Ditemukan 38713 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Akbar Nugroho Sitanggang; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Robiana Modjo, M. Rizal. M. Damanik, Syahrul Efendi Panjaitan
Abstrak:
Read More
Faktor penting yang mempengaruhi kesehatan pekerja ibu hamil adalah status gizi yang telah lama dijadikan sebagai indikator pencapaian kesehatan suatu negara. Hal ini juga sejalan dengan upaya menciptakan tempat kerja yang sehat bagi pekerja, termasuk ibu hamil. Penting untuk mengetahui kondisi dan juga hubungan faktor- faktor yang dapat mempengaruhi status gizi pekerja ibu hamil tidak hanya dalam konteks kesehatan klinis tetapi juga faktor sosial ekonomi. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang dengan pendekatan semi kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan secara berani dengan menggunakan instrumen angket yang telah disusun oleh peneliti. Analisis univariat dan bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antar variabel. Mayoritas responden berusia 21-30 tahun (80%), berada pada kehamilan trimester III (47,14%), latar belakang pendidikan S1 (62,86%), status gizi sebagian besar responden adalah defisit berat (34,29%) dan normal (30%), dengan skor konsumsi makanan kurang (58,57%). sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan gizi baik (81,43%), dengan tingkat tuntutan pekerjaan dalam kategori sedang (65,71%), dan tingkat dukungan organisasi dalam kategori tinggi (41,43%). Terdapat hubungan yang signifikan (p<0,05) antara status gizi dengan 3 variabel yaitu frekuensi makan, tuntutan kerja dan dukungan organisasi. Kata kunci: Pekerja hamil, status gizi, tuntutan kerja, dukungan organisasi.
An important factor that affects the health of pregnant women workers is nutritional status which has long been used as an indicator of a country's health achievement. This is also in line with efforts to create a healthy workplace for workers, including pregnant women. It is important to know the conditions and also the relationship of factors that can affect the nutritional status of pregnant women workers not only in the context of clinical health but also socio-economic factors.The study was conducted with a cross-sectional design with a semi-quantitative approach. Data ii collection was carried out boldly using a questionnaire instrument that had been formulated by the researcher. Univariate and bivariate analysis was conducted to see the relationship between variables. Majority of respondents aged 21-30 years (80%), are in the third trimester of pregnancy (47.14%), educational background is bachelor degree (62.86%), the majority of respondents' nutritional status is severe deficit (34.29%) and normal (30%), with a score of less food consumption (58.57%). most of them have a good level of nutritional knowledge (81.43%), with level of job demand in medium category (65.71%), and the level of organizational support in high category (41.43%). Significant relationship (p<0,05) were found between nutritional status with 3 variables, namely the frequency of food, job demand and organizational support. Key words: Pregnant worker, nutritional status, job demand, organizational support.
T-6405
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Martha Dina Apriliana; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Didik Triwibowo
Abstrak:
Kecelakaan yang berkaitan dengan lalu lintas dan insiden yang berkaitan dengan kendaraan menjadi penyebab utama kecelakaan di area pertambangan. Salah satu penyebabnya adalah kelelahan pada operator truk tambang. Penelitian ini dilaksanakan untuk menjelaskan gambaran kelelahan subjektif dan menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan subjektif pada operator kendaraan tambang batu bara di area mining dan hauling PT Adaro Indonesia. Faktor-faktor risiko yang diteliti meliputi faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, status gizi (IMT), lingkar leher, keluhan kesehatan, kuantitas tidur, dan kualitas tidur) dan faktor risiko terkait pekerjaan (area kerja, masa kerja, shift kerja, commuting time, dan lingkungan kerja terutama temperatur, kebisingan, getaran, dan pencahayaan). Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Juli 2022. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari kuesioner yang disebarkan secara dalam jaringan (daring), yang meliputi kuesioner karakteristik individu dan pekerjaan, Fatigue Assessment Scale (FAS) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan uji chi-square serta uji regresi logistik ganda model prediksi. Besar sampel minimal dalam penelitian ini adalah 436 operator, namun data yang berhasil dianalisis adalah sebanyak 440 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 130 operator (29,5%) mengalami kelelahan subjektif. Hasil analisis statistik inferensial menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko tidak terkait pekerjaan, yaitu status gizi (IMT gemuk dan obesitas), keluhan kesehatan, dan kualitas tidur terhadap kelelahan subjektif pada operator. Hasil analisis statistik inferensial juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko terkait pekerjaan, yaitu masa kerja, temperatur, kebisingan, getaran, dan pencahayaan, terhadap kelelahan subjektif pada operator. Sementara itu, hasil analisis inferensial menggunakan uji regresi logistik ganda model prediksi menunjukkan bahwa kualitas tidur merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kelelahan subjektif pada operator.
Accidents related to traffic and incidents related to vehicles are the main causes of accidents in mining areas. One of the causes is fatigue on mining truck operators. This study was conducted to describe subjective fatigue and analyze risk factors related to subjective fatigue in coal mining vehicle operators in mining and hauling area of PT Adaro Indonesia. The risk factors studied included non-work-related risk factors (age, nutritional status (BMI), neck circumference, health complaints, sleep quantity, and sleep quality) and work-related risk factors (work area, length of work, shift work, commuting time, and work environment, especially temperature, noise, vibration, and lighting). The study was conducted from February to July 2022. The data used in this study came from a questionnaire distributed online, which included a questionnaire on individual and job characteristics, the Fatigue Assessment Scale (FAS), and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data were analyzed using descriptive analysis and inferential analysis with chi-square test and multiple logistic regression test for prediction models. The minimum sample size in this study was 436 operators, but the data that were successfully analyzed were 440 respondents. The results showed that as many as 130 operators (29.5%) experienced subjective fatigue. The results of inferential statistical analysis using the chi-square test showed that there was a significant relationship between risk factors not related to work, namely nutritional status (fat and obesity BMI), health complaints, and sleep quality on subjective fatigue in operators. The results of inferential statistical analysis also show that there is a significant relationship between work-related risk factors, namely working period, temperature, noise, vibration, and lighting, and subjective fatigue on operators. Meanwhile, the results of inferential analysis using multiple logistic regression test predictive models indicate that sleep quality is the most dominant variable associated with subjective fatigue in operators.
Read More
Accidents related to traffic and incidents related to vehicles are the main causes of accidents in mining areas. One of the causes is fatigue on mining truck operators. This study was conducted to describe subjective fatigue and analyze risk factors related to subjective fatigue in coal mining vehicle operators in mining and hauling area of PT Adaro Indonesia. The risk factors studied included non-work-related risk factors (age, nutritional status (BMI), neck circumference, health complaints, sleep quantity, and sleep quality) and work-related risk factors (work area, length of work, shift work, commuting time, and work environment, especially temperature, noise, vibration, and lighting). The study was conducted from February to July 2022. The data used in this study came from a questionnaire distributed online, which included a questionnaire on individual and job characteristics, the Fatigue Assessment Scale (FAS), and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data were analyzed using descriptive analysis and inferential analysis with chi-square test and multiple logistic regression test for prediction models. The minimum sample size in this study was 436 operators, but the data that were successfully analyzed were 440 respondents. The results showed that as many as 130 operators (29.5%) experienced subjective fatigue. The results of inferential statistical analysis using the chi-square test showed that there was a significant relationship between risk factors not related to work, namely nutritional status (fat and obesity BMI), health complaints, and sleep quality on subjective fatigue in operators. The results of inferential statistical analysis also show that there is a significant relationship between work-related risk factors, namely working period, temperature, noise, vibration, and lighting, and subjective fatigue on operators. Meanwhile, the results of inferential analysis using multiple logistic regression test predictive models indicate that sleep quality is the most dominant variable associated with subjective fatigue in operators.
S-11040
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suci Stephani Kristantri Hutabarat; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Radyan Prasetyo
Abstrak:
Read More
Fatigue pada pekerja tambang memiliki dampak yang signifikan terhadap tingkat absenteisme, produktivitas yang menurun, biaya kesehatan, kecelakaan, dan biaya terkait kelelahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat fatigue pada pekerja di PT. XYZ Jobsite Y serta menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor terkait pekerjaan (faktor fisik pekerjaan, shift kerja, lingkungan kerja, beban kerja, hubungan interpersonal, waktu perjalanan, dan masa kerja) dan faktor tidak terkait pekerjaan (usia, status merokok, indeks massa tubuh, kualitas tidur dan kuantitas tidur). Untuk mengukur kelelahan digunakan kuesioner Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER), untuk mengukur faktor fisik pekerjaan digunakan kuesioner The Self-administered Questionnaire, untuk mengukur kualitas tidur digunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan untuk mengukur beban kerja dan hubungan interpersonal digunakan kuesioner NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ). Penelitian ini dilakukan kepada 82 pekerja tambang di PT. XYZ dengan menggunakan desain penelitian cross-sectional. Pekerja terdiri dari karyawan kontrak dan tetap yang terbagai kedalam 3 departemen yaitu departement mining, plant, dan support. Untuk melihat hubungan antara faktor independen dengan dependen digunakan analisis inferensial dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 21 responden (26%) mengalami kelelahan kronis, dan sebanyak 23 responden (29%) mengalami kelelahan akut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya faktor usia dan indeks massa tubuh (IMT) memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat fatigue akut pada pekerja sedangkan faktor lainnya tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat fatigue kronis maupun akut
Fatigue in mining workers has a significant impact on absenteeism rates, decreased productivity, medical costs, accidents, and fatigue-related costs. This study aims to describe the level of fatigue in workers at PT. XYZ Jobsite Y and analyze the associated risk factors. The risk factors studied included work-related factors (work physical factors, work shifts, work environment, workload, interpersonal relationships, travel time, and years of service) and non-work related factors (age, smoking status, body mass index, sleep quality and sleep quantity). To measure fatigue, the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) questionnaire was used, the Self-administered Questionnaire was used to measure the physical factors of work, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire was used to measure sleep quality, and to measure workload and interpersonal relationships a questionnaire was used. NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ). This research was conducted on 82 mining workers at PT. XYZ by using a cross-sectional research design. A total of 73 respondents (89%) were male and 9 respondents (11%) were female. Workers consist of contract and permanent employees who are divided into 3 departments, namely the mining, plant, and support departments. To see the relationship between independent and dependent factors used inferential analysis using the chi square test. The results showed that 21 respondents (26%) experienced chronic fatigue, and 23 respondents (29%) experienced acute fatigue. The results showed that only age and body mass index (BMI) had a significant relationship with acute fatigue levels in workers while other factors did not have a significant relationship with chronic or acute fatigue levels
S-11159
Depok : FKM UI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adhelina Zulfiana; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Aulia Rahmi
Abstrak:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan fatigue pada pekerja wanita di PT. X. Penelitian ini dilakukan pada bulan juni-juli 2021 dengan melibatkan 5 orang pekerja dari PT. X yaitu 2 orang pekerja di bagian manajemen dan 3 orang pekerja di bagian produksi. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi deskriptif kualitatif dengan pengambilan data berupa data primer yang dilakukan dengan wawancara mendalam dan data sekunder dari PT.X. Faktor risiko fatigu yang diteliti terdiri dari faktor risiko terkait kerja dan faktor risiko tidak terkait kerja.
Read More
S-10680
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mulat Wening Astuti; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Robiana Modjo, Mila Tejamaya, Rismasari, Astuti
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Gangguan Otot dan Tulang Rangka Akibat Kerja (Gotrak) merupakan masalah kesehatan paling umum terkait pekerjaan dan menempati peringkat 2 sebagai gangguan kerja dan paling banyak biayanya. Prevalensi gotrak lebih tinggi pada petugas kesehatan, dibandingkan dengan populasi umum, industri dan profesi konstruksi. Profesional sektor kesehatan khususnya mereka yang bekerja di lingkungan rumah sakit, lebih sering mengalami gotrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor – faktor yang berhubungan dengan gangguan otot dan tulang rangka akibat kerja pada pegawai di RSUD X tahun 2022. Metode: Jenis penelitian ini adalah potong lintang dengan responden sebanyak 194 pegawai yang bekerja di RSUD X. Teknik pengumpulan data untuk data primer dilakukan dengan pengisian kuesioner, observasi, pengukuran dan wawancara. Sedangkan untuk data sekunder berupa profil RSUD, data pegawai dan data MCU pegawai. Hasil: Hasil kuesioner Nordic Body Map didapatkan bahwa prevalensi gotrak pada pegawai di RSUD X sebesar 83,5%. Pegawai yang mengalami keluhan gotrak mayoritas adalah tenaga medis yaitu sebesar 51,2%. Analisis penelitian ini didapatkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara faktor psikososial yaitu tuntutan psikologis dengan OR 6,25 dan ketidakpuasan kerja dengan OR 10,26. Kesimpulan: Prevalensi gotrak pada pegawai di RSUD X tinggi sehingga perlu dilakukan tindakan perbaikan untuk mengurangi keluhan gotrak pada pegawai di RSUD X.
Background: Work Related Musculosceletal Disorders (WMSDs) is the most common health problem related to work and is ranked 2nd as a work disorder and has the most costs. The prevalence of WMSDs is higher among health workers, compared to the general population, industry and the construction profession. Health sector professionals, especially those who work in a hospital environment, are more likely to experience gorak. The purpose of this study was to analyze the factors associated with muscle and skeletal disorders due to work on employees at RSUD X in 2022. Methods: This type of research is cross-sectional with 194 employees working at RSUD X. Data collection techniques for primary data were done by filling out questionnaires, observations, measurements and interviews. As for secondary data in the form of hospital profiles, employee data and employee MCU data. Results: The results of the Nordic Body Map questionnaire showed that the prevalence of WMSDs in employees at RSUD X was 83.5%. The majority of employees who experience WMSDs complaints are medical personnel, which is 51.2%. The analysis of this study found that there was a significant relationship between psychosocial factors, namely psychological work demands with an OR of 6.25 and job dissatisfaction with an OR of 10.26. Conclusion: The prevalence of WMSDs on employees at RSUD X is high so it is necessary to take corrective action to reduce complaints of WMSDs on employees at RSUD X.
T-6585
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Elia Walifah; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Ridwan Z.Sjaaf, Ishiko Herianto
S-6228
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Halimatuzzahra; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Fredy Christianto
Abstrak:
Kelelahan atau Fatigue merupakan perasaan dimana seseorang merasa sangat lelah, letih atau mengantuk yang disebabkan oleh berbagai faktor risiko seperti jam tidur yang kurang, tuntutan kerja yang tinggi, periode tugas yang lama, adanya tuntutan sosial dan kemasyarakatan, atau mengalami stres dan depresi yang berkepanjangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor ? faktor yang berhubungan dengan kelelahan pada tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas Kecamatan Wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur saat masa pandemi COVID-19. Adapun faktor ? faktor yang diteliti antara lain faktor karakteristik individu (jenis kelamin, usia, dan status kesehatan) dan faktor pekerjaan (jam istirahat, shift kerja, kuantitas tidur, pekerjaan sampingan dan commuting times). Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dan pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara online. Dari 131 tenaga kesehatan yang menjadi responden dalam penelitian ini, didapatkan 50.4% tenaga kesehatan merasakan kelelahan. Selain itu, terdapat hubungan antara status kesehatan (P value = 0,041) dan commuting times (P value = 0,039) dengan kejadian kelelahan.
Fatigue is a state of decline both physically and mentally and can reduce the level of alertness which can result in decreased work productivity, work quality, and also burnout. This study aims to analyze the relationship between work-related and non-work-related risk factors for employees of the Jakarta Health Agency. This study examines work-related factors (long working hours, work effort, job rewards, overcommitment, social support, and job satisfaction) and non-work related factors (sleep quantity, sleep quality, health status, educational status, stress, and age). This study used a cross sectional research design with primary data collection using a questionnaire. The results showed that fatigue was associate with long working hours, work effort, job rewards, overcommitment, social support, job satisfaction, sleep quality, health status, stress and age.
Read More
Fatigue is a state of decline both physically and mentally and can reduce the level of alertness which can result in decreased work productivity, work quality, and also burnout. This study aims to analyze the relationship between work-related and non-work-related risk factors for employees of the Jakarta Health Agency. This study examines work-related factors (long working hours, work effort, job rewards, overcommitment, social support, and job satisfaction) and non-work related factors (sleep quantity, sleep quality, health status, educational status, stress, and age). This study used a cross sectional research design with primary data collection using a questionnaire. The results showed that fatigue was associate with long working hours, work effort, job rewards, overcommitment, social support, job satisfaction, sleep quality, health status, stress and age.
S-11117
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wisnu Harmawan; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Robiana Modjo, Dian Kurnia Rabbani, Wahyudin Ali Syakir
Abstrak:
Read More
Data WHO menunjukkan 17.9 juta orang meninggal diakibatkan oleh penyakit kardiovaskuler dimana salah satunya adalah penyakit jantung koroner yang memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Sindrom metabolik merupakan masalah kesehatan serius yang akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner karena proses aterosklerosis. Berdasarkan data MCU PT XYZ tahun 2020-2022 didapatkan peningkatan angka kejadian sindrom metabolik sebesar 2.5% yang akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan risiko penyakit jantung koroner pada pekerja PT XYZ di tahun 2022 berdasarkan sindrom metabolik. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi potong lintang dengan 161 sampel responden. Sumber data yang digunakan adalah melalui kuesioner dan juga data hasil MCU tahun 2022. Hasil penelitian diketahui untuk faktor genetik didapatkan data bahwa variabel umur dan jenis kelamin pekerja mempunyai hubungan dengan risiko penyakit jantung koroner. Faktor lingkungan (shift kerja) tidak terdapat hubungan dengan risiko penyakit jantung koroner dan untuk faktor gaya hidup didapatkan data bahwa pola makan konsumsi karbohidrat dan lemak, indeks massa tubuh serta kebiasaan merokok mempunyai hubungan dengan risiko penyakit jantung koroner. Oleh karenanya perlu adanya tindakan pencegahan baik primer, sekunder maupun tersier untuk meminimalkan risiko penyakit jantung koroner baik pada individu pekerja maupun kepada perusahaan.
WHO data shows that 17.9 million people died due to cardiovascular disease and coronary heart disease has a high morbidity and mortality rate. Metabolic syndrome is a serious health problem that increases the risk of CHD due to atherosclerosis. Based on PT XYZ MCU data for 2020-2022, found that there was increasing the incidence of metabolic syndrome by 2.5% which would increase the risk of CHD. The purpose of this study was to analyze the factors associated with the risk of CHD in PT XYZ workers in 2022 based on metabolic syndrome. This study used a cross-sectional study approach with 161 sample respondents. The data source used was through a questionnaire and also data on the MCU results in 2022. The results of the study revealed that for genetic factors, found that the age and gender of workers had a relationship with the risk of CHD. Environmental factors (work shifts) had no relationship with the risk of CHD and for lifestyle factors, found that dietary patterns of carbohydrates and fats consumption, BMI also smoking habits had a relationship with the risk of CHD. Therefore it is necessary to have preventive measures both primary, secondary and tertiary to minimize the risk of CHD both to individual workers and to companies.
T-6621
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yumna Satyani Lasiyo; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Wahyudin, Retno Heru Setyorini
Abstrak:
Read More
Anemia merupakan masalah kesehatan yang paling sering dijumpai di seluruh dunia terutama di negara berkembang. Berdasarkan data WHO pada tahun 2019, prevalensi anemia di Indonesia adalah 31,2% dan termasuk dalam 10 besar kasus anemia tertinggi di Asia Tenggara. Pada beberapa tahun terakhir telah banyak dilakukan penelitian mengenai anemia pada pekerja industri. Pekerja perempuan menjadi kelompok rentan yang mengalami anemia karena beban ganda menjadi seorang ibu dan bekerja di luar rumah. Anemia dapat berdampak luas baik pada individu, sosial, ekonomi, dan produktivitas kerja. Tingkat absensi menjadi salah satu tolak ukur kinerja karyawan. Absen di tempat kerja dapat menimbulkan penurunan produktivitas dan kerugian perusahaan baik hilangnya waktu kerja ataupun medical cost apabila disebabkan oleh absen sakit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor yang mempengaruhi anemia dan bagaimana hubungannya dengan health-related absenteeism pada pekerja perempuan di PT.X tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional melibatkan 219 responden. Data primer diperoleh dari observasi dan kuesioner, sedangkan data sekunder dari hasil medical checkup tahun 2023 yang kemudian diolah menjadi analisis univariat, bivariat uji Chi-square dan multivariat dengan regresi logistic berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada pekerja perempuan di PT.X adalah 53,9%. Hasil uji Chi-square menyatakan terdapat hubungan yang signifikan antara anemia dengan asupan protein (p-value <0,001; OR 2,528), asupan zat besi (pvalue <0,001; OR 3,242), pola menstruasi (p-value <0,001; OR 2,959), status gizi (p-value 0,051); dan shift kerja (p-value 0,017; OR 2,096). Terdapat hubungan antara anemia dan health-related absenteeism (p-value 0,035; OR 4,583). Hasil uji regresi logistik menunjukkan bahwa pola menstruasi (p-value <0,001; OR 3,156) menjadi faktor dominan yang mempengaruhi anemia pada pekerja perempuan di PT.X. Kesimpulan penelitian ini yaitu kejadian anemia pada pekerja perempuan di PT.X dipengaruhi berbagai faktor baik dari asupan dan non asupan. Perempuan dengan pola menstruasi heavyflow akan berisiko 3,15 kali mengalami anemia. Anemia memiliki hubungan signifikan dengan health related absenteeism yang akan mempengaruhi produktivitas kerja. Strategi penatalaksanaan dan pencegahan anemia perlu dilakukan dengan pendekatan workplace-based agar tepat sasaran. Pada PT.X dapat dilakukan program deteksi dini dan penanggulangan anemia di tempat kerja, program penyuluhan pencegahan dan penatalaksanaan anemia, program makanan sehat dan PHBS, program suplemen tablet tambah darah, serta monitoring dan evaluasi program.
Anemia is a health problem that is most often found throughout the world, especially in developing countries. Based on WHO data in 2019, the prevalence of anemia in Indonesia is 31.2% and is included in the top 10 highest cases of anemia in Southeast Asia. In recent years, there has been a lot of research on anemia in industrial workers. Female workers are a vulnerable group who experience anemia due to the double burden of being a mother and working outside the home. Anemia can have a broad impact on individuals, society, the economy and work productivity. The level of absenteeism is one of the benchmarks for employee performance. Absence from the workplace can cause a decrease in productivity and company losses, including loss of working time or medical costs if it is caused by sickness absence. The aim of this research is to determine the factors that influence anemia and how it relates to health-related absenteeism in female workers at PT.X at 2023. The research method used was cross sectional in
T-6971
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Azhary Azwar; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri, Hendra, Anton Ojong, Amirullah
T-4854
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
