Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31314 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nabilah Huwaida; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dian Ayubi, Ratna Tri Hari Safariningsih
Abstrak:
Aktivitas fisik dapat mencegah berbagai macam penyakit menular dan meningkatkan kesehatan seseorang, baik pada usia muda, maupun tua. Proporsi aktivitas fisik di Kota Depok memasuki peringkat 10 besar dengan aktivits fisik terendah di Jawa Barat, dengan angka 60,55%. Di Universitas Indonesia (UI) sendiri sebagai salah satu universitas di Kota Depok, angka aktivitas fisik pada mahasiswa masih menjadi masalah dilihat dari adanya peningkatan proporsi aktivitas fisik rendah dari tahun 2018 (28,2%) ke tahun 2022 (47,4%) serta masih tingginya angka PTM (obesitas dan hipertensi) pada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku aktivitas fisik pada mahasiswa UI tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Data penelitian dikumpulkan melalui pengisian kuesioner secara daring oleh 237 mahasiswa UI. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil penelitian menunjukkan 142 mahasiswa (59,9%) aktif secara fisik. Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status tempat tinggal (p=0,028; OR=2,145; 95% CI 1,124 – 4,090), sikap (p=0,042; OR=1,789; 95% CI 1,056 – 3,029), dan dukungan teman (p=0,021; OR=1,923; 95% CI 1,134 – 3,261) dengan perilaku aktivitas fisik mahasiswa. Status tempat tinggal dan dukungan teman merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan aktivitas fisik, mahasiswa yang tidak tinggal bersama keluarga inti atau tinggal sendiri serta memiliki dukungan teman yang baik berpeluang 2 kali lebih besar untuk aktif secara fisik. Maka dari itu, peningkatan fasilitas olahraga, pengembangan program intervensi promosi kesehatan terkait aktivitas fisik, dan anjuran untuk beraktivitas fisik perlu dilakukan sebagai upaya mendorong mahasiswa untuk menjadi lebih aktif.

Physical activity can prevent various infectious diseases and improve one's health, both in young and old age. The proportion of physical activity in Depok City ranks among the top 10 with the lowest physical activity rates in West Java, which reach 60.55%. At the University of Indonesia (UI), which is one of the universities in Depok, the level of physical activity among students is still a concern, as evidenced by the increasing proportion of low physical activity from 28.2% in 2018 to 47.4% in 2022, as well as the high prevalence of non-communicable diseases (obesity and hypertension) among students. This research aims to identify the factors associated with physical activity behavior among UI students in 2023. The study adopts a cross-sectional design, which the data were collected through online questionnaires completed by 237 students. The data were analyzed using chi-square test and independent t-test to examine the relationship between independent and dependent variables. The results of the study indicate that 142 students (59.9%) are physically active. The research also shows a significant relationship between residential status (p=0.028; OR=2.145; 95% CI 1.124 – 4.090), attitude (p=0.042; OR=1.789; 95% CI 1.056 – 3.029), and friends’ support (p=0.021; OR=1.923; 95% CI 1.134 – 3.261) with students' physical activity behavior. Residential status and friends’ support are the dominant factors associated with physical activity. Students who do not live with their nuclear family or live alone and have good social support from friends are twice as likely to be physically active. Therefore, improving sports facilities, develop health promotion intervention programs related to physical activity, and encourage students to engage in physical activities should be made as efforts for the students to be more active.
Read More
S-11296
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Anisya; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Annisa Marlin Masbar Rus
Abstrak: Latar Belakang: Rokok elektronik saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Selama 10 tahun terakhir terdapat peningkatan signifikan pengguna rokok elektronik di Indonesia antara tahun 2011 hingga 2021 yaitu dari 0,3% menjadi 3,0%. Penelitian terdahulu di Universitas Indonesia menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan rokok elektronik secara rutin mencapai 50%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan studi cross-sectional. Hasil: Hasil uji chi square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara faktor-faktor jenis kelamin (p=0,021), pengetahuan (p=0,027), perceived susceptibility (p=<0,001), perceived severity (p=<0,001), perceived benefits (p=<0,001), perceived barriers (p=<0,001), self-efficacy (p=<0,001), dan cue to action (p=<0,001) dengan perilaku penggunaan rokok elektronik. Namun pada faktor umur ditemukan tidak ada hubungan yang signifikan (p=0,062). Diskusi: Faktor-faktor dalam Health Belief Model seperti faktor demografi (jenis kelamin dan pengetahuan), perceived susceptibility, perceived severity, benefits, barriers, self-efficacy, dan cue to action terbukti berpengaruh terhadap perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa.
Background: Electronic cigarettes have now become part of the lifestyle. Over the past 10 years, there has been a significant increase in electronic cigarette users in Indonesia between 2011 and 2021, from 0.3% to 3.0%. Previous research at the University of Indonesia showed that the frequency of regular use of electronic cigarettes reached 50%. Objectives: This study aims to analyze the factors associated with electronic cigarette use behavior among students of the Faculty of Engineering, University of Indonesia. Methods: This research uses a quantitative design with a cross-sectional study. Results: The results of the chi-square test showed a significant relationship between the factors of gender (p = 0.021), knowledge (p = 0.027), perceived susceptibility (p = <0.001), perceived severity (p = <0.001), perceived benefits (p = <0.001), perceived barriers (p = <0.001), self-efficacy (p = <0.001), cue to action (p = <0.001) with the behavior of using electronic cigarettes. However, the age factor found no significant relationship (p=0.062). Conclusion: Factors in the HBM such as demographic factors, perceived susceptibility, perceived severity, benefits, barriers, self-efficacy, and cue to action are proven to influence the behavior of using electronic cigarettes in college students. 
Read More
S-11863
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Muthia Taufik; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dian Ayubi, Anna Theresia Mangarani Saragih
Abstrak:
Aktivitas fisik merupakan salah satu faktor penting dalam pencegahan penyakit tidak menular. Meskipun demikian, data mengenai aktivitas fisik dan faktor-faktor yang berhubungan dengannya pada tingkat kecamatan masih terbatas, termasuk di Kecamatan Tarumajaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan aktivitas fisik pada masyarakat Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi tahun 2026. Sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik yang cukup (89,27%). Mayoritas responden berusia dewasa awal, berjenis kelamin laki-laki, memiliki pekerjaan dengan aktivitas fisik pasif, pengetahuan yang baik mengenai aktivitas fisik, mendapatkan dukungan tetangga, serta menilai fasilitas aktivitas fisik di lingkungannya mendukung. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa dukungan keluarga berhubungan signifikan dengan aktivitas fisik (p=0,023; OR=3,01; 95% CI=1,13–8,03). Sementara itu, usia, jenis kelamin, pekerjaan, pengetahuan, dukungan tetangga, dan fasilitas aktivitas fisik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan aktivitas fisik. Mayoritas masyarakat Kecamatan Tarumajaya telah memenuhi rekomendasi aktivitas fisik yang dianjurkan. Dukungan keluarga merupakan faktor yang berhubungan dengan aktivitas fisik, sedangkan faktor individu, dukungan tetangga, dan fasilitas aktivitas fisik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.

Physical activity is an important factor in preventing non-communicable diseases. However, evidence regarding physical activity and its associated factors at the sub-district level remains limited, including in Tarumajaya District. This study aimed to analyze factors associated with physical activity among the community of Tarumajaya District, Bekasi Regency, in 2026. A cross-sectional study was conducted among 205 residents of Tarumajaya District. Data were collected through an online questionnaire. Physical activity was measured using the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) and categorized based on MET-minutes/week. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test. Most respondents had sufficient physical activity levels (89.27%). The majority were young adults, male, had physically passive occupations, possessed good knowledge of physical activity, received neighborhood support, and perceived local physical activity facilities as supportive. Bivariate analysis showed that family support was significantly associated with physical activity (p=0.023; OR=3.01; 95% CI=1.13–8.03). In contrast, age, sex, occupation, knowledge, neighborhood support, and physical activity facilities were not significantly associated with physical activity. Most residents of Tarumajaya District met the recommended level of physical activity. Family support was significantly associated with physical activity, while individual factors, neighborhood support, and physical activity facilities showed no significant association.
Read More
S-12317
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agnes Butet Hanis; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Rita Damayanti, Dewi Damayanti
Abstrak: Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku aktivitas fisik masyarakat dewasa Kecamatan Cinere. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. 196 masyarakat dewasa Kecamatan Cinere berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi kuesioner daring yang disebarkan lewat media sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa 75% masyarakat dewasa Kecamatan Cinere masih kurang beraktivitas fisik. Persepsi manfaat dan hambatan aktivitas fisik, jenis kelamin, IMT, dukungan keluarga dan teman merupakan faktor yang berhubungan dengan perilaku aktivitas fisik.
Read More
S-10716
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oryza Yanuaristi; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Dwi Adi Maryandi
Abstrak: Data Kementrian Kesehatan (2012) dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
 
(2012) menunjukkan bahwa infeksi menular seksual dan angka kehamilan tidak diinginkan
 
terbesar dialami oleh golongan remaja dan dewasa muda. Hal ini merupakan dampak dari perilaku
 
seksual pranikah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor
 
yang mempengaruhi perilaku seksual mahasiswa Universitas Indonesia. Penelitian ini
 
menggunakan data sekunder Survei Perilaku Sehat Mahasiswa Universitas Indonesia Tahun 2010.
 
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian
 
adalah mahasiswa yang mewakili 12 fakultas dengan rentang umur remaja akhir (18-24 tahun)
 
yang berjumlah 1819 responden. Proporsi perilaku seksual berisiko tinggi pranikah adalah 137
 
(7,5%). Hasil analisis menunjukkan bahwa umur mempengaruhi perilaku seksual mahasiswa, lakilaki
 
lebih beresiko (OR=2,39) dibanding perempuan, rumpun fakultas yang memiliki resiko paling
 
besar adalah Rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora (OR=15,46), mahasiswa yang pernah
 
berpacaran memilki resiko lebih besar (OR=2,31) daripada mahasiswa yang belum pernah
 
berpacaran
 

 
Data from the Ministry of Health (2012) and the National Population and Family Planning (2012) showed that sexually transmitted infections and unwanted pregnancies most common in adolescents and young adults group. This is the impact of premarital sexual behavior. The purpose of this research is to reveal premarital sexual behavior and factors that influence the students at the University of Indonesia. This study uses secondary data survey of health behavior 2010. The type of this research is quantitative with cross sectional approach. The study population was all students who represent 12 faculties with a lifespan 'late teens' (18-24 years) which amounted to 1819 respondents. The proportion of high-risk sexual behavior before marriage is the 137 (7,5%). The analysis showed that age affects the sexual behavior of college students, men are more at risk (OR = 2.39) than women, clumps of faculty who have the greatest risk is Clumps Social Sciences and Humanities (OR = 15.46), a student who was dating have the greater risk (OR = 2.31) than students who have not been dating.
Read More
S-8436
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Radyan Rifka Pramanik; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Tiara Amelia, Inggrid Pudyaningrum T
Abstrak:
Majelis Kesehatan Dunia ke-49 menyatakan kekerasan sebagai masalah utama bagi kesehatan masyarakat di dunia. Sekolah menjadi salah satu tempat terjadinya kekerasan. kekerasan yang paling umum terjadi di sekolah adalah Bullying. Bullying merupakan perilaku agresif yang melibatkan tindakan negatif, tidak diinginkan yang dilakukan secara berulang dan tidak adanya kekuatan yang seimbang antara pelaku dan korban. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku bullying pada remaja di SMP Negeri 3 Kota Bogor tahun 2023. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 213 sampel.Hasil penelitian didapatkan sebanyak 51,8% siswa memiliki perilaku bullying. Uji statistik didapatkan bahwa jenis kelamin (p-value 0,02), lingkungan keluarga (p-value 0,017), lingkungan teman (p-value 0,001) dan penggunaan sosial media (p-value 0,000) memiliki hubungan dengan perilaku bullying. Sedangkan, usia (p-value 0,227) tidak memiliki hubungan dengan perilaku bullying. Maka dari itu, disarankan untuk melakukan edukasi dan komunikasi pada siswa dan keluarga tentang bullying dengan bekerja sama antara sekolah, keluarga dan tenaga kesehatan untuk membentuk lingkungan yang aman dan nyaman, Meningkatkan fungsi UKS (Unit Kesehatan Siswa) dengan bekerja sama bersama tenaga kesehatan, Menjalankan Program Roots sebaik mungkin, dengan membentuk agen perubahan ke arah positif, Membuat hotline pelaporan kasus bullying untuk masyarakat sekolah.

The 49th World Health Assembly declared violence as a major issue for the health of the world’s public. Schools are one of the places of violence. The most common violence in schools is bullying. Bullying is an aggressive behavior involving negative, unwanted actions that are repeatedly performed and the absence of a balanced force between the perpetrator and the victim. The purpose of this study is to find out factors related to bullying behavior in adolescents at Bogor City 3 State Junior High School in 2023. The research uses quantitative methods with cross-sectional study design. The sample in this study was 213 samples. The results of the study found that 51.8% of students had bullying behavior. Statistical tests found that gender (p-value 0.02), family environment (p-value 0.017), friend environment (p-value 0.001) and social media use (p-value 0.000) have a relationship with bullying behavior. Age (p-value 0.227) has no connection with bullying behavior. Therefore, it is advisable to conduct education and communication in students and families about bullying by working together between schools, families and health workers to form a safe and comfortable environment, Improve the function of UKS (Student Health Unit) by working with health workers, Running Roots Programs as best as possible, by forming change agents towards positive, Create a hotline reporting case bullying for school communities.
Read More
S-11488
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizka Muyasara; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Lilah Muflihah
Abstrak:
Kasus HIV di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Bersamaan dengan itu, hanya sedikit pasien dengan HIV/AIDS yang melakukan pengobatan ARV. Studi ini untuk bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku kepatuhan minum obat pada pasien HIV/AIDS. Dalam studi cross sectional ini, 140 pasien HIV/AIDS yang melakukan pengobatan di RSUD Kabupaten Bekasi diikutsertakan dalam penelitian ini. Tingkat pendidikan, persepsi manfaat, self-efficacy, akses rumah ke fasilitas kesehatan, efek samping obat, dan pemantauan minum obat diteliti dalam studi ini. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan variabel-variabel tersebut dengan kepatuhan minum obat. Diketahui bahwa akses rumah ke fasilitas pelayanan kesehatan secara signifikan berhubungan dengan kepatuhan obat (p = 0,013) dan juga merupakan prediktor dalam kepatuhan obat pasien (OR = 2,96). Hasil menunjukan akses rumah ke fasilitas kesehatan mempengaruhi tingkat kepatuhan, sehingga bagi institusi diharapkan dapat memberikan dukungan keyakinan serta motivasi kepada pasien yang memiliki jarak rumah yang jauh untuk berobat ke fasyankes terdekat dalam melakukan pengobatan ARV.

HIV cases in Indonesia are increasing every year. At the same time, only a few HIV/AIDS patients are undergoing ARV treatment. This study aims to determine the factors associated with medication adherence behavior in HIV/AIDS patients. In this cross sectional study, 140 HIV/AIDS patients who received treatment at the Bekasi Regency Regional Hospital were included in this research. Education level, perceived benefits, self-efficacy, home access to health facilities, drug side effects, and monitoring of medication taking were examined in this study. Bivariate analysis was carried out to see the relationship between these variables and medication adherence. Knowledge that home access to health care facilities is significantly associated with medication adherence (p = 0.013) and is also a predictor of patient medication adherence (OR = 2.96). The results show that home access to health facilities influences the level of compliance, so that the institution is expected to provide support, confidence and motivation to patients who have a long distance from home to seek treatment at the nearest health facility in carrying out ARV treatment.
Read More
S-11525
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadhisa Zalfa; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dian Ayubi, Desta Amanda Awalia
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan anemia remaja pada siswi SMA Negeri 3 Depok tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode cross-sectional menggunakan data primer yang diselenggarakan di SMA Negeri 3 Depok pada bulan Oktober dan November 2023 dengan sampel berjumlah 110 responden. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perilaku pencegahan anemia dengan variabel independen yaitu pengetahuan, sikap, keterlaksanaan program pencegahan anemia di sekolah, ketersediaan sarana kesehatan sekolah, dan dukungan teman sebaya. Data berupa hasil pengisian kuesioner yang diisi secara langsung oleh responden dan dianlisis dengan uji chi-square. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan bahwa sebanyak 69 responden (62,7%) sudah menunjukkan perilaku pencegahan anemia yang baik. Secara statistik, terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan perilaku pencegahan anemia (p-value = 0,006). Hasil penelitian menyarankan untuk sekolah agar meningkatkan pemantauan terhadap konsumsi TTD oleh siswi, bekerja sama dengan fasilitas kesehatan setempat untuk mengadakan skrining atau deteksi dini anemia yang menyeluruh, serta meningkatkan lagi edukasi melalui anemia dan pencegahannya melalui media informasi dan pelatihan peer education.

The purpose of this study is to explore and confirm the factors related to behaviors in anemia prevention by female students at SMA Negeri 3 Depok in 2023. This is a quantitative study with a cross-sectional method with the usage of primary data, held at SMA Negeri 3 Depok in October and November of 2023 with a sampel size of 110 respondents. The dependent variable is the behaviors in anemia prevention, with knowledge, attitude, implementation of the school’s anemia prevention programs, availability of the school’s health infrastructure and resources, and peer social support as the independent variables. The data includes results from questionnares the respondents answered themselves and analyzed with the chi-square test. Analysis shows that 69 respondents (62,7%) has shown good behaviors in anemia prevention. Statistically, there’s a significant relation between attitude and good behaviors in anemia prevention (p-value = 0,006). Study results suggest that the school escalates their monitoring on the students’ monthly consumption of iron supplements, work together with local health facilities to organize an exhaustive screening for anemia in students, and improve education of anemia and its prevention methods through informative media and peer education training.
Read More
S-11519
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hairunnisa Hadiati Utami; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Asih Setiarini, Mush'ab Zulkarnaen
Abstrak:
Latar Belakang: Pemenuhan pilar pertama Pedoman Gizi Seimbang melalui konsumsi pangan beragam menjadi tantangan selama Ramadan akibat fenomena 'lapar mata' yang memicu preferensi makanan padat energi rendah mikronutrien. Tujuan: Mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan keragaman konsumsi pangan pada mahasiswa FKM UI selama Ramadan 2026. Metode: Studi potong lintang dilakukan terhadap 103 mahasiswa yang dipilih secara proportional random sampling. Data dikumpulkan pada 11–16 Maret 2026 menggunakan kuesioner elektronik, meliputi variabel pengetahuan gizi, pendidikan orang tua, tempat tinggal, teman sebaya, dan keragaman pangan. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil: Mayoritas mahasiswa (93,2%) memiliki konsumsi pangan beragam. Faktor yang berhubungan signifikan adalah pengaruh teman sebaya (OR=8,769; 95% CI:1,016–75,723) dan status tempat tinggal (OR=5,404; 95% CI:1,114–26,205). Pengetahuan gizi (p=0,591) dan pendidikan orang tua baik ayah dan ibu (p=1,000) tidak menunjukkan hubungan signifikan. Kesimpulan: Lingkungan sosial (teman sebaya dan tempat tinggal) merupakan pengaruh dominan keragaman pangan mahasiswa selama Ramadan. Intervensi gizi sebaiknya difokuskan pada penguatan dukungan sosial dan perilaku makan kolektif untuk menjaga kualitas keragaman pangan selama periode puasa.

Background: Adherence to the first pillar of the Balanced Nutrition Guidelines regarding dietary diversity is essential for nutritional equilibrium. However, this principle faces challenges during Ramadan as psychosocial phenomena like ‘eye hunger’ trigger preferences for energy dense but micronutrient poor foods, potentially compromising diet quality. Objective: This study aimed to identify factors associated with dietary diversity among undergraduate students at FKM UI during Ramadan 2026. Method: A cross- sectional study was conducted among 103 students selected via proportional random sampling. Data were collected from March 11–16, 2026, using an electronic questionnaire. Investigated variables included nutrition knowledge, parental education, living arrangements, peer influence, and dietary diversity. Data were analyzed using the chi-square test. Result: The majority of students (93.2%) achieved a diverse dietary intake. Significant predictors were peer influence (OR=8.769; 95% CI: 1.016–75.723) and living arrangements (OR=5.404; 95% CI: 1.114–26.205). Nutrition knowledge (p=0.591) and parental education both father and mother (p=1.000) showed no significant association with dietary diversity. Conclusion: The social environment, specifically peer influence and living arrangements, is the primary predictor of students' dietary diversity during Ramadan. Nutritional interventions should focus on strengthening social support and collective eating behaviors to maintain diet quality during the fasting period.
Read More
S-12274
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Meitasari; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Evi Martha, Christiana R. Titaley, Nur Fatayani
Abstrak:
Berbagai permasalahan kesehatan termasuk di Maluku diduga berhubungan dengan literasi kesehatan. Beberapa studi menyatakan masih terdapat tingkat literasi kesehatan yang terbatas, termasuk pada mahasiswa. Penelitian tentang literasi kesehatan pada mahasiswa khususnya di Indonesia bagian timur, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi kesehatan pada mahasiswa program sarjana reguler di Universitas Pattimura dan faktor-faktor yang berhubungan dengannya. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dari Studi Literasi Kesehatan 2019 dengan sampel mahasiswa sarjana angkatan 2018 dari 9 fakultas di Universitas Pattimura (n=356) dengan desain potong lintang. Pengukuran literasi kesehatan dilakukan menggunakan instrumen European Health Literacy Survey Question 16 (HLS-EU-Q16) yang telah diadaptasi ke dalam konteks dan Bahasa Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat literasi kesehatan terbatas dengan rata-rata skor sebesar 32,94 (SD=6,81) skala 0-50. Faktor yang berhubungan dengan tingkat literasi kesehatan adalah suku orang tua (p=0,002), kepemilikan asuransi kesehatan (p=0,029), dan riwayat penyakit (p=0,001). Faktor yang paling dominan adalah riwayat penyakit. Diperlukan intervensi yang bersifat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan literasi kesehatan pada mahasiswa.

Various health issues, notably in Maluku, are thought to be linked to health literacy. Several studies state that there is still a limited level of health literacy, including among students. Research on health literacy among students, particularly in eastern Indonesia, is still limited. This research aims to determine the level of health literacy among regular undergraduate students at Pattimura University and the factors related to it. This research is a secondary data analysis from the 2019 Health Literacy Study with a sample of 2018 undergraduate students from 9 faculties at Pattimura University (n=356) with a cross-sectional design. Health literacy was measured using the European Health Literacy Survey Question 16 (HLS-EU-Q16) instrument which has been adapted to the Indonesian context and language. The results of this study show a limited level of health literacy with an average score of 32.94 (SD=6.81) on a scale of 0-50 . Factors related to the level of health literacy were parents' ethnicity (p=0.002), health insurance ownership (p=0.029), and medical history (p=0.001). The most dominant factor is medical history. Interventions are needed that increase knowledge and skills to increase health literacy in students
Read More
T-7014
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive