Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31464 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Manendra Muhtar; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Besral, Ella Nurlaella Hadi, Melissa Adiatman, Mita Juliawati
Abstrak:
Latar Belakang: Perawatan gigi dan mulut memiliki risiko tinggi untuk terjadi penularan COVID-19, maka sangatlah penting untuk dokter gigi melaksanakan perawatan dengan protokol pencegahan transmisi COVID-19 yang ketat. Pada penelitian ini dilakukan analisis kesiapan dokter-dokter gigi di Indonesia terhadap upaya pencegahan transmisi COVID-19, yang belum banyak diteliti di Indonesia. Dilakukan juga analisis kesiapan dengan faktorfaktor yang dapat memiliki asosiasi dengan kesiapan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross- sectional). Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner secara daring. Total diperoleh 520 sampel, dengan sampel berupa dokter gigi yang masih aktif berpraktik dengan minimal gelar dokter gigi. Pada awal kuesioner, ditanyakan pertanyaan awal mengenai karakteristik responden. Selanjutnya, responden diberikan 21 pertanyaan mengenai persepsi mereka terhadap upaya pencegahan transmisi COVID-19, dan 18 pertanyaan mengenai kesiapan/ rutinitas melaksanakan tindakan-tindakan pencegahan transmisi COVID-19 pada tempat praktik mereka. Hasil: Analisis multivariat dengan regresi logistik menunjukkan bahwa variabel yang memiliki asosiasi signifikan dengan kesiapan setelah dikontrol variabel lain adalah persepsi (adjusted odds ratio: 22,1, 95% CI: 2,9- 171,8), usia (adjusted odds ratio 0,3, 95% CI: 0,1-0,8), dan lokasi praktik (adjusted odds ratio 2,9, 95% CI: 1,5-5,6). Kesimpulan: Pelatihan dan edukasi dari organisasi profesi dokter gigi untuk meningkatkan kesiapan dokter gigi terhadap berbagai upaya pencegahan transmisi COVID-19 perlu diberikan. Selain pelatihan, berbagai stakeholder juga perlu bekerjasama untuk menangani segala keterbatasan sumber daya yang diperlukan untuk pencegahan COVID-19.  Kata kunci: Pencegahan Transmisi COVID-19, Dokter Gigi, Perawatan Gigi dan Mulut

Background: Dental treatments have a very high risk of COVID-19 transmission, therefore, it is very important for dentists to implement strict infection control measures during treatment. In this research, an analysis of dentists’ preparedness towards COVID-19 prevention measures was done. An analysis of the dentists’ preparedness with factors that can have an effect on preparedness was also done. Method: This research used a cross sectional design, and data was taken using an online questionnaire. The inclusion criteria of the samples were dentists that were still actively performing treatment. A total of 520 samples were obtained. In the beginning of the questionnaire, questions regarding the characteristics of the respondents were given. Afterwards, 21 questions regarding the respondents’ perception towards various COVID-19 prevention measures and 18 questions regarding the respondents’ preparedness/ routine in performing the various COVID-19 prevention measures were given. Results: Multivariate analysis with logistic regression showed variables that had a significant association with total preparedness were perception (adjusted odds ratio: 22,1, 95% CI: 2,9- 171,8), age (adjusted odds ratio 0,3, 95% CI: 0,1-0,8), and type of treatment facility (adjusted odds ratio 2,9, 95% CI: 1,5-5,6). Conclusion: Training and education by dentists’ professional organizations to improve the preparedness of dentists towards various COVID19 preventive measures needs to be given. Besides training, stakeholders need to work together to provide various resources needed for COVID-19 prevention if the resources are limited. Keywords: COVID-19 Prevention Measures, Dentists, Dental Settings
Read More
T-6173
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sofwatun Nida; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Martya R. Makful, Dian Sidik Arsyad, Argianto
Abstrak: Data rutin situasi COVID-19 dapat memberikan banyak informasi penting yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi pengendalian pandemi. Sayangnya keterbatasan tenaga seringkali menjadi alasan minimnya analisis lebih lanjut. Penelitian ini memanfaatkan laporan data rutin Kementerian Kesehatan untuk menganalisis pengaruh pelacakan kontak erat terhadap transmisi COVID-19 di Pulau Jawa secara spasial. Tujuannya membantu mengevaluasi upaya pelacakan kontak erat yang sudah dilakukan pemerintah. Analisis dilakukan dengan membuat peta distribusi pelacakan kontak dan transmisi kasus menggunakan software QGIS 2.8.1. dan nilai Indeks Moran menggunakan software Geoda. Penelitian ini menggunakan data cross-sectional dengan design studi ekologi. Unit analisis adalah kabupaten/kota yang berjumlah 118 dan waktu pengamatan adalah 15 Maret - 11 Januari 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transmisi kasus COVID-19 cenderung tinggi di bagian tengah Pulau Jawa, puncak transmisi terjadi pada bulan Juli 2021, kapasitas pelacakan kontak erat cenderung lebih tinggi di kabupaten/kota yang memiliki kasus lebih tinggi. Penyebaran kasus COVID-19 di Pulau Jawa memiliki efek spasial (I=0.234, E(I)=-0.0085). Terdapat autokorelasi negatif yang lemah antara pelacakan kontak dengan kasus COVID-19 di Pulau Jawa (I=-0.133, E(I)=-0.0085). Pada saat transmisi kasus tinggi rasio pelacakan kontak lebih rendah daripada ketika transmisi kasus rendah. Pelacakan kontak harus dilakukan saat transmisi penyakit rendah sehingga ledakan kasus dapat di cegah
Routine data of the COVID-19 situation can provide a lot of important information that can be used as material for evaluating pandemic control. Unfortunately, limited manpower is often the reason for the lack of further analysis. This study used routine data from the Ministry of Health to analyze the spatial effect of close contact tracing on COVID-19 transmission in Java. The aim is to help the government evaluate close contact tracing efforts. The analysis was carried out by creating the distribution map of contact tracing and case transmission using QGIS 2.8.1 software and Moran Index values using Geoda software. This study used cross-sectional data with an ecological study design. The unit of analysis was the municipality, and the observation time was 15 March - 11 January 2022. The results showed that the transmission of COVID-19 cases tends to be high in the central part of Java Island, the peak of transmission occurred in July 2021, close contact tracing capacity tends to be higher in municipalities with higher cases. The spread of COVID-19 cases in Java has a spatial effect (I=0.234, E(I)=-0.0085). There is a weak negative autocorrelation between contact tracing and COVID-19 cases in Java (I=-0.133, E(I)=-0.0085). When case transmission was high, the contact tracing ratio was lower than when case transmission was low. Contact tracing should be done when disease transmission is low so that case explosions can be prevented
Read More
T-6376
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jessie Andrean; Pembimbing: Martya Rahmaniati M.; Penguji: Rico Kurniawan, Verry Adrian, Jhonson Hotsar
Abstrak:
Amanat Undang – Undang dan Peraturan Menteri Kesehatan telah mewajibkan dokumentasi data dan informasi pelayanan kesehatan beralih ke metode digital. Untuk itu praktik mandiri dokter dan dokter gigi diminta mengalihkan penyelenggaraan rekam medis dari manual menjadi elektronik. Pembinaan dan pengawasan terhadap praktik mandiri dokter dan dokter gigi tersebut mengalami beberapa kendala. Untuk mengatasi kendala tersebut maka dirancang sistem informasi untuk praktik mandiri dokter dan dokter gigi yang menggabungkan fungsi penyelenggaraan rekam medis elektronik dengan pembinaan dan pengawasannya. Identifikasi kebutuhan terhadap sistem informasi diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Sistem informasi dikembangkan dengan metode System Development Life Cycle dengan pendekatan prototipe. Pengujian terhadap prototipe dilakukan dengan metode blackbox. Umpan balik terhadap prototipe dilakukan dengan wawancara mendalam. Penelitian ini menghasilkan prototipe sistem informasi untuk praktik mandiri dokter dan dokter gigi. Sistem dapat diakses 5 level pengguna yaitu Dinas Kesehatan Provinsi, Suku Dinas Kesehatan Kota, Puskesmas Kecamatan, Praktik Mandiri Dokter atau Dokter Gigi, dan Admin. Sistem informasi dapat memfasilitasi penyelenggaraan rekam medis elektronik, pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan, serta diseminasi data dan informasi. Melalui sistem informasi ini praktik mandiri dokter dan dokter gigi dapat mendokumentasikan pelayanan kesehatan secara digital serta dapat membantu pemerintah melaksanakan kegiatan pembinaan dan pengawasan.

The mandate of the Laws and Regulations of the Minister of Health has made it mandatory for the documentation of data and information on health services to switch to digital methods. For this reason, the private practice of doctors and dentists is required to shift the administration of medical records from manual to electronic. Guidance and supervision of the independent practice of doctors and dentists encountered several obstacles. To overcome these obstacles, an information system was designed for the private practice of doctors and dentists that combines the functions of administering electronic medical records with their guidance and supervision. Identification of the need for information systems is obtained through in-depth interviews, observation, and document review. The information system was developed using the System Development Life Cycle method with a prototype approach. Testing of the prototype was carried out using the blackbox method. Feedback on the prototype is done by in-depth interviews. This research produces a prototype of an information system for private practice of doctors and dentists. The system can be accessed by 5 levels of users, namely the Provincial Health Office, City Health Office, District Health Center, Private Doctor or Dentist Practice, and Admin. Information systems can facilitate the implementation of electronic medical records, recording and reporting of health services, as well as dissemination of data and information. Through this information system private practice of doctors and dentists can digitally document health services and can help the government carry out guidance and supervision activities.
Read More
T-6679
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fakhrunnisa Ahmad; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Makful Makful, Sandra Fikawati, Rahmadewi, Mularsih Restianingrum
Abstrak: Inisiasi menyusu dini (IMD) adalah meletakkan bayi di dada ibu segera setelah bayi lahir dan dibersihkan untuk melakukan kontak kulit antara dada ibu dan bayi, membiarkan bayi menemukan puting ibu untuk menyusu. Proporsi IMD di Dunia sebesar 42% ; ASIA Timur 32% ; ASIA Selatan 40%; dan di Indonesia 56,5%. Penundaan IMD biasanya disebabkan karena bayi lahir dengan dengan sectio cesarea (SC) karena perawatan pasca operasi yang lama sehingga menunda kontak ibu-bayi dan kemungkinan dilakukannya IMD menjadi kecil. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh persalinan Caesar terhadap upaya pelaksanaan IMD, menggunakan data individu Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2017 dengan desain cross-sectional. Sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu ibu dengan bayi yang melakukan IMD (n=8418) dan ibu dengan bayi yang tidak melakukan IMD (n=4238). Data bersifat kategorik dan dianalisis dengan uji regresi logistik ganda. Persalinan dengan SC berisiko 2,7 kali untuk tidak melakukan IMD setelah dikontrol oleh variabel paritas; kunjungan ANC; berat lahir; interaksi antara persalinan Caesar dengan pekerjaan suami; interaksi antara persalinan Caesar dengan pendidikan ibu; dan interaksi antara persalinan Caesar dengan kunjungan ANC. Diharapkan agar dilakukan penapisan secara ketat agar persalinan tanpa indikasi tidak dilakukan tindakan SC, sehingga menurukan angka persalinan SC. Dibuatnya undang-undang mengenai upaya pelaksanaan IMD segera setelah bayi lahir baik bayi yang lahir dengan pervaginam maupun SC
Early initiation of breastfeeding (EIBF) is placing the baby on the mother's chest as soon as the baby is born and clean to make sure skin-to-skin contact between the mother's chest and the baby, letting the baby find the mother's nipple. The proportion of EIBF in the world was 42%; East ASIA 32%; South ASIA 40%; and in Indonesia 56.5%. Delayed of initiation of breastfeeding was usually caused by the baby was born by cesarean section (CS) because prolonged postoperative care, delaying mother-infant contact, making EIBF less likely. This study was conducted to determine the effect of the CS delivery on the implementation of early initiation of breastfeeding using the 2017 Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) data with a cross-sectional design. The sample of this study were grouped into two groups, baby-mothers who did EIBF (n=8418) and babymothers who did not EIBF (n=4238). Data were categorical and analyzed by multiple logistic regression tests. Delivery with c-section had a 2.7 times risk of not getting EIBF after being controlled by the parity variable; ANC visit; birth weight; the interaction between the type of delivery and the work of the husband; the interaction between the type of delivery and the mother's education; and the interaction between the type of delivery and the ANC visit. It is hoped that a strict screening will be carried out so that deliveries without indications will not be performed by c-section, thereby reducing the number of CS deliveries. The drafting of a law regarding the implementation of EIBF immediately after the baby is born, either babies born with vaginal or CS
Read More
T-6057
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Silvia Sagita; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Milla Herdayati, Lucia Sri Rejeki, Sidayu Ariteja
Abstrak:
Stunting merupakan tantangan fundamental dalam perkembangan manusia. Sebanyak 149.2 juta balita di dunia (22%) mengalami stunting pada tahun 2020. Prevalensi stunting di Indonesia yaitu 24,4% pada tahun 2021 dan masih lebih tinggi dari rata-rata global. Periode pemberian MPASI sejak usia 6 hingga 23 bulan adalah waktu puncak insiden gangguan pertumbuhan, defisiensi mikronutrien dan penyakit menular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak praktik pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) terhadap kejadian stunting pada anak usia bawah dua tahun (Baduta) di Indonesia sebelum dan pada masa Pandemi Covid-19. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional dengan menggunakan data sekunder Baseline National tahun 2017 dan Program Review tahun 2021 Wahana Visi Indonesia. Lokasi penelitian yaitu di 11 Kabupaten/kota di Indonesia. Analisis data yang di gunakan dalam penelitian ini antara lain analisis univariat, bivariat dan multivariat regresi logistik berganda. Kejadian stunting baduta di Indonesia di masa pandemi tidak mengalami perbedaan atau penurunan yang signifikan dibandingkan pada masa sebelum pandemi. Praktik MPASI, yaitu variasi makanan mengalami perbaikan di masa pandemi namun tidak pada frekuensi makan. Variasi dan frekuensi makan tidak berhubungan dengan kejadian stunting baduta di masa pandemi, namun frekuensi makan signifikan berhubungan dengan kejadian stunting pada masa sebelum pandemi. Variabel jenis kelamin, usia anak, pemberian ASI dan sanitasi berhubungan dengan kejadian stunting baduta dan merupakan confounding hubungan praktik MPASI dengan kejadian stunting baduta pada masa sebelum pandemi. Usia anak merupakan satu-satunya faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting baduta di masa pandemi. Intervensi program belum dapat menurunkan prevalensi stunting secara signifikan namun sudah menunjukkan dampak pada praktik pemberian MPASI baduta. Sehingga dibutuhkan durasi intervensi program yang lebih panjang dan secara komprehensif menyasar periode 1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak di dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun, serta melibatkan wanita usia subur, ibu hamil serta orang tua/ pengasuh baduta.

Stunting is a fundamental challenge in human development. A total of 149.2 million children under five in the world (22%) were stunted in 2020. The average stunting prevalence in Indonesia is 24,4% and still higher than the global average. The period of giving complementary foods from 6 to 23 months of age is the peak time of the incidence of growth disorders, micronutrient deficiencies and infectious diseases. This study aims to determine the impact of Infant and Young Child Feeding (IYCF) practice on the incidence of stunting in children under two years of age (Baduta) in Indonesia before and during the Covid-19 pandemic. The study uses using secondary data from National Baseline 2017 and Program Review 2021 Wahana Visi Indonesia with a Cross Sectional design. The research locations are in 11 regencies/cities in Indonesia. Data analysis used in this study included univariate, bivariate and multivariate multiple logistic regression analysis. Prevalence of stunting in children under two in Indonesia during the pandemic did not show a significant difference or decrease compared to the pre-pandemic period. The IYCF practice, namely Minimum Dietary Diversity (MDD) has improved during the pandemic but not the Minimum Meal Frequency (MMF). MDD and MMF was not related to stunting in children during pandemic, but the MMF was significantly related to stunting in the pre-pandemic period. The variables of gender, child's age, breastfeeding and sanitation are related to stunting and are a confounding of the relationship between complementary feeding practices and stunting during the pre-pandemic period. The age of the child is the only factor related to stunting in children during pandemic. Program interventions have not been able to significantly reduce the prevalence of stunting, but have shown an impact on the practice of providing complementary feeding for children. So that a longer duration of program intervention is needed and comprehensively targets the period of the first 1000 days of life, since in the womb until the child is two years old, also involving women of childbearing age, pregnant women and parents/caregivers of children under two years old.
Read More
T-6574
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ingrid Masitoh; Pembimbing : Tris Eryando; Penguji : Besral, Enizarti, Inda Torisia Hatang
Abstrak:

ABSTRAK Nama :  Ingrid Masithoh Program Studi :  Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul :  Retensi Dokter dan Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap Ketersediaan tenaga kesehatan yang berkesinambungan sangat vital dalam mendukung pemberian layanan kesehatan yang berkesinambungan pula. Di daerah yang kekurangan tenaga kesehatan, mengoptimalkan retensi menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran retensi dokter dan dokter gigi Pegawai Tidak Tetap di daerah terpencil dan sangat terpencil serta faktor yang mempengaruhi retensi. Penelitian ini menggunakan desain cohort retrospective dengan analisis survival dan cox regresi. Sampel penelitian 10.361 dokter dan 3.496 dokter gigi yang berasal dari data pengangkatan Pegawai Tidak Tetap tahun 2008 – 2015 milik Biro Kepegawaian Kementerian Kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama masa penugasan minimum yang diwajibkan kepada dokter/dokter gigi PTT maka semakin banyak faktor yang mempengaruhi retensinya. Seiring peningkatan minimal masa tugas, pada 2 tahun pertama retensinya semakin meningkat, akan tetapi PTT yang berhenti sesudah penugasan pertamanyapun semakin meningkat. Tidak terdapat perbedaan retensi antar jenis kelamin, dan fasilitas kesehatan dengan kriteria sangat terpencil memiliki retensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang terpencil. Kata kunci : retensi PTT, faktor retensi, dokter/dokter gigi PTT


ABSTRACT Name :  Ingrid Masithoh Program :  Public Health Study Title :  Retention of Doctors and Dentists in Non-Permanent Personnel :  Appointment Program The availability of sustainable health workers is vital in supporting the delivery of sustainable health services as well. In areas that are short of health personnel, optimizing retention is critical. This study aims to determine the retention of doctors and dentists in Non-Permanent Personnel Appointment Program in remote and rural areas, and factors that affect their retention. This study used a retrospective cohort design with survival and cox regression analysis. The sample was 10,361 doctors and 3,496 dentists in Non-Permanent Personnel Appointment Program, from 2008 until 2015 that belong to the Bureau of Personnel Ministry of Health. The results showed that the longer the required minimum assignment period to the doctor / dentist, the more factors will affect the retention, and the longer minimum assignment the retention increase until the first 2 years,  There is no difference in retention between the types of  marital status. Doctors/dentists who are assigned to very remote criteria have higher retention than in remote criteria. Keywords : retention of Non-Permanent Personnel Appointment Program, retention factors, doctors/dentists of Non-Permanent Personnel Appointment Program

Read More
T-5110
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pramita Puspaningtyas Putri; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral, Fatma Lestari, Hariadi Wibisono, Sudibyo Alimoeso
Abstrak: Tesis ini membahas tingkat kestabilan perilaku protektif masyarakat dalam protokol kesehatan selama masa pandemi COVID-19 serta determinan yang berkontribusi terhadap perubahan perilaku tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Hasil penelitian menyarankan bahwa Kementrian Kesehatan dan stakeholder lainnya dalam penyelenggaraan komunikasi kesehatan untuk meningkatkan kualitas informasi yang sederhana, mudah dimengerti, bernada tegas baik termasuk dengan metode gain frames untuk menumbuhkan intensi masyarakat mempertahankan perilaku protektif yang sudah dilakukan, bahkan setelah pandemi berakhir.
Read More
T-6366
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alika Shameela; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Rico Kurniawan, Fifi Dwijayanti
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh dari coping pandemi COVID-19 dan penyesuaian perkuliahan terhadap depresi pada Mahasiswa Baru FKM UI Angkatan 2020. Disain studi dalam penelitian ini merupakan studi potong lintang. Sampel dalam penelitian adalah Mahasiswa Baru FKM UI Angkatan 2020. Sebanyak 139 sampel didapatkan dengan menggunakan purposive sampling. Analisis bivariat dilakukan menggunakan chi-square dan analisis multivariat dilakukan dengan mengunakan regresi logistik biner. Data dikumpulkan antara Mei - Juni 2021 melalui kuesioner online.
Read More
S-10667
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanifah Nurdani; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Astuti Yuni Nursasi, R. Sutiawan
Abstrak: Latar Belakang. Pandemi COVID-19 yang terjadi sejak akhir tahun 2019 telah menginfeksi puluhan juta orang di di dunia, termasuk di Indonesia. Tes pemeriksaan PCR sebagai tes standar untuk diagnosis merupakan salah satu upaya pencegahan sekunder penting untuk mencegah penyebaran penyakit, mengetahui besar masalah dan pengambilan keputusan segera untuk upaya pencegahan selanjutnya. Adanya jeda waku yang panjang untuk menunda pemeriksaan diagnosis PCR ini berpotensi menimbulkan penyebaran virus yang lebih luas dan kemungkinan kesalahan diagnosis. Metode Penelitian. Penelitian dilakukan dengan Sumber data Rekam Medis pasien rawat inap COVID-19 tahun 2020 di Rumah Sakit Universitas Indonesia dengan pendekatan cross sectional. Total sampling dilakukan dengan menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil. Dari 254 subjek penelitian, laki-laki lebih banyak (55.1%). Panjang jeda waktu diagnosis di luar fasilitas peayanan kesehatan median 6 hari, di fasilitas pelayanan kesehatan 1 hari, dan total 7 hari. Jumlah pasien terlambat di luar fasilitas pelayanan ksesehatan lebih banyak dibandingn dengan terlambat di dalam fasilitas pelayanan kesehatan (80.7% vs. 5.7%). Dari uji chi-square, faktor yang berhubungan dengan keterlambatan diagnosis yaitu jenis kelamin (p=0.013), umur (p=<0.01), status perkawinan (p=0.021), pendidikan (p=0.024), riwayat kontak (p=0.031), dan gejala (p=0.003). Kesimpulan. Ada hubungan antara keterlambatan diagnosis COVID-19 dengan beberapa faktor demografi dan faktor penyakit pasien.
Read More
S-10888
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fatma Rizkia; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Artha Prabawa, Retnowati
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk merancang suatu prototipe dashboard penyelidikan epidemiologi COVID-19 yang dapat menganalisis dan menyajikan data hasil penyelidikan epidemiologi pada pasien rawat jalan COVID-19 di RSUI. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, menggunakan metode Rapid Application Development yang terdiri atas kegiatan analisis kebutuhan dan perancangan prototipe. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. Penelitian ini berhasil menghasilkan prototipe dashboard penyelidikan epidemiologi COVID-19 yang dapat menganalisis data dan menyajikan informasi jumlah pasien yang melakukan swab test, jumlah pasien berdasarkan kriteria kasus, jumlah pasien berdasarkan tujuan swab test, jumlah pasien berdasarkan jenis kelamin, jumlah pasien berdasarkan usia, gejala yang dimiliki pasien, kondisi penyerta pasien, factor risiko pasien, dan hubungan daftar kontak erat.
Read More
S-10625
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive