Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40590 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Amelia Putri; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Budi Hartono, Aria Kusuma
Abstrak: Tuberkulosis masih menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia, termasuk Indonesia sebagai negara ke-3 tertinggi penderita tuberkulosis di dunia. Sementara pada tingkat provinsi, Kota Depok berada pada urutan 11 dengan penyumbang kasus tuberkulosis terbanyak di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara rumah sehat, cakupan pengobatan TB, dan angka keberhasilan pengobatan TB dengan Incidence Rate (IR) tuberkulosis di Kota Depok tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi berdasarkan tempat dengan populasi seluruh masyarakat yang tercatat di 11 kecamatan di Kota Depok yang terdiagnosis penyakit tuberkulosis. Hasil penelitian melalui uji korelasi menunjukkan variabel independen yang memiliki hubungan signifikan dengan Insidence Rate (IR) tuberkulosis adalah cakupan pengobatan di Kecamatan Bojongsari (p = 0.000). Sementara hasil uji korelasi cakupan rumah sehat, cakupan pengobatan TB, angka keberhasilan pengobatan TB di Kota Depok menunjukkan hubungan yang tidak signifikan. Hasil analisis lainnya, cakupan rumah sehat di Kota Depok memiliki keeratan hubungan lemah berpola negatif (r = -0.173), cakupan pengobatan TB memiliki keeratan hubungan lemah berpola positif (r = 0.184), dan angka keberhasilan pengobatan TB memiliki keeratan hubungan kuat berpola negatif (r = -0.584).
Tuberculosis is still the main cause of death worldwide, including Indonesia as the 3rd country with the highest number of tuberculosis sufferers in the world. Meanwhile, at the provincial level, Depok City is in 11th place with the largest contributor to tuberculosis cases in West Java Province. This study aims to determine the relationship between healthy homes, TB treatment coverage, and TB treatment success rates with the Incidence Rate (IR) tuberculosis in Depok City in 2021. This study uses an ecological study design based on place with a population of all communities recorded in 11 sub-districts in Depok. Depok City, which was diagnosed with tuberculosis. The results of the study through the correlation test showed that the independent variables that had a significant relationship with the Incidence Rate (IR) of tuberculosis is treatment coverage in Bojongsari District (p = 0.000). Meanwhile, the results of the correlation test between healthy home coverage, TB treatment coverage, and TB treatment success rates in Depok City showed an insignificant relationship. The results of other analyzes showed that the coverage of healthy homes in Depok City had a weak negative correlation (r = -0.173), TB treatment coverage had a weak positive correlation (r = 0.184), and the success rate of TB treatment had a strong negative correlation (r = -0.584).
Read More
S-11055
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kadek Deanova Kusuma Wanti; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Tiur Febrina Pohan
Abstrak:
Latar Belakang: Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular dari manusia ke manusia lain melalui udara yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Indonesia menempati peringkat kedua dengan beban kasus tuberkulosis terbanyak di dunia dan 91% merupakan kasus tuberkulosis paru. Kota Depok menempati peringkat ke-11 dengan kasus tuberkulosis terbanyak di Jawa Barat. Tujuan: Mengetahui hubungan antara cakupan pengobatan, success rate, dan kepadatan penduduk terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 11 kecamatan di Kota Depok tahun 2021. Metode: Menggunakan desain studi ekologi dengan uji korelasi untuk menganalisis hubungan antara cakupan pengobatan, success rate, dan kepadatan penduduk terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 11 kecamatan di Kota Depok tahun 2021 dengan data bulanan. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan cakupan pengobatan memiliki hubungan yang signifikan di 11 kecamatan (p = 0,000; r = 0,969–1,000), success rate memiliki hubungan yang signifikan di Kecamatan Tapos (p = 0,040; r = 0,598), dan kepadatan penduduk memiliki hubungan yang signifikan (p = 0,004–0,030) di Kecamatan Beji (r = 0,763), Cimanggis (r = 0,726), Cipayung (r = 0,669), Sawangan (r = 0,625, Tapos (r = 0,660), dan Cinere (r = –0,626). Rekomendasi bagi Dinas Kesehatan Kota Depok dapat mengadvokasi untuk melaporkan program tuberkulosis dan memberikan anggaran bagi fasilitas pelayanan kesehatan untuk menyediakan tenaga kesehatan terkait pelaporan kasus tuberkulosis, bagi fasilitas pelayanan kesehatan dapat meningkatkan pemberian edukasi, bagi masyarakat dapat menerapkan PHBS dan segera ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala tuberkulosis

Background: Pulmonary tuberculosis is a disease transmitted from humans to other humans through the air caused by Mycobacterium tuberculosis. Indonesia ranks second with the highest tuberculosis caseload in the world and 91% are pulmonary tuberculosis cases. Depok City is ranked 11th with the most tuberculosis cases in West Java. Objective: The purpose of this study was to determine the relationship between case detection rate, treatment success rate, and population density on the incidence rate of pulmonary tuberculosis in 11 sub-districts in Depok City in 2021. Methods: This study used an ecological study design to analyze the relationship between treatment coverage, success rate, and population density on pulmonary tuberculosis incidence rate in 11 districts in Depok City in 2021 with monthly data. Results: The results of this study showed that treatment coverage had a significant relationship in 11 districts (p =0,000; r = 0.969–1.000), success rate had a significant relationship in Tapos District (p = 0,040; r = 0.598), and population density had a significant relationship (p = 0,004–0,030) in Beji District (r = 0.763), Cimanggis (r = 0.726), Cipayung (r = 0.669), Sawangan (r = 0.625, Tapos (r = 0.660), and Cinere (r = –0.626). Recommendations for the Health Department of the City of Depok can advocate to report the tuberculosis program and provide a budget for healthcare facilities to provide healthcare related to the reporting of cases of tuberculosis, healthcare facilities can improve education, the community can implement clean and health behavior and immediately to healthcare facilities when experiencing symptoms of tuberculosis.
Read More
S-11281
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Natasha Shafa Amalia; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Fitri Kurniasari, Syafran Arrazy
Abstrak: Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit menular kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan menjadi penyebab kematian menular nomor satu di dunia. Indonesia menempati peringkat kedua dengan beban TB tertinggi. Kabupaten Bogor menjadi wilayah dengan kasus TB tertinggi di Jawa Barat pada tahun 2023. Tujuan: Mengetahui hubungan antara faktor pelayanan kesehatan dan faktor individu terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 20 kecamatan di Kabupaten Bogor pada tahun 2023 – 2024. Metode: Penelitian menggunakan desain studi ekologi dengan sampel 20 kecamatan di Kabupaten Bogor. Menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan BPS Kabupaten Bogor. Hasil: Hasil penelitian dengan variabel yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan terhadap incidence rate TB paru adalah cakupan pengobatan di Kabupaten Bogor (p = 0,000; r = 978), serta success rate di Kecamatan Leuwiliang (p = 0,004; r = 0,696), Kemang (p = 0,036; r = -0,543), dan Jasinga (p = 0,038; r = -0,540). Tidak terdapat hubungan signifikan pada variabel usia dan proporsi jenis kelamin (p>0,05). Kesimpulan: Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor disarankan untuk mengevaluasi metode penemuan kasus, memperkuat pelaporan TB oleh fasyankes, menyelenggarakan edukasi pentingnya pengobatan tuntas, serta meningkatkan intervensi pada kelompok berisiko.
Introduction: Pulmonary tuberculosis is a chronic infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis and is the leading cause of death from infectious diseases worldwide. Indonesia ranks second among countries with the highest TB burden. Bogor Regency had the highest number of TB cases in West Java in 2023. Objective: To determine the correlation between healthcare service factors and individual factors with the incidence of pulmonary tuberculosis in 20 sub-districts of Bogor Regency during 2023 – 2024. Methods: This study employed an ecological study design, with a sample of 20 sub-districts in Bogor Regency. Secondary data were obtained from the Bogor Regency Health Office and the Bogor Regency Central Bureau of Statistics. Results: The variable that showed a significant relationship with the incidence of pulmonary TB were treatment coverage in Bogor Regency (p = 0,000; r = 0,978), as well as treatment success rate in Leuwiliang sub-district (p = 0,004; r = 0,696), Kemang (p = 0,036; r = -0,543), and Jasinga (p = 0,038; r = -0,540). There was no significant correlation between the incidence rate and age or gender proportion (p>0,05). Conclusion: The Bogor Regency Health Office is advised to evaluate case-finding methods, strengthen TB reporting by health facilities, conduct education on the importance of completing treatment, and enhance interventions targeting at-risk groups.
Read More
S-11956
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Marchella Purwaningtyas; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Maryati Kasiman
Abstrak:

Nama : Maria Marchella Purwaningtyas
Program Studi : Kesehatan Lingkungan
Judul : Studi Ekologi: Hubungan Cakupan Pengobatan, Success Rate, Jenis Kelamin, dan Kepadatan Penduduk terhadap Incidence Rate Tuberkulosis Paru di Jakarta Selatan pada tahun 2022
Pembimbing : Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc.

Latar Belakang: Tuberkulosis paru merupakan salah satu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini ditularkan melalui media udara. Tuberkulosis menempati urutan kedua sebagai penyebab utama kematian. Indonesia saat ini berada di peringkat kedua sebagai negara dengan penderita tuberkulosis tertinggi di dunia. Kota Jakarta Selatan berada di urutan ke-3 dengan kasus tuberkulosis terbanyak di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2022. Tujuan: Mengetahui hubungan antara cakupan pengobatan, success rate, jenis kelamin, dan kepadatan penduduk terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 10 kecamatan di Jakarta Selatan pada tahun 2022. Metode: Menggunakan desain studi berupa studi ekologi dengan uji korelasi untuk menganalisis hubungan antara cakupan pengobatan, success rate, jenis kelamin, dan kepadatan penduduk terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 10 kecamatan di Jakarta Selatan dengan menggunakan data dari bulan Januari-Desember pada tahun 2022. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cakupan pengobatan memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 10 kecamatan (p = 0,000 –1,000), success rate memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di Kecamatan Jagakarsa (p = 0,047, r = 0,582), proporsi jenis kelamin laki-laki penderita tuberkulosis paru tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di seluruh kecamatan (p = > 0,05), proporsi jenis kelamin perempuan penderita tuberkulosis paru tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di seluruh kecamatan (p = > 0,05), dan kepadatan penduduk memiliki memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di Kecamatan Jagakarsa (p = 0,020, r = -0,659). Kesimpulan: Hasil studi ini menyarankan Suku Dinas Kesehatan Kabupaten Jakarta Selatan dengan Pemerintah Kota Jakarta Selatan untuk melakukan advokasi dan pemberdayaan masyarakat setempat, memanfaatkan peran dan pelayanan fasilitas kesehatan dalam promosi Kesehatan, serta pelaporan kasus tuberkulosis guna memaksimalkan pengendalian dan pencegahan penyakit tuberkulosis paru.
Kata Kunci:
Cakupan Pengobatan Tuberkulosis Paru, Success Rate Tuberkulosis Paru, Jenis Kelamin, Kepadatan Penduduk Tuberkulosis Paru


Name                : Maria Marchella Purwaningtyas Major                : Environmental Health Title        : Ecological Study: The Correlation between Case Detection Rate, Treatment Success Rate, Gender, and Population Density with Incidence Rate of Pulmonary Tuberculosis in South Jakarta in 2022 Counsellor        : Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc.  Background: Pulmonary tuberculosis is one of contagious diseases caused by Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis is transmitted through the air. Tuberculosis ranks as the second main cause of death in the world. Indonesia is currently ranked second as country with the highest number of tuberculosis cases. In 2022, South Jakarta City is ranked 3rd with the most tuberculosis cases in DKI Jakarta Province. Objective: This study aims to determine the relationship between treatment coverage, success rate, gender, and population density on the incidence rate of pulmonary tuberculosis in 10 sub-districts in South Jakarta in 2022. Method: The research method being used in this study is an ecological study with a correlation test to analyze the relationship between treatment coverage, success rate, gender, and population density on the incidence rate of pulmonary tuberculosis in 10 sub-districts in South Jakarta using data from January to December in 2022. Result: This study shows that treatment coverage has a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in 10 sub-districts (p = 0,000–1,000), success rate has a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in Jagakarsa District (p = 0,047, r = 0,582), the proportion of men with pulmonary tuberculosis does not have a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in all sub-districts (p = > 0,05), the proportion of women with pulmonary tuberculosis does not have a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in all sub-districts (p = > 0.05), and population density has a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in Jagakarsa District (p = 0.020, r = -0.659). Conclusion: It is advisable for the and health department of South Jakarta district along with South Jakarta government to advocate and empower the local communities, utilize the role and service of health facilities in health promotion and tuberculosis cases reporting in order to maximize the control and prevention of pulmonary tuberculosis.  Keywords: Pulmonary TB Case Detection Rate, Pulmonary TB Treatment Success Rate, Gender, Population Density, Pulmonary Tuberculosis

 

Read More
S-11823
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitiri Rakhmania; Pembimbbing: Ema Hermawati; Penguji: R. Budi Haryanto, Aturut Yansen
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan menyebar melalui udara. Jakarta Timur menjadi kota dengan jumlah kasus TB semua tipe tertinggi selama 6 berturut-turut dari tahun 2016-2021. Kejadian TB dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor-faktor risiko TB yaitu faktor lingkungan (jumlah rumah sehat dan kepadatan penduduk), faktor individu (jenis kelamin), dan faktor pelayanan kesehatan (angka keberhasilan pengobatan TB) dengan prevalence rate tuberkulosis di setiap kecamatan (10 kecamatan) di Kota Jakarta Timur pada tahun 2021 dengan desain studi ekologi. Hasil penelitian analisis tren kasus tuberkulosis menurut jenis kelamin, diketahui bahwa kasus tuberkulosis lebih lebih banyak diderita oleh laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Terdapat 3 kecamatan yang telah mencapai target global angka keberhasilan pengobatan TB sebesar 90% yaitu Kecamatan Cakung (91%), Ciracas (91%), dan Duren Sawit (90%). Kecamatan Cakung dapat menjadi salah satu contoh berjalannya program pengobatan TB yang sudah efektif karena memiliki angka keberhasilan pengobatan TB (success rate TB) tertinggi (91%) dengan prevalence rate tuberkulosis terendah (129,80 per 100.000 penduduk). Hasil uji korelasi menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara jumlah rumah sehat dengan prevalence rate tuberkulosis pada 7 dari 10 kecamatan yaitu Cakung (p=0,009; r=-0,713), Ciracas (p=0,033; r=-0,615), Duren Sawit (p=0,005; r=0,748), Jatinegara (p=0,048; r=-0,580), Kramat Jati (p=0,013; r=0,692), Makasar (p=0,020; r=-0,657), dan Matraman (p=0,045; r=0,587). Selain itu, hubungan yang signifikan juga didapatkan antara kepadatan penduduk dengan prevalence rate tuberkulosis pada 7 dari 10 kecamatan yaitu Cakung (p=0,009; r=0,713), Ciracas (p=0,033; r=0,615), Duren Sawit (p=0,005; r=0,748), Jatinegara (p=0,048; r=0,580), Kramat Jati (p=0,013; r=0,692), Makasar (p=0,020; r=0,657), dan Matraman (p=0,045; r=0,587). Oleh karena itu, disarankan untuk meningkatkan kegiatan edukasi terkait rumah sehat dan edukasi terkait tuberkulosis kepada kelompok masyarakat, serta mengoptimalkan gerakan penanggulangan tuberkulosis dan penataan tata kota pada wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium tuberculosis and spread through the air. East Jakarta has been the city with the highest number of TB cases of all types for 6 consecutive years from 2016-2021. The incidence of TB can be influenced by several risk factors. The purpose of this study was to analyze the relationship of TB risk factors, namely environmental factors (number of healthy houses and population density), individual factors (gender), and health service factors (success rate TB) with the prevalence rate of tuberculosis in each sub-district (10 sub-districts) in East Jakarta City in 2021 with an ecological study design. The results of the study analyzed the trend of tuberculosis cases by gender, it was found that tuberculosis cases were more prevalent among men than women. There are 3 sub-districts that have reached the global target of 90% success rate TB, namely Cakung (91%), Ciracas (91%), and Duren Sawit (90%). Cakung sub-district can be an example of an effective TB treatment program because it has the highest success rate TB (91%) with the lowest TB prevalence rate (129.80 per 100,000 population). Correlation test results showed a significant relationship between the number of healthy houses and TB prevalence rate in 7 out of 10 sub-districts, namely Cakung (p=0.009; r=-0.713), Ciracas (p=0.033; r=-0.615), Duren Sawit (p=0.005; r=0.748), Jatinegara (p=0.048; r=-0.580), Kramat Jati (p=0.013; r=0.692), Makasar (p=0.020; r=-0.657), and Matraman (p=0.045; r=0.587). In addition, a significant relationship was also found between population density and tuberculosis prevalence rate in 7 out of 10 sub-districts, namely Cakung (p=0.009; r=0.713), Ciracas (p=0.033; r=0.615), Duren Sawit (p=0.005; r=0.748), Jatinegara (p=0.048; r=0.580), Kramat Jati (p=0.013; r=0.692), Makasar (p=0.020; r=0.657), and Matraman (p=0.045; r=0.587). Therefore, it is recommended to increase educational activities related to healthy homes and tuberculosis-related education to community groups, as well as optimize the tuberculosis prevention movement and urban planning in areas with high population density.
Read More
S-11277
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tria Rahmawati; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue (DENV) yang ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. DBD merupakan penyakit akibat infeksi dari nyamuk yang berkembang paling cepat dan menjadi ancaman kesehatan di dunia. Wilayah geografis Indonesia yang beriklim tropis merupakan wilayah hiper-endemik DBD. Kota Depok merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Barat yang memiliki tren penyakit DBD yang fluktuatif dan cenderung tinggi setiap tahunnya. Pada tahun 2019 dan 2021 Kota Depok termasuk peringkat 2 terbesar sebagai kabupaten/kota dengan kasus DBD tertinggi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dan analisis uji korelasi untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim (curah hujan, suhu udara dan kelembaban udara), kepadatan penduduk dan Angka Bebas Jentik (ABJ) terhadap Incidence Rate (IR) DBD di Kota Depok pada tahun 2017-2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara curah hujan time lag 0, time lag 1 dan time lag 2, suhu udara time lag 1, kelembaban udara time lag 0, time lag 1 dan time lag 2 dan Angka Bebas Jentik (ABJ) terhadap Incidence Rate DBD. Hubungan yang signifikan antara faktor iklim dan ABJ terhadap IR DBD, menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan pengendalian DBD dengan melakukan PSN 3M Plus harus dilakukan dan ditingkatkan oleh pihak Dinas Kesehatan Kota Depok maupun masyarakat. Selain itu, diperlukan kolaborasi dan kerja sama lintas sektor yaitu pihak Dinas Kesehatan Kota Depok dan BMKG, sehingga dapat dibuat kebijakan dan perencanaan yang tepat untuk pencegahan dan penanggulangan DBD di Kota Depok pada periode sebelum peningkatan kejadian DBD.

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a disease caused by the Dengue virus (DENV) which is transmitted to humans through the bites of Aedes aegypti and Aedes albopictus mosquitoes. Dengue fever is a disease caused by infection from mosquitoes that develops the fastest and becomes a health threat in the world. The geographical area of Indonesia with a tropical climate is a hyper-endemic area for DHF. Depok City is one of the cities in West Java Province which has a fluctuating trend of Dengue fever every year. In 2019 and 2021 Depok City is ranked 2nd as the district/city with the highest DHF cases in Indonesia. This study used an ecological study design and correlation test analysis to determine the relationship between climate factors (rainfall, air temperature and air humidity), population density and larvae free rate (LFR) on the Incidence Rate (IR) of DHF in Depok City in 2017- 2021. The results showed that there was a significant relationship between rainfall time lag 0, time lag 1 and time lag 2, air temperature time lag 1, air humidity time lag 0, time lag 1 and time lag 2, and larva free number (LFR) on the Incidence Rate of DHF. The significant relationship between climate factors and LFR on DHF IR shows that prevention and control of DHF by doing PSN 3M Plus is necessary to do and must be improved by the Dinas Kesehatan Kota Depok and the community. Besides that, cross-sector collaboration and cooperation between Dinas Kesehatan Kota Depok dan BMKG should be done, so that appropriate policies and planning can be made for the prevention and control of DHF in Depok City, especially in the period before the increase of DHF incidence.
Read More
S-11186
Depok : FKMUI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuri Shizcha Amelinda; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Al Asyary, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Desain studi yang digunakan pada penelitian ini yaitu studi ekologi dengan pendekatan analisis korelasi untuk melihat kekuatan hubungan antara faktor iklim pada bulan yang sama (non-time lag), factor iklim dengan jeda 1 bulan (time lag 1), faktor iklim dengan jeda 2 bulan (time lag 2), kepadatan penduduk, dan kepadatan vektor dengan Incidence Rate DBD. Secara statistik, analisis korelasi menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara curah hujan non-time lag, time lag 1, dan time lag 2, suhu udara time lag 2, kelembaban udara non-time lag, time lag 1, dan time lag 2, kepadatan penduduk, dan angka bebas jentik dengan Incidence Rate DBD.
Read More
S-10613
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andri Kurnia; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Dewi Susanna, Nurifa Handayani
Abstrak:
Latar belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang mudah menular melalui udara yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis dan masih menjadi masalah kesehatan di dunia maupun Indonesia. Tingginya kasus TB dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, di antaranya faktor lingkungan, faktor perilaku, dan faktor pelayanan kesehatan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan meliputi cakupan rumah sehat dan kepadatan penduduk, faktor perilaku meliputi cakupan rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat, dan faktor pelayanan kesehatan meliputi fasilitas kesehatan dan angka keberhasilan pengobatan TB (success rate) terhadap kejadian TB paru BTA positif di Kota Surabaya tahun 2018-2022. Metode: Penelitian ini memakai data sekunder selama lima tahun (2018-2022) yang berasal dari Badan Pusat Statistik Kota Surabaya dan Dinas Kesehatan Kota Surabaya dengan metode studi ekologi. Hasil: Hasil dari penelitian menunjukkan variabel yang berhubungan dengan prevalensi TB paru BTA positif adalah variabel cakupan rumah sehat (r = -0,300), kepadatan penduduk (r = 0,343), dan fasilitas kesehatan (r = 0,302) dengan masing-masing keeratan hubungan sedang. Sementara itu, variabel cakupan rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat dan angka keberhasilan pengobatan TB tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan prevalensi TB paru BTA positif. Kesimpulan: Variabel yang berhubungan dengan prevalensi TB paru BTA positif di Kota Surabaya tahun 2018-2022 adalah cakupan rumah sehat, kepadatan penduduk, dan fasilitas kesehatan. Dengan demikian, diperlukan upaya untuk mengendalikan faktor risiko yang berhubungan seperti peningkatan kondisi rumah dan edukasi rumah sehat, perizinan pembangunan wilayah, dan pengkajian efektivitas fasilitas kesehatan.

Background: Tuberculosis (TB) is an airborne disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis and is still a health problem in the world as well as Indonesia. The high incidence of TB is influenced by a variety of risk factors, including environmental factors, behavioral factors, and health care factors. The study aims to find out the relationship between environmental factors including healthy home coverage and population density, behavioral factors including coverage of families with clean and healthy living behavior, and health care factors including health facilities and the success rate of TB treatment against the prevalence of smear-positive pulmonary tuberculosis in Surabaya City in 2018-2022. Methods: The research uses secondary data for five years (2018-2022) from the Central Statistical Agency of Surabaya and the Health Service of Surabaya with the method of ecological study. Results: The results of the study showed that the variables associated with the prevalence of smear-positive pulmonary tuberculosis are the healthy home coverage variables (r = -0,300), population density (r =0,343), and health facilities (r = 0,302) with each of them having a moderate relationship. Meanwhile, the coverage of families with clean and healthy living behavior and the success rate of TB treatment, did not show a significant correlation with the prevalence of smear-positive pulmonary tuberculosis. Conclusion: Variables associated with the prevalence of smear-positive pulmonary tuberculosis in Surabaya City in 2018-2022 are the healthy home coverage variables, population density, and health facilities. Thus, efforts are needed to control associated risk factors such as improved housing conditions and healthy home education, territorial development permits, and evaluation of the effectiveness of health facilities.
Read More
S-11586
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohammad Arief Syaifulloh; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara faktor individu meliputi jenis kelamin, lingkungan meliputi kepadatan penduduk dan cakupan rumah sehat, dan perilaku meliputi cakupan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tatanan rumah tangga terhadap kasus tuberculosis di Kota Depok tahun 2015-2019. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi ekologi menggunakan data sekunder dalam rentang tahun 2015-2019 berbentuk data agregat dari 11 kecamatan yang ada di Kota Depok sebagai unit analisisnya. Data diperoleh dari buku profil kesehatan Kota Depok yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Kota Depok. Data dianalisis secara univariat dan bivariat lalu ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik.
Read More
S-10604
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gitri Syiamil Awali; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Ririn Arminsih, La Ode Ahmad Saktiansyah
Abstrak: Latar Belakang: DBD merupakan infeksi akibat virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Sp ke manusia, terutama nyamuk Aedes aegypti. Demam berdarah tersebar luas di seluruh daerah tropis dengan variasi risiko lokal yang juga dipengaruhi oleh parameter iklim serta faktor sosial dan lingkungan. DBD masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, salah satunya adalah Kota Bekasi yang menempati urutan ketiga dengan kasus tertinggi pada tahun 2021. Tujuan: Menganalisis hubungan antara faktor iklim (suhu, kelembaban, kecepatan angin dan curah hujan, faktor demografi (kepadatan penduduk) dan faktor individu (penerapan perilaku hidup bersih dan sehat) terhadap incidence rate DBD di Kota Bekasi tahun 2019?2021. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi ekologi berbasis waktu. Hasil: Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa suhu (p = 0,146), kecepatan angin (p = 0,146), curah hujan (p = 0,447) dan kepadatan penduduk (p = 0,147) tidak berhubungan signifikan terhadap kejadian DBD. Adapun kelembaban (p = 0,003) dan PHBS (p = 0,001) memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian DBD. Hasil uji regresi linear ganda memberikan bentuk model prediksi dengan persamaan Incidence Rate DBD = 42,043 + 0,004 (PHBS) + 0,001 (Kepadatan Penduduk) dengan R2 = 0,353. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara kelembaban udara dan PHBS dengan kejadian DBD di Kota Bekasi Tahun 2019?2021.
Background: DHF is an infection caused by the Dengue virus which is transmitted through the bite of the Aedes sp mosquito to humans, especially the Aedes aegypti mosquito. Dengue fever is widespread throughout the tropics with local risk variations which are also influenced by climate parameters as well as social and environmental factors. DHF is still one of the public health problems in Indonesia, including Bekasi City which ranks third with the highest cases in 2021. Objective: Analyzing the relationship between climate factors (temperature, humidity, wind speed and rainfall, demographic factor (population density) and individual factor (application of clean and healthy living behavior) with the incidence of dengue haemorrhagic fever in Bekasi City in 2019?2021. Methods: This research is a quantitative study with an ecological study design according to time trend. Results: The results of the correlation test showed that temperature (p = 0.146), wind speed (p = 0.146), rainfall (p = 0.447) and population density (p = 0.147) were not significantly related to the incidence of DHF. Meanwhile, humidity (p = 0.003) and PHBS (p = 0.001) had a significant relationship to the incidence of DHF. The results of the multiple linear regression test showed a predictive model with the DHF incidence rate equation = 42.043 + 0.004 (PHBS) + 0.001 (Population Density) with R2 = 0.353. Conclusion: There is a significant relationship between humidity and PHBS with the incidence of DHF in Bekasi City in 2019?2021.
Read More
S-11017
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive