Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31825 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Vanda Sativa Julianti; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti, Cholid Yamani, Raden Gioseffi Purnawarman
Abstrak: Penelitian ini merupakan studi kasus di salah satu rumah sakit swasta tipe C di Kabupaten Bogor yang bertujuan untuk melakukan evaluasi efektivitas alur pelayanan sectio caesarea (SC) emergency pada tahun 2021 (masa pandemi COVID-19) dari sisi input, proses, dan outcome. Alur pelayanan sectio caesarea (SC) emergency yang ada disesuaikan dengan referensi Pemerintah dan Profesi (POGI), yakni adanya skrining COVID-19 dengan melakukan pemeriksaan swab-RDT Antigen dan rontgen thorax, serta konsultasi kepada Spesialis Paru atau Penyakit Dalam. Penelitian ini dilakukan dengan mix-method, secara kuantitatif dengan metode potong lintang dari berkas rekam medis dan dilanjutkan dengan kualitatif dari para informan kunci dan informan tambahan. Penelitian dilakukan pada 379 sampel pasien yang melakukan persalinan secara sectio caesarea (SC) emergency periode Januari-Desember 2021. Karakteristik pasien didapatkan 75,5% adalah usia 20-35 tahun dengan rata-rata 29,32 tahun; 58,8% adalah multipara dengan rata-rata paritas 1,96; dan 92,3% usia kehamilan 37-42 minggu dengan rata-rata 38,50 minggu. Diagnosis pasien didapatkan 77% kategori 2 dan 95,5% status non COVID-19. Diagnosis kategori 1 sebanyak 11,8% adalah fetal distress dan diagnosis kategori 2 sebanyak 27,7% adalah ketuban pecah dini (KPD), dengan response time kategori 1 <30 menit hanya 1,1% dan response time kategori 2 dalam 30-75 menit sebanyak 33,2%. Kemudian rata-rata waktu informed consent didapatkan 3,71 menit; waktu konsul Spesialis Paru/Penyakit Dalam didapatkan 4,06 menit; waktu konsul Spesialis Anestesi didapatkan 3,77 menit; proses transfer pasien didapatkan 6,01 menit; waktu spinal anestesi didapatkan 5,08 menit; waktu mulai operasi sampai bayi lahir didapatkan 20, 37 menit, dengan rata-rata pasien per-bulan adalah 31,58 dan waktu tanggap sectio caesarea (SC) emergency selama 111,87 menit. Pada analisis bivariat didapatkan adanya korelasi yang bermakna antara rerata jumlah pasien terhadap waktu tanggap sectio caesarea (SC) emergency (p-value=0,019), dan tidak ada hubungan bermakna antara diagnosis kategori 1 dan kategori 2 (p-value=0,767) serta status COVID19 dan Non COVID-19 (p-value=0,071) terhadap waktu tanggap sectio caesarea (SC) emergency; namun status COVID-19 terhadap waktu tanggap SC emergency memiliki hubungan bermakna dari sisi substansi. Pada kualitatif, didapatkan bahwa seluruh informan sudah mengetahui dan memahami alur pelayanan SC emergency selama pandemi ini, faktor pendukung yang ada adalah kekompakan dan kerjasama tim, dukungan manajemen rumah sakit untuk mengutamakan safety tenaga kesehatan ditunjang oleh sarana prasarana dan sumber daya manusia (SDM) yang sesuai, serta faktor penghambat yang ada adalah proses skrining/penapisan COVID-19 (hasil pemeriksaan penunjang), letak kamar operasi di lantai 2 dan tidak ada lift khusus transfer pasien, serta kekosongan alat pelindung diri (APD) dan linen operasi. Kesimpulannya, penilaian efektivitas alur pelayanan SC emergency tahun 2021 dengan pendekatan goal approach belum efektif, dilihat dari outcome yaitu rata-rata waktu tanggap SC emergency yang belum mencapai target indikator mutu (≤30 menit)
Read More
B-2281
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Harry Edwin M. Limbong; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Yuli P zsatar
Abstrak:

Kegiatan pengelolaan dirumah sakit sangat kompleks dengan berbagai disiplin ilmu antara lain disiplin iimu kedokteran, farmasi, keperawatan, teknik, ekonomi, hulcum mauplm humas terlebih Iagi pemasarannya. Panitia gahungan PERSI-DEPKES telah berhasil menyusun etika rumah sakit seluruh Indonesia (PBRSI) pada tahun 1986 yang dilakukan dengan keputusan meniri kesehatan Rl no. 924 (Menkes/SK/XII/1986) tanggal 18 desember 1986 sehingga berlaku bagi seluruh rumah sakit di Indonesia (Depkes RI - PERSI, 1990 : 19 - 23). Banyak eara dan strategi yang sudah di lakukan direktur dan kepala divisi pemasaran rumah sakit tersebut demi berkembang pesatnya rumah sakit. Hal ini juga di cermati oleh RSU MARY yang rnulai beroperasi tahun 2002 dengan langsnmg membentuk divisi pemasarannya. Dengan target divisipemasaranterutamaperusahaan-perusahaandi sekitarnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitaiif yang bersifat deskriptif eksploratif. Memakai eara wawaneara mendalam dan pengamatan terhadap dokumen. Daiam penelitian ini hanya faktor internal yang dapat dikontroi, yaitu variabel bauran pernasaran yang diteliti. Sedangkan faktor eksternal, antara lain kondisi ekonomi, politik, kompetisi dan perubahan sosial, yang tidak bisa dikontrol, tidak diperhitungkan.Penelitian di lakukan di RSU MARY Cileungsi Hijau pada bulan january sampai dengan november 2007 dengan menggunakan data primer dan skunder. Data primer dari wawancra informan penelitian ini yaitu Ka.Div pemasaran dan staff yang terlibat dalam pemasaran RSU MARY Ciluengsi Hijau serta HRD manager dan staff rekanan baru, rekanan lama I tetap, rekanan keluar sedangkan data skunder dari laporan dan dokumen yang berkaitan dengan implementasi pemasaran.Pengolahan data dilakukan secara manual. Penulis menyarankan agar owner RSU MARY Cileungsi untuk lebih memperhatikan kelangsungan image usahanya di masa datang. Tidak semua kebutuhan pasar bisa dipenuhi oleh satu Rekanan, melakukan evaluasi tahunan, survey, pcngawasan implementasi strategi, guna menentukan paket - pakct apa yang benar - benar mewakili kcbutuhan pasar dcngan memperhitungkan keuntungan dalam jumlah total nominal.Pelatihan berkala bagi pemasaran, tetapkan reward dan punishment, adakan pcrtemuan rutin dengan keuangan, humas, juga melakukan pengembangan satelit dan satelit perujuk (termasuk reward satelit)


 

Management activities in hospitals are complex, with many discipline science i.e. rnedicals, pharmacy, nursing, technical, economic, laws or public relations, specifically the marketing. Joint Committee of PERSI-DEPKES has delivered an ethic code of all hospitals in Indonesia (PERSI) on year 1986 that implemented by Decree of Minister of Health No. 924 (Menkes/SK/XII/1986) dated 19 December 1986, prevails to all hospitals in Indonesia (Depkes RI - PERSI, 1990: 19-23). There are many ways and strategy conducted by Director and division head of marketing _of such hospitals for the development of hospitals. This matters is aclcnoledged by RSU MARY that start its operation on year 2002 by establishing its marketing division fiom the beginning, whereas the companies surrounding the hospital as the marketing target, This research is a qualitative and descriptive explorative research. Conducting a deep interview method and literature. In this research only internal factor is able to controlled, that is the variable marketing. The external factors, i.e. economical situation, politics, competition, sosial changes that un-controllable is not calculated in the research conducted at RSU MARY Cileungsi Hijau on January through November 2007 with primary and secondary data. Primary data som'ce is hom interview with Division Head of Marketing and Staff involved in the marketing of RSU MARY Cileungsi Hijau, including HRD Manager and sta&` of new parmers, existing partners, ex-partners, while secondary data source is from reports and document related to the implementations of marketing. Data processing is conducted manually.Writer suggest that the owner of RSU MARY Cileungsi to give more attention on the image of its hospitals in the future. Not all market needs is able to be fulfilled by one body, conducting an annual evaluation, survey, supervisory on implementation of strategy to determine which packages that represents the market needs by calculating the pro5t in total nominal. Scheduled training for marketing, determine reward and punishment, conducting a scheduled meeting with finance, public relations, and conducting development on satellite and reward satellite.

Read More
B-1145
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Raudatus Solihah; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Kalsum Komaryani, Muliawan Humaini
Abstrak:
Latar Belakang: Implementasi Clinical Pathway (CP) Sectio Caesarea (SC) merupakan instrumen strategis kendali mutu dan biaya era JKN. Clinical Pathway (CP) di RS Islam Namira pada kasus SC beberapa kali belum berjalan sehingga evaluasi pelayanan komprehensif mulai dari proses penyusunan hingga pelayanan yang ada penting dilakukan karena tingginya angka tindakan namun variasi pelayanan yang signifikan antar Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) masih ditemukan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi implementasi CP SC ditinjau dari praktik klinis, mutu, dan biaya. Metode: Studi kasus deskriptif evaluatif dengan pendekatan kuantitatif menilai pelayanan SC yang ada (melakukan telaah 123 rekam medis dan billing pasien SC elektif severity level 1 pada Agustus-Desember tahun 2025) dilanjutkan dengan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam 15 informan terdiri dari manajemen dan klinisi serta kuantitatif di RSI Namira Lombok Timur. Hasil: Dokumen CP eksisting belum sesuai pedoman Kementerian Kesehatan karena didesain lebih kepada evaluasi tarif tanpa kolom evaluasi klinis dan kolom varians. Variabel input diperoleh cukup lemah karena ketiadaan SK Tim CP dan SPO pengembangan CP. Tahap proses berjalan top-down tanpa forum konsensus (FGD) dan sosialisasi formal sehingga proses lebih banyak dilakukan dari manajemen dengan keterlibatan pelaksana yang masih kurang. Pada dimensi output, masih ditemukan keberagaman pelayanan klinis mencapai 100%  berbeda dari CP yang sudah ada pada aspek obat-obatan dan BMHP (terutama benang bedah) karena dominasi preferensi personal dokter penanggung jawab pasien (DPJP). Capaian mutu mobilisasi pasca tindakan SC dengan metode ERACS berjalan baik (1–2 hari) meskipun masih ditemukan ketidakseragaman pengetahuan lama waktu perawatan oleh pelaksana. Seluruh sampel mengalami balance negatif dengan rata-rata selisih tarif rumah sakit berbanding klaim INACBGs mencapai sebesar -Rp1.723.939 (-31%) per pasien. Kesimpulan: Implementasi CP SC belum optimal untuk mendukung kendali mutu klinis dan efisiensi biaya akibat masih banyaknya variasi praktik klinis yang ditemukan sehingga perlunya perbaikan pada proses tata kelola klinis dan manajemen, penegakan regulasi, serta konsensus interprofesional.

Background: The implementation of the Clinical Pathway (CP) for Cesarean Section (CS) serves as a strategic instrument for quality and cost control under the National Health Insurance (JKN) system. The CS CP at Rumah Sakit Islam Namira has repeatedly failed to operate effectively. Therefore, a comprehensive evaluation covering the entire spectrum from the development process to the clinical services provided is critical, particularly given the high volume of procedures alongside significant variations in practices among the attending physicians. This study aims to evaluate the implementation of the CS CP in terms of clinical practice, quality, and cost. Methods: An evaluative descriptive case study utilizing a quantitative approach to assess the current CS services (reviewing 123 medical records and billing files of severity level-1 elective CS patients from August to December 2025), complemented by a qualitative approach consisting of in-depth interviews with 15 management and clinician informants at RSI Namira, East Lombok. Results: The existing CP document does not align with the Ministry of Health guidelines as it is primarily structured around tariff evaluations rather than clinical evaluations, and lacks a variance tracking section. Analysis of the input variables revealed a weak baseline due to the absence of official CP Team decrees and CP development SOPs. The process stage operates in a top-down mechanism, completely lacking consensus building forums (FGDs) and formal socialization, which results in management driven processes with insufficient engagement from frontline practitioners. In the output dimension, clinical service variations reached 100% divergence from the established CP regarding pharmaceuticals and medical supplies (specifically surgical sutures) due to the dominating personal preferences of the attending physicians. Regarding quality metrics, patient mobilization following the ERACS method performed well (1-2 days), despite non-uniformity in the practitioners' knowledge regarding the appropriate length of stay. Consequently, 100% of the sample incurred negative financial balances, with an average deficit between hospital tariffs and INA-CBGs claims reaching -IDR 1,723,939 (-31%) per patient. Conclusion: The implementation of the CS CP has not functioned optimally to support clinical quality control and cost efficiency due to the persistent variations in clinical practices. This underscores the urgent need for structural improvements in clinical and administrative governance, the enforcement of regulatory frameworks, and the establishment of an interprofessional consensus.
Read More
B-2610
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Ayu Wirastuti; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Kurnia Sari, Made Ayu Haryati, I Gusti Agung Gede Utara Hartawan
Abstrak: Tesis ini membahas implementasi clinical pathway sectio caesarea yang telah berlaku. Rumah sakit ditantang untuk meningkatkan pelayanan dengan penekanan pada kendali mutu dan kendali biaya. Penerapan clinical pathway merupakan hal yang baru di lingkungan Rumah Sakit Universitas Udayana. Penelitian ini menggunakan studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan dengan cara wawancara mendalam yang ditujukan kepada pemangku kebijakan dan pelaksana kebijakan dengan menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian mengungkap bahwa implementasi clinical pathway sectio caesarea belum sepenuhnya berjalan dimana ada hambatan yang dapat dilihat dari faktor komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi yang saling berkaitan. Penelitian ini menunjukkan belum adanya komunikasi efektif antara pemangku kebijakan dan pelaksanan kebijakan serta antarpelaksana kebijakan, belum adanya sosialisasi dan edukasi terkait implementasi clinical pathway sehingga kurangnya pengetahuan staf tentang fungsi dan manfaat serta tugas dan kewenangannya dalam implementasi clinical pathway, belum adanya SOP terkait alur dan pengisian clinical pathway, serta belum adanya case manager yang memegang peranan penting dalam implementasi clinical pathway. Disarankan kepada pemangku kebijakan untuk melaksanakan sosialisasi dan pelatihan yang disampaikan secara jelas dan konsisten serta tersampaikan pada seluruh pelaksana kebijakan, menyusun rencana strategis dalam mengangkat case manager yang memegang peranan penting dalam proses implementasi clinical pathway. Serta untuk pelaksana kebijakan diharapkan dapat meningkatkan komitmen dalam implementasi clinical pathway yang lebih baik
This thesis discusses the implementation of the clinical pathway for sectio caesarea that has been applied. Hospitals are challenged to improve services with an emphasis on quality control and cost control. The application of clinical pathways is new in the Udayana University Hospital environment. This research uses a qualitative case study. Data were collected by means of in-depth interviews aimed at policy makers and policy implementers using purposive sampling method. The results of the study revealed that the implementation of clinical pathway of caesarean section was not yet fully implemented where there were obstacles which could be seen from the interrelated factors of communication, resources, disposition and bureaucratic structure. This research shows that there is no effective communication between policy makers and policy implementation as well as between policy implementers, there is no socialization and education regarding the implementation of clinical pathways so that there is a lack of staff knowledge about the functions and benefits as well as their duties and authorities in implementing clinical pathways, there is no SOP related to the flow and filling. clinical pathway, and the absence of a case manager who plays an important role in the implementation of clinical pathways. It is recommended to policy makers to carry out socialization and training that is delivered clearly and consistently and delivered to all policy implementers, formulating a strategic plan in appointing case managers who play an important role in the process of implementing clinical pathways. As well as implementing policies, it is hoped that they can increase commitment in implementing better clinical pathways
Read More
B-2242
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anindita Santoso; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Pujiyanto, Atik Nurwahyuni, Ari Purwohandoyo, Slamet Tjahjono
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui posisi biaya satuan rumah sakit untuk tindakan sectio caesarea agar pihak manajemen dapat melakukan berbagai upaya efisiensi kedepan untuk menutup kesenjangan antara tarif Rumah Sakit dengan tarif INA CBGs. Dengan metode kualitatif yang mengolah data sekunder pasien BPJS Kesehatan melalui telaah dokumen dan wawancara mendalam serta menggunakan pendekatan Activity Based Costing, analisis biaya dilakukan pada 161 tindakan sectio caesarea dengan komposisi 53 pasien kelas 1, 69 pasien kelas 2 dan 39 pasien kelas 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Biaya Total Tindakan sectio caesarea sebesar Rp 1.400.670.750,- dimana biaya satuan untuk tindakan sectio caesarea kelas 1 yaitu sebesar Rp 8.803.752,- dengan kesenjangan sebesar Rp 1.873.631,- dengan tarif INA CBGs, untuk kelas 2 sebesar Rp 8.513.739,- dengan kesenjangan Rp 2.376.873,- jika dibandingkan dengan tarif INA CBGs dan untuk kelas 3 sebesar Rp 8.887.792,- dengan kesenjangan sebesar Rp 3.796.854,- dengan tarif INA CBGs . Efisiensi yang dapat dilakukan dalam penelitian ini yaitu mengurangi tingginya variasi obat dan bahan medis habis pakai dengan pembuatan clinical pathway sectio caesarea. Untuk mengurangi besaran biaya dan biaya satuan untuk tindakan sectio caesarea efisiensi yang dapat dilakukan adalah dengan menaikkan jumlah kunjungan pasien ke Rumah Sakit Harapan Keluarga.
Read More
B-2124
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Wahyu Daruki; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Ede Surya Darmawan, Amal Chalik Sjaaf, Made Koen Wirawan, Ni Ketut Agustiani
Abstrak:
Tesis ini membahas evaluasi implementasi clinical pathway, dengan tujuan diketahui implementasi Clinical Pathway dan analisa biaya satuan dari tindakan Sectio Caesarea di RSU Bhakti Rahayu Denpasar. Desain penelitian yan digunakan yaitu mix method yaitu desain penelitian kuantitatif dan kualitatif, yang diperoleh dari data billing pasien dan wawancara mendalam. Penelitian dilakukan pada bulan April 2019 hingga Juli 2020. Hasil yang didapatkan adalah masih terdapat variasi pada beberapa layanan yang diberikan sehingga mendapatkan biaya yang berbeda antara total biaya tindakan yang sesuai dengan clinical pathway sebesar Rp 1.920.000,- dengan biaya riil pelayanan yang diberikan sebesar Rp 3.319.281,- yang berarti masih terdapat selisih sebesar Rp 1.399.281

This thesis discusses the evaluation of clinical pathway implementation, with the aim of knowing the implementation of Clinical Pathway and unit cost analysis of the Sectio Caesarea action at Bhakti Rahayu General Hospital Denpasar. The research design used is the mix method, namely quantitative and qualitative research designs, obtained from patient billing data and in-depth interviews. The study was conducted in April 2019 to July 2020. The results obtained are still variations in some of the services provided so that they get different costs between the total cost of action in accordance with the clinical pathway of Rp 1,920,000, - with the real cost of services provided at IDR 3,319,281, - which means there is still a difference of IDR 1,399,281, -.

Read More
B-2145
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Kirana Yulius, Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Mardiati Nadjib, Pujiyanto, Hibsah Ridwan, Hartati
Abstrak:
Di tahun 2021 COVID-19 masih menjadi wabah pandemik di seluruh dunia, yang menimbulkan disrupsi ekonomi di berbagai industri termasuk rumah sakit. Angka kunjungan rawat jalan dan rawat inap rumah sakit menurun di tahun 2020 sebanyak 80% yang berdampak pada penurunan pendapatan bulanan rumah sakit sampai ke 40% (Persi, 2021). Dalam menjaga layanan yang komprehensif dan bermutu, ada tambahan biaya operasional yang meningkat termasuk untuk perlindungan staf berupa Alat Perlindungan Diri (APD) terutama bagi tenaga kesehatan. Sebagai salah satu Rumah Sakit rujukan COVID-19, RS Bunda Palembang mengalami penurunan pasien rawat inap sebesar 55,2% di tahun 2020 dibanding tahun sebelumnya. Pelayanan unggulan yang diberikan adalah layanan persalinan ibu bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), termasuk layanan Sectio Caesarean (SC). Walau telah disadari terdapat kesenjangan antara tarif RS dan tarif INA-CBGs sebelum COVID-19, tim manajemen internal RS belum mempunyai analisis biaya persalinan SC. Beban operasional yang semakin bertambah di era COVID-19, memaksa tim manajemen mempunyai informasi biaya satuan SC ringan. Menggunakan data biaya aktual tahun 2021, biaya satuan tindakan SC ringan tanpa komplikasi dihitung dengan metode Double Distribution dan Relative Value Unit. Hasilnya menunjukkan bahwa biaya satuan SC ringan di ruangan SVIP sebesar Rp 11.877.883, ruangan VIP sebesar Rp7.782.915, ruangan Kelas I sebesar Rp 6.388.681, Kelas II yaitu Rp 6.009.725, dan Kelas III sebesar Rp 5.753.963. Secara keseluruhan, tingkat pengembalian biaya (CRR) terhitung sebesar 124,2%, dimana dari perspektif keuangan angka ini dianggap cukup ideal oleh manajemen. Pembelajaran yang dapat dipetik dalam menghadapi masa pandemi ke depan yaitu rumah sakit sebaiknya bersiap dalam menghadapi berbagai disrupsi kesehatan ke depannya dengan memfasilitasi tindakan ANC dan SC untuk seluruh pasien termasuk pasien infeksius.

In 2021, COVID-19 is still a worldwide pandemic, causing economic disruption in various industries, including hospitals. The number of outpatient visits and hospitalization decreased in 2020 by 80%, which resulted in a decrease in hospital monthly income of up to 40% (Persi, 2021). In maintaining comprehensive and quality services, additional operational costs increase, including staff protection in the form of Personal Protection Equipment (PPE), especially for health workers. As one of the COVID-19 referral hospitals, Bunda Palembang Hospital experienced a decrease in hospitalizations of 55.2% in 2020 compared to the previous year. The superior service provided is maternal delivery services for National Health Insurance (JKN) participants, including Caesarean Section (C-Section) services. Even though it was realized that there was a gap between the hospital rates and the INA-CBGs rates before COVID-19, the hospital's internal management team still needed an analysis of the cost of delivering a C-Section. Operational expenses are increasing in the era of COVID-19, forcing the management team to have information on low C-Section unit costs. Using actual cost data for 2021, the unit cost for mild C-Section without complications is calculated using the Double Distribution and Relative Value Unit method. The results show that the unit cost of light C-Section in the SVIP room is IDR 11,877,883, the VIP room is IDR 7,782,915, the Class I room is IDR 6,388,681, Class II is IDR 6,009,725, and Class III is IDR 5,753,963. Overall, the cost recovery rate (CRR) is calculated at 124.2%, which management considers ideal from a financial perspective. The lesson that can be learned in dealing with future pandemics is that hospitals should be prepared to face various health disruptions by facilitating ANC and C-Section actions for all patients, including infectious patients.
Read More
B-2322
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afni Fatmasari; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Puput Oktamianti, Tris Eryando, Tulus Muladiyono, Setiaji
Abstrak:
Rekam Medis Elektronik (RME) merupakan sistem informasi elektronik yang bertujuan untuk mengumpulkan, menyimpan, memroses, dan mengakses data catatan medis pasien secara elektronik. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Serpong Utara mulai menerapkan RME sejak Agustus 2023, namun belum semua unit menerapkan RME secara penuh. Untuk meningkatkan penggunaan RME, RSUD Serpong Utara perlu melakukan evaluasi penerapan RME. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan RME di RSUD Serpong Utara berbasiskan model Human, Organization, Technology Fit (HOT-Fit). Penelitian ini mengadopsi metode campuran (mixed method) dengan pendekatan kuantitatif melalui survei kuesioner dengan 131 responden, sementara pendekatan kualitatif melalui wawancara semi terstruktur yang melibatkan 6 informan. Data kuantitatif dianalisis dengan metode partial least square-structural equation modeling (PLS-SEM) sedangkan data kualitatif dianalisis dengan metode analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara teknologi dengan manusia dan organisasi, hubungan yang bermakna antara organisasi dengan manfaat, namun tidak terdapat hubungan yang bermakna antara manusia dengan manfaat. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa penerapan RME di RSUD Serpong Utara masih perlu ditingkatkan agar dapat memaksimalkan manfaat yang diperoleh dengan memperhatikan aspek manusia seperti penguatan pelatihan dan tenaga ahli, aspek teknologi seperti perbaikan pada dukungan teknis, serta aspek organisasi seperti fasilitas pendukung RME.

Electronic Medical Records (EMDR) is an electronic information system that aims to collect, store, process, and access patient medical record data electronically. Serpong Utara Regional General Hospital (RSUD) has started implementing EMR since August 2023, but not all units have fully implemented EMR. To increase the use of EMR, RSUD Serpong Utara needs to evaluate the implementation of EMR. This study aims to evaluate the implementation of EMR at RSUD Serpong Utara based on the Human, Organization, Technology Fit (HOT-Fit) model. This study adopted a mixed method with a quantitative approach through a questionnaire survey with 131 respondents, while a qualitative approach through semi-structured interviews involving 6 informants. Quantitative data were analyzed using the partial least square-structural equation modeling (PLS-SEM) method while qualitative data were analyzed using the thematic analysis method. The results of the study showed that there was a meaningful relationship between technology and humans and organizations, a meaningful relationship between organizations and benefits, but there was no meaningful relationship between humans and benefits. This study implies that the implementation of RME at RSUD Serpong Utara still needs to be improved in order to maximize the benefits obtained by paying attention to human aspects such as strengthening training and experts, technological aspects such as improvements in technical support, and organizational aspects such as RME supporting facilities.
Read More
B-2502
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ummu Hani; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Adang Bachtiar, Mardiati Nadjib, Budi Hartoni. M Taha Albaar
Abstrak:
Besaran biaya satuan tindakan Bedah Sesar merupakan komponen penting bagi manajemen sebagai salah satu upaya efisiensi strategis ke depan, terutama dalam upaya keberlangsungan rumah sakit Prima yang melayani 90% pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Secara geografis, rumah sakit ini merupakan salah satu andalan untuk layanan persalinan di pulau Ternate yang menampung rujukan dari beberapa pulau kecil di sekitarnya. Hal ini menyebabkan tingkat Bedah Sesar relatif tinggi, yaitu 55% dari total tindakan persalinan. Rendahnya tarif JKN menjadi pemicu bagi manajemen untuk mengetahui komponen biaya rinci atas tindakan Bedah Sesar, agar upaya efisiensi dan strategi keberlangsungan usaha dapat terus ditingkatkan. Penelitian melalui pendekatan kualitatif, mengolah data sekunder pasien Bedah Sesar dengan wawancara dan melihat laporan keuangan rumah sakit. Analisis biaya dilakukan berdasarkan aktivitas pada seluruh tindakan Bedah Sesar pada tahun 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya total tindakan Bedah Sesar sebesar Rp 6.659.302,- Kesenjangan paket biaya satuan Bedah Sesar dengan tarif INA CBGs kelas 3 sebesar Rp (1.723.102), kelas 2 sebesar Rp (859.302), dan kelas 1 sebesar Rp (59.302). Tindakan efisiensi yang telah dilakukan oleh RS Prima adalah dengan mengurangi lama rawat, serta penyediaan BMHP dengan harga lebih rendah. Disarankan juga untuk melakukan ekspansi layanan dengan menjalin kerjasama dengan layananan primer agar angka rujukan ke rumah sakit dapat terkendali.

The unit cost of Cesarean Section (C-section) is a crucial factor in the strategic management of hospitals, particularly for Rumah Sakit Prima where 90% of patients are Jaminan Kesehatan Nasional’s participants. Geographically, Rumah Sakit Prima serves as a pivotal healthcare facility for delivery and labor services not only for Ternate Island, but also as a referral center for nearby islands. Consequently, the hospital experienced a relatively high C-section rate, accounting for 55% of total deliveries. The existing challenge is in the discrepancy between the low tariff provided by JKN for C-section and the actual costs incurred. To address this issue and support operational efficiency, the hospital’s management seeks to understand the detailed cost component of C-sections. A qualitative research approach was employed, utilizing caesarean section patients’ secondary data, conducting staff interviews, and analyzing hospital’s financial statements. An in-depth analysis was peformed for all C-section procedures performed in 2022. The findings revealed that the total cost for C-section in 2022 is Rp 6.659.302,-, significantly surpassing reimbursement rates provided by JKN. The difference in tariff per class from INA-CBGs and the actual costs has led to financial defisits of Rp 1.723.102 for 3rd class, Rp 859.302 for 2nd class, and Rp 59.302 for 1st class procedures. Many efficiency measures, such as reducing the length of stay, using consumables with lower price, etc have been done. Expansion of C-section services, potentially through collaboration with local midwives and front line healthcare providers, can help minimize hospital references and minimize the strain on hospital resources.
Read More
B-2395
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gina Tania; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Purnawan Junadi, Zulvi Wiyanti
Abstrak: Di era JKN ini, rumah sakit dituntut harus efisien dalam mengendalikan biaya layanan agar tidak melebihi tarif INA CBGs dengan catatan mutu layanan harus tetap terjaga dengan baik. Penelitian deskriptif kuantitatif ini bertujuan menganalisis biaya berdasarkan tarif rumah sakit dan klaim INA CBGs pada pasien peserta BPJS kasus sectio caesarea di RSUD dr. Doris Sylvanus pada Januari sampai Agustus Tahun 2016.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui biaya yang tidak dibayar sesuai tarif rumah sakit sebesar Rp 1.708.663.354 (42%). Biaya pelayanan persalinan sesar ringan sesuai tarif rumah sakit pada kelas 1 sebesar Rp 10.267.710,-, kelas 2 sebesar Rp 9.441.399,- dan kelas 3 sebesar Rp 8.591.730,-. Komponen biaya tertinggi adalah biaya tindakan operasi. Sehingga perlu dilakukan kajian ulang tarif pelayanan Sectio caesarea.
Kata Kunci : tarif rumah sakit, tarif INA CBGs, Sectio Caesaria.

In this National Health Insurance period, hospital ospitals are required to be efficient in controlling the cost of services so as not to exceed the tariff of INA CBGs with the quality record of the service must be maintained properly. This quantitative descriptive study aims to analyze the cost of Sectio caesarea of BPJS participants based on hospital rates and INA CBGs rates in dr. Doris Sylvanus regional public hospital on January until August 2016.
The result revealed that the unpaid cost according to hospital rates is Rp 1.708.663.354 (42%). The cost of light cesarean delivery service according to hospital rates in grade 1 is Rp 10,267,710,-, 2nd grade is Rp 9,441,399,- and grade 3rd is Rp 8,591,730,-. The highest cost component is the cost of surgery. So it is necessary to review the hospital rates of cesarean delivery service.
Keywords : hospital rate, INA CBGs rate, Sectio Caesaria
Read More
S-9621
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive