Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39371 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sutti Rainy Kharlinaningsih; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Endang Laksminigaih Achadi, Tiska Yumeida, Fajrinayanti
Abstrak: Pemberian makanan tambahan dan edukasi PMBA merupakan salah satu upaya untukmencegah dan menanggulangi stunting serta meningkatkan status gizi balita meskipuntidak selalu berhasil karena berbagai faktor. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui pengaruh berbagai intervensi terhadap perubahan status gzi PB/U padabaduta kurus usia 6-23 bulan. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan designkuasi eksperimen di 5 Kecamatan terpilih di Kota Depok. Hasil penelitian didapatkanbahwa intervensi susu dan edukasi PMBA dan PGS-PL efektif meningkatkan nilai zscore PB/U. Disarankan untuk meningkatkan edukasi PMBA dan PGS-PL serta untukmeningkatkan konsumsi protein dan tidak membatasi konsumsi susu.Kata kunci:Baduta 6-23 bulan, PMT, Stunting.
Read More
T-5311
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Ardyna Octa Sari; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Endang Laksminingsih Achadi, Ivon Kusumaningtias, Fajrinayanti
Abstrak: Status gizi kurus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang harus mendapatperhatian. Baduta merupakan kelompok rentan dimana kecepatan pertumbuhan danperkembangan otak sangat pesat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuipengaruh intervensi susu dan edukasi Pedoman Gizi Seimbang Pangan Lokal (PGS-PL)terhadap status gizi baduta kurus. Penelitian ini merupakan penelitian studi analisis datasekunder dengan disain penelitian primer kuasi eksperimental. Kelompok 1 sebagaikontrol (n=31) diberikan edukasi Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), kelompok4 (n=25) diberikan susu dan edukasi PMBA dan kelompok 5 (n=30) diberikan edukasiPGS-PL selama 90 hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan BB/PB yangsignifikan (p<0.05) antara sebelum dan sesudah pada kelompok 1 dan 4, kecualikelompok 5. Kelompok 4 mengalami perubahan status gizi lebih tinggi dibandingkandengan kelompok lainnya. Disarankan untuk mempertimbangkan susu formulapertumbuhan 1-3 tahun sebagai salah satu intervensi pada program PMT yang diberikanbagi anak dengan status gizi kurus.Kata kunci:Baduta, susu, edukasi PGS-PL, status gizi, gizi kurus.
Read More
T-5178
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oky Sutiarso; Pembimbing: Kusharisupeni; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Trini Sudiarti, Agus Triwinarto, Salimar
Abstrak: Penelitian ini mempelajari hubungan antara Pemberian Makanan Tambahan (PMT)untuk meningkatkan status gizi pada anak usia 10-12 tahun di Kelas Belajar Oky.Variabel yang diteliti adalah jenis kelamin, umur, pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan, kontribusi energi dan protein sebelum dan sesudah intervensi terhadapBB/U, TB/U, IMT/U, status gizi, pengaruh PMT dalam peningkatan status gizisebelum dan sesudah diberikan intervensi. Analisis menggunakan data primer. Desainpenelitian menggunakan quasi eksperiment dan rancangan control time series design. Responden yang digunakan adalah sebanyak 42 orang, terdiri dari 22 orang yangmendapat perlakuan dan 20 orang kelompok control. Kelompok perlakuan mendapatkan PMT selama 90 hari berupa susu 200 ml, telor 1 butir dan buah 1potong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil kontribusi sebelum dan sesudah PMT terhadap analisa berat badan sebelum dan sesudah diberikan PMT terdapat perbedaan nyata dengan nilai p=0.000 (p value <0.005) dan 1.37 point lebih tinggi yang mendapat dar ipada yang tidak mendapat PMT. Untuk analisa tinggi badan sebelumdan sesudah diberikan PMT terdapat perbedaan nyata dengan nilai p=0.000 (p value<0.005) dan 2.3 point lebih tinggi yang mendapat daripada yang tidak mendapat PMT.Untuk BB/U sebelum dan sesudah PMT terdapat perbedaan nyata dengan nilaip=0.000 (p value <0.005) dan TB/U PMT terdapat perbedaan nyata dengan nilaip=0.001 (p value <0.005) serta untuk IMT/U terdapat perbedaan nyata dengan nilaip=0.000 (p value <0.005).Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan status gizi secaranyata sebelum dan sesudah diberikan PMT. Penelitian ini menyarankan perludilakukan penelitian lebih lanjut dengan waktu penelitian lebih dalam serta dapatberkorelasi dengan hal-hal yang berkaitan tidak hanya dengan gizi tetapi juga denganhal-hal sosial, sosiologi, budaya, ekonomi dan pemberdayaan masyaraka dan denganmenggunakan kemampuan dan sumberdaya lokal. Daftar Bacaan : 44 (tahun 1978-2012) Kata kunci : Pemberian makanan tambahan, Status Gizi, anak usia 10-12 tahun
This research study relationship correlation Supplementary Feeding to increasenutrition status children 10-12 years old in Kelas Belajar Oky. Variable examined aregender, age, parents work, education, contribution energy and protein before andafter Suplementary Feeding against weight per age, height per age, BMI per age,nutrition status, impact supplementary feeding in an increase nutrition status beforeand after supplementary feeding. Analyses using primary data. Research design usingquasi eksperiment and control time series design. Respondents who used is as 42children, consist of 22 children is treatment group and 20 children control group.Groups of experiment get supplementary feeding 90 days is milk 200 ml, egg 1 pcs andfruit 1 pcs.The results showed that the result of the contribution before and after supplementaryfeeding for analyses weight before and after significant p value = 0.000 (p value<0.005). Analyses height before and after supplementary feeding are significant withp value = 0.000 (p value <0.005). Weight per age before and after SF are significantwith p value =0.000 (p value <0.005) and height per age significant with p value=0.001 (p value <0.005) and also significant for BMI/Age with p value =0.000 (pvalue <0.005).From the results of this study concluded that an increase in nutrition status before andafter supplementary feeding. This study suggests further research needs to be donewith more research time and can be correlated not only nutrition but also socialscience, sociology, culture, economy, and community development with ability localsource.Literatur : 44 (years 1978-2012) Keyword : Suplementary feeding, Nutrition Status, age 10-12 years
Read More
T-4099
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rivani Noor; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Endang L. Achadi, Trini Sudiarti, Anies Irawati, Eni Gustina
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indikator Pemberian Makanpada Bayi dan Anak (PMBA) umur 6-23 bulan dan faktor lainnya terhadap kejadianstunting di Posyandu Puskesmas Warung Jambu Kota Bogor Tahun 2015. Desainpenelitian yang digunakan adalah cross sectional. Sampel pada penelitian iniberjumlah 152 bayi dan anak yang didapat dengan purposive sampling. Penelitian inidilakukan pada bulan April hingga Mei 2015. Pengumpulan data dilakukan melaluipengukuran panjang badan bayi dan anak, tinggi badan ibu, wawancara kuesioner danlembar recall 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan proporsi bayi dan anak stuntingsebesar 11,8 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang badan lahir sebagaifaktor dominan kejadian stunting pada bayi dan anak umur 6-23 bulan, setelahdikontrol oleh Minimum Dietary Diversity, jumlah anggota rumah tangga, penyakitinfeksi, dan usia bayi dan anak. Penelitian ini menyarankan agar meningkatkanpenyuluhan terkait gizi ibu hamil serta pemberian makan bayi dan anak yang optimalhingga 2 tahun (1000 hari pertama kehidupan).
Kata kunci :Stunting, PMBA, minimum dietary diversity, minimum meal frequency, minimumacceptable diet.
Read More
T-4413
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Citra Sari Nasrianti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Siti Arifah Pujonarti, Anies Irawati, Dewi Astuti
Abstrak: Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2017, menyebutkan sebesar 39,8% anak usia 6-11 bulan, 20,4% anak usia 12-17 bulan dan 11,6% anak usia 18-23 bulan tidak memenuhi capaian Minimum Dietary Diveristy. Selain itu hampir separuh anak usia 6-23 bulan (47%) tidak memenuhi capaian Minimum Meal Frequency dan prevalensi capaian Minimum Acceptable Diet pada anak usia 6-23 bulan hanya 44,9%%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor dominan terhadap praktik pemberian makan bayi dan anak di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian crosssectional dengan menggunakan data sekunder Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Responden penelitian ini sebanyak 5.367 WUS yang mempunyai anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara lain usia anak (p = 0,0001; OR = 3,122; 95% CI = 2,769-3,521), urutan kelahiran (p = 0,0001; OR = 0,416 95% CI = 0,329-0,525), tempat melahirkan (p = 0,0001; OR = 2,121; 95% CI = 1,861-2,419), kunjungan selama kehamilan (p = 0,0001; OR =2,739 ; 95% CI = 1,991-3,766), pemeriksaan setelah kelahiran (p = 0,001; OR = 1,108 ; 95% CI = 0,888-1,168), pendidikan ibu (p = 0,0001; OR = 1,950; 95% CI = 1,715-2,217), pekerjaan ibu (p = 0,0001; OR = 1,300; 95% CI = 1,167-1,447), literasi ibu (p = 0,0001; OR = 4,042; 95% CI = 2,845-5,742), status pernikahan (p = 0,0001; OR = 1,830; 95% CI = 1,399-2,395), pendidikan ayah (p = 0,0001; OR = 1,998; 95% CI = 1,570-1,998), frekuensi membaca koran (p = 0,0001; OR = 1,659; 95% CI = 1,487-1,850), mendengarkan radio (p = 0,0001; OR = 1,365; 95% CI = 1,223-1,523), menonton televisi (p = 0,0001; OR = 3,099; 95% CI = 2,381-4,035), dan menggunakan internet (p = 0,0001; OR = 2,555; 95% CI =2,255-2,895), dan wilayah tempat tinggal (p = 0,0001; OR = 1,884; 95% CI = 1,691-2,100) dengan praktik pemberian makan bayi dan anak yang tidak sesuai. Faktor yang paling dominan terhadap ketidaksesuaian praktik pemberian makan bayi dan anak adalah usia anak. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan dilakukan sosialisasi dan edukasi terkait gizi dan kesehatan khususnya praktik pemberian makan bayi dan anak pada kunjungan antenatal, dengan memaksimalkan penyampaian informasi melalui berbagai media (cetak, elektronik maupun langsung) mengingat akses penggunaan media informasi yang semakin membaik.
Read More
T-6121
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Pratiwi; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Diah M. Utari, Yani Haryani
S-6566
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Suci Anzarkusuma; Pembimbing: Sandra Fikawati; pENGUJI: Triyanti, Fathimah Sulistyowati Sigit, Ray Wagiu Basrowi, Mirsal Picaso
Abstrak:

Masalah malnutrisi balita masih menjadi tantangan global, dengan 45 juta anak mengalami wasting pada 2022. Di Indonesia, prevalensi wasting dan underweight masing-masing mencapai 8,5% dan 15,9%, termasuk di Jakarta Timur yang mencatat angka wasting 9,3% dan memiliki jumlah balita terbanyak di DKI Jakarta. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mengimplementasikan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan yang didanai melalui APBD maupun Corporate Social Responsibility (CSR).
Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Program PMT berbahan pangan lokal yang didanai oleh APBD dan CSR terhadap perubahan status gizi anak usia 6–59 bulan di Jakarta Timur tahun 2024. Menggunakan desain mixed methods sequential explanatory, yang menggabungkan analisis kuantitatif terhadap 2.183 anak (APBD: 1.812; CSR: 371) dan analisis kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pengelola program. Analisis dilakukan untuk mengevaluasi perubahan status gizi anak sebelum dan sesudah intervensi PMT berdasarkan sumber pendanaan (APBD dan CSR). Analisis statistik meliputi independent sampel t-test, oneway ANOVA, dan regresi linier dengan menggunakan indikator perubahan Δ z-score BB/U dan BB/TB.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan status gizi BB/U (APBD naik 6,4%; CSR naik 10%) dan BB/TB (APBD naik 1%; CSR naik 2,4%). Ditemukan hubungan yang bermakna antara status gizi awal dengan perubahan z-score BB/U (APBD p=0,000; CSR p=0,033) dan BB/TB (APBD p=0,000). Regresi linier multivariat menunjukkan bahwa status gizi awal, frekuensi, dan jenis PMT merupakan faktor signifikan dalam perubahan z-score (p<0,05), sedangkan sumber pendanaan tidak menunjukkan pengaruh signifikan setelah dikontrol variabel lain. Temuan kualitatif menyoroti perbedaan dalam pelaksanaan dan pemantauan antara skema APBD dan CSR, namun keberhasilan program lebih dipengaruhi oleh ketepatan sasaran dan kualitas implementasi.
Studi ini menyimpulkan keduanya pendanaan memiliki potensi yang setara dalam mendukung perbaikan status gizi anak. Tidak ditemukan perbedaan efektivitas antara PMT berbasis APBD dan CSR, di mana keberhasilan program lebih dipengaruhi oleh ketepatan sasaran dan pelaksanaannya. Penguatan monitoring serta kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk meningkatkan dampak intervensi gizi pada anak. Temuan penelitian ini menjadi rujukan bagi pengambil kebijakan dalam pengembangan intervensi gizi anak berbasis kebutuhan lokal.


Child malnutrition remains a global challenge, with an estimated 45 million children experiencing wasting in 2022. In Indonesia, the prevalence of wasting and underweight among children under five remains high at 8.5% and 15.9%, respectively. East Jakarta, which has the largest number of under-five children in the capital, reported a wasting prevalence of 9.3%. To address this issue, the government has implemented the Supplementary Feeding Program (PMT Pemulihan), funded through both local government budgets (APBD) and Corporate Social Responsibility (CSR) schemes. This study aimed to evaluate the effectiveness of locally sourced PMT programs funded by APBD and CSR on the nutritional status improvement of children aged 6–59 months in East Jakarta in 2024. A sequential explanatory mixed-methods design was used, combining quantitative analysis of 2,183 children (APBD: 1,812; CSR: 371) and qualitative analysis through in-depth interviews with program implementers. The analysis assessed changes in nutritional status before and after PMT interventions, based on funding sources. Statistical methods included independent sample t-tests, one-way ANOVA, and linear regression using changes in weight-for-age (Δ z-score W/A) and weight-for-height (Δ z-score W/H) as indicators. The results showed improvements in W/A (6.4% in APBD; 10% in CSR) and W/H (1% in APBD; 2.4% in CSR). Significant associations were found between baseline nutritional status and z-score changes for both W/A (APBD p = 0.000; CSR p = 0.033) and W/H (APBD p = 0.000). Multivariate regression indicated that initial nutritional status, feeding frequency, and PMT type were significant factors affecting z-score changes (p < 0.05), while funding source was not significant after adjusting for other variables. Qualitative findings highlighted differences in implementation and monitoring between APBD and CSR programs, but emphasized that program success was more influenced by targeting accuracy and quality of implementation. The study concludes that both funding schemes have comparable potential in improving child nutritional status. No significant difference in effectiveness was found between APBD- and CSR-based PMT. Success was driven more by precise targeting and proper implementation. Strengthening monitoring systems and cross-sectoral collaboration is essential to maximize the impact of nutrition interventions. These findings provide evidence-based guidance for policymakers in developing locally tailored child nutrition strategies.

Read More
T-7294
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elmina Tampubolon; Promotor: Endang Laksminingsih Achadi; Ko Promotor: Ahmad Syafiq, Sandra Fikawati; Penguji: Kusharisupeni, Asih Setiarini, Diah Mulyawati Utari, Agus Triwinarto, Anies Irawati
Abstrak: Stunting adalah keadaan panjang/tinggi badan kurang dibandingkan dengan umur. Penyebab langsung stunting adalah riwayat sakit dan kurangnya asupan gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian suplementasi susu dan biskuit terhadap pertumbuhan anak stunting usia 12-23 bulan di Kecamatan Limo Kota Depok. Desain penelitian yang adalah kuasi eksperimen dengan pretest-posttest with control group design menggunakan empat kelompok yaitu kelompok susu, biskuit, susu + biskuit, dan kontrol. Pengukuran berat dan panjang badan dilakukan pada awal penelitian, 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan setelah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian suplementasi susu, biskuit, susu + biskuit terhadap pertumbuhan anak. Perubahan z-skor PB/U baseline-endline terbesar adalah kelompok intervensi susu + biskuit (0.79). Perubahan z-skor PB/U baseline-endline pada kelompok biskuit (0.68) sedikit lebih baik dibandingkan dengan kelompok susu. Perubahan z-skor PB/U pada kelompok susu (0.66) lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol (0.19). Perubahan z-skor PB/U sangat jelas terlihat pada pengukuran ketiga dan keempat. Kepada Kemenkes agar mempertimbangkan pemberian susu atau biskuit atau keduanya yang disertai dengan edukasi sebagai salah satu program untuk menurunkan stunting pada anak usia 12-23 bulan.
Read More
D-433
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rininta Enggartiasti; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Rahmawati
S-9349
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ghevira Aulia Sahara; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Triyanti, Fajrinayanti
Abstrak:

Masalah kekurangan gizi pada balita usia 12–59 bulan masih menjadi tantangan besar di Indonesia, termasuk di Kota Depok. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbasis Pangan Lokal merupakan salah satu upaya intervensi yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki status gizi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal dan faktor-faktor lain terhadap kenaikan berat badan balita di Puskesmas Cimpaeun Kota Depok Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 71 balita usia 12–59 bulan yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan data sekunder dari Puskesmas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60,6% balita mengalami kenaikan berat badan yang adekuat setelah mengikuti program PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal. Terdapat hubungan yang signifikan antara kesesuaian pemberian PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal dengan kenaikan berat badan balita (p = 0,027; OR = 4,464; 95% CI: 1,155–17,252), yang berarti balita yang menerima PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal tidak habis memiliki risiko 4,464 kali lebih besar untuk mengalami kenaikan berat badan yang kurang dibandingkan dengan balita yang menerima PMT habis terdapat hubungan yang signifikan antara infeksi dengan kenaikan berat badan (p = 0,015). Balita yang mengalami infeksi memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami kenaikan berat badan. Sementara itu, variabel seperti pola makan, pendidikan ibu, pengetahuan, pola asuh, kunjungan posyandu, dan PHBS tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap kenaikan berat badan balita.


Malnutrition among children aged 12-59 months remains a major challenge in Indonesia, including in Depok City. Local Food-Based Supplementary Feeding (PMT) is one of the government's intervention efforts to improve children's nutritional status. This study aims to determine the relationship between the provision of Local Food-Based Recovery PMT and other factors on toddler weight gain at the Cimpaeun Health Center in Depok City in 2024. This study used a cross sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of 71 toddlers aged 12-59 months who were purposively selected. Data were collected through questionnaires and secondary data from the health center. The results showed that 60.6% of toddlers experienced adequate weight gain after participating in the Local PMT program. There was a significant association between the appropriateness of the provision of local PMT and weight gain (p = 0.027; OR = 4.464; 95% CI: 1.155-17.252), meaning that toddlers who received inadequate local food-based recovery PMT had a 4.464 times greater risk of underweight gain compared to toddlers who received inadequate PMT. There was a significant association between infection and weight gain (p = 0.015). Infected toddlers had a higher tendency to gain weight. Meanwhile, variables such as diet, mother's education, knowledge, parenting, posyandu visits, and PHBS did not show a significant relationship with toddler weight gain. 

Read More
S-11937
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive