Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38673 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muri Maftuchan; Promotor: Indang Trihandini; Kopromotor: Nuryahati Adnan, Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Hadi Pratomo, Anton Rahardjo, Tri Erri Astoeti, Magdarina D. Agtini, Indirawati Tjahja
Abstrak:
Sebagian besar anak Indonesia masih belum menggosok gigi sebelum tidur dan sesudah sarapan. Edukasi model peer grup terbukti mampu meningkatkan kebersihan gigi pada anak sekolah. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui perubahan skor pengetahuan, sikap dan kebersihan gigi mulut pada anak usia 8 - 11 tahun pada kelompok yang diberikan edukasi oleh dokter kecil di Tangerang Selatan. Desain yang diginakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen pada 143 responden anak dari kelas 3,4 dan 5 di dua sekolah dasar pemerintah. Pada kelompok intervensi 15 anak dipilih sebagai dokter kecil dan ditugaskan memberikan edukasi sedangkan kelompok kontrol tidak . Data pengetahuan dan sikap diambil dikumpulkan menggunakan kuesioner yang diisi oleh sendiri oleh responden sedangkan data kebersihan gigi berupa OHIS dan PHP dikumpulkan melalui pemeriksaan intraoral oleh examiner. Data Diolah dengan t test dependen dan independen Hasil: Terdapat peningkatan pada skor pengetahuan, sikap, OHIS dan PHP pada kelompok intervensi setelah diberikan edukasi (p=0,005) dan perbedaan signifikan antar kelompok yang diberikan edukasi dengan tanpa perlakuan(p<0,05). Saran Edukasi kesehatan gigi mulut dengan menggerakkan anak sebagai dokter kecil khusus kesehatan gigi perlu dlaksanakan disekolah namun pelaksanaannya tetap perlu didampingi oleh tenaga kesehatan dan dukungan oleh Sekolah
Read More
D-428
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risna Dewi Yanti; Promotor: Sabarinah; Kopromotor: Agustin Kusumayati, Erna Herawati; Penguji: Evi Martha, Pujiyanto, Ade Jubaedah, Tina Hayati Dahlan, Asep Surahman
Abstrak:
Latar Belakang Penurunan usia menarche di Indonesia menyebabkan sebagian siswi SD telah mengalami menstruasi pada usia dini, sehingga meningkatkan risiko ketidaksiapan dalam menjaga kesehatan menstruasi. Dalam konteks masyarakat Sunda, faktor sosiokultural turut memengaruhi pemahaman dan praktik menstruasi, sehingga diperlukan pendekatan yang kontekstual dengan melibatkan ibu sebagai aktor utama. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model edukasi berbasis sosiokultural untuk meningkatkan dukungan ibu terhadap kesehatan menstruasi siswi SD di Kabupaten Garut. Metode Penelitian menggunakan desain Mixed Method Exploratory Sequential Design dalam tiga tahap, yaitu studi kualitatif, pengembangan model, dan uji intervensi dengan desain quasi experiment. Penelitian dilaksanakan pada 16 SD di Kabupaten Garut pada  tahun 2024–2025. Sampel  adalah ibu siswi yang telah mengalami menstruasi sebanyak 166 orang, terdiri dari 83 kelompok intervensi dan 83 kelompok kontrol. Analisis data dilakukan menggunakan Generalized Estimating Equations (GEE) dan Difference-in-Differences (DiD). Hasil: Hasil penelitian kualitatif dan pengembangan model menghasilan edukasi Ambu Binangkit yaitu  model edukasi kesehatan menstruasi yang dikembangkan dengan pendekatan sosiokultural Sunda. Dengan analisis statistik GEE diperlihatkan bahwa skor dukungan ibu pada kelompok intervensi meningkat sebesar 18,30 (95% SK: 15,48–21,12; p < 0,001)  Hasil analisis DiD terdapat peningkatan skor dukungan ibu pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol dengan koefisien sebesar 21,077 (p < 0,001). Intervensi model berkontribusi terhadap peningkatan dukungan ibu sebesar 68% pada posttest pertama  dan 77% pada posttest kedua   Peningkatan terbesar terjadi pada dukungan instrumental yaitu 20.15 (95% SK: 16.33–23.97; <0.001) dan dukungan pendampingan yaitu 19.06 (95%SK: 14.83–23.30;<0.001) sementara dukungan emosional dan informasional juga meningkat secara signifikan meskipun dengan besaran efek yang lebih rendah. Kesimpulan dan Saran Model Ambu Binangkit efektif dalam meningkatkan dukungan ibu terhadap kesehatan menstruasi anak melalui pendekatan sosiokultural yang kontekstual pada tatanan SD. Model ini berpotensi dikembangkan sebagai strategi intervensi berbasis keluarga dalam meningkatkan kesehatan menstruasi sejak usia SD. Implementasi model perlu diperkuat melalui integrasi dengan program sekolah dan layanan kesehatan guna menjamin keberlanjutan dan perluasan dampak Kata kunci: kesehatan menstruasi, dukungan ibu, sosiokultural, Ambu Binangkit, SD

Background: The declining age at menarche in Indonesia has resulted in some primary school girls experiencing menstruation at an early age, thereby increasing their risk of being unprepared to manage menstrual health. In the Sundanese community context, sociocultural factors influence menstrual understanding and practices, highlighting the need for a contextual approach that involves mothers as key actors. This study aimed to develop a sociocultural-based educational model to improve maternal support for the menstrual health of primary school girls in Garut Regency. Methods: This study employed an exploratory sequential mixed methods design conducted in three stages: a qualitative study, model development, and an intervention trial using a quasi-experimental design. The study was conducted in 16 primary schools in Garut Regency from 2024 to 2025. The sample consisted of 166 mothers of schoolgirls who had experienced menstruation, comprising 83 participants in the intervention group and 83 participants in the control group. Data were analyzed using Generalized Estimating Equations (GEE) and Difference-in-Differences (DiD). Results: The qualitative findings and model development process resulted in the Ambu Binangkit educational model, a menstrual health education model developed through a Sundanese sociocultural approach. The GEE analysis showed that maternal support scores in the intervention group increased by 18.30 points (95% CI: 15.48–21.12; p < 0.001). The DiD analysis indicated a greater increase in maternal support scores in the intervention group compared with the control group, with a coefficient of 21.077 (p < 0.001). The intervention model contributed to a 68% increase in maternal support at the first posttest and a 77% increase at the second posttest. The largest increases were observed in instrumental support, with a coefficient of 20.15 (95% CI: 16.33–23.97; p < 0.001), and accompaniment support, with a coefficient of 19.06 (95% CI: 14.83–23.30; p < 0.001). Emotional and informational support also increased significantly, although with smaller effect sizes. Conclusion and Recommendations: The Ambu Binangkit model was effective in improving maternal support for children’s menstrual health through a contextual sociocultural approach within the primary school setting. This model has the potential to be developed as a family-based intervention strategy to improve menstrual health from primary school age. Its implementation should be strengthened through integration with school programs and health services to ensure sustainability and broader impact. Keywords: menstrual health, maternal support, sociocultural, Ambu Binangkit, primary school.
Read More
D-629
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Petriana Ekklesia Mahmud; Promotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Kopromotor: Tri Krianto, Mus Huliselan; Penguji: Asri C. Adisasmita, Besral, Ira Nurmala, Raditya Wratsangka, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:
Perilaku seksual berisiko pada remaja puteri merupakan masalah kesehatan reproduksi yang dapat meningkatkan risiko kehamilan tidak diinginkan serta berdampak pada aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji Strategi Holistik Intervensi Nilai dan Edukasi (SHINE) dengan pendekatan Tiga Batu Tungku sebagai model peningkatan determinan protektif perilaku seksual berisiko kehamilan pada remaja puteri di Kota Ambon. Penelitian menggunakan mixed-methods exploratory sequential design yang terdiri atas tahap eksplorasi budaya dan kebutuhan intervensi, pengembangan model, serta pengujian efektivitas intervensi melalui desain kuasi-eksperimen. Tahap kualitatif melibatkan 53 informan, terdiri atas remaja, orang tua, tokoh agama, tokoh adat, guru/kepala sekolah, dan petugas kesehatan. Tahap kuantitatif melibatkan remaja usia 12–15 tahun, dengan 85 responden pada kelompok intervensi di Negeri Hative Kecil dan 83 responden pada kelompok kontrol di Negeri Passo. Data kuantitatif dianalisis menggunakan Difference-in-Differences (DiD). Analisis DiD menunjukkan bahwa kelompok intervensi mengalami peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan asertif yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, dengan selisih masing-masing sebesar 32,24 poin, 23,26 poin dan 16,56 poin. Efek intervensi pada ketiga variabel signifikan secara statistik dengan nilai p<0,05. Temuan ini menunjukkan bahwa Strategi Holistik Intervensi Nilai dan Edukasi  (SHINE) dengan pendekatan Tiga Batu Tungku berpotensi meningkatkan determinan protektif pengetahuan, memperbaiki sikap, dan memperkuat keterampilan asertif remaja puteri dalam menolak tekanan seksual, mempertahankan keputusan, serta menghindari situasi berisiko. Model ini dapat dipertimbangkan sebagai strategi intervensi berbasis budaya lokal untuk pencegahan perilaku seksual berisiko kehamilan pada remaja puteri di Kota Ambon.

Risky sexual behavior among adolescent girls is a reproductive health problem that can increase the risk of unintended pregnancy and affect health, social, and economic aspects. This study aimed to develop and test the Holistic Strategy for Value Intervention and Education (SHINE) using the Tiga Batu Tungku approach as a model to improve protective determinants against pregnancy-related risky sexual behavior among adolescent girls in Ambon City. This study employed a mixed-methods exploratory sequential design consisting of cultural exploration and intervention needs assessment, model development, and intervention effectiveness testing through a quasi-experimental design. The qualitative phase involved 53 informants, consisting of adolescents, parents, religious leaders, traditional leaders, teachers/school principals, and health workers. The quantitative phase involved adolescents aged 12-15 years, with 85 respondents in the intervention group in Negeri Hative Kecil and 83 respondents in the control group in Negeri Passo. Quantitative data were analyzed using Difference-in-Differences (DiD). The DiD analysis showed that the intervention group experienced greater increases in knowledge, attitudes, and assertive skills than the control group, with differences of 32.24 points, 23.26 points, and 16.56 points, respectively. The intervention effects on the three variables were statistically significant with p < 0.05. These findings indicate that the Holistic Strategy for Value Intervention and Education (SHINE) using the Tiga Batu Tungku approach has the potential to improve protective determinants of knowledge, enhance attitudes, and strengthen assertive skills among adolescent girls in refusing sexual pressure, maintaining their decisions, and avoiding risky situations. This model may be considered a local culture-based intervention strategy for preventing pregnancy-related risky sexual behavior among adolescent girls in Ambon City
Read More
D-645
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R Wasis Sumartono; Promotor: Hasbullah Thabrany; Ko Promotor: Ratna Meidyawati; Penguji: Anhari Achadi, Nasrin Kodim, Sudijanto Kamso, Kodrat Pramudho, Rita Damayanti
Abstrak: Latar belakang: Di Indonesia, prevalensi karies gigi berkisar antara 85% - 99% dan 67.4% pria umur 15 tahun atau lebih merokok. Tujuan: Tujuan penelitian ini mengkaji hubungan keparahan karies gigi dan intensitas merokok pada pria Indonesia umur 45 – 54 tahun (n = 34.534), responden Riskesdas 2007. Metode: Pengalaman karies gigi (DMFT) dicatat oleh enumerator yang sudah dilatih. Enumerator juga mencatat karakteristik sosiodemografik (umur, pekerjaan, status sosial ekonomi, pendidikan) perilaku kesehatan gigi (gosok gigi) dan merokok responden. 31.4 % responden DMFT-nya ≥ 8, cut off point karies gigi parah dalam penelitian ini. Uji Chi-square digunakan untuk mendeteksi kemaknaan perbedaan prevalensi karies gigi parah pada perokok berat (BI ≥ 400) dan pada yang tidak pernah merokok (BI = 0). Regresi logistik digunakan untuk meng-estimasi besarnya peran merokok berat pada keparahan karies gigi. Hasil: Prevalensi karies gigi parah pada yang tidak pernah merokok, perokok ringan (BI 1-399) dan perokok berat berturut turut adalah, 24,9 %; 32,5 % dan 38,7% (P <0,005). Dibanding yang tidak pernah merokok, adjusted OR karies gigi parah pada perokok ringan dan perokok berat adalah 1,45 (95% CI 1,37-1,53) dan 1,70 (95% CI: 1,59 – 1,81). Kesimpulan: Merokok merupakan salah satu faktor risiko karies gigi parah pada pria Indonesia dan semakin berat intensitas merokoknya, semakin besar pula risikonya. Saran: Para dokter gigi Indonesia, baik secara perorangan, maupun secara kolektif, perlu ambil bagian secara lebih sungguh sungguh dalam pengendalian tembakau di Indonesia
 

Background: In Indonesia, dental caries the prevalence between 85% - 99% and 67.4% of males aged 15 years or older currently used tobacco. Objective: The aim of this study is to examine the association between dental caries severity and smoking intensity in 45 – 54 years old Indonesian males (n = 34.534), respondents of Basic Health Research 2007. 31.4 % of respondents have DMFT value ≥ 8, the cut off point of severe dental caries in this study. Methods: The dental caries experience (DMFT) were recorded by well trained enumerators. In addition, the enumerators recorded sociodemographic characteristics (age, socio-economic status, education, job), tooth brushing and smoking behavior of respondents. Chisquare test was used to detect significant difference on prevalence of severe dental caries between heavy smokers (BI ≥ 400) and never smokers (BI = 0). Logistic regression was used to estimate contribution of heavy smoking on dental caries severity. Result: The prevalence of severe dental caries on never smokers, light smokers (BI 1-399) and heavy smokers were 24,9 %; 32,5 % and 38,7% respectively (P <0,005). Compared to never smokers, the adjusted OR of light smokers and heavy smokers were 1,45 (95% CI 1,37-1,53) and 1,69 (95% CI: 1,59 – 1,80). Conclusion: Smoking is a risk factor of severe dental caries in Indonesian men and the higher the smoking intensity, the higher the risk. Recommendation: Indonesian dentists, individually and collectively have to take part more seriously in smoking prevention and control in Indonesia.
Read More
D-318
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yanti Harjono Hadiwiardjo; Promotor: Rita Damayanti; Kopromotor: Mardiati Nadjib, Fidiansjah; Penguji: Besral, Ede Surya Darmawan, Mondastri Korib Sudaryo, Sabarinah, Trihono
Abstrak:

Latar Belakang: Depresi merupakan masalah kesehatan mental yang sering terjadi pada lansia dengan persentase sebesar 12%-16%. Depresi dapat menurunkan fungsi kehidupan sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas terapi tawa dalam menurunkan depresi dan meningkatkan kualitas hidup pada lanjut usia serta evaluasi ekonominya. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dan times series dengan menggunakan desain crossover pada terapi tawa dan terapi puzzle. Lokasi penelitian dilakukan di Panti Werdha Jakarta Timur. Populasi lansia adalah 250 orang dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 86 orang yang dipilih menggunakan proporsional random sampling dan randomnisasi untuk dijadikan dua kelompok. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Geriatric Depression Scale (GDS) dan Older People’s Quality of Life (OPQOL) modifikasi. Analisis data untuk menilai efektifitas menggunakan uji Different in Different (DID) dan menilai efektifitas biaya menggunakan ICER. Hasil: Terdapat pengaruh terapi tawa terhadap depresi diawal intervensi sebelum crossover secara statistik( p= 0,011), sehingga terapi tawa menurunkan depresi lebih besar dibandingkan terapi puzzle. Setelah crossover tidak terdapat perbedaan terapi tawa dan terapi puzzle sama-sama dapat menurunkan depresi (P=0,347). Pada skor OPQOL tidak terdapat perbedaan pengaruh intervensi terapi tawa dan terapi puzzle secara statistik baik sebelum crossover (p=0,581) maupun setelah crossover (p=0,140), sehingga terapi tawa dan terapi puzzle sama-sama dapat meningkatkan kualitas hidup. Pada efektifitas biaya, terapi tawa lebih efektif (65,1%) dibandingkan terapi puzzle (37,2%) dalam menurunkan tingkat/kategori depresi. Untuk peningkatan efektivitas penurunan tingkat atau kategori depresi sebesar 1% pada kelompok terapi tawa diperlukan tambahan biaya sebesar Rp 5.640,-. Nilai tersebut dianggap sepadan (Worth spent) menurut para klinisi dan memiliki efektivitas penurunan tingkat atau kategori depresi dan efektivitas biaya dibandingkan terapi puzzle dalam menurunkan depresi. Kesimpulan: Terapi tawa dan terapi puzzle memiliki pengaruh pada penurunan tingkat/kategori depresi dan peningkatan kualitas hidup pada lansia namun pengaruh penurunan tingkat/kategori depresi pada terapi tawa lebih banyak dibandingkan dengan terapi puzzle. Biaya yang dikeluarkan sepadan (Worth spent) dengan penurunan tingkat/kategori depresi. Saran: Melakukan advokasi kepada Kementerian Sosial, Dinas Sosial, dan Panti Werdha agar dapat menambahkan program terapi tawa dalam upaya meningkatkan kesehatan lanjut usia khususnya menurunkan depresi.


 

Background: Depression is a mental health problem that often occurs in people over 65 years old with a percentage of 12%-16%. Depression can decrease the functioning of daily life. The purpose of this study is to determine the effectiveness and cost of laughter therapy in reducing depression and improving the quality of life in the elderly and its economic evaluation. Method: This study uses a crossover design and true experimental research with a time series. The location of the research was carried out at the East Jakarta Nursing Home. The elderly population was 250 with the number of 86 research subjects selected using proportional random sampling and randomization. Data were collected using modified Geriatric Depression Scale (GDS) and Older People's Quality of Life (OPQOL) questionnaires. Data analysis used the Different in Different (DID) test and the calculation of the cost-effectiveness of laughter therapy and puzzle therapy. Results: There was a statistically significant effect of laughter therapy on depression at the beginning of the intervention before crossover (p= 0.011), so that laughter therapy reduced depression more than puzzle therapy. After crossover, there was no difference between laughter therapy and puzzle therapy, both of which could reduce depression (P=0.347). In the OPQOL score, there was no statistically different effect of laughter therapy and puzzle therapy interventions both before the crossover (p=0.581) and after the crossover (p=0.140), so that laughter therapy and puzzle therapy could both improve the quality of life. In terms of cost-effectiveness, laughter therapy more effective (65.1%) than puzzle therapy (37.2%) in lowering the level/category of depression. For an increase in the effectiveness of reducing the level or category of depression by 1% in the laughter therapy group, an additional cost of Rp 5,640 is required, and the value is considered worth spent according to the clinicians and has the effectiveness of reducing the level or category of depression and cost-effectiveness compared to puzzle therapy in reducing depression. Conclusion: The effect of depression reduction on laughter therapy was more than puzzle therapy at the beginning of the intervention before the crossover. Laughter and puzzle therapy has an effect on improving the quality of life in the elderly. The costs incurred are commensurate with the decrease in the level/category of depression. Suggestion: Advocate to the Ministry of Social Affairs, Social Services, and Nursing Homes so that they can add a laughter therapy program in an effort to improve the health of the elderly, especially to reduce depression.

Read More
D-567
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Malahayati Rusli Bintang; Promotor: Adang Bachtiar; Kopromotor: Fachmi Idris; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Mardiati Nadjib, Pujiyanto, Ali Ghufron Mukti, Rizanda Mahmud, Achmad Farich
Abstrak:
Diabetes Melitus (DM) meningkatkan risiko terkena TB paru, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Meskipun penemuan kasus secara aktif dan peningkatan pelaporan di fasilitas kesehatan sangat penting, namun keterlibatan sektor swasta dalam pengendalian TB masih rendah karena adanya fragmentasi dan dana yang tidak memadai. Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) adalah perangkat lunak utama untuk mencatat dan melaporkan kasus TB, namun aksesnya terbatas dan sistemnya tidak terintegrasi dengan baik. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan e-screening tool untuk mengintegrasikan skrining TB ke dalam skrining diabetes yang ada saat ini secara efisien sehingga notifikasi TB di FKTP swasta dapat meningkat. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed exploratory sequential, yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif secara bertahap. Penelitian ini terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap pertama menggunakan pendekatan kuantitatif dan tahap kedua dan ketiga menggunakan pendekatan kualitatif. Ditahap pertama, dilakukan analisis faktor determinan TB pada pasien DM menggunakan data Riskesdas 2013 dan 2018. Lalu tahap 2 dilakukan analisis/evaluasi mengenai implementasi proses notifikasi TB pada FKTP swasta dan pada tahap 3 dilakukan proses diseminasi kebijakan rancangan model skrining TB pada pasien DM dengan menggunakan pendekatan Policy Cycle. Hasil penelitian di tahap 1 menunjukkan bahwa variabel diagnosa penyakit kanker, riwayat merokok, ketersediaan rumah sakit swasta dan ketersediaan praktik dokter/klinik secara statistik memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian TB pada pasien DM. lalu dari hasil uji multivariat diperoleh hasil bahwa kanker merupakan faktor prediktif pada kejadian penyakit TB paru pada penderita DM. hasil penelitian tahap 2 menunjukkan bahwa belum semua FKTP swasta memiliki SITB mandiri yang menyebabkan pencatatan dan pelaporan kasus TB menjadi temuan milik puskesmas dimana hal ini berdampak pada rendahnya notifikasi TB di FKTP swasta. Hasil penelitian tahap 3 menunjukkan bahwa untuk meningkatkan notifikasi TB di FKTP swasta dapat dilakukan dengan merancang e-screening tool TB dengan pendekatan kaskade TB 6T. Dengan mengintegrasikan JKN Mobile, E-RM, P-Care dan SITB dalam bentuk partner satu sehat, serta didukung dengan SDM, sarana prasarana dan pembiayaan yang cukup diharapkan dapat meningkatkan notifikasi TB di FKTP swasta sehingga dapat menurunkan angka kematian atau angka kesakitan akibat TB pada pasien DM.

Diabetes Mellitus (DM) increases the risk of developing pulmonary TB, especially in high-risk groups. While active case finding and improved reporting at health facilities are critical, private sector involvement in TB control remains low due to fragmentation and inadequate funding. The Tuberculosis Information System (TBIS) is the primary software for recording and reporting TB cases, but access is limited and the system is not well integrated. To overcome these challenges, an e-screening tool is necessary to efficiently integrate TB screening into existing diabetes screening so that TB notifications at private primary care facilities can increase. This study used a mixed exploratory sequential approach, which combines quantitative and qualitative methods in its stages. The study consisted of 3 stages, with the first stage using a quantitative approach and the second and third stages using a qualitative approach. In the first stage, the determinants of TB in patients with DM were analyzed using 2013 and 2018 Riskesdas data. Then in stage 2, an analysis/evaluation of the implementation of the TB notification process at private primary care facilities was carried out and in stage 3, the policy dissemination process of the TB screening model design in DM patients was carried out using the Policy Cycle approach. The results of stage 1 of the study showed that the variables of cancer diagnosis, smoking history, availability of private hospitals and availability of TB screening in DM patients were significantly associated with TB screening in DM patients. The results of the multivariate test showed that cancer was a predictive factor in the incidence of pulmonary TB disease in patients with DM. The results of phase 2 of the study showed that not all private primary health care facilities have independent SITB, which causes the recording and reporting of TB cases to be the findings of the puskesmas, thus has an impact on the low notification of TB in private primary health care facilities. The results of phase 3, showed that improving TB notification at private primary care facilities can be done by designing a TB e-screening tool with a 6T TB cascade approach. By integrating JKN Mobile, E-RM, P-care and SITB in the form of the intergrated system of Satu Sehat, and supported by sufficient human resources, infrastructure and financing, these allow room for a better national TB control management. In this light, TB notification rate has a good potential for improvements at private primary care facilities, and thus eventually contributing to a reduction of mortality or morbidity due to TB in DM patients.
 
 
Read More
D-509
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febrianti, Rini; Promotor: Sandra Fikawati; Korpomotor: Dwiana Ocviyanti, Idral Puirnakarya; Penguji: Ahmad Syafiq, Anies Irawati, Hera Nurlita, Indra Supradewi, Neomi esthernita F.
Abstrak:

Prevalensi pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih rendah sebesar 55,5%. Kurangnya informasi mengenai ASI eksklusif dari tenaga kesehatan dan persepsi ibu mengenai kurangnya ASI menjadi penyebab rendahnya praktik pemberian ASI eksklusif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dasar – dasar materi yang diperlukan dalam menyusun modul yang dapat meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan sebagai pendamping ibu hamil dalam upaya meningkatkan keberhasilan menyusui. Penelitian ini menggunakan mixed method study dengan eksploratori sekuensial. Penelitian kualitatif dilakukan untuk menyusun materi pendampingan dan materi modul pelatihan. Penelitian kuantitatif menggunakan desain kuasi eksperimental dengan pretest – posttest design. Empat puskesmas di Kota Padang dengan cakupan ASI eksklusif <60% dipilih sebagai lokasi penelitian. Penelitian dimulai pada bulan Oktober 2022 sampai April 2024. Pelatihan terhadap 10 orang tenaga kesehatan yang terdiri dari sembilan orang bidan dan satu orang dokter. Pendampingan dilakukan oleh delapan tenaga kesehatan terhadap 37 orang ibu mulai dari trimester pertama kehamilan sampai satu bulan perawatan post partum. Analisis data kualitatif dengan menggunakan pengkategorian dan analisis data kuantitatif menggunakan uji wilcoxon. Berdasarkan penelitian kualitatif, materi dasar untuk modul pendampingan adalah manfaat ASI, IMD, upaya menyusui, pelekatan dan posisi, masalah ibu nifas, masalah pada payudara, persiapan ibu bekerja, dukungan keluarga dan KB pasca salin. Secara statistik, kompetensi tenaga kesehatan meningkat seiring dengan peningkatan pengetahuan (p value = 0,005). Pengetahuan dan sikap ibu juga berbeda secara signifikan setelah diberikan pendampingan (p value = 0,001; p value = 0,001). Sebanyak 54,0% ibu menyatakan pendampingan sangat baik, 51,4% ibu mendapat dukungan keluarga yang tinggi, dan 73,0% ibu mendapat dukungan teman. Modul pelatihan tenaga kesehatan pendamping ibu hamil efisien dan efektif dalam meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan, pengetahuan ibu, dan sikap ibu. Disarankan untuk melakukan penelitian pada populasi yang lebih besar, dengan waktu yang lebih panjang, diuji coba pada dua kelompok (intervensi dan kontrol) sehingga keberhasilan menyusui dapat dilihat dari status gizi ibu dan bayi, dan dilakukan di daerah yang berbeda untuk melihat keefektifan penggunaan modul. Kata kunci: keberhasilan menyusui, modul pelatihan tenaga kesehatan, pendamping ibu hamil. 


ABSTRACT The Training Module of Health Workers for Pregnant Womens Companion in an Effort to Increase The Successful Breastfeeding The prevalence of exclusive breastfeeding in Indonesia remains low at 55.5%. The lack of information about exclusive breastfeeding from health workers and the perception of mothers about “less breast milk” are the causes of low exclusive breastfeeding practices. The purpose of this study is to find out the basics of the material needed in compiling modules that can improve the competence of health workers as companions for pregnant women in an effort to increase breastfeeding success. This study used a mixed method study with sequential exploratory. Qualitative research conducted to compile companion materials and training module materials. Quantitative research uses a quasi – experimental design with a pretest – posttest design. Four public health centers in Padang City with exclusive breastfeeding coverage less than 60% were selected as research locations. The research began from October 2022 to April 2024. Training of 10 health workers consisting of nine midwives and one doctor. The companion was provided by eight health workers towards 37 mothers from the first trimester of pregnancy to one month of postpartum care. Qualitative data analysis used categorization and quantitative data analysis used the Wilcoxon test. Based on qualitative research, the basic material for the companion module is the benefits of breastfeeding, early initiation of breastfeeding, breastfeeding efforts, attachment and position, postpartum mother issue, breast problems, preparation for working mothers, family support and postpartum family planning. Statistically, the competence of health workers increased along with the increase in knowledge (p value = 0.005). Mothers' knowledge and attitudes also differed significantly after the companion of health worker (p value = 0.001 and p value = 0.001). A total of 54.0% of mothers stated that the companion was very good, 51.4% of mothers received high family support, and 73.0% of mothers received the support of friends. The training module of health workers for pregnant women – companion is efficient and effective in improving the knowledge of health workers, mother’s knowledge, and mother’s attitudes. It is recommended to conduct a study in a larger population, with a longer duration, to be piloted in two groups (intervention and control) so that breastfeeding success can be seen in terms of maternal and infant nutritional status, and carried out in different areas to see the effectiveness of the module. Keywords: pregnant mother’s companion, successfull breastfeeding, training modul of health worker
Read More
D-534
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yusef Dwi Jayadi; Promotor: Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Mila Tejamaya; Penguji: Sabarinah, Sandra Fikawati, Sudi Astono, Sugiarti, Heny Mayawati
Abstrak:

Pada tahun 2023 industri perkebunan kelapa sawit tercatat sebagai sektor dengan angka kecelakaan kerja tertinggi nasional (60,5%) dengan tren kenaikan sebesar 18–20 % per tahun. Dua faktor utama penyebab kecelakaan dan penyakit pada pekerja di sektor ini adalah kurangnya pengawasan dari manajemen (lack of management control) dan rendahnya tingkat pengetahuan pekerja (human factor). Untuk mengatasi hal tersebut, penelitian ini mengembangkan Model Edukasi K3 melalui penyusunan Modul Edukasi K3 dan pembentukan Kader Sawit, yang bertujuan meningkatkan literasi dan praktik keselamatan kerja pekerja sawit. Penelitian menggunakan pendekatan mix-method exploratory yang dilakukan selama 6 bulan dengan tahapan penelitian: (1) analisis penyelenggaraan K3 dan mengidentifikasi status gizi pekerja, (2) penyusunan Modul Edukasi K3 melalui studi literatur dan expert judgement serta pembentukan Kader Sawit, dan (3) uji coba/menilai dampak intervensi dengan Quasi Experiment Design (Wilcoxon Test). Hasil intervensi menunjukkan peningkatan signifikan pada skor pengetahuan (dari 38,68 menjadi 50,60), sikap (61,87 menjadi 68,13), dan perilaku (25,38 menjadi 30,53). Peningkatan skor Pengetahuan, Sikap dan Perilaku pada kelompok intervensi rata-rata 7.4 kali lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Selain itu, kecelakaan kerja menurun dari 66,7 % menjadi 10 %, dan angka kejadian penyakit turun dari 43,3 % menjadi 33,3 % setelah intervensi. Dengan demikian, intervensi melalui Modul Edukasi K3 dan Kader Sawit terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku K3 serta menurunkan angka kecelakaan dan penyakit, sehingga dapat menjadi langkah strategis dan efektif untuk meningkatkan literasi dan praktik K3 di industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia.


In 2023, the palm oil plantation industry was recorded as the sector with the highest national rate of occupational accidents (60.5%), with an annual increasing trend of 18 20%. The two main contributing factors to accidents and occupational illnesses in this sector are lack of management control and low levels of worker knowledge (human factor). To address these issues, this study developed an Occupational Safety and Health (OSH) Education Model through the formulation of an OSH Education Module and the establishment of “Kader Sawit” (Palm Cadres), aimed at improving workers’ safety literacy and practices. This research applied an exploratory mixed-method approach over a six-month period, with the following phases: (1) analysis of OSH implementation and identification of workers’ nutritional status, (2) development of the OSH Education Module through literature review and expert judgment, along with the training of Kader Sawit, and (3) trial and evaluation of the intervention impact using a Quasi-Experimental Design (Wilcoxon Test). The intervention resulted in a significant increase in knowledge scores (from 38.68 to 50.60), attitudes (from 61.87 to 68.13), and safety behavior (from 25.38 to 30.53). The average increase in knowledge, attitude, and behavior scores in the intervention group was 7.4 times higher than in the control group. Furthermore, the incidence of occupational accidents decreased from 66.7% to 10%, while the occurrence of work-related illnesses declined from 43.3% to 33.3% after the intervention. These findings demonstrate that the implementation of the OSH Education Module and the involvement of Kader Sawit are effective strategies for enhancing OSH-related knowledge, attitudes, and behaviors, and for reducing the incidence of accidents and diseases, thereby offering a strategic and impactful approach to improving OSH literacy and practices in Indonesia’s palm oil plantation industry.

Read More
D-577
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Wulandari; Promotor: Ahmad Syafiq; Kopromotor: Tria Astika Endah Permatasari; Penguji: Besral, Kusharisupeni Djokosujono, Emi Nurjasmi, Kodrat Pramudho, Sobar Darmadja
Abstrak:
Permasalahan gizi pada ibu hamil di Indonesia yang paling dominan adalah anemia dan kurang energi kronis. Intervensi telah dilakukan dengan pemberian tablet tambah darah dan pemberian makanan tambahan selama kehamilan, namun tingkat konsumsinya belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menilai intervensi pemberian edukasi menggunakan aplikasi catin sehat yang telah disusun pada masa prakonsepsi terhadap status gizi pada masa kehamilan. Populasi dalam penelitian ini adalah calon pengantin wanita di Puskesmas Wilayah Kota Depok pada tahun 2023, dengan total sampel yaitu 100 orang. Hasil penelitian berdasarkan uji t dependen menunjukkan bahwa pada kelompok yang diberikan intervensi pada masa calon pengantin wanita yang kemudian diukur pasca pemberian intervensi yakni pada masa kehamilan trimester I terdapat rata-rata peningkatan status gizi pada tiga indikator yaitu rata-rata; kadar hemoglobin meningkat 1,64 g/dL, indeks massa tubuh meningkat 2,51 kg/m2, dan lingkar lengan tengah atas meningkat 0,51 cm, sedangkan ketiga indikator pada kelompok kontrol rata-rata cenderung menurun. Efektivitas pemberian modul edukasi Aplikasi Catin Sehat dalam meningkatkan kadar haemoglobin sebesar 13.5% dan efektivitas dalam meningkatkan indeks massa tubuh sebesar 14.7%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah memberikan edukasi mengenai pemenuhan gizi kehamilan pada calon pengantin, akan berdampak pada perilaku konsumsi makanan dan meningkatkan status gizi yakni kadar haemoglobin dan indeks massa tubuh pada masa kehamilan. Edukasi mengenai persiapan gizi kehamilan yang diberikan kepada calon pengantin atau pada masa pra konsepsi, merupakan langkah strategis dan awal dalam mencegah kekurangan gizi pada masa kehamilan.

The most dominant nutritional problems among pregnant women in Indonesia are Anemia and chronic energy deficiency. Interventions have been carried out by administering blood supplement tablets and providing additional food during pregnancy, but the level of consumption is not optimal. This study aims to assess educational interventions using educational modules during the preconception period on nutritional status during pregnancy. The population in this study were prospective brides at the Depok City Regional Health Center in 2023, with a sample size of 100 people. The results of the study based on the dependent t test showed that in the group given the intervention during the bride's period which was then measured after the intervention was given, namely during the first trimester of pregnancy, there was a potential average increase in nutritional status in three indicators, namely average; Hemoglobin levels increased by 1.64g/dL, body mass index increased by 2.51kg/m2, and mid-upper arm circumference increased by 0.51cm, while the three indicators in the control group tended to decrease on average. The effective improvement is 14.7% and 13.4%. The conclusion of this research is that providing education regarding the provision of pregnancy nutrition to prospective brides and grooms will have an impact on food consumption behavior and improve nutritional status during pregnancy. Education regarding pregnancy nutritional preparation given to prospective brides and grooms or during the preconception period is a strategic and initial step in preventing malnutrition during pregnancy.
Read More
D-512
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Frima Elda; Promotor: Kusharisupeni; Ko-Promotor: Ahmad Syafiq, Abas Basuni Jahari; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Diah Mulyawati Utari, Besral, Fawzia Hadis, Anies Irawati, Cesilia Meti Dwiriani
Abstrak: Salah satu transisi gaya hidup yang terjadi adalah perubahan perilaku makan.Diet yang dilakukan seringkali tidak sesuai dengan kaidah kesehatan dan gizi yangdapat menjurus ke arah penyimpangan perilaku makan PPM. Untuk jangka panjang,penyimpangan perilaku makan memberikan dampak yang cukup serius yaituKurang Energi Kronis KEK, dimana remaja putri sebagai calon ibu yang akanmenentukan kualitas hidup generasi yang akan datang. Untuk mengatasi maslaahini perlu dilakukan suatu upaya salah satunya denga memberikan edukasi gizi melaluimedia yang bisa dipahami oleh remaja.
  
Studi ini bertujuan untuk melihat pengaruh keterpajanan media gizi seimbangterhadap perubahan kecenderungan penyimpangan perilaku makan pada siswi SMAdi Jakarta. Media yang diberikan yaitu berupa poster banner dan leaflet booklet.Studi dengan desain quasi eksperimen dilakukan pada 7 sekolah terpilih di DKIJakarta yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompokposter banner dan kelompok leaflet booklet. Sejumlah 504 siswi SMA dijadikansampel dalam penelitian yang, yang dilakukan selama 7 bulan.
  
Dari sebanyak 504 responden yang disaring. maka di dapatkan jumlah siswiSMA yang mengalami kecenderungan PPM pada kelompok kontrol sebesar 90.1 .pada kelompok dengan poster dan banner sebesar 95.9 dan kelompok denganleaflet dan booklet sebesar 97.1. Faktor personal yang mempunyai hubungansignifikan dengan perubahan skor PPM, yaitu riwayat diet post intervensi pvalue=0.001, citra tubuh post intervensi p value=0.016, konsumsi protein hewani p value=0.045, konsumsi protein hewani p value=0.019, skor PPM pre intervensi p value=0.000, skor sikap post intervensi p value=0.009, skor pengetahuan postintervensi 0.000. Faktor lingkungan yang mempunyai hubungan signifikan denganperubahan skor PPM, yaitu kritik dari orang tua p value=0.011, ejekan pvalue=0.011, dan pengaruh media massa untuk memulai olahraga p value=0.008.
 
 
Hasil uji menunjukkan ada pengaruh intervensi media terhadap perubahanskor PPM p value=0.007. Variabel yang paling mempengaruhi perubahan skorPPM adalah skor PPM pre intervensi p value=0.000, yang memberikansumbangan terhadap perubahan skor PPM sebesar 0.355. Terdapat perbedaan yangsignifikan dari intervensi media pada kelompok kontrol dengan kelompokleaflet booklet dan intervensi media pada kelompok poster banner dengankelompok leaflet booklet. Rata-rata perubahan skor PPM setelah pada kelompokleflet booklet yaitu sebesar 2.43 poin, pada kelompok poster banner yaitu sebesarxiii Universitas Indonesia1.61 poin dan kelompok kontrol sebesar 1.24 poin. Secara keseluruhan mediabooklet leaflet lebih efektif menurunkan skor gejala kecenderungan PPM sebesar41 dibandingkan media poster banner. Perkembangan teknologi yang menyebabkan terjadinya PPM pada remaja,maka perlu segera dilakukan penanganan dalam hal pencegahan. Dari hasil penelitianini dapat dimanfaatkan booklet dan leaflet untuk bahan edukasi, sebagai salah satucara untuk menangkal efek yang lebih buruk dari akibat perkembangan teknologi,terutama dalam industri makanan.Kata kunci : intervensi media, edukasi gizi, penyimpangan perilaku makan, giziremaja
 

 
One of the lifestyle transition which occurred is a change in behavior. Adiet that often do not correspond to the rules of health and nutrition that can lead toeating disorders ED. For the long term, eating disorders give a pretty serious impactapplies less energy chronic KEK, which young women as potential mothers whowill determine the quality of life of generations to come will be. For it can make thistagline affairs carried out an attempt by a radical way of providing nutrition educationthrough the media that can be understood by teenagers.
 
 
The aims of this study is knowing the influence of balanced nutritionmedia to changes in eating disorders tendency on high school students in Jakarta.Applies the given media in the form of poster banner, brochure booklet. Quasiexperimental design with studies done on 7 selected schools in Jakarta are divided inthree groups apply the control group, the group 39 s poster banner, the group`s brochure booklet.
 
 
A number of 504 students high school made the samples in the study,conducted over the past 7 months. From 504 respondents are filtered out, then get thenumber of high school students who experience the tendency of PPM in the controlgroup amounted to 90.1, in the group with posters and banners of 95.9 and withleaflets and booklets of 97.1. Personal factors that have a significant relationshipwith the change score PPM, diet history post intervention p value 0.001, bodyimage post intervention p 0.016, consumption of animal protein p value 0045, consumption of vegetable protein p value 0.019, score PPM pre intervention pvalue 0000, score the attitude of post intervention p 0.009, score of knowledgepost intervention 0000. Environmental factors that have a significant relationshipwith the change score PPM, valid criticism from parents value of p 0,011, ridicule value of p 0,011, and the influence of the mass media to start sports value p 0.008.
 
Test results showed there is the influence of media on intervention changesscore PPM p 0.007. The variables most influence the change score PPM is scorePPM pre intervention p value 0000, which contribute to the change score PPM of0.355 poin. There is a significant difference from the intervention of the media in thecontrol group with the group of brochure booklet and intervention of media group ofposter banner with the group brochure booklet. The average score on the group afterthe change of PPM, the group of brochure booklet applies of 2.43 points, on a groupof poster banner applies of 1.61 points and a control group of 1.24 points. Overallxv Universitas Indonesiamedia brochure booklet more effectively lowers the score symptoms tendency of41 compared to PPM media poster banner.
 
Technological developments that led to the PPM on teenagers, then thetagline immediately done handling in terms of prevention. From the results of thisresearch can be utilized booklet and brochure for educational materials, as one way toward off the effect worse than the development of technology, especially theauthenticity in the food industry.
Read More
D-373
Depok : FKM-UI, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive