Ditemukan 39606 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Dyah Ayu Puspitaningsih; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Flora Theresia
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan proporsi kejadian obesitas sentral berdasarkan faktor perilaku konsumsi dan faktor lainnya padapenduduk dewasa (usia 20-45 tahun) di Provinsi Sumatera Utara berdasarkan data Riskesdas 2018. Desain studi penelitian ini adalah cross sectional dengan analisis univariat dan bivariat (chi-square). Data penelitian ini menggunakan data Riskesdas 2018 dengan jumlah sampel sebesar 19.757 responden dewasa usia 20-45 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi obesitas pada penduduk dewasa usia 20-45 tahun di Sumatera Utara pada tahun 2018, yaitu sebesar 31,4%. Hasil analisis menunjukan bahwa terdapat perbedaan proporsi obesitas sentral yang signifikan ditemukan pada variabel usia, variabel jenis kelamin, varianel pendidikan terakhir, variabel status perkawinan, variabel status pekerjaan, variabel tipe wilayah tempat tinggal, variabel konsumsi makanan berlemak, variabel konsumsi makanan manis, variabel konsumsi minuman manis, variabel konsumsi alkohol, variabel aktivitas fisik, variabel riwayat merokok, variabel kondisi mental emosional (p value<0,05). Optimalisasi kegiatan skrinning obesitas sentral dengan menggunakan metode pengukuran lingkar perut ataupun RLPP dan kegiatan olahraga bersama di Posbindu PTM serta pelaksanaan pola hidup sehat oleh masyarakat seperti makan sesuai anjuran gizi seimbang dan aktif untuk meningkatkan waktu dan frekuensi aktivitas fisik dapat membantu pencegahan obesitas pada penduduk dewasa di Sumatera Utara.
Read More
S-10779
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anisya Dwi Yulianti; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Sandra Fikawati, Siti Arifah Pujonarti, Nancy S.H Malonda Dan Mery Bidangan Pasorong
Abstrak:
Read More
Obesitas sentral adalah penumpukan lemak perut yang berlebihan yang diukur dengan indikator pengukuran Lingkar Pinggang (LP) dengan kriteria obesitas sentral adalah LP >90 untuk pria dan LP>80 untuk wanita. Obesitas sentral merupakan penumpukan lemak berlebihan di sekitar perut yang berhubungan dengan risiko kardiometabolik, diabetes melitus tipe 2 dan peningkatan sekresi asam lemak bebas, hipersulinemia, risistensi insulin, hipertensi dan dislipidemia pada populasi umum. Provinsi Sulawesi Utara merupakan Provinsi dengan prevalensi obesitas sentral tertinggi di Indonesia pada tahun 2018 dengan angka 42,45%. Dimana setiap kabupaten/kota memiliki prevalensi obesitas sentral sebesar >30% (terendah 31,2% dan tertinggi 48,78%) dan menurut karakteristik wilayah tempat tinggal prevalensi obesitas sentral di wilayah perkotaan lebih tinggi 2,78% dibandingkan wilayah perdesaan atau sebesar 43,81% untuk wilayah perkotaan dan 41,03% untuk wilayah perdesaan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain potong lintang (cross sectional) dengan jumlah sampel 14.911 penduduk usia ≥18 tahun dari total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen meliputi faktor risiko unmodifiable (usia dan jenis kelamin), faktor risiko modifiable status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, pola konsumsi dan life style serta status gizi dan kesehatan mental. Data yang Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder Riskesdas tahun 2018. Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan perangkat lunak statistik. Ada tiga tingkat analisis data yang dilakukan, antara lain secara univariat, bivariat (chi square dan regresi logistik), multivariat (regresi logistik ganda). Hasil menunjukkan prevalensi obesitas sentral pada penduduk usi ≥18 tahun di Provinsi Sulawesi Utara adalah 45,0% dengan prevalensi di perkotaan 46,6% dan di perdesaan 43,5%. Faktor risiko dominan yang berhubungan dengan obesitas sentral pada penelitian ini adalam IMT, baik untuk wilayah perkotaan dan perdesaan serta secara keseluruhan di Provinsi Sulawesi Utara, dengan OR 42,909 (95%CI 23,384-78,737) di perkotaan, OR 23,701 (95%CI 18,324-30,656) di perdesaan, dan OR 43,924 (95%CI 31,162-61,913) di Provinsi Sulawesi Utara. Mengingat dampak obesitas sentral yang sangat besar terhadap beban negara dan mengancam keberlangsungan generasi yang akan datang, maka penentuan faktor risiko obesitas pada tahap awal berdasarkan karakteristik wilayah tempat tinggal sangat penting dilakukan untuk mengatasi penyakit penyerta dan kematian terkait PTM terutama pada penderita penumpukan lemak berlebih di bagian abdominal tubuh.
Central obesity is the excessive accumulation of abdominal fat, measured by the Waist Circumference (WC) indicator with central obesity criteria being WC >90 cm for men and WC >80 cm for women. Central obesity is associated with cardiometabolic risks, type 2 diabetes mellitus, and increased secretion of free fatty acids, hyperinsulinemia, insulin resistance, hypertension, and dyslipidemia in the general population. North Sulawesi Province had the highest prevalence of central obesity in Indonesia in 2018, with a rate of 42.45%. Each district/city had a central obesity prevalence of >30% (lowest 31.2% and highest 48.78%), and according to the characteristics of the residential area, the prevalence of central obesity in urban areas was 2.78% higher than in rural areas, or 43.81% in urban areas and 41.03% in rural areas. This quantitative study used a cross-sectional design with a sample size of 14,911 adults aged ≥18 years from total sampling according to inclusion and exclusion criteria. Independent variables included unmodifiable risk factors (age and gender), modifiable risk factors (marital status, education, occupation, consumption patterns, lifestyle, nutritional status, and mental health). The data used in this study was secondary data from the 2018 Riskesdas. Data analysis was performed using statistical software and included three levels of analysis: univariate, bivariate (chi-square and logistic regression), and multivariate (multiple logistic regression). Results showed the prevalence of central obesity in adults aged ≥18 years in North Sulawesi Province was 45.0%, with an urban prevalence of 46.6% and a rural prevalence of 43.5%. The dominant risk factor associated with central obesity in this study was BMI, for both urban and rural areas, and overall in North Sulawesi Province, with OR 42.909 (95% CI 23.384-78.737) in urban areas, OR 23.701 (95% CI 18.324-30.656) in rural areas, and OR 43.924 (95% CI 31.162-61.913) in North Sulawesi Province. Considering the significant impact of central obesity on the national burden and the threat to the sustainability of future generations, determining the risk factors for obesity at an early stage based on the characteristics of the residential area is crucial for addressing comorbidities and mortality related to NCDs, especially in individuals with excessive abdominal fat accumulation.
T-7082
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rahmi Nuraini; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Agus Triwanarto
Abstrak:
Diabetes mellitus, penyakit degeneratif yang terjadi akibat resistensi insulin pada seltubuh, menyebabkan beberapa penyakit komordibitas dan sindrom metabolik sepertiobesitas sentral. Obesitas sentral pada diabetisi dapat dipengaruhi oleh berbagaifaktor seperti asupan, gaya hidup dan lain-lain. Skripsi ini bertujuan untuk melihatperbedaan obesitas sentral berdasarkan asupan energi dan faktor lainnya padadiabetisi. Penelitian ini dilakukan pada diabetisi di Puskesmas Jatinegara pada bulanApril 2017. Desain penelitian ini menggunakan metode Cross-sectional denganjumlah sampel 133 orang. Lingkar perut ditentukan berdasarkan pengukuran denganmenggunakan pita ukur, aktivitas fisik dan kebiasaan makan diketahui melaluikuesioner aktivitas fisik GPAQ, food recall 24 jam dan Food FrequencyQuestionnaire (FFQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pengukuranlingkar perut sebanyak 85% diabetisi mengalami obesitas sentral. Uji Independent T-Test menyatakan bahwa variabel asupan lemak, kebiasaan sarapan dan tingkatpengetahuan memiliki perbedaan bermakna dengan obesitas sentral. Untukmenurunkan angka obesitas sentral pada diabetisi, disarankan untuk diberikan edukasimengenai obesitas sentral dan pola makan pada diabetisi.
Kata Kunci:Diabetes melitus, obesitas sentral, asupan.
Diabetes mellitus is a degenerative disease caused by insulin resistance in body cells,it will also causes some diseases of comordibity and metabolic syndrome such asabdominal obesity. Abdominal obesity in diabetics can be influenced by variousfactors such as food intake, lifestyles and others. This undergraduate thesis aims tosee the difference between abdominal obesity based on energy intake and otherfactors in diabetics. This study was conducted on diabetics in Puskesmas Jatinegara inApril 2017. The design of this study used Cross-sectional method over 133 people assample size. Abdominal circumference is determined by measurement usingmeasuring tape, physical activity and eating habits throughout GPAQ PhysicalActivity Questionnaire, 24-hour Food Recall and Food Frequency Questionnaire(FFQ). The results showed that based on abdominal circumference measurements asmuch as 85% of diabetics are abdominal obesity. The Independent T-Test stated thatthe variable fat intake, breakfast habits and knowledge level had significantdifferences with abdominal obesity. In order to reduce abdominal obesity rates indiabetics, it is advisable to promote the education on abdominal obesity and diet fordiabetics.
Keyword:Diabetes mellitus, abdominal obesity, food intake.
Read More
Kata Kunci:Diabetes melitus, obesitas sentral, asupan.
Diabetes mellitus is a degenerative disease caused by insulin resistance in body cells,it will also causes some diseases of comordibity and metabolic syndrome such asabdominal obesity. Abdominal obesity in diabetics can be influenced by variousfactors such as food intake, lifestyles and others. This undergraduate thesis aims tosee the difference between abdominal obesity based on energy intake and otherfactors in diabetics. This study was conducted on diabetics in Puskesmas Jatinegara inApril 2017. The design of this study used Cross-sectional method over 133 people assample size. Abdominal circumference is determined by measurement usingmeasuring tape, physical activity and eating habits throughout GPAQ PhysicalActivity Questionnaire, 24-hour Food Recall and Food Frequency Questionnaire(FFQ). The results showed that based on abdominal circumference measurements asmuch as 85% of diabetics are abdominal obesity. The Independent T-Test stated thatthe variable fat intake, breakfast habits and knowledge level had significantdifferences with abdominal obesity. In order to reduce abdominal obesity rates indiabetics, it is advisable to promote the education on abdominal obesity and diet fordiabetics.
Keyword:Diabetes mellitus, abdominal obesity, food intake.
S-9535
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wibisana Nauval Aqil Sidopekso; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Fajrinayanti
Abstrak:
Read More
Obesitas sentral adalah penumpukan lemak di area perut yang meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan proporsi obesitas sentral berdasarkan perilaku konsumsi makanan berisiko dan pola hidup sehat pada wanita usia produktif (15–40 tahun) di DKI Jakarta menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2023. Desain potong lintang dengan analisis chi-square digunakan pada data sekunder. Hasil menunjukkan prevalensi obesitas sentral 45,7%. Konsumsi makanan/minuman manis, berlemak, daging olahan, makanan instan, rendahnya konsumsi buah-sayur, dan kurang aktivitas fisik berkorelasi signifikan dengan obesitas sentral (p<0,05). Hasil ini mendukung pentingnya intervensi perilaku dan kebijakan promosi hidup sehat.
Central obesity is abdominal fat accumulation increasing risk of degenerative diseases. This study analyzed differences in central obesity prevalence based on risky food consumption behaviors and healthy lifestyle patterns among women aged 15–40 years in DKI Jakarta using 2023 Indonesian Health Survey data. A cross-sectional design with chi-square analysis was applied. Results showed 45.7% prevalence of central obesity. Consumption of sugary foods/drinks, fatty foods, processed meats, instant foods, low fruit-vegetable intake, and insufficient physical activity were significantly associated with central obesity (p<0.05). Findings underscore the need for behavioral interventions and health promotion policies.
Central obesity is abdominal fat accumulation increasing risk of degenerative diseases. This study analyzed differences in central obesity prevalence based on risky food consumption behaviors and healthy lifestyle patterns among women aged 15–40 years in DKI Jakarta using 2023 Indonesian Health Survey data. A cross-sectional design with chi-square analysis was applied. Results showed 45.7% prevalence of central obesity. Consumption of sugary foods/drinks, fatty foods, processed meats, instant foods, low fruit-vegetable intake, and insufficient physical activity were significantly associated with central obesity (p<0.05). Findings underscore the need for behavioral interventions and health promotion policies.
S-12145
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rofiiah Darajat Nurfadhilah; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Fajrinayanti
Abstrak:
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan pola makan pada masyarakat dewasa DKI Jakarta selama pandemi COVID-19 dibandingkan dengan sebelum pandemi COVID-19 berdasarkan variabel usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, anggota rumah tangga, dan pendapatan menggunakan kuesioner online. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan crosssectional dengan subjek pada penelitian ini masyarakat dewasa di DKI Jakarta yang berusia 20-45 tahun dengan menggunakan teknik purposive dan snowballing sampling. Hasil menunjukkan sebagian besar masyarakat dewasa di DKI Jakarta memiliki perubahan pola makan menjadi tidak sehat selama pandemi COVID-19 (41,8%).
Read More
S-10636
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maura Octavia; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Trini Sudiarti, Sugiatmi
Abstrak:
Read More
Obesitas merupakan keadaan yang terjadi akibat akumulasi lemak yang berlebihan dan berlangsung dalam waktu yang lama sehingga berat badan. Salah satu kelompok masyarakat yang berisiko terhadap obesitas adalah pekerja terutama pekerja kantoran. Para pekerja cenderung tidak memperhatikan pola makan serta melakukan aktvitas fisik yang rendah. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui perbedaan proporsi faktor internal (riwayat keluarga, usia, jenis kelamin, dan aktivitas fisik), faktor eksternal (tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, status perkawinan, dan jenis pekerjaan), dan faktor konsumsi (persen asupan energi, persen asupan protein, dan konsumsi gorengan) terhadap kejadian obesitas pada pekerja di PT Juara Abadi Bersama Tahun 2023. Penelitian dilakukan secara luring selama bulan November – Desember 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan menggunakan metode random sampling untuk mendapatkan 117 responden. Hasil analisis menyatakan bahwa adanya perbedaan proporsi antara riwayat keluarga (p value = 0,001), aktivitas fisik (p value = 0,013), jenis pekerjaan (p value = 0,024), asupan energi (p value = 0,001), dan konsumsi gorengan (p value = 0,021) dengan kejadian obesitas. Saran yang diberikan kepada pihak perusahaan serta sivitasnya yaitu untuk lebih aktif dalam mencari informasi terkait gizi dan kesehatan, serta dilakukannya pencegahan terkait obesitas dengan memperhatikan asupan makan yang tepat, melakukan pemantauan terkait status gizi, dan melakukan upaya pencegahan bersama seperti olahraga bersama.
Obesity is a condition that occurs due to excessive accumulation of fats and lasts for a long time hence the increasing of body weight. Workers are one of the group of people who are at risk of obesity, especially office workers. Workers tend not to pay attention to their diet and carry out low levels of physical activity. This study aims to find the proporstion differences between internal factors (family history, age, gender, and, physical activity) external factors (level of education, level of knowledge, marital status, and work section) and consumption factors (percentage of energy intake, percentage of protein intake, and comsumption of fried foods) towards obesity among workers in PT Juara Abadi Bersama in 2023. This study was conducted offline during November – December 2023. This study uses cross sectional design and random sampling methode to get 117 respondents. The results of the analysis stated that there’s a proportion differences between family history (p value = 0,000), activity factor (p value = 0,013), work section (p value = 0,024), energy intake (p value = 0,000), and fried food consumption (p value = 0,021) towards obesity. Advice given to the company and its community members is to be more active in seeking information related to nutrition and health, as well as to prevent obesity by paying attention to appropriate food intake, monitoring nutritional status, and carrying out joint prevention efforts such as exercising together.
S-11545
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Firial Afra Raisa Mumtaz; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Sutiyati
Abstrak:
Kecukupan energi maupun protein tergolong kurang dapat memberikan dampak yangmerugikan bagi tumbuh kembang, status gizi, perilaku makan yang terbentuk, dankesehatan dari siswa sekolah dasar. Kecukupan energi dan protein seorang anak dapatdipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti konsumsi, pengetahuan gizi, dan sosial ekonomikeluarga. Untuk melihat perbedaan proporsi kecukupan energi dan protein berdasarkanfaktor tersebut, dilakukan penelitian studi cross-sectional dengan menggunakan datasekunder tahun 2018. Penelitian melibatkan 92 siswa/i SD X Jakarta Timur. Ditemukanproporsi kecukupan energi dan protein tergolong kurang secara berurutan sebesar 58,7%dan 55,4%. Hasil analisis dengan chi-square menunjukkan bahwa terdapat perbedaanproporsi kecukupan energi maupun protein berdasarkan faktor konsumsi, yaitukeragaman konsumsi pangan (p-value=0,013 dan p-value=0,014), frekuensi konsumsimakanan utama (p-value=0,003 dan p-value=0,000), dan konsumsi makanan utama pagi(p-value=0,007 dan p-value=0,000). Meskipun tidak ditemukan perbedaan proporsi,kecenderungan proporsi kecukupan energi dan protein masih ditemukan berdasarkanfrekuensi jajan dan uang jajan. Penelitian juga menemukan sedikit kecenderunganproporsi kecukupan protein berdasarkan pengetahuan gizi. Dengan begitu, konsumsi(keragaman konsumsi pangan, frekuensi konsumsi makanan utama, konsumsi makananutama pagi, frekuensi jajan), pengetahuan gizi, dan sosial ekonomi keluarga (uang jajan)merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam upaya mengoptimalkankecukupan energi dan protein siswa/i.Kata kunci:Kecukupan energi dan protein, faktor, siswa/i sekolah dasar.
Read More
S-10510
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Elisabeth Juliana Monica; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Sada Rasmada
Abstrak:
Read More
Balita merupakan kelompok yang rentan untuk mengalami gizi lebih karena penambahan dan pembesaran sel lemak terjadi secara cepat. Gizi lebih terjadi karena asupan yang masuk ke dalam tubuh lebih besar daripada pengeluaran energi. Angka kejadian gizi lebih pada balita di Provinsi Sumatera Selatan, yaitu 10,8% melebihi angka kejadian gizi lebih balita di Indonesia, yaitu 8%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan proporsi faktor-faktor yang menyebabkan kejadian gizi lebih pada balita. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan menggunakan data sekunder Riset Kesehatan Dasar 2018. Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi square dan regresi linier. Hasil penelitian ini menunjukkan kejadian gizi lebih pada balita (Z-score (> +2 SD)) di Provinsi Sumatera Selatan, yaitu 23,9%. Hasil analisis pada faktor orang tua (IMT Ibu) menunjukkan perbedaan proporsi yang signifikan. Sementara faktor orang tua yang lainnya, faktor anak, dan faktor sosial ekonomi tidak menunjukkan adanya perbedaan proporsi yang signifikan. Diperlukan kesadaran keluarga terutama ibu sebagai pengasuh utama balita untuk lebih memerhatikan pola konsumsi balita demi mencegah berlanjutnya kejadian gizi lebih hingga fase kehidupan selanjutnya.
Toddlers are a group that is vulnerable on getting excess nutrition because of the addition and enlargement of fat cells occurs quickly. Overnutrition occurs because of the intake that enters the body is greater than energy expenditure. The incidence of overnutrition in toddlers at South Sumatera Province, which is 10,8%, exceeds the incidence of overnutrition in Indonesia, which is 8%. This study aims to analyze the difference in the proportion of factors that cause the occurrence of overnutrition in toddlers. This research is a cross-sectional study using secondary data from Basic Health Research 2018. Bivariate analysis was carried out using chi square and linear regression test. The results of this study indicate the incidence of overnutrition in toddlers (Z-score (> +2 SD)) in South Sumatera Province, which is 23,9%. The result of the analysis on parental factors (Mother’s BMI) showed that there was a significant difference in proportion. Meanwhile, other parental factors, child factors, and socioeconomic factors did not show any significant differences in proportion. Family awareness, especially mothers as the main caregivers of toddlers, are needed to pay more attention on toddlers consumption patterns in order to prevent the continuation of overnutrition in the next phase of life.
S-11469
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nisa Auliani; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Salimar
Abstrak:
Anak-anak usia sekolah cenderung mengonsumsi makanan tinggi lemak dan rendah serat termasuk sayur. Rendahnya konsumsi sayur pada periode ini dalam jangka pendek dapat menyebabkan kerusakan sel, lemahnya imunitas tubuh, ISPA, dan masalah pencernaan sedangkan dampak jangka panjangnya dapat meningkatkan risiko terkena penyakit kronis seperti penyakit jantung koroner, COPD, stroke, kardiovaskular, dan kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan proporsi konsumsi sayur anak usia 10-11 tahun berdasarkan food neophobia dan faktor lainnya di SDN Polisi 1 Kota Bogor. Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 142 responden. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner serta formulir food record 2x24 jam oleh responden. Data dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 18,3% responden yang mengonsumsi sayur setiap hari dan rata-rata konsumsi sayur responden hanya 33,75 gram per hari. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan proporsi konsumsi sayur yang bermakna berdasarkan faktor kesukaan, keyakinan diri, hambatan, dan preferensi sayur. Edukasi mengenai pentingnya konsumsi sayur perlu diberikan kepada anak usia sekolah serta orang tuanya untuk mencapai anjuran konsumsi sayur yang direkomendasikan.
Read More
S-10103
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hanifah Mulia Rachman; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak:
Read More
Obesitas sentral merupakan suatu kondisi terjadinya penumpukan lemak berlebih di daerah abdomen. Obesitas sentral terkait dengan peningkatan risiko terjadinya diabetes melitus tipe 2, dislipidemia, hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Provinsi Kepulauan Riau merupakan provinsi dengan prevalensi obesitas sentral tertinggi di pulau Sumatera, yakni mencapai 42,5% pada tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian obesitas sentral pada penduduk usia dewasa (19 – 44 tahun) di Provinsi Kepulauan Riau berdasarkan jenis kelamin dengan menganalisis data sekunder SKI 2023. Penelitian ini melibatkan 3466 penduduk berusia 19 – 44 tahun. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi square dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi obesitas sentral pada penduduk dewasa usia 19 – 44 tahun di Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2023 adalah sebesar 38,3% dengan prevalensi obesitas sentral pada perempuan sebesar 54,7% dan pada laki-laki sebesar 24,6%. Pada kelompok perempuan, variabel yang berhubungan signifikan dengan obesitas sentral antara lain usia, status pernikahan, indeks massa tubuh dan gangguan mental emosional. Sedangkan pada kelompok laki-laki antara lain usia, tingkat pendidikan, status pernikahan, konsumsi makanan berlemak, konsumsi minuman manis, konsumsi minuman soda, konsumsi minuman berenergi, konsumsi sayur, status merokok dan aktivitas fisik dan indeks massa tubuh (p-value < 0,05). Faktor dominan yang berhubungan dengan obesitas sentral setelah dikontrol variabel lainnya adalah indeks massa tubuh baik pada kelompok perempuan (OR = 12,794) maupun kelompok laki-laki (OR = 11,581).
Abdominal obesity is a condition characterized by excessive fat accumulation in the abdominal region. Abdominal obesity is associated with an increased risk of type 2 diabetes mellitus, dyslipidemia, hypertension, and cardiovascular disease. The Riau Islands Province has the highest prevalence of central obesity in Sumatra, reaching 42.5% in 2023. This study aims to identify the determinants of central obesity among adults aged 19–44 years in the Riau Islands Province based on gender by analyzing secondary data from the 2023 SKI survey. The study involved 3,466 adults aged 19–44 years. Data analysis was conducted using the chi-square test and multiple logistic regression analysis. The results showed that the prevalence of central obesity among adults aged 19–44 years in the Riau Islands Province in 2023 was 38.3%, with a prevalence of 54.7% among women and 24.6% among men. Among women, variables significantly associated with abdominal obesity included age, marital status, body mass index, and emotional mental disorders. Among men, these include age, educational level, marital status, consumption of fatty foods, consumption of sweet drinks, consumption of soda, consumption of energy drinks, consumption of vegetables, smoking status, physical activity, and body mass index (p-value < 0.05). The dominant factor associated with central obesity after controlling for other variables was body mass index in both the women's group (OR = 12.794) and the men's group (OR = 11.581).
S-11936
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
