Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34532 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Akbar Hasani; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati/ Penguji: Abdul Kadir, Dadan Erwandi, Danang Ika Widana, Machfud
Abstrak:
Pada masa pemulihan ekonomi saat ini karyawan dituntut untuk dapat memberikan kontribusi lebih baik yang pada akhirnya meningkatnya distress kerja pada karyawan. Banyak faktor yang dapat memicu terjadinya distress kerja pada seorang pekerja salah satunya adalah faktor psikososial. PT. X melakukan survey pada setiap direktorat untuk mengetahui tingkat motivasi karyawan dan peningkatan distress kerja karyawan. Hasil survey terebut menunjukkan direktorat Corporate & External Affairs memiliki motivasi kerja paling rendah yang didukung dengan adanya aspirasi terkait meningkatnya distress kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor risiko distres kerja terhadap tingkat distres kerja pada karyawan di direktorat Corporate & External Affairs di PT X. Metode penelitian taitu deskriptif kuantitatif, desain studi cross-sectional, dengan jumlah total populasi 40 orang. Terdapat 7.5% karyawan tidak mengalami distress kerja, 47.5% distress kerja rendah, 42.5% distress kerja sedang, dan 2.5% distress kerja tinggi. Faktor risiko distress kerja yang berhubungan yaitu beban kerja dan kecepatan kerja, pengendalian, pengembangan karir, hubungan antara pekerjaan dan rumah, tuntutan psikologis, dan perundungan dan kekerasan. PT. X sebaiknya melakukan risk assessment yang komprehensif dan menindak lanjuti hasil survey pada Direktorat & Corporate & External Affairs di PT. X serta membuat media pengawasan untuk mendeteksi terjadinya perundungan dan kekerasan khususnya dalam bentuk verbal seperti kritik yang tidak adil.

During the current economic recovery, employees are required to give better contribution, which can increase work distress of employees. Many factors can trigger work distress, one of which is psychosocial factors. PT. X conducted a survey to determine the level of employee motivation and work distress. The survey results show that the Directorate of Corporate & External Affairs has the lowest work motivation supported by aspirations related to increased work distress. The purpose of this study was to analyze the relationship between risk factors for work distress and levels of work stress for employees at the Directorate of Corporate & External Affairs at PT X. The research method is quantitative descriptive, the study design is cross-sectional, sample from total population of 40 people. There are 7.5% employees are categorized as no work distress, 47.5% low distress, 42.5% middle distress and 2.5% high distress. The risk factors that have association with work distress are workload and pace of work, control, career development, the relationship between work and home, psychological demands, and bullying and violence. PT. X should conduct a comprehensive risk assessment and follow up on survey results and create a program to identify bullying and violence, especially in verbal forms such as unfair criticism.
Read More
T-6612
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lena Tresnawati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Robiana Modjo, Indri Hapsari Susilowati, Lutfi Muzaqi, M. Fadri Al Baihaqi
Abstrak: Latar Belakang: Distres merupakan bentuk negatif dari psikososial, dimana sumber distres dapat berasal dari faktor pekerjaan itu sendiri, faktor keluarga dan sosial, serta faktor individu. Beberapa kejadian mengindikasikan terjadinya distres pada mekanik di PT. X. Indikasi tersebut terlihat dari gejala fisiologis, psikologis, perilaku, dan kognitif yang timbul dari pekerja.
Tujuan: Menganalisis tingkat distres kerja dan faktor-faktor yang berhubungan terhadap tingkat distres pada mekanik di PT. X. Metode: Penelitian menggunakan desain studi cross sectional, dilakukan pada seluruh mekanik di PT. X sejumlah 37 pekerja, dan analisis data menggunakan uji chi square serta regresi logistik.
Hasil: Faktor yang berhubungan terhadap tingkat distres adalah budaya dan fungsi organisasi, hubungan interpersonal, tekanan kerja, work family conflict, desain tugas, jadwal dan jam kerja, intensitas olahraga, kecemasan, pengendalian emosi, serta kebiasaan merokok. Faktor pengendalian emosi paling berpengaruh terhadap distres dengan Exp(B) 0,34. Kesimpulan: Berbagai faktor memiliki hubungan terhadap tingkat distres pada mekanik di PT. X sehingga perlu dilakukan tindakan yang mampu menurunkan risiko distres seperti pengaturan lembur dan pemberian pelatihan
Background: Distress is a negative form of psychosocial. It can be caused by work factors, family and social factors, and individual factors. Several cases indicate the occurrence of mechanical distress at PT. X. The indications showed from the physiological, psychological, behavioral, and cognitive symptoms that arise from the workers.
Objective: To analyze the associated factors with distress level of mechanics at PT. X. Methods: Used a cross sectional design study, carried out on all mechanics at PT. X with number of 37 workers, data analysis using chi square test and logistic regression.
Results: Factors related to the distress level are organizational culture and function, interpersonal relationships, work pressure, work family conflict, task design, working hours and scheduler, exercise intensity, anxiety, emotional control, and smoking habits. Emotional control factor has the most associated on distress with Exp(B) 0.34. Conclusion: Various factors have a relationship with the distress level of mechanics at PT. X so it is necessary to take actions that can reduce the risk of distress such as overtime program and providing training
Read More
T-6323
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jasmine Kamilatun Nuha; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:
Distres adalah bentuk stres negatif yang disebabkan oleh kejadian buruk dan mengakibatkan penurunan performa kerja. Sektor kelistrikan memiliki kompleksitas dan risiko yang tinggi dalam proses bisnisnya, sehingga dalam penelitian terdahulu dan hasil observasi awal didapatkan bahwa pekerja sektor kelistrikan memiliki risiko mengalami distres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan menganalisis hubungan antara faktor risiko distres dengan tingkat distres pada pekerja PT X Sektor Kelistrikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan desain studi cross-sectional. Data kuantitatif didapatkan dari penyebaran kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square, sedangkan data kualitatif dilakukan dengan wawancara dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor individu (usia, masa kerja, status pernikahan), faktor terkait pekerjaan (beban dan kecepatan kerja, peran dalam organisasi, pengembangan karier, hubungan interpersonal, home-work interface), faktor tidak terkait pekerjaan (domestic-family demands), dan faktor penyangga (dukungan sosial). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebanyak 70,6% pekerja mengalami stres sedang, 27,2% pekerja mengalami stres berat, dan 2,2% mengalami stres ringan. Hasil analisis inferensial menunjukkan hanya variabel pengembangan karier (p=0,021) yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat distres. Adapun nilai OR yang dihasilkan sebesar 2,457 yang mengartikan bahwa pekerja dengan persepsi buruk terhadap pengembangan karier memiliki peluang 2,457 kali lebih besar mengalami distres.
Distress is a form of negative stress caused by adverse events that can lead to a decline in work performance. The electricity sector involves high complexity and risk in its business processes, making workers in this sector more vulnerable to experiencing distress, as indicated by previous studies and preliminary observations. This study aims to describe and analyze the relationship between risk factors and the level of distress among workers at PT X in the electricity sector. A mixed-method approach with a cross-sectional design was employed. Quantitative data were obtained through questionnaires and analyzed using the chi-square test, while qualitative data were collected through interviews and analyzed thematically. The risk factors examined include individual factors (age, length of employment, marital status), work-related factors (workload and work pace, organizational role, career development, interpersonal relationships, home-work interface), non-work-related factors (domestic-family demands), and buffering factors (social support). The results of the descriptive analysis indicated that 70.6% of workers experienced moderate stress, 27.2% experienced severe stress, and 2.2% experienced mild stress. Inferential analysis showed that only the variable career development (p = 0.021) had a significant relationship with the level of distress, with an odds ratio (OR) value of 2.457, indicating that workers with negative perceptions of career development were 2.457 times more likely to experience distress.
Read More
S-12004
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febry Arieffani; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Robiana Modjo, Achmad Dahlan, Priyo Djatmiko
Abstrak: Tesis ini membahas faktor risiko distres pada petugas penanggulangan keadaan darurat di PT. X tahun 2023 dengan menggunakan metode self report measure. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang dilakukan pada Oktober-November 2023 dengan populasi seluruh tim penanggulangan keadaan darurat di PT. X yang terlibat dalam penanggulangan keadaan darurat level 2 tahun 2023. Ditemukan bahwa dari 63 responden, 37 pekerja (58,73%) dengan tingkat gejala distress tinggi (skor ≥27 poin) dan 26 pekerja (41,27%) dengan tingkat gejala distress rendah (skor
This thesis discusses the risk factors for distress in emergency management officers at PT. X in 2023 using the self-report measure method. This study is a qualitative study conducted in October-November 2023 with a population of all emergency management teams at PT X involved in level 2 emergency management in 2023. It was found that out of 63 respondents, 37 workers (58.73%) with high levels of distress symptoms (score ≥27 points) and 26 workers (41.27%) with low levels of distress symptoms (score
Read More
T-6901
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Faiz; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Ridwan Zahdi Sjaaf, Ridwan Muhamad Rifai, Anis Rohmana
Abstrak: Bahaya faktor psikososial sebagai interaksi antara atau di antara lingkungan kerja, konten pekerjaan, kondisi organisasi dan kapasitas pekerja, kebutuhan, budaya, dan pertimbangan personal pekerja yang dapat mempengaruhi kesehatan, prestasi kerja dan kepuasan kerja melalui persepsi dan pengalaman. Hasil respon karena faktor psikososial yaitu respon stres yang dapat berupa respon stres negatif atau distres. Hasil studi pendahuluan di PT X ditemukan bahwa terdapat berbagai masalah psikososial dan berbagai keluhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan berbagai faktor psikososial dengan distres yang terjadi pada pekerja di PT. X. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang. Penelitian dilakukan pada pekerja di PT X pada bulan September 2021 sampai Desember 2021. Jumlah populasi pada penelitian ini adalah 112 pekerja dan instrumen yang digunakan yaitu kuisioner. Uji statistik yang digunakan yaitu uji korelasi dan regresi linear. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan antara faktor psikososial lingkungan kerja (nilai p = 0,000), fungsi dan budaya organisasi (nilai p = 0,007), konflik peran (nilai p = 0,005), hubungan interpersonal (nilai p = 0,042), dan home-work interface (nilai p = 0,000) dengan variabel dependen yaitu distres. Kemudian, tidak terdapat hubungan antara faktor psikososial budaya kerja (nilai p = 0,103), ketidak jelasan peran (nilai p = 0,621), pengembangan karir (nilai p = 0,362), dan kontrol pekerjaan (nilai p = 303) dengan variabel dependen yaitu distres. Hasil uji regresi linear menunjukkan faktor psikososial yang paling dominan mempengaruhi distress yaitu lingkungan kerja.
The hazard of psychosocial factors as interactions between or among the work environment, job content, organizational conditions and worker capacities, needs, culture, and personal considerations of workers can affect health, job performance, and job satisfaction through perceptions and experiences. The response due to psychosocial factors is the stress response which can be a negative stress response or distress. On preliminary study at PT. X has found various psychosocial problems and various complaints related to distress. This study aims to determine the relationship of various psychosocial factors with distress in workers at PT. X. This research is quantitative research with a cross-sectional design. The research was conducted on workers at PT. X in September 2021 to December 2021. The total population in this study was 112 workers, and the instrument used was a questionnaire. The statistical test used is the correlation test. The results showed that there was a relationship between psychosocial factors in the work environment (p-value = 0.000), organizational function and culture (p-value = 0.007), role conflict (p-value = 0.005), interpersonal relationships (p-value = 0.042), and home-work interface (p-value = 0.000) with distress. Then, there is no relationship between psychosocial factors of work culture (p-value = 0.103), role ambiguity (p-value = 0.621), career development (p-value = 0.362), and job control (p-value = 303) with distress. The results of the multiple linear regression test showed that the most dominant psychosocial factor influencing the difficulty was the work environment
Read More
T-6290
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resty Wulandari; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Bimo Prasetyo, Roy Nababan
Abstrak:
Distres kerja menjadi masalah kesehatan yang cukup serius di industri konstruksi. Distres kerja dikaitkan dengan perasaan emosional dan mental, tapi juga dapat berdampak buruk pada kesehatan secara fisik, menurunkan motivasi, produktivitas, dan kepuasan kerja. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya distres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko distres kerja pada pekerja konstruksi proyek XYZ, baik faktor individu, faktor psikososial, dan faktor dukungan sosial. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada pekerja konstruksi XYZ pada bulan Maret-Mei 2023. Jumlah sampel penelitian adalah 127 responden yang diambil dengan teknik non random sampling. Kuesioner yang digunakan adalah Short Version – New Brief Job Stress Questionnaire (SV-NBJSQ) dan 3 pertanyaan tambahan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko yang berhubungan dengan distres kerja adalah faktor psikososial job control, kompatibilitas dengan pekerjaan, interaksi dengan atasan, interaksi dengan organisasi, dan faktor dukungan sosial. Hasil analisis menunjukkan variabel yang dominan berhubungan dengan distres kerja adalah job control dan dukungan sosial. Dari kedua variabel tersebut, dukungan sosial adalah variabel yang paling dominan berhubungan dengan distres kerja (AOR=4,062)



Job distress is a serious health problem in the construction industry. Job distress is associated with emotional and mental feelings, but it can also have a negative impact on physical health, reducing motivation, productivity and job satisfaction. There are various factors that influence the emergence of job distress. This study aims to analyze the risk factors of job distress on XYZ construction workers, including individual factors, psychosocial factors, and social support factors. This research used a cross sectional design. The research was conducted on XYZ construction workers in March-May 2023. The number of samples in this study were 127 respondents who were taken using a non-random sampling technique. The questionnaire used is the Short Version – New Brief Job Stress Questionnaire (SV-NBJSQ) and 3 additional questions. Data analysis was performed using the chi-square and logistic regression statistical test. The results showed that the risk factors associated with job distress were psychosocial factors, job control, job compatibility, interactions with superiors, interactions with organizations, and social support factors. The results of the analysis show that the dominant variable related to job distress are job control and social support. Among these two variables, social support is the most dominant variable related to job distress (AOR=4,062)
Read More
T-6720
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dodi Suryadi; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Agustinus Hariadi DP, Adenan
Abstrak:

Abstrak

Fasilitas-fasilitas yang ada di industri minyak dan gas bumi tergolong berisiko tinggi dikarenakan bahan yang dikelola adalah minyak dan gas mudah terbakar dan mudah meledak baik secara intern maupun dengan proses luar.

PT X adalah sebuah perusahan minyak dan gas bumi yang beroperasi di lepas pantai (offshore) sebagai pengguna FSO dengan kapasitas 660.000 barrel oil. FSO tersebut sudah mulai dioperasikan pada bulan Agustus 2012 tetapi belum memiliki hasil analisis risiko yang cukup untuk aktifitas yang ada dalam FSO tersebut. Kondisi ini sangat berbahaya karena FSO adalah suatu instalasi dengan risiko sangat tinggi terhadap ledakan/kebakaran, kecelakaan fatal dan saat ini perusahaan tidak mempunyai informasi yang cukup apakah peralatan atau sistem pencegahan bahaya sudah sesuai dengan kebutuhan atau tidak.

Tujuan penelitian secara umum untuk mengetahui jenis risiko dan tingkat risiko keselamatan kerja yang potensial terjadi pada aktifitas di ruang pompa dan pengendaliannya dan tujuan penelitian secara khusus untuk mengetahui jenis-jenis aktifitas apa saja yang dilakukan di ruang pompa FSO PT X, mengetahui jenis-jenis bahaya/ risiko yang ada di ruang pompa, mengetahui tingkat risiko yang ada dari setiap aktifitas yang ada di ruang pompa dan mengetahui pengendalian apa saja yang sudah ada dan yang masih diperlukan untuk meminimalkan risiko yang ada di setiap aktifitas di ruang pompa. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis risiko keselamatan kerja pada proses yang dilakukan di ruang pompa di FSO PT X.

Penelitian dilakukan dengan observasi lapangan, diskusi dengan pekerja FSO dan PT. X, juga analisa data yang dimiliki oleh PT X. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai dengan April 2013.

Penelitian merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, dimana dilakukan penilaian terhadap risiko yang dimiliki oleh pekerja dengan mengkombinasikan inspeksi dilapangan dengan teknik penilaian risiko. Penilaian risiko dilakukan dengan tahapan manajemen risiko sesuai dengan Risk Management AS/ NZS 4360:1999/2004.

Hasil Penelitian Aktifitas yang ada di ruang pompa adalah turun naik tangga, pengoperasian pompa kargo, perawatan pompa kargo, pembersihan bilge ruang pompa, memasuki ruang pompa, pengecatan di ruang pompa, pekerjaan pada ketinggian, dan kondisi peralatan di ruang pompa.

Risiko tertinggi dari semua aktifitas adalah pada aktifitas pengoperasian pompa kargo dimana risiko setelah kontrol masih ditingkat risiko Tinggi hal ini terjadi karena karena pekerjaan dilakukan dengan mengaktifkan pompa sehingga timbul panas, bising, asap yang sangat mengganggu aktifitas dan konsentrasi pekerja. Risiko terendah dari semua aktifitas adalah aktifitas pengecatan di ruang pompa dengan tingkat risiko satu Sedang dan dua Rendah.

Pengendalian risiko yang telah dilakukan adalah penerapan prosedur melalui instruksi kerja, Permit to work, pembuatan kemiringan tangga yang tidak lebih dari 60 derajat, penerangan yang cukup, penggunaan alat pelindung diri seperti coverall, masker, safety shoes, handglove, safety glasses, ear plug, ventilasi udara, pemberlakukan jadwal kerja yang bergantian, pemasangan peredam panas pada bagian-bagian panas tinggi, pembuatan jalur pekerja, pengecekan kandungan gas yang ada di ruang pompa, pekerja yang mengetahui tata letak peralatan di ruang pompa dan memastikan pekerja yang bekerja adalah sehat, pemeriksaan rutin peralatan angkat secara rutin seperti body harness, chain block, wire sling, konstruksi penyangga chain block.


Existing facilities in the oil and gas industries was generally classified as high risk due to substance oil and gas is flammable and explosive with both internal and external processes.

PT. X is an oil and gas company operating in the offshore as an FSO users with capacity 660,000 barrels of oil. The FSO was started in August 2012 but has not had sufficient risk analysis for existing activities in the FSO. This condition is very dangerous because the FSO is a plant with a very high risk for explosions / fires, fatal accidents and the company currently does not have sufficient information whether equipment or hazard prevention systems are in accordance with the requirements or not.

General research purposes to determine the type and level of risk potential safety risks occur in activities in the pump room and its control and objective study specifically to determine what types of activities are carried out in a pump room FSO PT X, knowing the types of hazards / risks that exist in the pump room, knowing that there is the risk level of any activity that is in control of the pump room and find out what is already there and are still required to minimize the risks involved in each activity in the pump room.

This study was conducted to analyze safety risks on the process undertaken in the pump room at the FSO PT X.. Research carried out by field observations, discussions with workers FSO and PT. X, as well as analysis of data owned by PT X. The study was conducted in January to April 2013.

Research is a qualitative descriptive, which made an assessment of the risk to workers by combining field inspection with risk assessment techniques. Risk assessment carried out by stages in accordance with the Risk Management AS / NZS 4360:1999 / 2004.

The activities are there in the pump room is down and up stairs, the operation of cargo pumps, cargo pump maintenance, cleaning bilge pump room, inspection to pump chamber, the painting in the pump room, work at height, and condition of the equipment in the pump room.

Highest risk of all activities is the operation of cargo pump activity which after controls the level of risk still High this happens because as the work is done by activating the pump so that the resulting heat, noise, smoke highly disrupt the activity and concentration of workers. The lowest risk of all activity is the activity of painting in the pump room with a Medium risk level and two Low.

Control risk is the application procedure has been carried out through the work instructions, permit to work, making the slope of the stairs which no more than 60 degrees, adequate lighting, the use of personal protective equipment such as coveralls, masks, safety shoes, handglove, safety glasses, ear plugs, air vents, the sift work schedule, installation of heat shock on high heat parts, installs line workers, checking the gas content in the pump room, workers who know the location of equipment in the pump room and ensure workers are healthy, regular test lifting equipment such as body harness, chain block, wire slings, chain block buffer construction.

Read More
T-3919
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rifa Yulita; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Mierna Reismala
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko stres kerja pada pekerja kesehatan di remote site. Peneliti melakukan studi potong lintang pada Januari-Juni 2023 dengan melibatkan 103 responden dari berbagai industri. Peneliti menggunakan instrumen penelitian COPSOQ III untuk mengukur stres kerja dan faktor risikonya. Pada 103 responden industri Oil & Gas, pertambangan, dan konstruksi menunjukkan usia, durasi shift, dan lama kerja tidak berhubungan signifikan dengan stres kerja. Namun, jenis industri dan jenis kelamin memiliki hubungan signifikan dengan jenis stres tertentu. Pekerja kontrak lebih cenderung mengalami stres kerja, burnout, dan stres kognitif. Faktor risiko psikososial seperti tuntutan pekerjaan, konflik peran, kecepatan kerja, dan tuntutan emosional juga berhubungan dengan stres kerja. Tuntutan pekerjaan, kecepatan kerja, dan konflik peran mempengaruhi skor stres kerja, menjelaskan 26,5% variasi skor stres. Pekerja pelayanan kesehatan di remote site PT. X mengalami stres kerja yang signifikan, dipengaruhi oleh faktor seperti beban kerja, kecepatan kerja, dan konflik peran. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar ada penyesuaian beban kerja, fleksibilitas shift kerja, dukungan sosial, serta kejelasan peran dan penghargaan untuk mengurangi stres kerja. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk memahami dan menangani stres kerja di kalangan pekerja pelayanan kesehatan, khususnya di remote site.
This study aims to analyze the risk factors of occupational stress among healthcare workers in remote sites. The researchers conducted a cross-sectional study in January-June 2023 involving 103 respondents from various industries. The COPSOQ III research instrument was used to measure occupational stress and its risk factors. Out of the 103 respondents in the Oil & Gas, mining, and construction industries, it was observed that age, shift duration, and length of service were not significantly related to occupational stress. However, the type of industry and gender were significantly related to certain types of stress. Contract workers were more likely to experience occupational stress, burnout, and cognitive stress. Psychosocial risk factors such as job demands, role conflicts, work pace, and emotional demands were also associated with occupational stress. Job demands, work pace, and role conflicts influenced occupational stress scores, explaining 26.5% of the stress score variation. Healthcare workers in remote sites at PT. X experienced significant occupational stress, influenced by factors such as workload, work pace, and role conflicts. Based on these findings, it is suggested that adjustments be made to workload, shift flexibility, social support, as well as role clarity and rewards to reduce occupational stress. Further research is needed to understand and address occupational stress among healthcare workers, especially in remote sites.
Read More
T-6730
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febriyanti Puspa Nabiilah; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri Widanarko, Ajie Nur Rendragraha
Abstrak:
Pekerjaan manual handling merupakan satu dari beberapa pekerjaan yang paling berpotensi terhadap munculnya keluhan musculoskeletal disorders. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan menganalisis faktor risiko pekerjaan manual handling, meliputi pengangkatan dan peletakan barang, oleh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM). Penelitian dilaksanakan di salah satu area milik perusahaan sektor logistik dan kepelabuhanan dengan melibatkan 10 orang Tenaga Kerja Bongkar Muat sebagai sampel. Instrumen untuk menilai keluhan musculoskeletal disorders yang digunakan pada penelitian ini adalah Nordic Musculoskeletal Questionnaire (NMQ) dan instrumen untuk penilaian tingkat risiko menggunakan NIOSH Lifting Equation. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 6 dari 10 pekerja memiliki keluhan musculoskeletal disorders. Sebanyak 9 dari 10 pekerja memiliki tingkat risiko sedang pada kegiatan pengangkatan dan 6 dari 10 pekerja memiliki tingkat risiko sedang pada kegiatan peletakan barang. Hasil pengukuran faktor lingkungan menunjukkan iklim kerja panas memenuhi persyaratan, sementara pencahayaan tidak memenuhi persyaratan.


Manual handling is recognized as one of the occupational activities with a high risk of musculoskeletal disorders (MSDs). This descriptive study aims to analyze the risk factors of manual handling tasks, specifically lifting and lowering loads by Stevedores.The research was conducted at a site owned by a logistic and port service company, involving 10 Stevedores as a sample. Musculoskeletal complaints were assessed using the Nordic Musculoskeletal Questionnaire (NMQ), while risk levels associated with lifting activities were evaluated using the NIOSH Lifting Equation. The findings indicate that 6 out of 10 workers reported complaints related to musculoskeletal disorders. Additionally, 9 out of 10 workers were found to be at a moderate risk level during lifting activities, and 6 out of 10 were at a moderate risk level during lowering tasks. Environmental measurements revealed that the thermal work environment met regulatory standards, whereas lighting levels did not comply with the required thresholds.
Read More
S-12127
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fathul Masruri Syaaf; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Baiduri Widanarko, Heny Mayawati, Hayyu Rakhmia,
Abstrak:
Seiring peranan penting konstruksi dalam perekonomian dan berkembangnya sektor Jasa Konstruksi yang semakin kompleks dan tingginya tingkat persaingan layanan Jasa Konstruksi baik di tingkat nasional maupun internasional, seringkali perusahaan konstruksi menuntut pekerja bekerja secara maksimal sehingga seringkali kesehatannya terabaikan. Hal ini dapat berdampak pada kesehatan pekerja, seperti kelelahan kerja, yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. Penelitian ini ingin mengkaji hubungan antara kelelahan kerja dengan faktor diluar pekerjaan dan faktor pekerjaan tepada pekerja konstruksi di PT. X tahun 2022. Data mengenai faktor-faktor diluar pekerjaan (usia, status gizi/IMT, dan masa kerja), dan faktor-faktor pekerjaan (durasi kerja, beban kerja, dan suhu lingkungan kerja) terhadap terjadinya kelelahan pada pekerja proyek PT. X diteliti menggunakan kuesioner kepada 103 responden. Desain penelitian adalah penelitian analitik semi-kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Pengumpulan data hasil kuesioner dianalisis untuk melihat gambaran kelelahan kerja dan menguji hubungan pada dua variabel menggunakan uji Chi-Square. Dari hasil penelitian, 33% mengalami kelelahan kerja sedang dan 67% responden mengalami kelelahan kerja rendah. Dari analisis uji diferensial, terdapat hubungan antara status gizi (IMT) pekerja, durasi kerja dan beban kerja (p 0,000) terhadap kejadian kelelahan kerja pada pekerja di proyek PT. X tahun 2022. Sedangkan faktor usia (p 0.426), masa kerja (p 0.412) dan suhu lingkungan kerja (p 1,000) tidak berhubungan dengan kejadian kelelahan kerja pada pekerja. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa beberapa variabel tersebut berhubungan dengan kejadian kelelahan kerja yang dialami pekerja konstruksi di PT. X. Rekomendasi terkait fatigue management perlu dilakukan baik dari PT. X maupun pekerja guna meminimalisir dan mengendalikan kelelahan kerja serta meningkatkan produktifitas kerja di tempat kerja

Along with the important role of construction in the economy and the development of the Construction Services sector which is increasingly complex and the high level of competition in Construction Services services both at the national and international levels, construction companies often demand workers to work optimally so that their health is often neglected. This can have an impact on the health of workers, such as fatigue, which can lead to work accidents. This study wants to examine the relationship between work fatigue and factors outside of work and work factors for construction workers at PT. X year 2022. Data on nonwork-related factors (age, nutritional status/BMI, and years of service), and work-related factors (work duration, workload, and work environment temperature) on the occurrence of fatigue among project workers at PT. X was examined using a questionnaire to 103 respondents. The research design is a semi-quantitative analytic with a cross sectional study approach. Data collection was carried out using a questionnaire and analysis was carried out to see a description of work fatigue and to test the relationship between the two variables using the Chi-Square test. From the results of the study, 33% experienced moderate fatigue and 67% of respondents experienced low fatigue. From the differential analysis, there is a relationship between the nutritional status (BMI) of workers, duration of work and workload (p 0.000) on the occurence of fatigue in workers at the PT. X in 2022. Meanwhile, the factors of age (p 0.426), years of service (p 0.412) and working environment temperature (p 1.000) are not related to the occurence of fatigue in workers. The conclusion from this study is that some variables are related to the incidence of work fatigue experienced by construction workers at PT. X. Recommendations regarding fatigue management need to be implemented from both PT. X and workers to minimize and control fatigue as well as to increase work productivity at work.
Read More
T-6541
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive