Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39998 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Henny Fatmawati; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dadan Erwandi, Rita Damayanti, Malik Afif, Lulu Ariyantheny Dewi
Abstrak:
Kementerian Kesehatan menetapkan program introduksi vaksinasi HPV yang dilaksanakan secara terintegrasi dengan kegiatan BIAS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan program vaksinasi HPV dan persepsi penerimaan orang tua terhadap vaksinasi HPV pada anak perempuan di SD X Kabupaten Sampang dan SD Y Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam kepada orang tua siswi kelas 5, guru wali kelas 5, tenaga kesehatan di Puskesmas, serta Bagian Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten. Hasil penelitian yaitu kolaborasi lintas sektor dalam sosialisasi pelaksanaan vaksinasi HPV perlu ditingkatkan. Orang tua siswi SD X yang menolak vaksin HPV karena khawatir terhadap efek samping samping dan ketakutan anak terhadap jarum. Pengetahuan orang tua siswi SD X terkait vaksinasi HPV rendah karena tidak mendapatkan informasi dari guru maupun tenaga kesehatan. Orang tua siswi SD Y menerima vaksin HPV karena vaksin bermanfaat untuk anak mereka. Pengetahuan orang tua siswi SDY terkait vaksinasi HPV cukup tinggi. Pemberian informasi di Bangkalan dilakukan dengan 2 metode yaitu tatap muka yang dilakukan tenaga kesehatan kepada guru, dan melalui media sosial Whatsapp group yang dilakukan guru kepada orang tua. Perlu dilakukan sosialisasi kepada guru dan orang tua untuk meningkatkan pengetahuan tentang vaksin HPV, menghilangkan kesalahpahaman tentang vaksin, dan memberikan kejelasan atas pertanyaan dan kekhawatiran, termasuk mengenai KIPI.

The Ministry of Health established an HPV vaccination introduction program that was implemented in an integrated manner with BIAS activities. The purpose of this study was to determine the implementation of the HPV vaccination program and parents' perceptions of acceptance of HPV vaccination for girls at SD X Sampang District and SD Y Bangkalan District, East Java Province. This research is a qualitative research using a case study approach. Data collection was done through in-depth interviews with parents of grade 5 students, homeroom teachers for grade 5, health workers at the Puskesmas, as well as the Surveillance and Immunization Section of the District Health Office. The results of the study are cross-sectoral collaboration in the socialization of the implementation of the HPV vaccination that needs to be improved. Parents of SD X students who refused the HPV vaccine because they were worried about the side effects and their child's fear of needles. The knowledge of parents of SD X students regarding HPV vaccination is low because they did not receive information from teachers or health workers. The parents of SD Y students received the HPV vaccine because the vaccine was beneficial for their child. The knowledge of parents of SDY students regarding HPV vaccination is quite high. The provision of information in Bangkalan was carried out using 2 methods, namely face to face by health workers to teachers, and through social media Whatsapp groups which were carried out by teachers to parents. Socialization needs to be carried out to teachers and parents to increase knowledge about the HPV vaccine, eliminate misunderstandings about vaccines, and provide clarity on questions and concerns, including regarding AEFI.
Read More
T-6822
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marisa Sasuwe; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Toha Muhaimin, Purwanto, Ngabila Salama
Abstrak: ABSTRAK Nama : Marisa Sasuwe Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kesehatan Reproduksi) Judul : Gambaran Kesiapan Guru Pembina UKS SD Sebagai Fasilitator Vaksinasi HPV Dalam Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Di Jakarta Selatan. Vaksinasi HPV memiliki efektivitas paling tinggi bila diberikan pada anak usia 9-12 tahun. Sejak tahun 2016 Indonesia menjadi satu dari sekian banyak negara yang memberlakukan program vaksinasi HPV berbasis sekolah (BIAS), dimana saat ini program ini masih terbatas di DKI Jakarta.Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa vaksinasi HPV berbasis sekolah memiliki angka cakupan paling tinggi. Namun, menurut data di Jakarta, vaksinasi HPV masih belum mencapai target cakupan 95%. Guru pembina UKS sebagai garda terdepan pelaksanaan vaksinasi HPV di sekolah berperan sanga penting dalam proses pengambilan keputusan orang tua untuk mengijinkan atau menolak pemberian vaksinasi bagi anak mereka. Guru adalah fasilitator yang akan berperan memfasilitasi orang tua dan petugas kesehatan dalam pelaksanaan vaksinasi HPV di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Kesiapan Guru Pembina UKS SD Sebagai Fasilitator Vaksinasi HPV Dalam Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Di Jakarta Selatan menurut karakteristik jenis kelamin,umur, tingkat pendidikan, lama menjabat sebagai guru Pembina UKS dan riwayat pelatihan. Pengukuran kesiapan dilihat dalam enam dimensi yaitu peran, sikap, pengetahuan, kapasitas, kapabilitas dan tanggung jawab. Penelitian dilakukan pada 50 Guru pembina UKS SD di 10 Kecamatan Jakarta Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode cross sectional dan menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil Penelitian menunjukkan 52% Guru Pembina UKS di Jakarta Selatan memiliki kesiapan rendah dan 48% memiliki kesiapan tinggi dalam menjalankan tugas sebagai fasilitator vaksinasi HPV BIAS. Dimensi pengetahuan merupakan dimensi kesiapan yang paling rendah, dengan 70% Guru pembina UKS memiliki pengetahuan kurang tentang vaksinasi HPV dan kanker serviks. Karakteristik Individu memiliki hubungan signifikan dengan kesiapan : umur (p= 0.036), lama menjabat (p=0.012) dan riwayat diklat ( p= 0.010). Sedangkan jenis kelamin (p=0.661) dan tingkat pendidikan (p=0.502) tidak ditemukan hubungan signifikan terhadap kesiapan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka pelatihan tentang vaksinasi HPV dalam BIAS bagi Guru pembina UKS merupakan hal yang paling penting untuk dilaksanakan dalam rangka mendukung kesiapan Guru Pembina UKS sebagai fasiliatator vaksinasi HPV BIAS di Jakarta Selatan. Kata Kunci : Vaksinasi HPV. BIAS, Kesiapan Guru pembina UKS ABSTRACT Name : Marisa Sasuwe Study Program : Reproductive Health Judul : Overview of Elementary School Health Teacher (UKS) Readiness as HPV Vaccination Facilitator in the School Children Immunization Month Program (BIAS) in South Jakarta. HPV vaccination has the highest effectiveness when given to children aged 9-12 years. Since 2016 Indonesia has become one of few countries that has implemented a school-based HPV vaccination program (BIAS), which is currently limited to DKI Jakarta. Previous research has shown that school-based HPV vaccination has the highest coverage rates. However, according to data in Jakarta, HPV vaccination has not yet reached the 95% coverage target. UKS teachers as the frontline in implementing HPV vaccination in schools play an important role in the decision-making process of parents to allow or refuse vaccinations for their children. School Health Teacher is the facilitator who will play a role in facilitating parents and health workers in carrying out HPV vaccinations in schools. This study aims to determine the Readiness Overview of Elementary School Health Teacher (UKS) as Facilitators of HPV Vaccination in the School Children Immunization Month Program (BIAS) in South Jakarta according to the characteristics of gender, age, level of education, length of time serving as a UKS Teacher and training history. Measurement of readiness is seen in six dimensions, namely roles, attitudes, knowledge, capacity, capabilities and responsibilities. The study was conducted on 50 UKS elementary school teachers in 10 sub-districts of South Jakarta. This research is a descriptive study with cross sectional method and uses a quantitative approach. The results showed that 52% of UKS teachers in South Jakarta had low readiness and 48% had high readiness in carrying out their duties as facilitators of BIV HPV vaccination. The knowledge dimension is the lowest readiness dimension, with 70% of UKS teachers having less knowledge about HPV vaccination and cervical cancer. Individual characteristics have a significant relationship with readiness: age (p = 0.036), length of service (p = 0.012) and training history (p = 0.010). While gender (p = 0.661) and education level (p = 0.502) no significant relationship was found in readiness in this study. Based on the results of this study, the training on HPV vaccination in BIAS for UKS Teachers is the most important thing to do in order to support the readiness of the UKS Guidance Teacher as a facilitator for BIV HPV vaccination in South Jakarta. Keywords: HPV vaccination, BIAS, elementary school health teacher, readiness
Read More
T-5790
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ike Kurnia; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Sabarinah, Dakhlan Choeron, Emi Nurjasmi
Abstrak:

Tesis ini membahas keterkaitan persiapan orang tua pada keluarga childbearing terhadap kejadian stunting di Kabupaten Solok yang ada di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2024 untuk mencari hubungan dan penjelasan mengenai kemungkinan faktor risiko terjadinya kasus stunting. Metode penelitian kuantitatif dengan desain kasus kontrol (case control). Pengumpulan data primer dilakukan di komunitas melalui wawancara menggunakan kuesioner. Sampel penelitian ini adalah 184 orang ibu anak balita usia 24-59 bulan yang terdiri dari 92 orang ibu anak stunting dan 92 orang ibu anak tidak stunting di Kabupaten Solok, menggunakan teknik sampling acak bertingkat (multi-stage sampling) tahap dua. Pengolahan data melalui tahap editing, coding, processing, dan cleaning. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa persiapan orang tua memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting (p=0.05) di Kabupaten Solok. Orang tua dengan persiapan yang kurang baik memiliki peluang 2,92 kali lebih tinggi untuk memiliki anak stunting (OR=2.92 95% 1.38-6.19) dibandingkan orang tua dengan persiapan yang baik. Variabel karakteristik sosial demografi ibu yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah faktor tingkat pendidikan ibu (p=0.008) serta Tingkat kesejahteraan keluarga KS III dan III plus (p=0.049). Ibu yang hanya menempuh pendidikan hingga jenjang SMP atau kurang berpeluang 2,26 kali lebih tinggi untuk memiliki anak stunting (OR=2.26 95% 1.24-4.10). Ibu yang berada di Keluarga Sejahtera III dan III plus berpeluang 0,45 kali lebih tinggi untuk memiliki anak tidak stunting (OR=0.45 95% 0.20-1.00). Sedangkan faktor umur ibu saat melahirkan, riwayat kehamilan, interval persalinan, tingkat kesejahteraan keluarga, status tempat tinggal, dan status sanitasi tempat tinggal tidak berhubungan dengan kejadian stunting. Tingkat pendidikan ibu dan status sanitasi tempat tinggal merupakan variabel confounding hubungan persiapan orang tua dengan kejadian stunting. Dengan tingkat pendidikan ibu dan status sanitasi tempat tinggal yang serupa, orang tua dengan persiapan kurang baik berpeluang 2,82 kali lebih tinggi memiliki anak stunting (OR=2.82 95% 1.282-6.218).


This thesis discusses the relationship between parental preparation in childbearing families and the incidence of stunting in Solok Regency, West Sumatra Province in 2024 to find relationships and explanations regarding possible risk factors for stunting cases. Quantitative research method with case-control design. Primary data collection was conducted in the community through interviews using questionnaires. The sample of this study was 184 mothers of toddlers aged 24-59 months consisting of 92 mothers of stunted children and 92 mothers of non-stunted children in Solok Regency, using a second-stage multi-stage sampling technique. Data processing through editing, coding, processing, and cleaning stages. Data analysis was carried out univariately, bivariately and multivariately.  This study found that parental preparation had a significant relationship with the incidence of stunting (p = 0.05) in Solok Regency. Parents with poor preparation have a 2.92 times higher chance of having stunted children (OR=2.92 95% 1.38-6.19) compared to parents with good preparation. The socio-demographic characteristics of mothers that are related to the incidence of stunting are the mother's education level (p=0.008) and the family welfare level of KS III and III plus (p=0.049). Mothers who only have education up to junior high school level or less have a 2.26 times higher chance of having stunted children (OR=2.26 95% 1.24-4.10). Mothers who are in Family Welfare III and III plus have a 0.45 times higher chance of having non-stunted children (OR=0.45 95% 0.20-1.00). Meanwhile, the factors of mother's age at delivery, pregnancy history, delivery interval, family welfare level, residential status, and residential sanitation status are not related to the incidence of stunting. The level of maternal education and the sanitation status of the residence are confounding variables in the relationship between parental preparation and the incidence of stunting. With similar levels of maternal education and sanitation status of the residence, parents with poor preparation are 2.82 times more likely to have stunted children (OR=2.82 95% 1,282-6,218).

Read More
T-7366
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ani Anisah; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Agustin Kusumayati, Marina Damajanti
S-5967
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maryuni; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Dumilah Ayuningtya, Evi Martha, Flourisa J. Sudrajat, Hasnerita, Hartono
T-4201
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Setiorini; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yus Rizal, Moh. Nur Nasiruddin
Abstrak: Perempuan pengungsi korban bencana rawan mengalami gangguan mental emosionalbaik disebabkan oleh pengalaman traumatik yang dialaminya maupun karena harushidup dalam segala keterbatasan di pengungsian. Pemenuhan kebutuhan akan pangan,air bersih, kamar mandi dan jamban, tempat penampungan, dan bilik asmaradiperkirakan memiliki hubungan yang bermakna dengan gangguan mental emosionalpada perempuan pengungsi di kabupaten Karo. Penelitian dengan desain studideskriptif cross sectional dilakukan dengan mengambil data primer melaluiwawancara pada 244 responden di 37 lokasi penampungan pengungsi di kabupatenKaro. Hasil analisis bivariat, variabel yang menunjukkan hubungan yang bermaknaadalah variabel status kehamilan (OR=0,17), kebutuhan pangan (OR=7,25), air bersih(OR=4,78), dan tempat penampungan (OR=4,88). Sedangkan dari hasil analisismultivariat memperlihatkan bahwa variabel pemenuhan kebutuhan pengungsi yangpaling berpengaruh terhadap gangguan emosional pada perempuan pengungsi adalahvaraiabel pemenuhan kebutuhan pangan dengan nilai OR = 7,2 Dari hasil penelitianini menunjukkan bahwa pengelolaan pemenuhan kebutuhan pengungsi belummemenuhi standar minimal yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan,diharapkan dengan melakukan pengelolaan pengungsi yang sesuai standar minimaldapat mengurangi risiko gangguan mental emosional pada pengungsi khususnya padaperempuan.Kata Kunci: pengungsi, pemenuhan kebutuhan pengungsi, gangguan mentalemosional pada pengungsi.
Read More
T-4186
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R.Lita Ayuningdyah; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Evi Martha, Endah Caroline Wuryaningsih, Astrid Sarawaty, Hasnerita Hartono
Abstrak:

ABSTRAK Nama : R. Lita Ayuningdyah Program Studi : Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Peminatan : Kesehatan Reproduksi Judul : Penerimaan orangtua terhadap vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV) melalui kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di Kecamatan Tanah Abang Tahun 2017 Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui penerimaan orangtua terhadap vaksinasi HPV melalui kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di DKI Jakarta Tahun 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah  Mix Methods, yaitu secara kuantitatif dengan pengisian kuesioner dan kualitatif dengan wawancara mendalam. Hasil penelitian kuantitatif didapatkan 92,7% orangtua menerima vaksinasi HPV yang diberikan melalui kegiatan BIAS. Sementara itu, pada hasil penelitian kualitiatif ditemukan bahwa penolakan orang tua merupakan salah  satu  kendala yang ditemui dalam pelaksanaan BIAS HPV tahun 2016. Kurangnya pengetahuan orang tua terkait manfaat vaksin HPV, sangat berkaitan dengan kurangnya dukungan dari petugas kesehatan, terutama perihal sosialisasi program BIAS HPV. Kata Kunci : Penerimaan, Orangtua, Vaksinasi HPV, BIAS.


ABSTRACT Name : R. Lita Ayuningdyah Study Program : Magister of Public Health Peminatan : Reproductive Health Judul : Parental Acceptance of Human Papilloma Virus (HPV) Vaccination through School Students Immunization Month (BIAS) In Tanah Abang, In 2017 The study was designed to explore the Parental Acceptance of Human Papilloma Virus (HPV) Vaccination through School Students Immunization Month (BIAS) In DKI Jakarta in 2017. This study using quantitative method by filling questionnaires dan qualitative method with in-depht interview. The result from quantitative research found that  92,7% of parents accept the HPV vaccination that given through BIAS. Meanwhile, the result from qualitative research found that parental’s rejection is one of the obstacles encountered in the implementation of HPV BIAS 2016. The lack of parental knowledge regarding the benefits of HPV vaccine, is strongly related to the lack of support from healthcare workers, especially regarding the socialization of the HPV BIAS program. Keywords : Acceptance, Parental, Vaccination, HPV, BIAS

Read More
T-5022
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ema Maratus Sholihah A.; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Hadi Pratomo, Rita Damayanti, Syafriyal
Abstrak: ABSTRAK Latarbelakang:Tidak tercapainya target imunisasi Hepatitis B di Desa Cerukcuk Kecamatan Tanara dan adanya orangtua yang menolak imunisasi maka penting untuk mengetahui penyebab orangtua menolak imunisasi Hepatitis B. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab orangtua menolak imunisasi hepatitis B dengan memodivikasi determinan Vaccine Hesitancy dan Health Belief Model . Metode: penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mewawancara ibu dengan bayi usia 0-3 bulan yang menolak imunisasi Hepatitis B dan melakukan observasi pada pelayanan imunisasi. Hasil: perilaku orangtua yang menolak imunisasi hepatitis B disebabkan karena pengetahuan yang rendah tentang penyakit Hepatitis B dan imunisasinya, persepsi orangtua tentang hambatan melakukan imunisasi yang lebih besar dibanding manfaatnya, besarnya peran dukun, pengaruh pengambilan keputusan oleh keluarga, masih adanya kepercayaan pada pengobatan tradisional, adanya pengalaman tidak menyenangkan terkait imunisasi, sosial ekonomi yang rendah, peran tenaga kesehatan yang belum maksimal dalam pemberian informasi imunisasi, serta peran masyarakat yang kurang dalam mendukung iunisasi. Kesimpulan: peningkatan pengetahuan orangtua tentang penyakit hepatitis B dan imunisasinya perlu ditingkatkan didahului dengan pendekatan oleh tenaga kesehatan bekerjasama dengan dengan tokoh agama dan dukun melalui kegiatan-kegiatan non kesehatan dan kunjungan rumah untuk komunikasi interpersonal dan edukasi imunisasi.. Kata kunci: Penolakan imunisasi, keraguan terhadap imunisasi, hepatitis B, penggerakan masyarakat existence of parents who refused immunization so it is important to know the cause of the parents refused immunization Hepatitis B. This study aims to identify the cause of parents reject hepatitis B immunization by modifying the determinants of vaccine hesitancy and Health Belief Model . Method: This study used qualitative methods by interviewing mothers with infants aged 0-3 months who rejected hepatitis B immunization and observed immunization services. Results: the behavior of parents who reject hepatitis B immunization is due to poor parental knowledge about Hepatitis B disease and its immunization, parental perception of immunization constraints greater than the benefits, the magnitude of the dukun's role, the influence of family decision-making, the belief in traditional medicine, discomfort related to immunization, low social economy, the role of health workers who have not been maximized in providing immunization information, as well as the role of people who lack support in iunisasi. Conclusions: Increased parental knowledge about hepatitis B disease and its immunization needs to be increased preceded by approaches by health workers in collaboration with religious leaders and traditional healers through non-health activities and home visits for interpersonal communication and immunization education Keywords: Refused immunization, vaccine hesitancy,communication, hepatitis B, social mobilitation
Read More
T-5402
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
ST Khumaidah; Pembimbing: Besral; Penguji: Milla Herdayati, Evi Martha, Teti Tejayanti, Weni Muniarti
Abstrak:
Jumlah remaja Indonesia berusia 10-24 tahun menurut BPS 2018 berkisar 25% dari jumlah total penduduk Indonesia. Masa remaja sangat rentan terhadap berbagai masalah kesehatan terutama yang bersumber dari perilaku seksual seksual berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak program Posyadu Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja Suku Tengger di Kecamatan Tosari Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Besar sampel dalam penelitian ini 233 responden remaja berusia 10-24 tahun yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu; 72 responden mengikuti Posyandu Remaja secara Rutin sedangkan 161 responden tidak mengikuti Posyandu Remaja Dalam penelitian ini dampak Posyandu Remaja terhadap perilaku seksual berisikiko masih sangat kecil sehingga dalam perhitungan statistik hasilnya tidak signifikan. Meningkatkan kapasitas kader remaja melalui pelatihan dan pembinaan penting dilakukan untuk optimalisari program.

The number of Indonesian sdolescence aged 10-24 years according to BPS 2018 is around 25 % of the total population in Indonesia. Adolescence is very vulnerable to various health problems, especially those originating from risky sexual sexual behavior. This study aims to look at the impact of the Posyadu Remaja program on Tengger Adolescent Reproductive Health in Tosari, East Java. This research is a quantitative research with cross sectional approach. The sample size in this study was 233 respondents of adolescents aged 10-24 years, divided into two groups, namely; 72 respondents attend the Posyandu Remaja routinely while 161 respondents do not take the Posyandu Remaja. Multivariate analysis results show that variables related to knowledge are age, education and information sources of health workers. Variables related to attitude are knowledge, information sources from posyandu remaja, teachers and parents. Variables related to high-risk sexual behavior are attitude variables, sources of information from parents or family, age, level of education and level of knowledge. Attitude is the most dominant variable with high risk sexual behavior p value = 0.001 (OR: 17.68, 95% CI: 4.36 - 71.70). In this study, Posyandu Adolescents are not related to adolescent knowledge, attitudes or sexual behavior. Increasing the capacity of youth cadres through training and coaching is important to be done to optimize the program.

Read More
T-5934
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fransiska Meyanti; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Agustin Kusumayati, Rina Artining Anggorodi, Maria J. Adrijanti, Nelly Tina Widjaja
T-3357
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive