Ditemukan 34438 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Balqis Khalisa; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Iwan Ariawan, Inggariwati
Abstrak:
Read More
Saat ini, 98% kasus Covid-19 disebabkan oleh Varian Omicron yang diketahui lebih mudah menular, namun memiliki tingkat keparahan yang rendah. Salah satu upaya yang dapat menekan angka hospitalisasi dan kematian akibat Covid-19 adalah vaksinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status vaksinasi dengan kejadian hospitalisasi pada individu yang terinfeksi varian Omicron SARS-CoV-2. Dengan menggunakan data sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2022, penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode cross-sectional. Metode sampling yang digunakan adalah total sampling dengan 16.443 subjek. Pada individu yang terinfeksi Varian Omicron SARS-CoV-2, risiko hospitalisasi meningkat pada kelompok umur 50-59 tahun (RR 1,36, 95% CI 1,13 – 1,64) dan >60 tahun (RR 2,62; 95% CI 2,27 – 3,02) dibandingkan dengan kelompok umur
Currently, 98% of Covid-19 cases are caused by the Omicron Variant, which has higher level of transmissibility and low level of severity. One measures that can reduce hospitalization and death rates from Covid-19 is vaccination. This study aims to determine the association between vaccination status and the incidence of hospitalization in individuals infected with the Omicron variant of SARS-CoV-2. By using secondary data from the DKI Jakarta Provincial Health Office in 2022, this research is a quantitative study with a cross-sectional method. The sampling method used was total sampling with 16,443 subjects. In individuals infected with Omicron Variant of SARS-CoV-2, the risk of hospitalization increased in the age group 50-59 years (RR 1.36, 95% CI 1.13 – 1.64) and >60 years (RR 2.62; 95 % CI 2.27 – 3.02) compared to the
S-11311
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mella Minanggi; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Ratna Djuwita, Mugi Wahidin
Abstrak:
Kanker Payudara merupakan salah satu penyebab kematian utama pada wanita. DKI Jakarta merupakan Provinsi yang masuk ke dalam urutan kelima yang memiliki prevalensi kanker payudara tertinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara riwayat reproduksi dengan kanker payudara pada wanita di DKI Jakarta dengan menggunakan analisis lanjut data Riskesdas tahun 2013. Desain studi yang digunakan yaitu cross sectional dengan menggunakan analisis chi square. Sampel penelitian yaitu penduduk wanita berumur ≥ 30 tahun di DKI Jakarta tahun 2013 yang menjadi sampel pada Riskesdas 2013 dan memenuhi kriteria inklusi. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa umur pertama kali melahirkan ≥ 25 tahun (PRR= 1,76; 95% CI: 0,53-5,84), jumlah paritas (PRR= 1,06; 95% CI:0,32-3,54) dan riwayat menyusui (PRR= 1,83; 95% CI: 0,23-14,17) memiliki kecenderungan risiko kanker payudara.
Kata Kunci: Kanker Payudara; Riwayat Reproduksi
Breast cancer is the most common death in woman. DKI Jakarta has the highest prevalence of breasr cancer in Indonesia. The aim of this study is to find out the association between reproductive factors and breast cancer in woman at DKI Jakarta using the analysis Riskesdas 2013 data. The type of this study is cross sectional study with chi square analysis. Sample of this study is woman in DKI Jakarta age ≥ 30 who became sample in Riskesdas 2013. Based on this study, the risk factors of breast cancer are age at 1st live birth ≥ 25 tahun (PRR= 1,76; 95% CI: 0,53-5,84), parity (PRR= 1,06; 95% CI:0,32-3,54) , and breastfeeding status (PRR= 1,83; 95% CI: 0,23-14,17).
Keywords: Breast Cancer; Reproductive Factor
Read More
Kata Kunci: Kanker Payudara; Riwayat Reproduksi
Breast cancer is the most common death in woman. DKI Jakarta has the highest prevalence of breasr cancer in Indonesia. The aim of this study is to find out the association between reproductive factors and breast cancer in woman at DKI Jakarta using the analysis Riskesdas 2013 data. The type of this study is cross sectional study with chi square analysis. Sample of this study is woman in DKI Jakarta age ≥ 30 who became sample in Riskesdas 2013. Based on this study, the risk factors of breast cancer are age at 1st live birth ≥ 25 tahun (PRR= 1,76; 95% CI: 0,53-5,84), parity (PRR= 1,06; 95% CI:0,32-3,54) , and breastfeeding status (PRR= 1,83; 95% CI: 0,23-14,17).
Keywords: Breast Cancer; Reproductive Factor
S-8936
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ina Rahayu Ginting; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful, Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Milla Herdayati, Sri Handayani
Abstrak:
Berdasarkan data Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI dan parameter dari penelitan tentang Hepatitis B dunia tahun 2013, estimasinya sebanyak 7.000 tenaga kesehatan di Indonesia terinfeksi virus Hepatitis B, ini disebabkan cakupan vaksin yang masih rendah. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan sikap Bidan terhadap status Imunisasi Hepatitis B pada Bidan yang bekerja di DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan design cross sectional dengan sample penelitian ini 294 Bidan yang bekerja di Puskesmas wilayah DKI Jakarta. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster sampling dan memberikan kuesioner kepada responden. Hasil penelitian 75,9% Bidan status Imunisasi Hepatitis Bnya tidak lengkap dan 24,1% Bidan status Imunisasi Hepatitis Bnya lengkap. Ketidaklengkapannya status Imunisasi Hepatitis B pada Bidan didapatkan sikap Bidan 70,5% yang mendukung dan 85,6% tidak mendukung. Hasil analisis Regresi Logistik dengan dilakukan uji interaksi juga confounding, tidak ada interaksi antar sikap dengan pengetahuan juga tidak ada confounding. Didapatkan sikap Bidan yang mendukung memiliki odds 2,48 kali lebih tinggi lengkap status Imunisasi Hepatitis Bnya daripada Bidan yang tidak mendukung Imunisasi Hepatitis B (CI 95%; 1,321-4,654) dengan Pvalue sebesar 0,006
Based on data from the Research and Development Agency of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia and the world research parameter on Hepatitis B in 2013 estimated that as many as 7,000 health workers in Indonesia were infected with the Hepatitis B virus, this is due to the low vaccine coverage. This research was conducted to observe the relation of the attitudes of midwives on the status of hepatitis B immunization in midwives who work in public health centers DKI Jakarta area. This is a quantitative research using cross sectional design with the dependent variable is Hepatitis B immunization status in midwives, the independent variable is Attitude, and the covariates are knowledge, cost, and length of work. The sample of this research were 294 midwives who worked in the public health centers DKI Jakarta area using cluster sampling technique and gave a questionnaire to the subject. The findings confirm that 75.9% of midwives had incomplete hepatitis B immunization status and 24.1% midwives had complete hepatitis B immunization status. The incompleteness of hepatitis B immunization status in midwives resulted in 70.5% of the midwives were supportive and 85.6% unsupportive. The results of the Logistics Regression analysis were carried out with an interaction test as well as a test confounding, there was no interaction between attitudes and knowledge and there were no variables of confounding. OR value obtained is 2.48, means that the attitude of a midwife who support has an odds of 2.48 times higher complete hepatitis B immunization status than a midwife who does not supports hepatitis B immunization (95% CI; 1.321-4,654) with a P- value of 0.006
Read More
Based on data from the Research and Development Agency of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia and the world research parameter on Hepatitis B in 2013 estimated that as many as 7,000 health workers in Indonesia were infected with the Hepatitis B virus, this is due to the low vaccine coverage. This research was conducted to observe the relation of the attitudes of midwives on the status of hepatitis B immunization in midwives who work in public health centers DKI Jakarta area. This is a quantitative research using cross sectional design with the dependent variable is Hepatitis B immunization status in midwives, the independent variable is Attitude, and the covariates are knowledge, cost, and length of work. The sample of this research were 294 midwives who worked in the public health centers DKI Jakarta area using cluster sampling technique and gave a questionnaire to the subject. The findings confirm that 75.9% of midwives had incomplete hepatitis B immunization status and 24.1% midwives had complete hepatitis B immunization status. The incompleteness of hepatitis B immunization status in midwives resulted in 70.5% of the midwives were supportive and 85.6% unsupportive. The results of the Logistics Regression analysis were carried out with an interaction test as well as a test confounding, there was no interaction between attitudes and knowledge and there were no variables of confounding. OR value obtained is 2.48, means that the attitude of a midwife who support has an odds of 2.48 times higher complete hepatitis B immunization status than a midwife who does not supports hepatitis B immunization (95% CI; 1.321-4,654) with a P- value of 0.006
T-6279
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syarifah Khodijah; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Besral, Ida Kusumaningrum
Abstrak:
Angka kasus HIV di dunia saat ini masih tinggi. Jumlah kasus HIV yang mengalamipeningkatan saat ini adalah pada kelompok penasun (Pengguna NAPZA Suntik).Prevalensi HIV pada kelompok penasun di Asia Tenggara tahun 2012 mencapai 28%.Hal ini terjadi karena pencegahan perilaku berisiko pada penasun belum berhasil.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dari 240 penasun di DKIJakarta. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang untuk mengetahuideterminan status HIV pada penasun di DKI Jakarta tahun 2013. Pengetahuan tentangdeterminan status HIV pada penasun diharapkan dapat menjadi masukan untukprogram pencegahan dan penanggulangan HIV di DKI Jakarta.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi HIV pada penasun di DKI Jakarta tahun 2013mencapai 49,2%. Selain itu, proporsi penasun yang positif HIV terbanyak pada penasun yang memiliki umur tidak lebih dari 31 tahun dan berjenis kelamin laki-laki.Kemudian proporsi penasun yang positif HIV terbanyak pada penasun yang berpendidikan tinggi dan penasun yang memiliki pekerjaan tidak tetap. Pada perilaku penasun, proporsi penasun yang positif HIV juga paling banyak pada penasun yang menyuntik NAPZA setiap hari, yang menggunakan kondom tidak konsisten dan yang mengunjungi LASS tidak lebih dari 4 kali dalam sebulan.
Kata Kunci : Determinan, HIV, Penasun, Proporsi
Today, number of HIV cases in the world is still high. The number of HIV cases hasincreased is in the group of IDUs (Injecting Drug Users). HIV prevalence amonginjecting drug users groups reached 28% in Southeast Asia 2012. This happens due tothe prevention of risk behavior in IDUs has not been successful. This study uses aquantitative research methode of 240 IDUs in Jakarta. This study used a cross-sectional design to determine the determinants of HIV status in IDUs in Jakarta 2013.Knowledge about determinants of HIV status in IDUs expected to become inputs forHIV prevention and treatment program in DKI Jakarta.
Results of this study showedthat the prevalence of HIV in IDUs in Jakarta in 2013 reached 49.2%. In addition, theproportion of HIV-positive IDUs highest in IDUs who have aged under 31 years andmale sex. Then the proportion of HIV-positive IDUs in the most highly is educatedIDUs and IDUs are IDUs employment not permanent. On the behavior of injectingdrug users, the proportion of HIV-positive IDUs also most IDUs who inject drugsevery day, use condoms inconsistently and visit LASS less than 4 times a month.
Key Words : Determinant, HIV, IDUs, Proportion
Read More
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi HIV pada penasun di DKI Jakarta tahun 2013mencapai 49,2%. Selain itu, proporsi penasun yang positif HIV terbanyak pada penasun yang memiliki umur tidak lebih dari 31 tahun dan berjenis kelamin laki-laki.Kemudian proporsi penasun yang positif HIV terbanyak pada penasun yang berpendidikan tinggi dan penasun yang memiliki pekerjaan tidak tetap. Pada perilaku penasun, proporsi penasun yang positif HIV juga paling banyak pada penasun yang menyuntik NAPZA setiap hari, yang menggunakan kondom tidak konsisten dan yang mengunjungi LASS tidak lebih dari 4 kali dalam sebulan.
Kata Kunci : Determinan, HIV, Penasun, Proporsi
Today, number of HIV cases in the world is still high. The number of HIV cases hasincreased is in the group of IDUs (Injecting Drug Users). HIV prevalence amonginjecting drug users groups reached 28% in Southeast Asia 2012. This happens due tothe prevention of risk behavior in IDUs has not been successful. This study uses aquantitative research methode of 240 IDUs in Jakarta. This study used a cross-sectional design to determine the determinants of HIV status in IDUs in Jakarta 2013.Knowledge about determinants of HIV status in IDUs expected to become inputs forHIV prevention and treatment program in DKI Jakarta.
Results of this study showedthat the prevalence of HIV in IDUs in Jakarta in 2013 reached 49.2%. In addition, theproportion of HIV-positive IDUs highest in IDUs who have aged under 31 years andmale sex. Then the proportion of HIV-positive IDUs in the most highly is educatedIDUs and IDUs are IDUs employment not permanent. On the behavior of injectingdrug users, the proportion of HIV-positive IDUs also most IDUs who inject drugsevery day, use condoms inconsistently and visit LASS less than 4 times a month.
Key Words : Determinant, HIV, IDUs, Proportion
S-8435
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Albert; Pembimbing: Besral; Penguji: Martya Rahmaniati, Dakhan Choeron
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku keluarga sadar gizi ( penimbangan berat badan balita secara teratur, memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan/ASI Eksklusif, rumah tangga menggunakan garam beryodium, minum suplemen gizi sesuai anjuran/ vitamin A dan Konsumsi beraneka ragam makanan) dan karakteristik responden seperti faktor riwayat balita pernah dirawat, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, jumlah anggota keluarga, jumlah balita, dan tempat tinggal dengan kejadian stunting. Desain studi penelitian ini yaitu cross-sectional dengan analisis bivariat dengan chi square (kai kuadrat).
Read More
S-10565
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Febrina Margaretha Damanik; Pembimbing: Meiwita Budihasana; Penguji: Besral, Julianty Pradono
Abstrak:
Penetapan Puskesmas sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mengindikasikan harapan untuk meningkatkan utilisasi rawat jalan Puskesmas oleh penyandang disabilitas. Data sekunder Riskesdas 2013 dengan desain cross-sectional digunakan untuk mengetahui gambaran dan menganalisis korelasi antara faktor predisposisi, enabling dan needs dengan utilisasi rawat jalan Puskesmas oleh penyandang disabilitas. Definisi disabilitas mencakup domain mobilitas, kognitif, perawatan diri dan aktifitas harian bagi individu berumur ≥15 tahun. Penelitian dilakukan di strata kota, strata kabupaten kaya dan strata kabupaten miskin di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan utilisasi rawat jalan Puskesmas oleh penyandang disabilitas masih rendah, sebesar 33,1% di kota, 28,8% di kabupaten kaya dan 29,6% di kabupaten miskin. Determinan utilisasi rawat jalan Puskesmas di kota meliputi umur, jenis kelamin, indeks kepemilikan, kepemilikan jaminan kesehatan dan penilaian status kesehatan. Sementara di kabupaten kaya meliputi kepemilikan jaminan kesehatan, wilayah tempat tinggal dan penilaian status kesehatan. Sedangkan indeks kepemilikan, kepemilikan jaminan kesehatan, dan penilaian status kesehatan merupakan determinan utilisasi rawat jalan Puskesmas di kabupaten miskin. Penyandang disabilitas dengan indeks kepemilikan terbawah cenderung memanfaatkan rawat jalan Puskesmas paling banyak. Menjadi kewajiban pemerintah untuk memastikan penyandang disabilitas khususnya yang tidak mampu, dijamin oleh JKN.
Kata kunci : Faktor enabling; faktor needs; faktor predisposisi; penyandang disabilitas; utilisasi rawat jalan
Read More
Kata kunci : Faktor enabling; faktor needs; faktor predisposisi; penyandang disabilitas; utilisasi rawat jalan
S-8620
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eni Yuwarni; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Milla Herdayanti, Yenni Risniati
S-6892
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Septalina Purba; Pembimbing: Indang Trihandini, Sudijanto Kamso
T-1761
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Joyceline Esther; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Dian Kristiani Irawaty
Abstrak:
Melihat karakteristik DKI Jakarta yang merupakan Ibukota Negara yang wilayahnya perkotaan, sebagai salah satu provinsi penyangga utama program KB nasional, banyaknya sumber daya manusia yang berkualitas, dan cukupnya fasilitas kesehatan, angka tersebut perlu diturunkan. Tujuan penelitian ini mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian unmet need KB di DKI Jakarta, berdasarkan analisis data SDKI 2017. Disain studi dalam penelitian ini adalah potong lintang dengan sampelnya meliputi seluruh responden wanita usia subur (15-49 tahun) yang berstatus kawin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi kejadian unmet need KB adalah usia (OR=0,569), dukungan suami (OR=5,550), dan paparan tenaga kesehatan (OR=2,055). Faktor yang paling besar pengaruhnya adalah dukungan suami (OR=5,550).
Read More
S-10745
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Galila Aisyah Latif Amini; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo, Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Punto Dewo
Abstrak:
Di Indonesia kanker payudara merupakan kanker terbanyak kedua sesudah kanker leher rahim. Faktor risiko kanker payudara bersifat multifaktor salah satunya adalah prilaku merokok pasif. Hubungan tentang merokok pasif dan kanker payudara masih menjadi perdebatan, selain itu studi tentang hubungan keduanya masih sedikit dilakukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara merokok pasif pada perempuan dengan kanker payudara. Menggunakan desain studi cross sectional dengan data skunder Riskesdas 2013. Sampel penelitian adalah perempuan berusia 15-54 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil analisis menunjukan bahwa terdapat kecenderungan lebih tinggi kejadian kanker payudara pada perokok pasif dibandingkan dengan bukan perokok pasif. Namun hubungan tersebut tidak bermakna secara statistik (p = 0,171 OR 0,814; CI 0,6-1,09).Hal ini dikarenakan banyak hal, antara lain pengkategorian perokok pasif yang masih kurang spesifik, dan tidak tergambarnya intensitas paparan rokok pasif. Selain itu Kanker payudara merupakan penyakit yang multifaktoral. Perlu paparan yang lama hingga terjadi mutasi DNA, inisiasi, promosi, progresi hingga akhirnya menjadi kanker. Untuk selanjutnya supaya dilakukan penelitian serupa dengan menggunakan desain studi kohort. Kata kunci: Merokok Pasif, Kanker Payudara, Indonesia Cancer is one of the leading causes of death worldwide. In Indonesia, breast cancer is the second most common cancer after cervical cancer. Breast cancer risk factors are multi factors which one of them is the passive smoking behavior. The relationship between passive smoking and breast cancer is still conflicting. This study aims to determine the relationship between passive smoking in women with breast cancer. Used a cross sectional study design and data from Riskesdas by 2013. The study sample is women aged 15-54 years who meet the criteria of inclusion and exclusion.The results showed that there was a higher incidence of breast cancer incidence in passive smokers compared with non-passive smokers. However, this relationship was not statistically significant (p = 0.171 OR 0.814; CI 0.6-1.09). This is because of many factors, among others, the categorization of passive smokers is still less specific, and not illustrated the intensity of exposure to passive cigarettes. In addition, breast cancer is a multifactoral disease. Need a long exposure to DNA mutations, initiation, promotion, progression to eventually become cancer. Furthermore, a similar further study should be conducted using a cohort study design. Keywords: Breast Cancer, Pasive Smoking, Indonesia
Read More
T-4975
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
