Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33500 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Atidira Dwi Hanani; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Triyanti; Heni Rudiyanti, Enny Ekasari
Abstrak: Aktivitas fisik memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, termasuk pencegahan berbagaipenyakit. Namun, masih banyak pelajar di Indonesia tidak melakukan aktivitas fisiksecara rutin. Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan 33,4% remaja usia 15-19 tahun di JawaBarat kurang aktif dalam melakukan aktivitas fisik, dan Kota Depok merupakan kotadengan proporsi penduduk kurang aktif tertinggi di Provinsi Jawa Barat (40,5%).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan aktivitas fisik pada siswa SMANegeri di Kota Depok Jawa Barat tahun 2018. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner secara mandiri oleh 358 siswayang dipilih secara acak dari lima SMA Negeri di Depok, dan dianalisis menggunakanuji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan 54,2% siswaaktif dalam aktivitas fisik. Penelitian ini membuktikan pengetahuan (p=0,002OR=2,379, 95% CI 1,383-4,091), sikap (p=0,005 OR=1,888, 95% CI 1,209-2,949), danfasilitas (p=0,036 OR=1,673, 95% CI 1,035-2,704) berhubungan dengan aktivitas fisiksiswa, sedangkan dukungan keluarga sebagai variabel konfonding. Pengetahuanmerupakan faktor dominan yang berhubungan dengan aktivitas fisik, siswa yangmemiliki pengetahuan tinggi berpeluang 2 kali untuk aktif secara fisik dibandingkandengan siswa yang berpengetahuan rendah setelah dikontrol oleh sikap, fasilitas, dandukungan keluarga. Untuk itu, penyampaian informasi kesehatan mengenai aktivitasfisik, sosialisasi gerakan masyarakat hidup sehat di masyarakat, dan anjuran untukberaktivitas fisik di sekolah perlu dilakukan sebagai upaya untuk mendorong siswamenjadi lebih aktif.Kata kunci : aktivitas fisik, siswa, SMA
Physical activity has many health benefits, including the prevention of various diseases.However, many students in Indonesia were not physically active. The result of BasicHealth Research 2013 showed that 33.4% of adolescents aged 15-19 years in West Javawere not active in physical activity, and Depok was the city with the highest proportionof the least active population in West Java which was 40.5%. This study aimed todetermine the determinants of physical activity on senior high school students in Depok,West Java 2018. This study used cross sectional design, data was collected using self-administered questionnaire on 358 randomly selected students from five senior highschools in Depok, and analyzed using chi-square and multiple logistic regression tests.The result showed 54.2% students were sufficiently active. These findings revealed thatknowledge (p=0,002 OR=2,379, 95% CI 1,383-4,091), attitudes (p=0,005 OR=1,888,95% CI 1,209-2,949), and facilities (p=0,036 OR=1,673, 95% CI 1,035-2,704) relatedto physical activity while family support as confounding. Highly knowledgeablestudents had two-fold chance of being active in physical activity than low-knowledgestudents after being controlled by attitudes, facilities, and family support. Therefore, it isnecessary to deliver health information about physical activity, socialization of healthylifestyle in the community, and the encouragement for physical activity in schools as aneffort to encourage students to be more active.Key words : physical activity, student, senior high school.
Read More
T-5421
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marti Rahayu Diah Kusumawati; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Triyanti, Evi Martha, Andi Sari Bunga Untung, Fiena Fithriah
Abstrak: Konsumsi buah dan sayur pada siswa masih belum memenuhi rekomendasi yangdianjurkan. Kurangnya konsumsi buah dan sayur mengakibatkan peningkatan risikopenyakit tidak menular dan menyebabkan kematian. Kelompok usia sekolah menengahatas merupakan kelompok usia remaja yang berada dalam masa yang tepat untukpertumbuhan dan perkembangannya dalam menanamkan kebiasaaan makan yang sehat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan konsumsi buah dan sayur padasiswa SMA Negeri di Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur. Penelitian ini merupakanpenelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Sebanyak 326 siswa dari 4SMA Negeri berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwasikap, preferensi, dan ketersediaan buah dan sayur di rumah merupakan determinan darikonsumsi buah dan sayur dengan faktor dominan yang ditemukan adalah preferensi(OR=7,87; CI=1,8-34,1). Peningkatan pemahaman akan manfaat dan pentingnyakecukupan konsumsi buah dan sayur bagi kesehatan serta upaya pemberdayaanmasyarakat sekolah dapat membentuk persepsi yang baik bahwa buah dan sayur adalahmakanan sehat dengan rasa yang enak dan dapat dikonsumsi dalam berbagai jenispengolahan yang menarik.Kata kunci: Konsumsi buah dan sayur, remaja, siswa.
Consumption of fruits and vegetables in students still not meet the recommendedrecommendations. Lack of fruit and vegetable consumption leads to an increased risk ofnon-communicable diseases and causing death. The high school age group is a group ofteenagers who are in the right age for their growth and development in instilling healthyeating habits. This study aims to determine the determinants of fruit and vegetableconsumption in high school students in East Jakarta Jatinegara Subdistrict. This researchis a quantitative research with cross-sectional study design. A total of 326 students from4 public senior high school participated in this study. The results showed that theattitudes, preferences, and availability of fruits and vegetables at home were thedeterminants of fruit and vegetable consumption with the dominant factor found inpreference (OR = 7,87, CI = 1,8-34,1). Increased understanding of the benefits andimportance of the adequacy of fruit and vegetable consumption for health and efforts toempower the school community can form a good perception that fruits and vegetablesare healthy foods with good taste and can be consumed in various types of attractiveprocessing.Keywords: Consumption of fruit and vegetables, adolescents, students.
Read More
T-5313
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Citra Br Aritonang; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Zakianis, Rita Ramayulis, Ramadanura
Abstrak: Asupan gula, garam dan lemak melebihi batas yang direkomendasikan beresikomenyebabkan obesitas dan terjadinya penyakit tidak menular seperti diabetes melitus,penyakit jantung, hipertensi, stroke dan kanker. Penyakit tidak menular merupakanpenyebab kematian utama di dunia dan juga di indonesia yang disebabkan salah satunyaoleh perilaku makan yang tidak sehat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuifaktor dominan asupan gula, garam dan lemak pada siswa-siswi SMA Negeri 3 KotaDepok tahun 2018. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juni 2018 dengan desaincross sectional dan jumlah sample sebanyak 205 responden. Maka diperoleh hasilanalisis asupan tinggi gula, garam dan lemak sebesar 62,4% dimana asupan gula, garamdan lemak saling berkorelasi. Responden yang obesitas sebesar 4,9% dan kegemukansebesar 14,6%. Sedangkan analisis bivariat ada hubungan yang signifikant antara citratubuh (p value = 0,002, OR = 2,611), emotional eating (p value = 0,001, OR = 3,763),alasan pemilihan makanan (p value = 0,001, OR = 4,646), sikap terhadap perilaku (pvalue = 0,03, OR = 2,011) dan pengaruh keluarga (p value = 0,004, OR = 2,505) denganasupan tinggi gula, garam dan lemak. Pada analisis multivariat maka variabel yangpaling dominan adalah emotioanl eating dengan nilai OR 3,35 yang artinya emotionaleating berpeluang 3,35 kali mengonsumsi asupan tinggi gula, garam dan lemak setelahdi kontrol oleh variabel citra tubuh, alasan pemilihan makanan, sikap terhadap perilakudan pengaruh keluarga. Oleh karena itu perlu mengendalikan emotional eatingresponden dengan promosi kesehatan tentang asupan gula, garam dan lemak padakeluarga dan ketersediaan makanan yang sehat baik dirumah dan kantin sekolahsehingga asupan gula, garam lemak dapat dibatasi dan pentingnya memperhatikankomposisi dan zat gizi yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi.Kata kunci:Asupan gula, garam dan lemak, remaja, perilaku makan, emotional eating.
Intake of sugar, salt and fat exceeds the recommended limits at risk of causingobesity and the occurrence of non-communicable diseases such as diabetes mellitus,heart disease, hypertension, stroke and cancer. Non-communicable diseases are themain cause of death in the world and also in Indonesia caused by one of them byunhealthy eating behavior. The purpose of this study was to determine the dominantfactors of sugar, salt and fat intake in students of senior high school in Depok City. Thisresearch was conducted on April-June 2018 with cross sectional design and 205respondents. Analysis results showed high intake of sugar, salt and fat by 62.4% wherethe intake of sugar, salt and fat are correlated. Obese respondents were 4.9% and obesitywas 14.6%. While bivariate analysis there is significant relation between body image (pvalue = 0,002), emotional eating (p value = 0,001), food selection (p value = 0,001),attitude toward behavior (p value = 0,03) and family influence (p value = 0.004) withhigh intake of sugar, salt and fat. In multivariate analysis, the most dominant variable isemotional eating with OR 3.35, which means emotional eating 3.35 times consuminghigh intake of sugar, salt and fat after control by body image variable, food selectionreason, attitude toward behavior and influence of family. Therefore it is necessary tocontrol the emotional eating of respondents with the promotion of health about theintake of sugar, salt and fat in the family and the availability of healthy foods both athome and school canteen so that sugar intake, fat salt can be limited. The importance ofpaying attention to the composition and the nutrients contained in the food consumed.Keywords: Intake of sugar, salt and fat, adolescents, emotional eating.
Read More
T-5317
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fajrin Violita; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi, Hadi Pratomo; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Linda Siti Rohaeti, Sri Lilestina Nasution
T-5322
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khaerul Nisa; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Rita Damayanti, Rachmat Priyono
Abstrak:
Tidur merupakan kebutuhan dasar agar tubuh dapat berfungsi dengan baik. Remaja merupakan salah satu kelompok umur yang sering mengalami masalah kualitas tidur buruk. Remaja rentan mengalami masalah kualitas tidur yang buruk karena penyesuaian berbagai faktor dan gaya hidup. Kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan munculnya risiko kesehatan baik fisik dan psikis serta terganggunya perkembangan kognitif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kualitas tidur dan hubungannya dengan durasi tatap layar, kecemasan, aktivitas fisik, dan kebiasaan tidur pada remaja di SMA Negeri 1 Kebumen tahun 2024. Studi ini menggunakan desain cross-sectional dengan responden sebanyak 304 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 53,6% responden memiliki kualitas tidur yang baik. Analisis bivariat yang dilakukan memperlihatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecemasan (p-value < 0,001) dengan nilai OR 8,971 dan kebiasaan tidur (p-value < 0,001) dengan nilai OR 3,24 dengan kualitas tidur remaja. Kemudian dari analisis bivariat juga memperlihatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara durasi tatap layar dan aktivitas fisik dengan kualitas tidur remaja (p-value>0,05). Intervensi mengenai tips mengontrol kecemasan dan edukasi terkait kebiasaan tidur yang baik diharapkan dapat diterapkan di sekolah untuk meningkat kualitas tidur remaja.

Sleep is a basic need for the body to function properly. Adolescents are one of the age groups that often experience poor sleep quality problems. Adolescents are susceptible to poor sleep quality problems due to adjustments to various factors and lifestyles. Poor sleep quality can lead to physical and psychological health risks and disrupt cognitive development. This study was conducted to determine the picture of sleep quality and its relationship with screen time, anxiety, physical activity, and sleep hygiene in adolescents at SMA Negeri 1 Kebumen in 2024. This study used a cross-sectional design with 304 students as respondents. The results showed that 53,6% of respondents had good sleep quality. The bivariate analysis showed that there was a significant relationship between anxiety (p-value <0.001) with an OR value of 8.971 and sleep hygiene (p-value <0.001) with an OR value of 3.24 with adolescent sleep quality. Then the bivariate analysis also showed that there was no significant relationship between screen time and physical activity with adolescent sleep quality (p-value>0.05). Interventions regarding tips for controlling anxiety and education regarding good sleep hygiene are expected to be implemented in schools to improve the quality of adolescent sleep.
Read More
S-11614
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinanti Abadini; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Tri Krianto, Dadan Erwandi, Ahmad Muhidin, Intan Endang Sonata
Abstrak: Aktivitas fisik pada orang dewasa bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan mencegahterjadinya penyakit. Pekerjaan yang cenderung sedentari dan durasi kerja yang cukuppanjang membuat pekerja kantoran berisiko kurang aktif fisik. Sebagian besar pekerja diJakarta adalah pekerja kantoran. Jakarta merupakan provinsi dengan proporsi pendudukkurang aktivitas fisik tertinggi, tercatat masih ada 44,2% penduduk yang kurangaktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan aktivitas fisikorang dewasa pekerja kantoran yang bekerja di wilayah DKI Jakarta. Penelitiandilakukan dengan metode kuantitatif. Sebanyak 174 orang pekerja kantoran Jakartaberpartisipasi dalam penelitian dengan mengisi kuesioner berbasis website secaraonline. Hasil penelitian menunjukkan 59% pekerja kantoran yang bekerja di Jakartakurang aktif fisik. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa jenis kelamin pria,dukungan teman yang cukup dan lemahnya hambatan yang dirasakan (perceivedbarriers) merupakan determinan dari aktivitas fisik pekerja kantoran di Jakarta. Upayaintervensi atau program promosi yang bertujuan mengurangi persepsi negatif akanhambatan-hambatan yang dirasa terkait aktivitas fisik sekaligus meningkatkan persepsipositif akan keuntungan yang diperoleh dengan melakukan aktivitas fisik, sertamendorong untuk melakukan aktivitas fisik bersama perlu dilakukan untukmeningkatkan aktivitas fisik pekerja kantoran di Jakarta. Selain itu, perhatian khususperlu diberikan pada kelompok pekerja kantoran wanita untuk meningkatkan partisipasidalam aktivitas fisik.Kata kunci:Aktivitas fisik, dewasa, pekerja, pekerja kantoran.
Read More
T-5346
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Niesha Alifia Zahra; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Yoslien Sopamena, Yudianto
Abstrak:
Anemia masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang banyak dialami oleh remaja putri di Indonesia. Salah satu upaya pencegahan anemia adalah melalui program konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Namun, kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi TTD sesuai anjuran masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah pada siswi SMA Negeri 3 Kota Bandung tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 90 siswi yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dan Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan dengan perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah (p<0,001). Sementara itu, sikap terhadap TTD tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan perilaku konsumsi TTD (p=0,301). Faktor pemungkin berupa aksesibilitas dalam mendapatkan TTD juga tidak berhubungan secara signifikan dengan perilaku konsumsi TTD (p=0,242). Pada faktor penguat, dukungan keluarga (p=0,035) dan dukungan teman sebaya (p=0,021) memiliki hubungan yang bermakna dengan perilaku konsumsi TTD, sedangkan dukungan guru tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik (p=0,212). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah pada siswi SMA Negeri 3 Kota Bandung dipengaruhi oleh faktor pengetahuan serta dukungan keluarga dan teman sebaya. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi yang berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan siswi, serta penguatan peran keluarga dan teman sebaya dalam mendukung kepatuhan konsumsi TTD.

Anemia remains a public health problem that commonly affects adolescent girls in Indonesia. One of the strategies to prevent anemia is the iron tablet supplementation program. However, adherence to iron tablet consumption according to recommendations remains low among adolescent girls. This study aimed to determine the factors associated with iron tablet consumption behavior among female students at SMA Negeri 3 Bandung in 2025. This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of 90 female students selected using quota sampling. Data were collected through an online questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analyses with the chi-square test and Fisher’s Exact test. The results showed a statistically significant association between knowledge and iron tablet consumption behavior (p<0.001). In contrast, attitude toward iron tablets was not significantly associated with consumption behavior (p=0.301). Enabling factors in the form of accessibility to iron tablets were also not significantly associated with consumption behavior (p=0.242). Regarding reinforcing factors, family support (p=0.035) and peer support (p=0.021) were significantly associated with iron tablet consumption behavior, while teacher support was not statistically significant (p=0.212). Based on these findings, it can be concluded that iron tablet consumption behavior among female students at SMA Negeri 3 Bandung is influenced by knowledge, family support, and peer support. Therefore, continuous health education is needed to improve students’ knowledge, as well as to strengthen the role of families and peers in supporting adherence to iron tablet consumption.
Read More
S-12199
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Danang Wahansa Sugiarto; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Evi Martha, Hadi Pratomo, Tomi Herutomo, Alex Firngadi
Abstrak: Di Indonesia, tren usia mulai merokok paling banyak ada pada remaja rentang usia 15-19tahun, yang merupakan usia SMA. Di Kabupaten Purwakarta, jumlah proporsi perokoklebih tinggi dibanding angka provinsi. Diketahui bahwa paparan media sangatberpengaruh terhadap inisiasi remaja untuk merokok. Dikembangkanlah suatu konsepstrategi pengendalian tembakau berbasis sekolah, yaitu literasi media (smoking medialiteracy [SML]). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan SML dengan statusmerokok siswa SMA negeri di wilayah Kecamatan Purwakarta Kabupaten Purwakartasetelah jenis kelamin, pendidikan orang tua, parenting, orang terdekat yang merokok(orang tua, saudara kandung, dan teman sebaya), capaian prestasi di sekolah, depresi, self-esteem, sifat memberontak, dan sifat mencari sensasi dikendalikan. Penelitian inimerupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan padaApril-Mei 2018 di Kecamatan Purwakarta Kabupaten Purwakarta. Data dikumpulkandengan kuesioner yang diisi sendiri oleh responden yang berjumlah 310 siswa-siswi SMAnegeri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 14,2% responden yang berstatusmerokok. Nilai rata-rata skor SML responden adalah 68,94. Hasil regresi logistik gandamenunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara SML dengan status merokok setelahjenis kelamin, saudara yang merokok, teman sebaya yang merokok, capaian prestasi disekolah, dan sifat memberontak dikendalikan (nilai p = 0,048; CI = 1,008-7,085).Perlunya pendidikan dan pemahaman literasi media, promosi kesehatan denganpendekatan media sosial, dan lebih menggalakkan upaya kesehatan dengan pendekatankeluarga dapat mengurangi penggunaan rokok pada remaja.Kata kunci: literasi media, merokok, smoking media literacy, remaja, siswa SMA.
Read More
T-5342
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Midyawati Ahmad; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Mareta Maulidiyanti, Nur Fatayani, Ali Mukodas
Abstrak:
Gaya hidup sehat merujuk pada kebiasaan individu yang dapat membantu mencegah penyakit kronis dan mendorong praktik perilaku yang mendukung kesehatan. Munculnya internet telah secara dramatis mengubah lanskap informasi kesehatan, karena itu penting untuk memeriksa bagaimana literasi kesehatan digital mempengaruhi perilaku hidup sehat dikalangan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran determinan sosial siswa SMAN, literasi kesehatan digital dan gaya hidup sehat siswa SMAN di Jakarta tahun 2024. Studi ini menggunakan data primer dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan melalui teknik acak klaster (cluster random sampling), menggunakan instrumen HPLP II (tiga puluh pertanyaan) tentang gaya hidup sehat dan eHEALS (delapan pertanyaan) tentang literasi kesehatan digital pada studi ini. Analisis menggunakan regresi linear berganda dengan gaya hidup sehat sebagai variabel dependen dan literasi kesehatan digital dan determinan sosial usia, jenis kelamin, suku, jurusan, dan uang saku sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan gaya hidup sehat pada siswa SMA Negeri dalam kategori cukup (Me=75; SD=10,51). Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan variabel literasi kesehatan digital berhubungan secara signifikan dengan gaya hidup sehat setelah dikontrol oleh variabel uang saku (aOR=2.120 95%CI 1.232-3.648). Oleh karena itu, diperlukan penguatan literasi kesehatan digital dan monitoringnya dengan berbagai pihak terkait termasuk dinas Pendidikan dan tim Pembina UKS, Dinas Komunikasi dan Informatika dalam mendukung gaya hidup sehat di Sekolah

A healthy lifestyle refers to individual habits that can help prevent chronic diseases and promote behaviors that support health. The emergence of the internet has dramatically changed the landscape of health information, making it essential to examine how digital health literacy influences healthy living behaviors among adolescents. This study aims to describe the social determinants of public high school students, their digital health literacy, and their healthy lifestyle in Jakarta in 2024. The study uses primary data with a cross-sectional design. Data were collected through cluster random sampling using the HPLP II instrument (thirty questions) about healthy lifestyle and eHEALS (eight questions) about digital health literacy. The analysis was conducted using multiple linear regression with a healthy lifestyle as the dependent variable and digital health literacy and social determinants such as age, gender, ethnicity, study major, and allowance as independent variables. The results showed that the healthy lifestyle of public high school students was in the moderate category (Me=75; SD=10.51). Multiple linear regression analysis showed that digital health literacy was significantly associated with a healthy lifestyle after being controlled for the allowance variable (aOR=2.120 95% CI 1.232-3.648). Therefore, it is necessary to strengthen digital health literacy and its monitoring with various relevant parties, including the Education Department, the School Health Unit (UKS) team, and the Department of Communication and Informatics to support a healthy lifestyle in schools.
Read More
T-6924
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yolanda Safitri; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Besral, Diah Mulyawati Utari, Frima Elda, Elfa Syoeib
Abstrak:

Latar Belakang: Distorsi citra tubuh adalah persepsi negatif terhadap bentuk dan ukuran tubuh sendiri, yang sering dialami oleh remaja putri dan dapat berdampak pada kesehatan mental dan perilaku makan. Masa remaja merupakan periode rentan terhadap pengaruh sosial dan media yang dapat memperkuat ketidakpuasan terhadap tubuh.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan yang memengaruhi distorsi citra tubuh pada remaja putri di SMA Negeri 3 dan SMA Negeri 14 Kota Padang tahun. 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diambil secara purposif sebanyak 457 responden dari dua sekolah tersebut. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah divalidasi, meliputi variabel body image, status gizi, pengetahuan gizi, perilaku makan, percaya diri, sosial ekonomi, pengaruh media sosial, orang tua, teman sebaya dan peranan sosial. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak memiliki distorsi citra tubuh (68,7%), terdapat hubungan antrara status gizi, percaya diri dan teman sebaya dengan distorsi citra tubuh. Kesimpulan: Berdasarkan p-value dan nilai OR, status gizi menjadi variabel yang paling signifikan berhubungan dalam memengaruhi distorsi citra tubuh. Artinya, remaja putri yang memiliki status gizi kurang berpeluang 3.40 kali lebih tinggi untuk mengalami distorsi citra tubuh dibandingkan dengan remaja dengan status gizi baik, begitu juga remaja putri yang memiliki status gizi lebih berpeluang 39,19 kali lebih tinggi untuk mengalami distorsi citra tubuh dibandingkan dengan remaja putri yang memiliki status gizi baik. Nilai R-Square (41,6%) menunjukkan bahwa variasi dalam variabel distorsi citra tubuh dapat dijelaskan oleh variabel status gizi dan kepercayaan diri.


Background: Body image distortion is a negative perception of one's own body shape and size, which is often experienced by adolescent girls and can have an impact on mental health and eating behavior. Adolescence is a period of vulnerability to social and media influences that can reinforce body dissatisfaction. Objective: This study aims to identify the determinants influencing body image distortion among adolescent girls at State High School 3 and State High School 14 in Padang City in 2025. Method: This study used an analytical design with a cross-sectional approach. A purposive sample of 457 respondents was selected from the two schools. Data were collected through a validated questionnaire, including variables such as body image, nutritional status, nutritional knowledge, eating behavior, self-confidence, socioeconomic status, social media influence, parental influence, peer influence, and social role. Data analysis was performed using chi-square tests and logistic regression. Results: The results showed that the majority of respondents did not have body image distortion (68.7%), and there was a relationship between nutritional status, self-confidence, and peers with body image distortion. Conclusion: Based on p-values and odds ratios (OR), nutritional status was the most significant variable associated with body image distortion. This means that adolescent girls with poor nutritional status are 3.40 times more likely to experience body image distortion than those with good nutritional status, and adolescent girls with overweight nutritional status are 39.19 times more likely to experience body image distortion than those with good nutritional status. The R-Square value (41.6%) indicates that variations in the body image distortion variable can be explained by the nutritional status and self-confidence variables.

Read More
T-7334
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive