Ditemukan 34149 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Natasya Amalia Pinanti; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dian Ayubi, Mohammad Syah Riza
Abstrak:
Kepatuhan minum obat pada pasien skizofrenia merupakan hal penting untuk mengontrol perjalanan penyakit. Kepatuhan minum obat yang buruk berdampak pada kejadian kekambuhan skizofrenia. Adanya perceived benefit minum obat dan dukungan keluarga yang mendukung merupakan sebagian faktor yang terlibat dalam kepatuhan minum obat yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan antara Perceived benefit Minum Obat dan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Minum Obat Pasien Skizofrenia Rawat Jalan di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta pada bulan Juni 2019. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain crosssectional. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dari 78 pasien rawat jalan. Pengukuran tingkat kepatuhan minum obat menggunakan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS), perceived benefit menggunakan pengembangan konstruk dari The Health Belief Model dan Drug Attitude Inventory, Dukungan Keluarga dari pengembangan substansi dukungan keluarga oleh House (2000). Hasil menunjukkan 35.9% responden memiliki tingkat kepatuhan sedang minum obat. Terdapat hubungan antara karakteristik pendidikan (p= 0.035), perceived benefit minum obat (p =0.008 dan 0.031), dan dukungan keluarga (p= 0.073 dan 0.004) dengan kepatuhan minum obat.
Read More
S-10160
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lia Sitawati; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dien Ansari, Dadan Erwandi, Suzy Yusna Dewi, Iyep Yudianan
Abstrak:
Latar Belakang: Skizofrenia adalah salah satu gangguan jiwa berat, Skizofrenia diderita oleh 21 juta orang di dunia. Anggota Rumah Tangga (ART) di Indonesia yang menderita Skizofrenia/ psikosis 6,7 per mil pada 2018. Cakupan pengobatan penderita Skizofrenia atau psikosis yang berobat ke RS Jiwa/fasilitas layanan kesehatan/Tenaga Kesehatan adalah pernah/seumur hidup (85%) dan yang minum obat rutin 1 bulan terakhir (48,9%). Sekalipun prevalensinyaya kecil namun dampaknya sangat besar biaya finansial Skizofrenia di Amerika Serikat diperkirakan melampaui biaya semua kanker bila digabungkan, karena Skizofrenia bermula pada awal kehidupan, menyebabkan hendaya/ketidakmampuan yang signifikan dan bertahan lama, membuat tuntutan perawatan rumah sakit yang berat, membutuhkan perawatan rawat jalan, rehabilitasi, dan layanan dukungan terus-menerus. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya determinan kepatuhan minum obat pada penderita Skizofrenia di Poli Rawat Jalan RSJ Daerah Propinsi Lampung tahun 2019. Metode: Penelitian Kuantitatif dengan desain Cross Sectional, sampel 192 responden diolah dengan chi square dan regresi logistik. Kesimpulan: Sebagian dari penderita yang menjadi responden patuh minum obat (51,0%), berumur dewasa >30 tahun (70,3%), berpenghasilan dibawah UMP Lampung (82,3%), tingkat pendidikan dasar (46,9%), akses ke RSJ terjangkau (73,4%), persepsi dukungan keluarga sangat kuat (50,5%), wawasan terkait penyakit luas (94,3%), persepsi keparahan penyakit sedang (61,5%), persepsi tidak ada efek samping obat (54,7%), persepsi peran Dokter baik (35,9%) dan peran Apoteker sangat baik (80,2%). Kepatuhan berasosiasi secara positif dengan penghasilan (OR= 4,73), tingkat pendidikan, akses ke RSJ (OR=5), persepsi dukungan keluarga (OR=2,2), wawasan terkait penyakit (OR=5), persepsi keparahan penyakit, persepsi efek samping obat (OR=2,6), peran Dokter dan peran Apoteker (OR=2,7). Variabel yang paling dominan yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat adalah akses dengan OR = 6,6 Rekomendasi: Meningkatkan akses pada penderita melalui optimalisasi pelayanan kesehatan mental rujukan berjenjang di PPK I, II, disertai sumber daya manusia (Dokter, Apoteker) serta obat-obatan terkait, mengaktifkan Website RSJ serta melakukan edukasi melalui video edukasi, leaflet, poster, banner terkait kepatuhan minum obat penderita Skizofrenia
Read More
T-5692
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Imelda Sussanti Nailius; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Tri Krianto, Rudy Priyono, Tiurmasari E. Saragih
Abstrak:
Tuberkulosis merupakan salah satu prioritas utama masalah kesehatan saat ini dengan jumlah kasus yang diobati dan dilaporkan di Indonesia masih dibawah target nasional pada tahun 2021. Angka keberhasilan pengobatan tuberkulosis di Kota Kupang dilaporkan dalam empat tahun terakhir belum tercapai secara optimal. Salah satu faktor ketidakberhasilan minum obat disebabkan karena jangka waktu minum obat yang lama yang memungkinkan untuk terjadi ketidakpatuhan dalam minum obat. Ketidakpatuhan dalam minum obat dapat menyebabkan kegagalan dalam pengobatan, pengobatan ulang maupun resisten terhadap obat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan determinan sosial dan literasi kesehatan dengan kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis di Kota Kupang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional yang dilakukan pada penderita tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan di puskesmas di Kota Kupang. Data dikumpulkan dengan cara pengisian kuesioner secara online (self administered survey) pada 126 penderita tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan di 11 puskesmas di Kota Kupang. Data dianalisis menggunakan uji regresi logistik sederhana dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menemukan 23,8 % penderita tuberkulosis tidak patuh dalam minum obat tuberkulosis. Variabel literasi kesehatan (p=0,008) dan umur responden (p=0,029) dengan p-value <0,05 dinyatakan berhubungan signifikan dengan kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis. Literasi kesehatan menjadi variabel yang paling dominan dalam mempengaruhi kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis setelah di kontrol oleh variabel umur, pendidikan dan pendapatan. Pentingnya kolaborasi terintegrasi antara berbagai lembaga terkait untuk melakukan edukasi terkait tuberkulosis lewat berbagai media dapat meningkatkan literasi kesehatan masyarakat dan kepatuhan minum obat tuberkulosis.
Tuberculosis is one of the most challenging public health issues at the moment, with the number of cases being treated and reported in Indonesia still falling short of the national objective for 2021. In the last four years, the success rate for tuberculosis treatment in Kupang City has not been optimal. One of the reasons people fail to take medication is because they have been taking it for a long time, which allows for non-compliance. Non-adherence in taking medication can lead to treatment failure, re-treatment or drug resistance. The purpose of this study was to determine the relationship between social determinants and health literacy with medication adherence for tuberculosis patients in Kupang City. This study is a cross-sectional quantitative study that was carried out on tuberculosis patients receiving care at a medical facility in Kupang City. Data were collected by filling out online questionnaires (self-administered survey) on 126 tuberculosis patients who were undergoing treatment at 11 health centers in Kupang City. Simple logistic regression and multiple logistic regression were used to analyze the data. According to the study's findings, 23.8 percent of tuberculosis patients did not take their tuberculosis medications. Health literacy variables (p=0.008) and respondent age (p=0.029) with p-value 0.05 were shown to be significantly related to tuberculosis patients' medication adherence. After adjusting for age, education, and income, health literacy emerged as the most influential variable in affecting medication adherence in tuberculosis patients. The significance of integrated collaboration among multiple associated entities to undertake tuberculosis education through various media can improve public health literacy and adherence to tuberculosis medications.
Read More
Tuberculosis is one of the most challenging public health issues at the moment, with the number of cases being treated and reported in Indonesia still falling short of the national objective for 2021. In the last four years, the success rate for tuberculosis treatment in Kupang City has not been optimal. One of the reasons people fail to take medication is because they have been taking it for a long time, which allows for non-compliance. Non-adherence in taking medication can lead to treatment failure, re-treatment or drug resistance. The purpose of this study was to determine the relationship between social determinants and health literacy with medication adherence for tuberculosis patients in Kupang City. This study is a cross-sectional quantitative study that was carried out on tuberculosis patients receiving care at a medical facility in Kupang City. Data were collected by filling out online questionnaires (self-administered survey) on 126 tuberculosis patients who were undergoing treatment at 11 health centers in Kupang City. Simple logistic regression and multiple logistic regression were used to analyze the data. According to the study's findings, 23.8 percent of tuberculosis patients did not take their tuberculosis medications. Health literacy variables (p=0.008) and respondent age (p=0.029) with p-value 0.05 were shown to be significantly related to tuberculosis patients' medication adherence. After adjusting for age, education, and income, health literacy emerged as the most influential variable in affecting medication adherence in tuberculosis patients. The significance of integrated collaboration among multiple associated entities to undertake tuberculosis education through various media can improve public health literacy and adherence to tuberculosis medications.
T-6470
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tri Danu Warsito; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Dien Anshari, Tri Krianto, Edduard Idul Riyadi, Galianti
Abstrak:
Read More
Gangguan kesehatan mental di DKI Jakarta memiliki prevalensi tertinggi di Indonesia, mencapai 24,3%, dengan tingkat ketidakpatuhan pengobatan sebesar 51%. Penelitian ini dilakukan di RS Soeharto Heerdjan sebagai salah satu rumah sakit rujukan utama untuk penanganan masalah kesehatan mental di wilayah ini. Dengan tujuan untuk menganalisis determinan kepatuhan pengobatan dengan lima dimensi WHO. Studi kuantitatif ini menggunakan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan kuesioner. Sebanyak 100 pasien rawat jalan yang berusia di atas 18 tahun dipilih secara purposive sampling. Penelitian ini dilakukan pada periode Februari hingga April 2025. Analisis data dilakukan dengan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52% responden memiliki kepatuhan baik terhadap pengobatan, dengan nilai rata-rata kepatuhan sebesar 80,36, yang dapat disimpulkan sebagai hasil yang baik. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kesadaran dan sikap terkait penyakit (p=0,033) serta persepsi terhadap peran apoteker/petugas penyerah obat (p=0,005; adjusted OR = 4,49; 95% CI: 1,57–12,86) berhubungan secara signifikan dengan tingkat kepatuhan pengobatan. Variabel yang paling dominan adalah persepsi peran apoteker, di mana pasien dengan persepsi yang kurang baik berisiko 4,49 kali lebih tinggi untuk memiliki kepatuhan buruk dibandingkan mereka yang memiliki persepsi baik (aOR=4,49; 95% CI 1,57-12,86). R-Square penelitian adalah 0,191, yang berarti variabel kesadaran dan sikap terkait penyakit dan persepsi peran apoteker menjelaskan 19,1% variasi kepatuhan pengobatan. Karena itu, perlu peningkatan program komunikasi kepada apoteker untuk memberikan edukasi yang jelas dan mudah dimengerti kepada pasien, termasuk kolaborasi dengan dokter dalam menerangkan manfaat dan efek samping obat.
Mental health disorders in DKI Jakarta have the highest prevalence in Indonesia, reaching 24.3%, with a medication non-adherence rate of 51%. This study was conducted at Soeharto Heerdjan Hospital, one of the main referral hospitals for mental health services in the region. The aim of the study was to analyze the determinants of medication adherence based on the five dimensions of the WHO adherence framework. This quantitative study employed a cross-sectional approach. Data were collected through interviews using a structured questionnaire. A total of 100 outpatient participants aged over 18 years were selected using purposive sampling. The study was conducted from February to April 2025. Data analysis was performed using multiple logistic regression. Results showed that 52% of respondents demonstrated good adherence to medication, with a mean adherence score of 80.36, indicating a generally good outcome. Logistic regression analysis revealed that awareness and attitude toward the illness (p=0.033) and perception of the role of pharmacists/dispensing officers (p=0.005; adjusted OR = 4.49; 95% CI: 1.57–12.86) were significantly associated with medication adherence. The most dominant variable was the perception of the pharmacist’s role, where patients with poor perception were 4.49 times more likely to have poor adherence compared to those with good perception (aOR = 4.49; 95% CI: 1.57–12.86). The study’s R-squared value was 0.191, indicating that awareness and attitude toward illness and perception of the pharmacist’s role explained 19.1% of the variance in medication adherence. Therefore, it is essential to enhance communication programs for pharmacists to deliver clear and understandable education to patients, including collaboration with physicians in explaining medication benefits and side effects.
Mental health disorders in DKI Jakarta have the highest prevalence in Indonesia, reaching 24.3%, with a medication non-adherence rate of 51%. This study was conducted at Soeharto Heerdjan Hospital, one of the main referral hospitals for mental health services in the region. The aim of the study was to analyze the determinants of medication adherence based on the five dimensions of the WHO adherence framework. This quantitative study employed a cross-sectional approach. Data were collected through interviews using a structured questionnaire. A total of 100 outpatient participants aged over 18 years were selected using purposive sampling. The study was conducted from February to April 2025. Data analysis was performed using multiple logistic regression. Results showed that 52% of respondents demonstrated good adherence to medication, with a mean adherence score of 80.36, indicating a generally good outcome. Logistic regression analysis revealed that awareness and attitude toward the illness (p=0.033) and perception of the role of pharmacists/dispensing officers (p=0.005; adjusted OR = 4.49; 95% CI: 1.57–12.86) were significantly associated with medication adherence. The most dominant variable was the perception of the pharmacist’s role, where patients with poor perception were 4.49 times more likely to have poor adherence compared to those with good perception (aOR = 4.49; 95% CI: 1.57–12.86). The study’s R-squared value was 0.191, indicating that awareness and attitude toward illness and perception of the pharmacist’s role explained 19.1% of the variance in medication adherence. Therefore, it is essential to enhance communication programs for pharmacists to deliver clear and understandable education to patients, including collaboration with physicians in explaining medication benefits and side effects.
T-7414
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Khasanah; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Anwar Hassan, Siti Hapsari
Abstrak:
Keberhasilan terapi ARV sangat ditentukan oleh kepatuhan minum obat ARV. YPI merupakan salah satu yayasan peduli HIV/AIDS tertua di Indonesia yang terletak di Tebet, Jakarta Selatan. Beberapa pasien HIV/AIDS di YPI ditemukan pernah mengalami putus obat yang dapat berisiko kematian akibat kegagalan terapi ARV. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kepatuhan minum obat ARV pada pasien HIV/AIDS di YPI. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam. Pengambilan data dilakukan pada 10 orang dari kelompok ODHA, keluarga, dan pihak YPI. Penelitian ini menunjukkan bahwa masih terdapat pasien yang tidak patuh minum obat ARV. 5 informan yang peneliti wawancarai, 2 informan menyatakan pernah mengalami putus obat, 2 informan lain pernah terlambat minum obat dan 1 informan patuh minum obat. Penelitian ini menunjukkan faktor penyebab ketidakpatuhan minum obat ARV yaitu kesibukan, kejenuhan minum obat, takut efek samping, dan merasa sudah sehat. Kata kunci: HIV/AIDS, Terapi ARV, Kepatuhan The success of antiretroviral therapy is largely determined by the adherence of taking antiretroviral drugs. YPI is one of the foundation care HIV/AIDS located in Tebet, South Jakarta. Several HIV / AIDS patients in YPI have been found to have experienced drug withdrawal that could be at risk of death due to ARV therapy failure. This study aims to look at the picture of adherence to taking ARV drugs and factors that influence adherence in HIV / AIDS patients at YPI. This research is a qualitative research using in-depth interviews. Data were collected on 10 people from HIV patients, family, and YPI groups. This study shows that there are still patients who do not adhere to taking ARV drugs. 2 of 5 informants had a drug break, 2 informan not on time in taking medication. This study shows the factors that cause non-adherence to take medication ARV that is busy, saturation of medicine, fear of side effects, and feel healthy. Key Words: HIV/AIDS, ARV Therapy, Adherence
Read More
S-9578
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aisyah; Pembimbing: Soekidjo Notoatmodjo; Penguji: Sutanto Priyohastono, Ella Nurlaela Hadi, Ismoyowati, M. Hasan AD
Abstrak:
Penyakit tuberkulosis di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Pemerintah memperkirakan saat ini setiap tahun terjadi 583.000 kasus bare dengan kematian 140.000 orang. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah telah melaksanakan program penanggulangan TB dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Shortcourse) sejak tahun 1995. Untuk mengetahui keberhasilan program DOTS, menggunakan indikator atau tolok ukur angka konversi pada akhir pengobatan tahap intensif minimal 80%, angka kesembuhan minimal 85% dari kasus baru BTA positif, Di Puskesmas Kecamatan Jatinegara, angka kesembuhan tahun 2001 baru mencapai 80% dan angka konversi sebesar 90,65%. Angka kesembuhan tersebut sangat berkaitan dengan kepatuhan berobat penderita TB paru bersangkutan. Oleh karena itu secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang hubungan persepsi , pengetahuan penderita, dan Pengawas Menelan Obat dengan kepatuhanberobat penderita TB paru di Puskesmas Kecamatan Jatinagara tahun 2001. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan memanfaatkan data primer dan sekunder. Penulis melakukan pengumpulan data dengan wawancara berpedoman pada kuesioner pada tanggal 29 Maret 2002 sampai 8 Mei 2002 dad seluruh penderita TB paru BTA positif sebanyak 92 orang yang mendapat pengobatan kategori-1 dan telah selesai berobat di Puskesmas tersebut tahun 2001. Variabel dependen adalah kepatuhan berobat, dan variabel independen adalah persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaat minus rintangan , persepsi ancamanlbahaya, pengetahuan dan pengawas menelan obat. Sedangkan variabel confounding terdiri dari umur, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan. Untuk pengolahan data, penulis menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan regresi logistik Banda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang patuh berobat 73,9 % dan tidak patuh berobat 26,1%_ Dui basil analisis bivariat didapatkan variabel yang mempunyai hubungan bermakna dengan kepatuhan berobat adalah variabel persepsi kerentanan P value=4.045 dan OR=0,314 , persepsi keseriusan P value 0,034 dan OR=3,26 , persepsi manfaat minus rintangan P value-0,023 dan OR=3,70 , persepsi ancamanl bahaya P value~,030 dan OR=0,310 dan pengawas menelan obat P value-0,008 dan OR=0,171. Sedangkan basil analisis multivariat mendapatkan tiga variabel yang berhubungan dengan kepatuhan berobat yaitu keseriusan P value=0,013 dan OR=6,221, manfaat minus rintangan P value 0,019 dan OR=5,814 , dan pengawas menelan obat P value= 0,024 dan OR ,174. Namun yang paling dominan diantara ketiga variabel tersebut adalah variabel keseriusan P value-0,013 dan OR-6,221. Peneliti menyarankan kepada pengelola program penanggulangan TB pare di Puskesmas untuk memberikan informasi yang cukup dan lebih jelas lagi tentang TB pare kepada setiap penderita dengan menggunakan bahasa sederhana agar penderita mudah memahami dan melaksanakannya. Sebaiknya di ruang tunggu Puskesmas diadakan penyuluhan TB paru melalui TV dan poster. Meningkatkan pecan PMO melalui penyuluhan dan pertemuan yang efektif dengan kader kesehatan , TOMA dan terutama dengan PMO dari keluarga. Mensosialisasikan Pedoman Umum Promosi Penanggulangan TB yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Tahun 2000 .
Read More
T-1257
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Septi Kurnia Aryani; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Gemelly Nurhidayat
Abstrak:
Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang terjadi saat pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau bila tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya, ditandai dengan terjadi peningkatan kadar gula darah atau hiperglikemi dengan hasil pemeriksaan gula darah sewaktu > 200 mg/dl dan gula darah puasa >126 mg/dl. Diabetes mellitus menyebabkan 1,5 juta kematian, 2,2 juta resiko kematian, risiko penyakit kardiovaskular dan lainnya. Tujuan Penelitian ini mengetahui gambaran pola makan dan kepatuhan minum obat antidiabetik dengan kadar gula darah penderita diabetes mellitus, jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain studi cross sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu penderita diabetes melitus yang berkunjung ke Puskesmas Kelurahan Cipinang Besar Utara yang sudah dilakukan pemeriksaan kadar gula, sampel penelitian sebanyak 160 pasien dengan metode systematic random sampling. Pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan kuesioner. Teknik analisa data menggunakan uji chi square. Hasil analisis umur tidak berhubungan dengan kadar gula darah (nilai p=0,270), Jenis kelamin tidak berhubungan dengan kadar gula darah (nilai p=0,293), Pendidikan tidak berhubungan dengan kadar gula darah (nilai p=0,202), Pola makan berhubungan dengan kadar gula darah (nilai p=0,002), Kepatuhan Minum obat berhubngan dengan Kadar gula darah (nilai p=0,003). Kesimpulan pola makan dengan kepatuhan minum obat berhubungan dengan kadar gula darah sedangakan karakteristik individu meliputi umur, jenis kelamin dan pendidikan tidak berhubungan dengan kadar gula darah. Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Pola Makan, Kepatuhan Minum Obat Diabetes mellitus is a chronic disease that occurs when the pancreas does not produce enough insulin or when the body can not effectively, using the insulin it produces, is characterized by an increase in blood sugar or hyperglycemia with a blood glucose test result> 200 mg / dl and fasting blood sugar > 126 mg / dl. Diabetes mellitus causes 1.5 million deaths, 2.2 million death risks, cardiovascular disease and other risks. The purpose of this study to know the pattern of eating patterns and adherence to taking antidiabetic drugs with blood sugar levels of people with diabetes mellitus, This study type is analytic with cross sectional study design. Population in this research that is patient of diabetes mellitus who visited to Puskesmas of Cipinang Besar Utara Subdistrict which have been checked blood sugar level, research sample counted 160 patients with systematic random sampling technique. Data collection using documentation and questionnaires. Data analysis technique using chi square test. Age analysis was not related to blood glucose level (p value = 0.270), sex was not related to blood sugar level (p value = 0.293), education was not related to blood sugar level (p value = 0.202), diet was associated with blood sugar (p value = 0,002), Drug Compliance drug related to blood sugar level (p value = 0,003). Conclusions of diet with medication adherence are associated with blood sugar levels while individual characteristics including age, sex and education are not related to blood sugar levels. Key words: Diabetes Mellitus, Dietary Habit, Drug Adheren
Read More
S-9818
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Agustini, Merlinda; Pembimbing: Anwar Hasan; Penguji: Dian Ayubi, Sutanto Priyo Hastono, Yusmasnyah Idris, Amirsyah Kadir
T-1838
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Febriana Santhi; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Syahrizal Syarif, Ary Sutanti
S-7315
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
May Syafni; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Emil Noviyadi
S-6641
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
