Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35950 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhammad Asmui; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Robiana Modjo, Mila Tejamaya, Iqbal Mochtar, Nurhadi Amin
Abstrak: Tesis ini ditulis untuk menganalisis faktor risiko terjadinya kelelahan pada asisten rumah tangga yang bekerja di negara X. Ada tiga faktor yang dianalisis yaitu faktor individu (usia, kuantitas tidur, konsumsi kafein dan kebiasaan olahraga), faktor pekerjaan (total jam kerja, beban kerja, tipe pekerjaan, masa kerja dan stres kerja) dan faktor lingkungan (iklim cuaca). Penelitian dilakukan dengan metode analisis kuantitatif dan deskriptif dengan uji regresi linear. Data diperoleh melalui wawancara dan kuesioner yang diadopsi dari Industrial Fatigue Research Committee pada 94 responden kemudian dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan tingkat kepercayaan sebesar (CI) 95%. Variabel yang diteliti dinyatakan memiliki pengaruh dengan kelelahan kerja jika nila p < 0,05. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 47 orang (50%) mengalami kelelahan sedang. pada faktor individu secara keseluruhan memiliki pengaruh sebesar 27,1% terhadap risiko terjadinya kelelahan. Pada faktor ini, terdapat satu variabel yang memiliki pengaruh dengan risiko terjadinya kelelahan yaitu kuantitas tidur dengan nilai p = 0,000. Sementara 3 variabel lainnya tidak memiliki pengaruh yaitu usia p = 0,196, konsumsi kafein p = 0,384 dan kebiasaan olahraga p = 0,213. Untuk faktor pekerjaan secara keseluruhan memiliki pengaruh sebesar 29,5% terhadap risiko terjadinya kelelahan. Pada faktor ini, terdapat 3 variabel yang memiliki pengaruh dengan risiko terjadinya kelelahan yaitu beban kerja p = 0,001, tipe pekerjaan p = 0,045 dan stres kerja p = 0,035. Sementara 2 variabel lainnya tidak memiliki pengaruh yaitu total jam kerja p = 0,987 dan masa kerja p = 0,676. Sementara faktor lingkungan (iklim cuaca) didapatkan hasil adanya pengaruh dengan risiko terjadinya kelelahan dengan nilai p = 0,000.
This thesis is written to analyze risk factors for fatigue in household assistants working in country X. There are three factors to be analyzed; individual factors (age, sleep quantity, caffeine consumption and physical exercise), work factors (total hours worked, workload , job type, years of service and work stress) and environmental factors (weather climate). The study was conducted with quantitative and descriptive analysis methods using linear regression test. Data obtained through interviews and questionnaires adopted from the Industrial Fatigue Research Committee on 94 respondents then analyzed using univariate, bivariate and multivariate analysis with a confidence level of (CI) 95%. The variables studied were stated to have an influence with work fatigue if the value of p <0.05. The analysis showed that there are 47 people (50%) experiencing moderate fatigue. on individual factor has an influence of 27.1% on the risk of fatigue. In this factor, there is one variable that has an influence on the risk of fatigue, the quantity of sleep with a value of p = 0.000. While the other 3 variables did not have an influence: age p = 0.196, caffeine consumption p = 0.384 and physical exercise p = 0.213. The work factor has an effect of 29.5% on the risk of fatigue. In this factor, there are 3 variables that have an influence with the risk of fatigue, workload p = 0.001, type of work p = 0.045 and work stress p = 0.035. While the 2 other variables do not have an influence, total hours worked p = 0.987 and years of service p = 0.676. While the environmental factor (weather climate) has an influence of the risk of fatigue with a value of p = 0.000.
Read More
T-6042
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hazura Rindu Tuffahatti; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Baiduri Widanarko, Meilisa Rahmadani
Abstrak:

Kelelahan kerja adalah kondisi yang ditandai dengan perasaan yang menurun dalam kecepatan bekerja, gangguan sistemik saraf pusat akibat aktivitas yang panjang. Kelelahan kerja jika dialami secara terus menerus, maka akan menurunkan kinerja maupun produktivitas kerja. Banyak faktor yang dapat mengakibatkan kelelahan, maka dari itu penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan (faktor risiko individu dan faktor pekerjaan) pada Perawat di Rumah Sakit X tahun 2023. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain tudi cross-sectional. Data dikumpulkan menggunakan data sekunder yang ada di Rumah Sakit X. Sampel dalam penelitian ini dibutuhkan sekitar 60 responden Perawat yang terbagi dalam beberapa unit di Rumah Sakit X. Hasil analisis menunjukkan sebanyak 4 responden (6,7%) mengalami kelelahan ringan, 48 responden (80,0%) mengalami kelelahan sedang, dan 8 responden mengalami kelelahan tinggi (13,3%). Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelelahan kerja di Rumah Sakit X adalah Beban Kerja dengan p-value = 0,018 dan Jabatan Perawat dengan p-value = 0,040.

Kata kunci: Faktor Risiko, Perawat, Kelelahan


Work fatigue is a condition characterized by feelings of decreased work speed, central nervous system disorders due to long periods of activity. If work fatigue is experienced continuouslym it woll reduce work performance and productivity. Many factors can cause fatigue, therefore this study was conducted to analyze the risk factors for fatigue individual risk factors and work, in Nurses at the Hospital X  in 2023. Research was conducted using a quantitative approach with a cross-sectional study design. Data was collected using secondary data at the Hospital X. This research collected 60 respondents divided into several units at Hospital X. The results of the analysis showed that 4 respondents (6.7%) experienced mild fatigue, 48 respondents (80.0%) experienced moderate fatigue, and 8 respondents experienced high fatigue (13.3%). The risk factor that is closely related to the occurrence of work fatigue at the Hospital X is Workload with p-value = 0.018 and Nursing Position with p-value = 0.040.  

Keywords: Risk Factor, Nurse, Fatigue

Read More
S-11803
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gina Relimba; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Robiana Modjo, Ibnu Uzail Yamani
Abstrak:
Rumah sakit merupakan tempat kerja yang berisiko tinggi terhadap terjadinya kecelakaan kerja dibandingkan industri lainnya. Perawat IGD harus selalu siap sedia 24 jam untuk menangani kasus kegawatdaruratan yang dialami oleh berbagai pasien yang datang ke rumah sakit sehingga dengan tanggung jawab tersebut, sangat rentan bagi perawat IGD untuk mengalami kelelahan kerja. Penelitian ini membahas faktor terkait kelelahan kerja pada perawat IGD Rumah Sakit X Tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang telah dilakukan pada bulan Juli-Agustus pada seluruh perawat IGD Rumah Sakit X yaitu sebanyak 35 responden. Pengukuran kelelahan kerja perawat menggunakan pengukuran secara subjektif dengan kuesioner Subjective Self Rating Test yang dikembangkan oleh Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) Jepang yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat IGD Rumah Sakit X lebih banyak mengalami kelelahan kerja ringan (71,4%) dan faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja yaitu kebisingan (P-Value=0,027). Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya pengendalian terhadap pajanan bising bagi perawat IGD di Rumah Sakit X dan juga perlu adanya prosedur fatigue management untuk mencegah dan mengendalikan tingkat kelelahan kerja pada perawat IGD Rumah Sakit X.

Hospitals are workplaces that have a higher risk of work accidents compared to other industries. ER nurses must always be ready 24 hours to handle emergency cases experienced by various patients who come to the hospital so that with this responsibility, ER nurses are very vulnerable to experiencing work fatigue. This research discusses factors related to work fatigue in ER nurses at Hospital. Measurement of nurses' work fatigue uses subjective measurements with the Subjective Self Rating Test questionnaire developed by the Japanese Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) which has been translated into Indonesian. The results of the study showed that ER nurses at Hospital X experienced more mild work fatigue (71,4%) and the factor related to work fatigue was noise (P-Value=0,027). Based on this, it is necessary to carry out various efforts to control noise exposure for emergency room nurses.
Read More
S-11801
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jumiati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Hanny Harjulianti, Arie Meutia Nada
Abstrak:
Distress psikologis merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang dapat memengaruhi kesejahteraan, produktivitas, dan kualitas kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN). Berbagai faktor risiko psikososial, baik yang berasal dari organisasi maupun individu, diduga berkontribusi terhadap munculnya distress psikologis pada ASN. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko psikososial yang meliputi faktor organisasi dan faktor individu terhadap distress psikologis pada ASN di Kantor Walikota X. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 257 responden yang dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat serta uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 75 responden (29,2%) mengalami distress psikologis, sedangkan 182 responden (70,8%) tidak mengalami distress psikologis. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tuntutan kerja (p=0,001), konflik peran (p=0,001), kondisi kesehatan (p=0,001), resiliensi psikologis (p=0,003), tekanan finansial (p=0,001), dan penggunaan media sosial (p=0,001) dengan distress psikologis. Sebaliknya, keadilan organisasi (p=0,099), dukungan sosial (p=0,680), dan mekanisme koping (p=1,000) tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan distress psikologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor risiko psikososial yang berhubungan dengan distress psikologis pada ASN meliputi tuntutan kerja, konflik peran, kondisi kesehatan, resiliensi psikologis, tekanan finansial, dan penggunaan media sosial. Oleh karena itu, organisasi perlu mengembangkan program promotif dan preventif kesehatan mental, seperti Employee Assistance Program (EAP), penguatan resiliensi psikologis, literasi keuangan, serta edukasi penggunaan media sosial yang sehat guna mendukung kesejahteraan psikologis ASN dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Psychological distress is a mental health issue that can impact the well-being, productivity, and quality of performance of State Civil Servants (ASN). Various psychosocial risk factors, both organizational and individual, are suspected to contribute to the emergence of psychological distress in ASN. This study aims to analyze the relationship between psychosocial risk factors, including organizational and individual factors, and psychological distress in ASN at the Mayor's Office X. The study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 257 respondents selected using proportional stratified random sampling. Data were collected through questionnaires and analyzed using univariate analysis and the Chi-Square test to determine the relationship between variables. The results showed that 75 respondents (29.2%) experienced psychological distress, while 182 respondents (70.8%) did not experience psychological distress. Bivariate analysis showed a significant relationship between job demands (p=0.001), role conflict (p=0.001), health conditions (p=0.001), psychological resilience (p=0.003), financial stress (p=0.001), and social media use (p=0.001) and psychological distress. Conversely, organizational justice (p=0.099), social support (p=0.680), and coping mechanisms (p=1.000) did not show a significant relationship with psychological distress. This study concluded that psychosocial risk factors associated with psychological distress in civil servants include job demands, role conflict, health conditions, psychological resilience, financial stress, and social media use. Therefore, organizations need to develop promotive and preventive mental health programs, such as Employee Assistance Programs (EAPs), strengthening psychological resilience, financial literacy, and education on healthy social media use to support the psychological well-being of civil servants and improve the quality of public services.
Read More
T-7646
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wardani Adi saputra; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Fetrina Lestari
T-7715
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safira Hazzrah Medinah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Mohammad Zayyin
Abstrak:
Kelelahan atau fatigue pada pekerja tambang memiliki dampak yang besar terhadap tingkat absenteisme, penurunan produktivitas, biaya kesehatan, dan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan kelelahan pada pekerja di PT X serta menganalisis faktor-faktor yang berhubungan. Faktor risiko yang diteliti yaitu faktor terkait pekerjaan (beban kerja, masa kerja, waktu istirahat, area kerja, shift kerja, dan stres kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, kualitas dan kuantitas tidur, kebiasaan merokok, commuting time, pekerjaan sampingan, konsumsi kafein, status pernikahan, status gizi, dan olah raga). Untuk mengukur kelelahan menggunakan kuesioner Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), mengukur stres kerja menggunakan kuesioner Survei Diagnosis Stres (SDS), mengukur kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), mengukur beban kerja mental menggunakan NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), mengukur karakteristik responden menggunakan The Self-administered Questionnaire, dan untuk mengukur beban kerja fisik menggunakan alat Fingertip Pulse Oximeter. Penelitian ini dilakukan kepada 156 pekerja tambang di PT X dengan menggunakna desain penelitian cross-sectional. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja, waktu istirahat, usia, dan beban kerja mental dengan kelelahan. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pengembangan program pencegahan dan pengendalian kelelahan (fatigue management) di tempat kerja dan melihat hubungan faktor terkait pekerjaan yang lebih dominan terhadap kelelahan dibandingkan faktor tidak terkait pekerjaan.

Fatigue in mining workers has a huge impact on absenteeism rates, decreased productivity, medical costs, and accidents. This study aims to describe the level of fatigue in workers at PT. X and analyze the associated risk factors. The risk factors studied included work-related factors (workload, period of work, rest time, mining area, work shifts, and work stres) and non-work related factors (age, sleep quality and sleep quantity, smoking status, commuting time, side work, caffeine consumption, marital status, body mass indeks, and exercise). To measure fatigue, the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) questionnaire was used, Survey Diagnostic Stress (SDS) was used to measure job stress, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire was used to measure sleep quality, NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ) was used to measure mental workload, the Self-administered Questionnaire was used to measure respondent characteristics, and Fingertip Pulse Oximeter was used to measure physical workload. This research was conducted on 156 mining workers at PT. X by using a cross-sectional research design. Descriptive and inferential logistic regression was used to analyze the data. The results showed that there was a significant association between period of work, rest time, age, and mental workload. Therefore, it is necessary to develop a fatigue management program in the workplace and refers to see the result that the relationship between work related factors and fatigue is more dominant than non-work related factors.
Read More
S-11713
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ira Budi Hayati; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Mila Tejamaya, Arief Budiman
S-10462
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aziz Rofi`i; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Lutfi Muzaqi, Sri Lestari
Abstrak:
Pengemudi dump truck merupakan salah satu jenis pekerjaan yang berisiko mengalami kelelahan karena adanya faktor terkait pekerjaan dan tidak terkait pekerjaan yang dapat mempengaruhi pengemudi. Pada HSE Monthly Report pada bulan Desember 2021 didapatkan bahwa angka lagging indicator untuk night work lebih tinggi dari day work. Dari sudut pandang ini, penelitian dilakukan untuk melihat gambaran kelelahan dan melakukan analisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pengemudi dump truck shift malam dengan sistem double shift. Penelitian dengan desain studi cross sectional dilakukan pada 130 pengemudi dump truck PT X. Faktor terkait pekerjaan yang dilakukan penelitian adalah waktu kerja, kondisi pencahayaan, getaran kabin, dan beban kerja, sedangkan faktor tidak terkait pekerjaan yang dilakukan penelitian adalah durasi tidur, kualitas tidur, umur, pekerjaan sampingan, indeks massa tubuh, aktifitas fisik, konsumsi minuman berenergi tinggi gula dan dukungan keluarga. Uji chi- square dilakukan untuk menganalisis keeratan hubungan antara variabel dependen dan independent sedangkan uji regresi logistik berganda digunakan untuk mengetahui variabel yang paling dominan berhubungan dengan variabel terikat. Prevalensi kelelahan pada pengemudi dump truck adalah sebesar 37,7% dan 62,3% tidak mengalami kelelahan. Dari empat faktor risiko terkait pekerjaan yang diteliti, pencahayaan, getaran dan beban kerja memiliki hubungan secara statistik dengan kelelahan. Sedangkan dari delapan faktor risiko tidak terkait pekerjaan yang diteliti, waktu tidur, kualitas tidur, usia, pekerjaan sampingan, aktifitas fisik, dan dukungan keluarga memiliki hubungan secara statistik dengan kelelahan. Pada hasil akhir multivariat didapatkan jika beban kerja dan pencahayaan memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan p-value < 0,05. Untuk mengurangi kelelahan pada pengemudi dump truck PT X Jobsite TB maka disarankan melakukan pengukuran kelelahan secara rutin sesuai dengan faktor risiko kelelahan yang dominan yaitu beban kerja, dan pencahayaan. Kata kunci: Kelelahan, Faktor risiko, Pengemudi Dump Truck, Double Shift

Dump truck driver is one type of work that is at risk of experiencing fatigue due to work- related and non-work related factors that can affect the driver. In the HSE Monthly Report in December 2021, it was found that the number of lagging indicators for night work is higher than day work. From this point of view, the study was conducted to see the description of fatigue and to analyze the risk factors related to fatigue in night shift dump truck drivers with a double shift system. Research with a cross-sectional study design was conducted on 130 PT X dump truck drivers. Factors related to the work carried out by the study were working time, lighting conditions, cabin vibration, and workload, while factors not related to the work carried out by the study were sleep duration, sleep quality, age, side work, body mass index, physical activity, consumption of energy drinks. high in sugar and family support. The chi-square test was conducted to analyze the close relationship between the dependent and independent variables, while the multiple logistic regression test was used to determine the most dominant variable associated with the dependent variable. The prevalence of fatigue in dump truck drivers is 37.7% and 62.3% do not experience fatigue. Of the four work-related risk factors studied, lighting, vibration and workload were statistically associated with fatigue. Meanwhile, of the eight non-work-related risk factors studied, sleep time, sleep quality, age, side work, physical activity, and family support were statistically associated with fatigue. In the final multivariate result, it was found that the workload and lighting had a statistically significant relationship with p-value <0.05. To reduce fatigue on PT X Jobsite TB dump truck drivers, it is recommended to carry out regular fatigue measurements according to the dominant fatigue risk factors, namely workload, and lighting. Key Words: Fatigue, Risk Factors, Dump Truck Driver, Double Shift
Read More
T-6421
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andriza Hanifah Wulandari; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Rijal Noor Al-Ghiffari
Abstrak:

Kelelahan merupakan masalah multifaktor yang dialami pekerja sektor manufaktur dan
berdampak pada kecelakaan kerja, kesehatan, serta ekonomi. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja sales
perusahaan manufaktur di PT X tahun 2025. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor
risiko terkait pekerjaan (durasi kerja, masa kerja, beban kerja, waktu istirahat, waktu
perjalanan, dan lingkungan kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, status
gizi, kuantitas tidur, kualitas tidur, konsumsi alkohol, dan konsumsi kafein). Penelitian
ini menggunakan desain studi cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan Februari
hingga Juni 2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring, meliputi kuesioner
karakteristik individu dan pekerjaan, OFER, PSQI, NASA-TLX, dan persepsi terhadap
lingkungan kerja. Terdapat 136 data responden yang dianalisis menggunakan analisis
deskriptif dan inferensial dengan uji chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa
56.6% pekerja mengalami kelelahan kronik dan 79.4% kelelahan akut. Hasil
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko terkait kerja
yaitu masa kerja (p value = 0.047), lingkungan kerja bising (p value = 0.033) dan faktor
risiko tidak terkait kerja, yaitu kualitas tidur (p value = 0.044) dengan kelelahan kronik.
Hasil juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko
terkait kerja yaitu beban kerja (p value = 0.033) dengan pemulihan kelelahan.


Fatigue is a multifactorial problem experienced by workers in the manufacturing sector  and has an impact on work accidents, health, and the economy. This study aims to analyze  the risk factors associated with fatigue in sales workers of manufacturing companies at  PT X in 2025. The risk factors studied include work-related risk factors (duration of work,  length of service, workload, rest time, commuting time, and work environment) and non work-related risk factors (age, nutritional status, sleep quantity, sleep quality, alcohol  consumption, and caffeine consumption). This study used a cross-sectional study design  conducted from February to June 2025. Data were collected through online  questionnaires, including individual and job characteristics questionnaires, OFER, PSQI,  NASA-TLX, and perceptions of work environment. 136 respondent data analyzed using  descriptive and inferential analysis with the chi-square test. The results of the analysis  showed that 56.6% of workers experienced chronic fatigue and 79.4% acute fatigue. The  results showed that there was a significant relationship between work-related risk factors,  namely work period (p value = 0.047), noisy work environment (p value = 0.033) and  non-work-related risk factors, namely sleep quality (p value = 0.044) with chronic fatigue.  The results also showed that there was a significant relationship between work-related  risk factors, namely workload (p value = 0.033) with fatigue recovery.

Read More
S-12100
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Dyah Sharifa; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Didik Triwibowo
S-12349
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive