Ditemukan 29229 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Pramita Puspaningtyas Putri; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral, Fatma Lestari, Hariadi Wibisono, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:
Tesis ini membahas tingkat kestabilan perilaku protektif masyarakat dalam protokol kesehatan selama masa pandemi COVID-19 serta determinan yang berkontribusi terhadap perubahan perilaku tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Hasil penelitian menyarankan bahwa Kementrian Kesehatan dan stakeholder lainnya dalam penyelenggaraan komunikasi kesehatan untuk meningkatkan kualitas informasi yang sederhana, mudah dimengerti, bernada tegas baik termasuk dengan metode gain frames untuk menumbuhkan intensi masyarakat mempertahankan perilaku protektif yang sudah dilakukan, bahkan setelah pandemi berakhir.
Read More
T-6366
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Silvia Sagita; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Milla Herdayati, Lucia Sri Rejeki, Sidayu Ariteja
Abstrak:
Read More
Stunting merupakan tantangan fundamental dalam perkembangan manusia. Sebanyak 149.2 juta balita di dunia (22%) mengalami stunting pada tahun 2020. Prevalensi stunting di Indonesia yaitu 24,4% pada tahun 2021 dan masih lebih tinggi dari rata-rata global. Periode pemberian MPASI sejak usia 6 hingga 23 bulan adalah waktu puncak insiden gangguan pertumbuhan, defisiensi mikronutrien dan penyakit menular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak praktik pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) terhadap kejadian stunting pada anak usia bawah dua tahun (Baduta) di Indonesia sebelum dan pada masa Pandemi Covid-19. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional dengan menggunakan data sekunder Baseline National tahun 2017 dan Program Review tahun 2021 Wahana Visi Indonesia. Lokasi penelitian yaitu di 11 Kabupaten/kota di Indonesia. Analisis data yang di gunakan dalam penelitian ini antara lain analisis univariat, bivariat dan multivariat regresi logistik berganda. Kejadian stunting baduta di Indonesia di masa pandemi tidak mengalami perbedaan atau penurunan yang signifikan dibandingkan pada masa sebelum pandemi. Praktik MPASI, yaitu variasi makanan mengalami perbaikan di masa pandemi namun tidak pada frekuensi makan. Variasi dan frekuensi makan tidak berhubungan dengan kejadian stunting baduta di masa pandemi, namun frekuensi makan signifikan berhubungan dengan kejadian stunting pada masa sebelum pandemi. Variabel jenis kelamin, usia anak, pemberian ASI dan sanitasi berhubungan dengan kejadian stunting baduta dan merupakan confounding hubungan praktik MPASI dengan kejadian stunting baduta pada masa sebelum pandemi. Usia anak merupakan satu-satunya faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting baduta di masa pandemi. Intervensi program belum dapat menurunkan prevalensi stunting secara signifikan namun sudah menunjukkan dampak pada praktik pemberian MPASI baduta. Sehingga dibutuhkan durasi intervensi program yang lebih panjang dan secara komprehensif menyasar periode 1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak di dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun, serta melibatkan wanita usia subur, ibu hamil serta orang tua/ pengasuh baduta.
Stunting is a fundamental challenge in human development. A total of 149.2 million children under five in the world (22%) were stunted in 2020. The average stunting prevalence in Indonesia is 24,4% and still higher than the global average. The period of giving complementary foods from 6 to 23 months of age is the peak time of the incidence of growth disorders, micronutrient deficiencies and infectious diseases. This study aims to determine the impact of Infant and Young Child Feeding (IYCF) practice on the incidence of stunting in children under two years of age (Baduta) in Indonesia before and during the Covid-19 pandemic. The study uses using secondary data from National Baseline 2017 and Program Review 2021 Wahana Visi Indonesia with a Cross Sectional design. The research locations are in 11 regencies/cities in Indonesia. Data analysis used in this study included univariate, bivariate and multivariate multiple logistic regression analysis. Prevalence of stunting in children under two in Indonesia during the pandemic did not show a significant difference or decrease compared to the pre-pandemic period. The IYCF practice, namely Minimum Dietary Diversity (MDD) has improved during the pandemic but not the Minimum Meal Frequency (MMF). MDD and MMF was not related to stunting in children during pandemic, but the MMF was significantly related to stunting in the pre-pandemic period. The variables of gender, child's age, breastfeeding and sanitation are related to stunting and are a confounding of the relationship between complementary feeding practices and stunting during the pre-pandemic period. The age of the child is the only factor related to stunting in children during pandemic. Program interventions have not been able to significantly reduce the prevalence of stunting, but have shown an impact on the practice of providing complementary feeding for children. So that a longer duration of program intervention is needed and comprehensively targets the period of the first 1000 days of life, since in the womb until the child is two years old, also involving women of childbearing age, pregnant women and parents/caregivers of children under two years old.
T-6574
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yeni Rahmawati; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Meilisa Rahmadani
Abstrak:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi gejala kecemasan dan depresi pada tenaga kesehatan laboratorium terpadu di Rumah Sakit Universitas Indonesia selama pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang dilakukan di Laboratorium Terpadu Rumah Sakit Universitas Indonesia pada bulan Juli 2021. Analisis yang digunakan yaitu, univariat, bivariat dan multivariabel dengan derajat kepercayaan 95%. Dari 42 tenaga kesehatan laboratorium terpadu RS UI didapatkan prevalensi gejala kecemasan sebesar 11,9% dan prevalensi gejala depresi sebesar 14,3%. Hasil analisis bivariat dengan uji chi-square menyatakan tidak ada hubungan yang signifikan antara gejala kecemasan ataupun depresi dengan variabel independen penelitian.
Read More
S-10777
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Istiqomah Nur Ocnisari; Pembimbing: Besral; Penguji: Popy Yuniar, Nurhalina Afriana
Abstrak:
Penasun merupakan populasi kunci yang memiliki risiko ganda untuk penularan HIV, yaitu melalui perilaku menyuntik dan perilaku seksualnya. Upaya yang dilakukan untuk mencegah penularan HIV dan infeksi lainnya yang terjadi melalui penggunaan napza dengan jarum suntik dan perlengkapannya adalah dengan melalui program pengurangan dampak buruk. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan program pengurangan dampak buruk HIV-AIDS dengan perilaku menyuntik. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dan data STBP Tahun 2013. Sampel dalam penelitian ini adalah penasun yang pernah bertemu dengan petugas penjangkau sebanyak 430 responden di kota Yogyakarta, Tangerang, Pontianak dan Makassar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi penasun yang menyuntik berisiko dalam seminggu terakhir adalah sebesar 43% dan 45,4% penasun yang tidak mengakses program pengurangan dampak buruk. penasun yang tidak mengakses program pengurangan dampak buruk berisiko 1,2 kali lebih tinggi untuk menyuntik berisiko dibandingkan dengan penasun yang mengakses program pengurangan dampak buruk setelah dikontrol oleh faktor usia, tempat menyuntik, penggunaan kondom, lama menjadi penasun, dan jumlah teman menyuntik. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan program pengurangan dampak buruk secara komprehensif untuk mengurangi perilaku menyuntik berisiko, sehingga penularan HIV-AIDS pada penasun dapat dicegah.
Kata Kunci : penasun, perilaku menyuntik, pengurangan dampak buruk
Injection Drug Users (IDUs) are key population that have double risk of HIV transmission, through injecting behaviors and sexual behaviors. The effort to reduce HIV transmission and other infection among IDUs is by implementing harm reduction program. This study was conducted to identify the association between harm reduction program of HIV-AIDS among IDUs with injecting behaviors. This study used cross sectional design and used data of IBBS 2013. The respondents are IDUs who ever met with the outreach workers as many as 430 respondents in Yogyakarta, Tangerang, Pontianak, and Makassar.
The result showed that the prevalence of IDUs who inject risky in the past week is 44,3% and 54,1% of IDUs do not access harm reduction program. IDUs who do not accsess harm reduction program has 1,3 time higher chance to inject risky than IDU who accsess harm reduction program after controlled by age, place of injection, condom use, duration of injecting drugs and total number of injecting partner. Therefore, optimalization of comprehensive harm reduction program is needed to decrease injection risk behavior in order to prevent HIV-AIDS transmission among IDUs,
Keywords : people who inject drugs, injection behaviors, harm reducion
Read More
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi penasun yang menyuntik berisiko dalam seminggu terakhir adalah sebesar 43% dan 45,4% penasun yang tidak mengakses program pengurangan dampak buruk. penasun yang tidak mengakses program pengurangan dampak buruk berisiko 1,2 kali lebih tinggi untuk menyuntik berisiko dibandingkan dengan penasun yang mengakses program pengurangan dampak buruk setelah dikontrol oleh faktor usia, tempat menyuntik, penggunaan kondom, lama menjadi penasun, dan jumlah teman menyuntik. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan program pengurangan dampak buruk secara komprehensif untuk mengurangi perilaku menyuntik berisiko, sehingga penularan HIV-AIDS pada penasun dapat dicegah.
Kata Kunci : penasun, perilaku menyuntik, pengurangan dampak buruk
Injection Drug Users (IDUs) are key population that have double risk of HIV transmission, through injecting behaviors and sexual behaviors. The effort to reduce HIV transmission and other infection among IDUs is by implementing harm reduction program. This study was conducted to identify the association between harm reduction program of HIV-AIDS among IDUs with injecting behaviors. This study used cross sectional design and used data of IBBS 2013. The respondents are IDUs who ever met with the outreach workers as many as 430 respondents in Yogyakarta, Tangerang, Pontianak, and Makassar.
The result showed that the prevalence of IDUs who inject risky in the past week is 44,3% and 54,1% of IDUs do not access harm reduction program. IDUs who do not accsess harm reduction program has 1,3 time higher chance to inject risky than IDU who accsess harm reduction program after controlled by age, place of injection, condom use, duration of injecting drugs and total number of injecting partner. Therefore, optimalization of comprehensive harm reduction program is needed to decrease injection risk behavior in order to prevent HIV-AIDS transmission among IDUs,
Keywords : people who inject drugs, injection behaviors, harm reducion
S-9072
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alika Shameela; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Rico Kurniawan, Fifi Dwijayanti
Abstrak:
Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh dari coping pandemi COVID-19 dan penyesuaian perkuliahan terhadap depresi pada Mahasiswa Baru FKM UI Angkatan 2020. Disain studi dalam penelitian ini merupakan studi potong lintang. Sampel dalam penelitian adalah Mahasiswa Baru FKM UI Angkatan 2020. Sebanyak 139 sampel didapatkan dengan menggunakan purposive sampling. Analisis bivariat dilakukan menggunakan chi-square dan analisis multivariat dilakukan dengan mengunakan regresi logistik biner. Data dikumpulkan antara Mei - Juni 2021 melalui kuesioner online.
Read More
S-10667
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Manendra Muhtar; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Besral, Ella Nurlaella Hadi, Melissa Adiatman, Mita Juliawati
Abstrak:
Latar Belakang: Perawatan gigi dan mulut memiliki risiko tinggi untuk terjadi penularan COVID-19, maka sangatlah penting untuk dokter gigi melaksanakan perawatan dengan protokol pencegahan transmisi COVID-19 yang ketat. Pada penelitian ini dilakukan analisis kesiapan dokter-dokter gigi di Indonesia terhadap upaya pencegahan transmisi COVID-19, yang belum banyak diteliti di Indonesia. Dilakukan juga analisis kesiapan dengan faktorfaktor yang dapat memiliki asosiasi dengan kesiapan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross- sectional). Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner secara daring. Total diperoleh 520 sampel, dengan sampel berupa dokter gigi yang masih aktif berpraktik dengan minimal gelar dokter gigi. Pada awal kuesioner, ditanyakan pertanyaan awal mengenai karakteristik responden. Selanjutnya, responden diberikan 21 pertanyaan mengenai persepsi mereka terhadap upaya pencegahan transmisi COVID-19, dan 18 pertanyaan mengenai kesiapan/ rutinitas melaksanakan tindakan-tindakan pencegahan transmisi COVID-19 pada tempat praktik mereka. Hasil: Analisis multivariat dengan regresi logistik menunjukkan bahwa variabel yang memiliki asosiasi signifikan dengan kesiapan setelah dikontrol variabel lain adalah persepsi (adjusted odds ratio: 22,1, 95% CI: 2,9- 171,8), usia (adjusted odds ratio 0,3, 95% CI: 0,1-0,8), dan lokasi praktik (adjusted odds ratio 2,9, 95% CI: 1,5-5,6). Kesimpulan: Pelatihan dan edukasi dari organisasi profesi dokter gigi untuk meningkatkan kesiapan dokter gigi terhadap berbagai upaya pencegahan transmisi COVID-19 perlu diberikan. Selain pelatihan, berbagai stakeholder juga perlu bekerjasama untuk menangani segala keterbatasan sumber daya yang diperlukan untuk pencegahan COVID-19
Read More
T-6173
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Widia Noviyanti; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Tris Eryando, Flourisa Julian Sudradjat
S-7943
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hunafa Nur Izzati; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Rico Kurniawan, Mitra Kadarsih
Abstrak:
Siklus menstruasi merupakan mekanisme yang terjadi pada organ reproduksi setiap bulannya pada wanita. Siklus menstruasi dapat dijadikan sebagai indikator utama terhadap kesehatan reproduksi. Ketidakteraturan siklus menstruasi perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan gangguan menstruasi, infertilitas, dan kanker Rahim. Siklus menstruasi yang tidak teratur umumnya dialami oleh remaja dan dewasa awal, salah satunya mahasiswi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi siklus menstruasi pada mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat UI di masa pandemi COVID-19.
Read More
S-10915
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sofwatun Nida; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Martya R. Makful, Dian Sidik Arsyad, Argianto
Abstrak:
Data rutin situasi COVID-19 dapat memberikan banyak informasi penting yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi pengendalian pandemi. Sayangnya keterbatasan tenaga seringkali menjadi alasan minimnya analisis lebih lanjut. Penelitian ini memanfaatkan laporan data rutin Kementerian Kesehatan untuk menganalisis pengaruh pelacakan kontak erat terhadap transmisi COVID-19 di Pulau Jawa secara spasial. Tujuannya membantu mengevaluasi upaya pelacakan kontak erat yang sudah dilakukan pemerintah. Analisis dilakukan dengan membuat peta distribusi pelacakan kontak dan transmisi kasus menggunakan software QGIS 2.8.1. dan nilai Indeks Moran menggunakan software Geoda. Penelitian ini menggunakan data cross-sectional dengan design studi ekologi. Unit analisis adalah kabupaten/kota yang berjumlah 118 dan waktu pengamatan adalah 15 Maret - 11 Januari 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transmisi kasus COVID-19 cenderung tinggi di bagian tengah Pulau Jawa, puncak transmisi terjadi pada bulan Juli 2021, kapasitas pelacakan kontak erat cenderung lebih tinggi di kabupaten/kota yang memiliki kasus lebih tinggi. Penyebaran kasus COVID-19 di Pulau Jawa memiliki efek spasial (I=0.234, E(I)=-0.0085). Terdapat autokorelasi negatif yang lemah antara pelacakan kontak dengan kasus COVID-19 di Pulau Jawa (I=-0.133, E(I)=-0.0085). Pada saat transmisi kasus tinggi rasio pelacakan kontak lebih rendah daripada ketika transmisi kasus rendah. Pelacakan kontak harus dilakukan saat transmisi penyakit rendah sehingga ledakan kasus dapat di cegah
Routine data of the COVID-19 situation can provide a lot of important information that can be used as material for evaluating pandemic control. Unfortunately, limited manpower is often the reason for the lack of further analysis. This study used routine data from the Ministry of Health to analyze the spatial effect of close contact tracing on COVID-19 transmission in Java. The aim is to help the government evaluate close contact tracing efforts. The analysis was carried out by creating the distribution map of contact tracing and case transmission using QGIS 2.8.1 software and Moran Index values using Geoda software. This study used cross-sectional data with an ecological study design. The unit of analysis was the municipality, and the observation time was 15 March - 11 January 2022. The results showed that the transmission of COVID-19 cases tends to be high in the central part of Java Island, the peak of transmission occurred in July 2021, close contact tracing capacity tends to be higher in municipalities with higher cases. The spread of COVID-19 cases in Java has a spatial effect (I=0.234, E(I)=-0.0085). There is a weak negative autocorrelation between contact tracing and COVID-19 cases in Java (I=-0.133, E(I)=-0.0085). When case transmission was high, the contact tracing ratio was lower than when case transmission was low. Contact tracing should be done when disease transmission is low so that case explosions can be prevented
Read More
Routine data of the COVID-19 situation can provide a lot of important information that can be used as material for evaluating pandemic control. Unfortunately, limited manpower is often the reason for the lack of further analysis. This study used routine data from the Ministry of Health to analyze the spatial effect of close contact tracing on COVID-19 transmission in Java. The aim is to help the government evaluate close contact tracing efforts. The analysis was carried out by creating the distribution map of contact tracing and case transmission using QGIS 2.8.1 software and Moran Index values using Geoda software. This study used cross-sectional data with an ecological study design. The unit of analysis was the municipality, and the observation time was 15 March - 11 January 2022. The results showed that the transmission of COVID-19 cases tends to be high in the central part of Java Island, the peak of transmission occurred in July 2021, close contact tracing capacity tends to be higher in municipalities with higher cases. The spread of COVID-19 cases in Java has a spatial effect (I=0.234, E(I)=-0.0085). There is a weak negative autocorrelation between contact tracing and COVID-19 cases in Java (I=-0.133, E(I)=-0.0085). When case transmission was high, the contact tracing ratio was lower than when case transmission was low. Contact tracing should be done when disease transmission is low so that case explosions can be prevented
T-6376
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hanifah Nurdani; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Astuti Yuni Nursasi, R. Sutiawan
Abstrak:
Latar Belakang. Pandemi COVID-19 yang terjadi sejak akhir tahun 2019 telah menginfeksi puluhan juta orang di di dunia, termasuk di Indonesia. Tes pemeriksaan PCR sebagai tes standar untuk diagnosis merupakan salah satu upaya pencegahan sekunder penting untuk mencegah penyebaran penyakit, mengetahui besar masalah dan pengambilan keputusan segera untuk upaya pencegahan selanjutnya. Adanya jeda waku yang panjang untuk menunda pemeriksaan diagnosis PCR ini berpotensi menimbulkan penyebaran virus yang lebih luas dan kemungkinan kesalahan diagnosis. Metode Penelitian. Penelitian dilakukan dengan Sumber data Rekam Medis pasien rawat inap COVID-19 tahun 2020 di Rumah Sakit Universitas Indonesia dengan pendekatan cross sectional. Total sampling dilakukan dengan menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil. Dari 254 subjek penelitian, laki-laki lebih banyak (55.1%). Panjang jeda waktu diagnosis di luar fasilitas peayanan kesehatan median 6 hari, di fasilitas pelayanan kesehatan 1 hari, dan total 7 hari. Jumlah pasien terlambat di luar fasilitas pelayanan ksesehatan lebih banyak dibandingn dengan terlambat di dalam fasilitas pelayanan kesehatan (80.7% vs. 5.7%). Dari uji chi-square, faktor yang berhubungan dengan keterlambatan diagnosis yaitu jenis kelamin (p=0.013), umur (p=<0.01), status perkawinan (p=0.021), pendidikan (p=0.024), riwayat kontak (p=0.031), dan gejala (p=0.003). Kesimpulan. Ada hubungan antara keterlambatan diagnosis COVID-19 dengan beberapa faktor demografi dan faktor penyakit pasien.
Read More
S-10888
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
