Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33036 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yuly Astuti; Pembimbing: Suharnyoto Martomulyono
S-3610
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Dwi Ryanti; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Dadan Erwandi, Istiati Suraningsih
Abstrak: Tujuan dari skripsi ini adalah untuk mendapatkan nilai risiko keselamatan dan kesehatan pada setiap tahapan kerja di Industri Penyamakan Kulit PT. X. Hasil penelitian adalah tingkat risiko keselamatan dan kesehatan kerja pada setiap tahapan proses meliputi very high, priority 1, substantial, priority 3 dan acceptable. Hasil penelitian dapat menjadi dasar pertimbangan program pengendalian risiko di Industri Penyamakan Kulit PT.X.
Read More
S-8480
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Zaky Amiyoso; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Robiana Modjo, Istiati Suraningsih
S-8277
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safiera Amelia; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra; Adenan
Abstrak: PT XYZ adalah industri manufaktur yang memiliki proses produksi yang menghasilkan panas dan berpotensi menimbulkan heat stress bagi pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keluhan subjektif akibat tekanan panas pada pekerja di area fermentasi kedelai dan pemasakan PT XYZ. Penelitian dilakukan pada 55 responden dengan desain studi cross sectional deskriptif. Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) digunakan untuk mengukur risiko tekanan panas. Kuesioner menilai keluhan subjektif pekerja akibat tekanan panas. Hasil menunjukkan indeks WBGT rata-rata di area adalah 27,35°C - 32,29°C. Terdapat 70,9% responden mengalami tekanan panas dan 54,5% mengalami keluhan ringan. Keluhan subjektif utama yaitu banyak berkeringat (67,3%) dan merasa haus (50,9%). Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keluhan subjektif, yaitu kejadian tekanan panas (p value= 0,001) dan beban kerja (p value= 0,019). Rekomendasi dari segi teknis, administratif, maupun personal dibutuhkan untuk meminimalisasi keluhan subjektif dan dampak kesehatan akibat tekanan panas.
Kata kunci: Tingkat keluhan subjektif, tekanan panas.

PT XYZ is a manufacturing industry which has production process that produces heat and potentially cause heat stress for workers. The purpose of this study was to determine factors related to the level of subjective complaints due to heat stress among workers in soybean fermentation and cooking area. This study performed on 55 workers using cross sectional descriptive study design. Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) were used to quantify risk of heat stress. Questionnaires assessed worker's subjective complaints from heat stress. Results showed WBGT index in the average area are 27,35°C - 32,29°C. About 70,9% respondents experienced heat stress and 54,5% suffered minor complaints. The most subjective complaints were excessive sweating (67,3%) and feeling thirsty (50,9%). Factors related to the level of subjective complaints were heat stress (p value= 0,001) and workload (p value= 0,019). Hence, the recommendation such as engineering, administrative, and personal control are needed to minimize the subjective complaints and adverse health effect of heat stress.
Keywords: The level of subjective complaints, heat stress
Read More
S-9315
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adimas Lukminto Jati Kusumo; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Devie Fitri Octaviani
Abstrak: Musculoskeletal Disorders (MSDs) masih menjadi permasalahan kesehatan kerja yang sering ditemui di dunia. Pekerja maintenance tambang merupakan salah satu jenis pekerjaan yang berisiko terhadap MSDs karena karakteristik pekerjaan dan faktor risiko lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan MSDs pada pekerja maintenance PT Antam Tbk UBPE Pongkor. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain studi potong-lintang. Penelitian ini menggunakan beberapa metode pengukuran; keluhan MSDs diukur menggunakan Standardised Nordic Questionnaires; faktor risiko pekerjaan diukur menggunakan BRIEF (Baseline Risk Identification Ergonomics Factors) dan BEST (BRIEF Exposure Scoring Technique); faktor psikososial diukur menggunakan Job Content Questionnaires (JCQ); dan faktor lainnya menggunakan kuesioner. Data dianalisis statistik menggunakan uji chi square. Hasil penelitian diperoleh bahwa 77,6% responden mengalami keluhan MSDs dengan bagian tubuh yang paling banyak dikeluhkan adalah punggung bagian bawah (56,1%) dan bahu (31,8%). Kemudian, tingkat risiko pekerjaan dominan sedang (52,3%) dan tinggi (35,5%). Dari hasil uji statistik, terdapat hubungan bermakna antara indeks massa tubuh (IMT) dengan keluhan MSDs (p=0,034). Dengan demikian perusahaan perlu menyediakan training mengenai faktor risiko MSDs, peninjauan ulang WI/SOP agar mempertimbangkan aspek ergonomi, meningkatkan promosi kesehatan kerja dan peran pengawasan, dan mengendalikan obesitas di tempat kerja. Selain itu penting dilakukan oleh pekerja untuk melakukan peregangan otot setelah bekerja.
 

 
Musculoskeletal Disorders (MSDs)is the common case of occupational health in the world. Maintenance worker in mining become one of occupation that have risk of MSDs because of its work characteristic and another factors. This study aim to know factors that associated with the sigh of MSDs in maintenance workers PT Antam Tbk UBPE Pongkor. This is an observation study with cross sectional design. This study use several methods in measurement; sigh of MSDs is measured with Standardized Nordic Questionnaires; Job risk factor with BRIEF (Baseline Risk Identification Ergonomics Factors) and BEST (BRIEF Exposure Scoring Technique); psychosocial factors with Job Content Questionnaires (JCQ); and another factors are measured with ordinal questionnaire and the data is analyzed statistically with chi square test. The result shows that sigh of MSDs reach 77,6% with part of body that commonly have MSDs are low back (56,1%) and shoulders (31,8%). Then, job risk factor dominant in medium risk (52,3%) and high risk (35,5%). Statistic test shows that there is significant relationship between body mass index with sigh of MSDs (p=0,034). Thus, the company have to provide training on maintenance workers to know risk factors of MSDs in workplace, review WI/SOP in order to consider the ergonomics aspect, upgrade the health promotion in workplace and the role of supervision, and control obesity in workplace. In addition, it?s important to consider by workers, stretching after work.
Read More
S-8234
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raihan Alhafidz Nurrudin; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, Rizki Rahmawati
Abstrak:
Anomali suhu udara Indonesia pada bulan September 2023 merupakan nilai anomali tertinggi ke-4 sepanjang periode pengamatan sejak 1981. Dengan meningkatnya suhu udara ditambah kompleksitas proses di industri manufaktur pabrik pembuatan pupuk dapat meningkatkan permasalahan kesehatan pekerja berupa penyakit akibat pajanan panas yang ditandai dengan munculnya keluhan subjektif kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor risiko tekanan panas dan hubungannya dengan keluhan subjektif kesehatan pada pekerja pabrik pembuatan pupuk di PT X tahun 2024. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain studi cross-sectional dan menggunakan data primer yang didapatkan pada rentang bulan Mei-Juni 2024. Sampel yang diambil adalah sebanyak 233 orang pekerja yang dibedakan menjadi 3 sub-populasi berdasarkan karakteristik pekerjaannya. Hasil penelitian pada sub-populasi pertama menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kejadian tekanan panas dan keluhan subjektif (p-value: 0,033 OR: 2,39). Adapun faktor yang berhubungan dengan keluhan subjektif antara lain status aklimatisasi (p-value: 0,005) dan status hidrasi (p-value: 0,035). Hasil penelitian pada sub-populasi kedua menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kejadian tekanan panas dan keluhan subjektif (p-value: 0,032 OR: 5,57). Hasil penelitian pada sub-populasi ketiga menunjukkan bahwa seluruh pekerja (100%) mengalami kejadian tekanan panas dengan pekerja yang mengalami keluhan subjektif berat sebanyak 49%. adapun faktor yang berhubungan dengan keluhan subjektif antara lain status aklimatisasi (p-value: 0,005) dan status hidrasi (p-value: 0,026). Secara keseluruhan, terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian tekanan panas dengan keluhan subjektif di pabrik pembuatan pupuk PT. X. faktor-faktor lainnya yang berhubungan dengan keluhan subjektif adalah status aklimatisasi dan status hidrasi. Faktor yang paling berpengaruh pada penelitian ini adalah status aklimatisasi dan lingkungan kerja dengan ISBB tinggi dilihat dari kejadian tekanan panas. Oleh karena itu dibutuhkan pengendalian administrasi seperti memulai pekerjaan dengan beban kerja yang tidak terlalu berat untuk pekerja yang telah melakukan cuti lebih dari 7 hari, dan pengendalian teknik seperti perbaikan sistem ventilasi pada area kerja dan barak pekerja.

The Indonesian air temperature anomaly in September 2023 was the 4th highest anomaly value throughout the observation period since 1981. The increase in air temperature plus the complexity of the process in the fertilizer manufacturing industry, can increase worker health problems in the form of diseases due to heat exposure which are characterized by the emergence of subjective health complaints. The purpose of this study was to analyze the risk factors for heat stress and their relationship to subjective health complaints in fertilizer factory workers at PT X in 2024. This study was conducted using a cross-sectional study design and using primary data obtained in the period May-June 2024. The sample taken was 233 workers who were divided into 3 sub-populations based on their job characteristics. The results of the study in the first sub-population showed that there was a significant relationship between the occurrence of heat stress and subjective complaints (p-value: 0.033 OR: 2.39). The factors related to subjective complaints include acclimatization status (p-value: 0.005) and hydration status (p-value: 0.035). The results of the study on the second subpopulation showed that there was a significant relationship between the occurrence of heat stress and subjective complaints (p-value: 0.032 OR: 5.57). The results of the study on the third subpopulation showed that all workers (100%) experienced heat stress with workers experiencing severe subjective complaints as many as 49%. The factors related to subjective complaints include acclimatization status (p-value: 0.005) and hydration status (p-value: 0.026). Overall, there is a significant relationship between the occurrence of heat stress and subjective complaints at the PT. X fertilizer factory. Other factors related to subjective complaints are acclimatization status and hydration status. The most influential factors in this study were acclimatization status and a work environment with high ISBB seen from the occurrence of heat stress. Therefore, administrative control is needed such as starting work with a workload that is not too heavy for workers who have been on leave for more than 7 days, and engineering control such as improving the ventilation system in the work area and worker barracks.
Read More
S-11689
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hamzah Fansuri Fajri; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Ali Syahrul Chairuman
Abstrak: Keluhan musculoskeletal disorder (MSDs) pada umumnya dapat terjadi karena adanya kontraksi atau pembebanan yang berlebihan pada otot ataupun tulang. Salah satu contoh aktivitas yang dapat memicu kejadian keluhan musculoskeletal disorder (MSDs) adalah pekerjaan manual material handling. Pekerjaan manual material handling masih banyak ditemukan pada pekerjaan yang dilakukan pada CV Bengkel Otomotif. Penelitian ini berfokus pada melihat hubungan antara variabel fisik dan individu dengan keluhan musculoskeletal disorder (MSDs) pada pekerja CV Bengkel Otomotif. Penelitian ini bersifat studi cross-sectional dengan instrumen quick exposure check dan nordic body map. Dari sebanyak 60 orang pekerja yang menjadi responden penelitian, didapati bahwa 38 orang pekerja (63.3%) mengalami keluhan. Bagian tubuh yang paling banyak mengalami keluhan adalah pada bagian pinggang (25 pekerja). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara variabel indeks massa tubuh (p value=0.004), dan kebiasaan olahraga (p value=0.004) dengan keluhan musculoskeletal disorder (MSDs).
Complaints of musculoskeletal disorders (MSDs) in general can occur due to contraction or excessive loading of muscles or bones. One example of an activity that can trigger the incidence of musculoskeletal disorders (MSDs) is manual material handling work. Manual material handling work is still commonly found in the work done at CV Bengkel Otomotif. This study focuses on looking at the relationship between physical and individual variables with complaints of musculoskeletal disorders (MSDs) in CV Bengkel Otomotif workers. This research is a cross-sectional study with quick exposure check and nordic body map instruments. Of the 60 workers who became respondents to the study, it was found that 38 workers (63.3%) had complaints. The part of the body that experienced the most complaints was the waist (25 workers). The results showed that there was a relationship between the variable body mass index (p value = 0.004), and exercise habits (p value = 0.004) with complaints of musculoskeletal disorders (MSDs).
Read More
S-10953
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Daifan Catur Febriansyah; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Chandra Satrya, Irma Setiawaty Wulandari
S-8591
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eva Nirwana; Pembimbing: Hendra; Penguji: Robiana Modjo, Zulkifli Djunaidi, Trisnajaya, Devie Fitri Octaviani
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yangmenyebabkan keluhan penyakit kulit pada pekerja di bagian Sewing dan Cutting,Departemen Preparing/Upper Sole, perusahaan manufaktur sepatu di KabupatenSukabumi pada Bulan Mei 2016. Dari 1.350 responden, ditemukan 777 orangmenderita keluhan penyakit kulit pada pekerja sedangkan573 orang lainnya tidakmenderita keluhan ini. Menggunakan teknik systematic random sampling,diperoleh sample sebanyak 817 orang, dimana hasil penelitian menunjukkansebesar 58% diantaranya menderita keluhan penyakit kulit pada pekerja. Secarastatistik tidak terdapat hubungan signifikan antara paparan pelarut organik dengankeluhan penyakit kulit pada pekerja. Hasil penelitian lebih lanjut menunjukkanbahwa pekerja yang terpapar debu organik berisiko 2,5 kali untuk menderitakeluhan penyakit kulit pada pekerja.Pekerja dengan masa kerja ≤ 3 tahunmemiliki risiko 2,4 kali untuk terkena keluhan penyakit kulit pada pekerjadibandingkan dengan pekerja dengan masa kerja > 3 tahun.Pekerja dengankebiasaan tidak mencuci tangan memiliki resiko 2,6 kali untuk terkena keluhanpenyakit kulit pada pekerja dibandingkan dengan pekerja dengan kebiasaanmencuci tangan yang baik. Pengaruh pemakaian sarung tangan menjadi faktordominan dimana pekerja yang tidak menggunakan sarung tangan memiliki risiko4,7 kali terkena keluhan penyakit kulit dan pekerja dengan riwayat alergi memilikirisiko 6,7 kali berisiko menderita keluhan penyakit kulit pada pekerja. Upayapengendalian dapat dilakukan dengan melakukan pengawasan dan edukasi, sertakontrol administratif dan penyediaan sarana dalam upaya promotif dan prefentifyang optimal, seperti penyediaan wastafel, pemakaian APD yang sesuai, skriningserta pengobatan.
The aim of this study was to determine the factors that led to occupational skindisease complaints on Sewing and Cutting workers at the Preparing/ Upper SoleDepartment, one of the shoe manufacturing in Sukabumi, May 2016. Out of the1.350 respondents, found that 777 workers suffering from occupational skindisease complaints, while 573 others do not suffer from this complaint. Using thesystematic random sampling technique, obtained a sample of 817 workers, ofwhich the result showed 58% of them suffer from occupational skin diseasecomplaints. Statistically there was no significant association between exposures toorganic solvents with occupational skin disease complaints in workers.Furthermore, the study result indicates that workers exposed to organic dust 2.5times are at risk of suffering from occupational skin disease complaints. Workerswith ≤ 3service years had 2.4 times the risk of developing occupational skindisease complaints compared to workers who have > 3 years of service. Workerswho have the habit of not washing their hands have 2.6 times the risk ofoccupational skin disease complaints. Workers who do not wearing gloves are atrisk 4.7 times of occupational skin disease complaints, and workers with a historyof allergies had 6.7 times risk to occupational skin disease complaints. Controlcan be done by educating the workers and do the monitoring, as well asadministrative control and provided the facilities in health promotion andoptimum preventive, such as to provide a sink, use appropriate PPE, screeningand do the treatment as well.
Read More
T-4736
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titi Hadianti; Pembimbing: Hendra; Penguji: Fatma Lestari, Aji Wuri Handono
S-4662
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive