Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31281 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Melyyani; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Dian Ayubi, Kusdinar Ahmad, Jusuf Kristianto, Ganda Raja Partogi
Abstrak: Perkesmas adalah upaya kesehatan yang terintegrasi dengan semua upaya kesehatanPuskesmas, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untukmencapai kemandirian dalam upaya kesehatannya. Tujuan dari penelitian inimenganalisis secara mendalam mutu pelaksanaan program perkesmas di KabupatenOgan Ilir. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Informan penelitianadalah Kepala seksi pelayanan kesehatan primer dan pelayanan kesehatan tradisional,Pemegang program Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir, Kepala UPTD PuskesmasTanjung Raja, Kepala UPTD Puskesmas Rantau Alai, Pemegang Program Promkes,Kesling, Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana, Pemegang Program Pencegahandan Pengendalian Penyakit, Pemegang Program Gizi dan Keluarga Binaan Perkesmas.Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, diskusi kelompok terarah,observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian terdiri dari komponen input, proses danoutput. Komponen input, meliputi sumber daya manusia masih belum mencukupi,pelatihan perkesmas belum pernah dilakukan, sarana dan prasarana masih belumlengkap, pendanaan dinilai cukup, kebijakan secara keseluruhan tidak bermasalah.Komponen proses, meliputi perencanaan belum berjalan cukup baik, pengorganisasiansudah optimal, pelaksanaan perkesmas masih banyak kendala, pengawasan belumoptimal. Komponen output perkesmas adalah pencapaian keluarga rawan yang dibinamasih dibawah target. Maka dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan perkesmas diKabupaten Ogan Ilir belum baik.Kata kunci: Perkesmas, Puskesmas, Pendekatan sistem.
Public Health Nursing is an effort of health that integrates with all health communitycenter, aimed for individuals, families, groups and communitiesto achieve independence in their health endeavors. The purpose of this study toanalyze in depth implementation quality of public health nursing programin Ogan Ilir District. The research method used qualitative approach. The researchinformants were Head of Primary Health Service and Traditional Health ServiceSection, Program Holder of Ogan Ilir District Health Office, Head of Tanjung RajaPublic Health Center, Head of Rantau Alai Public Health Center, Holder HealthPromotion Program, Holder Environmental Health Program, Holder Maternal Childand Family Health Program, Holder of Disease Prevention and Control program,Nutrition program and Family built community health care. Methods of data collectionwere interviews, focus group discussions, observations and document reviews. Theresults consisted of input, process and output components. Input components, includinginsufficient human resources, no public health nursing training, facilities andinfrastructure were incomplete, funding was adequate, overall policy was notproblematic. Components of the process, including the planning had not run wellenough, the organization was good, the implementation of perkesmas were still manyobstacles, and monitoring was not optimal. The component of the output of the publichealth office was the achievement of vulnerable families that developed on below target.So it can be concluded that the implementation of public health nursing in Ogan IlirDistrict has not been good.Keywords: Public health nursing, Public health center, a system approach.
Read More
T-5352
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asnani;Pembimbing: Evi Martha, Dian Ayubi; Penguji: Dien Anshari, Ira Octaviana Madjid, Erman Asnawi
Abstrak: Pemantauan dan evaluasi program Germas belum efektif di Kabupaten Soppeng maupun di Kabupaten Luwu Utara. Kabupaten Soppeng perlu melakukan pertemuan untuk membentuk forum koordinasi pelaksanaan program Germas. Diharapkan kedua kabupaten mengalokasikan sumber daya manusia sesuai kebutuhan. Melakukan sosialisasi kebijakan Germas kepada lintas program dan lintas sektor. Menyusun perencanaan kegiatan Germas yang disesuaikan dengan sasaran dan target pelaksanaan serta mengkoordinasikan dengan lintas program dan lintas sektor terkait. Memantau pelaksanaan kegiatan Germas secara rutin dan berkala setiap enam bulan. Mengevaluasi kegiatan Germas secara rutin dan berkala setiap tahunnya untuk menjamin peningkatan mutu penyelenggaraan program Germas
Read More
T-5593
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endang Hendaryo; Pembimbing: Suprijanto Rijadi, Dumilah Ayuningtyas; Penguji:
Abstrak:

Jumlah penderita TBC paru dari tahun ke tahun di Indonesia terus meningkat. Beberapa keadaan diduga merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam meningkatnya infeksi TBC pada saat ini, antara memburuknya kondisi sosial ekonorni, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal, meningkatnya infeksi HIV, daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman yang meningkat. (Kardiana, 2007). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mutu pelayanan program TB di Puskesmas terhadap tingkat keberhasilan program TB di Kabupaten Ciamis tahun 2007. Desain penelitian adalah kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam terhadap petugas yang berkaitan langsung dengan program, diskusi kelompok terarah dengan masyarakat pengguna pelayanan dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukan pada kelompok Puskesmas yang berhasil dalam peneapaian program penanggulangan TB, pelak.sanaan kegiatan melibatkan seluruh petugas dan sumber daya yang ada di Puskesmas. Sedangkan pada kelompok Puskesmas yang belurn berhasil dalam pencapaian program penangguIangan TB, belum terjalin kerja sama baik lintas program .dan lintas sektor serta belum adanya kepedulian dari seluruh staf Puskesmas terhadap program. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah adanya kepedulian petugas dan karyawan Puskesmas terhadap program, peran aktif dokter terhadap program, peningkatan frekuensi penyuluhan dan sosialisasi program di lintas sektor, pemberian pelayanan yang bermutu sesuai standar dengan mengutamakan kepuasaxi pasien sebagai pelanggan ekstemal dalam pelayanan kesehatan, adanya pembinaan dan pertemuan rutin dari Dinas Kesehatan pengahargaan terhadap prestasi kerja.


Amount of TBC paru patient from year to year in Indonesia increasing. Some situation anticipated to represent factor playing a part important in the increasing of TBC infection at the moment, for example: deteriorating it condition of social economic, not yet is optimal of service facility of health society, the increasing of amount of resident which don't have residence, the increasing of HIV infection, weak body endurance/ downhill, germ amount and virulence which mounting. (Kardiana, 2007). This research aim to to know picture quality of TB program service in Puskesmas to level efficacy of TB program in Sub-Province Ciamis year 2007. Research Design is qualitative by conducting interview to direct interconnected officer with program, directional group discussion with service consumer society and document study. Research place conducted by in four Self-Supporting Puskesmas Executor (PPM) in TB program with selection of research place in two a success Puskesrnas in attainment of Puskesmas and program which not yet succeeded in attainment of program. Result of research show of a success Puskesmas group in attainment of TB overcome program, activity execution entangle entire resource and officer exist in Puskesmas, existence the same of activity pass by quickly program and pass by quickly good sector. While at Puskesmas group which not yet succeeded in attainment of TB overcome program not yet intertwined the same of activity the goodness pass by quickly program and pass by quickly sector. Recommendation in this research the existence of officer caring and Puskesmas employees to program, active the role of doctor on the program, the improving make-up of counseling frequency pass by quickly sector socialization, giving of certifiable service according to standard by majoring satisfaction of patient as the external client in health service, existence of routine meeting and construction from Public Health Service appreciation and reward to the achievement activity.

Read More
T-2637
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shania Nursiah Hasri; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Evi Martha, Nana Mulyana, Duta Liana
Abstrak:
Tesis ini membahas tentang mutu program Posyandu Lansia dan Posbindu PTM Terintegrasi di Kota Depok. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif dan kemudian dilanjutkan dengan penelitian kualitatif melalui telaah dokumen dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menemukan sumber pendanaan, kompentensi kader dan petugas keseahtan, dan sistem insetif kader memengaruhi aspek proses dalam pemenhuan ketersediaan materi edukasi ataupun buku monitoring FR PTM dan buku kesehatan lansia. Pelaksanaan yang dilakukan di hari kerja juga menjadi alasan belum optimalnya cakupan peserta dengan usia produktif. Oleh sebab itu, peningkatan kompetensi kader, upaya penyusunan sistem insentif kader kesehatan yang layak, dan alternatif media edukasi yang lebih terjangkau menjadi saran dalam penelitian ini sehingga besar harapan dapat meningkatkan mutu layanan Program Posyandu Lansia dan Posbindu PTM.

This thesis examines the effectiveness of the Integrated Elderly Posyandu and PTM Posbindu programs in Depok City. The study employs a quantitative approach with a descriptive design, followed by qualitative research involving document review and in-depth interviews. The findings indicate that funding sources, cadre and health officer competencies, as well as cadre incentive systems impact various aspects of the process related to the availability of educational materials such as FR PTM monitoring books and elderly health books. Additionally, conducting the implementation on weekdays has resulted in suboptimal participation from individuals of productive age. As a result, enhancing cadre competency, establishing an appropriate health cadre incentive system, and exploring more cost-effective alternative educational resources are recommended to potentially enhance service quality for both the Posyandu Elderly Program and Posbindu PTM.
Read More
T-6970
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizki Rahayuningsih; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Yanti Herman, Molyadi
Abstrak:
Program pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan upaya paling efektif untuk mencegah terjadinya HAIs” (Healthcare-Associated Infections), yaitu infeksi akibat pelayanan kesehatan, yang dapat menjadi ancaman masuknya penularan wabah ke komunitas. Implementasi dan pelaporan program PPI cukup beragam. Ketiadaan pelaporan dan data implementasi PPI di Fasilitas Palayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) pada Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) dapat menempatkan posisi layanan priemr dalam kondisi tidak siap dalam menghadapi ancaman wabah dan menambah kesenjangan. Tujuan penelitian untuk melihat gambaran implementasi PPI dan kesesuaian implementasi PPI di FKTP DTPK Kabupaten Kubu Raya. Penelitian ini menggunakan mix methode dengan desain sequential explanatory. Pada tahap pertama dilakukan pengisian kuesioner baku menggunakan kuesioner baku IPCAF- minimum requirement assesment for primary care oleh seluruh tim PPI dilanjutkan dengan wawancara mendalam kepada 11 informan dan dilakukan observasi dokumen. Hasil didapatkan 23,8% Puskesmas di level Kabupaten belum memenuhi kesesuaian standar minimum program PPI, akan tetapi pada Puskesmas DTPK 36,4% Puskesmas sudah memenuhi kesesuaian standar minimum program PPI. Dari 8 komponen inti PPI, pada level Kabupaten nilai tertinggi didapat komponen monitoring dan umpan balik, sedangkan pada Puskesmas DTPK nilai tertinggi didapat pada komponen surveilans HAIs. Sementara pada level Kabupaten maupun Puskesmas DTPK, nilai terendah didapatkan pada komponen pendidikan pelatihan dan beban kerja kepegawaian dan ketersediaan tempat tidur. Perencanaan dan pembiayaan pendidikan pelatihan serta pemanfaatan pelatihan daring dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan nilai komponen pendidikan pelatihan.

Infection prevention and control programs are the most effective way to prevent "Healthcare-Associated Infections" (HAIs), which are healthcare-associated infections that can threaten the entry of outbreaks into the community. Implementation and reporting of the IPC program is quite various. The absence of reporting and data on the implementation of IPCs in Primary Care Facilities (FKTP) in rural/remote area (DTPK) can place the position of primary care facilities in an unprepared condition in facing the threat of an outbreak and increase inequality. The purpose of the study was to look at the description of IPC implementation and the suitability of IPC implementation in DTPK FKTP Kubu Raya Regency. This study used a mix method with a sequential explanatory design. In the first stage, a standard questionnaire was filled in using the IPCAF- minimum requirement assessment for primary care by the entire IPC team, followed by in-depth interviews with 11 informants and document observation. The results showed that 23.8% of FKTP at the district level had not yet compliance with the minimum standards of the IPC program, but at FKTP DTPK 36.4% of FKTP have met the minimum standards of the IPC program. Of the 8 core components of PPI, at the district level the highest value is obtained for the monitoring and feedback component,. while at the FKTP DTPK the highest value is obtained in the HAIs surveillance component. While at both the district and DTPK health center levels, the lowest scores were obtained in the components of training education and staffing workload and bed availability.
Read More
T-6995
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hastrina Mailani; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wachyu Sulistiadi, Nani Hidayanti Widodo, Kemal Imran
Abstrak: Prosedur tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi mutlak harus diterapkan dirumah sakit termasuk di rawat inap. Kegiatan ini bertujuan untuk meminimalkan danmencegah terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung dan masyarakat sekitarfasilitas pelayanan kesehatan. Selain menurunkan tingkat kesakitan dan kematian karenainfeksi nosokomial, pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian infeksi yangbaik akan menurunkan biaya kesehatan karena dapat menurunkan lama rawat yangberdampak pada penurunan biaya yang dikeluarkan. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui gambaran pelaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi di rawat inapRumah Sakit Pusat Otak Nasional. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif denganmenggunakan metode penelitian kualitatif. Wawancara mendalam, diskusi grup terarah,dan observasi lansung dilaksanakan terhadap 13 informan. Hasil penelitian menunjukanbahwa pelaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi di rawat inap Rumah SakitPusat Otak Nasional ditinjau dari struktur, proses dan output belum terlaksana sesuaidengan pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi yang telah ditetapkan.Pelaksanaan pencegahan dan pelaksanaan infeksi di rawat inap belum optimal karenapelaksanaan kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri, pemisahan limbahmedis dan penyuntikan yang aman pada sebagian petugas belum dilakukan sesuaistandar serta monitoring dan evaluasi yang tidak dilakukan secara rutin. Jumlah petugasyang masih kurang, tumpang tindih tugas dan kurangnya pelatihan berpengaruh padapelaksanaan tugas pencegahan dan pengendalian. Saran yang dapat dilakukan adalahanalisis beban kerja, meningkatkan pelatihan pada petugas dan monitoring sertaevaluasi pelaksaanan pencegahan dan pengendalian infeksi dilakukan secara rutin.Kata Kunci : Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, infeksi nosokomial
Infection prevention and control procedures must be implemented in hospitals includingthe inpatient care. It is intended to minimize and prevent infection in patients,healthcare workers, visitors, and the community surrounding the healthcare facility.Other than reducing mortality and morbidity rate associated with nosocomialinfections, the right implementation of Infection prevention and control program willalso reduce health costs due to reduced care duration which affects the decrease of thehealth cost expenditure. The purpose of this research is to understand the descriptive ofinfection prevention and control implementation at the inpatient care of the NationalBrain Center Hospital. This study uses a qualitative descriptive research method. In-depth interview, focus group discussion and observation are conducted with 13informants. Results of the study show that based on the structure, process and output,the infection prevention and control implementation at the inpatient care of theNational Brain Center Hospital has been done according to the guidelines of theinfection prevention and control that has been established.. The infection preventionand control implementation at the inpatient care is not yet optimized because of thepractices such as hand hygiene practice, use of personal protective equipment,separation of medical waste and safe injection that have not been done according tostandard and have not been monitored and evaluated routinely. The insufficient numberof healthcare workers, overlapping tasks and lack of training have an effect on theimplementation of Infection prevention and control tasks. Suggestions to be done arerestructuring of the Infection prevention and control organization, analysis ofworkload, the increase of training for healthcare workers and routine monitoring andevaluation of Infection prevention and control implementation.Keywords: Infection Prevention and Control,nosocomial infections.
Read More
T-5331
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Verawati Lenny; Pembimbing: Hafizurrachman, Robiana Modjo; Penguji: Mayarni, Tati Nuryati
T-3368
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deslina; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Dumilah Ayuningtyas; Suhardini, Ananda
Abstrak:

Prevalensi hipertensi di Indonesia masih tinggi, sementara proporsi pasien dengan tekanan darah terkendali tetap rendah. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2022–2024 menetapkan target 90% pasien hipertensi terkendali di puskesmas, namun Jakarta Pusat pada tahun 2024 hanya mencapai 16,74%. Penelitian ini dilakukan di dua puskesmas dengan capaian berbeda: Puskesmas X (46,12%) dan Puskesmas Y (2,34%). Penelitian ini bertujuan menganalisis mutu program pengendalian hipertensi berdasarkan komponen input, proses, dan output dengan menggunakan pendekatan sistem terbuka.
Penelitian menggunakan desain kualitatif studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus, observasi, dan telaah dokumen pada Maret–Mei 2025, melibatkan 30 informan yang terdiri atas petugas puskesmas, dinas kesehatan, suku dinas kesehatan, kader, dan pasien. Analisis dilakukan secara tematik.
Hasil menunjukkan mutu program di Puskesmas X relatif lebih baik. Puskesmas X menerapkan perencanaan proaktif, penyediaan obat yang lebih cepat, inovasi edukasi berkala, monitoring bersama jejaring, dan pelatihan rutin. Puskesmas Y melaksanakan perencanaan reguler, pengadaan obat mengikuti siklus tahunan, pemanfaatan dashboard hipertensi berjalan meskipun belum optimal, serta koordinasi internal rutin. Meskipun jumlah SDM sesuai standar, keterlibatan fungsional belum merata di kedua puskesmas. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pelaksanaan program hipertensi tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan sumber daya, tetapi juga bergantung pada kualitas proses, termasuk perencanaan yang responsif, pengorganisasian terstruktur, pelaksanaan inovatif, dan monitoring berbasis data.
Penelitian merekomendasikan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, penyelarasan definisi indikator antarinstansi, optimalisasi media edukasi digital dan sistem informasi terpadu, serta penetapan petugas administrasi dan teknologi informasi dalam struktur tim program untuk mendukung mutu layanan hipertensi.

The prevalence of hypertension in Indonesia remains high, while the proportion of patients with controlled blood pressure is still low. The Ministry of Health’s Strategic Plan 2022–2024 sets a target of 90% of hypertension patients achieving controlled blood pressure in primary health care facilities, yet in Central Jakarta, the achievement in 2024 was only 16.74%. This study was conducted in two community health centers with contrasting results: Puskesmas X (46.12%) and Puskesmas Y (2.34%). This study aimed to analyze the quality of hypertension control programs based on input, process, and output components using an open systems approach. The study employed a qualitative case study design. Data were collected through in-depth interviews, focus group discussions, observations, and document reviews between March and May 2025, involving 30 informants comprising health center staff, provincial and municipal health office representatives, community health volunteers, and patients. Thematic analysis was applied. The results showed that program quality at Puskesmas X was relatively better. Puskesmas X implemented proactive planning, faster provision of medications, regular educational innovations, joint monitoring with network partners, and routine training. Puskesmas Y carried out standard planning, medication procurement according to the annual cycle, regular internal coordination, and partial utilization of the hypertension dashboard. Although the number of human resources met the minimum standards, functional involvement was not evenly distributed in both health centers. The study indicated that the success of hypertension program implementation was not only determined by resource adequacy but also relied heavily on process quality, including responsive planning, structured organization, innovative implementation, and data-driven monitoring. The study recommends strengthening health worker capacity, harmonizing indicator definitions across institutions, optimizing digital educational media and integrated information systems, and formally designating administrative and information technology staff within program teams to improve hypertension service quality.

 

Read More
T-7300
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Indriyanti; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Besral, Kusdinar Achmad, Rafni Pamela Sari, Muhtar Lintang
Abstrak: Pelayanan kesehatan yang bermutu saat ini sudah menjadi tuntutan semua pihak, termasuk masyarakat sebagai pengguna jasa, dengan era globalisasi, bertambahnya golongan masyarakat yang mampu, berpendidikan, dan menguasai informasi, masalah mutu pelayanan menjadi tuntutan mutlak. Adapun faktor yang dominan mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas adalah sumber daya manusia, baik yang terlibat dalam manajemen maupun pelayanan. Keluhan(complain) dari pelanggan merupakan indikator dari kurangnya kualitas pelayanan akibat sistem manajemen yang kurang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik pelanggan dan upaya manajemen mutu fokus pada pelanggan dengan tingkat kepuasan pasien rawat inap di Puskesmas DTP Kabupaten Bogor tahun 2014. Metode penelitian adalah kuantitatif bersifat analitik deskriptif dengan desain cross sectional. Dengan populasi adalah seluruh pasien rawat inap dan unsur manajemen di Puskesmas DTP Kabupaten Bogorpada tahun 2014. Sampel pada penelitian ini adalah pasien rawat inap sebanyak 181 orang dan 50 unsur manajemen di Puskesmas DTP dari 10 Puskesmas DTP. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara karakteristik pasien dengan tingkat kepuasan pelanggan, ada hubungan yangbermakna antara upaya manajemen mutu fokus pada pelanggan dengan tingkatkepuasan pasien rawat inap di Puskesmas DTP Kabupaten Bogor tahun 2014,terdapat perbedaan yang bermakna terhadap skor rerata kepuasan diantara pasiendi Puskesmas yang menerapkan upaya manajemen mutu fokus pada pelanggandan yang tidak menerapkan upaya manajemen mutu fokus pada pelanggan.Penulis menyarankan agar pihak manajemen Puskesmas meningkatkandimensi fokus pada pelanggandan proses terkait pelanggan. Kedua dimensitersebutbelum dilaksanakan secara maksimal dalam penerapanupaya manajemenmutu fokus pada pelanggan. Manajemen Puskesmas untuk memperhatikan dimensi tangible dan responsiveness sebagai dimensi mutu pelayanan dengantingkat kepuasan terendah.Melaksanakan survey kepuasan pelanggan secara berkala dengan tools yang sesuai dengan kekhususan Puskesmas agar mendapatkan gambaran kepuasan pelanggan terkini. Kata Kunci : Mutu Layanan, Manajemen Mutu Fokus pada Pelanggan, KepuasanPelanggan.
Quality health services is now becoming the demands of all parties, including thepublic as service users, with the era of globalization, increasing social groupscapable, educated, and control of information, quality of service issues become anabsolute requirement The dominant factor affecting the quality of health servicesat the health center are human resources, both of which are involved in themanagement and care. Complaints (complaints) from customers is an indicator ofthe lack of quality of service due to poor management system.This study aims to determine the relationship between customer characteristicsand quality management efforts focus on providing customers with the level ofpatient satisfaction in the Puskesmas DTPin Bogor District 2014. Quantitativeresearch method is descriptive analytic cross-sectional design. With a populationis the entire patient care and management elements in the Puskesmas DTPinBogor District 2014. Samples in this study were inpatients as many as 181 peopleand 50 elements in the management of the Puskesmas DTPfrom 10 health centersWith Nursing.The results showed that there is no relationship between the characteristics ofpatients with levels of customer satisfaction, there is a significant associationbetween quality management efforts focus on providing customers with the levelof patient satisfaction in Bogor Regency DTP health centers in 2014, there is asignificant difference in mean scores between patient satisfaction The HealthCenter is implementing a quality management efforts focus on the customer andare not implementing a quality management efforts focuson the customer and notimplementing quality management efforts focus on the customer.The author suggested that health centers improve the management dimensions ofcustomer focus and customer-related processes. Both of these dimensions has notbeen fully implemented in the application of quality management efforts focus onthe customer. Management Health Center to pay attention and responsiveness as atangible dimension of service quality dimensions with the lowest satisfactionlevels. Carry out customer satisfaction surveys on a regular basis with theappropriate tools to get an idea of the specificity of the health center in order torecent customer satisfaction.Keywords: Quality of Service, Quality Management Focus on Customer,Customer Satisfaction.
Read More
T-4168
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ardinal; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Adang Bachtiar, Anwar Hasan, Tri Erri Astoeti, Dartini
Abstrak:
Dalam Peraturan Presiden nomor 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2004?2009 yang memuat 10 program, yang diamanatkan kepada Departemen Kesehatan salah satunya adalah program lingkungan sehat yang dalam pelaksanaannya telah disusun Rencana strategis Departemen Kesehatan tahun 2005?2009 termasuk indikatornya (Depkes RI, 2007). Salah satu kegiatan Program lingkungan sehat adalah penyediaan air bersih dan sanitasi dasar. Program penyehatan air bersih dilaksanakan untuk pemenuhan akses masyarakat terhadap air bersih, tidak hanya untuk pemenuhan segi jumlah/debit, namun kualitas/mutu air bersih yang dikonsumsi oleh masyarakat juga harus menjadi prioritas. Untuk itu diperlukan kerja keras dari pemegang program penyehatan air, khususnya sanitarian puskesmas sebagai ujung tombak pelaksanaan progran tersebut di tingkat puskesmas. Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret sampai Mei 2007 di Kabupaten Solok. Tujuan dari penelitian ini adalah didapatkannya gambaran kinerja petugas Sanitasi Puskesmas dan faktor-faktor yang berperan pada kinerja petugas sanitasi puskesmas dalam pelaksanaan program penyehatan air di Kabupaten Solok Tahun 2007. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, Diskusi Kelompok Terarah dan observasi, dengan informan Sanitarian puskesmas dilanjutkan triangulasi sumber dengan Kepala Puskesmas dan Kepala Bidang PL & PKM Dinas Kesehatan Kabupaten Solok. Rendahnya kinerja sanitarian puskesmas dalam pelaksanaan program penyehatan air bersih dilihat dari Cakupan IS rendah, Penyuluhan Kurang, Pembinaan Pokmair Kurang, Pengawasan air Kurang , Sistem informasi program tidak jalan. Faktor yang berperan dalam kinerja sanitarian tersebut adalah; kemampuan dan keterampilan sanitarian yang kurang terasah, supervisi baik dari Kabupaten maupun Kapala Puskesmas kurang; pelatihan sanitarian frekwensi yang kurang serta tidak sesuai kebutuhan, motivasi sanitarian yang rendah, imbalan dan dana operasional kurang, adanya beban kerja tambahan, sarana dan prasarana tidak memadai, kurang prioritas program oleh Kepala Puskesmas, akses sebagian wilayah kerja yang tidak lancar terutama untuk kecamatan terisolir, serta kebijakan Dinas Kesehatan terutama kebijakan anggaran yang belum memprioritaskan anggaran program kesehatan lingkungan atau program air bersih. Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah agar kebijakan Dinas Kesehatan Kabupaten Solok pada program penyehatan air pelaksanaanya diintegrasikan dengan kegiatan puskesmas luar gedung dengan didukung tersedianya sarana dan prasarana, alokasi dana opersional sesuai dengan kebutuhan; Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan; Pelaksanaan supervisi yang berkesinambungan, Pelatihan sanitarian sesuai dengan kebutuhan kerja di lapangan, pembuatan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis program sesuai kebutuhan sanitarian, pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan, pengadaan sarana dan prasaran sanitarian, merancang program pemberian reward bagi sanitarian teladan.

President Regulation No 7 in 2005 concerning National Development Planning at Middle Period (RPJMN) of 2004-2009 which conclude 10 programs that are instructed to Health Department. One of them is health environment program which its accomplishment arranged a strategic planning of Health Department at period of 2005- 2009 including its indicator (Health Department of Indonesian Republic, 2007). One of health environment program activity is preparing hygienic water and basic sanitation. Healthy program of hygienic water is accomplished to fulfill public access to hygienic water, not only a quantity supplied, but quality of hygienic water which is consumed by public must become a priority. Therefore, it needs a hard work from water healthy program holder, especially for sanitation officer at primary health care as leader of this program accomplishment at primary health care level. This study was conducted from March until May 2007 at district of Solok. This study aim is to get describing of sanitation officer performance at primary health care and the factors which related to sanitation officer performance at primary health care on accomplishment of water healthy program at district of Solok in 2007. This study used a qualitative method by in depth interview, directed group discussion and observation, informant is sanitation officer at primary health care, and then source triangulation with a leader of primary health care and leader of PL and PKM of Health Service Department at district of Solok. Low performance of sanitation officer at primary health care on accomplishment healthy program of hygienic water if it was seen from low IS coverage, less counseling, less training of Pokmair, less monitoring of water, information system program is not functioned. The factors which are important on sanitation officer performance such as : less ability and skill of sanitation officer, less supervision of district and primary health care leader, less training frequency of sanitation officer and the need is not available, low motivation of sanitation officer, less reward and operational fund, many extra jobs, facility and basic facility are not adequate, less program priority by leader of primary health care, work area access is not good especially for isolated district, and Health Service Department policy especially for budget policy which does not prioritized budget of development health program or hygienic water program. It was suggested to Health Service Department policy at district of Solok on water healthy program in order its accomplishment is integrated with primary health care activity out of building by supporting of available facility and basic facility, operational fund allocation is available with the need, health information system development, accomplishment of continuity supervision, sanitation officer training is available with job need at work area, making of accomplishment guide and program technique guide are available with sanitation officer need, training to improve ability and skill, levying facility and basic facility of sanitation officer, arranging reward program for expert sanitation officer.
Read More
T-2540
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive