Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34606 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fitroh Nurbayani Habiebah; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Ika Malika
Abstrak: tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dan strategi coping pada mahasiswa program sarjana reguler Universitas Indonesia dengan menggunakan desain studi potong lintang. Pengambilan 361 sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan proporsi kuota berdasarkan rumpun keilmuan yang terdapat di Universitas Indonesia. Tingkat Stres diukur menggunakan Perceived Stress Scale (PSS10) dan strategi coping diukur menggunakan Brief-COPE yang dilakukan secara daring. Penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata skor PSS-10 sebesar 20,76 dari skala 5-37 dengan tingkat stres mahasiswa sebagian besar mengalami stres sedang (67,9%), tingkat stres ringan (16,6%), dan tingkat stres berat (15,5%) serta strategi coping yang lebih sering digunakan oleh mahasiswa program sarjana reguler Universitas Indonesia adalah problem-focused coping dengan rata-rata skor berdasarkan subskalanya sebesar 2,7584. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan problem-focused coping (p>0,005) dan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan emotion-focused coping (p<0,001). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka diperlukan pembuatan program intervensi dan edukasi promosi kesehatan mengenai stres dan strategi coping bagi mahasiswa saat pandemi COVID-19.
Read More
S-10805
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Olivya Esther Raphyta Rajagukguk; Pembimbing: Tiara Amelia; Penguji: Rita Damayanti, Ika Malika
S-12413
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Noviana Nasriyanto; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Ahmad Syafiq, Artha Prabawa; Bayu Aji
Abstrak:
ABSTRAK Literasi kesehatan (health literacy) didefinisikan sebagai keterampilan kognitif dan sosial yang menentukan motivasi dan kemampuan individu untuk mendapatkan akses untuk memahami dan menggunakan informasi dengan cara mempromosikan dan memelihara kesehatan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi kesehatan beserta determinan sosialnya pada mahasiswa tingkat pertama program sarjana reguler Universitas Indonesia tahun angkatan 2017/2018. Penelitian dengan desain potong lintang (cross-sectional) ini menggunakan instrumen Health Literacy Scale versi 16 item (HLS-EU- Q16) dan mendapatkan data dari 373 mahasiswa yang tersebar pada tiga rumpun keilmuan di Universitas Indonesia (Rumpun Sains dan Teknologi, Rumpun Sosial dan Humaniora, dan Rumpun Ilmu Kesehatan). Data dianalisis secara univariat, bivariat (dengan menggunakan uji T independen dan uji Anova), dan multivariat (dengan menggunakan regresi linier multivariabel). Hasil penelitian menunjukkan tingkat literasi kesehatan secara keseluruhan cukup baik (M=2,91, SD=0,78) dengan nilai tertinggi pada domain fungsional (M=3,21, SD=0,69), disusul oleh domain interaktif (M=2,90, SD=0,76), lalu domain kritikal (M=2,67, SD=0,87). Hasil analisis bivariat menunjukkan hanya rumpun keilmuan yang yang memiliki perbedaan signifikan dengan mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan yang memiliki tingkat literasi kesehatan lebih tinggi daripada kedua rumpun lainnya. Sementara hasil analisis regresi menunjukkan hanya variabel rumpun keilmuan dan penguasaan bahasa asing yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap tingkat literasi kesehatan mahasiswa tingkat pertama program sarjana reguler Universitas Indonesia tahun angkatan 2017/2018. Penelitian tentang literasi kesehatan pada populasi lain, baik pada mahasiswa di universitas lain, maupun pada kelompok demografi lainnya (orang dewasa, ibu hamil, dan lain-lain) akan menambah masukan bagi pengembangan program-program edukasi kesehatan di Indonesia dan memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan.

ABSTRACT Health literacy is defined as the cognitive and social skills that determine the individual's motivation and ability to gain access to understanding and using information by promoting and maintaining good health. This study aimed to determine the level of health literacy and its social determinants among first-year undergraduate students at the Universitas Indonesia (class of 2017/2018). Using cross-sectional design, this study adapted the short version of Health Literacy Scale instrument (HLS-EU-Q16). Data were collected from 373 college students from three clusters of disciplines (i.e., Science and Technology, Social and Humanity, and Health Sciences). Univariate analyzes showed that in general, the mean of health literacy was rather good (M=2,91, SD=0,78) with the functional domain led as the highest (M=3,21, SD=0,69), followed by the interactive domain (M=2,90, SD=0,76), and then the critial domain (M=2,67, SD=0,87). Bivariate analyzes using independent T test and one-way Anova showed that only the cluster variable has significant differences. While multiple regression showed only the cluster and the number of languages variables that have significant effects toward health literacy. Future studies assessing health literacy among college students in different universities or among other population groups may provide more contribution to the development of health education programs.
Read More
T-5323
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fauzia Azahra; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Dian Kusuma Dewi
Abstrak:
Mahasiswa berada pada fase transisi yang ditandai dengan peningkatan kemandirian dalam pengambilan keputusan, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan, serta perubahan gaya hidup yang signifikan akibat tuntutan akademik dan sosial. Penelitian sebelumnya pada mahasiswa program sarjana (S1) reguler Universitas Indonesia menunjukkan masih ditemukannya berbagai perilaku berisiko kesehatan, seperti rendahnya konsumsi sayur dan buah, kurangnya aktivitas fisik, durasi tidur yang tidak adekuat, serta keterlibatan dalam konsumsi alkohol dan obat-obatan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan perilaku berisiko kesehatan. Salah satu faktor yang diduga berhubungan adalah spiritualitas yang berperan dalam pembentukan nilai, makna hidup, dan pengambilan keputusan terkait kesehatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara spiritualitas dengan perilaku berisiko kesehatan pada mahasiswa program sarjana (S1) reguler Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 223 mahasiswa aktif program sarjana (S1) reguler Universitas Indonesia berusia 18–24 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan convenience sampling menggunakan instrumen modifikasi Daily Spiritual Experience Scale (DSES) dan Health Risk Behavior Inventory (HRBI). Uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara spiritualitas dengan perilaku berisiko kesehatan (r = -0,302; p < 0,001), yang menunjukkan bahwa semakin tinggi spiritualitas, semakin rendah perilaku berisiko kesehatan. Berdasarkan jenis kelamin, ditemukan hubungan negatif yang signifikan pada kedua kelompok dengan kekuatan hubungan yang lebih besar pada mahasiswa laki-laki dibandingkan perempuan. Berdasarkan rumpun fakultas, ditemukan hubungan negatif yang signifikan pada rumpun saintek dan soshum, sedangkan pada rumpun ilmu kesehatan tidak ditemukan hubungan yang signifikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa spiritualitas berhubungan dengan perilaku berisiko kesehatan pada mahasiswa program sarjana (S1) reguler Universitas Indonesia. Oleh karena itu, spiritualitas dapat dipertimbangkan sebagai salah satu aspek dalam pengembangan upaya promosi kesehatan mahasiswa di lingkungan Universitas Indonesia.

University students are in a transitional stage characterized by increasing independence in decision-making, including health-related decisions, as well as significant lifestyle changes due to academic and social demands. Previous studies among regular undergraduate students at Universitas Indonesia have reported the persistence of various health risk behaviors, including inadequate fruit and vegetable consumption, insufficient physical activity, inadequate sleep duration, and involvement in alcohol and drug use. These findings highlight the need to identify factors associated with health risk behaviors. One factor that may be associated with such behaviors is spirituality, which plays an important role in shaping individuals’ values, sense of meaning in life, and health-related decision-making. Therefore, this study aimed to examine the relationship between spirituality and health risk behaviors among regular undergraduate students at Universitas Indonesia. This study employed a cross-sectional design involving 223 active regular undergraduate students at Universitas Indonesia aged 18–24 years. Participants were recruited using convenience sampling. Data were collected using the modified Daily Spiritual Experience Scale (DSES) and the Health Risk Behavior Inventory (HRBI). Spearman’s correlation analysis revealed a significant negative correlation between spirituality and health risk behaviors (r = −0.302; p < 0.001), indicating that higher levels of spirituality were associated with lower levels of health risk behaviors. Stratified analysis by sex showed significant negative correlations in both groups, with a stronger correlation among male students than female students. Based on faculty clusters, significant negative correlations were observed among students from science and technology as well as social sciences and humanities faculties, whereas no significant correlation was found among students from health sciences faculties. These findings indicate that spirituality is associated with health risk behaviors among regular undergraduate students at Universitas Indonesia. Therefore, spirituality may be considered as one aspect in developing health promotion programs for students at Universitas Indonesia.
Read More
S-12405
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Fitriani; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Ika Malika
Abstrak:
Ide bunuh diri menjadi salah satu komponen penting dalam memprediksi upaya bunuh diri serta diasumsikan sebagai indikator dari masalah kesehatan mental lainnya. Mahasiswa salah satu kelompok yang rentan memiliki ide bunuh diri dikarenakan adanya tekanan hidup dan sumber stres lainnya. Peranan coping styles menjadi penting bagi individu dalam menghadapi masalah dalam hidupnya. Tujuan penelitian mengetahui hubungan antara coping styles (problem-focused coping, emotion-focused coping, dan avoidant coping) dengan ide bunuh diri pada mahasiswa program sarjana di Universitas Indonesia. Desain penelitian kuantitatif Cross-Sectional dengan data primer melalui Kobo ToolBox didapatkan sejumlah 570 responden mahasiswa dari 14 fakultas. Pengumpulan data dengan metode Incidental sampling dan Quota Sampling. Alat ukur Brief COPE dipakai untuk mengukur coping styles dan Beck Scale for Suicide Ideation untuk mengukur ide bunuh diri. Dari hasil uji statistik Spearman Correlation menunjukkan ada hubungan antara problem-focused coping (r = -0,453, p<0,05), emotion-focused coping (r = -0,210, p<0,05), dan avoidant coping (r = 0,593; p<0,05) dengan ide bunuh diri pada pada mahasiswa program sarjana di Universitas Indonesia. Arah hubungan negatif pada problem-focused coping dan emotion-focused coping dengan ide bunuh diri, sedangkan avoidant coping memiliki hubungan positif. Semakin sering mahasiswa menggunakan problem-focused coping dan emotion-focsed coping akan semakin rendah ide bunuh diri yang dimiliki. Serta, semakin sering penggunaan avoidant coping akan semakin tinggi ide bunuh diri yang dimiliki. Maka itu, peneliti merekomendasikan mahasiswa untuk mengkombinasikan penggunaan problem-focused coping dan emotion-focused coping yang adaptif ketika mengatasi tekanan hidup dibandingkan avoidant coping atau penghindaran terhadap masalah.

Suicidal ideation is essential in predicting suicide attempts, also assumed to be an indicator of other mental health problems. Undergraduate students are one of the groups most vulnerable to suicidal ideation due to life pressures and other sources of stress. Coping styles is a crucial role for individuals in dealing with life problems. The aim of this study is to examine the relationship between coping styles (problem-focused coping, emotion-focused coping, and avoidant coping) with suicidal ideation on undergraduate students at University of Indonesia. This study using quantitative cross-sectional design with distributed online questionnaires via Kobo ToolBox to collected 570 student respondents from 14 faculties. The sampling techniques used are incidental sampling and quota sampling. The Brief COPE was used to measurement coping styles, and the Beck Scale for Suicide Ideation was used to measurement suicidal ideation. The result of study using Spearman correlation statistical tests indicated coping styles significantly correlated between problem-focused coping (r = -0.453, p<0.05), emotion-focused coping (r = -0.210, p<0.05), and avoidant coping (r = 0.593, p<0.05) with suicidal ideation on undergraduate students at University of Indonesia. Problem-focused coping and emotion-focused coping has negative correlation with suicidal ideation, inverse avoidant coping has a positive correlation. The more frequently students use problem-focused coping and emotion-focused coping, the lower their suicidal ideation. Conversely, the more frequently avoidant coping is used, the higher the suicidal ideation. Recommendation that undergraduate students to combine the use of adaptive problem-focused coping and emotion focused coping when dealing with life pressures rather than resorting to avoidant coping.
Read More
S-11635
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atikah Dwi Kustianingsih; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dien Anshari, Sunersi Handayani
Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui stressor, persepsi terhadap stressor, strategi coping yang digunakan untuk menghadapi stressor, dan efek langsung yang dirasakan oleh tenaga kesehatan setelah melakukan coping. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam terhadap 5 orang tenaga kesehatan dan 1 orang Kasatpel Puskesmas. Hasil penelitian menunjukan bahwa stressor tenaga kesehatan selama pandemik COVID-19 berasal dari eksternal yaitu kekurangan SDM, kesulitan mencapai target SPM, berkaitan dengan pasien, penggunaan APD, pembuatan laporan, ketakutan menularkan COVID-19 ke keluarga, dan angka kematian COVID-19 yang tinggi. Sebagian besar menilai stressor tidak menghambat dan mengancam. Sedangkan sisanya menganggap bahwa stressor sebagai tantangan dan mengancam. Kemudian seluruh tenaga kesehatan merasa bahwa mereka mampu dan memiliki sumber yang cukup untuk mengatasi stressor. Sebagian besar menggunakan Emotion focused coping. Hasil jangka pendek yang dirasakan oleh informan setelah melakukan coping adalah perasaan positif yang menunjukan coping berhasil.
Read More
S-10806
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irfan Nafis Sjamsuddin; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dadan Erwandi, Wahyu Septiono, Ika Malika
Abstrak:
Saat ini, masyarakat semakin mudah mengakses informasi melalui berbagai perangkat yang terhubung dengan teknologi internet. Namun, hal tersebut menimbulkan berbagai kekhawatiran baru, salah satunya penyebaran infromasi yang salah atau tidak akurat. Untuk mengatasinya, pendekatan literasi yang lebih spesifik dibutuhkan yaitu literasi kesehatan digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan determinan personal terhadap literasi kesehatan digital pada mahasiswa program sarjana Universitas Indonesia. Studi ini menggunakan analisis data sekunder dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan melalui survei yang dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menggunakan instrumen eHEALS dengan delapan pertanyaan tentang literasi kesehatan digital pada studi ini. Analisis menggunakan regresi linear berganda dengan literasi kesehatan sebagai variabel dependen dan determinan sosial meliputi jenis kelamin, usia, rumpun ilmu, dan uang saku sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan tingkat literasi kesehatan digital pada mahasiswa program sarjana dalam kategori baik (M=3,14; SD=0,501). Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan variabel usia saku berhubungan secara signifikan dengan literasi kesehatan digital setelah dikontrol oleh variabel usia (β=0,926; 95% CI=0,037 – 1,785). Oleh karena itu, diperlukan upaya dalam pengembangan program edukasi kesehatan yang dapat menjangkau mahasiswa dari beragam latar belakang dengan tujuan meningkatkan literasi kesehatan digital mereka.



Currently, it is easier for people to access information through various devices connected to internet technology. However, this raises various new concerns, one of which is the spread of false or inaccurate information. To overcome this, a more specific literacy approach is needed, namely digital health literacy. This study aims to determine the relationship between personal determinants of digital health literacy in undergraduate students at the University of Indonesia. This study uses secondary data analysis with a cross-sectional design. Data was collected through a survey conducted by a research team from the Faculty of Public Health, University of Indonesia, using the eHEALS instrument with eight questions about digital health literacy in this study. The analysis uses multiple linear regression with health literacy as the dependent variable and social determinants including gender, age, knowledge class, and pocket money as independent variables. The results showed that the level of digital health literacy in undergraduate students was in the good category (M=3.14; SD=0.501). The results of multiple linear regression analysis show that the pocket age variable is significantly related to digital health literacy after controlling for the age variable (β=0.926; 95% CI=0.037 – 1.785). Therefore, efforts are needed to develop health education programs that can reach students from various backgrounds with the aim of increasing their digital health literacy.
Read More
T-6709
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salsabila Al-Azhar; Pembimbing: Dian Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Ika Malika
Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran serta hubungan antara pengetahuan, sikap, dan praktik pencegahan COVID-19 pada mahasiswa S1 reguler Universitas Indonesia dengan menggunakan desain studi cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 415 orang dengan teknik pengambilan sampel, yaitu purposive sampling dan convenience sampling. Pengetahuan, sikap, dan praktik pencegahan COVID-19 diukur menggunakan kuesioner adaptasi dari survei Knowledge, Attitude, and Practices (KAP) terkait COVID-19 secara online menggunakan Google Form.
Read More
S-10856
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kartika Anggun Dimar Setio; Pembimbing: Rita Damayanti, Iwan Ariawan; Penguji: Arman Nefi, Soewarta Kosen, Widyastuti Wibisana
T-3944
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhidayah Nurdin; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Ratna Tri Hari Safariningsih
Abstrak:
Perilaku sleep hygiene yang buruk pada mahasiswa merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif, kesehatan mental, dan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan perilaku sleep hygiene mahasiswa S1 Reguler Universitas Indonesia berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB) yang mencakup variabel pengetahuan, sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan niat. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring kepada 262 mahasiswa S1 Reguler Universitas Indonesia pada tahun 2026 menggunakan teknik quota sampling, kemudian dianalisis menggunakan uji t-independent dan uji regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perilaku sleep hygiene responden masih rendah dengan nilai 53,69 pada skala 100. Rata-rata durasi tidur hanya 6,29 jam per malam di bawah rekomendasi NSF dan Kemenkes RI yaitu 7–9 jam. Analisis bivariat menunjukkan bahwa norma subjektif (p = 0,026) dan persepsi kontrol perilaku (p = 0,016) berhubungan signifikan terhadap perilaku sleep hygiene. Semakin baik norma subjektif dan semakin tinggi persepsi kontrol perilaku mahasiswa, semakin baik pula perilaku sleep hygiene yang dimiliki. Jenis kelamin, pengetahuan, sikap, dan niat tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa intervensi promosi kesehatan perlu berfokus pada penguatan persepsi kontrol perilaku mahasiswa serta pelibatan lingkungan sosial sebagai pendukung penerapan perilaku sleep hygiene yang sehat

Poor sleep hygiene behavior among students is one of the health issues related to decreased cognitive function, mental health, and quality of life. This study aims to analyze the determinants of sleep hygiene behavior among undergraduate students at the University of Indonesia based on the Theory of Planned Behavior (TPB), which includes variables such as knowledge, attitude, subjective norms, perceived behavioral control, and intention. The research employs a cross-sectional design with a quantitative approach. Data were collected through an online questionnaire from 262 undergraduate students at the University of Indonesia in 2026, using quota sampling technique, and analyzed using independent t-tests and simple linear regression. The results showed that the respondents' average sleep hygiene score was relatively low, at 53.69 on a 100-point scale. The average sleep duration was only 6.29 hours per night, which is below the 7–9 hours recommended by the NSF and the Indonesian Ministry of Health. Bivariate analysis revealed that subjective norms (p = 0.026) and perceived behavioral control (p = 0.016) were significantly associated with sleep hygiene behavior. Students with better subjective norms and higher perceived behavioral control tended to exhibit better sleep hygiene behavior. Sex, knowledge, attitude, and intention were not significantly associated with sleep hygiene behavior. These findings suggest that health promotion interventions should focus on strengthening students’ perceived behavioral control and involve the social environment as a supporter in adopting healthy sleep hygiene behaviors.
Read More
S-12319
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive