Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34812 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ridha Amini Insyania Saragih; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Dadan Erwandi, Andi Muhammad Nurfadli, Annas Zulkarnain
Abstrak:
Kecelakaan lalu lintas di Indonesia tahun 2019 mencapai angka 116.411 kasus, dan di kota Medan tahun 2020 mencapai 6.083 kasus. Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengemudi angkutan penumpang merupakan masalah yang tidak dapat dikesampingkan dikarenakan dapat menyebabkan angka kematian yang cukup tinggi, cidera dan kerusakan pada properti serta berpengaruh pada pengguna jalan umum lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi perilaku mengemudi pada pengemudi angkutan penumpang di Kota Medan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Populasi dan sampel dari penelitian adalah pengemudi angkutan penumpang dengan jumlah sampel 357 responden. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner Driving Behaviour Questioner (DBQ). Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan kuantitatif, analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat. Uji statistik menggunakan chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat keselahan 5% (CI=95% dan α=5%) dan multivariat regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan dari 357 orang responden terdapat 180 responden dengan perilaku mengemudi berisiko tinggi. Variabel yang memiliki hubungan signifikan dan berpengaruh terhadap perilaku mengemudi pada pengemudi angkutan umum di kota Medan adalah usia yang terdiri atas kategori dibawah 35 tahun, 35-45 tahun, dan diatas 45 tahun, jenis kelamin, tingkat pendidikan pengemudi, pengalaman mengemudi, waktu kerja per hari dan jenis kendaraan.

Traffic accidents in Indonesia in 2019 reached 116,411 cases, while at Medan in 2020, it reached 6,083 cases. The rate of traffic accidents involving public transport drivers is a problem that cannot be ruled out because it can cause high mortality, injury and damage to property and affect other public road users. This study aims to analyze the factors that influence driving behavior in public transport drivers in Medan. This research is a quantitative research with a cross sectional study design. The population and sample of the study were passenger transport drivers with 357 respondents as the sample of the research. The research instrument used was the Driving Behaviour Questioner (DBQ) questionnaire. The data obtained were analyzed with a quantitative approach, data analysis using univariate, bivariate and multivariate analysis. Statistical test using chi square with 95% confidence interval and 5% level of error (CI =95% and a=5%) and multivariate logistic regression. The results showed that from 357 respondents, there were 180 respondents with high-risk driving behavior. Variables that have a significant relationship and influence on driving behavior in public transportation drivers in Medan are ages consisting of categories under 35 years, 35-45 years, and over 45 years, gender, driver education level, driving experience, working time per day and type of vehicle.
Read More
T-6702
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andi Nani Siti Mardiyanti; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Doni Hikmat Ramdhan, Iting Shofwati, Dimas J Zahid A
Abstrak:
Terdapat 3 faktor utama penyebab kecelakaan lalu lintas, 90% disebabkan oleh faktor manusia terkait perilakunya saat berkendara.  Perilaku mengemudi berisiko mencakup pelanggaran (violations), kesalahan (errors), dan kelalaian (lapses). Pengemudi angkutan barang dipenuhi dengan berbagai bahaya yang berisiko, seperti kompleksitas armada, tingginya intensitas pengiriman barang, jarak tempuh panjang, serta kondisi jalan yang bervariasi. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi munculnya perilaku mengemudi berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku mengemudi berisiko dari faktor motivation, ability, role perception, situational factor pada pengemudi angkutan barang PT XYZ Cabang Makassar. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan responden kuesioner sebanyak 50 pengemudi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner standar Driving Behavior Questionnaire (DBQ) dan kuesioner yang dikembangkan dalam penelitian ini. Analisis data menggunakan Chi Square. Penelitian ini melibatkan pengemudi dengan mayoritas usia produktif 30 – 39 tahun (94,6%), memiliki pendidikan SMP (44,0%), dan 88,0% sudah menikah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku mengemudi berisiko seimbang antara tinggi dan rendah (50,0%). Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku tersebut dapat diketahui dari faktor motivasi; sistem reward & punishment (p=0,005), faktor ability; pengalaman mengemudi (p=0,024), situational factor; jenis muatan (p=0,046).

There are three main factors contributing to road traffic accidents, with approximately 90% being caused by human factors related to driving behavior. Risky driving behavior includes violations, errors, and lapses. Truck drivers are exposed to various occupational hazards, such as fleet complexity, high delivery demands, long driving distances, and varying road conditions. The combination of these factors may influence the occurrence of risky driving behavior. This study aimed to determine the determinants of risky driving behavior based on motivation, ability, role perception, and situational factors among freight transport drivers at PT XYZ Makassar Branch. A cross-sectional study design was employed, involving 50 drivers as respondents. Data were collected using the standardized Driving Behavior Questionnaire (DBQ) and a questionnaire developed specifically for this study. Data analysis was conducted using the Chi-Square test. The study participants were predominantly within the productive age group of 30–39 years (94,6%), had a junior high school education level (44,0%), and were mostly married (88,0%). The results showed that the proportion of drivers with high and low risky driving behavior was equal (50,0%). Factors associated with risky driving behavior included motivation factors, namely the reward and punishment system (p = 0,005); ability factors, namely driving experience (p = 0,024); and situational factors, including type of cargo (p = 0,046).
Read More
T-7663
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rani Sulastri; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Hanny Harjulianti, Neni Herlina
Abstrak:
Perilaku mengemudi berisiko merupakan salah satu faktor utama penyebab kecelakaan lalu lintas, terutama pada pengemudi transportasi umum yang memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan penumpang dalam jumlah besar. Pada periode libur Idul Fitri, peningkatan mobilitas masyarakat dan kepadatan lalu lintas berpotensi meningkatkan tekanan kerja, distres psikologis, serta mempengaruhi perilaku pengemudi. Faktor psikologis dan kondisi kesehatan pengemudi diperkirakan berperan terhadap munculnya perilaku mengemudi berisiko pada pengemudi bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku mengemudi berisiko pada pengemudi bus AKAP di Terminal Kampung Rambutan selama periode libur Idul Fitri tahun 2026. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif pada 97 pengemudi bus AKAP. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk menilai faktor sosiodemografi, distres (aggresif, ketidaksukaan mengemudi, pemantauan bahaya, dan pencarian sensasi), kesehatan fisik, serta perilaku mengemudi berisiko berdasarkan dimensi pelanggaran, kesalahan dan kelalaian. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dan Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berusia ≥40 tahun (67%), memiliki masa kerja ≥10 tahun (58,8%), mengalami agresivitas tinggi (54,6%), serta dinyatakan laik mengemudi (77,3%). Perilaku mengemudi berisiko tinggi ditemukan pada dimensi pelanggaran sebesar 21,6%, kesalahan sebesar 7,2%, dan kelalaian sebesar 6,2%. Faktor psikologis menunjukkan hubungan bermakna terhadap perilaku mengemudi berisiko, terutama aggresif (OR=24,03; 95%CI=3,06–186,54; p=0,001), ketidaksukaan mengemudi (RR=2,818; 95%CI=1,753–4,530; p=0,001), dan mencari sensasi berkendara (OR=29,77; 95%CI=3,785–234,11; p=0,001). Variabel pemantauan bahaya tidak menunjukkan hubungan bermakna (p=0,054). Faktor kesehatan fisik dan status laik mengemudi tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan perilaku mengemudi berisiko (p>0,05). Disimpulkan bahwa faktor distress memiliki kontribusi lebih besar terhadap perilaku mengemudi berisiko dibandingkan faktor kesehatan fisik dan sosiodemografi pada pengemudi bus AKAP. Intervensi berupa skrining psikologis berkala, manajemen stres kerja, pelatihan keselamatan berkendara, dan penguatan program kesehatan kerja perlu dikembangkan untuk menurunkan risiko kecelakaan lalu lintas pada pengemudi transportasi umum. Kata kunci: perilaku mengemudi berisiko, pengemudi bus AKAP, distres psikologis, keselamatan berkendara, kesehatan kerja

Risky driving behavior is one of the major contributing factors to traffic accidents, particularly among public transportation drivers who bear responsibility for the safety of a large number of passengers. During the Eid al-Fitr holiday period, increased population mobility and traffic congestion may intensify work-related pressure, psychological distress, and consequently influence drivers’ behavior. Psychological factors and drivers’ physical health conditions are considered to contribute to the occurrence of risky driving behavior among intercity and interprovincial (AKAP) bus drivers. This study aimed to analyze factors associated with risky driving behavior among AKAP bus drivers at Kampung Rambutan Terminal during the 2026 Eid al-Fitr holiday period. A cross-sectional study with a quantitative approach was conducted among 97 AKAP bus drivers. Data were collected using questionnaires to assess sociodemographic factors, psychological distress (aggression, dislike of driving, hazard monitoring, and thrill seeking), physical health conditions, and risky driving behavior based on the dimensions of violations, errors and lapses. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analyses through Chi-square and Fisher Exact tests. The results showed that the majority of respondents were aged ≥40 years (67%), had work experience of ≥10 years (58.8%), experienced high levels of aggression (54.6%), and were considered fit to drive (77.3%). High-risk driving behavior was found in the violations dimension (21.6%), , errors (7.2%), and lapses (6.2%). Psychological factors demonstrated significant associations with risky driving behavior, particularly aggression (OR=24.03; 95% CI=3.06–186.54; p=0.001), dislike of driving (RR=2.818; 95% CI=1.753–4.530; p=0.001), and thrill seeking (OR=29.77; 95% CI=3.785–234.11; p=0.001). The hazard monitoring variable did not show a significant association (p=0.054). Physical health factors and driving fitness status also did not show significant associations with risky driving behavior (p>0.05). It can be concluded that psychological distress factors contribute more substantially to risky driving behavior than physical health and sociodemographic factors among AKAP bus drivers. Interventions such as periodic psychological screening, occupational stress management, road safety training, and strengthening occupational health programs should be developed to reduce the risk of traffic accidents among public transportation drivers. Keywords: risky driving behavior, AKAP bus drivers, psychological distress, road safety, occupational health
Read More
T-7615
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendro Kusumo; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Yuni Kusminanti
S-5566
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahma Lisa Oktaviani; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Yuni Kusminanti
S-6210
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syafrijal Fajri; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Abdul Kadir, Ahmad Wildan, Jonter Sitohang
Abstrak:
Mengemudi bus merupakan salah satu jenis pekerjaan yang mempunyai risiko tinggi terhadap kecelakaan lalu lintas. Seorang pengemudi harus selalu mengharapkan  sesuatu  yang        tidak diharapkan, sehingga akan selalu waspada dan sadar serta berhati-hati dalam bertingkah laku saat mengemudikan kendaraan. Safety driving merupakan dasar perilaku mengemudi yang lebih memperhatikan keselamatan khususnya bagi pengemudi itu sendiri dan orang disekitarnya. Safety driving didesain untuk meningkatkan kesadaran pengemudi terhadap segala kemungkinan yang tejadi selama mengemudi. Pentingnya safety driving pada saat berkendara merupakan salah satu pilar dalam mewujudkan keamaan dan keselamatan berlalu lintas dan sangat berpeluang untuk mengurangi kecelakaan yang terjadi. Desain penelitian pada penelitian ini adalah cross sectional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan perilaku berkendara selamat dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 308 pengemudi bus di PT XYZ. Adapun metode pengambilan data dilakukan dengan melakukan pengisian kuesioner kepada responden. Selanjutnya data yang didapatkan diolah secara deskriptif dan inferensial menggunakan software statistik untuk melihat gambaran dan hubungan dari setiap variabel. Variabel independen pada penelitian ini adalah usia, masa kerja, status kebugaran, komunikasi dengan atasan, komunikasi dengan rekan kerja, kondisi jalan, kondisi kendaraan, waktu kerja pengemudi, jarak tempuh, SOP, kebijakan, pengawasan, kompensasi, status kepegawaian, training improvement, dan pemberian reward & punishment. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status kebugaran (POR=6.203 (3.649 – 10.547)), komunikasi dengan atasan (POR=4.025 (2.500–6.478)), kondisi kendaraan (POR=2.602 (1.622-4.173)), waktu kerja pengemudi (POR=2.287 (1.447-3.614)), jarak tempuh (POR=1.904 (1.209-2.998)), SOP (POR=1.850 (1.175-2.913)), kebijakan (POR=1.860 (1.182-2.925)), pengawasan (POR=1.904 (1.209-2.998)), kompensasi (POR=2.570 (1.622-4.072)), training improvement (POR=8.069 (4.790-13.593)), dan pemberian reward & punishment  (POR=2.199 (1.384-3.493)) dengan perilaku berkendara selamat. Sedangkan variabel usia, masa kerja, komunikasi dengan rekan kerja, kondisi jalan, dan status kepegawaian tidak menunjukan adanya hubungan dengan perilaku berkendara selamat. Status kebugaran menjadi faktor dominan yang mempengaruhi perilaku berkendara selamat pada pengemudi bus di PT. XYZ. 

Driving a bus is one of the types of jobs that carries a high risk of traffic accidents. A driver must always expect the unexpected, so they remain vigilant, aware, and cautious in their behavior while driving. Safety driving is a driving behavior foundation that focuses on safety, especially for the driver themselves and those around them. Safety driving is designed to raise driver awareness of all potential events that may occur during driving. The importance of safety driving while driving is one of the pillars in achieving road safety and can significantly reduce the occurrence of accidents. The design of this research is cross-sectional. The aim of this study is to analyze factors associated with safe driving behavior using a quantitative approach. The sample in this study consisted of 308 bus drivers at PT XYZ. Data collection was done by administering questionnaires to the respondents. The data obtained were processed descriptively and inferentially using statistical software to examine the relationships and patterns of each variable. The independent variables in this study include age, years of service, health status, communication with superiors, communication with coworkers, road conditions, vehicle conditions, driving duration, travel distance, SOP, policies, supervision, compensation, employment status, training improvement, and reward & punishment. The results showed a significant relationship between health status (POR = 6.203 (3.649 – 10.547)), communication with superiors (POR = 4.025 (2.500 – 6.478)), vehicle conditions (POR = 2.602 (1.622 – 4.173)), driving duration (POR = 2.287 (1.447 – 3.614)), travel distance (POR = 1.904 (1.209 – 2.998)), SOP (POR = 1.850 (1.175 – 2.913)), policies (POR = 1.860 (1.182 – 2.925)), supervision (POR = 1.904 (1.209 – 2.998)), compensation (POR = 2.570 (1.622 – 4.072)), training improvement (POR = 8.069 (4.790 – 13.593)), and reward & punishment (POR = 2.199 (1.384 – 3.493)) with safe driving behavior. On the other hand, the variables of age, years of service, communication with coworkers, road conditions, and employment status did not show any relationship with safe driving behavior. Health status is a dominant factor that influences safe driving behavior of bus drivers at PT. XYZ.
Read More
T-7225
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Doddy Faizal; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Robiana Modjo, Yuni Kusminanti, Dramayadi
Abstrak: Kecelakaan berkendara diprediksi akan menjadi penyebab kematian tertinggi ke 5 di dunia pada tahun 2030 (WHO, 2009). Di Indonesia sepanjang tahun 2017 terjadi 98.419 kasus kecelakaan di jalan, dengan jumlah meninggal dunia 25.859 jiwa, luka berat 16.159 jiwa (BPS, 2018), dan mobil merupakan salah satu moda transportsi darat yang menyumbang korban. Hal ini mengindikasikan masih rendahnya kesadaran pengemudi di jalan raya, khususnya pengemudi angkutan umum yang masih berperilaku berisiko di jalan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, bertujuan untuk mengetahui faktor perilaku berisiko pada pengemudi angkutan umum di jalan Margonda Depok khususnya angkot KWK T 19, M 04 dan 112 dengan melibatkan pengemudi angkutan umum sebanyak 16 orang sebagai responden menggunakan metode purposive sampling berbasis teori saturation, berhenti mengumpulkan data jika tidak ada lagi informasi yang baru (Mack, 2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengemudi angkutan umum sudah mengetahui teknik mengemudi dan berkendara aman dengan baik dan pemahaman tentang bahaya yang terjadi apabila berperilaku berisiko, namun mereka masih berperilaku berisiko saat berkendara dengan alasan harus memenuhi setoran yang dibayarkan kepada pemilik mobil dan target uang harian harus terpenuhi. Karena itu sosialisasi dan pelatihan keselamatan berkendara perlu dilaksanakan agar mereka lebih memahami pentingnya berkendara aman di jalan dan menjauhi perilaku berisiko
Deaths from driving accidents are predicted to be the fifth highest cause of death in the world in 2030 (WHO, 2009). In Indonesia there were 98,419 cases of road accidents in 2017, with 25,859 deaths, 16,159 serious injuries (BPS, 2018), cars being one of the transportation modes that contributed to the victims. This indicates that driver awareness on the road is still low, especially public transport drivers who are still risky on the road. This study uses qualitative methods, aiming to determine the risk behavior factors in public transport drivers on the Margonda Depok road, especially KWK T 19, M 04 and 112 public transportation by involving 16 public transport drivers as respondents using purposive sampling method based on saturation theory, stop collecting data if there is no new information (Mack, 2005). The results showed that public transport drivers were well aware of safety driving techniques and understand the dangers that occur, but they still behave at risk when driving that they must meet the payment paid to car owners and target daily money must be met. Therefore, socialization and safety driving training need to be carried out for better understanding the importance of driving safely and avoiding at-risk behavior
Read More
T-5759
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Afif Mauludi; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Doni Hikmat Ramdhan, Mufti Wirawan, Widura Imam Mustopo, Adrianto Sugiarto Wiyono
Abstrak:
DKI Jakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki mobilitas tinggi. perkembangan zaman dan teknologi mendorong perkembangan di bidang transportasi, termasuk hadirnya aplikasi ojek online. Meskipun dinilai memiliki banyak manfaat, pengemudi ojek online, sebagai pengemudi sepeda motor roda dua memiliki risiko yang sangat tinggi untuk mengalami kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh perilaku berisiko. Perilaku berisiko pada saat mengemudi dapat dipengaruhi oleh karakteristik individu, persepsi risiko berkendara dan pengetahuan berkendara. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik individu, persepsi risiko berkendara dan pengetahuan berkendara terhadap perilaku berisiko saat mengemudi pada pengemudi ojek online di DKI Jakarta tahun 2021. Penelitian ini diikuti oleh 205 orang responden pengemudi ojek online melalui pengisian kuesioner online. Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar responden pengemudi ojek online di DKI Jakarta memiliki perilaku berisiko yang rendah (87,8%), pengetahuan risiko berkendara yang tinggi (97,1%) dan persepsi risiko berkendara yang tinggi (97,1%). Dari hasil analisis bivariat, diketahui terdapat pengaruh yang bermakna dari pengetahuan berkendara terhadap perilaku berisiko saat berkendara (p-value=0,025) maupun persepsi risiko berkendara terhadap perilaku berisiko saat berkendara (p-value=0,025). Dalam penelitian ini diketahui bahwa faktor dominan yang berpengaruh pada perilaku berisiko saat berkendara adalah sub-variabel dari persepsi risiko berkendara, yaitu pengendalian risiko berkendara. Pada pengemudi ojek online, persepsi risiko berkendara sangat dipengaruhi oleh tekanan ekonomi. Meski perilaku berisiko saat mengemudi cenderung rendah, namun tetap diperlukan pemeliharaan dan peningkatan persepsi risiko dan pengetahuan berkendara secara berkala sehingga dapat mencegah dan mengurangi kejadian kecelakaan lalu lintas

DKI Jakarta is one of the cities in Indonesia that has high mobility. Developments in information and technology also encourage the developments of the transportation sector, including the invention of online motorcycle taxi applications. Although it is considered to have many benefits, online motorcycle taxi drivers have a very high risk of having a traffic accident that caused by risk riding behavior. Risky riding behavior can be influenced by individual characteristics, perceptions of driving risks, and driving knowledge. This study is a cross-sectional study that analyzes the influence of individual characteristics, perceptions of driving risk, and driving knowledge on risky behavior while driving on online motorcycle taxi drivers in DKI Jakarta in 2021. Two hundred five online motorcycle taxi drivers were involved in this study by filling out an online questionnaire. The results of the study, it is known that the majority of online motorcycle taxi drivers in DKI Jakarta respondents have low-risk riding behavior (87.8%), high knowledge of riding practice (97.1%), and good riding risk perceptions (97.1%). From the analysis, it is known that knowledge of riding practice can significantly influence the risky riding behavior (p-value = 0.025) and perceptions of driving risk also can significantly influences the risky riding behavior (p-value = 0.025). Based on binary logistic regression analysis, it is known that the factor that most influences risky riding behavior is a sub-variable of the perception of riding risk, namely perception of driving risk control. This study result also shows that the value of safety based on driving knowledge is not the primary value possessed by online motorcycle taxi drivers in DKI Jakarta. Perception of risk on respondents is strongly related to economic value. Although risky riding behavior tends to be insignificant. However, it is still necessary to regularly maintain and increase the riding risk perception and practice knowledge to prevent and minimize the road accidents
Read More
T-6193
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wito Sugiono; Pembimbing: Wawan Irawan, Chandra Satrya; Penguji: Tata Soemitra
T-2206
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rianita Sulasih Mutifasari; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Baiduri Widanarko, Mila Tejamaya, Muhammad Novie Anshari, Priyo Djatmiko
Abstrak: Stres kerja adalah suatu kondisi dimana satu atau beberapa faktor di tempat kerjaberinteraksi dengan pekerja sehingga mengganggu keseimbangan fisiologi dan psikologi.Bagi seorang pengemudi, stres kerja akan berdampak terhadap menurunnya kinerjasehingga dapat mengancam keselamatan saat berkendara. Oleh karena itu, stres kerjamenjadi salah satu proses yang paling sering dikaitkan dengan perilaku berbahayapengemudi yang dapat mempengaruhi risiko kecelakaan.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi stres kerjapada pengemudi truk muatan barang PT. X.Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kuantitatif observasional denganmenggunakan metode pendekatan potong lintang (cross-sectional). Alat pengumpulandata yang digunakan adalah dengan menggunakan kuesioner dan alat ukur lain, seperticocoro meter, fitbit, tensi meter, dan oksimeter sebagai data pendukung untuk mengetahuifaktor-faktor yang mempengaruhi stres kerja pada pengemudi truk muatan barang PT. X.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 27 responden (60%) mengalami kondisistres ringan dan 18 responden (40%) mengalami stres sedang. Dari faktor individu padapenelitian ini, terdapat hubungan antara kuantitas dan kualitas tidur dengan stres kerjapada pengemudi truk muatan barang PT. X (p<0,05). Dari faktor fisik pada penelitian ini,terdapat hubungan antara waktu istirahat, pekerjaan monoton, jarak tempuh, dankelelahan kerja dengan stres kerja pada pengemudi truk muatan barang PT. X (p<0,05).Sedangkan dari faktor psikososial, yaitu dukungan keluarga dan dukungan rekan kerja,tidak dilakukan analisis bivariat karena data bersifat homogen.Kata kunci:Stres, Stres Kerja, Pengemudi
Occupational stress is a condition in which one or several factors in the workplace interactwith workers, therefore it causes disturbance of the equilibrium both of physiological andpsychological matter. For a driver, occupational stress will impact on the decliningperformance that may threaten the safety while driving. Consequently, occupational stressbecomes one of the most processes which is being related to harmful behavior to driversthat may affect the risk of accidents.The aim of this study is to analyze factors affecting occupational stress on truckload driverof PT. X.This is a quantitative observational study with a cross-sectional method. Data instrumentsare utilizing questionnaire and few additional instruments (e.g. cocoro meter, fitbit,sphygmomanometer, and oximetry) to measure the factors of occupational stress as itssupporting data.The results show 27 respondents (60%) experiencing occupational stress in mild leveland 18 respondents (40%) experiencing occupational stress in moderate level. Accordingto individual factors in this study, there is a relation between the quantity and quality ofsleep with occupational stress on truckload drivers of PT. X (p <0.05). From the physicalfactors in this study, there is a relation between rest hours, monotonous work, mileage,and work fatigue with occupational stress on truckload drivers of PT. X (p <0.05).Otherwise, from psychosocial factors, those are family support and peer support, bivariateanalysis was not performed because the data is homogeneous.Keywords:Stress, Occupational Stress, Driver.
Read More
T-5203
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive