan pengobatan di RS Bros belum pernah dievaluasi. Tujuanpenelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinyakesalahan dalam pemberian obat di RS Bros khususnya dari peresepan,pendistribusian atau pemberian. Merupakan penelitian deskriptif kualitatif denganmelakukan analisis isi, tehnik pengambilan data dengan studi dokumen, wawancaramendalam dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan kasus kesalahanpengobatan yang tidak terlaporkan masih cukup tinggi, Faktor yang menentukankesalahan pengobatan meliputi kesulitan pembacaan resep dokter oleh beberapapetugas farmasi.dan masih belum tersedianya beberapa kebijakan dan SOP.Diperlukan sosialisasi penulisan resep yang standar ,juga penyempurnaan kebijakandan SOP untuk mencegah kesalahan pengobatan di RS BrosKata Kunci :Kesalahan pengobatan, sosialisasi kebijakan dan SOP.
The cause of medication errors at Bros Hospital has not been evaluated. The purposeof this study was to determine the factors that lead to error in the implementation ofmedication administration at Bros Hospital, especially in prescribing, dispensing andadministration. This qualitative descriptive study with content analysis using datacapture techniques including review documents, in-depth interviews andobservations. In this study unreported medication errors are still common.Determinant factors of medication errors were difficulties in reading prescription bypharmaceutical officers, policies and standard operating procedures were notavailable yet. We suggest socialization of standard prescribing method andimprovement of policies and standard operating procedures in order to preventmedication errors at Bros Hospital.Key words: Medication errors, socialization policies and standard operatingprocedures.
Read More
B-1602
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maryati Nurbaya; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Ede Surya Darmawan, Prima Yunika
Abstrak: Banyaknya kejadian kesalahan obat di farmasi RS Awal Bros Bekasi. Tujuan penelitian inimembahas faktor yang mempengaruhi kesalahan obat di farmasi RS awal Bros bekasi daripersepan, penyiapan dan pemberian obat. Merupakan penelitian kualitatif dengan tujuaneksplanatif. Hasil penelitian ada 274 kejadian. Jenis kesalahan meliputi salah obat, salahpasien, salah baca, salah rute pemberian. Penyebab kesalahan yaitu pengetahuan danketerampilan petugas kurang, kesibukan petugas, komunikasi kurang, kurangnya sosialisasikebijakan dan prosedur, penggunaaan resep online belum maksimal. Saran untuk pencegahankesalahan obat diperlukan sosialisasi kebijakan dan prosedur serta penyempurnaannya danmereview beban kerja petugas serta pelatihan ketrampilan petugas.Kata kunci : Kesalahan Pengobatan, Sosialisasi Kebijakan dan SPO, Review Beban Petugas
The number of error occurrences in the pharmaceutical drug Awal Bros Bekasi. The purposeof this study discusses the factors affecting medication errors in pharmacy Awal Bros bekasiHospital, and it begin from prescribing, dispensing and administring. Is a qualitative studywith an explanatory purposes. Results of the study there were 274 events. Types of errorsinclude wrong drug, wrong patient, wrong reading, wrong route of administration. The causeof the error is lack of knowledge and skills of the officer, the officer busyness, lack ofcommunication, lack of socialization of policies and procedures, the use of prescriptiononline is not maximized. Suggestions for medication error prevention policies and proceduresnecessary socialization and perfected and reviewing officer workload and vocational trainingofficers.Key Word : Medication Errors, Policies and Procedure Socialization, Reviewing OfficerWorkload
Read More
B-1709
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi AriawanPembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Tris Eryando; R. Sutiawan, Supriyantoro, Prihantoosa Soepradja
Abstrak: ABSTRAK SIM RS di RSU Bali Royal sudah digunakan sejak tahun 2010. Tetapi pemanfaatan SIM RS masih belum optimal. Tujuan penelitian adalah untuk mengukur efektivitas implementasi SIM RS di RSU Bali Royaldengan menggunakan indikator PIECES ( Performance, Information and data, Economics, Control and security, Efficiency, Service ) di evaluasi dari sisi Informasi yang bisa dihasilkan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah System Assessment Method. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam ( Indepth Interview ) menggunakan pedoman wawancara. Berdasarkan hasil wawancara mendalam dan telaah dokumen yang telah dilakukan, didapatkan hasil kinerja SIMRS RSU Bali Royal dari sisi informasi berdasarkan performance sudah baik diketahui dari indikator throughput dan respond time, dari information sudah baik bila dinilai dari outputs, inputs serta stored data, secara economics sudah baik, dari cotrolling and security keamanan data masih kurang, dari segi efficiency informasi yang didapatkan di SIMRS sudah baik, dari segi service bahwa SIMRS RSU Bali Royal sudah baik. Saran penambahan server, penerapan elektronik rekam medis, mengintegrasikan sistem dengan peralatan yang ada, adanya log out otomatis dan pemantauan rutin implementasi SIMRS ke seluruh unit. Kata kunci: Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit ( SIM RS ), Efektivitas, Informasi, Metode PIECES. Hospital Management Information System ( HMIS ) in Bali Royal Hospital has been used since 2010. But the utilization of HMIS is not optimal. The purpose of this research is to measure the effectiveness of HMIS implementation in RSU Bali Royal by using PIECES indicator (Performance, Information and Data, Economics, Control and security, Efficiency, Service) from the Information that can be provided by HMIS. The research design is System Assessment Method. Data collection was done by in-depth interviews (Indepth Interview) using interview guidelines. Based on the results of in-depth interviews and data processing, the results is performance of HMIS in Bali Royal in terms of information seen from the performance is good known from the throughput and respond time indicators, from the information is good assessed from outputs, inputs and stored data, economics is good, from controlling and security data security is not good , in terms of information efficiency obtained in HMIS is good, in terms of service that HMIS Bali Royal Hospital is good. Suggestion of server addition, implementation of electronic medical record, integrate system with existing equipment, automatic logout and routine monitoring of HMIS implementation to all units Keyword : Hospital Management Information System (HMIS), effectiveness, Information, PIECES.
Read More
B-1991
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diah Setia Utami; Pembimbing: Suprijanto Rijadi
B-517
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Bagus Wibawa Adnyana; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Mardiati Nadjib, Vetty Yulianty Permanasari, I Gede Wiryana Patra Jaya, Pontisomaya
Abstrak: Latar Belakang: Rumah sakit merupakan salah satu fasilitas atau lembaga penyedia jasa pelayanan kesehatan (health provider) dan sesuai dengan UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Salah satu syarat yang masih sering dibahas dan menemui kendala saat ini adalah kelengkapan rekam medis. Masalah ini jugalah yang menjadi perhatian peneliti setelah melihat dan melakukan penelitian awal di Rumah Sakit Bali Royal. Ditemukan bahwa kelengkapan rekam medis di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Bali Royal masih dibawah standar yang ditetapkan Kemenkes yang tercantum dalam Kepmenkes RI No.129/MENKES/SK/II/2008 yaitu sebesar 100%. Kelengkapan rekam medis bagi pasien rawat inap sangat penting untuk proses kesembuhan pasien dan memaksimalkan pelayanan rumah sakit pada pasien. Dimana tingkat kepatuhan dokter dalam pengisian rekam medis di RS BROS masih belum mencapai target rumah sakit yaitu 90%.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif cross sectional dimana variabel bebas dan variabel terikat diukur secara bersamaan. Metode pengambilan sampel yang akan digunakan adalah teknik sampling jenuh, jadi jumlah sampel yang digunakan adalah keseluruhan jumlah populasi yaitu 80 sampel.

Result: Melalui analisis multivariate menunjukkan bahwa variabel jumlah pasien dan insentif memiliki p value masing-masing 0,009 dan 0,041, dimana p value < 0,05. Sedangkan variabel lainnya nilai p value > 0,05.

Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel-variabel yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat kepatuhan pengisian rekam medis di Rumah Sakit Bali Royal adalah variabel jumlah pasien dan variabel insentif

Kata kunci: Tingkat Kepatuhan, Rekam Medis, Teori Lawrence Green, Teori Malcolm Baldridge

Introduction: The hospital is one of the facilities or institutions of health service providers (health providers) and in accordance with Law No. 36 of 2009 on Health. One of the conditions that are still often discussed and encountered the current obstacle is the completeness of medical records. This problem is also the attention of researchers after seeing and doing initial research at Bali Royal Hospital. It was found that the completeness of the medical record at Bali Royal Hospital Inpatient Unit is still below the standard set by Ministry of Health stated in Kepmenkes RI No.129 / MENKES / SK / II / 2008 which is 100%. The completeness of medical records for inpatients is crucial to the patient's healing process and maximizing hospital services to patients. Where the level of compliance of doctors in filling out medical records at RS BROS still not reached the target of the hospital that is 90%

Method: This research is a cross sectional quantitative research where independent variable and dependent variable are measured simultaneously. Sampling method to be used is a saturated sampling technique, so the number of samples used is the total population of 80 samples.

Results: Through multivariate analysis showed that the variable number of patients and incentives had p values of 0.009 and 0.041, respectively, where p value 0,05.

Conclusion: The results showed that the variables that have a significant relationship to the compliance level of medical record at Bali Royal Hospital are variable of patient number and incentive variable

Keywords: Compliance Level, Medical Record, Lawrence Green Theory, Malcolm Baldridge Theory
Read More
B-1993
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Nyoman Ari Wijaya; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Pujiyanto, Heri Iswanto, Muhammad Baharuddin
Abstrak: Pelayanan Farmasi merupakan pelayanan yang tidak dapat dipisahkan dari pelayanan rumah sakit. Lamanya waktu tunggu di farmasi akan memengaruhi mutu layanan di rumah sakit secara menyeluruh. Demikian juga di RSU Bali Royal, didapatkan waktu tunggu diatas dari standar pelayanan minimal rumah sakit. Lamanya waktu tunggu di farmasi rawat jalan disebabkan belum berjalannya manajemen mutu yang baik di RSU Bali Royal. Peneitian ini akan melihat bagaimana proses pelayanan farmasi rawat jalan dengan menggunakan metode lean, di tahun 2017 dengan observational action process research, dengan melakukan observasi terhadap 15 pasien dari bulan oktober 2017 sampai dengan Januari 2018 di farmasi rawat jalan RSU Bali Royal, dengan melihat waste yang ada. Ditemukan kegiatan yang bersifat value added sebesar 45,65% dan kegiatan non value added (waste) sebesar 54,28%. Waste yang banyak ditemukan adalah waste waiting dan waste defect. Eliminasi waste yang sudah ditemukan dengan implementasi intervensi antara lain: memindahkan konter kasir, merubah lay out farmasi, membuat loket antara konter farmasi dengan ruang pengerjaan obat mengunci pintu ruang farmasi dan merubah alur layanan farmasi rawat jalan, sehingga kegiatan non value added dapat di eliminasi menjadi 18,28% dan kegiatan value added menjadi 81,72%. Dari segi outcome dapat dilihat adanya perbaikan waktu tunggu, perbaikan kepuasan pelanggan, peningkatan kunjungan dan peningkatan omset di farmasi. Peneitian ini menyimpulkan adanya peningkatan mutu layanan setelah dilakukan perbaikan proses pelayanan farmasi rawat jalan dengan menggunakan metode lean.
Kata kunci : Mutu; Lean; Farmasi

Pharmaceutical Services is a service that cannot be separated from hospital services. The length of waiting time in the pharmacy will satisfy the overall quality of hospital services. Currently the waiting time in Bali Royal Hospital pharmacy for out patient is still above the standard waiting time, which is not in accordance with the hospital guidelines. The standard waiting time for outpatient pharmacy cannot be achieved due to lack of quality management at RSU Bali Royal. This study will look at how the process of outpatient pharmacy service using lean method, in 2017 with observational action process research, by observing 15 patients from October 2017 to January 2018 at outpatient pharmaceutical RSU Bali Royal, by looking at the waste. It is founded that there are 45.65% value added activities and non-value added activities (vaste) of 54.28%. Most of the wastes that are found are waste waiting and waste defect. Elimination of waste that has been done by the implementation of intervention, among others: moving cashier counters, changing the lay out of pharmacy, making counter between the pharmaceutical counter with space lock pharmaceutical door lock and change in outpatient pharmacy service, so that non value added activities can be eliminated to 18.28% and value added activities to 81.72%. In terms of outcome can be seen the improvement of waiting time, improvement of customer satisfaction, increased visits and increased turnover in pharmacy. This study concludes that there is a significant improvement of service quality after the refinement of outpatient pharmacy service process using lean method.
Keyword : Quality; Lean; Pharmacy
Read More
B-2003
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive