Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33380 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Novita Suryawati; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Agus Rahmanto, Helen Andriani
Abstrak: Waktu tunggu pelayanan resep rawat jalan merupakan salah satu indikator pelayananmutu di instalasi farmasi yang seringkali tidak terpenuhi waktu tunggu pelayanan reseprawat jalan. Berdasarkan SPM yang tercantum dalam Kepmenkes RI Nomor:129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Waktutunggu obat jadi (non racikan) adalah ≤30 menit. Sedangkan waktu tunggu pelayananobat racikan adalah ≤60 menit. Penelitian ini dilakukan untuk melihat penyebab danlama waktu tunggu pelayanan resep di instalasi farmasi rawat jalan rumah sakit. Jenispenelitian ini adalah literature review yang dilakukan pada kepustakaan jurnal danpenelitian asli dengan rentang waktu studi adalah 10 tahun, dipublikasikan pada tahun2011 hingga 2020. Metode pencarian data menggunakan data online dengan databaseyang digunakan adalah PubMed, Scopus, Science Direct, Garuda, Google Scholar, danLib FKM UI, serta Lib UI.
Read More
S-10331
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dyah Batiar Aprillia; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Ede Surya Darmawan, Indah Rosana Djajadiredja
Abstrak: Penelitian ini menggunakan metode Narrative Review tentang analisis konsepLean Thinking terhadap perbaikan waktu tunggu pelayanan pasien Instalasi Rawat JalanRumah Sakit di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaranimplementasi konsep Lean Thinking dalam mengatasi waktu tunggu pelayanan pasienInstalasi Rawat Jalan Rumah Sakit. Agar memperoleh literatur layak uji, penelitimenggunakan pedoman PRISMA. Peneliti mendapatkan 12 literatur dengan metodepenelitian kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa konsep Leandapat membuktikan proses pelayanan rawat jalan Rumah Sakit di Indonesia masihbelum Lean. Terdapat 7 literatur yang menunjukkan bahwa Lean efektif mengurangilama waktu tunggu pelayanan pasien rawat jalan di Rumah Sakit dibuktikan denganmengadopsi prinsip utama Lean, yaitu Standardize work dan Heijunka. Agar tercapaikondisi Lean, Rumah Sakit harus menyelaraskan implementasi antara 5 prinsip Lean(Customer value, value stream, flow, pull, perfection) dengan budaya organisasi, polapikir, metode Lean, membudayakan 5 S, dengan melibatkan seluruh pihak di RumahSakit untuk menyelesaikan masalah secara konsisten dan berkesinambungan.Kata kunci:Waktu Tunggu Rawat Jalan; Lean Rumah Sakit; Lean Hospital
This study uses the Narrative Review method concerning the analysis of theLean Thinking concept towards improving the waiting time for patient services in theOutpatient Hospital in Indonesia. The purpose of this study was to describe theimplementation of the Lean Thinking concept in overcoming the waiting time for patientservices in the Hospital Outpatient Installation. In order to obtain test-worthyliterature, researchers used the PRISMA guidelines. The researcher obtained 12literatures using qualitative and quantitative research methods. The results of the studyconclude that the Lean concept can prove that the outpatient service process ofhospitals in Indonesia is still not Lean. There are 7 literatures that show that Lean iseffective in reducing the waiting time of outpatient services at the hospital as evidencedby adopting Lean's main principles, namely Standardize work and Heijunka. In order toachieve the Lean condition, the Hospital must align the implementation of the 5 Leanprinciples (customer value, value stream, flow, pull, perfection) with organizationalculture, mindset, Lean method, cultivate the 5 S, by involving all parties in the hospitalto solve problems consistently and continuously.Keywords:Outpatient Waiting Time; Lean Hospital.
Read More
S-10329
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Patricia Kresnauli; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Marchen Prasetyaningrum
Abstrak:
Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit XYZ bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dengan target 100% indikator waktu tunggu layanan terpenuhi. Namun, data dari laporan penjaminan mutu internal menunjukkan bahwa ketercapaian indikator mutu rata-rata waktu tunggu obat non-racikan di Depo Farmasi Rawat Jalan dengan sistem pembayaran BPJS masih diatas 30 menit, atau belum tercapai sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mencari letak pemborosan, variasi, dan hambatan yang menyebabkan lamanya waktu tunggu pelayanan dengan pendekatan Constraint Lean Six Sigma. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa rata-rata lead time yang dibutuhkan dalam satu proses pelayanan resep obat non racikan adalah 80,27 menit dengan jenis kegiatan pemborosan yang paling banyak dengan total 94% dari keseluruhan waktu kegiatan Non-Value Added adalah waiting (3.790 sekon). Selain itu, terdapat tiga jenis pemborosan lainnya yaitu overproduction (89 sekon), poor process design (76 sekon), dan defects (67 sekon) yang masing-masing menyumbang 2% dari total waktu Non-Value Added yang ada dalam keseluruhan lead time. Hambatan terjadi pada proses dispensing dan serah obat karena terjadi penumpukan resep yang disebabkan oleh kurangnya jumlah tenaga teknis kefarmasian dan apoteker serta kurang maksimalnya sistem informasi dalam menunjang keseluruhan sistem proses. Melihat masalah ini, dibutuhkan tambahan tenaga kefarmasian dan juga pengembangan sistem informasi dengan keseluurhan data sudah terdigitalisasi dan terintegrasi agar lebih mudah untuk digunakan oleh seluruh tenaga kefarmasian dalam rangka mempercepat proses pelayanan resep obat non-racikan. Semakin cepat pelayanan resep, akan semakin meningkat juga kepuasan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan.

Pharmacy services at XYZ Hospital aim to improve the quality of health services with a target of 100% service waiting time indicators being met. However, data from the internal quality assurance report shows that the achievement of the quality indicator of the average waiting time for non-compounded drugs at the Outpatient Pharmacy Depot with the BPJS payment system is still above 30 minutes, or has not been achieved in accordance with the standards set by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia. Therefore, this research aims to find the location of waste, variations, and bottleneck that cause the long waiting time for services with the Constraint Lean Six Sigma approach. Based on the results of the study, it was found that the average lead time required in one non-compounded prescription service process was 80.27 minutes with the most wasteful activity type totaling 94% of the overall Non-Value Added activity time was waiting (3,790 seconds). In addition, there are three other types of waste, namely overproduction (89 seconds), poor process design (76 seconds), and defects (67 seconds), each of which accounts for 2% of the total Non-Value Added time in the overall lead time. Bottlenecks occur in the dispensing and drug handover process due to the accumulation of prescriptions caused by the lack of technical pharmaceutical personnel and pharmacists and not yet optimized information systems in supporting the entire process system. Seeing this problem, additional pharmaceutical personnel are needed and also the development of the information system with the entire data already digitalized and integrated so that it is easier to be used by all pharmaceutical personnel in order to speed up the process of non-prescription drug prescription services needed to be done. The faster the prescription service, the more patient satisfaction will increase.
Read More
S-11705
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jihan Paramita; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Helen Andriani, Firmansyah
Abstrak:
Kepuasan pasien merupakan evaluasi subjektif terhadap layanan rumah sakit yang berperan penting dalam membangun loyalitas dan meningkatkan citra rumah sakit. Salah satu faktor yang sering menyebabkan ketidakpuasan pasien adalah waktu tunggu yang terlalu lama. Selain Actual Waiting Time (AWT), faktor subjektif seperti Expected Waiting Time (EWT), Perceived Waiting Time (PWT), dan Disconfirmation juga turut memengaruhi tingkat kepuasan pasien. Berdasarkan survei awal, terungkap bahwa waktu tunggu pasien BPJS di Poliklinik Reguler Rumah Sakit PMI Bogor masih belum memenuhi standar pemerintah, yang menyebabkan tingkat kepuasan pasien yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara EWT, PWT, AWT, dan Disconfirmation terhadap kepuasan pasien BPJS di Poliklinik Reguler Rumah Sakit PMI Bogor pada tahun 2024. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional terhadap 132 sampel pasien. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, observasi, serta data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi antara PWT, AWT, dan Disconfirmation dengan kepuasan pasien BPJS di Poliklinik Reguler Rumah Sakit PMI Bogor pada tahun 2024, sementara EWT tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kepuasan pasien BPJS. Saran untuk perbaikan rumah sakit meliputi penyediaan demo registrasi pasien, layar monitor kedatangan dokter, loket prioritas bagi lansia dan anak-anak, serta dorongan kepada pasien untuk mengisi survei kepuasan dan memberikan umpan balik. Temuan ini dapat ditingkatkan pada penelitian berikutnya dengan perbaikan instrumen, teknik sampling, serta pendalaman melalui pendekatan kualitatif.

Patient satisfaction is a subjective evaluation of hospital services that plays a crucial role in building loyalty and enhancing the hospital's image. One factor that often leads to patient dissatisfaction is excessively long waiting times. In addition to Actual Waiting Time (AWT), subjective factors such as Expected Waiting Time (EWT), Perceived Waiting Time (PWT), and Disconfirmation also influence the level of patient satisfaction. Based on an initial survey, it was revealed that the waiting time for BPJS patients at the Regular Polyclinic of PMI Hospital Bogor still does not meet government standards, leading to low patient satisfaction. This study aims to examine the relationship between EWT, PWT, AWT, and Disconfirmation on BPJS patient satisfaction at the Regular Polyclinic of PMI Hospital Bogor in 2024. The research method uses a quantitative approach with a crosssectional study design involving 132 patient samples. Data collection was carried out through questionnaires, observations, and secondary data. The results of the study show a correlation between PWT, AWT, and Disconfirmation with BPJS patient satisfaction at the Regular Polyclinic of PMI Hospital Bogor in 2024, while EWT does not show a significant relationship with BPJS patient satisfaction. Recommendations for hospital improvements include providing a patient registration demo, doctor arrival monitor screens, priority counters for the elderly and children, and encouraging patients to complete satisfaction surveys and provide feedback. These findings can be enhanced in future research with improved instruments, sampling techniques, and deeper qualitative approaches.
Read More
S-11613
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitriah; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Anhari Achadi, Wahyu Sulistiadi, Budi Iman Santoso, Lies Nugrohowati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi waktu pelayanan instalasi farmasi rawat jalan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan rumah sakit. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian gabungan (mixed method) dengan melakukan wawancara mendalam serta observasi waktu tunggu pelayanan obat yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis univariat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu tunggu pelayanan obat racik dan paten di rumah sakit ini melebih standar waktu yang ditetapkan, ditemukan beberapa penghambat seperti ketersediaan sumber daya manusia, sarana prasarana dan fasilitas kerja yang merupakan hambatan terbesar dalam pelayanan ini. Disarankan kepada rumah sakit untuk dapat redisain layout farmasi, menghitung ulang pola ketenagaan serta pengaturan tugas sesuai dengan kompetensinya.

Kata Kunci : efisiensi, farmasi rawat jalan, obat racik dan paten

This study aims to improve the efficiency of service time of outpatient pharmacy installation in order to improve the quality of hospital services. The research method used is the method of combined research (mixed method) by conducting in-depth interviews and observation of drug service waiting time which then analyzed by using univariate analysis.

The result of the research shows that the waiting time for the service of racik and patent medication in this hospital exceeds the standard time set, found some obstacles such as availability of human resources, infrastructure and work facilities which is the biggest obstacle in this service. It is advisable to the hospital to be able to redesign the pharmacy layout, recalculate the pattern of the workforce as well as the arrangement of tasks in accordance with its competence.

Keywords: Efficiency, outpatient pharmacy, racik medicine and patent
Read More
T-5070
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Styfanni Diana Maahury; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Ascobat Gani, Puput Oktamianti, Lies Nugrohowati, Teuku Nebrisa Zagladin
Abstrak:
Latar Belakang: Ketidakpuasan pasien terhadap waktu tunggu yang lama merupakan salah satu akibat dari kurang efisiennya sistem pelayanan yang dilakukan. Waktu tunggu yang lama memiliki korelasi yang signifikan dengan tingkat kepuasan pasien.Menunggu yang terlalu lama dapat menimbulkan rasa bosan dan kejenuhan yang akan mengurangi kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis waktu tunggu dan faktor-faktor yang berhubungan dengan waktu tunggu pelayanan resep di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Hermina Depok. Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Data waktu dan resep dalam penelitian ini dikumpulkan melalui observasi waktu tunggu dalam alur pelayanan resep dan wawancara petugas di instalasi farmasi rawat jalan. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu tunggu resep obat non racikan (obat paten) masih belum sesuai dengan standar waktu yang telah ditetapkan dikarenakan banyaknya jumlah item obat yang ada dalam setiap resep non racikan. Sering terjadi penumpukan resep di dan penumpukkan keranjang obat yang selesai dikemas. Faktor-faktor yang berhubungan dengan waktu tunggu pelayanan resep dalam penelitian ini yaitu status pasien, jenis resep, jumlah item obat, shift, SDM. Distribusi SDM dalam setiap shift yang belum sesuai menyebabkan lamanya waktu tunggu pelayanan resep dalam setiap alur pelayanan resep. Faktor yang paling dominan dalam waktu tunggu pelayanan resep adalah SDM. Distribusi SDM yang sesuai dalam setiap shift terutama dalam hari ramai dapat memperbaiki waktu tunggu yang lama.


Background: Patient dissatisfaction with long waiting times is one consequence of an inefficient service delivery system. Long waiting times have a significant correlation with patient satisfaction levels. Excessive waiting can lead to boredom and fatigue, which diminishes satisfaction with the provided services. Objective: This study aims to analyze waiting times and the factors associated with prescription service waiting times at the Outpatient Pharmacy Installation of Hermina General Hospital Depok. Research Methodology: This study employs both quantitative and qualitative methods. Data on waiting times and prescriptions were collected through observations of prescription service workflows and officer interview in the outpatient pharmacy. Results: The findings indicate that the waiting time for non-compounded (patent) drug prescriptions still does not meet the established standard due to the high number of drug items per prescription. Prescription backlogs and delays in dispensing completed medications frequently occur. Factors related to prescription service waiting times in this study include patient status, prescription type, number of drug items, shift schedules, and human resources. Inefficient human resources distribution across shifts contributes to prolonged waiting times in each prescription service workflow. The most dominant factor affecting prescription service waiting times is human resources . Proper human resources allocation across shifts, particularly during peak days, can help reduce excessive waiting times.
Read More
T-7405
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Fatmawati El Hamid; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Kurnia Sari, Eka Putri Krishanty
Abstrak: Jumlah pasien BPJS yang meningkat mempengaruhi lama waktu pelayanan di Instalasi rawat jalan pasien BPJS Rumah Sakit Hermina Bekasi. Masalah ndash; masalah yang mempengaruhi lama waktu pelayanan rawat jalan dapat diidentifikasi dengan mengetahui seluruh proses bisnis dalam proses pelayanan menggunakan metode Lean Six Sigma. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif dengan tahapan DMAIC Define, Measure, Analize, Improve, dan Control. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa selama proses pelayanan , rata-rata lama proses pelayanan yaitu 200 menit dengan persentasi kegiatan yang bernilai value added sebesar 17 dan kegiatan NVA sebesar 83. Adapun waste terbesar yaitu waiting menunggu dalam perpindahan setiap tahap dalam pelayanan. Penyebab lamanya waktu tunggu antara lain kurangnya ketersediaan SDM, sistem informasi rumah sakit yang belum terintegrasi, serta sarana dan prasarana yang belum memedai. Penelitian ini juga memberikan usulan perbaikan berupa pengajuan sistem informasi terintegrasi untuk proses pendaftaran, melakukan perbaikan lingkungan kerja menggunakan metode 5 S, mengajukan pembuatan SPO untuk dokter, perubahan layout ruangan di depo farmasi, serta memasang jadwal jam pengambilan obat.
The increasing number of BPJS patients affects the length of service time in the outpatient installation of BPJS at Hermina Bekasi Hospital. Issues affecting the length of outpatient service can be identified by knowing all business processes in the service process using the Lean Six Sigma method. This research is a qualitative research with descriptive design with stages of DMAIC Define, Measure, Analize, Improve, and Control. The results of this study suggest that during the service process, the average length of service process is 200 minutes with a percentage of valuable activities value added of 17 and NVA activity of 83. The largest waste is waiting in the transfer of each stage in the service. Causes of long waiting time include lack of availability of human resources, hospital information systems that have not been integrated, and facilities and infrastructure that have not been adequate. The research also proposed improvements in the form of integrated information system application for registration process, improvement of work environment using 5 S method, proposed SPO making for doctors, room layout changes in pharmacy depot, and installing schedule of drug taking hours. Keywords Waiting time outpatient services lean six sigma.
Read More
S-9779
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deanissa Fitri Maghfiroh; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Septiara Putri, Agus Rahmanto
Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk melihat tingkat kepuasan pasien rawat jalan rumah sakit di daerah Jawa dan Bali dari berbagai dimensi menggunakan studi literature review yang dilakukan pada kepustakaan jurnal dan penelitian asli dengan rentang waktu studi adalah 10 tahun, dipublikasikan pada tahun 2011 hingga 2020. Metode pencarian data menggunakan data online dengan database yang digunakan adalah PubMed, Scopus, Science Direct, Garuda, Google Scholar, dan Lib FKM UI, serta Lib UI dengan kriteria inklusi artikel jurnal ilmiah dari Indonesia, baik berbahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris, sedangkan kriteria eksklusi yaitu jurnal yang tidak secara jelas menggambarkan kepuasan pasien terhadap pelayanan rawat jalan yang diberikan dengan rumah sakit menggunakan 5 dimensi service quality.
Read More
S-10579
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yosephine Chrismayanti; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Anggita Petrareni
Abstrak:
Latar Belakang: Pelayanan farmasi merupakan komponen yang penting dalam layanan kesehatan di rumah sakit. Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang terdapat dalam Kepmenkes RI Nomor: 129/ Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Minimal Rumah Sakit, menetapkan standar minimal waktu tunggu farmasi yang meliputi obat jadi (non racikan) kurang dari 30 menit dan obat racikan kurang dari 60 menit. Tingginya angka keluhan terhadap layanan instalasi farmasi menunjukkan adanya masalah yang perlu ditangani. Berdasarkan hal tersebut, kajian ini disusun untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan waktu tunggu di instalasi rawat jalan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan utnuk menganalisis waktu tunggu dan faktor-faktor yang berhubungan dengan waktu tunggu pelayanan resep di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Siloam TB Simatupang. Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Data penelitian dikumpulkan melalui tarikan data SIMRS Hasil Penelitian: Analisis bivariat pada resep racikan menunjukkn faktor yang berhubungan dengan waktu tunggu adalah jumlah item obat (OR= 2,002; 95% CI: 1,469–2,728; p-value <0,001), cara bayar (OR = 5,704; 95% CI: 4,923–6,608; p < 0,001), jam kunjung (OR = 0,330; 95% CI: 0,279–0,389; p < 0,001), dan jumlah kunjungan poli (OR = 2,098; 95% CI: 1,354–3,249; p < 0,001). Sedangkan pada analisis bivariat resep non racikan, faktor yang berpengaruh adalah jumlah item obat (OR = 2,119; 95% CI: 1,877–2,391; p < 0,001), cara bayar (OR = 2,270; 95% CI: 2,052–2,510; p < 0,001), tipe obat (OR = 0,698; 95% CI: 0,617–0,790; p < 0,001), dan jam kunjung (OR = 0,602; 95% CI: 0,538–0,673; p < 0,001). Analisa multivariat ditemukan faktor yang paling berpengaruh terhadap waktu tunggu farmasi adalah cara bayar, pada resep racikan (OR = 5,568; 95% CI: 4,785–6,480; p < 0,001) dan resep non racikan (OR = 2,162; 95% CI: 1,951–2,396; p < 0,001)

Background: Pharmaceutical services are an important component of hospital healthcare services. The Minimum Service Standards (SPM) contained in the Indonesian Minister of Health Decree Number: 129/Menkes/SK/II/2008 concerning Minimum Hospital Standards, stipulates minimum waiting times for pharmacy services, which include less than 30 minutes for ready-made (non-compounded) drugs and less than 60 minutes for compounded drugs. The high number of complaints about pharmacy services indicates that there are problems that need to be addressed. Based on this, this study was conducted to determine the factors related to waiting times in outpatient facilities. Objective: This study aims to analyze waiting times and factors related to prescription waiting times at the Siloam TB Simatupang Hospital Outpatient Pharmacy. Research Methodology: This study uses quantitative methods. Research data was collected through SIMRS data extraction. Research Results: Bivariate analysis of prescription formulas indicates that the factor associated with waiting time is the number of drug items (OR = 2.002; 95% CI: 1.469–2.728; p-value <0.001), payment method (OR = 5.704; 95% CI: 4.923–6.608; p < 0.001), visiting hours (OR = 0.330; 95% CI: 0.279–0.389; p < 0.001), and number of clinic visits (OR = 2.098; 95% CI: 1.354–3.249; p < 0.001). Meanwhile, in the bivariate analysis of non-compounded prescriptions, the influencing factors were the number of drug items (OR = 2.119; 95% CI: 1.877–2.391; p < 0.001), payment method (OR = 2.270; 95% CI: 2.052–2.510; p < 0.001), drug type (OR = 0.698; 95% CI: 0.617–0.790; p < 0.001), and visit time (OR = 0.602; 95% CI: 0.538–0.673; p < 0.001). Multivariate analysis found that the most influential factor on pharmacy waiting time was payment method, for compounded prescriptions (OR = 5.568; 95% CI: 4.785–6.480; p < 0.001) and non-compounded prescriptions (OR = 2.162; 95% CI: 1.951–2.396; p < 0.001).
Read More
S-12194
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lisyana Nursafitri; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Pujiyanto, Reni Octaviani
S-9808
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive