Ditemukan 34748 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Dhini Sari Sembiluh; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Ede Surya Darmawan, Khafifah Any, Sholihul Absor
Abstrak:
Tesis ini membahas analisis kesiapan implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di RS Aisyiyah Bojonegoro. Kebijakan implementasi KRIS JKN ini akan berdampak pada tata kelola rumah sakit perlunya penyesuaian kebutuhan pada sumber daya rumah sakit dan manajemen rumah sakit sesuai dengan Permenkes Nomor 14 Tahun 2021 & Kepdirjenyankes Nomor HK.02.02/I/1811.2022. RS Aisyiyah Bojonegoro berada di Kabupaten Bojonegoro dengan cakupan UHC 98.76 %, merupakan RS swasta terbesar di Bojonegoro, tahun 2021 jumlah pasien rawat inap sebesar 50% jaminan JKN dan BOR 67.79%. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kesiapan sumber daya, proses manajemen dan rencana tindak lanjut RS Aisyiyah Bojonegoro untuk implementasi KRIS JKN Perkembangan program JKN dengan adanya peningkatan jumlah peserta JKN dan jumlah fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS (RS swasta 63.8%). Peningkatan pemanfaatan JKN dengan proporsi pembiayaan rawat inap yang terbesar. Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) menjalankan implementasi kebijakan KRIS JKN mulai 1 Januari 2023 secara bertahap, untuk mewujudkan kesinambungan program JKN dan menjalankan amanah undang-undang SJSN dalam pemenuhan prinsip ekuitas
Read More
B-2287
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Masyithah Wulandari S; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Prastuti Soewondo, Pujiyanto, Anhari Achadi, Eka Rahmayuli
Abstrak:
Read More
Program JKN telah memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat Indonesia, pemerintah melalui BPJS Kesehatan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas yang diberikan. Hadirnya Kelas Rawat Inap Standar Jaminan Kesehatan Nasional (KRIS JKN) menjawab hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kesiapan RSUD Teuku Umar dalam implementasi KRIS JKN dalam berbagai aspek seperti kesiapan sarana dan prasarana, SDM, pendanaan, tata kelola, proses manajemen serta rencana tindak lanjutnya dalam menimplementasikan KRIS JKN yang ditargetkan pada 30 Juni 2025. Adapun metode penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan November-Desember 2024. Berdasarkan hasil observasi, telaah dokumen, dan wawancara mendalam terkait implementasi KRIS JKN, didapatkan bahwa kesiapan sarana dan prasarana di RSUD Teuku Umar sebesar 56,5% serta ditemukan bahwa RSUD Teuku Umar telah memiliki komitmen yang kuat terhadap implementasi KRIS JKN, namun masih terdapat sejumlah kendala, terutama dalam kesiapan pendanaan dan pengetahuan staf pelayanan dan tidak adanya tim percepatan KRIS JKN. Rekomendasi untuk proses pemenuhan implementasi KRIS JKN yaitu RSUD Teuku Umar akan membentuk tim percepatan KRIS, melakukan sosialisasi tentang KRIS JKN kepada seluruh staff rumah sakit, melakukan advokasi anggaran, serta menentukan skala prioritas dalam bentuk kegiatan beserta rancangan anggaran untuk proses pemenuhan implemetasi KRIS JKN
The National Health Insurance (JKN) program has provided significant benefits to Indonesian people. The government, through the Health Insurance Agency (BPJS Kesehatan), continues to strive to improve the quality of services provided. The introduction of the Standard Inpatient Class for National Health Insurance (KRIS JKN) addresses this. This study aims to assess the readiness of RSUD Teuku Umar in implementing KRIS JKN in various aspects such as the readiness of facilities and infrastructure, human resources, funding, governance, management processes, and its follow-up plan in implementing KRIS JKN, which is targeted for completion by June 30, 2025. This research employs a qualitative method with a case study approach. The research will be conducted in November-December 2024. Based on observations, document reviews, and in-depth interviews related to the implementation of KRIS JKN, it was found that the readiness of facilities and infrastructure at RSUD Teuku Umar is 56.5% and that RSUD Teuku Umar has a strong commitment to implementing KRIS JKN, but there are still several challenges, especially in terms of funding readiness and the knowledge of service staff, as well as the absence of a KRIS JKN acceleration team. Recommendations for the completion of the KRIS JKN implementation process are that RSUD Teuku Umar should form a KRIS acceleration team, conduct socialization about KRIS JKN to all hospital staff, advocate for funding, and determine priorities in the form of activities along with a budget plan for the completion of the KRIS JKN implementation process.
B-2501
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hana Apriyanti; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Prastuti Soewondo, Atik Nurwahyuni, Melanie Husna, Iin Rahayu Kurniawati
Abstrak:
Penelitian ini merupakan studi kasus di salah satu rumah sakit swasta tipe C di Kabupaten
Bojonegoro yang bertujuan untuk memperoleh biaya satuan pasien rawat inap COVID19
dan perbandingannya dengan tarif Kementerian Kesehatan berdasarkan KMK
No.HK.01.07/MENKES/5673/2021 dan No.HK.01.07/MENKES/1112/2022. Biaya
satuan yang dihitung untuk 1 pasien COVID-19 selama 1 episode rawat inap, dimulai dari
pasien masuk ke IGD COVID-19 sampai pasien keluar rumah sakit, dengan
menggunakan metode ABC. Penelitian dilakukan pada berkas klaim rawat inap pasien
COVID-19 yang masuk rumah sakit 1 Oktober 2021-28 Februari 2022 dengan kriteria
inklusi: berkas klaim yang memiliki resume medis lengkap, pasien yang termasuk dalam
kriteria suspek, probable, dan konfirmasi; dengan kriteria eksklusi: pasien rawat inap
COVID-19 yang pulang APS dan dirujuk, klaim tidak layak, berkas yang berstatus
pending dan dispute per April 2022. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan
melakukan telaah dokumen, wawancara, serta observasi dan terdiri dari 3 tahap
pengumpulan data. Terdapat 57 berkas klaim rawat inap pasien COVID-19 dengan
karakteristik sebagai berikut: 54,39% pasien perempuan; dengan usia <60 tahun sebanyak
61,40%; 49,12% pasien sudah pernah menerima 2 kali vaksin COVID-19; pasien yang
tidak memiliki komorbid sebanyak 57,89%; dengan 78,95% LOS selama 1-5 hari;
84,21% keluar dari rumah sakit dangan keadaan sembuh; diagnosa U07.1 sebanyak
54,39%; 56,14% termasuk ke dalam kelompok A-4-9-I. Biaya satuan pasien rawat inap
COVID-19 yang terbesar adalah pada diagnosa U07.1;E03.9 (A-4-19-II) senilai Rp
38.916.021,91, diikuti U07.1;E11.9;E88.0 (A-4-19-II) senilai Rp 31.122.007,44,
kemudian U07.1;I11.0 (A-4-19-III) senilai Rp 30.558.210,40. Sedangkan biaya satuan
pasien rawat inap COVID-19 yang terkecil adalah pada diagnosa U07.1;G40.9 yaitu
senilai Rp 9.467.928,01 yang termasuk ke dalam kelompok diagnosa konfirmasi COVID19
level
2. Secara keseluruhan komponen biaya terbesar adalah biaya langsung yaitu
bervariasi sebesar 85-99% dan biaya tidak langsung yaitu 1-15%. Komponen biaya
langsung terbesar berupa biaya logistik (81-90%) yang dipergunakan selama perawatan
pasien COVID-19 di rumah sakit, sedangkan biaya jasa pelayanan sebesar 10-19%.
Terdapat selisih positif nilai biaya satuan pasien rawat inap COVID-19 apabila
dibandingkan dengan tarif KMK No.HK.01.07/MENKES/5673/2021. Selisih positif
terbesar pada diagnosa U07.1;I64;G81.9 yaitu senilai Rp 59.990.525,65. Selisih positif
terkecil yaitu Rp 4.149.364,92 pada diagnosa U07.2 (A-4-18-I). Apabila dibandingkan
dengan KMK No.HK.01.07/MENKES/1112/2022 terdapat selisih negatif pada 9
diagnosa ICD-10 dan 11 diagnosa ICD-10 memiliki selisih positif. Selisih negatif
terbesar yaitu Rp 22.623.021,91(U07.1;E03.9) dan selisih negatif terkecil yaitu Rp
29.199,24 (U07.1;E11.1).
Read More
B-2286
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dionisius Indri Priyobodo; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Pujiyanto, Mochamamad Ridwan Indivana, Amila Megraini
Abstrak:
Read More
Dalam era JKN ini, unit cost diperlukan untuk membantu dalam mengelola keuangan rumah sakit dan bisa menambah atau mempertahankan pendapatan rumah sakit. Tonsilektomi merupakan salah satu tindakan tersering di bagian THT di banyak rumah sakit di dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh biaya satuan pasien tonsilektomi di RS Aisyiyah Bojonegoro dan perbandingannya dengan tarif INA-CBGs. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan variabel yaitu direct cost, indirect cost, dan biaya total pada pasien yang mendapatkan tindakan tonsilektomi di RS Aisyiyah Bojonegoro. Metode perhitungan biaya ini menggunakan sistem ABC. Biaya satuan pasien yang mendapatkan tonsilektomi ringan pada kelas 1 sebesar Rp 5.585.881,24 dibandingkan dengan tarif INA-CBGs sebesar Rp 5.118.600,00, kelas 2 sebesar Rp 5.361.090,46 dibandingkan dengan tarif INA-CBGs sebesar Rp 4.483.600,00, dan kelas 3 sebesar Rp 5.198.101,09 dibandingkan dengan tarif INA-CBGs sebesar Rp 3.848.600,00. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa secara keseluruhan biaya satuan pada tonsilektomi ringan di RS Aisyiyah Bojonegoro tahun 2022 lebih besar dibandingkan dengan tarif INA-CBGs.
In this JKN era, unit costs are needed to help manage hospital finances and can increase or maintain hospital income. Tonsillectomy is one of the most common procedures in the ENT department in many hospitals in the world. The purpose of this study was to obtain unit costs for tonsillectomy patients at Aisyiyah Bojonegoro Hospital and compare them with INA-CBGs rates. This study uses a descriptive method with variables namely direct cost, indirect cost, and total cost in patients who get tonsillectomy at Aisyiyah Bojonegoro Hospital. This cost calculation method uses the ABC system. The unit cost of patients who received mild tonsillectomy in class 1 amounted to Rp 5.585.881,24 compared to the INA-CBGs rate of Rp 5,118,600.00, class 2 amounted to Rp 5.361.090,46 compared to the INA-CBGs rate of Rp 4,483,600.00, and class 3 amounted to Rp 5.198.101,09 compared to the INA-CBGs rate of Rp 3,848,600.00. Based on the results of this study, it was found that the overall unit cost of mild tonsillectomy at Aisyiyah Bojonegoro Hospital in 2022 was greater than the INA-CBGs tariff
B-2446
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jihan Wafda Ramadhan; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Lia G. Partakusuma, Mulyadi Muchtiar
Abstrak:
Read More
Latar belakang: BPJS sejak berdiri tahun 2014 sampai saat ini berusaha menerapkan pelayanan yang setara. Kesenjangan pelayanan dalam segi fasilitas kesehatan di seluruh Rumah Sakit di Indonesa menjadi permasalahan yang tak kunjung usai sehingga terbitlah peraturan pemerintah No 47 tahun 2021 tentang KRIS-JKN. Hadir dengan 12 kriterianya untuk menjawab tantangan ketidaksetaraan pada fasilitas salah satunya RS Yarsi. Dilakukan uji coba penerapan tahun 2022 oleh DJSN didapati bahwa 79% RS membutuhkan perbaikan infrastruktur dalam skala kecil, 18% RS perlu perbaikan skala besar, dan 3% RS dinyatakan sudah siap. Peraturan Presiden No 59 tahun 2024 mewajibkan seluruh rumah sakit siap menerapkan KRIS-JKN paling lambat 30 Juni 2025. Tujuan penelitian: Mengetahui kesiapan penerapan dan mengusulkan strategi penyiapan KRIS-JKN di RS Yarsi. Metodologi penelitian: Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain action research menggunakan data primer temuan di lapangan dan data sekunder (file-file di rumah sakit) dan hasil wawancara. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan April hingga Mei 2024. Hasil penelitian: Didapatkan hasil bahwa RS Yarsi sudah 80 % siap untuk menerapkan KRIS-JKN. Beberapa hal yang menjadi faktor internal dan faktor eksternal setelah melewati diskusi dengan tim CDMG kemudian dimasukan ke matrix IE, penerapan KRIS-JKN di RS Yarsi berada di posisi sel 1, build and grow. Di matrix TOWS strategi yang diusulkan, yaitu Product Development dan Market Development. Pada tahapan penyusunan strategi pada matrix TOWS didapati prioritas pertama adalah pengembangan sarana dan prasarana, yaitu Pengganggaran revitalisasi sarana dan prasarana, optimalisasi SIMRS, penyesuaian kebutuhan sarana sesuai kriteria KRIS-JKN. Prioritas kedua pengembangan kompetensi SDM, yaitu dengan recruitement SDM yang kompeten dan kepala instalansi rawat inap, melakukan refreshement dan bounding antar pegawai. Prioritas ketiga pengembangan segmen pasar, yaitu melalui promosi layanan unggulan dan penguatan kerjasama lintas sektor, perbaikan manajemen tempat tidur RS, Customer Relationship Management (CRM), dan peningkatan enggangement dengan pelanggan dan mitra. Kesimpulan: RS Yarsi 80 % siap dalam menerapkan KRIS-JKN dengan strategi penyiapan yang diusulkan adalah Product Development dan Market Development dengan prioritas strategi pertama yaiitu pengembangan saran dan prasarana, kedua pengembangan kompetensi SDM, dan ketiga pengembangan segmen pasar.
Background: BPJS since its establishment in 2014 until now has tried to implement equal services. The gap in services in terms of health facilities in all hospitals in Indonesia has become a never-ending problem so that government regulation No. 47 of 2021 concerning KRIS-JKN was issued. It comes with 12 criteria to answer the challenge of inequality in facilities, one of which is Yarsi Hospital. A trial implementation in 2022 by DJSN found that 79% of hospitals needed small-scale infrastructure improvements, 18% of hospitals needed large-scale repairs, and 3% of hospitals were declared ready. Presidential Regulation No. 59 of 2024 requires all hospitals to be ready to implement KRIS-JKN no later than June 30, 2025 Objective: Knowing the readiness of implementation and proposing a strategy for the preparation of KRIS-JKN at Yarsi Hospital. Methode: Using a qualitative approach with an action research design using primary data from findings in the field and secondary data (files in hospitals) and interview results. This research was carried out from April to May 2024. Results: The results were obtained that Yarsi Hospital is 80% ready to implement KRIS-JKN. Several things that became internal factors and external factors after going through discussions with the CDMG team were then included in the IE matrix, the implementation of KRIS-JKN at Yarsi Hospital was in the position of cell 1, build and grow. In the TOWS matrix, the proposed strategies are Product and Market Development. At the stage of strategy preparation in the TOWS matrix, it was found that the first priority was the development of facilities and infrastructure, namely the revitalization of facilities and infrastructure, optimization of SIMRS, adjustment of facility needs according to KRIS-JKN criteria. The second priority is the development of human resource competencies, namely by recruiting competent human resources and heads of inpatient installations, conducting refreshements and bounding between employees. The third priority for market segment development is through the promotion of superior services and strengthening cross-sector cooperation, improving hospital bed management, Customer Relationship Management (CRM), and improving engagement with customers and partners Conclusion: RS Yarsi is 80% ready to implement KRIS-JKN with the proposed preparation strategy of Product Development and Market Development with the first strategic priority, namely the development of advice and infrastructure, the second is the development of human resource competencies, and the third is the development of market segments.
B-2491
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ditia Gilang Shah Putra Rahim; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Adang Bachtiar, Ascobat Gani, Torang M. Napitupulu, Budi Hartono
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Kejadian klaim pending rawat inap JKN di RS Pelni pada tahun 2022 dari 29.100 berkas yang diajukan pada pengajuan klaim tahap pertama sebanyak 949 berkas (3,26%). Hal ini dapat menghambat operasional, pengembangan pelayanan dan mengganggu arus kas, sehingga perlu dilakukan identifikasi dan analisis terhadap penyebab klaim pending. Tujuan: Diidentifikasi variabel penyebab klaim pending sehingga dapat memperbaiki sistem pengajuan klaim JKN di RS Pelni. Metode penelitian: Desain penelitian deskriptif melalui wawancara mendalam terhadap 8 informan dan telaah terhadap 459 berkas untuk diidentifikasi penyebab masalah berdasarkan teori implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn. Hasil penelitian: Alasan berkas klaim yang pending adalah konfirmasi coding diagnosis dan prosedur sebanyak 38,7%, kesalahan pengisian resume medis sebanyak 23,8%, ketidaklengkapan berkas penunjang sebanyak 13,6%, konfirmasi pembayaran oleh Jasa Raharja sebanyak 5,1%, kesalahan grouping sebanyak 0,4%. Walaupun persentase klaim pending relatif rendah (3.26%), tetapi pembiaran akan mengakibatkan kesehatan arus kas operasional serta potensi keterlambatan arus kas masuk senilai minimal 2% dari total pendapatan per bulan. Kesimpulan: Alasan klaim pending berhubungan dengan tenaga coder baru, clinical pathway belum dijalankan dengan baik, kurangnya supervisi DPJP dalam membuat resume medis. Dibutuhkan pelatihan dan supervisi terhadap SDM, membangun komunikasi efektif antar stakeholder dan melakukan monitoring dan evaluasi terkait pengelolaan klaim. Kata kunci: RS Pelni, klaim pending, teori implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn.
Background: The incidence of JKN inpatient pending claims at Pelni Hospital in 2022 out of 29,100 files submitted in the first stage of claim submission was 949 files (3.26%). This can hinder operations, service development and disrupt cash flow, so it is necessary to identify and analyze the causes of pending claims. Objective: To identify the variables that cause pending claims so that they can improve the system for submitting JKN claims at Pelni Hospital. Research method: Descriptive research design through in-depth interviews with 8 informants and analysis of 459 files to identify the causes of problems based on the theory of policy implementation by Van Meter and Van Horn. The results of the study: The reasons for pending claim files were confirmation of diagnosis coding and procedures as much as 38.7%, medical resume filling errors as much as 23.8%, incomplete supporting documents as much as 13.6%, payment confirmation by Jasa Raharja as much as 5.1%, grouping error of 0.4%. Even though the percentage of pending claims is relatively low (3.26%), neglecting it will result in a healthy operational cash flow and potential delays in cash inflows of at least 2% of total income per month. Conclusion: The reasons for pending claims are related to new coder staff, clinical pathways that have not been implemented properly, lack of DPJP supervision in making medical resumes. HR training and supervision is needed, building effective communication between stakeholders and monitoring and evaluating related to claim management.
B-2392
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Risa De Apna; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Adang Bachtiar, Pujiyanto, Arum Gunarsih, Rakhmad Hidayat
Abstrak:
Read More
Pengelolan klaim pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) harus dilakukan dengan optimal agar keberlangsungan bisnis rumah sakit berjalan lancar. Besarnya klaim yang tertahan karena alasan satu dan lain hal akan berpengaruh pada arus kas bisnis rumah sakit. RSU Kota Tangerang Selatan mengalami klaim pending rata-rata 27,96% per bulan selama tahun 2022. Tujuan penelitian adalah identifikasi penyebab terjadinya klaim pending di RSU Kota Tangerang Selatan sehingga dapat memberikan rekomendasi perbaikan dalam pengelolaan klaim JKN. Penelitian ini adalah studi kasus yang menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam pada 10 informan terpilih. Telaah dokumen dan observasi juga dilakukan untuk mendukung analisis. Hasil penelitian menunjukkan penyebab klaim pending disebabkan oleh ketidaksesuaian pengisian resume medis (33,97%), konfirmasi koding diagnosa dan prosedur (30,01%), ketidaksesuaian administrasi klaim sebanyak 24,90%, konfirmasi karena ketidaklengkapan berkas penunjang klaim (9,83%) dan konfirmasi grouping (1,02%). Komponen sumber daya, komunikasi antar unit, karakteristik organisasi dalam fungsi pengawasan, sikap pelaksana dan faktor eksternal (sosial, ekonomi dan politik) mempengaruhi kejadian klaim pending RS. Rekomendasi dari penelitian ini adalah merevisi dan melakukan sosialisasi atas SOP dalam proses pengajuan klaim dan SOP penyelesaian klaim pending. Catatan penting lain adalah memberikan umpan balik kepada DPJP dan dokter di unit rawat inap tentang penyebab klaim pending. Pertemuan rutin antara tim casemix rumah sakit dengan BPJS Kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam rekomendasi sebagai upaya mengaktifkan Tim Kendali Mutu Kendali Biaya (TKMKB) dan Tim Fraud.
Effective management of Jaminan Kesehatan National (JKN) patient claims is crucial to ensure efficient operations of the hospital's business operations, a backlog of pending claims can significantly impact hospital’s cash flow. RSU Kota Tangerang Selatan experienced an average pending claims rate of 27.96% per month throughout 2022. The studi aims to identify the causes of these pending claims at RSU Kota Tangerang Selatan and subsequently offer recommendations to enhance JKN claim management. Employing a qualitative method, utilizing a case study approach through in-depth interviews with ten informants, document review and observational data. The finding highlighted several root causes of pending claims, including inconsistencies in completing medical records (33.97%), inaccurate coding of diagnoses and procedures (30.01%), incompatibility of claim administration (24.90%), incomplete supporting claim documents (9.83%) and confirmation issues tied to grouping (1.02%). A combination of factors including resource allocation, inter-departmental communication, organizational dynamics in oversight functions, staff attitudes, and external influences (social, economic, and political) collectively contribute to the occurrence of pending claims. One of the crucial recommendations that emerge from this study is the need to review and disseminate Standard Operating Procedures (SOPs) related to claims submission and the resolution of pending claims. Establishing a feedback loop with attending physicians and inpatient doctors to address the causes of pending claims is also of paramount importance. Furthermore, routine meetings between the hospital's casemix team and BPJS Health is necessary as a strategic measure to activate both the Quality Control Cost Control Team (TKMKB) and the Fraud Team, aiming to mitigate future claim discrepancies.
B-2394
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sadewa Yudha Sukawati; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Atik Nurwahyuni, Masyitoh, Hariyadi Wibowo, Putri Nadia
Abstrak:
Read More
Rumah Sakit Umum (RSU) Aisyiyah Muntilan memiliki tingkat ketergantungan pendapatan yang sangat tinggi terhadap Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk pasien rawat inap, di mana proporsinya konsisten berada di atas 80% hingga mendekati 90%. Namun, terdapat kesenjangan antara urgensi manajemen untuk mempercepat proses penagihan guna menjaga stabilitas arus kas (cashflow) dengan realitas operasional di lapangan yang sering terhambat oleh masalah kelengkapan rekam medis, kesiapan sistem informasi, dan tingginya berkas yang ditunda (pending). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi pengelolaan berkas klaim pasien rawat inap JKN dari hulu ke hilir di RSU Aisyiyah Muntilan menggunakan kerangka Teori Donabedian (Struktur, Proses, Dampak), serta menganalisis tata kelola pada berkas klaim yang berstatus layak bayar maupun pending. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan riset operasional. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), observasi, serta telaah dokumen terhadap para informan yang dipilih melalui teknik purposive sampling dari berbagai unit terkait. valuasi implementasi pengelolaan klaim menunjukkan kendala struktural berupa ketiadaan SPO terintegrasi, lambatnya perangkat keras SIRS, ketiadaan integrasi (full bridging) ke portal e-Claim, serta pelimpahan tugas pengisian resume medis dari DPJP ke perawat. Pada evaluasi tata kelola, berkas berstatus layak didominasi oleh kasus Severity Level I (79%) yang mempercepat penagihan namun memunculkan risiko kerugian finansial akibat undercoding. Sementara itu, berkas berstatus pending dikembalikan oleh BPJS akibat masalah Standar Pelayanan (46%), Kaidah Koding (31%), dan Kelengkapan Dokumen (23%), yang dipicu oleh ketiadaan kriteria objektif di rekam medis, perbedaan terminologi klinis, lamanya rujukan patologi anatomi eksternal, dan dokumen tercecer akibat penggunaan sistem cetak-pindai. Pengelolaan klaim di RSU Aisyiyah Muntilan masih menghadapi hambatan struktural dan teknis dari hulu hingga hilir. Rumah sakit disarankan untuk mengimplementasikan integrasi penuh (full bridging) antara SIRS dan e-Claim, menerapkan fitur isian wajib (mandatory field), memaksimalkan fungsi peringatan otomatis (alert system), serta menyusun "Kamus Jembatan Terminologi" untuk menyelaraskan istilah klinis DPJP dengan kaidah koding ICD-10.
Aisyiyah Muntilan General Hospital (RSU) has a very high revenue dependence on the National Health Insurance (JKN) program for inpatients, with proportions reaching 80% to 90%. The hospital targets the acceleration of claim billing to maintain cash flow stability, but the reality in the field is still hampered by fragmentation and process inefficiencies from upstream to downstream. This study aims to evaluate the implementation of JKN inpatient claim management, analyze the governance of eligible claims, and analyze the governance of pending claims at RSU Aisyiyah Muntilan. This is a qualitative study using an operational research approach. Data were collected through in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGD), observations, and document reviews with informants selected via purposive sampling from various related units. The analysis was conducted using the Donabedian Theory framework (Structure, Process, Outcome). he evaluation of claim management implementation indicates structural constraints in the form of the absence of integrated Standard Operating Procedures (SOP), slow Hospital Information System (SIRS) hardware, lack of full bridging to the e-Claim portal, and the delegation of medical resume filling tasks from attending physicians (DPJP) to nurses. In the governance evaluation, eligible claims are dominated by Severity Level I cases (79%), which accelerates billing but raises the financial risk of undercoding. Meanwhile, pending claims were returned by BPJS due to issues with Service Standards (46%), Coding Rules (31%), and Document Completeness (23%), which were triggered by the lack of objective criteria in medical records, clinical terminology differences, long waiting times for external anatomical pathology referrals, and scattered documents due to the use of a print-scan system. Claim management at RSU Aisyiyah Muntilan still faces structural and technical barriers from upstream to downstream. The hospital is advised to implement full bridging between SIRS and e-Claim, apply mandatory field features, maximize the function of automatic alert systems, and compile a "Terminology Bridge Dictionary" to align DPJP's clinical terms with ICD-10 coding rules.
B-2628
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Grace Dunant; Pembimbing: Amal Chalijk Sjaaf; Penguji: Purnawan Junadi, Anhari Achadi, Liman Harijono, Sjahrul Amri
Abstrak:
Kesehatan merupakan hak asasi setiap orang. Pemerintah Indonesia berupaya untuk memenuhi hak setiap warga negaranya untuk mendapatkan layanan kesehatan melalui suatu program yang disebut program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pemerintah telah menunjuk suatu Badan Penyelenggara Jaminan Kesejahteraan Sosial (BPJS) dalam mengelola program ini, dengan tujuan pada akhir tahun 2019 seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali telah memiliki jaminan kesehatan (Indonesian Health Coverage). Dalam menghadapi reformasi pelayanan kesehatan di Indonesia seperti ini, rumah sakit sebagai suatu organisasi mendapatkan tuntutan untuk berubah dan berkembang. Bagi rumah sakit swasta seperti Rumah Sakit Royal Taruma perubahan ini bukanlah hal yang mudah. Sistem pembayaran yang semula retrospektif (fee for service) menjadi prospektif (out of pocket/ paket INA CBGs) menuntut perubahan mind set dan perilaku dari setiap anggota yang ada di dalam organisasi. Di samping itu dibutuhkan perencanaan persiapan yang matang untuk ikut serta dalam program JKN. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa kesiapan Rumah Sakit Royal Taruma dalam mengimplementasikan program JKN. Jenis penelitian ini adalah Operational Research dengan pendekatan kualitatif dengan menganalisa kesiapan sumber daya yang dimiliki Rumah Sakit Royal Taruma sesuai dengan persyaratan kredensial yang diminta oleh BPJS serta melihat proses manajemen mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan kesiapan, pengawasan serta sosialisasi. Hampir seluruh kriteria persyaratan yang diminta BPJS meliputi administrasi, sumber daya manusia, sarana/ prasarana, sistem dan prosedur, telah dipenuhi oleh Rumah Sakit Royal Taruma namun masih perlu perbaikan di proses manajemen agar sumber daya yang telah dimiliki dapat digunakan lebih optimal, dan pada akhirnya Rumah Sakit Royal Taruma siap dalam mengimplementasikan Program JKN. Kata kunci: Jaminan Kesehatan Nasional, Kredensial BPJS, Proses Manajemen, Rumah Sakit Health care is everyone's basic right. The Government of Indonesia seeks to fulfill the right of every citizen access to health care through a program called the National Health Insurance Program (JKN). The Government has appointed a Social Welfare Administering Body (BPJS) to manage this program, with the aim by end of Year 2019 all Indonesian citizens without exception will have health insurance (Indonesia Health Coverage). In the face of health care reform in Indonesia, hospitals will have to take necessary steps to accommodate the reform. For private hospitals such as Royal Taruma Hospital this change is not easy. Initial retrospective (fee for service) payment system will be changed to be prospective payment system (out of pocket / INA CBGs package). This required changing the mindset and behavior of every member within the organization. In addition, careful preparatory planning is required to participate in the JKN program. The purpose of this research is to analyze the preparedness of Royal Taruma Hospital in implementing JKN program. This type of research is Operational Research with qualitative approach by analyzing preparedness of resources owned by Royal Taruma Hospital in accordance with credential requirement requested by BPJS as well as looking at management process starting from planning, organizing, implementation of readiness, supervision and socialization. Almost all the requirements criteria requested by BPJS include administration, human resources, facilities, systems and procedures, have been met by Royal Taruma Hospital but still improvement in the management process is needed so that the resources that have been owned can be used effectively, and in the end Royal Taruma Hospital is ready to implement the JKN Program. Key: National Health Insurance, Credentials BPJS, Management Process, Hospital
Read More
B-1874
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Farhana; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Ede Surya Darmawan, Pujiyanto, Budi Hartono, Lely N Setiawan
Abstrak:
Penelitian ini dilatarbelakangi adanya kejadian pending claims pasien rawat inap BPJS Kesehatan di Rumah Sakit Umum Hasanah Graha Afiah (RSU HGA) pada bulan pelayanan Januari hingga Desember 2022 sebanyak 493 berkas dari total pengajuan 5.603 berkas (8,8%). Adapun total tagihan yang mengalami penundaan pembayaran klaim sebesar Rp3.924.719.300 dari total yang diajukan Rp27.912.112.900 (14,06%). Kejadian pending claims di RSU HGA seharusnya tidak terjadi atau dapat diminimalisir apabila pengelolaan klaim dapat dikelola dengan baik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab pending claims pasien rawat inap BPJS kesehatan di RSU HGA, serta memberikan alternatif solusi pengelolaan klaim pasien rawat inap BPJS Kesehatan di RSU HGA. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan di Unit Casemix, Instalasi Rawat Inap, dan Instalasi Rekam Medik RSU HGA, pada bulan April hingga Mei 2023. Sumber data meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diambil dengan cara wawancara mendalam dan observasi, sedangkan data sekunder melalui telaah dokumen dan telaah literatur. Hasil penelitian menunjukkan gambaran pending claims pasien rawat inap BPJS Kesehatan di RSU HGA pada tahun 2022 antara lain terkait pengisian resume medis (33,1%), permintaan konfirmasi BPJS Kesehatan terkait masalah medis dan koding (33,1%), ketidaklengkapan berkas penunjang klaim (17,6%), ketidaktepatan pemberian kode tindakan medis (3,6%), diagnosis primer (2,8%) dan sekunder (2,1%), ketidaksesuain administrasi klaim (3,5%), serta kasus KLB yang diklaimkan ke BPJS Kesehatan (4,2%). Terjadinya keterlambatan dalam pengajuan klaim BPJS Kesehatan oleh RSU HGA kepada BPJS Kesehatan dengan rata-rata keterlambatan 5,7 hari. Pending claims dan keterlambatan pengajuan klaim RSU HGA disebabkan karena faktor input dan proses. Faktor input antara lain faktor man yaitu terkait jumlah dan kompetensi SDM, money yaitu ketersediaan dana pelatihan staf, method yaitu ketersediaan peraturan internal RS, dan machine yaitu sistem informasi RS. Sedangkan faktor proses antara lain kelengkapan dan ketepatan waktu pengisian resume medis, kurangnya melampirkan bukti penunjang berkas klaim, ketepatan pemberian kode penyakit dan prosedur, permintaan konfirmasi oleh verifikator BPJS Kesehatan terkait permasalahan medis dan koding, serta administrasi klaim. Peneliti menyarankan kepada manajemen RSU HGA untuk melakukan kajian ulang Analisis Beban Kerja (ABK) Unit Casemix dan penempatan posisi staf koder, meningkatkan kompetensi petugas melalui pelatihan baik internal maupun eksternal, pengembangan sistem informasi yang dimiliki oleh rumah sakit untuk keperluan sosialisasi, monitoring dan evaluasi terkait pengelolaan klaim BPJS Kesehatan, mengembangkan kebijakan pemberian reward dan punishment kepada dokter spesialis, serta mengimplementasikan manajemen risiko SIMRS. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam pengembangan kebijakan pengelolaan klaim BPJS Kesehatan di RSU HGA.
This research was motivated by the occurrence of pending claims of BPJS Kesehatan inpatients at Hasanah Graha Afiah General Hospital (RSU HGA) in the service month of January to December 2022 as many as 493 files from a total of 5,603 files (8.8%). The total bills that experienced delays in claim payment amounted to Rp3,924,719,300 from the total submitted Rp27,912,112,900 (14.06%). The occurrence of pending claims at HGA Hospital should not occur or can be minimized if claims management can be managed properly. Therefore, this study aims to identify the causes of pending claims of BPJS Kesehatan inpatients at HGA General Hospital, as well as provide alternative solutions for managing BPJS Kesehatan inpatient claims at HGA General Hospital. This research is a case study research with a qualitative approach. Data collection was carried out at the Casemix Unit, Inpatient Installation, and Medical Record Installation of HGA Hospital, from April to May 2023. Data sources include primary data and secondary data. Primary data are taken by means of in-depth interviews and observations, while secondary data through document review and literature review. The results showed a picture of pending claims for BPJS Kesehatan inpatients at HGA Hospital in 2022, including those related to filling out medical resumes (33.1%), BPJS Kesehatan confirmation requests related to medical problems and coding (33.1%), incomplete claim support files (17.6%), inaccuracy in providing medical action codes (3.6%), primary (2.8%) and secondary (2.1%) diagnoses, claims administration discrepancies (3.5%), and outbreak cases claimed to BPJS Kesehatan (4.2%). There was a delay in submitting BPJS Kesehatan claims by HGA Hospital to BPJS Kesehatan with an average delay of 5.7 days. Pending claims and delays in submitting HGA hospital claims are caused by input and process factors. Input factors include man factors, namely related to the number and competence of human resources, money, namely the availability of staff training funds, methods, namely the availability of internal hospital regulations, and machines, namely hospital information systems. Meanwhile, process factors include the completeness and timeliness of filling out medical resumes, the lack of attaching supporting evidence for claim files, the accuracy of providing disease codes and procedures, requests for confirmation by BPJS Kesehatan verifiers related to medical problems and coding, and claim administration. The researcher suggested to the management of HGA Hospital to conduct a review of the Workload Analysis (ABK) of the Casemix Unit and the placement of coder staff positions, improve the competence of officers through training both internal and external, develop information systems owned by the hospital for socialization, monitoring and evaluation purposes related to BPJS Kesehatan claim management, develop reward and punishment policies to specialists, as well as implementing SIMRS risk management. The findings of this research are expected to contribute to the development of BPJS Kesehatan claim management policies at HGA General Hospital.
Read More
This research was motivated by the occurrence of pending claims of BPJS Kesehatan inpatients at Hasanah Graha Afiah General Hospital (RSU HGA) in the service month of January to December 2022 as many as 493 files from a total of 5,603 files (8.8%). The total bills that experienced delays in claim payment amounted to Rp3,924,719,300 from the total submitted Rp27,912,112,900 (14.06%). The occurrence of pending claims at HGA Hospital should not occur or can be minimized if claims management can be managed properly. Therefore, this study aims to identify the causes of pending claims of BPJS Kesehatan inpatients at HGA General Hospital, as well as provide alternative solutions for managing BPJS Kesehatan inpatient claims at HGA General Hospital. This research is a case study research with a qualitative approach. Data collection was carried out at the Casemix Unit, Inpatient Installation, and Medical Record Installation of HGA Hospital, from April to May 2023. Data sources include primary data and secondary data. Primary data are taken by means of in-depth interviews and observations, while secondary data through document review and literature review. The results showed a picture of pending claims for BPJS Kesehatan inpatients at HGA Hospital in 2022, including those related to filling out medical resumes (33.1%), BPJS Kesehatan confirmation requests related to medical problems and coding (33.1%), incomplete claim support files (17.6%), inaccuracy in providing medical action codes (3.6%), primary (2.8%) and secondary (2.1%) diagnoses, claims administration discrepancies (3.5%), and outbreak cases claimed to BPJS Kesehatan (4.2%). There was a delay in submitting BPJS Kesehatan claims by HGA Hospital to BPJS Kesehatan with an average delay of 5.7 days. Pending claims and delays in submitting HGA hospital claims are caused by input and process factors. Input factors include man factors, namely related to the number and competence of human resources, money, namely the availability of staff training funds, methods, namely the availability of internal hospital regulations, and machines, namely hospital information systems. Meanwhile, process factors include the completeness and timeliness of filling out medical resumes, the lack of attaching supporting evidence for claim files, the accuracy of providing disease codes and procedures, requests for confirmation by BPJS Kesehatan verifiers related to medical problems and coding, and claim administration. The researcher suggested to the management of HGA Hospital to conduct a review of the Workload Analysis (ABK) of the Casemix Unit and the placement of coder staff positions, improve the competence of officers through training both internal and external, develop information systems owned by the hospital for socialization, monitoring and evaluation purposes related to BPJS Kesehatan claim management, develop reward and punishment policies to specialists, as well as implementing SIMRS risk management. The findings of this research are expected to contribute to the development of BPJS Kesehatan claim management policies at HGA General Hospital.
B-2371
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
