Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33487 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nadia Indawarie Zachra; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Salimar
Abstrak:
Hipertensi pada dewasa muda cenderung tidak disadari oleh penderitanya sehingga tidak terkontrol dengan baik. Hal ini membahayakan sebab hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik dan berkelanjutan hingga tua dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Selain itu, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur terus meningkat setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran prevalensi hipertensi, hubungan antara faktor risiko hipertensi dengan kejadian hipertensi dan mengetahui faktor dominan kejadian hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari – April 2021. Populasi pada penelitian ini adalah kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur. Total sampel yang termasuk ke dalam kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 1.947 sampel. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 60,3% kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur sering mengonsumsi makanan tinggi natrium, 58,9% sering mengonsumsi minuman manis, 57% sering mengonsumsi makanan tinggi lemak, dan 97,8% kurang mengonsumsi buah dan sayur. Hasil analisis chi-square menunjukkan bahwa daerah tempat tinggal dan status gizi lebih memiliki hubungan dengan kejadian hipertensi. Berdasarkan hasil analisis univariat menunjukkan bahwa status gizi lebih merupakan faktor dominan kejadian hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2018 dengan nilai OR = 2,655 (95% CI: 2,156 – 3,270). Peneliti menyarankan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur untuk memberikan Komunikasi, Informasi dan Edukasi gizi baik melalui sosialisasi, media cetak, ataupun media sosial agar dapat melakukan penurunan berat badan dengan menerapkan gaya hidup sehat, menggalakkan layanan Posbindu PTM keliling yang diadakan di daerah dengan tingkat masyarakat yang berisiko tinggi mengalami hipertensi yakni daerah pedesaan dan daerah yang kurang akses pelayanan kesehatan, dan bekerjasama dengan pihak perusahaan untuk menyediakan alat ukur tekanan darah otomatis untuk memantau tekanan darah dan timbangan berat badan untuk memantau berat badan pekerja.

Hypertension in young adults tends to go unnoticed by the sufferer so that it is not well controlled. This is dangerous because hypertension that is not well controlled and sustained until old age can have a negative impact on health. In addition, the prevalence of hypertension in young adults aged 25-34 years in East Kalimantan continues to increase every year. This study aims to determine the prevalence of hypertension, the relationship between risk factors for hypertension and the incidence of hypertension and determine the dominant factors for the incidence of hypertension in the age group 25-34 years in East Kalimantan Province in 2018. The research design used was cross-sectional. This research was conducted in January - April 2021. The population in this study were young adults aged 25-34 years in East Kalimantan Province. The total sample included in the inclusion and exclusion criteria was 1,947 samples. This study used secondary data from Riskesdas 2018. The results showed that 60.3% of young adults aged 25-34 years in East Kalimantan often consume foods high in sodium, 58.9% often consume sugary drinks, 57% often consume foods high in fat, and 97.8% consume less fruits and vegetables. The results of chi-square analysis showed that the area of residence and nutritional status had more association with the incidence of hypertension. Based on the results of univariate analysis, it shows that overnutrition status is a dominant factor in the incidence of hypertension in young adults aged 25-34 years in East Kalimantan in 2018 with an OR value = 2.655 (95% CI: 2.156 - 3.270). Researchers suggest the East Kalimantan Provincial Health Office to provide Communication, Information and Education on nutrition either through socialization, print media, or social media in order to lose weight by implementing a healthy lifestyle, promoting mobile Posbindu PTM services held in areas with a high level of community risk of hypertension, namely rural areas and areas with less access to health services, and working with companies to provide automatic blood pressure measuring devices to monitor blood pressure and weight scales to monitor workers' weight.
Read More
S-11232
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sharon Ferrani; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Trini Sudiarti, Kencana Sari
Abstrak:

Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia, dengan konsekuensi serius seperti stroke dan penyakit jantung koroner jika tidak segera ditangani. Dalam beberapa tahun terakhir, hipertensi semakin banyak terjadi pada dewasa muda, khususnya mereka yang berusia 25-34 tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada dewasa muda di Provinsi Jawa Barat tahun 2018 serta tindakan pencegahan melalui pengendalian faktor risiko. Desain penelitian yang digunakan adalah cross- sectional dengan sampel sebanyak 1.059 responden usia 25-34 tahun di Jawa Barat. Analisis data dilakukan menggunakan seperangkat komputer. Berdasarkan hasil analisis data, sebesar 22,7% responden mengalami hipertensi, dengan hipertensi sistolik sebesar 9,8% dan hipertensi diastolik sebesar 20,6%. Responden perempuan memiliki prevalensi hipertensi yang lebih tinggi (27,2%) dibandingkan dengan laki-laki (21,8%). Faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan hipertensi meliputi jenis kelamin (p=0,001), indeks massa tubuh (IMT) (p=0,000), dan kebiasaan merokok (p=0,000). Untuk hipertensi sistolik, faktor signifikan adalah IMT (p=0,000), konsumsi makanan tinggi lemak (p=0,002), kebiasaan merokok (p=0,004), dan stres (p=0,024), sedangkan untuk hipertensi diastolik, faktor yang berpengaruh signifikan meliputi jenis kelamin (p=0,000), IMT (p=0,000), asupan natrium (p=0,015), dan kebiasaan merokok (p=0,00). IMT diidentifikasi sebagai faktor dominan. IMT tinggi meningkatkan risiko hipertensi tiga kali lipat (OR=3,003). Penelitian lebih lanjut direkomendasikan untuk mengeksplorasi faktor-faktor lain yang mempengaruhi hipertensi dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan langkah-langkah pencegahan, seperti pengendalian asupan garam, menjaga IMT, mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak, terutama yang ditargetkan pada kelompok dewasa muda.


Hypertension is a major health problem in Indonesia, with serious consequences such as stroke and coronary heart disease if not treated immediately. In recent years, hypertension has been increasingly common in young adults, especially those aged 25-34 years. The purpose of this study was to identify factors associated with the incidence of hypertension in young adults in West Java Province in 2018 and preventive measures through risk factor control. The study design used was cross-sectional with a sample of 1,059 respondents aged 25-34 years in West Java. Data analysis was carried out using a computer set. Based on the results of data analysis, 22.7% of respondents had hypertension, with systolic hypertension of 9.8% and diastolic hypertension of 20.6%. Female respondents had a higher prevalence of hypertension (27.2%) compared to male respondents (21.8%). Factors significantly associated with hypertension included gender (p=0.001), body mass index (BMI) (p=0.000), and smoking habits (p =0.001). For systolic hypertension, significant factors were BMI (p=0.001), high-fat food consumption (p=0.002), smoking habit (p=0.004), and stress (p=0.024), while for diastolic hypertension, significant factors included gender (p=0.000), BMI (p=0.000), sodium intake (p=0.015), and smoking habit (p=0.000). BMI was identified as the dominant factor. High BMI increased the risk of hypertension threefold (OR=3.003). Further studies are recommended to explore other factors associated with hypertension and increase public awareness of preventive measures, such as controlling salt intake, maintaining BMI, reducing high-fat food consumption, especially targeting young adults.

Read More
S-11815
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Nur Sarah Sudrajat; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang L. Achadi, Agus Triwinarto
Abstrak: Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kejadian hipertensi dengan berbagai faktor risiko yang mencakup karakteristik demografi, status gizi, gaya hidup, pola diet, dan stres di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2018. Desain penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juli 2021. Populasi pada penelitian ini adalah dewasa muda usia 19-24 tahun di Provinsi Kalimantan Selatan. Total sampel yang termasuk dalam kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 1.459 sampel.Kejadian hipertensi dianalisis untuk diketahui prevalensi hipertensi sistolik, diastolik, dan gabungan (sistolik dan diastolik) dan ditemukan hipertensi diastolik memiliki prevalensi paling tinggi (14,1%).
Read More
S-10711
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Layra Azkadzkiya Arradhin; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Sandra Fikawati, Khoirul Anwar
Abstrak:
Hipertensi merupakan kondisi peningkatan tekanan darah yang terus menerus tinggi di atas batas normal. Data saat ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan prevalensi hipertensi pada dewasa muda usia 25-34 tahun di Indonesia, tetapi banyak dewasa muda yang kurang menyadari jika mereka mengalami hipertensi sehingga hipertensi menjadi tidak terkontrol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran prevalensi hipertensi, hubungan antara hipertensi dengan faktor risiko hipertensi, serta mengetahui faktor dominan kejadian hipertensi pada dewasa muda usia 25-34 tahun di Provinsi Jawa Barat tahun 2023. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional menggunakan data sekunder SKI 2023 dengan sampel aktual sebanyak 6.105 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 18,9% dewasa muda usia 25-34 tahun mengalami hipertensi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin, status pekerjaan, konsumsi buah dan sayur, Indeks Massa Tubuh, lingkar perut, status konsumsi rokok, dan stres memiliki hubungan yang signifikan dengan hipertensi. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsumsi buah dan sayur merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan hipertensi pada dewasa muda usia 25-34 tahun di Provinsi Jawa Barat tahun 2023 dengan nilai OR = 2,741 (95%CI: 1,449 – 5,182). Berdasarkan temuan tersebut, pemenuhan konsumsi buah dan sayur harian penting dalam pencegahan hipertensi pada dewasa muda, serta diperlukan lingkungan yang mendukung penerapan perilaku konsumsi buah dan sayur melalui implementasi program CERDIK, optimalisasi program Cek Kesehatan Gratis dan Posyandu ILP, serta kolaborasi lintas sektor untuk melaksanakan program pencegahan hipertensi di lingkungan kerja. 

Hypertension is a condition of continuously elevated blood pressure above the normal  threshold. Current data shows an increasing prevalence of hypertension among young adults  aged 25–34 years in Indonesia. However, many young adults are unaware if they have  hypertension, resulting in uncontrolled blood pressure. The purpose of this study was to  determine the prevalence of hypertension, the association between hypertension and its  various risk factors, and to determine the dominant factor contributing to hypertension  among young adults aged 25–34 years in West Java Province in 2023. The research design  used was cross-sectional using secondary data from SKI 2023 with an actual sample of 6.105  samples. The results showed that 18,9% of young adults aged 25-34 years had hypertension.  The results of bivariate analysis showed that gender, employment status, fruit and vegetable  consumption, Body Mass Index, abdominal circumference, cigarette consumption, and  stress had a significant association with hypertension. Multivariate analysis showed that fruit  and vegetable consumption was the dominant factor associated with hypertension in young  adults aged 25-34 years in West Java Province in 2023, with an odds ratio (OR) of 2,741  (95% CI: 1,449–5,182). Based on these findings, adequate daily consumption of fruits and  vegetables is essential for hypertension prevention among young adults. It is also necessary  to create supportive environments to implement fruit and vegetable consumption behavior  through the implementation of the CERDIK program, optimization of Integrated Primary  Health Services (ILP) through Posyandu, and collaboration to implement workplace-based  hypertension prevention programs.
Read More
S-11957
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Rahmadany; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Banun Rohimah
Abstrak:
Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah yang persisten dengan nilai tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg berdasarkan rata-rata dua atau lebih pengukuran tekanan darah. Prevalensi hipertensi di Provinsi Kalimantan Tengah menempati peringkat tertinggi di Indonesia, yakni 40,7%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan faktor dominan yang berhubungan dengan hipertensi pada penduduk usia 25–44 tahun di Provinsi Kalimantan Tengah. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Analisis data yang digunakan meliputi analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan uji chi-square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4.929 sampel, sebanyak 35,7% mengalami hipertensi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia 25–44 tahun di Provinsi Kalimantan Tengah yakni umur, riwayat pendidikan, status pekerjaan, obesitas, dan obesitas sentral. Konsumsi buah menjadi faktor dominan setelah dikontrol oleh variabel konsumsi sayur dan konsumsi makanan olahan berpengawet sebagai confounder, dengan peningkatan risiko sebesar 7,4 kali pada individu yang tidak pernah mengonsumsi buah dalam satu minggu dan 4,15 kali pada individu yang kurang mengonsumsi buah jika dibandingkan dengan individu yang mengonsumsi buah dalam jumlah cukup (14 porsi/minggu).
Hypertension is defined as a persistent increase in blood pressure, with systolic values ≥140 mmHg and/or diastolic values ≥90 mmHg, based on the average of two or more blood pressure measurements. The prevalence of hypertension in Central Kalimantan Province is the highest in Indonesia, at 40.7%. This study aims to determine related factors and dominant factors related to hypertension in the population aged 25-44 years in Central Kalimantan Province. A cross-sectional design was used, utilizing data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI 2023). Data analysis included univariate analysis using frequency distribution, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistics regression. The results showed that out of 4,929 samples, 35.7% had hypertension. The factors significantly associated with the incidence of hypertension among individuals aged 25–44 years in Central Kalimantan Province include age, educational background, employment status, obesity, and central obesity. Fruit consumption is the dominant factor after being controlled by consumption of vegetables and consumption of processed foods preserved as confounders. Individuals who never consumed fruit in the past week had a 7.4 times higher risk of hypertension, while those who consumed less fruit (
Read More
S-12005
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sabrina Kalila Sono; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Siti Romlah
Abstrak:
Stunted merupakan kondisi dimana anak mempunyai perawakan pendek atau sangat pendek akibat malnutrisi kronis, dengan tinggi badan menurut umur kurang dari -2 Standar Deviasi. Masa remaja merupakan periode kritis kedua untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan dan mencegah stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunted pada remaja usia 10-14 tahun di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah desain penelitian cross sectional menggunakan data sekunder hasil survei Riskesdas tahun 2018 dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 6.032 responden. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis univariat, analisis bivariat menggunakan chi square dan regresi logistik ganda, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunted di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 49,1%, dengan faktor rumah tangga dan orang tua (jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan orang tua, status pekerjaan ibu), lingkungan (sumber air minum, wilayah tempat tinggal, perilaku mencuci tangan), konsumsi protein hewani, dan aktivitas fisik yang berhubungan signifikan dengan kejadian stunted (p < 0,05). Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunted pada remaja adalah tingkat pendidikan ayah (p = 0,0001; OR = 1,973; 95% CI: 1,392-2,797).

Stunted is a condition where a child has a short or very short stature due to chronic malnutrition, with a height-for-age less than -2 Standard Deviations. Adolescence is the second critical period for catching up on growth and preventing stunting. This study aims to identify the dominant factors associated with stunting in adolescents aged 10-14 years in East Nusa Tenggara Province. The research method used is a cross-sectional study design utilizing secondary data from the 2018 Riskesdas survey with a total sample of 6,032 respondents. Data analysis in this study includes univariate analysis, bivariate analysis using chi-square and multiple logistic regression, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that the prevalence of stunted adolescents in East Nusa Tenggara Province was 49.1%, with household and parental factors (number of family members, parents' education level, mother's employment status), environmental factors (source of drinking water, place of residence, handwashing behavior), animal proteins consumption, and physical activity significantly associated with stunting (p < 0.05). The dominant factor associated with stunting in adolescents is the father's education level (p = 0.0001; OR = 1.973; 95% CI: 1.392-2.797).
Read More
S-11739
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farisa Lukman Gismar; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Ananda
Abstrak:
Obesitas sentral merupakan kondisi penumpukan lemak berlebih pada bagian abdomen (perut) dan terkait dengan peningkatan risiko penyakit kardiometabolik yang ditandai oleh indikator lingkar perut >80 cm untuk perempuan dan >90 cm untuk laki-laki. Prevalensi obesitas sentral di DKI Jakarta, yang merupakan ibukota negara, menempati peringkat tertinggi kedua di Indonesia, yakni 41,9% dengan prevalensi obesitas sentral pada perempuan mencapai 55,2%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan obesitas sentral pada perempuan usia produktif (15-59 tahun) di DKI Jakarta. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data Riskesdas 2018. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan uji chi-square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4307 perempuan, sebanyak 61,8% mengalami obesitas sentral. Faktor dominan obesitas sentral pada perempuan usia produktif (15-59 tahun) di DKI Jakarta adalah status pernikahan (AOR = 2,933).

Central obesity is a condition of excess fat accumulation in the abdomen (visceral fat) and is associated with an increased risk of cardiometabolic disease characterized by an abdominal circumference >80 cm for women and >90 cm for men. The prevalence of central obesity in DKI Jakarta, the nation's capital, is the second highest in Indonesia at 41.9% with the prevalence of central obesity in women reaching 55.2%. This study aims to determine the dominant factors and factors associated with central obesity in women of productive age (15-59 years) in DKI Jakarta. This research design is cross-sectional using Riskesdas 2018 data. Data analysis included univariate analysis using frequency distribution, bivariate analysis using chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that out of 4307 women, 61.8% had central obesity. The dominant factor of central obesity in women of productive age (15-59 years) in DKI Jakarta is marital status (AOR = 2.933).
Read More
S-11767
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hesty Ghaits Mubarrok; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Agus Triwinarto
Abstrak:

Latar Belakang: Hipertensi Sistolik Terisolasi (HST) didefinisikan sebagai kondisi dimana tekanan darah sistolik ≥140 mmHg sedangkan tekanan darah diastolik < 90 mmHg. HST dinilai sebagai fenomena penuaan, merupakan jenis hipertensi paling berbahaya karena berespon lemah terhadap obat antihipertensi. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan faktor dominan yang berhubungan dengan HST, dengan desain penelitian cross-sectional. Metode: Data yang digunakan yaitu Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 dengan sampel sebesar 18.599 (HST dan normal) serta subjek yang HST yaitu 1.471, dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 7,9% sampel yang mengalami hipertensi sistolik terisolasi (HST), dengan 85% sampel mengalami HST derajat I, 12,8% HST derajat II, dan 8,8% HST derajat III; terdapat hubungan signifikan antara umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status perkawinan, obesitas, obesitas sentral, stres psikologis, diabetes mellitus, konsumsi makanan asin, konsumsi makanan berlemak, dan aktivitas fisik terhadap kejadian HST, serta tidak ada hubungan antara konsumsi buah, konsumsi sayur, kebiasaan merokok dengan kejadian HST di Indonesia pada tahun 2018. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah tingkat pendidikan menjadi faktor dominan kejadian HST di Indonesia adalah tingkat pendidikan (OR = 2,14) setelah dikontrol variabel kebiasaan merokok.


 

Background: Isolated Systolic Hypertension (HST) is defined as a condition where the systolic blood pressure is ≥140 mmHg while the diastolic blood pressure is <90 mmHg. HST is considered a phenomenon of aging, is the most dangerous type of hypertension because it responds weakly to antihypertensive drugs. Objective: The aim of this study is to determine the associated factors and dominant factors associated with HST, with a cross-sectional research design. Method: The data used was Basic Health Research (Riskesdas) in 2018 with a sample of 18,599 (HST and normal) and 1,471 HST subjects, and analyzed using the chi-square test and logistic regression. Results: The results of this study showed that 7.9% of samples experienced isolated systolic hypertension (HST), with 85% of samples experiencing HST grade I, 12.8% HST grade II, and 8.8% HST grade III; there is a significant relationship between age, gender, education level, employment status, marital status, obesity, central obesity, psychological stress, diabetes mellitus, consumption of salty foods, consumption of fatty foods, and physical activity on the incidence of HST, and there is no relationship between consumption of fruit, vegetable consumption, smoking habits with the incidence of HST in Indonesia in 2018. Conclusion: The conclusion of this study is that the level of education that is the dominant factor in the incidence of HST in Indonesia is the level of education (OR = 2.14) after controlling for the smoking habit variable.

Read More
S-11743
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cindy Cuandra; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Siti Romlah
Abstrak:
Stunting adalah masalah gizi kronis berupa gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat tiga faktor utama, yaitu asupan gizi yang tidak adekuat, infeksi secara terus-menerus, dan stimulasi psikososial yang tidak baik yang diukur melalui indikator PB/U atau TB/U < -2 SD. Berdasarkan SKI (2023), prevalensi kejadian stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (37,9%) lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi nasional di Indonesia (21,6%). Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya faktor dominan kejadian stunting pada baduta (0-23 bulan) berdasarkan kelompok umur di Nusa Tenggara Timur tahun 2023. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data hasil SKI 2023 dengan jumlah sampel adalah 735 baduta 0-23 bulan di NTT. Analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat untuk melihat distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan chi-square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menemukan bahwa ada 24% baduta 0-23 bulan yang mengalami stunting. Faktor dominan stunting pada baduta kelompok umur 0-5 bulan, 6-11 bulan, dan 12-23 bulan adalah berat badan lahir rendah (OR: 10,156), status pekerjaan ibu (OR: 3,154), dan tinggi badan ibu (OR: 6,077). Pada kelompok umur 0-5 bulan, ditemukan interaksi antara berat badan lahir (p-value 0,0001) dan status imunisasi (p-value 0,043) dengan riwayat penyakit infeksi. 

Stunting is a chronic nutritional problem characterized by impaired growth and development due to three main factors: inadequate nutritional intake, persistent infections, and poor psychosocial stimulation, which is measured using the height-for-age (HAZ) indicator < -2 SD. According to SKI (2023), the prevalence of stunting in East Nusa Tenggara Province (37,9%) is higher than the national prevalence in Indonesia (21,6%). The purpose of this study is to identify the dominant factors of stunting incidence in infants and young children based on age groups in East Nusa Tenggara. This research used a cross-sectional design with data from SKI 2023, involving a sample of 735 children aged 0-23 months in East Nusa Tenggara. Data analysis included univariate analysis to observe frequency distribution, bivariate analysis using chi-square, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The study found that 24% of children aged 0-23 months experienced stunting. The dominant factors for stunting among children in the age groups 0-5 months, 6-11 months, and 12-23 months were low birth weight (OR: 10,156), mother's employment status (OR: 3,154), and mother's height (OR: 6,077). In the 0-5 months age group, an interaction was found between low birth weight (p-value 0,0001) and immunization status (p-value 0,043) with a history of infectious diseases.
Read More
S-11911
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shilla Ananda; Pemimbing: Triyanti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak: Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Anak dikatakan mengalami stunting jika tinggi badan terhadap usia mereka <-2 standar deviasi (SD) (WHO, 2015). Pada tahun 2022, angka stunting di Indonesia adalah 24,2%. Selain itu, angka prevalensi stunting di Provinsi Maluku pada tahun 2022, masuk ke peringkat ke-13 nasional yaitu 26,1% (SSGI, 2022). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan stunting pada anak usia 6-23 bulan di Provinsi Maluku berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional serta memanfaatkan data sekunder SSGI tahun 2022 dengan jumlah sampel sebesar 1954 baduta. Data dianalisa dengan uji chi square dan regresi logistic ganda. Hasil dari analisa bivariate penelitian ini, menunjukan bahwa variabel yang memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting diantaranya yaitu: jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, dan tingkat pendidikan ibu. Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta (usia 6-23 bulan) di provinsi Maluku tahun 2022 yaitu tingkat pendidikan ibu nilai OR sebesar 2.645. Saran untuk faktor dominan. Saran dari penelitian ini, diharapkan program pendidikan minimal hingga lulus SMA lebih digencarkan, serta memaksimalkan program 1000 HPK untuk mencegah terjadinya BBLR dan PBLR, dalam rangka mengurangi kasus stunting di Provinsi Maluku.
Stunting is a growth and development disorder experienced by children due to malnutrition, repeated infections, and inadequate psychosocial stimulation. A child is considered to be stunted if their height for age is <-2 standard deviations (SD) (WHO, 2015). In 2022, the stunting rate in Indonesia was 24.2%. Additionally, the prevalence of stunting in Maluku Province in 2022 is 26,1% which ranked 13th nationally (SSGI, 2022). The aim of this study is to identify the dominant factors of stunting in children aged 6-23 months in Maluku Province based on data from the Indonesian Nutrition Status Study (SSGI) 2022. This quantitative research uses a cross-sectional design and utilizes secondary data from SSGI 2022 with a sample size of 1954 toddlers. Data were analyzed using chi-square tests and multiple logistic regression. The results of the bivariate analysis indicate that the variables significantly associated with the occurrence of stunting include: gender, birth weight, birth length, and maternal education level. The dominant factor associated with the occurrence of stunting in toddlers (aged 6-23 months) in Maluku Province in 2022 is the level of maternal education, with an odds ratio (OR) of 2.645. Based on the result, the research suggests to intensifying educational programs until high school graduation and optimizing the 1000 Days Program to prevent Low Birth Weight (LBW) and Short Birth Length (SBL), thereby reducing stunting cases in Maluku Province..
Read More
S-11832
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive