Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33408 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Anzany Tania Dwi Putri; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ascobat Gani, Purnawan Junad, Diah Setia Utami; Elvina Katerin Sahusilawane
Abstrak: Perubahan kualitas hidup merupakan salah satu indikator yang digunakan dalam melakukan evaluasi hasil layanan rehabilitasi narkoba. Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya perubahan kualitas hidup pada para penyalahguna narkoba, seperti karakteristik demografi, pelaksanaan rencana rawatan, dan kondisi klinis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan kualitas hidup yang terjadi dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut pada klien yang sedang menjalani rehabilitasi di Balai Besar Rehabilitasi BNN pada tahun 2022. Adapun penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain mixed-method, dimana untuk penelitian kuantitatif menggunakan desain single-hand retro-prospective cohort dan untuk penelitian kualitatif, dilakukan dengan menggunakan diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion). Terdapat 286 responden pada penelitian ini dengan rerata usia 30,55 ± 7,90 tahun. Dari analisis bivariat, diketahui bahwa terdapat perubahan kualitas hidup yang bermakna dari sebelum dan sesudah klien mendapatkan layanan rehabilitasi di Balai Besar Rehabilitasi BNN RI. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kualitas hidup tersebut adalah adalah jenis kelamin, status perkawinan, banyaknya jenis narkoba yang digunakan satu tahun terakhir, lama pemakaian narkoba, pelaksanaan program rehabilitasi, dan riwayat komorbid fisik.
Changes in quality of life are one of the indicators used in evaluating the output of drug rehabilitation services. There are various factors that can influence changes in the quality of life among people with drug use disorders, such as demographic characteristics, implementation of treatment plans, and clinical conditions. The purpose of this study is to analyse changes in the quality of life and determine the factors that influence those changes in clients who are undergoing rehabilitation at the Indonesian National Narcotic Board Drug Rehabilitation Center in 2022. This research is an observational analytic study with a mixed-method design. Quantitative research was done by using a single-hand retro-prospective cohort design and qualitative research was conducted through focus group discussions. There were 286 respondents involved in this study with an average age of 30.55 ± 7.90 years. From the bivariate analysis, it is known that there are significant changes in the quality of life occurred before and after the client received rehabilitation services at the Indonesian National Narcotic Board Drug Rehabilitation Center. The factors that influence changes in quality of life are gender, marital status, the number of drugs used in the past year, the duration of drug use, the implementation of rehabilitation programs, and a history of systemic diseases.
Read More
T-6659
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggita Bunga Anggraini; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Kurnia Sari, Sri Idaiani, Lindawati
T-5328
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewanti Hapsari; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Ascobat Gani, Ede Surya Darmawan, Hanna Elisabet Lumbangaol, Viorentina Yofiani
Abstrak:
Nyeri punggung bawah (low back pain/LBP) merupakan salah satu penyebab utama disabilitas global yang berdampak terhadap penurunan kualitas hidup secara fisik, psikologis, dan sosial. Hidroterapi sebagai bagian dari intervensi rehabilitatif dinilai memiliki potensi untuk memperbaiki kondisi fungsional pasien LBP melalui efek terapeutik media air. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh hidroterapi terhadap perubahan kualitas hidup pasien LBP serta mengidentifikasi hubungan antara faktor individu dan sosial-ekonomi dengan perubahan tersebut. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-post test tanpa kelompok kontrol. Sebanyak 40 pasien LBP di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Fatmawati yang menjalani minimal empat sesi hidroterapi diikutsertakan. Kualitas hidup diukur menggunakan instrumen EQ-5D-5L dan EQ-VAS, dengan nilai utilitas diturunkan dari value set Indonesia (Hybrid C-TTO Model). Nilai utilitas dihitung berdasarkan bobot disutility pada masing-masing dimensi EQ-5D-5L yang dikurangkan dari nilai sempurna 1,000. Hasil: Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada nilai utilitas EQ-5D-5L (sebelum: 0,64 ± 0,15; sesudah: 0,82 ± 0,12; p < 0,001) dan skor EQ-VAS (sebelum: 65,3 ± 10,2; sesudah: 78,7 ± 9,4; p < 0,001). Terdapat korelasi positif antara perubahan EQ-5D-5L dan EQ-VAS (r = 0,534; p < 0,001). Uji bivariat menunjukkan bahwa faktor individu (usia, jenis kelamin, IMT, aktivitas fisik, merokok, komorbiditas, waktu tempuh) dan faktor sosial-ekonomi (pendapatan, pendidikan, status pernikahan, kepemilikan asuransi) tidak berhubungan signifikan dengan perubahan kualitas hidup. Kesimpulan: hidroterapi terbukti efektif meningkatkan kualitas hidup pasien LBP secara signifikan, terlepas dari perbedaan karakteristik individu dan sosial-ekonomi.

Low back pain (LBP) is a leading cause of global disability that adversely affects physical, psychological, and social quality of life. Hydrotherapy, as part of rehabilitative interventions, is considered to have potential therapeutic effects in improving the functional status of LBP patients through the properties of the aquatic environment. Objective: This study aimed to evaluate the effect of hydrotherapy on quality of life changes in LBP patients and to identify the association between individual and socioeconomic factors with these changes. Methods: A pre-post test design without a control group was employed. 40 LBP patients at the Medical Rehabilitation Unit of RSUP Fatmawati who completed at least four hydrotherapy sessions were included. Quality of life was measured using the EQ-5D-5L and EQ-VAS instruments, with utility values derived from the Indonesian value set (Hybrid C-TTO Model). Utility scores were calculated based on disutility weights assigned to each EQ-5D-5L dimension and subtracted from a perfect health value of 1.000. Results: There was a significant increase in EQ-5D-5L utility scores (pre: 0.64 ± 0.15; post: 0.82 ± 0.12; p < 0.001) and EQ-VAS scores (pre: 65.3 ± 10.2; post: 78.7 ± 9.4; p < 0.001). A positive correlation was found between changes in EQ-5D-5L and EQ-VAS scores (r = 0.534; p < 0.001). Bivariate analysis showed no significant association between individual factors (age, sex, BMI, physical activity, smoking status, comorbidities, travel time) and socioeconomic factors (income, education, marital status, insurance ownership) with quality of life changes. Conclusion: Hydrotherapy is effective in significantly improving quality of life in LBP patients regardless of individual and socioeconomic characteristics.
Read More
T-7271
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yosi Eka Putri; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Amal C. Sjaaf, Adang Bachtiar, Mohammad Ali Azhar, Daeng M. Faqih
Abstrak: Latar Belakang Pemerintah Indonesia dalam mengurangi masalah ketergantungan narkoba telah mengembangkan program rehabilitasi sebagai upaya pengurangan kebutuhan dengan mengurangi populasi pengguna narkoba. Program kebijakan yang ada saat ini sangat generik dan belum memperhatikan kebutuhan pengguna secara individual. Untuuk itu penelitian dilakukan untuk menilai faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program rehabilitasi di Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido. Metode Penelitian ini menggunakan desain Survey Cross Sectional pada 90 subyek penelitian yang memiliki rekam perkembangan yang lengkap dari 719 residen yang diterapi selama 2018. Yang dinilai adalah perubahan perilaku yang dinilai dengan menggunakan kuesioner URICA dihubungkan dengan variable karakteristik subyek, jenis program rehabilitasi, lingkungan subyek, dan karakteristik sumber daya manusia yang memberikan pelayanan. Hasil dari subyek yang diteliti 36 % mengalami peningkatan tahapan perubahan perilaku. Dari kelompok variable yang mempengaruhinya adalah status pernikahan (OR = (2,767), dukungan hidup (OR = (0,257)), status psikiatri (OR = (5,477)), dan lama program (OR = (0,484)). Program 4 bulan dinilai lebih efektif dibandingkan dengan 6 bulan karena perbedaan kompleksitas permasaslah penggunaan narkoba. Kesimpulan Efektivitas program rehabilitasi terapi komunitas perlu ditingkatkan mengembangkan program individual dengan memperhatikan kompleksitas masalah yang dipengaruhi oleh latar belakang calon residen
Background The Government of Indonesia in reducing drug dependence has developed a rehabilitation program in an effort to reduce needs by reducing the population of drug users. The current policy program is very generic and has not paid attention to the needs of individual users. For this reason, research was conducted to assess the factors that influence the success of the rehabilitation program at the BNN Lido Rehabilitation Center.Method: This study used a survey cross sectional design in 90 study subjects who had a complete development record of 719 residents treated during 2018. What was assessed was behavioral changes assessed using the URICA questionnaire associated with variable subject characteristics, type of rehabilitation program, subject environment, and characteristics of human resources that provide services.Results: From the subjects studied 36% experienced an increase in the stages of behavior change. The group of variables that influenced it were marital status (OR = (2,767)), life support (OR = (0,257)), psychiatric status (OR = (5,477)), and duration of the program (OR = (0,484)). The 4-month program is considered more effective than 6 months because of the different complexity of the permasas drug use.Conclusion: The effectiveness of the community therapy rehabilitation program needs to be improved in developing individual programs by taking into account the complexity of the problems that are influenced by the background of prospective residents
Read More
T-6316
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Jayanti; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Dumilah Ayuningtyas, Ns. Sukihananto
Abstrak: Struktur penduduk dunia baik di Indonesia maupun dunia telah bergeser menjadi berstruktur penduduk tua. Dikatakan sebagai struktur penduduk tua, jika populasi lansia di suatu negara lebih dari tujuh persen. Pada tahun 2018 terdapat 9,27 persen (sekitar 24,49 juta) lansia di Indonesia. Beralihnya struktur ini dikarenakan meningkatnya Usia Harapan Hidup (UHH). Jumlah lansia di perkotaan lebih banyak diandingkan di perdesaan. DKI Jakarta merupakan ibukota negara dan pusat pemeritahan. Hal ini menjadikan Jakarta sebagai perkotaan untuk memberikan contoh pelayanan kesehatan dan sosial yang baik bagi penduduknya termasuk lansia. Terdapat sejumlah 1225 lansia bertempat tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) dan komunitas masyarakat. Tingginya jumlah lansia menjadi perhatian baik pemerintah dan masyarakat untuk memperhatikan masalah lansia. Pada institusi sosial ini, lansia, sebagai kelompok yang rentan mengalami perubahan baik secara fisik, psikologis, sosial dan lingkungan memungkinkan lansia untuk sulit beradaptasi dengan lingkungannya sehingga hal ini dapat mempengaruhi kualitas hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup lansia menurut domain kualitas hidup World Health Organization Quality of Life-Bref (WHOQOL-Bref). Penelitian dilakukan dengan desain campuran, yakni penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penyebaran kuesioner, wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen dilakukan pada 80 responden lansia masingmasing 40 responden di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Mulia 1 Cipayung dan Sasana Tresna Werdha (STW) Karya Bhakti RIA Pembangunan Cibubur. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan obat, aktifitas fisik dan domain psikologis memiliki pengaruh terhadap kualitas hidup lansia dengan p value 0,04; 0,03 dan 0,034. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan kualitas hidup dan kepuasan akan kesehatan dan domain kualitas hidup antara responden PSTW dan STW. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan terkait peningkatan interaksi sosial, perbaikan kondisi lingkungan dengan pelaksanaan program dan pelatihan petugas. Diharapkan penelitian lebih lanjut terkait intervensi yang dapat meningkatkan kualitas hidup lansia di institusi sosial panti werdha.
Read More
T-5754
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dede Suryaputra; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Adang Bachtiar, Dumilah Ayuningtyas, Lahargo Kembaren, Akemat
Abstrak:
Skizofrenia adalah penyakit yang mengalami satu atau lebih fungsi abnormal yang mengganggu otonomi seseorang dalam pekerjaan, pendidikan, relasi sosial, dan kehidupan yang mandiri. Orang yang mengalami disabilitas psikiatri adalah kandidat untuk dilakukan rehabilitasi psikososial. Salah satu pelayanan di RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor adalah pelayanan rehabilitasi psikososial. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai hubungan karakteristik dengan performa dan hubungan kualitas layanan. rehabilitasi psikososial terhadap perubahan kapasitas performa fungsi personal dan sosial pasien skizofrenia di RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor pada tahun 2020. Penelitian ini menggunakan kombinasi yaitu kuantitatif dan kualitatif. Penelitian yang diawali dengan penelitian kuantitatif terhadap 39 orang pasien sesuai dengan kriteria inklusi dan dilanjutkan dengan penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam, dan observasi layanan rehabilitasi psikososial. Data hipotesis dengan uji hubungan bivariat. Hasil penelitian bahwa ada berhubungan secara signifikan pada CI 95% adalah usia, pendidikan, frekuensi kambuh, tangibles, reliabelity, responsiveness, assurance dan emphaty. Disarankan kepada Instalasi rehabilitasi psikososial untuk meningkatkan kompetensi dokter perawat dan staf lainnya dengan pendidikan dan pelatihan, pembenahan terhadap sarana dan prasarana, serta meningkatkan kerjasama dan koordinasi dengan lintas sektor

Background: Schizophrenia is a disease that experiences one or more abnormal functions that interfere with a person's autonomy in work, education, social relations, and self-reliant life. People with schizophrenia disease are candidates for psychosocial rehabilitation. One of the services in RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor is a psychosocial rehabilitation service. Objectives: Assessing the quality impact of psychosocial rehabilitation services on the performance of personal and social functions in schizophrenia patients in Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor Hospital in 2020. Method: Combination Research namely quantitative and qualitative research that begins with quantitative research of 39 patients according to the criteria of inclusion and continued with qualitative research by conducting in-depth interviews, and observation of psychosocial rehabilitation services. Hypotheses Data with bivariate relationship tests. Results: There are significantly related to CI 95% are age, education, relapse frequency, tangibles, reliabelity, responsiveness, assurance and Emphaty. Conclusion: Good quality of service can change the performance capacity of personal and social functions schizophrenia patients and advised to the installation of psychosocial rehabilitation to improve the competence of nurses and other staff with education and training, improvement of facilities and infrastructure, and increase cooperation and coordination with cross-sector.

Read More
T-5946
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novie Irawaty Laura Manurung; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Adang Bachtiar, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Galuh Budhi Leksono Adhi, Retno Kusuma Dewi
Abstrak:
Pada tahun 2022, diperkirakan TBC anak 0-14 tahun menyentuh angka tertinggi yaitu 12% dari total kasus global atau sebesar 1,3 juta jiwa setiap tahunnya dan setengahnya merupakan anak dibawah usia 5 tahun. Indonesia berada pada peringkat kedua TBC terbanyak dimana 9,7% diantaranya adalah kasus TBC anak. Tingkat cakupan penemuan kasus TBC anak mencapai 158% namun penegakan TB pada anak yang cenderung sulit masih menjadi tantangan di lapangan, kemungkinan overdiagnosis atau underdiagnosis pada kasus anak masih cukup besar. Faktor sumber daya kesehatan dan faktor akses pelayanan kesehatan menjadi kendala dari penemuan kasus TBC anak secara aktif dan pasif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan faktor yang berhubungan dengan cakupan penemuan kasus tuberkulosis anak di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang (cross sectional) dan dengan unit penelitian 514 kabupaten kota di Indonesia. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa masih terdapat ketimpangan pada tingkat cakupan penemuan kasus TB anak, faktor ketersediaan SDM kesehatan yang terlatih, ratio ketersediaan faskes, realisasi belanja kesehatan per kapita, pelaporan dengan SITB, keterlibatan komunitas, tingkat kemiskinan, dan kewilayahan. Faktor-faktor yang berhubungan dengan cakupan penemuan kasus TBC anak adalah pelaporan fasilitas kesehatan menggunakan SITB, keterlibatan komunitas,tingkat kemiskinan, dan kewilayahan. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan tingkat cakupan penemuan kasus TBC anak adalah keterlibatan komunitas masyarakat. Wilayah kabupaten kota yang memiliki keterlibatan komunitas masyarakat berpeluang 4,059 kali (95% CI 2,360-6,983) untuk cakupan penemuan kasus TBC anak tercapai dibandingkan dengan wilayah kabupaten kota yang tidak memiliki keterlibatan komunitas masyarakat setelah variabel lainnya dikontrol. Keterlibatan komunitas masyarakat untuk mendukung program TBC akan meningkatkan penemuan kasus TBC anak secara aktif dengan terselenggaranya kegiatan investigasi kontak dan skrining TB yang semakin kuat di masyarakat

In 2022, it is estimated that tuberculosis (TB) in children 0–14 years old will touch 12% of the total global cases (1.3 million children), meanwhile in Indonesia 9.7% of the total case being childhood TB. The coverage rate of finding childhood TB reaches 158%; however, difficulty diagnosing tuberculosis in children is still a challenge in the field. The possibility of overdiagnosis or underdiagnosis is still quite large. Health resource factors and health service access factors are obstacles to the implementation of active and passive discovery of childhood TB. The purpose of this study is to determine the determinants of factors related to the scope of finding childhood TB in Indonesia. This study used a quantitative approach with a cross-sectional design and with research units from 514 urban districts in Indonesia. The findings of this study reveal that there are still inequalities in the level of coverage of finding childhood TB due to factors such as the availability of trained human resources, the ratio of availability of health facilities, the realisation of health spending, reporting with SITB, community involvement, poverty levels, and territoriality. Factors related to the coverage of finding childhood TB are the reporting of health facilities using SITB, community involvement, poverty rates, and territoriality. The most dominant variable related to the level of coverage for finding child TB cases is community involvement. It was possible to find 4,059 times as many cases of childhood TB (CI 95% 2,360–6,983) in districts with community involvement as in districts without community involvement, even when other factors were taken into account. Community involvement to support TB programmes will increase the discovery of active child TB cases by conducting stronger contact investigations and TB screening activities in the community.
 
Read More
T-6854
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Derisca Yosa; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Adang Bachtiar, Dumilah Ayuningtyas, Trisnawati, Ngabila Salama
Abstrak: Pelayanan pemeriksaan laboratorium Klinik Pratama KKP dirasakan masih rendah. Berdasarkan hasil studi pendahuluan pemantapan mutu internal pada tahap pra analitik, pasien mengeluhkan darah tidak berhenti sebanyak 3%, terdapat bekuan darah tabung EDTA sebanyak 7,5%, terjadi hemolisis sebanyak 10,5%. Pada tahap analitik, tidak adanya catatan evaluasi pada nilai control sedangkan pada tahap pasca analitik tidak dilakukan verifikasi validasi hasil pemeriksaan laboratorium dan ketidaklengkapan data pasien pada lembar hasil sebanyak 1,5% Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pemantapan mutu internal pada instalasi Laboratorium Klinik Pratama Kementerian Kelautan dan Perikanan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan metode wawancara mendalam dan telaah dokumen. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret - Juli 2020. Kriteria informan penelitian adalah terdiri unsur pimpinan, pelaksana dan pengguna jasa laboratorium. Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat komponen input (organisasi dan manajemen) belum sepenuhnya terlaksana dengan baik, kemudian secara garis besar pada komponen proses dan ouput (tahap pra analitik, analitik dan pasca analitik) terdapat factor penghambat yaitu ketidaklengkapan SOP pada tiap tahapan. Sedangkan factor pendukungnya adalah tersedianya insfrastruktur penunjang kegiatan laboratorium. Dari hasil dapat disimpulkan bahwa pemantapan mutu internal laboratorium belum terlaksana dengan baik dan masih terdapat ketidaklengkapan acuan di tiap tahap pra analitik, analitik dan pasca analitik. Perlu dilakukan monitoring seberapa jauh unsur organisasi dan sistem manajemen guna meningkatkan mutu laboratorium, kemudian dukungan sarana dan prasana dalam menunjang kegiatan laboratorium. Pada tahap pra analitik, analitik dan pasca analitik, petugas laboratorium perlu menambahkan kelengkapan SOP di setiap tahapan.
Primary KKP Clinic laboratory examination services are still felt low. Based on the results of a preliminary study of internal quality assurance in the pre-analytical stage, patients complained of non-stopping blood by 3%, there was a 7.5% EDTA tube blood clot, hemolysis occurred by 10.5%. At the analytical stage, there was no evaluation record on the control value while at the post analytic stage there was no verification and validation of the results of the laboratory examination and incomplete patient data on the result sheet as much as 1.5%. This study was conducted to analyze internal quality assurance at the Primary Laboratory Laboratory in the Ministry of Marine Affairs and Fisheries. This research is a qualitative study using in-depth interviews and document review. This research was conducted in March - July 2020. The criteria for the research informants consisted of elements of leadership, executors and users of laboratory services. The results of the study found that there are input components (organizational and management) that have not been fully implemented well, then in broad outline in the procces and output components (pre-analytic, analytic and post-analytic stages) there are inhibiting factors namely incomplete Standard Operating Procedure at each stage. While the supporting factor is the availability of supporting infrastructure for laboratory activities. From the results it can be concluded that the strengthening of laboratory internal quality has not been carried out properly and there are still incomplete references in each component pre-analytic, analytic and post-analytic. It is necessary to monitor the extent of the elements of the organization and management system in order to improve the quality of laboratories, then to support facilities and infrastructure to support laboratory activities. In the pre-analytical, analytic and post-analytic stages, laboratory staff need to add the completeness of the Standard Operating Procedure at each stage.
Read More
T-6046
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jumiaty; Pembimbing: Hafizurachman; Penguji: Purnawan Junadi, Dumilah Ayuningtyas, Kodrat Pramudho
T-3222
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Indra Sari; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Dadan Erwandi, Mundiharno, Purwati
Abstrak: Program Kader JKN-KIS dibentuk untuk meningkatkan pertumbuhan jumlah kepesertaan dan meningkatkan kolektabilitas iuran BPJS Kesehatan pada segmen peserta informal. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis implementasi program Kader JKN-KIS di Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dilakukan selama bulan Mei 2018 dengan tehnik wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen menggunakan teori implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn. Uji validitas melalui trianggulasi sumber dan metode. Hasil Penelitian didapatkan bahwa implementasi program Kader JKN-KIS di Kota Bekasi secara umum belum berjalan dengan optimal. Sudah ada standar dan sasaran yang ditentukan untuk melihat kinerja, namun pencapaiannya belum maksimal dan target dari fungsi kader belum lengkap. Sistem pencatatan, sistem tehnologi aplikasi, dan desiminasi informasi masih mengalami kendala. Konsistensi, kejelasan dalam komunikasi dan pelaksanaan pedoman belum berjalan maksimal. Hubungan dengan kelurahan belum terjalin dengan baik, SDM Kader JKN-KIS maupun Kantor Cabang masih terbatas. Sikap pelaksana kurang mendukung serta kondisi lingkungan ekonomi, sosial dan politik belum sepenuhnya mendukung implementasi program Kader JKN-KIS. Kesimpulan: implementasi Program Kader JKN-KIS di Kota Bekasi masih memiliki kendala. Perlunya perbaikan dari standar dan sasaran, sistem informasi, komunikasi, SDM, sosialisasi, hubungan kerjasama untuk keberhasilan implementasi program kader JKNKIS.
Kata kunci : implementasi kebijakan; Kader JKN-KIS; sektor informal

The JKN-KIS Cadre Program was established to increase membership growth and increase the collation of BPJS Health contribution to informal segment participants. The purpose of this research is to analyze the implementation of JKN-KIS Cadre program in Bekasi City. This research uses a qualitative method, conducted during May 2018 with in-depth interview technique, observation and document review using Van Meter and Van Horn policy implementation theory. Test validity through a source and method triangulation. The result of the research shows that the implementation of JKN-KIS Cadre program in Bekasi City has not run optimally yet. There are already standards and targets are determined to see the performance, but its achievement is not maximized and the target of the function of the cadre is not yet complete. Recording systems, application technology systems, and information dissemination are still constrained. Consistency, clarity in communications and implementation of guidelines has not been maximized. Relationship with the village has not been established well, Kader JKN-KIS Human Resources and Branch Offices are still limited. The attitude of the implementers is not supportive and the economic, social and political environment has not fully supported the implementation of the KKD-KIS Cadre program. Conclusion: The implementation of JKN-KIS Cadre Program in Bekasi City still has obstacles. The need for improvement of standards and targets, information systems, communication, human resources, socialization, cooperation relationship for successful implementation of JKNKIS cadre program.
Keywords: policy implementation; JKN-KIS Cadre; the informal sector
Read More
T-5291
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive