Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34783 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Cornelia Lugita Santoso; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Sandra Fikawati, Fadila Wirawan
Abstrak:
Pada masa menyusui, kebutuhan gizi ibu mengalami peningkatan. Periode ini merupakan periode penting bagi ibu untuk mengembalikan cadangan gizi ibu setelah melahirkan serta memastikan terpenuhinya kebutuhan energi tambahan untuk menyusui. Namun, berbagai penelitian menemukan bahwa asupan energi ibu menyusui belum memenuhi angka kecukupan yang direkomendasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berkaitan dengan asupan energi ibu menyusui di Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional ini menggunakan data sekunder. Terdapat 217 ibu menyusui pada penelitian ini. Analisis data dilakukan dengan uji chi square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas ibu menyusui di Kecamatan Sawangan memiliki asupan energi yang tidak adekuat (78,3%). Keragaman konsumsi pangan (p-value 0,006) dan frekuensi makan (p-value 0,015) merupakan faktor yang berkaitan dengan asupan energi ibu menyusui. Faktor dominan yang berhubungan dengan asupan energi pada ibu menyusui adalah keragaman konsumsi pangan. Ibu menyusui yang konsumsinya tidak beragam berisiko 2,507 kali lebih tinggi untuk mengonsumsi energi tidak adekuat dibandingkan ibu dengan konsumsi beragam, setelah dilakukan kontrol terhadap variabel lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan intervensi pada ibu menyusui salah satunya dengan pemberian makanan tambahan agar dapat memenuhi kebutuhan gizinya sehingga dapat memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama 6 bulan.

Nutritional needs of mothers are increased during lactation. This period is crucial to replenish their nutrient reserves after childbirth and ensure the fulfillment of additional energy requirements for lactation. However, various studies have reported that energy intake of lactating mothers still falls short of the recommended adequacy levels. This study aimed to identify factors associated with energy intake among lactating mothers at Sawangan District, Depok City. This quantitative study with a cross-sectional design utilizing secondary data. There were 217 lactating mothers included in this study. Data analysis was performed using the chi-square test and binary logistic regression. This study revealed that the majority of lactating mothers at Sawangan District had inadequate energy intake (78,3%). Dietary diversity (p-value 0,006) and eating frequency (p-value 0,015) were found to be factors associated with the energy intake of lactating mothers. The dominant factor was dietary diversity. Breastfeeding mothers who had less diverse food consumption were at a 2,507 times higher risk of having inadequate energy intake compared to mothers with diverse consumption, after controlling for other variables. Therefore, interventions are needed, including the provision of supplementary food, to help lactating mothers meet their nutritional needs and continue providing exclusive breastfeeding for 6 months.
Read More
S-11273
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bonnita Nur Kamila; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Trini Sudiarti
Abstrak:
Status gizi ibu menyusui berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) penting untuk diperhatikan karena hal ini berimplikasi pada kesehatan ibu dan anak. Status gizi ibu menyusui merupakan faktor risiko penting pada produksi Air Susu Ibu (ASI) yang penting terhadap pemenuhan gizi bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran proporsi status gizi ibu menyusui serta karakteristik dan asupan ibu menyusui dan analisis hubungannya di kelurahan terpilih Kecamatan Sawangan, Kota Depok tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang menggunakan data sekunder. Pengambilan data primer dilakukan pada bulan Juli 2022 hingga Februari 2023. Hasil analisis data menunjukkan bahwa sebagian besar ibu menyusui berada dalam kategori status gizi gemuk (52,9%) dan disusul ibu dengan status gizi tidak gemuk (47,1%). Tidak ada hubungan signifikan antara status gizi ibu menyusui dengan usia ibu, tingkat pendidikan, status bekerja, kecukupan asupan energi, kecukupan asupan protein, kecukupan asupan lemak, kecukupan asupan karbohidrat, riwayat penyakit selama kehamilan, paritas, pendapatan rumah tangga, dan pengetahuan ibu. Terdapat hubungan signifikan antara status gizi ibu menyusui dan dukungan suami terhadap konsumsi ibu (p-value = 0,049). Hal ini menunjukkan diperlukan penguatan edukasi gizi berbasis keluarga serta peningkatan keterlibatan suami dalam mendukung pola makan dan kesehatan ibu menyusui guna mencegah risiko status gizi gemuk dan dampaknya terhadap kesehatan ibu dan bayi.

The nutritional status of breastfeeding mothers based on Body Mass Index (BMI) is important to note as it has implications for the health of the mother and child. The nutritional status of breastfeeding mothers is an important risk factor for the production of breast milk which is important for fulfilling infant nutrition. This study aims to describe the proportion of nutritional status among breastfeeding mothers, as well as their characteristics and dietary intake, and to analyze the associated factors in several selected sub-districts in Sawangan District, Depok City in 2023. This study used a quantitative approach with a cross-sectional design using secondary data. The data was collected from July 2022 to February 2023. Data analysis showed that most breastfeeding mothers were in the category of overweight nutritional status (52,9%) dan followed by mothers with non-overweight nutritional status (47,1%). There was no significant relationship between the nutritional status of breastfeeding mothers and the mother's age, education level, employment status, adequacy of energy intake, protein intake, fat intake, & carbohydrate intake, history of illness during pregnancy, parity, household income, and mother’s knowledge. There was significant relationship between husband's support for maternal consumption and the nutritional status of breastfeeding mothers (p-value = 0,049). These findings indicate the need to strengthen family-based nutrition education and increase husbands’ involvement in supporting the dietary practices and health of breastfeeding mothers to prevent the risk of overweight nutritional status and its impact on maternal and infant health.
Read More
S-12187
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisa Ilhami Irgananda; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Eka Rosiyati, Fadila Wirawan
Abstrak:
Pada masa kehamilan terjadi peningkatan kebutuhan gizi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil asupan energinya belum mencukupi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kecukupan energi ibu hamil di kelurahan terpilih di Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder dan analisis data menggunakan uji chi square dan regresi logistik ganda. Terdapat 225 orang ibu hamil dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas ibu hamil di kelurahan terpilih di Kecamatan Sawangan mengalami ketidakcukupan energi (63,1%). Asupan energi dan zat gizi makro dari makanan (p-value 0,000), konsumsi minuman khusus ibu hamil (p-value 0,026), pengetahuan ibu (p-value 0,006), frekuensi makan (p-value 0,001), dan keragaman makan (p-value 0,019) merupakan faktor yang berhubungan dengan kecukupan energi ibu hamil. Faktor dominan yang berhubungan dengan kecukupan energi ibu hamil adalah konsumsi minuman khusus ibu hamil. Ibu hamil yang tidak mengonsumsi minuman khusus ibu hamil berisiko 9,086 kali lebih tinggi untuk mengalami ketidakcukupan energi dibandingkan dengan ibu yang tidak mengonsumsi setelah dikontrol oleh variabel asupan energi dan zat gizi makro, pengetahuan ibu, frekuensi makan, dan keragaman makan. Oleh karena itu perlu dilakukan intervensi berupa pemberian edukasi untuk mengonsumsi makanan secara teratur dan menerapkan gizi seimbang dalam kebiasaan makan.

During pregnancy, energy and nutrient requirements increase. Several studies have shown that pregnant women have inadequate energy intake. This study aims to determine factors with energy adequacy of pregnant women at selected village in Sawangan Sub District, Depok City. This quantitative research with cross-sectional study design used secondary data, and data analysis was conducted using Chi-square test and multiple logistic regression. There were 225 pregnant women in this study. The results of this study showed that the majority of pregnant women in selected villages in Sawangan Subdistrict experienced energy deficiency (63.1%). Energy and macronutrient intake from meal (p-value 0,000), consumption of commercial milk formula-pregnant (p-value 0.026), maternal knowledge (p-value 0.006), meal frequency (p-value 0.001) and dietary diversity (p-value 0.019) were factors associated with energy adequacy of pregnant women. The dominant factor associated with energy adequacy in pregnant women is consumption of commercial milk formula-pregnant. Pregnant women who did not consume commercial milk formula-pregnant had a 9.086 times higher risk of energy inadequacy compared to those who did, after controlled by energy and macronutrient intake from meal, maternal knowledge, meal frequency, and dietary diversity. For this reason, pregnant women need education about eating regularly and the importance of a balanced diet.
Read More
T-6891
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Emalia Suryani; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Endang Laksminingsih, Anies Irawati, Yosnelli
Abstrak: Rekomendasi angka kecukupan gizi menunjukan lebih tingginya kebutuhan energi dan protein saat laktasi dibandingkan saat hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi energi dan protein pada ibu menyusui di Kecamatan Beji Depok tahun 2016. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari studi intervensi gizi (Fikawati, 2015) yang menggunakan design penelitian kohort prospective pada ibu menyusui di Kota Depok. Sampel penelitian berjumlah 201 ibu menyusui yang dipantau hingga 6 bulan postpartum sejak Juni 2015-Juli 2016. Penelitian ini dilakukan secara cross sectional menggunakan analisis uji chi-square. Variabel yang diteliti adalah usia ibu, paritas, jumlah balita, frekuensi menyusui, konsumsi energi ibu saat hamil, status gizi ibu postpartum, pendidikan, status bekerja ibu, dan pengeluaran biaya makanan keluarga. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan bermakna antara konsumsi energi ibu hamil dengan konsumsi ibu menyusui dan konsumsi protein ibu hamil dengan konsumsi ibu menyusui. Ibu yang konsumsi energi saat hamilnya rendah beresiko 6 kali lebih besar untuk mengonsumsi energi yang rendah selama menyusui setelah dikontrol dengan variabel status gizi ibu postpartum dan status ibu bekerja ibu yang konsumsi protein saat hamilnya rendah beresiko 2 kali lebih besar untuk mengonsumsi protein yang rendah selama menyusui. Direkomendasikan perlunya informasi kepada ibu tentang pentingnya konsumsi energi dan protein saat menyusui karena kebutuhannya yang tinggi penting dalam produksi ASI selama periode menyusui. Kata kunci : konsumsi energi dan protein, ibu menyusui Recommended nutritional adequacy rates show higher energy and protein requirements during lactation than during pregnancy. In fact, lactating mothers consumed lower energy and protein. This study aims to determine factors related to energy and protein consumption in lactating mothers in Beji Depok sub-district in 2016. This study used secondary data from a nutrition intervention study (Fikawati, 2015) using a prospective cohort study design in lactating mothers in Kota Depok. The sample of the study were 201 breastfeeding mothers who were monitored for up to 6 months postpartum from June 2015-July 2016. This study was conducted cross sectional using chi-square test analysis. The variables studied were maternal age, parity, number of infants, breastfeeding frequency, maternal energy consumption during pregnancy, postpartum maternal nutritional status, education, mother's working status, and family food expenses. The results showed a significant relationship between energy consumption of pregnant women with the consumption of breastfeeding mothers and protein consumption of pregnant women with breastfeeding mothers consumption. Mothers with low energy consumption during pregnancy are 6 times more likely to consume low energy during breastfeeding after controlled by maternal postpartum status variables and maternal working mother status when protein consumption at low pregnancy is twice as likely to consume low protein during breastfeeding . It is recommended that mother be informed of the importance of energy and protein consumption while breastfeeding because of the high importance of breast milk production during the breastfeeding period. Keywords : energy and protein consumption, lactating mothers
Read More
T-4991
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wawan Gunawan; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Triyanti, Siti Arifah Pujonarti, Eka Rosiyati, Farida
Abstrak:
Anemia Gizi Besi pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena dapat berdampak buruk pada kesehatan ibu dan janin yang sedang berkembang. Tablet Tambah Darah (TTD) merupakan suplemen bagi ibu hamil yang bermanfaat mencegah dan mengobati anemia selama kehamilan. Masih rendahnya tingkat kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil dipengaruhi oleh banyak faktor. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan terhadap kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi TTD di Kelurahan Terpilih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan desain studi cross-sectional dengan populasi seluruh ibu hamil yang melakukan pemeriksaan sejak awal kehamilan hingga melahirkan di kelurahan terpilih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Hasil penelitian: Dari 224 orang ibu, sebanyak 72.8% tidak patuh mengonsumsi TTD selama hamil. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kepatuhan konsumsi TTD adalah usia Ibu. Ibu dengan usia tidak beresiko memiliki peluang untuk tidak patuh mengonsumsi TTD sebesar 2.729 kali dibandingkan dengan ibu yang memiliki usia berisiko, setelah di kontrol oleh pendidikan suami, dukungan suami, pekerjaanibu, pengetahuan ibu, keterpaparan media sosial dan efek samping. Diperlukan KIE (komunikasi, Informasi dan Edukasi) tentang manfaat konsumsi TTD dan dampak anemia pada ibu hamil yang tidak patuh mengonsumsi TTD.

Iron Nutritional Anaemia in pregnant women is a significant public health problem as it can adversely affect the health of the mother and the developing fetus. Blood Additive Tablets (TTD) are a supplement for pregnant women that is beneficial to prevent and treat anemia during pregnancy. Many factors influence the low compliance rate of TTD consumption among pregnant women. The purpose of the study was to determine what factors are associated with pregnant women's compliance in consuming TTD in Selected Village, Sawangan Subdistrict, Depok City. This study used secondary data with a cross-sectional study design with a population of all pregnant women who had examinations from the beginning of pregnancy to childbirth in selected villages in Sawangan Subdistrict, Depok City. Results: Of 224 mothers, as many as 72.8% were not compliant with taking TTD during pregnancy. The most dominant variable associated with adherence to TTD consumption was maternal age. Mothers with non-risk age had a chance to be non-compliant in taking TTD by 2.729 times compared to mothers with risk age, after controlling by husband's education, husband's support, mother's occupation, mother's knowledge, exposure to social media, and side effects. KIE (communication, information, and education) on the benefits of TTD consumption and the impact of anemia on non-adherent pregnant women consuming TTD is needed.
Read More
T-6898
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kholifah Uswatun Khasanah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Eti Rohati, Ahmad Syafiq
Abstrak: Diare merupakan salah satu penyakit infeksi yang menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas anak serta sering menimbulkan terjadinya KLB di beberapa provinsi di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada baduta di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok tahun 2020. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan menggunakan desain studi cross-sectional. Variabel kejadian diare pada baduta digunakan sebagai variabel dependen, sementara variabel independen menggunakan data karakteristik lingkungan, perilaku, gizi, dan sosiodemografi. Data kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 11,3% baduta mengalami diare dalam 1 bulan terakhir. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jarak SGL/SPT dengan TPA/TPS, kebiasaaan memotong kuku baduta, riwayat ASI Eksklusif dan penghasilan kepala rumah tangga dengan kejadian diare pada baduta usia 6-24 bulan.
Diarrhea is an infectious disease that causes child morbidity and mortality and often causes outbreaks in several provinces in Indonesia. The purpose of this study was to determine the factors associated with the incidence of diarrhea in children under two in the Pasir Putih Village, Sawangan District, Depok City in 2020. This study used secondary data with a cross-sectional study design. Incidence of diarrhea in children under two was used as the dependent variable, while the independent variable used was environmental, behavioral, nutritional, and sociodemographic characteristics. The data were then analyzed by univariate and bivariate analysis. The results showed that as many as 11.3% of children under two experienced diarrhea in the last 1 month. The results of the bivariate analysis showed that there was a significant relationship between the distance of well from nearest landfill/laystall, the habit of cutting children's nails, the history of exclusive breastfeeding and the income of the head of the household with the incidence of diarrhea in children aged 6-24 months.
Read More
S-11102
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggi Morika Septie; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Aisyah Rosalinda
S-6726
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nuha Mufidah; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Doddy Izwardi
Abstrak: Target cakupan ASI eksklusif oleh Kemenkes RI sebesar 50% masih sulit dilaksanakan. Berbagai studi menunjukkan bahwa prevalensi ASI eksklusif di Indonesia masih rendah. Pada kenyataannya, jumlah bayi yang benar-benar mendapat ASI eksklusif jauh lebih sedikit dari angka nasional sehingga dalam penelitian ini digunakan istilah ASI predominan. Namun, kampanye ASI eksklusif perlu terus dilanjutkan karena setidaknya akan meningkatkan prevalensi ASI predominan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan lama pemberian ASI predominan di Kecamatan Beji, Depok tahun 2016. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional yang dilakukan pada 140 orang ibu menyusui. Uji yang dilakukan adalah uji chi-square untuk analisis bivariat, serta uji regresi logistik ganda untuk analisis multivariat. Hasil menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat pendidikan yang rendah, status ekonomi kurang mampu, asupan energi <80% AKG (<2080 kkal/hari), serta asupan protein dan lemak <80% AKG akan berisiko untuk memberikan ASI predominan kurang dari 6 bulan. Asupan energi ibu menyusui merupakan faktor dominan (OR = 5,42) terhadap lama pemberian ASI predominan. Selama 6 bulan pertama menyusui, ibu yang asupan energinya <80% AKG (<2080 kkal/hari) berisiko 5 kali lebih besar untuk memberikan ASI predominan kurang dari 6 bulan dibandingkan dengan ibu yang asupan energinya ≥80% AKG (≥2080 kkal/hari). Sangat penting melakukan peningkatan asupan energi selama menyusui sesuai anjuran, sebab gizi pada ibu menyusui sangat erat hubungannya dengan produksi ASI. Hasil ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk program dan kebijakan promosi kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan pemberian ASI eksklusif di Indonesia serta memberi masukan kepada ibu menyusui untuk meningkatkan asupan energinya selama menyusui agar semua ibu bisa memberikan ASI eksklusif sampai 6 bulan. Kata kunci: asupan energi, ibu menyusui, ASI predominan
Read More
S-9099
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qoriatusholihah; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Syahidah Asma Amani
Abstrak:
KEK merupakan tidak tercukupinya zat gizi yang dibutuhkan tubuh akibat kekurangan makanan dalam jangka waktu lama yang ditandai dengan ukuran LiLA <23,5 cm. Remaja perempuan merupakan salah satu kelompok yang rentan mengalami KEK. Menurut Riskesdas (2018), remaja perempuan menjadi kelompok dengan prevalensi KEK tertinggi di Indonesia (36,3%) yang jika dikategorikan berdasarkan klasifikasi masalah kesmas menurut WHO termasuk prevalensi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok serta faktor dominannya. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan total sampel 240 responden. Data dianalisis menggunakan uji bivariat chi-square dan uji multivariat regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 44,6% remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok berisiko KEK. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi, asupan zat gizi makro, pendapatan orang tua, pengetahuan terkait gizi, body image, dan pengaruh media sosial dengan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok. Namun tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dan pekerjaan orang tua dengan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok. Pengetahuan terkait gizi merupakan faktor dominan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok (OR=10,294)

CED) is a condition of insufficient nutrients needed by the body due to long-term food shortage, characterized by an MUAC <23.5 cm. Adolescent girls are one of the groups vulnerable to CED. According to the 2018 Riskesdas, adolescent girls have the highest prevalence of CED in Indonesia (36.3%), which, when categorized based on WHO's classification of public health problems, is considered a high prevalence. This study aims to determine the factors associated with the risk of CED in female high school students in Depok City and its dominant factor. This study used a cross-sectional design with a total sample of 240 respondents. Data were analyzed using chi-square and multiple logistic regression. The results showed that 44.6% of female high school students in Depok City were at risk of CED. There were significant relationships between energy intake, macronutrient intake, parental income, nutrition-related knowledge, body image, and social media influence with the risk of CED in female high school students in Depok City. However, there was no significant relationship between parental education and occupation with the risk of CED in female high school students in Depok City. Nutrition-related knowledge was the dominant factor for CED risk in female high school students in Depok City (OR=10.294).

Read More
S-11572
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shabrina Nur Kamilah; Pembimibing: Ahmad Syafiq; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Tria Astika Endah Permatasari
Abstrak:
Asupan kalsium merupakan hal yang krusial pada remaja seiring terjadinya percepatan pertumbuhan dan pembetukkan tulang yang intensif. Namun asupan kalsium pada remaja masih kurang memenuhi kebutuhan yang dianjurkan. Padahal asupan kalsium yang tidak adekuat dapat berdampak pada peak bone mass yang tidak optimal sehingga dapat berakibat pada penurunan massa tulang (osteopenia) yang berujung pada osteoporosis maupun patah tulang di usia lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran asupan kalsium pada remaja SMA Negeri Kota Depok tahun 2024 serta hubungannya dengan kebiasaan konsumsi susu, kebiasaan sarapan, kebiasaan konsumsi soft drink, aktivitas fisik, jenis kelamin, pengetahuan tentang kalsium, pendidikan ayah, pendidikan ibu, pendapatan orang tua. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan total sampel 209 remaja dan pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret-Mei 2024. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner dan asupan kalsium diukur melalui wawancara food recall 2x2 jam. Data dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 72,2% remaja memiliki asupan kalsium yang kurang dari kebutuhan (<80% AKG) dengan rata-rata 654,1±354,4 mg. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan konsumsi susu (p <0,001 OR 19,36), kebiasaan sarapan (p <0,001 OR 4,59), kebiasaan konsumsi soft drink (p = 0,023 OR 2,37), jenis kelamin (p = 0,040 OR 1,89), pengetahuan tentang kalsium (p = 0,003 OR 5,53), dan aktivitas fisik (p = 0,013 OR 2,27) dengan asupan kalsium. Remaja perlu meningkatkan konsumsi susu, membiasakan sarapan pagi, serta mengurangi konsumsi soft drink. Peningkatan aktivitas fisik diiringi dengan asupan kalsium yang adekuat sangat dibutuhkan untuk mencapai peak bone mass yang optimal.

Calcium is one of the most essential nutrient especially in adolescents due to growth spurt period and intensive bone development. However most adolescents fail to achieve the recommended calcium intake. Inadequate calcium intake can contribute to low peak bone mass and increasing the risk of osteopenia, which can lead to osteoporosis and fragility fracture later in life. This study aims to describe calcium intake among public high school adolescents in Depok City in 2024 and its relationship with milk consumption, breakfast habits, soft drink consumption, physical activity, gender, knowledge about calcium, father's education, mother's education, and parental income. Study design is cross-sectional with a total of 209 sample during March-May 2024. Data was collected through questionnaire and calcium intake was measured by 2x24-hour food recall. Data were analyzed by chi-square test. The results showed that 72.2% of adolescents had calcium intake less than their requirements (<80% RDA) with an average of 654.1±354.4 mg. Bivariate analysis results showed significant relationships between milk consumption (p <0.001, OR 19.36), breakfast habits (p <0.001, OR 4.59), soft drink consumption (p = 0.023, OR 2.37), gender (p = 0.040, OR 1.89), calcium knowledge (p = 0.003, OR 5.53), and physical activity (p = 0.013, OR 2.27) with calcium intake. Adolescents need to increase milk consumption, adopt breakfast habit, and reduce soft drink consumption. Physical activity and adequate calcium intake are important to reach the optimum peak bone mass (PBM).
Read More
S-11763
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive