Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38788 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Aji Utomo Putro; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Fatma Lestari, Ajeng Pramayu, Hairuddin Bangun Prasetyo
Abstrak: Angka kematian akibat lift di dunia pada 1999-2009 sebesar 263 orang yang disebabkan 57% terjatuh, 18% terjepit, 17% tertimpa benda, dan 9% penyebab lainnya. Salah satu upaya pencegahan kecelakaan dengan menganalisis faktor psikososial yang mengakibatkan stres kerja dan perilaku berisiko yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor psikososial terhadap stres kerja dan perilaku berisiko karyawan di PT. X. Metode penelitian yaitu deskriptif kuantitatif, desain studi cross-sectional, dengan sampel 200 orang. Faktor psikososial yang berhubungan yaitu beban kerja dan kecepatan kerja, pengendalian, fungsi organisasi, hubungan interpersonal, peran organisasi, pengembangan karir, home-work interface, tuntutan psikologis, partisipasi atau pengawasan, perundungan dan kekerasan. Terdapat hubungan antara stres kerja dan perilaku berisiko. Perilaku yang sering muncul ketika karyawan mengalami stres kerja yaitu terburu-buru saat bekerja. Keluhan stres kerja paling tinggi terkait keluhan fisiologis yaitu konsumsi obat penghilang sakit kepala; keluhan perilaku yaitu menyela dan memotong kalimat orang lain; keluhan emosional yaitu enggan pergi kerja. PT X sebaiknya melakukan risk assesment lebih komprehensif, memperjelas pengembangan karir, dan perhitungan ulang terkait beban kerja, efektifitas dan efisiensi agar tidak berdampak buruk terhadap work-life balance karyawan
The death rate due to elevators in the world at 1999-2009 was 263 people, caused by 57% falling, 18% being pinched, 17% falling by objects, and 9% other causes. One of the efforts to prevent accidents was to analyze psychosocial factors that caused work stress and at-risk behavior that can lead to work accidents. The purpose of this study was to determine the relationship of psychosocial factors to work stress and at-risk behavior of employees at PT. X which is engaged in the elevator and escalator sector. This research method was descriptive quantitative, cross-sectional study, with a sample of 200 people. Psychosocial factors related to workload and work speed, job control, organizational function, interpersonal relationships, organizational roles, career development, home-work interface, psychological demands, participation or supervision, bullying and violence. There is a relationship between work stress and at-risk behavior. Behaviors that often arise when employees experience work stress are rushing at work decisions. The highest work stress complaints were related to physiological complaints, namely the consumption of headache relievers; behavioral complaints, namely interrupting and cutting other people's sentences; emotional complaints, namely refusal to go to work; Cognitive complaints are difficulty thinking clearly and concentrating. PT X should conduct a more comprehensive risk assessment, clarify career development, and recalculate the workload, effectiveness and efficiency to prevent negative impact on employees' work-life balance.
Read More
T-6200
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gatha Haris Widodo; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Neni Julyatri Sagala
Abstrak: Perkembangan bisnis yang pesat di Indonesia saat ini menuntut pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di setiap tempat kerja termasuk sektor kesehatan. Laboratorium merupakan salah satu sarana dalam sektor kesehatan yang dituntut dapat unggul dalam memberikan pelayanan kepada konsumen. PT. X adalah salah satu laboratoium swasta di Indonesia yang sudah memiliki beberapa penghargaan. Bagian pelayanan menjadi salah bagian terpenting dalam suatu sistem produksi di perusahaan ini. Penilaian terhadap faktor-faktor bahaya psikososial yang berhubungan dengan stres pada pekerja bagian pelayanan di PT. X cabang se-Jabodetabek belum pernah dilakukan sebelumnya, dimana pencatatan mengenai penilaian terhadap faktor-faktor yang berhubungan dengan stres dan pengendaliannya belum tersedia sebagai suatu dokumen K3 yang dapat disosialisasikan bagi seluruh elemen bagian pelayanan di PT. X cabang se-Jabodetabek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor bahaya psikososial yang berhubungan dengan tingkat stres pekerja bagian pelayanan di PT. X cabang se-Jabodetabek tahun 2016. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah karyawan bagian pelayanan yang berjumlah 291 responden. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari instansi terkait dan data primer yang diperoleh melalui kuesioner yang diberikan kepada responden. Dari hasil penelitian didapatkan 51,2% responden mengalami stress kerja tinggi dan 48,8% mengalami stres kerja rendah. Hasil analisis bivariat dengan tingkat kemaknaan 5%, diperoleh lima faktor yang berhubungan dengan stres kerja yakni budaya dan fungsi organisasi dengan p value 0,001, peran dalam organisasi dengan p value 0,002, pengembangan karir 0,001, hubungan interpersonal dengan p value 0,001, dan peralatan kerja dengan p value 0,001. Dari hasil penelitian tersebut perusahaan harus segera mengambil tindakan pengendalian untuk guna mencegah terjadinya stres di kalangan pekerja dan yang akhirnya bisa merugikan pekerja dan perusahaan sendiri.
Read More
S-9203
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adam Maryanto; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Robiana Modjo
Abstrak:
Risiko psikososial merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesehatan, kesejahteraan, dan keselamatan pekerja, khususnya pada industri hulu minyak dan gas bumi yang memiliki karakteristik pekerjaan berisiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hazard psikososial, menilai tingkat risiko psikososial, menganalisis efek yang dialami pekerja, mengidentifikasi kebutuhan konseling dan pemantauan psikososial, serta menganalisis tren keterkaitan hazard psikososial dengan faktor-faktor yang muncul dalam investigasi incident pada pekerja PT X. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain kuantitatif deskriptif cross-sectional sebagai pendekatan utama, yang dilengkapi analisis kualitatif terhadap data sekunder investigasi incident melalui pattern matching. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan terhadap 204 respons lengkap yang berasal dari pekerja organik dan mitra kerja. Instrumen dikembangkan peneliti melalui adaptasi selektif dari konsep HSE Management Standards Indicator Tool, NIOSH, ICAWS, NASA-TLX, MBI, JCQ, dan JD-R. Data kualitatif menggunakan data sekunder investigasi incident PT X Zona 7 Tahun 2025 untuk menjelaskan pola hasil kuantitatif, bukan untuk membuktikan hubungan sebab-akibat langsung antara hazard psikososial dan incident. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hazard psikososial dominan pada lingkungan kerja meliputi tuntutan pekerjaan yang tinggi, beban kerja, keterbatasan fasilitas dan peralatan kerja, serta kurangnya pelatihan. Pada lingkungan rumah dan sosial, hazard dominan meliputi kurangnya waktu bersama keluarga, masalah dengan pasangan, masalah keuangan keluarga, dan kondisi kesehatan keluarga. Pada faktor individu, hazard dominan meliputi mudah lupa, kurang teliti, kehilangan konsentrasi, rendahnya daya tahan terhadap stres, dan tidak sabar. Sebagian besar risiko psikososial berada pada kategori rendah hingga sedang. Efek yang paling banyak dirasakan pekerja meliputi pusing kepala, kelelahan, kecemasan, mudah lupa, penurunan daya ingat, kesalahan kerja, dan penurunan produktivitas. Analisis tren menunjukkan adanya kesesuaian pola antara hazard psikososial dominan dengan faktor-faktor yang muncul dalam investigasi incident, terutama yang berkaitan dengan kegagalan identifikasi bahaya, pelanggaran prosedur kerja, penggunaan peralatan yang tidak memadai, dan kesalahan kerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hazard psikososial berpotensi memengaruhi kesehatan, perilaku kerja, dan keselamatan kerja. Oleh karena itu, pengelolaan risiko psikososial perlu dilakukan secara terintegrasi melalui pemantauan psikososial, konseling pekerja, penguatan dukungan organisasi, serta peningkatan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

Psychosocial risk is one of the factors that may affect workers’ health, well-being, and safety, particularly in the upstream oil and gas industry, which is characterized by high-risk work activities. This study aimed to identify psychosocial hazards, assess psychosocial risk levels, analyze psychosocial effects experienced by workers, identify counseling and psychosocial monitoring needs, and examine trends in the relationship between psychosocial hazards and factors identified in incident investigations at PT X. This study used a mixed methods approach with a descriptive quantitative cross-sectional design as the main approach, complemented by qualitative analysis of secondary incident investigation data using pattern matching. Quantitative data were collected from 204 complete responses from permanent and contractor workers. The researcher-developed instrument selectively adapted concepts from the HSE Management Standards Indicator Tool, NIOSH, ICAWS, NASA-TLX, MBI, JCQ, and JD-R. Qualitative data were obtained from secondary incident investigation data from PT X Zone 7 in 2025 to explain the quantitative pattern, not to prove a direct causal relationship between psychosocial hazards and incidents. The results showed that the dominant psychosocial hazards in the work environment included high job demands, workload, inadequate facilities and work equipment, and insufficient training. In the home and social environment, the dominant hazards included lack of family time, marital problems, family financial problems, and family health issues. Individual-related hazards were dominated by forgetfulness, lack of attention to detail, loss of concentration, low stress tolerance, and impatience. Most psychosocial risks were categorized as low to moderate. The most frequently reported effects included headaches, fatigue, anxiety, forgetfulness, memory decline, work errors, and reduced productivity. Trend analysis revealed a pattern consistency between dominant psychosocial hazards and factors identified in incident investigations, particularly hazard identification failures, procedural violations, inadequate equipment, and work-related errors. This study concludes that psychosocial hazards have the potential to influence workers’ health, work behavior, and occupational safety. Therefore, psychosocial risk management should be implemented through integrated psychosocial monitoring, employee counseling programs, strengthened organizational support, and continuous improvement of occupational health and safety management systems.
Read More
T-7721
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alya Hanifah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:

Stres kerja adalah respon buruk seseorang secara fisik maupun emosional, ketika kompetensi pekerja tidak mampu memenuhi tuntutan pekerjaan yang diberikan. Berdasarkan penelitian terdahulu, pekerja di industri garmen juga memiliki risiko mengalami stres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko psikosisal dengan kejadian stres kerja pada pekerja PT X, sebuah perusahaan garmen di Semarang, Jawa Tengah. Faktor yang diteliti antara lain faktor individu, faktor konten kerja, faktor konteks kerja, dan faktor effort-reward. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan desain studi the explanatory sequential. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan penyebaran kuesioner dan wawancara dilakukan untuk pengumpulan data kualitatif. Pengolahan data menggunakan uji chi-square dengan software SPSS 27.0 untuk mengetahui apakah ada hubungan yang siginifikan antara variabel independen dengan variabele dependen. Berdasarkan uji statistik, didapatkan prevalensi stres kerja sebesar 24,9% pada responden secara keseluruhan, sebesar 26,5% pada tim produksi, dan 18,2% pada tim supporting. Variabel yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja secara keseluruhan antara lain: lingkungan dan peralatan kerja (p= 0,004); desain tugas (p= 0,042); beban kerja (p= 0,001); jadwal kerja (p= 0,001); pengembangan karir (p= 0,001); hubungan interpersonal (p= 0,034); status pernikahan (p= 0,003); dan effort-reward (p= 0,002). Oleh karena itu, perlu dilakukan tindak lanjut berupa penerapan manajamen stres kerja dari tingkat manajemen, terutama pada faktor yang berhubungan dengan stres kerja, untuk mencegah kejadian stres kerja yang lebih besar.


Work-related stress was an bad someone physically or emotionally, when workers ability unable to meet the demands of jobs provided. Based on the research before, workers in the garment industry also have  the risk of experiencing work stress. This study attempts to analyze the relationship between the psychosocial risk factors with work stress on workers PT X, a garment company in Semarang, Central Java. The individual factors, the content of work factors, the context of work factors, and the effort-reward factors was included in this study. Mixed method were used with the explanatory sequential design study. Quantitative data collected by using questionnaire and interviews performed for qualitative data collection. Data processing uses a chi-square test with software SPSS 27.0 to analyze if there's any significant connection between independent variables and dependent variable. By statistical test, prevalence of work stress prevalence is 24.9 % on all respondents, 26.5 % on production team, and 18.2 % on supporting team. Variables associated with work stress include: environment and work equipment (p = 0.004 ); task design (p = 0,042 ); workload (p = 0.001 ); work schedule (p = 0.001 ); career development (0.001 ); interpersonal relationship (p = 0.034 ); marital status (= 0.003); and effort-reward factor (p = 0,00). Based on this research, the company needs to implemented stress management program, especially on the factors associated with work stress, to prevent more stress from happening. Keyword: work stress, psychosocial risk factor, the garment company, production team, supporting team 

Read More
S-11817
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahratunnisa; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Fatma Lestari, Rezki Kurnianto
Abstrak:
Stres kerja merupakan respons fisik dan emosional yang merugikan akibat ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan yang dirasakan dengan sumber daya, kemampuan, serta kebutuhan individu dalam mengatasinya. Berdasarkan penelitian terdahulu, stres kerja merupakan permasalahan global dengan prevalensi tinggi di berbagai sektor dan profesi. Risiko serupa juga dialami oleh pekerja kantoran yang menghadapi tekanan dari beban kerja kompleks, tuntutan tinggi, serta jam kerja fleksibel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor psikososial dan faktor individu terhadap kejadian stres kerja pada karyawan PT X, sebuah perusahaan manufaktur di DKI Jakarta. Faktor yang diteliti adalah faktor individu, faktor konteks kerja, dan faktor konten kerja. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pengumpulan data melalui kuesioner. Analisis data meliputi uji chi-square untuk hubungan bivariat dan regresi logistik untuk variabel dengan kategori >2 menggunakan SPSS 22.0 guna mengidentifikasi pengaruh faktor independen terhadap stres kerja. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa prevalensi stres kerja sedang di PT X adalah sebesar 8,7%. Hubungan signifikan (p-value<0,05) ditemukan pada 8 faktor, yaitu jenis kelamin, status pernikahan saat ini, status kepegawaian, pengembangan karier, home-work interface, lingkungan dan peralatan kerja, beban/kecepatan kerja, serta jadwal kerja. Oleh karena itu, diperlukan penerapan manajemen stres kerja yang holistik, terutama pada faktor yang berhubungan dengan stres kerja, untuk mencegah kejadian stres kerja yang lebih besar serta meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan pekerja.

Work related stress is a harmful physical and emotional response resulting from an imbalance between perceived job demands and available resources, individual capabilities, and coping needs. Previous research shows it’s a prevalent global issue across professions and sector, including office workers facing complex workloads, high demands, and flexible schedules. This cross-sectional study examined psychosocial (work context and content) and individual factos influencing work related stress among employees at PT X, located in DKI Jakarta, that is a manufacturing company, using questionnaire data analyzed with chi-square test and logistic regression (SPSS 22.0). Results indicated an 8,7% moderate stress prevalence, with significant associations (p<0,05) found for gender, marital status, employment type, career development, work-home interface, work environment, workload, and work schedules. These findings support the need for holistic stress management interventions targeting these factors to improve employee welbeing and productivity.
Read More
S-11979
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mario Raka Pratama; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Mufti Wirawan, Fransiscus Fendy Novento ; Muhyi Nur Fitrahanefi
Abstrak:
PT X merupakan sebuah perusahaan tambang di Papua Tengah, melaporkan bahwa selama pandemi Covid-19, 57.8% pekerja mengalami burnout, 47.7% stres, dan 51.4% depresi. Divisi geoteknikal PT X, yang memiliki pekerjaan berisiko tinggi dan mobilitas tinggi, menghadapi faktor risiko gangguan psikososial yang signifikan. Penelitian tahun 2024 bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko ini dan memberikan rekomendasi untuk pengelolaan gangguan psikososial, mendukung komitmen perusahaan dalam pencegahan, perlindungan, promosi, dan dukungan kesehatan mental karyawan. Studi ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang deskriptif analitik di divisi geoteknikal PT X di Tembagapura dan Timika, Papua, dari April hingga Mei 2024. Populasi penelitian terdiri dari 644 karyawan, dengan 323 responden yang dipilih secara acak sederhana. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner COPSOQ III dan DASS-21. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi gejala depresi 12.38%, ansietas 17.96%, dan stres kerja 21.67% di antara karyawan divisi geoteknikal PT X tahun 2024, dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Faktor individu, pekerjaan, organisasional, interpersonal, dan sosial berkontribusi signifikan terhadap gejala-gejala tersebut. Perusahaan disarankan mengadopsi strategi intervensi komprehensif untuk mengelola dan mencegah gangguan psikososial di kalangan karyawan.

PT X is a mining company in Central Papua, reported that during the Covid-19 pandemic, 57.8% of its employees’ experienced burnout, 47.7% experienced stress, and 51.4% experienced depression. PT X's geotechnical division, characterized by high-risk and high-mobility roles, faces significant psychosocial risk factors. The 2024 study aimed to identify these risk factors and provide recommendations for managing psychosocial disorders, supporting the company's commitment to prevention, protection, promotion, and support for employees' mental health. This quantitative study employed a cross-sectional descriptive analytic design in PT X's geotechnical division in Tembagapura and Timika, Papua, from April to May 2024. The study population comprised 644 employees, with 323 randomly selected respondents. Data were collected using COPSOQ III and DASS-21 questionnaires. The research findings revealed a prevalence of 12.38% for depression, 17.96% for anxiety, and 21.67% for work stress among PT X's geotechnical division employees in 2024, with varying severity levels. Individual, occupational, organizational, interpersonal, and social factors significantly contributed to these symptoms. The company is advised to adopt a comprehensive intervention strategy to manage and prevent psychosocial disorders among its employees.
Read More
T-7092
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muthiah; Pembimbing: Doni Himat Ramdhan; Penguji: Robiana Modjo, Faridah Tusafariah
Abstrak: PT. X merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata dan properti. Karyawan dituntut untuk terus meningkatkan kualitas layanan sesuai dengan ekspektasi konsumen dan organisasi sehingga tidak terlepas dari streskerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor bahaya psikososial yangberhubungan dengan stres kerja menggunakan desain studi cross sectional pada107 responden. Hasil penelitian menunjukkan 49,5% responden mengalami stres tinggi. Faktor-faktor yang berhubungan secara signifikan dengan stres kerja padakaryawan adalah perkembangan karir, kepuasan kerja, hubungan interpersonal,desain kerja, beban kerja. tidak ada hubungan yang signifikan antara kontrolpekerjaan dan jadwal kerja dengan stres kerja.

PT. X is a company of tourism and property industry. The employees arerequired to continuously improve the quality of services in accordance theexpectation of customers and organization that cause stress of work. This studyaims to analyze the association between psychosocial hazards and work relatedstress using a cross sectional study on 107 respondents. The result showed 49.5%of respondents experiencing high stress. Psychosocial factors significantlyassociated with work-related stress on employees are career development, jobsatisfaction, interpersonal relationship, task design and workload. There was nosignificantly associated job control, and work schedule with work-related stress.
Read More
S-8315
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Mochamad Adas; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Robiana Modjo, Yulia Andani Murti
T-2440
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisah Suci Yanti; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Jonsinton Nainggolan
Abstrak: The tools used in this study are Quick Exposure Checklist to assess physical factors, the combination of psychosocial questionnaire are Effort Reward Imbalance, COPSOQ, NIOSH Generic Job Stress dan NIOSH Quality of Work Life (QWL) to assess psychosocial factors and Salivary Amylase Activation testing to assess work uhrelated stress and fatigue among fire fighters. Fatigue subjective measurement use tools form Sweedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI) and Fatigue Assessment Scale (FAS). Physic factors (force, awkward posture and manual handling), psychosocial factors (effort, reward, overcommittment, rolestress, emotional demand, social support and non work related factors) and organisational factors are the independent variables of work related stress and fatigue which are the dependent variable in this study. The result of this study shows that risk factor (neck) has correlation with fatigue (CI 95% 1,75-16,16; OR 5,32), psychosocial factors such emotional demand (CI 95% 1,04-5,78; OR 1,56), rolestress (CI 95% 1,23-4,76; OR 1,52) and family social support (CI 95% 1,27-5,43; OR 2,51) influence stress, organisational factors such type of work (CI 95% 0,05-0,55; OR 0,16), shift work (CI 95% 0,06-0,54; OR 0,18) and status of workers have correlations with stress
Read More
S-9647
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vania Widyadhari Haris Putri; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Dadan Erwandi, Moh. Rifki Rosady
Abstrak: Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi pekerja terhadap faktor psikososial konteks dan konten pekerjaan serta mengetahui gejala stres kerja yang dikeluhkan karyawan. Variabel dependen penelitian adalah gejala stres kerja (fisik, psikologis, kognitif, dan perilaku), sedangkan variabel independen adalah faktor karakteristik individu (usia, jenis kelamin, pendidikan, masa kerja, dan tipe kepribadian), faktor psikososial konteks pekerjaan (budaya dan fungsi organisasi, peran di organisasi, perkembangan karir, pengambilan keputusan dan kontrol, hubungan rumah-kantor) dan konten pekerjaan (lingkungan kerja, desain tugas, beban kerja/ritme kerja, dan jadwal kerja). Desain penelitian cross sectional, pengambilan data kuesioner via daring dan melibatkan seluruh karyawan sebanyak 51 orang. Analisis univariat menggunakan perangkat lunak. Persepsi faktor psikososial mengacu pada skor rata-rata, skor 1,00-3,00 tergolong buruk dan 3,01-5,00 tergolong baik.
Read More
S-10713
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive