Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37934 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Eka Putri Pertiwi; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Rahmawati
Abstrak: Penelitian ini ingin mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pemberian suplemen vitamin A pada balita usia 6-59 bulan di Indonesia berdasarkan analisis data SDKI 2017. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang melibatkan 1.728 balita usia 6-59 bulan di Indonesia. Hasil penelitian membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu, usia balita, riwayat imunisasi balita, kunjungan Antenatal Care (ANC), kunjungan Postanatal Care (PNC), tempat persalinan, dan keterpaparan media televisi dengan kepatuhan pemberian suplemen vitamin A. Riwayat imunisasi adalah faktor yang paling dominan berhubungan dengan kepatuhan pemberian suplemen vitamin A pada balita. Dengan demikian, penelitian ini menyarankan agar penguatan program imunisasi pada balita, edukasi kesehatan, kualitas kunjungan ANC dan PNC, serta pemanfaatan fasilitas kesehatan dan media terus ditingkatkan guna mencapai cakupan suplementasi vitamin A pada balita yang lebih baik.
Read More
S-10778
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Aniza Rizky Aprilya Sirait; Pembimbing: Endang L. Achadi;Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Tiara Luthfie
Abstrak: Praktik MP-ASI yang buruk dapat menyebabkan kekurangan gizi pada anak-anak.Minimum dietary diversity (MDD) merupakan salah satu penentu status gizi anak dantelah ditemukan dapat memprediksi terjadinya stunting. Penelitian ini membahasmengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan capaian MDD pada anak yang diberiASI usia 6-23 bulan berdasarkan data SDKI tahun 2017. Penelitian ini menggunakan ujiChi-square dan uji regresi logistik ganda untuk menganalisis 2.976 sampel WUS.Terdapat 52,8% anak yang diberi ASI usia 6-23 bulan di Indonesia tahun 2017 telahmengonsumsi setidaknya lima dari delapan kelompok makanan. Namun, masih terdapat47,2% anak yang belum memenuhi capaian MDD tersebut. Usia anak, pendidikan ibu,status bekerja ibu, akses terhadap media, kekayaan rumah tangga, dan pendidikan ayah,peran ayah, kunjungan ANC, penolong persalinan, tempat persalinan, dan wilayah tempattinggal ditemukan memiliki hubungan yang bermakna dengan capaian MDD anak.Namun, hanya usia anak, tingkat pendidikan ibu, status bekerja ibu, kekayaan rumahtangga, peran ayah, penolong persalinan, dan wilayah tempat tinggal yang lolos kepemodelan multivariat akhir yang mempengaruhi capaian MDD. Faktor dominan yangmempengaruhi capaian MDD anak adalah usia anak 6-11 bulan. Anak yang berusia 18-23 bulan berpeluang mengonsumsi lima atau lebih kelompok makanan sebesar 5,8 kalilebih tinggi dibandingkan dengan anak yang berusia di bawah 6-11 bulan. Masih terdapatseparuh anak Indonesia belum memenuhi capaian MDD. Perlu adanya intervensi di masamendatang yang menargetkan ibu yang memiliki bayi dan anak kecil melalui programpeningkatan kesadaran untuk mendorong pertumbuhan anak-anak dengan memberikandiet yang lebih beragam sejak awal diperkenalkan makanan.
Kata kunci:Anak usia 6-23 bulan; minimum dietary diversity; MP-ASI; SDKI 2017.
Read More
S-10502
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Ardelia; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Sandra Fikawati, Anies Irawati
S-10503
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Fety Fathimah AL Mubarokah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Trini Sudarti, Siti Arifah Pujonarti, Ellyanti, Yuni Zahraini
T-6363
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Early Vici Azmia; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Trini Sudiarti, Salimar
Abstrak:
Prevalensi balita wasting di Indonesia tahun 2022 sebesar 7,7%, menurut WHO masalah wasting ini sudah termasuk masalah kesehatan masyarakat yang buruk. Wasting adalah masalah gizi pada balita yang berdampak pada morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian wasting pada balita usia 6–59 bulan di Kelurahan Cimpaeun Kota Depok Tahun 2023. Penelitian ini dilakukan pada bulan April–Juni 2023, menggunakan desain cross-sectional, metode proportionate stratified random sampling dengan sampel penelitian 136 balita usia 6–59 bulan. Data dianalisis univariat dan bivariat menggunakan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 9,6% balita usia 6–59 bulan di Kelurahan Cimpaeun Kota Depok Tahun 2023 menderita wasting, dan termasuk pada masalah kesehatan masyarakat yang buruk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan energi, asupan protein, pengetahuan gizi ibu, dan pendapatan keluarga berhubungan dengan kejadian wasting pada balita usia 6–59 bulan. Risiko wasting lebih tinggi pada balita dengan asupan energi dan protein yang kurang, pengetahuan gizi ibu yang kurang, serta pendapatan keluarga yang rendah.

The prevalence of wasting under five in Indonesia in 2022 is 7.7%, according to WHO this wasting problem is a bad public health problem. Wasting is a nutritional problem in toddlers that has an impact on morbidity and mortality. The research objective was to determine the factors associated with wasting in toddlers aged 6–59 months in Cimpaeun Village in 2023. This research was conducted in April–June 2023, using a cross-sectional design, proportionate stratified random sampling method with a research sample of 136 toddlers aged 6–59 months. Data were analyzed univariately and bivariately using chi-square. The results showed that 9.6% of toddlers aged 6–59 months in the Cimpaeun Village in 2023 were suffering from wasting, and this is a bad public health problem. The results showed that energy intake, protein intake, mother's nutritional knowledge, and family income were associated with wasting in toddlers aged 6–59 months. The risk of wasting is higher for toddlers with less energy and protein intake, less knowledge of mother's nutrition, and low family income.
Read More
S-11394
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Fitra Sistia; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Rachmawati
Abstrak: Praktik pemberian makan bayi dan anak (PMBA) yang tidak tepat yangdikombinasikan dengan penyebab lain, seperti infeksi dan kekurangan makananberdampak pada sepertiga masalah malnutrisi. Indikator PMBA yang berupa minimumdiet diversity (MDD), minimum meal frequency (MMF), dan minimum acceptable diet(MAD) lebih terkait dengan pemberian makanan pendamping ASI yang memadai.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain studi cross sectional yang bertujuanuntuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan capaianminimum acceptable diet (MAD) pada anak usia 6-23 Bulan di Indonesia berdasarkananalisis data SDKI 2017. Hasil penelitian ini didapatkan dari data skunder SDKI 2017dengan jumlah sampel sebanyak 1592 responden yang diambil menggunakan tekniksimple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian minimumacceptable diet pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia sebesar 32,8%. Pada hasil analisisbivariat dengan menggunakan uji chi-square ditemukan bahwa terdapat faktor-faktoryang berhubungan dengan capaian MAD yaitu usia anak, pendidikan ibu, pendidikanayah, kuintil kekayaan, kunjungan ANC, kunjungan PNC, tempat persalinan, danketerpaparan media massa. Hasil analisis multivariat dengan menggunakan analisisregresi logistik ganda menemukan juga usia anak menjadi faktor dominan dari capaianMAD pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia setelah dikontrol oleh variabel status ibubekerja, pendidikan ibu, pendidikan ayah, kunjungan ANC dan tempat persalinan. Saranbagi Kementerian Kesehatan beserta jajarannya adalah dengan meningkatkan upayakonseling untuk ibu mengenai pentingnya praktik pemberian makan bayi dan anak yanglebih menyasar pada anak yang belum MP-ASI dan baru memulai MP-ASI. Saran untukpeneliti lain adalah penelitian perlu dilanjutkan dengan metode kuantitatif agar dapatmenggali informasi yang lebih dalam terkait penyebab tercapaianya MAD maupun tidaktercapainya MAD.
Kata kunci:Praktik PMBA, minimum acceptable diet, anak usia 6-23 bulan.
Read More
S-10511
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Citra Sari Nasrianti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Siti Arifah Pujonarti, Anies Irawati, Dewi Astuti
Abstrak: Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2017, menyebutkan sebesar 39,8% anak usia 6-11 bulan, 20,4% anak usia 12-17 bulan dan 11,6% anak usia 18-23 bulan tidak memenuhi capaian Minimum Dietary Diveristy. Selain itu hampir separuh anak usia 6-23 bulan (47%) tidak memenuhi capaian Minimum Meal Frequency dan prevalensi capaian Minimum Acceptable Diet pada anak usia 6-23 bulan hanya 44,9%%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor dominan terhadap praktik pemberian makan bayi dan anak di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian crosssectional dengan menggunakan data sekunder Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Responden penelitian ini sebanyak 5.367 WUS yang mempunyai anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara lain usia anak (p = 0,0001; OR = 3,122; 95% CI = 2,769-3,521), urutan kelahiran (p = 0,0001; OR = 0,416 95% CI = 0,329-0,525), tempat melahirkan (p = 0,0001; OR = 2,121; 95% CI = 1,861-2,419), kunjungan selama kehamilan (p = 0,0001; OR =2,739 ; 95% CI = 1,991-3,766), pemeriksaan setelah kelahiran (p = 0,001; OR = 1,108 ; 95% CI = 0,888-1,168), pendidikan ibu (p = 0,0001; OR = 1,950; 95% CI = 1,715-2,217), pekerjaan ibu (p = 0,0001; OR = 1,300; 95% CI = 1,167-1,447), literasi ibu (p = 0,0001; OR = 4,042; 95% CI = 2,845-5,742), status pernikahan (p = 0,0001; OR = 1,830; 95% CI = 1,399-2,395), pendidikan ayah (p = 0,0001; OR = 1,998; 95% CI = 1,570-1,998), frekuensi membaca koran (p = 0,0001; OR = 1,659; 95% CI = 1,487-1,850), mendengarkan radio (p = 0,0001; OR = 1,365; 95% CI = 1,223-1,523), menonton televisi (p = 0,0001; OR = 3,099; 95% CI = 2,381-4,035), dan menggunakan internet (p = 0,0001; OR = 2,555; 95% CI =2,255-2,895), dan wilayah tempat tinggal (p = 0,0001; OR = 1,884; 95% CI = 1,691-2,100) dengan praktik pemberian makan bayi dan anak yang tidak sesuai. Faktor yang paling dominan terhadap ketidaksesuaian praktik pemberian makan bayi dan anak adalah usia anak. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan dilakukan sosialisasi dan edukasi terkait gizi dan kesehatan khususnya praktik pemberian makan bayi dan anak pada kunjungan antenatal, dengan memaksimalkan penyampaian informasi melalui berbagai media (cetak, elektronik maupun langsung) mengingat akses penggunaan media informasi yang semakin membaik.
Read More
T-6121
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Suroto; Pembimbing: Triyanti, Yuniar Rosmalina; Penguji: Kusharisupeni, Ratu Ayu Dewi Sartika, Marzuki Iskandar
T-2620
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Rahmi Ariyani; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Besral, Tiara Lutfie, Asril
Abstrak: abstrak Stunting merupakan salah satu permasalahan status gizi di Indonesia. 1 dari 3 anak di. Indonesia mengalami stunting. Indonesia masuk 5 besar negara yang memiliki prevalensi stunting tertinggi (37,2%) di dunia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 12-59 bulan. Metoda Desain penelitian adalah cross-sectional. Sampel penelitian ini pada Indonesia Family Life Survey (1FLS) yaitu anak yang berusia 12-59 bulan tahun 2014 sebesar 1442 orang. Data dianalisis dengan regresi logistik. Hasil: Hubungan yang signifikan antara stunting dengan berat lahir, jenis kelamin, riwayat penyakit infeksi, usia ibu saat hamil, pendidikan ibu, pendidikan ayah, tinggi badan ibu, tinggi badan ayah, wilayah tempat tinggal, sanitasi dasar dan fasilitas air bersih. Balita yang memiliki berat lahir <2500 gram kemungkinan mengalami stunting 2,58 setelah dikontrol dengan faktor-faktor lainnya. Kesimpulan: Berat lahir menjadi salah satu faktor risiko penting dalam stunting. Untuk mencegah peningkatan stunting memerlukan program intervensi yang spesifik dan sensitif. Penanganan sejak dini khususnya 1000 Hari Pertama Kehidupan melalui kualitas pemeriksaan ibu hamil, pemantauan penambahan berat badan ibu selama hamil,serta pemberian minimal 90 tablet tambah darah. Kata Kunci :Stunting, Berat Lahir, 1000 Hari Pertama Kehidupan Stunting is one of nutritional problems in Indonesia. 1 of 3 children in Indonesia has stunting. Indonesia entered the top 5 countries that have the highest stunting prevalence (37.2%) in the world. Objectives: This study aims to find out the risk faktors stunting in children aged 12-59months. Methods: The study design was cross-sectional. This study took samples on Indonesia Family Life Survey (1FLS) that were 1442 children aged 12-59 months in 2014. Data analysis applied logistic regression. Results: Significant association between stunting and birth weight, sex, history of infectious diseases, maternal age during pregnancy, maternal education, father's education, maternal height, father's height, residence area, basic sanitation and clean water facilities. Children who have birth weight <2500 grams are likely to have stunting 2.58 after controlled with other factors.Conclusion: Birth weight is an important risk factor in stunting. To prevent stunting increases requires a specific and sensitive intervention program. Early handling, especially the First 1000 Days of Life through the quality of pregnant women's examination, monitoring of maternal weight gain during pregnancy, and giving at least 90 tablets plus blood. Keywords: Stunting, Birth Weight, 1000 Days of Life
Read More
T-5179
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Anissa Damaiyanti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Salimar Yunas
Abstrak:
Gizi lebih merupakan bentuk malnutrisi (gizi tidak seimbang) yang timbul dari asupan gizi berlebihan yang menyebabkan penumpukan lemak tubuh sehingga mengganggu kesehatan. Gizi lebih pada anak merupakan salah satu masalah Kesehatan yang berdampak negatif jangka panjang bagi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada balita 6-59 bulan di Kepulauan Riau. Penelitian Cross Sectional ini menggunakan data SSGI (Survey Status Gizi Indonesia) 2021 dengan total responden 2809 balita setelah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data analisis menggunakan uji chi-square pada analisis bivariat dan uji regresi logistik ganda pada analisis multivariat. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2023 yang menunjukkan terdapat 5,9% balita yang mengalami gizi lebih. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga variabel yang secara signifikan berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada anak usia 6-59 bulan, yaitu umur, berat lahir, dan status pekerjaan ibu. Analisis multivariat ditemukan bahwa status pekerjaan ibu merupakan faktor dominan dari gizi lebih pada balita 6-59 bulan di Kepulauan Riau berdasarkan analisis SSGI 2021 dengan p-value 0,015 dan OR 1,466 (CI 95%: 1,063 – 2,021). Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian untuk instansi kesehatan, diharapkan dapat melakukan program pencegahan dan penanggulangan obesitas dengan menggunakan pendekatan promosi, pencegahan, dan rehabilitasi terkait gizi seimbang dan perilaku makan sehat. Selain itu, juga dapat berupaya untuk membangun fasilitas penitipan anak yang aman dan sehat di lingkungan kerja untuk mendukung ibu bekerja dalam memberikan perawatan yang baik kepada anak.

Overnutrition is a form of malnutrition arising from excessive nutrient intake, leading to the accumulation of body fat that disrupts health. Overnutrition in children is a long-term health issue with negative impacts. This study aims to identify factors associated with the occurrence of overnutrition among children aged 6-59 months in Kepulauan Riau. This Cross-Sectional study utilized data from the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) in 2021, with a total of 2809 toddler respondents meeting inclusion and exclusion criteria. Chi-square tests were employed in bivariate analysis, and multiple logistic regression tests were used in multivariate analysis. The study, conducted in 2023, revealed that 5.9% of toddlers experienced overnutrition. Research findings indicate three variables significantly associated with overnutrition incidents in children aged 6-59 months: age, birth weight, and maternal employment status. Multivariate analysis identified maternal employment status as the dominant factor in overnutrition among toddlers in the Riau Islands, according to SSGI 2021 analysis, with a p-value of 0.015 and OR 1.466 (95% CI: 1.063 – 2.021). Recommendations based on the research suggest that health institutions implement preventive and intervention programs against obesity, focusing on balanced nutrition promotion, prevention, and rehabilitation of healthy eating behaviors. Additionally, efforts can be made to establish safe and healthy childcare facilities in the workplace environment to support working mothers in providing proper care for their children.
Read More
S-11505
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive