Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 42387 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Eka Noyan Nur Annisa; Pembimbing: Besral, Evi Martha; Penguji: R. Sutiawan, Leny Nurhayati Rosalin, Andri Mursita
Abstrak: Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, terjadi penurunan prevalensi perkawinan anak sebanyak 3,5%, yaitu 14,67% pada tahun 2008 menjadi 11,21% pada tahun 2018. Namun, penurunan yang terjadi belum mencapai target yang diharapkan dan tergolong lambat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pernikahan usia dini terhadap kejadian stunting pada anak 0-24 bulan di Indonesia. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan menggunakan data sekunder Indonesia Family Life Survey (IFLS) tahun 2007 dan 2014 dengan jumlah sampel 1.307 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi perkawinan anak pada tahun 2007 sebesar 29,0% menurun pada tahun 2014 menjadi 24,1%. Begitupun dengan prevalensi stunting pada anak usia 0-24 bulan menurun, yaitu 32,6% pada tahun 2007 menjadi 31,3% pada tahun 2014. Analisis Regresi Logistik Ganda menunjukkan perkawinan anak berpengaruh terhadap kejadian stunting anak usia 0-24 bulan, dengan nilai OR=1,57. Pengaruh pernikahan usia dini terhadap stunting berbeda menurut riwayat usia pertama melahirkan dan riwayat menyusui. Untuk mencegah praktik perkawinan anak, diharapakn pemerintah melakukan sosialisasi UU Perkawinan No. 16 tahun 2019 mengenai batas minimum usia menikah bagi perempuan dan laki-laki adalah 19 tahun kepada seluruh masyarakat. Selain itu, meningkatkan upaya pelayanan antenatal terpadu, serta konseling menyusui dan pemberian makan pada anak, terutama bagi ibu remaja.
In the past ten years, there has been a decline in the prevalence of early marriage by 3,5%, namely 14,67% in 2008 to 11,21% in 2018. However, the decline has not yet reached the expected target and is relatively slow. This study aims to determine the effect of early marriage on the incidence of stunting in children 0-24 months in Indonesia. The research design used was cross sectional using secondary data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) in 2007 and 2014 with a sample of 1.307 respondents. The result showed that the prevalence of early marriage in 2007 was 29,0% decreased in 2014 to 24,1%. Likewise, the prevalence of stunting in children 024 months decreased, namely 32,6% in 2007 to 31,3% in 2014. Analysis of Multiple Logistic Regression shows early marriage affects the incidence of stunting of children aged 0-24 months, with value of OR = 1,57. The effect of early marriage on stunting differs according to age at first delivery and breastfeeding history. To prevent the practice of early marriage, the government is expected to disseminate the Marriage Law No. 16 of 2019 concerning the minimum aged for marriage for women and men is 19 years for the whole community. In addition, increasing efforts to integrated antenatal services, as well as breastfeeding and feeding counseling to children, especially for adolescent mothers.
Read More
T-5976
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rini Meiandayati; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Besral, Yuni Zahraini, Eti Rohati
Abstrak: Pendahuluan:Wasting merupakan salah satu permasalahan status gizi serius yang dapatmeningkatkan kematian bayi dan balita. Indonesia merupakan negara kontributor wastingke 4 tertinggi di dunia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui trend wasting1993-2014 dan hubungan berat lahir dengan wasting pada anak usia 0-24 bulan tahun 2014.Metode: Desain penelitian adalah cross-sectional. Sampel penelitian ini pada IndonesiaFamily Life Survey (1FLS) yaitu anak yang berusia 0-24 bulan tahun 2014 sebesar 1476orang. Data dianalisis dengan regresi logistik. Hasil: Trend wasting 1993-2014memperlihatkan sedikit penurunan (dari 11,3% 1993 menjadi 11,0% 2014) dan tidakbermakna secara statistik (P value : 0,480). Hubungan berat lahir dengan wasting pada anakusia 0-24 bulan berbeda menurut kepemilikan buku KIA. Setelah dikontrol oleh pemberianASI eksklusif, waktu pemberian MP ASI pertama kali, usia anak, pekerjaan ibu dan statuskemiskinan, anak yang memiliki berat lahir <2500 gram yang tidak memiliki buku KIAmemiliki peluang 6,7 kali lebih tinggi untuk mengalami wasting dibandingkan anak yangmemiliki berat lahir ≥2500 gram, Jika memiliki buku KIA anak dengan berat lahir <2500gram memiliki peluang 2,6 kali lebih tinggi untuk mengalami wasting. Kesimpulan : Beratlahir menjadi salah satu faktor penting dalam wasting. Diharapkan pemangku kebijakanmelakukan evaluasi dan perencanaan program yang terkait dengan pencegahan BBLRkepada remaja, calon ibu dan ibu hamil agar mengerti pentingnya pemenuhan gizi pada saatremaja (tidak kurus dan tidak pendek), pentingnya meminum tablet penambah darah agartidak anemia karena remaja merupakan calon ibu yang jika tidak terpenuhi gizinya berisikomelahirkan bayi BBLR.Kata Kunci : Wasting, Berat Lahir, Buku KIA, Trend.
Read More
T-5408
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amran Julianto Tanesib; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Sutanto Priyo Hastono, Dakhlan Choeron, Intje Picauly
Abstrak:
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang determinannya dapat bervariasi antarwilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan determinan stunting pada wilayah dengan prevalensi stunting tinggi dan rendah di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini menggunankan desain cross-sectional. Analisis data dilakukan menggunakan regresi logistik multivariat yang dipisahkan berdasarkan kategori prevalensi wilayah, dengan pelaporan adjusted odds ratio (AOR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat lahir rendah (<2500 gram) merupakan determinan yang konsisten pada kedua wilayah. Pada wilayah prevalensi tinggi, kejadian stunting berhubungan signifikan dengan jenis kelamin laki-laki (AOR = 1,36; 95% CI: 1,07-1,72), usia anak 12-23 bulan (AOR = 2,34; 95% CI: 2,25-2,46), berat lahir rendah (AOR = 2,30; 95% CI: 1,52-3,50), konsumsi tablet tambah darah (TTD) <90 tablet selama kehamilan (AOR = 1,51; 95% CI: 1,18-1,94), serta status sosial ekonomi terbawah (AOR = 2,83; 95% CI: 1,84-4,37). Pada wilayah prevalensi rendah, stunting dikaitkan dengan berat lahir rendah (AOR = 3,61; 95% CI: 1,07-12,17) dan pendidikan ibu tingkat SMP (AOR = 4,22; 95% CI: 1,60-11,17). Penelitian ini menunjukkan bahwa determinan stunting bersifat kontekstual sesuai tingkat prevalensi wilayah. Pada wilayah prevalensi tinggi, stunting dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis anak, kondisi sosial ekonomi, dan gizi ibu selama kehamilan, sedangkan pada wilayah prevalensi rendah stunting lebih bersifat selektif.

Stunting is a chronic nutritional problem whose determinants may vary across regions. This study aimed to analyze differences in the determinants of stunting between areas with high and low stunting prevalence in Indonesia using data from the 2023 Indonesia Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). A cross-sectional study design was employed. The analysis was conducted using multivariable logistic regression stratified by regional prevalence category, with results reported as adjusted odds ratios (AOR) and 95% confidence intervals (CI). The results showed that low birth weight (<2500 grams) was a consistent determinant in both regions. In high-prevalence areas, stunting was significantly associated with male sex (AOR = 1.36; 95% CI: 1.07-1.72), child age 12-23 months (AOR = 2.34; 95% CI: 2.25-2.46), low birth weight (AOR = 2.30; 95% CI: 1.52-3.50), consumption of fewer than 90 iron tablets during pregnancy (AOR = 1.51; 95% CI: 1.18-1.94), and the lowest socioeconomic status (AOR = 2.83; 95% CI: 1.84-4.37). In low-prevalence areas, stunting was associated with low birth weight (AOR = 3.61; 95% CI: 1.07–12.17) and maternal education at the junior secondary school level (AOR = 4.22; 95% CI: 1.60-11.17). The findings indicate that the determinants of stunting are contextual and vary according to regional prevalence levels. In high-prevalence areas, stunting is influenced by a combination of child biological factors, socioeconomic conditions, and maternal nutritional status during pregnancy, whereas in low-prevalence areas, stunting appears to be more selective in nature.
Read More
T-7505
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mega Santi Widya Putri; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Anies Irawati, Endang Sri Wahyuningsih
Abstrak: ABSTRAK waktu yang lama, biasanya diikuti dengan frekuensi sering sakit, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya pengasuhan, penggunaan air yang tidak bersih, lingkungan yang tidak sehat, terbatasnya akses terhadap pangan dan kemiskinan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi susu dengan kejadian stunting pada anak balita usia 24 bulan di Kecamatan Duren Sawit tahun 2018. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian case control, jumlah sampel penelitian ini adalah 74 orang, pada kelompok kasus 37 anak, dan pada kelompok kontrol 37 anak. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Duren Sawit pada anak balita usia 24 bulan. Hasil: Hasil penelitian analisis bivariat menunjukkan terdapat pengaruh antara konsumsi susu, frekuensi minum susu, jumlah minum susu, mulai minum susu, pendidikan ibu, pengetahuan gizi ibu, penyakit infeksi, asupan energi, asupan lemak, dan asupan zat besi dengan kejadian stunting. Tidak ditemukan pengaruh pendidikan ayah, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, besar keluarga, riwayat ASI Eksklusif, asupan karbohidrat, dan asupan kalsium dengan kejadian stunting. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsumsi susu, penyakit infeksi, dan asupan energi berpengaruh terhadap kejadian stunting dan yang paling dominan dalam mempengaruhi kejadian stunting adalah konsumsi susu. Kesimpulan: Konsumsi susu memiliki pengaruh dengan kejadian stunting pada anak usia 24 bulan. Kata Kunci : Balita, Stunting, Konsumsi Susu Introduction: Stunting is a chronic malnutrition caused by a lack of long-term nutritional intake, usually followed by frequent frequent illness, caused by factors such as lack of care, impure water use, unhealthy environment, limited access to food and poverty . Purpose: This study aims to determine the effect of milk consumption with the incidence of stunting in children aged 24 months in Kecamatan Duren Sawit in 2018. Method: This study is a quantitative study with case control research design, the number of samples of this study was 74 people, in case group 37 children, and in the control group of 37 children. This research was conducted in Duren Sawit Subdistrict in children aged 24 months. Results: The results of bivariate analysis showed that there was influence between milk consumption, milk drinking frequency, milk drinking, milk, mother education, mother's nutrition, infectious diseases, energy intake, fat intake, and iron intake with stunting events. No effect of father's education, father's work, mother's job, family size, history of exclusive breastfeeding, carbohydrate intake, and calcium intake with stunting events. The result of multivariate analysis showed that milk consumption, infectious diseases, and energy intake had an effect on stunting event and the most dominant in influencing stunting incidence was milk consumption. Conclusion: Milk consumption has an influence with stunting events in children aged 24 months. Key words: Toddler, Stunting, Milk Consumption
Read More
T-5417
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Lidra Maribeth; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Kemal Nazarudin Siregar, Toha Muhaimin, Yekti Widodo, Anindita Dyah Sekarpuri
Abstrak: Indonesia menjadi salah satu negara dengan penyumbang angka stunting terbesar kelima di dunia.Kehamilan tidak diinginkan dapat menjadi salah satu faktor yang mungkin berperan besar dalam menyebabkan kejadian stunting pada anak usia 0-5 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kehamilan tidak diinginkan dengan kejadian stunting pada anak usia 0-5 tahun. Terdapat konfonding dalam penelitian ini yaitu pada variabel pendidikan dan status ekonomi. Pendidikan dan status ekonomi memiliki hubungan signifikan pada analisis multivariat (nilai p<0,001) dengan kejadian stunting
Read More
T-5788
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hasyyati; Pembimbing: Helda; Penguji: Yovsyah, Astrid Hereline
Abstrak: Skripsi ini membahas hubungan pemberian stimulasi terhadap perkembangan anak umur 12 bulan di Wilayah Kecamatan Jambe pada bulan Mei tahun 2017. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional dan pengambilan sampel dilakukan dengan Total Sampling. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 92,9% dari anak umur 12 bulan di wilayah Kecamatan Jambe mengalami perkembangan yang sesuai dengan umurnya. Sebanyak 61,4% anak umur 12 bulan mendapatkan stimulasi yang cukup. Sebanyak 67,2% dari responden merupaka perempuan. Sebanyak 94.3% anak memiliki berat badan lahir yang normal saat lahir. Sebanyak 94,3% anak memiliki status gizi baik. Sebanyak 68,6% anak diberikan ASI eksklusif. Sebanyak 68,6% dari responden ibu memiliki pendidikan rendah dan 91,4% dari responden ibu tidak bekerja. Sebanyak 85,7% dari anak umur 12 bulan diasuh oleh selain orang tua. Sebanyak 77,1% memiliki jumlah saudara lebih dari satu. Terdapat hubungan antara pemberian stimulasi dengan perkembangan anak umur 12 bulan di Kecamatan jambe pada bulan Mei tahun 2017 (p=0,04). Kata kunci: Perkembangan anak,stimulasi. This thesis discusses about relationship between stimulation with the development of childr aged 13 in jambe sub-district in may 2017. This study is a quantitative study with cross sectional research design and sampling carried out by the Total Sampling. The results showed that 92,9% have the good development of Child, 61,4% child aged 12 in Jambe Sub-district have a sufficient stimulation, 67,2% respondents are girls, 94.3% child have a normal weight when they born, 94,3% child have a good nutrition, 68,6% ASI eksklusif, 68,6% respondents have a low educated mothers, 91,4% mothers does not doing work, 14,3% full taken care ye teir parents, 77,1% have more than one siblings. There is a relatonship between stimuation and the development of child aged 13 in Jambe Sub-district in May 2017 (p=0,04). Keyword : development of child, stimulation.
Read More
S-9559
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Syafitriani; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Ayu Dewi Sartika, Yuni Zahraini, Guspianto
Abstrak: Indonesia termasuk dalam 17 negara yang mengalami beban ganda permasalahan gizi, salah satunya adalah stunting sebesar 37,2%, Tahun 2021 terlihat laju penurunan prevalensi stunting sudah semakin membaik terlihat data SSGI 2021 menunjukkan prevalensi stunting dari Tahun 2019 menurun 3,9% diikuti penurunan tahun 2021 menurun 3,3% dari 27,67% menjadi 24,4% di Tahun 2021. Kehamilan Tidak Diinginkan di Indonesia cenderung stagnan dan belum turun. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 memperlihatkan prevalensi KTD sebesar 15%, selanjutnya tahun 2018 Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program KKBPK (SKAP) memperlihatkan angka KTD 15%. Kehamilan tidak diinginkan menjadi faktor pemungkin dan memiliki peranan dalam menyebabkan stunting, dimulai sejak masa kehamilan seperti kesiapan untuk memiliki anak memberikan pengaruh terhadap kejadian kehamilan tidak diinginkan dan pola pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui hubungan kehamilan tidak diinginkan dengan kejadian stunting pada balita 12-24 bulan di Indonesia, bersifat kuantitatif menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Penelitian ini mencakup seluruh provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia. Penelitian ini menggunakan analisis data dengan menu complex samples. Hasil penelitian ini didapatkan tidak ada hubungan bermakna antara Kehamilan Tidak Diinginkan dengan Kejadian Stunting pada Baduta (12-24 bulan) di Indonesia pada analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square dengan nilai p 0,648 (OR: 1,054; 95%CI: 0,840 ? 1,324). Pada analisis multivariat dengan menggunakan uji regeresi logistik menunjukkan Kehamilan Tidak Diinginkan memiliki pengaruh 1,287 berisiko lebih besar pada Kehamilan Tidak Diinginkan untuk menjadi Stunting dibandingkan pada Kehamilan Diinginkan (p 0,086, OR: 1,287; 95%CI: 0,965-1,716). Terdapat konfonding pada penelitian ini yaitu variabel ASI Eksklusif (aOR=1,l92: 95%CI : 0,987-1,441: p value 0,069). Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), Tingkat Sosial Ekonomi dan Jenis Kelamin merupakan faktor pengontrol yang mempengaruhi kejadian Stunting pada Baduta (12-24 bulan) di Indonesia, bayi yang lahir BBLR akan memiliki peluang risiko 2,508 kali lebih besar untuk menjadi stunting pada Baduta (12-24 bulan) dibanding dengan bayi lahir normal (p 0,000, OR: 2,508; 95%CI: 1,632-3,855), semakin rendah tingkat sosial ekonomi keluarga akan berisiko 2,151 kali lebih besar untuk mengalami stunting (p0,000, OR:2,151; 95%CI: 1,596-2,900), jenis kelamin laki-laki lebih memiliki kemungkinan mengalami stunting 1.309 kali berisiko dibanding anak perempuan (aOR: 1,309; 95% CI 1,090  1,573; pvalue = 0,004).
Indonesia is one of 17 countries that have experienied in a double burden of nutritional problems, one of which is stunting of 37.2%, In 2021, the rate of decline in the prevalence of stunting has improved, as can be seen from the 2021 SSGI data showing the prevalence of stunting from 2019 decreased by 3.9% followed by a decrease in 2021 decreased by 3.3% from 27.67% to 24.4% in 2021. Unwanted pregnancies in Indonesia tend to be stagnant and have not decreased. Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) showed an adverse event prevalence of 15%, then the Program Performance and Accountability Survey (SKAP) in 2018 showed an adverse event rate of 15%. Unwanted pregnancy is an enabling factor and has a role in causing stunting, starting from the time of pregnancy such as readiness to have children which influences the incidence of unwanted pregnancies and parenting patterns. This study aims to determine the relationship between unwanted pregnancies and the incidence of stunting in toddlers 12-24 months in Indonesia, using secondary data from Riskesdas 2018 in quantitative methods. This research covered all provinces and districts/cities in Indonesia. This research uses data analysis with complex samples menu. The result of this research showed that there was no significant relationship between unwanted pregnancy and stunting in Baduta (12-24 months) in Indonesia in bivariate analysis using the chi-square test with a p-value of p 0,648 (OR: 1,054; 95%CI: 0,840 ? 1,324). In multivariate analysis using logistic regression test showed that unwanted pregnancy had a 1.287 greater risk of unwanted pregnancy becoming stunting than unwanted pregnancy (p 0,086, OR: 1,287; 95%CI: 0,965-1,716). There was a confounding in this research, namely the exclusive breastfeeding variable (aOR=1,192: 95%CI : 0,987-1,441: p value 0,069). Low Birth Weight (LBW), Socioeconomic Level and Gender are controlling factors that influence the incidence of stunting in Baduta (12-24 months) in Indonesia, the babies born with LBW will have a 2,508 times greater chance of being stunting in Baduta (12-24 months) compared to babies born normally (p 0,000, OR: 2,508; 95%CI: 1,632-3,855), the lower the socio economic level of the family, the risk is 2.151 times greater for stunting p 0,000, OR:2,151; 95%CI: 1,596-2,900), the male is more likely to experience stunting 1.309 times the risk than female (aOR: 1,309; 95% CI 1,090  1,573; pvalue = 0,004).
Read More
T-6505
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Esti Katherini Adhi; Pembimbing; Sandra Fikawati, Ahmad Syafiq; Penguji: Endang L. Achadi, Marudut. Mayang Sari
Abstrak: ABSTRAK Prevalensi balita stunting di Kab.Bogor tahun 2013 sebesar 28,3%. Hal tersebut masih menunjukan bahwa stunting di Kab. Bogor masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Susu merupakan sumber pangan yang mengandung energi, protein dan mikronutrien yang hanya ditemukan pada sumber makanan hewani yang dapat berfungsi dalam merangsang pertumbuhan. Pelarangan promosi susu pada anak dibawah umur 3 tahun memunculkan kekhawatiran akan jumlah balita stunting yang malah akan meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara asupan susu dengan stunting ada anak balita umur 24 bulan di Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor Tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan sampel penelitian sebanyak 113 balita. Hasil penelitian menunjukan 26,5% balita umur 24 bulan di Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor Tahun 2018 mengalami stunting. Terdapat hubungan antara umur mulai minum susu dengan kejadian stunting (p=0,021), sedangkan tipe konsumsi susu (p=0,734) dan frekuensi minum susu (p=0,588) tidak mempunyai hubungan dengan kejadian stunting. Balita yang mulai minum susu umur ≥12 bulan mempunyai peluang 4,1 kali (95% CI: 1,23-13,32) untuk menjadi stunting dibandingkan dengan balita yang minum susu umur <12 bulan setelah dikontrol pekerjaan ibu, pendidikan bapak dan asupan protein. Kata kunci: Stunting, asupan susu, mulai minum susu, tipe konsumsi susu, frekuensi minum susu The prevalence of under five children stunting in Kab.Bogor in 2013 is 28,3%. It is shows that stunting in Kab. Bogor is still a public health problem. Milk is a food source that contains energy, protein and micronutrients that found only in animal food sources that can stimulating growth. The prohibition of promotion of milk in children under 3 years old raises concerns about increasing of stunting children . The purpose of this study was to determine the corelation between milk intake and stunting on 24-month-old child in Bojong Gede sub-district, Bogor Regency in 2018. This study used cross-sectional method with 113 research samples. The results showed 26.5% of children aged 24 months in Bojong Gede District, Bogor Regency in 2018 had stunting. There was a corelation between drinking milk start date and stunting (p = 0,021), while type milk consumption (p = 0,734) and milk drinking frequency (p = 0,588) had no corelation with stunting . Toddlers who start drinking milk ≥12 months old have a chance of 4.1 times (95% CI: 1,23-13,32) encounter stunting compared to under-fives who drink milk <12 months after controlled by mother's job, father's education and intake protein. Keyword : stunting, dairy intake, drinking milk start date, type milk consumption, milk drinking frequency
Read More
T-5410
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Octa Amalia; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Sabarinah, Lies Rosdianty, Weni Kusumaningrum
Abstrak:
Kekerasan terhadap anak merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berpengaruh pada kesehatan dan kesejahteraan anak di sepanjang hidupnya. Berdasarkan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) pada tahun 2022, lebih dari separuh kasus kekerasan terjadi pada anak dan 34,27% pada anak berusia 13-17 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berkontribusi pada kejadian kekerasan terhadap anak usia 13-17 tahun di Indonesia. Penelitian menggunakan kerangka model sosio-ekologi yang menganalisis faktor individu (jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan), interpersonal (status domisili, status orang tua kandung, pengalaman menyaksikan kekerasan, dan status pernikahan), dan komunitas (tempat tinggal) terhadap kekerasan anak berusia 13-17 tahun. Penelitian ini menggunakan data Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) di Indonesia tahun 2021 dengan studi cross sectional dan sampel sebanyak 4.903 anak berusia 13-17 tahun, yang dianalisis menggunakan uji regresi logistik. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari anak-anak usia 13-17 tahun mengalami kekerasan, dengan tingkat prevalensi sebesar 46,2% (95% CI: 43,6%-48,8%). Kekerasan ini terjadi pada anak perempuan sebanyak 50,6% dan anak laki-laki sebanyak 42,1%. Bentuk kekerasan tersebut meliputi kekerasan fisik (13,8%), kekerasan emosional (41,6%), dan kekerasan seksual (6,9%). Faktor yang berhubungan dengan kekerasan terhadap anak adalah status pekerjaan anak (OR: 1,852; 95% CI: 1,478-2,320), status domisili (OR: 1,253; 95% CI: 1,018-1,541), dan pengalaman anak menyaksikan kekerasan (OR: 6,784; 95% CI: 5,778-7,966) yang merupakan faktor paling dominan. Anak yang berpengalaman menyaksikan kekerasan berisiko hampir 7 kali untuk mengalami kekerasan dibanding yang tidak memiliki pengalaman, setelah dikontrol oleh status pekerjaan dan status domisili. Diperlukan peningkatan kesadaran, penguatan intervensi, dan deteksi dini dalam pencegahan kekerasan terhadap anak.

Violence against children is a public health concern that has long-term impacts on their health and well-being. In 2022, the Online System for the Protection of Women and Children (SIMFONI PPA) reported that more than half of the violence cases involved children, with 34.27% of these cases affecting children aged 13-17 years. This study aims to identify the factors contributing to violence against children aged 13-17 years. Using a socio-ecological model framework, it analyzes individual factors (sex, education level, and employment status), interpersonal factors (living arrangement, biological parents' status, witnessing violence, and marital status), and community factors (place of residence), related to child abuse among 13-17 years olds. The study used data from the National Survey on Children and Adolescent’ Life Experience (SNPHAR) conducted in Indonesia in 2021. It employed a cross-sectional design, which involved a sample of 4,903 children aged 13-17 years, and conducted data analysis using logistic regression. The research findings indicate that nearly half of children aged 13-17 experience violence, with a prevalence rate of 46.2% (95% CI: 43,6%-48,8%). This violence occurs in 50,6% of girls and 42,1% of boys. The forms of violence include physical violence (13.8%), emotional violence (41.6%), and sexual violence (6.9%). The factors associated with violence against children include the child's employment status (OR: 1.852; 95% CI: 1.478-2.320), living arrangement (OR: 1.253; 95% CI: 1.018-1.541), and witnessing violence (OR: 6.784; 95% CI: 5.778-7.966), with witnessing violence being the most dominant factor. Children who have witnessed violence are at nearly 7 times higher risk of experiencing violence compared to those without such experiences, after controlling for employment status and living arrangement. There is need for increased awareness, strengthened interventions, and early detection in the prevention of violence against children.
Read More
T-6672
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adimas Siti Helvanisari Denang; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Irwan
Abstrak: Stunting atau pendek (PB/U < -2SD) merupakan kegagalan pertumbuhan liniear yangmenjadi permasalahan dunia terutama negara berkembang. Stunting terjadi akibat daribanyak faktor diantaranya, faktor maternal, lingkungan, MPASI tidak adekuat, danpemberian ASI. Faktor maternal yang mempengaruhi kejadian MPASI adalahkarakteristik ibu, riwayat kehamilan, dan kesehatan mental. Salah satu masalahkesehatan mental pada ibu adalah gangguan mood. Pada penelitian ini penulis inginmengetahui hubungan gangguan mood dan pola asuh gizi terhadap stunting. Penelitianini menggunakan desain cross-sectional dengan menggunakan data Riskesdas 2018.Penelitian ini dimulai dari September 2019 s/d April 2020. Analisis pada penelitian iniadalah univariate, bivariate dan multivariate. Uji Chi-square pada penelitian inimendapati bahwa ada hubungan signifikan gangguan mood, pola asuh gizi dankarakteristik ibu terhadap stunting (p value < 0.001). Gangguan mood, ASI Eksklusif,MPASI tepat waktu, dan pekerjaan ibu merupakan faktor protektif terhadap stunting(OR<1) Hasil analisis multvariat mendapati usia adalah faktor yang paling kuatmempengaruhi kejadian stunting. Peneliti menyaranakan pemerintah untuk melakukanupaya yang lebih gencar lagi pada skrining gangguan mood, pemantauan status gizi danpemantauan status gizi ibu dan anak.Kata Kunci :Stunting, gangguan mood, pola asuh gizi.
Read More
S-10374
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive