Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38987 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Faisal Ali Ramdhani; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Yuni Kusminanti
Abstrak: Latar belakang: Motivasi mengikuti pelatihan K3 merupakan suatu ketertarikan untukmengikuti pelatihan K3 agar terhidar dari kecelakaan serta PAK. Tingkat kehadian DiGedung PAUI dalam mengikuti pelatihan K3 masih terbilang rendah dan insiden yangterjadi di Lingkungan UI berjumlah 193 Insinden pada tahun 2019.Tujuan: Untuk melihat hubungan antara pengetahuan K3, kondisi lingkungan kerja,bahaya di tempat kerja, dan penerapan SMK3 dengan motivasi mengikuti pelatihan K3.Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dan metode cross sectional. Sampel 160responden dengan menjawab kuesioner.Hasil: Hasil analisis bivariat mengenai hubungan antara pengetahuan dan kebutuhan K3(kondisi lingkungan kerja, bahaya di tempat kerja, dan penerapan SMK3) denganmotivasi mengikuti pelatihan K3, dimana pengetahuan K3 tinggi memilikikecenderungan 1.62 kali, kondisi lingkungan kerja baik memiliki kecenderungan 5.37kali, responden bahaya tinggi memiliki kecenderungan 2.07 kali, dan penerapan SMK3baik memiliki kecederungan 6.41 kali memiliki motivasi tinggi.Kesimpulan: Oleh karena itu diperlukannya pemanfaatan media massa untukmembantu dalam pelatihan K3 yang sesuai dengan kebutuhan karyawan dan jugaadanya pengawasan untuk kondisi lingkungan, bahaya, dan penerapan SMK3.Kata kunci: Motivasi, Pengetahuan K3, Kondisi Lingkungan Kerja, Bahaya Di TempatKerja, Penerapan SMK3.
Background: Motivation to attend OHS training is an interest to take OHS training toavoid work accidents and occupational diseases. The incidence of employees in PAUIBuilding in attending rate OHS training is still relatively low and the incidents thatoccurred in the UI environment amounted to 193 incidents in 2019.Purpose: To see the relationship between OHS knowledge, work environmentconditions, hazards in the workplace, and OHS implementation with motivation toattend OHS training.Methods: Descriptive research quantitative approach with cross sectional method.Sample of 160 respondents by answering the questionnaire.Results: The results of bivariate analysis regarding the relationship knowledge andneeds for OHS skills (working environment conditions, hazards in the workplace, andOHS application) with motivation to attend OHS education and training, where highOHS knowledge has a tendency of 1.62 times, good working environment conditionshave a tendency of 5.37 times, high hazard have a tendency of 2.07 times, and theapplication of OHS both had a tendency of 6.41 times having high motivation.Conclusion: Therefore it is necessary to use mass media to assist in OHS training thatis suitable to the employees needed and also the supervision of environmentalconditions, hazards, and the application of OHS.Keywords: Motivation, OHS Knowledge, Working Environment Conditions, Hazard inthe Workplace, Application of OHS.
Read More
S-10227
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Nuzul Furqon; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Yuni Kusminanti
Abstrak: Universitas merupakan organisasi yang memiliki potensi bahaya dan risiko yang signifikan. Dengan berbagai kegiatan, bahan dan instrumentasi kerja yang kompleks, maka berpotensi terjadinya cidera dan sakit akibat kerja. Sangat penting adanya pelatihan terkait keselamatan dan kesehatan kerja khususnya untuk pegawai di lingkungan universitas. Para pegawai yang bekerja di dalam lingkungan akademis harus memiliki pengetahuan, sikap dan perilaku kerja yang sesuai dengan nilai-nilai keselamatan dan kesehatan kerja sehingga tercipta lingkungan kerja yang selamat dan sehat. Pusat Administrasi Universitas Indonesia merupakan organisasi yang diharapkan memiliki pegawai yang berpengetahuan, bersikap dan berperilaku K3 yang baik sehingga tercipta lingkungan kerja yang aman dan nyaman. Oleh karena itu penyelenggaraan training K3 menjadi penting untuk meningkatkan pengetahuan keterampilan dan perilaku K3 tersebut. Namun, analisis kebutuhan pelatihan K3 di PAU penting dilakukan agar pelatihan yang diberikan efektif dan efisien. Training Needs Analysis (TNA) merupakan upaya untuk merencanakan kegiatan pelatihan agar tepat sasaran. Penelitian ini melakukan TNA pelatihan K3 di PAU dengan melakukan analisis terhadap organisasi, tugas dan personal. Jenis pelatihan yang sangat dibutuhkan bagi pegawai PAU adalah pelatihan orientasi antara lain hazard communication,K3 dasar, ergonomi, occupational and health promotion, bahaya psikososial serta hygiene dan sanitasi. Study ini menghasilkan matriks pelatihan K3 untuk staf PAU-UI.
 

University is one of organization that has the potential of occupational health and safety risks. Due to its variety of activities, materials and complex equipments the occurrence of occupational injuries and illnessis are likely. The provision of OHS training, thus is very important in order to have a healthy and safe working knowledge, skills and attitudes among the worker. The administration centre of Universitas Indonesia (Pusat Administrasi Universitas Indonesia, PAU-UI) is one of organization whithin Universitas Indonesia that is expected to have a good OHS performance and expressed as satisfactory OHS knowledge, skill and behavior among the staffs. Those lead to safe and comfortable working environment. Training Needs Analysis (TNA) of OHS in PAU is important so have effective and efficient trainings. This study performed a TNA of OHS Training in PAU-UI. The assessment was done by analyzing the organization, task and personal competency. The type of training that is necessary for PAU employee are hazard communication, OHS Basic, ergonomics, occupational and health promotion, psychosocial hazards as well as hygiene and sanitation. This study generated OHS training matrix for the PAU-UI staffs.
Read More
S-8265
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dany Prihardany; Pembimbing: F.A. Gunawan; Penguji: Ridwan Z Sjaaf, Heny Triasbudi
Abstrak:
Seiring dengan perkembangan dunia industri, banyak perusahaan yang menerapkan teknologi baru dengan tujuan meningkatkan produktivitas. Dengan meningkatnya teknologi juga akan berdampak pada perkembangan bahaya yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja apabila tidak diikuti dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan pekerja yang memadai. Faktor manusia adalah penyebab kecelakaan yang paling besar, oleh karena itu faktor manusia adalah faktor yang sangat dipertimbangkan dalam usaha pencegahan kecelakaan kerja. Faktor manusia yang dibahas adalah mengenai motivasi, pengetahuan dan keterampilan pekerja terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan hubungannya dengan persepsi perkerja terhadap risiko. Dengan diketahuinya hubungan faktor-faktor tersebut, dapat dilakukan perbaikan atas kekurangan program keselamatan dan kesehatan kerja yang telah ada, sehingga kecelakaan kerja dapat dikurangi, bahkan dicegah. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan Plant 3-4 dan Plant 7-8 PT Indocement Tunggal Prakasa dengan jumlah keseluruhan responden sebanyak 178 orang. Desain penelitian observational melalui survey analitik dengan pendekatan cross-sectional untuk menganalisis hubungan motivasi, pengetahuan dan keterampilan dengan persepsi terhadap risiko dengan memakai uji Chi-Square dan analisa multivariat (regresi) dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pekerja Plant (110 orang/ 62,5%) mempurtyai persepsi yang baik dalam menunjang keselamatan operasi harian. Berdasarkan uji chi-square dan uji regresi yang dilakukan terhadap tiga variabel independen, diketahui bahwa faktor yang berhubungan secara signifikan dengan persepsi terhadap risiko Plant adalah faktor pengetahuan karyawan. Berdasarkan penelitian ini didapatkan juga bahwa semakin baik keterampilan, maka persepsi karyawan terhadap risiko semakin memburuk. Ketidaksesuaian dengan teori ini disebabkan oleh karena kebanyakan pekerja telah berumur, sehingga mengakibatkan kemampuan fisik untuk melakukan pekerjaan berat di Plant berkurang, kemudian berakibat kepada menurunnya motivasi yang akhirnya memperburuk persepsi karyawan terhadap risiko. Peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan rekomendasi dan masukan kepada PT. lndocement Tunggal Prakasa Tbk dalam penyempurnaan program K3, khususnya yang berhubungan dengan perilaku karyawan guna mengurangi angka kecelakaan kerja serta memperbaiki kinerja perusahaan pada umumnya.

Relation among Motivation, Knowledge and Skills of Occupational Health and Safety (OHS) and Perception of Risk at PT. Indocement Tunggal Prakasa, Tbk, Citeureup, BogorAlong with industrial development, many companies implement new technology to aim increasing of productivity. Increasing its development of technology have an impact to increase the number of hazard associated, which contribute an accident due to not balancing knowledge and skill development. Human factors are estimated as one of the most accident cause, so that human factors are strongly recommended in accident prevention effort. Motivation, knowledge and skill of the workers and its relation to the perception of risk taking are the human factors described in this thesis. Based on relation among those factors, Occupational Health and Safety (OHS) program could be improved until accident prevented or minimized. Population in this research are Plant 3-4 and Plant 7-8 of PT Indocement Tunggal Prakasa, Tbk, with quantity of respondent 178 persons. Observational research design through analytic Survey with cross-sectional method to analyze relation of motivation, knowledge and skills and perception of risk of workers using Chi-Square and Regression Test of SPSS Software. Result of research showed that majority of Plant workers (110 persons/62.5%) having good perception of risk in performing their job safely. Based on Chi-Square and Regression test showing that the most significant influence to the perception of risk taking was knowledge factor. Based on this research, it was found that the better the skill, the worse of perception, This unconformity to the theory due to most of workers was old, causing their capability to perform a hard job getting lessen then causing decreasing of motivation afterwards perception of risk taking getting worse. Researcher hopping this research could give useful recommendation and input to PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk in completing OHS program especially related to workers behavior to cut down accident rate as well as to improve company performance.
Read More
T-1913
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yovans Yuniar; Pembimbing: Ridwan Z. Syaaf; Penguji: Robiana Modjo, Wien Goerindro
S-6206
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Satria Panji Wijayanto; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Karyani Sani Manurung
Abstrak: ABSTRACT
 
 
Laboratorium merupakan salah satu temapt kerja yang memiliki potensi bahaya
 
dan risiko K3 yang cukup besar. Dengan digunakannya berbagai peralatan dan
 
bahan, para pengguna laboratorium, khususnya Laboratorium Fakultas Teknik
 
Universitas Indonesia (FT UI), terpajan berbagai jenis bahaya seperti bahaya
 
kesehatan dan keselamatan. Oleh karena itu dituntut penerapan metode
 
pengendalian guna mereduksi potensi bahaya dan risiko K3 tersebut. Pelatihan
 
adalah salah satu metode control yang dapat diterapkan di laboratorium FT,
 
bersamaan dengan metode pengendalian lain baik engineering, administratif, atau
 
dengan alat pelindung diri.
 
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan pelatihan K3 yang
 
diperlukan oleh pekerja laboratorium sehingga dapat dilakukan program pelatihan
 
yang efektif dan efisien untuk menjawab permasalahan K3 yang ada di
 
laboratorium.Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan metode
 
wawancara mendalam kepada pekerja laboratorium dan observasi di laboratorium.
 
Proses analisis laboratorium atau tempat kerja meliputi analisis organisasi,
 
pekerjaan, dan personal.
 
Hasil dari analisis organisasi dapat melihat dukungan dari pihak manajemen
 
terkait pelaksanaan K3 di laboratorium, Hasil dari analisis pekerjaan dapat melihat
 
bahaya dan risiko dari pekerjaan di laboratorium, serta analisis personal melihat
 
pengetahuan dan data pelatihan dari pekerja di laboratorium sehingga
 
menghasilkan matriks pelatihan K3 untuk laboratorium FT UI. Pelatihan yang
 
lebih dibutuhkan untuk pekerja laboratorium yaitu bersifat konseptual dan
 
orientasi kepada perilaku K3 di laboratorium.
 

 
ABSTRACT
 
 
Laboratory is one of the potential workplace that has large hazards and risks of
 
Occupational Health and Safety (OHS). With the use of a variety of equipment
 
and materials, particularly Laboratory, Faculty of Engineering, University of
 
Indonesia (UI FT), laboratory users exposed to various types of hazards such as
 
health and safety hazards. Therefore, the application of control methods are
 
required in order to reduce potential hazards and risks of OHS. Training is one of
 
the control methods that can be applied in the laboratory, in conjunction with
 
other control methods either engineering, administrative, or personal protective
 
equipment.
 
This study aims to analyze the training needs of OHS, required by the laboratory
 
worker training program so that it can be done effectively and efficiently to
 
address the problems that exist in laboratorium. This research uses a qualitative
 
design with in-depth interviews and observation to laboratory workers in the
 
laboratory. The process of laboratory analysis or analysis covering workplace
 
organization, work, and personal.
 
The results of the analysis of the organization can see the support from
 
management regarding the conduct of OHS in the laboratory, results of job
 
analysis to see the dangers and risks of work in the laboratory, as well as the
 
analysis of knowledge and personal look at the data in the training of laboratory
 
workers resulting OHS training matrix for laboratory in FT UI. More orientation
 
training is needed for laboratory workers and conceptual to change the behavior of
 
OHS in the laboratory.
Read More
S-8358
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendy Marendra; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Yuni Kusminanti, Estu Prayogi
T-4200
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Neneng Churaeroh; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Robiana Modjo, Dadan Erwandi, C. Setyo Rohadi
Abstrak:

Setiap kasus insiden dipicu berbagai faktor penyebab dasar dan penyebab langsung berupa faktor pekerjaan dan faktor pribadi. Mengacu pada teori Heinrich bahwa faktor pribadi adalah 80% penyebab dasar terjadinya insiden, maka faktor pribadi pekerja harus dikelola serius, antara Iain melalui pelatihan K3 yang tepat guna dan tepat sasaran. Untuk mendapatkan gambaran pelatihan K3 yang tepat guna dan tepat sasaran, tesis ini membahas bagaimana melakukan sebuah analisis kebutuhan pelatihan K3 bagi operator dan mekanik di PT. X, sebuah perusahaan pertambangan batubara terbuka. Kasus insiden tertinggi perusahaan ini menimpa operator alat berat dan mekanik. Populasi kedua jabatan ini paling tinggi dibanding jabatan lainnya dengan faktor risiko K3 yang juga paling tinggi. Mayoritas penyebab dasar insiden yang terjadi adalah faktor pribadi yang terkait dengan kurang pengetahun, stres psikologis. dan perilaku. Proses zmalisis kebutuhan pelatihan yang digunakan dalam tesis ini adalah: analisis organisasi, yaitu untuk mengambarkan dukungan organisasi atas penyelenggaraan pelatihan; analisis tugas, yaitu untuk mendapatkan gambaran jenis pelatihan yang dibutuhkan berdasarkan tugas yang dilakukan dan faktor risiko kerjanya; dan analisis personal, yaitu untuk rnendapatkan gambaran kompetensi jabatan yang dimiliiki pekerja. Selanjutnya dilakukan kategorisasi pelatihan K3 berdasarkan tujuan pelatihan. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Tujuannya adalah untuk dapat lebih mengeksplorasi faktor risiko yang dihadapi operator dan mekanik, dan mengeksplorasi jenis pelatihan K3 yang dibutuhkan kedua jabatan temebut melalui diskusi dengan level manajemen kedua jabatan tensebut dan manajemen yang mengclola pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan. Diskusi yang dilakul-ran borpegang pada ceklis pelatihan yang telah disiapkan peneliti, tujuarmya adalah sebagai pedornan yang mernpennudah proses diskusi. Pada akhirnya, penelitian ini dapat menggambarkan bahwa manajemen PT. X mendulcung penuh pelaksanaan pelatihan, menggambarkan jonis pelatihan yang dibutuhkan, mengetahui bahwa data kornpetensi pckerja belum dimiliki, dan dapat menghasilkan matrik pelatihan K3 bagi operator dan mckanik berdasar faktor risiko kerja yang disusun berdasarkan tujuan pelatihan. Dengan data-data yang ada dalam tesis ini, PT. X diharapkan mempertahankan hal-hal positif yang telah dimiliki dan meningkatkan dokumentasi kompetensi pekerja per individu sehingga program pengembangan per individu Iebih mudah dilaksanakan. Disamping itu, analisis kebutuhan pelatihan K3 dan pelatihan lainnya disarankan untuk dikaji ulang secara berkesinambungan.


Every analysis on any incident is triggered by various factors, either basic causes or direct causes, including occupational and personal ones. According to Heinrich, personal factors contribute 80% of basic causes of incidents. Hence, personal factors of employees should be genuinely managed by, among outliers, providing ejective and ejicient training on occupational health and safety. In order to provide a description on an ejective and ejicient training on occupational health and salty, this thesis will discuss how to analyze requirements of occupational health and safety training for operators and mechanics in PT X an open coal mining company. Most incidents in the company are related to heavy-duty operators and mechanics. Besides having the highest risk in term of occupational health and safety, the two are the most populated positions. The majority of incidents happened because of personal factors, e.g. lack of knowledge, psychological stress, and unsafe behavior. The processes involved in the analysis on training requirements include: organizational analytsis, i.e. describing organizational support for training; task analysis, i.e. desiring types of required training based on tasks performed and their occupational risks; and personal analysis, i.e. describing occupational competency acquired by the workers. Then, classification on occupational health and safety training based on training objectives will follow. This study tales a qualitative approach. The objective is to allow greater exploration on risk factors facing the operators and mechanics, and to explore types of occupational health and safety training needed by the two positions through discussion with management-level personnel of the two positions and the management staffs' responsible fur human resource development. The discussion rowers to the training checklist prepared by researcher, providing guidelines for the discussion. Eventually, this study can illustrate how the management ofP1'f X has been fully supportive to the training, describe the types of training required, show that data on employees competency are not yet available, and generate occupational health and safety training matrix operators and mechanics based on the occupational risk factors as listed in training objectives. It is expected that the data provided in the thesis will allow PII X to maintain positives already found in the company and to improve documentation on competency of each individual employee, which will make programs on individual development better executed. Also. it is recommended that the analysis on occupational health and safety training requirements is continuously revisited.

Read More
T-3010
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Alfian Rahza; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Yudi Ramdani
Abstrak:
Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu upaya yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap, dan mendorong perilaku kerja yang aman guna mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Namun, efektivitas pelatihan K3 perlu dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana tujuan pelatihan telah tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan K3 berdasarkan aspek Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku (PSP) pada pekerja subkontraktor di PT. X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan mixed methods dengan desain penelitian triangulasi konkuren (concurrent triangulation) pada 21 pekerja. Data kuantitatif diperoleh melalui nilai pre-test dan post-test, dan kuesioner, sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara pada pekerja, wawancara pada pengawas, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh kelompok pelatihan mengalami peningkatan pengetahuan setelah pelatihan. Variabel pengetahuan dan sikap umumnya berada pada kategori baik, sedangkan perilaku menunjukkan hasil yang lebih bervariasi. Berdasarkan evaluasi PSP, tiga pelatihan tergolong efektif dan tiga pelatihan tergolong efektif parsial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelatihan K3 di PT. X efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan membentuk sikap keselamatan kerja pekerja. Namun, perubahan perilaku keselamatan kerja belum terjadi secara optimal pada seluruh kelompok pelatihan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan melalui pengawasan, pembinaan, dan monitoring berkelanjutan untuk meningkatkan konsistensi perilaku keselamatan kerja di lapangan.

Occupational Safety and Health (OHS) training is one of the efforts undertaken by companies to improve knowledge, shape attitudes, and encourage safe work behaviors to prevent workplace accidents. However, the effectiveness of OHS training needs to be evaluated to determine the extent to which training objectives have been achieved. This study aims to evaluate the effectiveness of OHS training based on the Knowledge, Attitude, and Practice (KAP) aspects of subcontractor workers at PT. X in 2026. This study used a mixed methods design with a concurrent triangulation design on 21 workers. Quantitative data were obtained through pre- and post-test scores, and questionnaires, while qualitative data were collected through worker interviews, supervisor interviews, and observations. The results showed that all training groups experienced an increase in knowledge after the training. Knowledge and attitude variables generally categorized as good, while behavior showed more variable results. Based on the PSP evaluation, three training courses were classified as effective and three training courses were classified as partially effective. This study concluded that OHS training at PT. X was effective in improving workers' knowledge and shaping occupational safety attitudes. However, changes in occupational safety behavior have not been optimally achieved across all training groups. Therefore, strengthening is needed through continuous supervision, coaching, and monitoring to improve the consistency of work safety behavior in the field.
Read More
S-12435
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Tri Rizki Febriansyah; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Putri Ayuni Alayyannur
Abstrak:
Kondisi kerja di sektor pertanian masih ditandai oleh rendahnya pengetahuan, sikap, dan praktik keselamatan dan kesehatan kerja (K3), keterbatasan penyediaan alat pelindung diri, jam kerja yang panjang dan tidak teratur, serta beban kerja yang tinggi dengan upah yang relatif rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik individu dengan pengetahuan, sikap, dan praktik K3 pada petani padi di Desa Haurpugur, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional dan metode survei analitik. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung kepada petani padi menggunakan kuesioner terstruktur pada Mei-Juni 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia, tingkat pendidikan, dan pengalaman penyuluhan dengan pengetahuan K3. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan sikap K3, serta antara pengalaman penyuluhan dengan praktik K3. Penelitian ini menyimpulkan bahwa beberapa karakteristik individu berhubungan dengan pengetahuan, sikap, dan praktik K3 pada petani padi. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan penerapan K3 melalui penguatan program penyuluhan pertanian serta dukungan kebijakan dari instansi terkait yang mempertimbangkan karakteristik individu petani padi guna mendorong terbentuknya perilaku kerja yang lebih aman di sektor pertanian.

Working conditions in the agricultural sector continue to be characterized by inadequate occupational safety and health (OHS) knowledge, attitudes, and practices, limited availability of personal protective equipment (PPE), long and irregular working hours, and high workloads accompanied by relatively low wages. This study aimed to analyze the association between individual characteristics and OHS knowledge, attitudes, and practices among rice farmers in Haurpugur Village, Rancaekek District, Bandung Regency. A quantitative approach with a cross-sectional study design and an analytical survey method was employed. Bivariate data analysis was performed using the Chi square test. Data were collected through face-to-face interviews with rice farmers using a structured questionnaire between May and June 2026. The findings revealed significant associations between age, educational level, and participation in agricultural extension programs and OHS knowledge. In addition, significant associations were found between sex and OHS attitudes, as well as between participation in agricultural extension programs and OHS practices. This study concludes that several individual characteristics are associated with OHS knowledge, attitudes, and practices among rice farmers. Therefore, efforts to improve OHS knowledge and its implementation should be strengthened through enhanced agricultural extension programs and policy support from relevant institutions that take farmers' individual characteristics into account in order to promote safer work practices in the agricultural sector.
Read More
S-12382
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sania; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mila Tejamaya, Nia Dwi Handayani
Abstrak: Sektor konstruksi merupakan sektor penyumbang kecelakaan tertinggi di Indonesia dan kasus terbanyak terjadi pada konstruksi bangunan gedung. Salah satu pekerjaan dalam konstruksi bangunan gedung ialah pengecoran yang merupakan pekerjaan krusial dan perlu diperhatikan dalam suatu pembangunan karena akan menentukan kekuatan struktur bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan manajemen risiko keselamatan dan kesehatan kerja pada proses pengecoran gedung perkantoran X. Penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik dengan pendekatan analisis risiko kualitatif menggunakan Job Hazard Analysis dan analisis risiko semi kuantitatif yang mengacu pada AS/NZS 4360:2004 tentang Risk Management. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 96 risiko yang dinilai, 28 risiko diantaranya termasuk ke dalam kategori tingkat very high, seperti risiko terjatuh dari ketinggian, terpajan adukan beton, terpajan cairan curing compound, tertimpa material seperti alas balok dan besi, tersetrum vibrator dan mengalami hand arm vibration syndrome sehingga diperlukan tindakan pengendalian risiko untuk mengurangi tingkat risiko agar masuk ke dalam risiko yang dapat diterima.
The construction sector is the highest accident contributor sector in Indonesia and the most cases occur in the construction of buildings. One of the jobs in building construction is casting which is a crucial job and needs to be considered in a construction since it will determine the strength of the building structure. This study aims to manage occupational health and safety risks in the casting process of office building X. This study was a descriptive analytical study with a qualitative risk analysis approach using Job Hazard Analysis and semi-quantitative risk analysis referring to AS/NZS 4360:2004 concerning Risk Management. The result of the study shows that of the 96 assessed risks, 28 of them are categorized as very high; such as, the risk of falling from height, exposure to concrete mix, exposure to curing compound liquid, being hit by materials; such as, pedestal and iron, being electrocuted by a vibrator and experiencing a hand-arm vibration syndrome. Thus, risk control measures are needed in order to reduce the level of risk so that it falls into an acceptable risk.
Read More
S-10992
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive