Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 22123 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Endi Budi Setyawan; Pembimbing: Meily Kurniawidjaja, Dadan Erwandi; Penguji: Anugerah; Ary Soeharijanto
Abstrak: Desain penelitian ini adalah studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif observasional. Data primer mengukur lingkar pinggang, berat dan tinggi badan pekerja serta menyebar kuesioner. Data sekunder berupa hasil pemeriksaan kesehatan berkala. Hasil telitian pada 170 responden mendapatkan ukuran lingkar pinggang berlebih (> 90 cm) sebanyak 54.12%, berat badan berlebih (overweight) sebesar 39.41% dan obesitas menunjukkan 12.35%, ada hubungan faktor risiko seperti usia, tekanan darah, genetik, aktivitas fisik, durasi tidur, dan lingkar pinggang berlebih.
Read More
T-5734
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yessi Oktavia; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Ahmad Fadli, Muhammad Damawan
Abstrak:
ndustri panas bumi merupakan penghasil gas alam diantaranya adalah gas Hidrogen Sulfida (H2S) yang sangat berbahaya terhadap manusia. Tesis ini menganalisis persepsi risiko bahaya gas Hidrogen Sulfida (H2S) terhadap pekerja lokal di lapangan panas bumi PT XYZ pada tahun 2020. Persepsi risiko adalah penilaian subyektif dari kemungkinan jenis kecelakaan dan potensi bahaya yang terjadi dan seberapa besar tingkat kepedulian seseorang terhadap konsekuensinya. Penelitian ini menggunakan paradigma psikometri yang merupakan ilustrasi terbaik untuk menentukan persepsi risiko seseorang dimana pendekatan ini dapat menganalisis risiko dengan memberikan jawaban yang baik dan jelas dari setiap dimensi, diantaranya paradigma kesukarelaan terhadap risiko, paradigma pemahaman terhadap risiko, paradigma pengendalian terhadap risiko, paradigma pengetahuan terhadap risiko serta paradigma kebaruan risiko. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan metode analisis deskriptif. Data diperoleh melalui kuesioner dengan 90 responden pekerja lokal yang kemudian dianalisis menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat dan variabel bebas dengan tingkat kepercayaan ( CL) sebesar 95%. Hasil analisis menunjukkan bahwa gambaran persepsi risiko bahaya gas Hidrogen Sulfida (H2S) terhadap pekerja lokal di lapangan panas bumi PT. XYZ pada tahun 2020 adalah mayoritas sukarela terhadap risiko, paham dan mampu mengendalikan risiko tersebut namun tidak memiliki pengetahuan yang baik terutama tentang sains gas H2S serta menganggap risiko merupakan risiko lama yang sudah familiar. Disarankan bagi PT. XYZ untuk melakukan upaya upaya promotif seperti pelatihan tarkait gas Hidrogen Sulfida (H2S) yang lebih terencana, memaksimalkan materi safety induction terkait bahaya gas Hidrogen Sulfida (H2S), memaksimalkan forum toolbox meeting, weekly safety meeting serta pertemuan lainnya untuk meningkatkan awareness pekerja terkait bahaya gas Hidrogen Sulfida (H2S), membuat analisa mendalam terhadap observasi pekerja terkait unsafe behavior dan meningkatkan program industrial hygiene

Geothermal industry is a producer of natural gas including hydrogen sulfide gas (H 2 S) which is very dangerous to humans. This thesis will analyze the hazard risk perceptions of hydrogen sulfide gas (H 2 S) to local workers in the geothermal field of PT. XYZ in 2020. Risk perception is a subjective assessment of the following things, such as the likely types of an accident, the potential hazards that will occur, and how much a person is concerned about the consequences. This study uses a psychometric paradigm which is the best illustration to determine a person's risk perception where this approach can analyze risks by giving good and clear answers from each dimension, including the volunteerism dimension to risk, the dimension of understanding risk, the dimension of controlling risk, the dimension of knowledge towards risk as well as the newness dimension of risk. This study uses a cross-sectional design with a descriptive analysis method. Data obtained through a questionnaire with 90 respondents local workers who then analyzed using the univariate and bivariate analysis to determine the relationship between the dependent variable and the independent variable with a confidence level (CL) of 95%. The results of the analysis show that the description of the risk perception of Hydrogen Sulfide (H 2 S) gas for local workers in the geothermal field of PT. XYZ in 2020 is voluntary toward risk, have a good understanding and able to control of risk while does not have good knowledge especially about the science of hydrogen sulfide gas (H 2 S) and assume the risk of exposure to hydrogen sulfide gas (H 2 S) is an old risk. It is recommended for PT. XYZ to make promotive efforts such as more planned training of hydrogen sulfide gas (H 2 S), maximizing safety induction related to the hazard of hydrogen sulfide gas (H 2 S), maximizing toolbox meeting forums, weekly safety meetings and other meetings to increase workers' awareness regarding hazards Hydrogen Sulfide gas (H 2 S), makes an in-depth analysis of worker observations related to unsafe behavior and also increase the industrial hygiene programs.

Read More
T-5907
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Indra Adithia; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Erdy Techrisna Satyadi, Marina Kartikawati
Abstrak: Kondisi pekerjaan yang tidak nyaman dapat menimbulkan stres pada pekerja sehingga mempengaruhi kesejahteraan pekerja dan meningkatkan gejala kecemasan dan depresi. Stres yang dialami oleh pekerja dipengaruhi oleh hubungan beberapa faktor seperti faktor psikososial, faktor pekerjaan, lingkungan kerja dan individu pekerja. Gangguan kesehatan terkait dengan stres diantaranya adalah penyakit hipertensi, penyakit kardiovaskular, penyakit maag, musculoskeletal symptoms. PT. XYZ merupakan perusahaan yang bergerak di bidang logistik pangan. Tingginya intensitas pekerjaan di PT. XYZ yang melebihi batas kemampuan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya dapat menimbulkan stres kerja. Stres kerja seringkali tidak menjadi perhatian dari pihak manajemen perusahaan karena pencapaian yang utama adalah target yang diusahakan oleh pekerja untuk memenuhi target perusahaan, sehingga dapat mengakibatkan bahaya yang serius bagi keselamatan dan kesehatan pekerja. Dalam penelitian ini, peneliti berupaya mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja di perusahaan logistik pangan. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data langsung melalui survey dengan menggunakan kuisioner. Kuesioner yang telah melewati uji validasi dan reliabiliti digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja yaitu faktor psikososial (organisasi dan budaya kerja, hubungan interpersonal, kepemimpinan, pengembangan karir dan manajemen), faktor pekerjaan (desain kerja, waktu istirahat, beban kerja, kontrol pekerjaan dan bidang pekerjaan), faktor fisik lingkungan kerja dan faktor individu (umur, jenis kelamin, status perkawinan, masa kerja dan gaya hidup). Hasil penelitian dengan analisis statistik multivariat regresi linier ganda faktor yang paling dominan menunjukkan bahwa stres kerja berdasarkan indikator emosi yaitu Organisasi dan Budaya Kerja (p value = 0,004 & B = 0,24), stres kerja berdasarkan indikator fisik yaitu Lingkungan Kerja (p value = 0,01 & B = 0,19) dan stres kerja berdasarkan indikator perilaku yaitu Gaya Hidup Tidak Sehat (p value = 0,00 & B = 0,27).
Read More
T-5697
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyudin Ali Syakir; Pembimbing: Meizar Sjahrul; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Hendra, Iqbal Mochtar, Annes Waren
Abstrak:
Dalam industri peleburan aluminium, tekanan panas (heat stress) adalah salah satu bahaya fisik yang paling besar pengaruhnya terhadap keselamatan dan kesehatan pekerja disamping bahaya lainnya. Menurut NIOSH (2016), pekerja yang terpajan panas yang tinggi atau pekerja dengan dengan aktivitas fisik berat kemungkinan akan berisiko terjadinya kecelakaan atau penyakit akibat heat stress. Hasil pengukuran di perusahaan XYZ pada puncak musim panas 2018 menunjukkan bahwa indeks WBGT telah mencapai 37 0 C. Suhu tersebut melebihi nilai ambang batas yang ditetapkan. Di perusahaan peleburan aluminium XYZ, sumber panas luar selain dari proses peleburan, juga berasal dari suhu udara lingkungan, hal ini karena lokasi Perusahaan XYZ berada di wilayah Timur Tengah dengan suhu lingkungan yang tinggi dan kelembaban udara yang tinggi pada saat musim panas. Di wilayah Timur Tengah ada sekitar 6 perusahaan peleburan aluminium yang beroperasi dalam sekala besar, namun sampai saat ini penelitian terkait pengelolaan heat stress masih belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran pelaksanaan program pengeloaan Heat stress di Perusahaan XYZ tahun 2019 dibandingkan dengan rekomendasi NIOSH Criteria for a recommended standard: occupational exposure to heat and hot environments - revised criteria 2016. Disain penelitian ini adalah penelitian Mixed Method, yaitu sebagian pengolahan data dinilai secara kualitatif dan sebagian lainnya dinilai secara deskripstif kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa data primer dan sekunder. Secara umum, peserta sebagian besar kuisoner menyatakan bahwa perusahaan XYZ telah menerapkan pengelolaan heat stress dengan baik. Dari hasil kuisoner persentase kesesuian sebesar 85,41% dengan rekomendasi NIOSH: Criteria for a recommended standard-ccupational Exposure to Heat and Hot environment- revised 2016 yang sejalan dengan hasil dari hasil wawancara, observasi lapangan yang telah dilakukan. Meskipun demikian masih beberapa hal yang masih perlu dilakukan perbaikan agar risiko tidak terjadi kasus heat stress makin menurun.

Heat stress is one of significant physical hazard in aluminium smelter industry which impact to the health dan safety of the workers. Refer to NIOSH (2016), worker who exposed with high temperature or worker who perform high physical work may be at risk for heat stress or heat related illness. Measurement heat index in XYZ company during peak summer shows that WBGT index reach up to 37 0 C. This Index already reached treshold limit standard. Source of heat in XYZ company generated from process and environment during summer, due to the company location situated in Midle East. It has high ambient temperature and high humidity in peak summer. In the Middle East region, there are six (6) aluminum smelter industry, however heat stress study focusing on heat stress management still not explore intensively. The aim of this study is to review implementation of heat stress arragement in XYZ company 2019 compare with NIOSH Criteria for a recommended standard: occupational exposure to heat and hot environments - revised criteria 2016. The study design is mixed method that using analys qualitatively and descriptive qualitative. The data source collected by primary method dan secondary. In general, as per respondence of quissoinare conclude that XYZ company have implemented heat stress management is good. The quisonaire shows that the percentage of compliance is 85,41% against NIOSH recommendation: Criteria for a recommended standard-ccupational Exposure to Heat and Hot environment- revised 2016. This result aligns with interview and walk trough on the shop floor conducted.
Read More
T-6109
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hikmat Nurul Fikri; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Arie Gunawan
Abstrak: Kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab 1,25 juta orang meninggal setiap tahunnya dan diproyeksikan menjadi beban penyakit nomor tiga di dunia pada 2030. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keselamatan transportasi darat di PT. XYZ dan analisis antar faktor tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif analitik. Penelitian ini menggunakan matriks Haddon yang melihat faktor pengemudi, kendaraan, lingkungan fisik dan lingkungan sosial dari masing-masing fase kecelakaan.
 
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keselamatan transportasi darat di PT. XYZ dipengaruhi oleh empat faktor yang kompleks. Kelelahan menjadi faktor risiko kecelakaan di PT. XYZ. Kendaraan yang digunakan selalu dilakukan pemeriksaan secara berkala. Kejahatan dan kendaraan lain merupakan faktor risiko kecelakaan dari lingkungan fisik. Dan sistem pemberangkatan pengemudi merupakan masalah dari faktor lingkungan sosial. Interaksi antar faktor tersebut akan meningkatkan risiko kecelakaan di PT. XYZ.
 

Traffic accident caused 1,25 million death for every years and projected to be the third world burden disease at 2030. Aim of this study is to analyzing factors and interaction of each factor related to land transportation safety in PT. XYZ. This study is qualitative research with descriptive analitic design. This study used Haddon Matrix to show driver factor, vehichle factor, physical and social environment factor from each accident's phase.
 
The results of this study show that safety transportation in PT. XYZ influenced by driver factor, vehicle factor, physical dan social environment factor. Drivers fatigue being risk factor accident in PT. XYZ. Their vehicles is under routine maintenance. Crime and other vehicles are risk factor accident from physical environment. And driver dispatch system is problem from social environment. Interaction from each factor will raise risk accident in PT. XYZ.
Read More
S-9726
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clara Nisa Fanegi; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Izzatu Milla, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:
Industri manufaktur kimia merupakan salah satu sektor industri yang memiliki potensi bahaya tinggi dan kompleksitas proses kerja yang menuntut implementasi sistem keselamatan kerja yang kuat. Salah satu aspek yang perlu dikaji secara mendalam adalah tingkat kematangan budaya keselamatan (safety culture maturity) yang dimiliki oleh perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kematangan budaya keselamatan di PT. XYZ serta mengidentifikasi perbedaan persepsi dan keterlibatan karyawan. Pengukuran dilakukan dengan instrument kuesioner yang terdiri dari berbagai dimensi dan elemen budaya keselamatan, serta didukung dengan data wawancara , diskusi kelompok dan tinjauan dokumen. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bahwa tingkat kematangan budaya keselamatan PT. XYZ berada pada level 3 atau Calculative. Hasil ini menunjukkan bahwa Perusahaan telah memiliki sistem K3 yang terstruktur dan terdokumentasi, namun nilai – nilai keselamatan belum sepenuhnya diinternalisasi dalam perilaku kerja sehari – hari. Selain itu, ditemukan adanya perbedaan persepsi antar jabatan dan unit kerja, di mana keterlibatan pekerja lapangan dalam evaluasi dan pembelajaran keselamatan masih terbatas. Beberapa hal yang perlu ditingkatkan antara lain efektivitas komunikasi keselamatan, partisipasi pekerja dalam analisis insiden kecelakaan, serta konsistensi pelaksanaan tindak lanjut dari temuan dan evaluasi risiko. 
The chemical manufacturing industry is one of the industrial sectors with high hazard potential and complex work processes, requiring the implementation of a strong occupational safety system. One critical aspect that must be explored in depth is the level of safety culture maturity within a company. This study aims to analyze the maturity level of safety culture at PT. XYZ and identify the differences in perception and engagement among employees. The assessment was conducted using a questionnaire instrument consisting of various safety culture dimensions and elements, supported by data from interviews, focus group discussions, and document reviews. Based on the analysis results, the overall safety culture maturity level at PT. XYZ was found to be at level 3 or Calculative. This indicates that while the company has a structured and well-documented safety management system, safety values have not yet been fully internalized into daily work behaviors. In addition, the study found significant differences in perceptions across job levels and departments, where workers in operational roles had limited involvement in safety evaluation and organizational learning. Areas that require improvement include safety communication effectiveness, employee participation in incident analysis, and consistency in follow-up actions from findings and risk evaluations.
Read More
B-2546
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adji Swandito; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Mila Tejamaya, Heny D. Mayawati, Budiawan, Elsye As Safira
Abstrak: Pekerja kontraktor bahan kimia di perusahaan minyak dan gas bumi PT. XYZ merupakan populasi berisiko terhadap pajanan Benzena disebabkan oleh aktifitas dan kondisi lingkungan kerja yang memungkinkan terpajan oleh uap Benzena. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan tingkat risiko nonkarsinogenik dan karsinogenik disertai dengan analisis kemungkinan ketidaknormalan kadar darah akibat pajanan Benzena, untuk kemudian ditentukan manajemen risiko yang harus dilakukan. Penelitian merupakan studi potong lintang dilakukan terhadap seluruh pekerja kontraktor bahan kimia di PT. XYZ yang berjumlah 22 orang ditambah dengan 22 orang sebagai pembanding dipilih dari karyawan perusahaan PT. XYZ pada lokasi yang sama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi pekerja bahan kimia di PT. XYZ berisiko terhadap pajanan Benzena nonkarsinogenik (RQ = 1,7442) dan karsinogenik (ECR = 1,76 x 10-4) pada durasi pajanan lifetime. Diketahui hubungan yang bermakna antara pajanan Benzena terhadap normalitas kadar hemoglobin (p = 0,015) dan eritrosit (p = 0,000). Risiko ketidaknormalan kadar hemoglobin dan eritrosit berturut-turut pada populasi terpajan adalah 6,92 kali (95% CI:1,28?37,29) dan 21,53 kali (95% CI:4,46?103,90) dibandingkan populasi tidak terpajan. Selain itu juga diketahui hubungan yang signifikan antara kenaikan jumlah asupan Benzena terhadap penurunan kadar haemoglobin (rs = -0,433; p = 0,044) dan eritrosit (rs = -0,474; p = 0,026).
Disimpulkan bahwa risiko kesehatan nonkarsinogenik dan karsinogenik akibat pajanan Benzena pada populasi pekerja bahan kimia di perusahaan minyak dan gas PT. XYZ akan terjadi pada durasi pajanan lifetime. Terdapat hubungan antara pajanan Benzena dengan ketidaknormalan hemoglobin dan eritrosit.

Chemical contractor worker at the oil and gas company PT. XYZ is a population at risk to Benzene exposure due to its activities and work environment condition that possibly exposed by Benzene vapour. This research is aimed to estimate noncarsinogenic and carsinogenic risk level, complemented with blood counts abnormality analysisdue to Benzene exposure, then determining risk management shall be done. The research is cross sectional study was done to all chemical contractor worker at PT. XYZ, consist of 22 person, and additional 22 person as a control was selected from employee of PT. XYZ working at the same location. The research yield that chemical worker population at PT. XYZ is at risk to the noncarsinogenic (RQ = 1.7442) and carsinogenic (ECR = 1.76 x 10-4) Benzene exposure at the lifetime exposure duration.
Its known that there is a correlation between Benzene exposure with normality of haemoglobin (p = 0.015) and erythrocytes (p = 0.000). The risk of abnormality haemoglobin and erythrocytes counts is 6.92 times (95% CI:1.28?37.29) dan 21.53 times (95% CI:4.46?103.90) respectively compare to the non exposed population. In addition, its identified that there is a significant correlation between increased Benzene intake to the haemoglobin (rs = -0.433; p = 0.044) and erythrocytes (rs = -0.474; p = 0.026) counts reduction.
In summary noncarcinogenic and carcinogenic health risk due to Benzene exposure in the population of chemical worker at the oil and gas company PT. XYZ will occure at the lifetime exposure duration. There is a correlation between Benzene exposure with abnormality of haemoglobin and erythrocytes.
Read More
T-4436
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizqi Avrila Putri; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Ndiyan Y. Aripta, Fatima Azzahra
Abstrak: Sindrom metabolik adalah kumpulan dari beberapa faktor risiko berupa tingginya kadar gula darah, rendahnya kadar High Density Lipid (HDL), tingginya kadar trigliserida, obsesitas sentral serta hipertensi. Seseorang yang mengidap sindrom metabolik memiliki risiko lebih tinggi untuk terserang penyakit kronik seperti kardiovaskuler dan diabetes melitus tipe 2 di kemudian hari. Berdasarkan hasil Medical Check Up pada pegawai Perusahaan Migas X Jakarta di tahun 2014, angka dislipidemia mencapai 69,4%, obesitas 14,8%, overweight 33,17%, diabetes 8,7%. Selain itu, berdasarkan pengamatan penulis, pegawai pusat Perusahaan Migas X memiliki gaya hidup yang cenderung sedentary karena lebih banyak duduk di kursi untuk mengerjakan pekerjaan administratif dan cukup sering mengonsumi makanan yang tinggi lemak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko apa saja yang berhubungan dengan sindrom metabolik pada pekerja kantor pusat Perusaahan Migas X dengan menggunakan desain studi cross sectional. Hasil penelitian ditemukan bahwa prevalensi sindrom metabolik pada pekerja kantor pusat Perusaahan Migas X adalah 25%. Variabel independen yang berhubungan signifikan dengan kejadian sindrom metabolik adalah pola makan protein hewani (p value= 0,016), pola makan lemak (p value=0,037), Indeks Masa Tubuh (p value=0,001), aktivitas fisik (p value= 0,010), perilaku sedentary (p value=0,030) dan merokok (p value=0,037). Oleh karena itu, perlu adanya strategi untuk memberikan pengetahuan dan informasi terkait pola makan yang seimbang serta meningkatkan kemauan pekerja untuk senantiasa melakukan aktivitas fisik yang cukup dan teratur serta tidak merokok untuk menjaga berat badan yang ideal, memiliki gaya hidup yang sehat dan mencegah penyakit kronik akibat sindrom metabolik
Metabolic syndrome is a cluster of some risk factors such as high level of glucose and triglyceride, low level of High Density Lipid (HDL), central obesity, and hypertension. Someone who suffers from metabolic syndrome has higher risk to get chronic disease like cardiovascular disease and diabetes melitus type 2 in the future. As per Medical Check Up result of Oil and Gas Company X workers in 2014, found that dyslipidemia up to 69,4%, obesity 14,8%, overweight 33,17%, diabetes 8,7%. Furthermore, based on observation, office workers of Oil and Gas Company X tend to have sedentary life style since they spent most of their time at office to sit for doing some administrative task and often consume high fat food. Thus, the objective of this study was to analyze the risk factors that associate with metabolik syndrome on Head Office Workers of Oil and Gas Company X using cross sectional design study. The result of this study foud that prevalence of metabolik syndrome on Head Office Workers of Oil and Gas Company X is 25%. The independent variables that were significant with metabolic syndrome were animal protein diet (p value = 0.016), fat diet (p value = 0.037), body mass index (p value= 0,001), physical activity (p value = 0.010), and sedentary lifestyle (p value = 0.030) and smoking (p value= 0,037). Therefore, it is necessary to create strategy in order to provide knowledge and information regarding a balanced diet and increase the willingness of workers to do sufficient and regular physical activity and stop smoking to maintain ideal body weight, having a healthy life style and prevent chronic disase caused by metabolik syndrome
Read More
T-5519
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Age Bunga Perdana; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Barmanto
Abstrak:
Kecelakaan kerja masih menjadi isu penting di tempat kerja, termasuk di PT X, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi. Salah satu upaya preventif yang dilakukan adalah pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (safety training) bagi pekerja lapangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas safety training dalam meningkatkan pengetahuan K3 pada pekerja lapangan PT X tahun 2025. Penelitian menggunakan mix method dengan desain pre-eksperimental (One Group Pre-Test Post-Test) pada 55 peserta pelatihan. Data kuantitatif diperoleh melalui pre-test, post-test, dan kuesioner kepuasan, sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui observasi dan telaah dokumen. Analisis statistik dilakukan dengan paired sample t-test, sementara data kualitatif dianalisis secara deskriptif berdasarkan model evaluasi CIRO (Context, Input, Reaction, Outcome). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata pengetahuan K3 dari 87,64 pada pre-test menjadi 92,73 pada post-test atau naik 5,81% dengan perbedaan yang signifikan (p < 0,05). Seluruh peserta (100%) mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 70. Rata-rata kepuasan peserta terhadap pelatihan mencapai 4,14 (kategori tinggi), dengan penilaian tertinggi pada kompetensi instruktur. Evaluasi aspek konteks dan input menunjukkan bahwa pelatihan sesuai kebutuhan, difasilitasi dengan baik, dan disampaikan oleh instruktur kompeten. Secara keseluruhan, safety training dinyatakan efektif dalam meningkatkan pengetahuan K3.

Workplace accidents remain a major concern, including at PT X, a company engaged in the telecommunications sector. One preventive effort implemented is occupational health and safety (OHS) training for field workers. This study aims to analyze the effectiveness of safety training in improving OHS knowledge among field workers at PT X in 2025. A mixed-method approach was used with a pre-experimental design (One Group Pre-Test Post-Test) involving 55 training participants. Quantitative data were collected through pre-tests, post-tests, and satisfaction questionnaires, while qualitative data were gathered through observation and document review. Statistical analysis was conducted using the paired sample t-test, and qualitative data were analyzed descriptively based on the CIRO evaluation model (Context, Input, Reaction, Outcome). Results showed an increase in the average OHS knowledge score from 87.64 (pre-test) to 92.73 (post-test), representing a 5.81% improvement, with a statistically significant difference (p < 0.05). All participants (100%) achieved scores above the minimum passing criteria (≥ 70). The average satisfaction score was 4.14 (high category), with the highest rating in instructor competence. Evaluation of the context and input aspects indicated that the training was relevant, well-facilitated, and delivered by competent instructors. Overall, the safety training was effective in enhancing workers’ OHS knowledge.
Read More
S-11990
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eddy Sulistyono; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Jimmy Tiarlina, Astuti
Abstrak:
Sindrom metabolik menurut American Heart Association (AHA) 2021 merupakan kumpulan dari 5 faktor risiko yang dapat memicu terjadinya serangan jantung, diabetes, stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya. 5 faktor risiko itu adalah (1) Meningkatnya kadar trigliserida, (2) lingkar perut semakin besar, (3) meningkatnya gula dalam darah (4) menurunnya level high density lipoprotein (HDL), dan (5) naiknya tekanan darah. Berdasarkan hasil Medical Check Up (MCU) 2021 semua pekerja di PT X diketahui prevalensi kejadian sindrom metabolik naik menjadi 22,4% dibandingkan tahun sebelumnya (16,2%). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran sindrom metabolik pada pekerja lapangan lepas pantai di PT X tahun 2021 dengan metode cross sectional. Dari hasil penelitian diketahui bahwa variabel riwayat keluarga, work shift, lama bekerja, aktivitas fisik, perilaku sedentari, durasi tidur dan merokok tidak berhubungan dengan kejadian sindrom metabolik (p-value > 0,05). Variabel usia, dan IMT memiliki hubungan dengan kejadian sindrom metabolik (p-value < 0,05). Tidak ada perbedaan antara pola makan responden yang memiliki riwayat sindrom metabolik dengan pola makan responden yang tidak memiliki riwayat sindrom metabolik. Oleh karena itu perlu dilakukan promosi kesehatan pekerja yang baik untuk meningkatkan kesadaran pekerja akan kesehatan.

Metabolic syndrome according to the American Heart Association (AHA) 2021 is a collection of 5 risk factors that can trigger heart attacks, diabetes, stroke and other cardiovascular diseases. The 5 risk factors are (1) increased triglyceride levels, (2) greater abdominal circumference, (3) increased blood sugar (4) decreased high density lipoprotein (HDL) levels, and (5) increased blood pressure. Based on the results of the 2021 Medical Check Up (MCU), all workers at PT X found that the prevalence of metabolic syndrome had increased to 22.4% compared to the previous year (16.2%). The purpose of this study was to describe the metabolic syndrome in offshore field workers at PT X in 2021 using the cross sectional method. From the research results it is known that the variables of family history, work shift, length of work, physical activity, sedentary behavior, sleep duration and smoking are not associated with the incidence of metabolic syndrome (p-value > 0.05). Age and BMI variables were associated with the incidence of metabolic syndrome (p-value <0.05).There was no difference between the eating patterns of respondents who had a history of metabolic syndrome and the eating patterns of respondents who did not have a history of metabolic syndrome. Therefore, it is necessary to promote the worker heath program to increase awareness of workers about health
Read More
T-6517
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive