Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39931 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fadhilatunnisa; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Dian Kristiani Irawaty
Abstrak: Pemanfaatan perawatan nifas di Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur masih menjadi yang terendah dibandingkan dengan provinsi lain seluruh Indonesia. Penelitian menggunakan metode cross sectional dengan data sekunder SDKI 2017. Populasi dan sampel penelitian ini adalah Wanita Usia Subur 15-49 tahun yang memiliki anak dengan 2 tahun kelahiran hidup. Analisis dilakukan dengan uji chi square untuk melihat hubungan antara variabel independent dengan dependen. Hasil penelitian didapatkan rata-rata ke-5 provinsi sebesar 67% dalam memanfaatkan perawatan nifas dalam dua hari. Didapat juga faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan perawatan nifas adalah status pekerjaan, kunjungan ANC, pendidikan, pengetahuan komplikasi nifas, status ekonomi, tempat persalinan, penolong persalinan, urutan kelahiran, status perencanaan kehamilan, dan komplikasi persalinan. Peneliti menyarankan untuk meningkatkan cakupan kunjungan perawatan nifas oleh tenaga kesehatan berkompeten bagi ibu yang bersalin dirumah, kemitraan dengan penolong persalinan tradisional, promosi kesehatan tentang bahaya komplikasi nifas, dan edukasi penggunaan KB pasca persalinan. Kata kunci: Determinan, pemanfaatan, perawatan nifas. Utilization of postnatal care in the provinces of Papua, West Papua, Maluku, North Maluku and East Nusa Tenggara is still the lowest compared to other provinces throughout Indonesia. The study used a cross sectional method with secondary data of the 2017 IDHS. The population and sample of this study were Reproductive Age Women 15- 49 years old who had children with 2 years of live births. Analysis was performed with the chi square test to see the relationship between the independent and dependent variables. The results obtained an average of 5 provinces for postnatal utilization is almost close to 67%. The factors that influence utilization of postnatal care are occupation status, ANC visit, education, knowledge of postnatal complications, economic status, place of delivery, birth attendants, birth order, pregnancy planning status, and delivery complications. This study suggest Ministry of Health and National Family Planning Coordinating Agency (BKKBN) to increase postpartum care visits by skilled health workers for women who give birth at home, partnerships with traditional birth attendants, increase health promotion about the dangers of childbirth complications, and increase education on postpartum birth control use. Key words: Determination, Utilization, Postnatal Care
Read More
S-10354
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rika Fianti; Pembimbing: Rita Damayanti, Iwan Ariawan; Penguji: Evi Martha, Yunita Wahyuningrum, Flourisa Juliaan
T-5356
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwika Aldila; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Iwan Ariawan, Chandra Rudyanto, Sarah Handayani
Abstrak: ABSTRAK Nama : Dwika Aldila Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Hubungan Antara Persepsi Terhadap Ragam Alat Kontrasepsi Dengan Keputusan Penggunaan MKJP Dan Non MKJP, Analisis Data Sekunder Pada Wanita Usia Subur di Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2016 Pembimbing : Dr. dra. Rita Damayanti, MSPH Rendahnya penggunaan MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) menjadi permasalahan pada program Keluarga Berencana (KB). MKJP memiliki tingkat efektivitas lebih tinggi, namun setiap tahun jumlah akseptor non MKJP (Suntik dan Pil) di Indonesia selalu mengalami peningkatan dibandingkan dengan MKJP (IUD dan Impant) yang cenderung menurun. Persepsi akseptor terhadap alat kontrasepsi menyebabkan ketidaksesuain akseptor memilih alat kontrasepsi. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang menganalisis data sekunder ICMM 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi ragam alat kontrasepsi terhadap keputusan penggunaan MKJP dan Non MKJP. Sampel dalam penelitian ini adalah wanita usia subur (WUS) usia 15 sampai 49 tahun yang menggunakan alat kontrasepsi dengan jumlah responden 9100. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi preferensi MKJP dan Non MKJP, efektivitas, pengetahuan dan durasi pernikahan terhadap keputusan penggunaan MKJP. Dalam upaya peningkatan cakupan penggunaan MKJP diperlukan strategi komunikasi yang tepat dalam pembuatan program keluarga berencana dengan memperhatikan preferensi akseptor terhadap alat kontrasepsi dan efektivitas alat KB kepada akseptor. Kata Kunci: Keluarga Berencana, MKJP, Persepsi alat kontrasepsi ABSTRACT Name : Dwika Aldila Program : Public Health Science Title : Correlation Between Women Contraceptive Tools Perception to Their Choice of LTCM Anda Non LTCM, A Secondary Data Analysis on Fertile Aged Women at West Nusa Tenggara Province In 2016 Academic Advisor : Dr. dra. Rita Damayanti, MSPH The low usage of Long Term Montraceptive Method (LTCM) has become a problem for the Family Planning (KB) program. LTCM has a higher effective rate than its counterpart the non LTCM. But every year the acceptor for the non LTCM contraceptive method (shots and pills) are increasing and the LTCM contraceptive method has been steadily declining. The acceptor perception on the contraceptive method have caused a fault on their contraceptive method choice. This research uses a cross sectional method design analysing a secondary data from the 2016 ICMM data. The purpose of this research is to know the perception of fertile female to the various contraceptive methods (LTCM and Non LTCM). The samples in this research are 9100 fertile women ranging from 15 to 49 years old whos been using contraceptive methods. The results show that there is a significant correlation between perception preference for the LTCM and Non LTCM. For an increase of the LTCM use coverage, it needs an effective communication strategy on the family planning program that pays attention to the acceptor's contraceptive method preference and the effectiveness of the contraceptive method for the acceptor Keywords: Family Planning, LTCM (Long Term Contraceptive Method), Contraceptive Method Perception
Read More
T-5774
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Surotul Ilmiyah; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Ede Surya Darmawan, Iwan Ariawan, Priyono, Dini Haryati
Abstrak: ABSTRAK Indonesia pernah berhasil mengendalikan laju pertumbuhan penduduk melalui program KB, namun angka Total Fertility Rate (TFR) masih stagnan, bahkan tinggi dibanding negara ASEAN. Metode Kontrasepsi jangka panjang (MKJP) adalah metode efektif yang disarankan pemerintah untuk menunda, memberi jarak kehamilan. Nusa Tenggara Barat merupakan provinsi dengan angka TFR cukup tinggi, Contraceptive Prevalence Rate (CPR) rendah dan penggunaan KB MKJP rendah. Desentralisasi seharusnya memperkuat dukungan kelembagaan untuk KB di tingkat desa. John Hopskin University melalui Pusat Penelitian Kesehatan UI dan Yayasan Cipta Cara Padu (YCCP) telah melakukan inisiasi advokasi UU Desa Nomor 6/2014 untuk kepentingan program KB. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan pemanfaatan alokasi dana desa untuk promosi MKJP dengan penggunaan MKJP di Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini dilakukan dengan desain cross sectional menggunakan analisis bivariat chi square dan alanisis multivariat menggunakan analisis multilevel dengan level 1 individu dan level dua desa dengan data sekunder endline survey Improving Contraceptive Method Mix Project (ICMM) yang diadakan John Hopskin University bekerjasama dengan Yayasan Cipta Cara Padu (YCCP) dan Pusat Penelitian Kesehatan UI tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh alokasi dana desa untuk meningkatkan penggunaan MKJP dengan nilai P sebesar 0,041, dan MOR sebesar MOR 1,162 artinya desa yang memiliki alokasi dana desa untuk promosi MKJP 1,162 kali lebih besar kecenderungan dalam meningkatkan jumlah akseptor pengguna MKJP di desa tersebut dibandingkan dengan desa yang tidak memiliki alokasi dana desa untuk promosi MKJP. Selain itu variabel lain yang berengaruh signifikan yaitu kebijakan KB di desa, kelembagaan KB desa, pengetahuan setelah dikontrol variabel pendidikan, usia,statsu ekonomi, biaya pelayanan KB, biaya transportasi. Rekomendasi penelitian ini, perlu ada intervensi advokasi kesehatan level desa di berbagai daerah dengan mengalokasikan dana desa diatas Rp.7.500.000,- untuk penguatan program keluarga berencana mendukung pemakaian MKJP. Hambatan akses dalam penggunaan KB MKJP ini dapat diatasi dengan penggunaan dana selain untuk kegiatan penggerakan penyuluhan, konseling, juga dapat digunakan untuk transport akseptor, dan transport kader yang mengantar akseptor ke fasilitas kesehatan. Kata kunci: pembangunan desa, dana desa, advokasi, MKJP, KB ABSTRACT Name : Surotul Ilmiyah Department : Public Health, Health Promotion Title : "Utilization of village funds allocation for family planning promotion with uptake Long Acting and Permanent Method (LAPM) in West Nusa Tenggara Province , Indonesia Advisor : Dr. Dra. Rita Damayanti, M.SPH Indonesia has managed to control the rate of population growth through family planning programs, but the Total Fertility Rate (TFR) is still stagnant, even higher than ASEAN countries. LAPM is an effective method and be a government recommendation for spacing and limitting, distinguish pregnancy. West Nusa Tenggara is high TFR province, low Contraceptive Prevalence Rate (CPR) and low LAPM. Decentralization should strengthen institutional support for family planning at the village level. John Hopskin University through the Center for Health Research Universitas Indonesia and Yayasan Cipta Cara Padu (YCCP) has initiated advocacy of Village Law No. 6/2014 for the interest of family planning (FP) programs. This study aims to examine the relationship between utilization of village fund allocation for LAPM promotion with uptake of LAPM in West Nusa Tenggara. This research was conducted by cross sectional design using bivariate analysis (chi square) and multivariate analysis using multilevel regresi logistic with level 1 (individual) and level two (village) with secondary data endline survey Improving Contraceptive Method Mix Project (ICMM) held by John Hopskin University in collaboration with Yayasan Cipta Cara Padu (YCCP) and Center for Health Research UI in 2016. The results show that there is influence of village fund allocation to increase the use of MKJP with P value of 0.041, and OR of OR 1,162 means that village that has a village funds allocation for promotion of LAPM, 1.162 times greater increased uptake LAPM acceptors in villages compared to villages with no allocation. In addition, variables that significantly influence LAPM uptake were village fund allocation for promoting LAPM, family planning policy in the village, FP village team, knowledge after adjusted by education, age, economic statistics, cost of family planning services, transportation costs. Recommendation of this research, there should be village-level health advocacy intervention in various regions by allocating village fund above Rp.7.500.000, and creating district working group (DWG) family planning for strengthening of family planning program to support uptake LAPM. Keywords: village development, village fund, advocacy, LAPM, Family Planning
Read More
T-5101
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heryanto Sumbung; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Sabarinah B. Prasetyo, Tri Krianto, Heny Rudiyanti, Sudirman
T-5330
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Meitasari; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Evi Martha, Christiana R. Titaley, Nur Fatayani
Abstrak:
Berbagai permasalahan kesehatan termasuk di Maluku diduga berhubungan dengan literasi kesehatan. Beberapa studi menyatakan masih terdapat tingkat literasi kesehatan yang terbatas, termasuk pada mahasiswa. Penelitian tentang literasi kesehatan pada mahasiswa khususnya di Indonesia bagian timur, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi kesehatan pada mahasiswa program sarjana reguler di Universitas Pattimura dan faktor-faktor yang berhubungan dengannya. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dari Studi Literasi Kesehatan 2019 dengan sampel mahasiswa sarjana angkatan 2018 dari 9 fakultas di Universitas Pattimura (n=356) dengan desain potong lintang. Pengukuran literasi kesehatan dilakukan menggunakan instrumen European Health Literacy Survey Question 16 (HLS-EU-Q16) yang telah diadaptasi ke dalam konteks dan Bahasa Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat literasi kesehatan terbatas dengan rata-rata skor sebesar 32,94 (SD=6,81) skala 0-50. Faktor yang berhubungan dengan tingkat literasi kesehatan adalah suku orang tua (p=0,002), kepemilikan asuransi kesehatan (p=0,029), dan riwayat penyakit (p=0,001). Faktor yang paling dominan adalah riwayat penyakit. Diperlukan intervensi yang bersifat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan literasi kesehatan pada mahasiswa.

Various health issues, notably in Maluku, are thought to be linked to health literacy. Several studies state that there is still a limited level of health literacy, including among students. Research on health literacy among students, particularly in eastern Indonesia, is still limited. This research aims to determine the level of health literacy among regular undergraduate students at Pattimura University and the factors related to it. This research is a secondary data analysis from the 2019 Health Literacy Study with a sample of 2018 undergraduate students from 9 faculties at Pattimura University (n=356) with a cross-sectional design. Health literacy was measured using the European Health Literacy Survey Question 16 (HLS-EU-Q16) instrument which has been adapted to the Indonesian context and language. The results of this study show a limited level of health literacy with an average score of 32.94 (SD=6.81) on a scale of 0-50 . Factors related to the level of health literacy were parents' ethnicity (p=0.002), health insurance ownership (p=0.029), and medical history (p=0.001). The most dominant factor is medical history. Interventions are needed that increase knowledge and skills to increase health literacy in students
Read More
T-7014
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hidayati Nur Kumalasari; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Robiana Modjo, Wahyu Wafiq Suharyanto
Abstrak:
Di beberapa negara, pekerjaan di bidang pertambangan dianggap sebagai salah satu pekerjaan yang paling berisiko sehingga dapat membuat pekerja rentan mengalami burnout. Laporan Future Forum Pulse Report Winter 2022 – 2023 menyatakan 42% pekerja mengalami burnout. Berdasarkan data statistik kecelakaan tambang 2019, terdapat 116 kecelakaan dengan 18 diantaranya menyebabkan kematian. Sebagian besar (70%) angka kecelakaan di Indonesia disebabkan oleh kurang diterapkannya perilaku keselamatan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan burnout dan pengetahuan keselamatan dengan perilaku keselamatan tambang PT. ABC project Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan studi cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling yang diikuti sebanyak 211 responden dengan mengisi kuisioner tertulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara burnout dengan perilaku keselamatan (p-value 0,016). Adanya hubungan yang lemah antara client related burnout dengan perilaku keselamatan (r=-0,137).  Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan keselamatan dengan perilaku keselamatan (p-value 0,251). Variabel pengetahuan keselamatan bukan merupakan confounding terhadap hubungan burnout dengan perilaku keselamatan (perubahan OR <10%), namun terdapat efek interaksi antara burnout dengan pengetahuan keselamatan terhadap perilaku keselamatan (p-value test of homogeneity = 0,017). Pekerja dengan tingkat burnout yang tinggi dan memiliki pengetahuan kurang baik berisiko 15,2 kali untuk memiliki perilaku keselamatan negatif.  Berdasarkan hasil penelitian, maka Perusahaan perlu melakukan monitoring burnout secara berkala, menambahkan jenis pelatihan terkait manajemen stres, problem solving dan lain sebagainya, memaksimalkan berbagai media kampanye K3 sebagai media promosi nomor telepon keadaan darurat lingkungan, mengadakan latihan tanggap darurat lingkungan, menyusun evaluasi pelatihan untuk mengukur keefektifan pelatihan dan kemampuan pekerja sebelum dan sesudah mendapatkan pelatihan.

In some countries, mining activity is considered as one of the riskiest jobs that put workers getting vulnerable to be burnout. The Future Forum Pulse Report Winter 2022 - 2023 stated that 42% of workers experience burnout. Based on statistical data on mining accidents in 2019, there were 116 accidents with 18 of them causing death. Most (70%) of the accident rate in Indonesia is caused by the lack of safety behavior implementation. Therefore, this study was conducted to determine the relationship between burnout and safety knowledge with mining safety behavior at PT. ABC project Sumbawa, West Nusa Tenggara. This study uses a quantitative method with a cross-sectional study. Sampling was carried out using the total sampling technique which was followed by 211 respondents by filling out a written questionnaire. The results of the study showed that there was a relationship between burnout and safety behavior (p-value 0,016). There is a weak relationship between client related burnout and safety behavior (r=-0.137). There was no relationship between safety knowledge and safety behavior (p-value 0,251). The safety knowledge variable did not confound the relationship between burnout and safety behavior (change in OR <10%). However, there was an interaction effect between burnout and safety knowledge on safety behavior (p-value test of homogeneity = 0,017). Workers with high levels of burnout and poor knowledge are 15,2 times more likely to have negative safety behavior. Based on the research results, the Company needs to conduct regular burnout monitoring, adds various trainings related to stress management, problem solving and so on, maximizes various Health and Safety Campaigns as media to promote environmental emergency telephone numbers, conducts environmental emergency response drill, prepares training evaluations to measure the effectiveness of training and workers' abilities before and after receiving training.
Read More
S-11838
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maulidyah Ananda; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Asfi Raihan
Abstrak:
Kecamatan Bolo adalah salah satu Kecamatan yang ditetapkan sebagai daerah kejadian luar biasa (KLB) DBD pada bulan Maret Tahun 2023. Hal ini dapat dipicu oleh kurangnya penerapan perilaku pencegahan DBD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan DBD pada masyarakat di Kecamatan Bolo. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional pada 110 responden berusia 17-60 tahun diambil secara consecutive sampling. Data dikumpulkan dengan cara responden mengisi kuesioner secara mandiri yang sebelumnya telah diujicobakan. Hasil penelitian menunjukkan responden memiliki perilaku pencegahan DBD dengan rata-rata nilai 64 dari skala 100. Hasil analisis variabel yang berhubungan dengan perilaku pencegahan DBD adalah: jenis kelamin (p=0,002), usia (p= 0,001,r= 0,307), pengetahuan (p= 0,001, r=0,43, persepsi manfaat (p=0,001, r=0,360) dan isyarat bertindak (p=0,006, r=0,360) sedangkan variabel yang tidak berhubungan dengan perilaku pencegahan DBD persepsi kerentanan (p=0,805, r=0,024), persepsi keparahan (p=0,266, r=0,107 dan persepsi hambatan (p=0,190, r=0,126). Atas dasar tersebut maka pemberian edukasi dan promosi kesehatan yang dilakukan secara rutin dengan metode-metode yang sesuai sangat diperlukan untuk meningkatkan perilaku pencegahan DBD.

Bolo District is one of the districts designated as a DHF outbreak area in March 2023. This could be triggered by the lack of implementation of DHF prevention behaviors. This study aimed to determine the factors associated with dengue prevention behavior in the community in Bolo. This study used a cross sectional study design on 110 respondents aged 17-60 years taken by consecutive sampling. Data was collected by respondents filling out a questionnaire independently which had previously been tested. The results of this study showed that the respondents had a good dengue prevention behavior which was 64 of a scale of 100. The results of the analysis of variables correlated with dengue prevention behavior, gender (p = 0.002), age (p = 0.001, r = 0.307), knowledge (p = 0.001, r = 0.43, perceived benefits (p = 0.001, r = 0.360) and cues to action (p = 0.006, r = 0.360), 006, r=0.360) while variables that were not correlated with DHF prevention behavior were perceived susceptibility (p=0.805, r=0.024), perceived severity (p=0.266, r=0.107 and perceived barriers (p=0.190, r=0.126). Providing education and health promotion that is carried out routinely with appropriate methods is needed to improve dengue prevention behavior.
Read More
S-11542
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lissa Ervina; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tri Krianto, Anwar Hassan, Yuniarti Situmorang, Yoan Hotnida Naomi Hutabarat
T-4112
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noralisa; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Evi Martha, Toha Muhaimin, Mularsih Restianingrum, Intan Endang S. Damanik
Abstrak: Angka kematian ibu dikalangan Suku Anak Dalam (SAD) sangat tinggi. Setiap tahun sejakTahun 2012 sampai Tahun 2017 terjadi satu kematian ibu. Penyebab utama adalah perdarahan daninfeksi, penyebab tidak langsung adalah faktor budaya dimana persalinan ditolong oleh dukun beranakdan tempat persalinan di pondok. Tujuan penelitian adalah untuk memotret keselarasan peran bidan dandukun dalam pandangan SAD pada masa kehamilan, persalinan, dan nifas. Metode penelitian kualitatifdengan pendekatan etnografi. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat tiga aktifitas SAD pada masakehamilan, persalinan, dan nifas yaitu cara perawatan diri dan cara mencegah terjadi bahaya kehamilan,persalinan, dan nifas, pemilihan tenaga penolong, serta upacara ritual, hal dominan yang mempengaruhiaktifitas selama kehamilan ,persalinan, dan nifas adalah pengalaman yang lalu, perasaan Saat Ini, anjurandan Pantangan , pusat kekuatan pengambilan Keputusan. SAD menyatakan bahwa bidan hanya memilikiperhatian yang positif dalam memberikan pelayanan kesehatan, sedangkan dukun mampu memberikantiga unsur inti pertolongan. Bidan menyatakan Sulit berkomunikasi dan jarang melakukan interaksidengan SAD, sedangkan dukun mampu berkomunikasi dan berinteraksi baik dengan SAD. Dukunmenyatakan SAD memiliki kepatuhan terhadap tradisi dalam pemilihan penolong, sedangkan bidanmenjaga jarak dengan SAD. Menurut temenggung SAD akan memilih bidan sebagai penolong, apabiladukun tidak mampu lagi memberikan pertolongan.Kata kunci: peran bidan;peran dukun;Suku Anak Dalam (SAD);kehamilan;persalinan;nifas
view Suku Anak Dalam (SAD) in Pregnancy, Delivery, and Postpartumat Tebo, Jambi 2018Maternal mortality rate among Suku Anak Dalam (SAD) is very high. Every year from 2012to 2017 there is one maternal death. The main cause is bleeding and infection, indirect cause is a culturalfactor where labor is helped by traditional birth attendants (TBA) and place of birth in the lodge. Theobjective of the study was to photograph the harmony of the role of midwives and TBA in the view ofSAD during pregnancy, maternity, and childbirth. Qualitative research method with ethnographyapproach. The results showed that there were three SAD activities during pregnancy, maternity, andchildbirth, namely self-care and how to prevent the occurrence of danger of pregnancy, maternity, andchildbirth, the selection of rescue workers, as well as ritual ceremonies, dominant things that affectactivities during pregnancy, maternity, and childbirth are past experiences, current feelings, suggestionsand abstinences, centers of decision-making power. SAD states that midwives have only positiveattention in providing health services, whereas TBA are able to provide three core elements of relief.Midwives say Difficult to communicate and rarely interact with SAD, while TBA are able tocommunicate and interact well with SAD. TBA claim SAD has adherence to tradition in helper election,while midwife keeps distance with SAD. According to the Chief of SAD the midwife will choose as ahelper, if the TBA is unable to provide help.Keywords: midwife's role;TBA's role; Suku Anak Dalam (SAD); pregnancy; maternity; childbirth.
Read More
T-5435
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive