Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34593 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Natasya Claresta Viano; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Pujiyanto, Mardiati Nadjib, Novita Dwi Istanti, Titi Anggraeni
Abstrak:
Manajemen Pelayanan Pasien merupakan peran yang dijalankan oleh case manager, agar tercipta pelayanan yang bermutu dengan biaya yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran case manager terhadap kendali mutu dan kendali biaya pasien rawat inap bedah dengan penjaminan JKN di RS UI tahun 2022. Penelitian menggunakan pendekatan sistem menurut Donabedian dan teori KARS. Kendali mutu dilihat dari LOS, tingkat kepuasan pasien, kepatuhan penerapan clinical pathway, kepatuhan visit dokter, serta penundaan operasi elektif. Kendali biaya dilihat dari selisih klaim dan tagihan RS dan formulasi biaya tindakan. Pada penelitian ini, data kuantitatif diambil dari data sekunder melalui data rekam medis pasien, hasil telaah dokumen dari berkas tagihan pasien, tarif INA-CBG’s, data laporan operasi, dan data Komite Mutu Rumah Sakit. Data diolah dengan Ms. Excel dan didapatkan tiga (3) tindakan terbanyak yaitu odontektomi, SC, dan AV shunt. Studi kualitatif, dilakukan dengan Focus Group Discussion untuk mendapatkan formulasi pembiayaan tindakan dan wawancara mendalam. Didapatkan hasil peran case manager di RS UI sudah mengalami perbaikan dibandingkan tahun 2021, kinerja case manager sudah baik berdasarkan selisih klaim, pengendalian LOS, tingkat kepuasan pasien, tingkat kepatuhan visit dokter, dan tingkat kepatuhan terhadap clinical pathway. Hanya tingkat penundaan operasi elektif di RS UI masih belum tercapai target.

Patient Service Management is carried out by case manager to create quality services with efficient cost. This study aims to evaluate the role of case managers on quality and cost control of surgical inpatients with JKN assurance at the UI Hospital in 2022. This study uses the concept of Donabedian and KARS theory. Quality control is seen from LOS, patient satisfaction, compliance clinical pathway, compliance doctor visits, and delays in elective surgery. Cost control is seen from the difference between INA-CBG's claims and hospital bills and cost formulations. Secondary data were collected from medical record and document review. The data were processed with Ms. Excel. The three common procedures conducted with FGD and interviews to find out the role of case managers. It was found that the role of the case manager at UI Hospital had improved compared to 2021. Case manager's performance is good based on the difference in overall surgical patient klaims, LOS control, the level of patient satisfaction, the level of compliance with doctor visits , the level of compliance with the clinical pathway. Only the level of delay in elective surgery at UI Hospital has not reached the target.
Read More
B-2426
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widya Rahma Hardiyanti; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Ede Surya Darmawan, Purnawan Junadi, Eka Pujiyanti, Setiaji
Abstrak:
Upaya Pemerintah Indonesia dalam mewujudkan layanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau adalah dengan menerapkan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pembiayaan layanan kesehatan pasien JKN diatur secara ketat melalui paket INA-CBGs. RSUI merupakan rumah sakit yang telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan sejak akhir tahun 2020, dan melakukan upaya kendali mutu kendali biaya dalam mengelola pembiayaan dari BPJS Kesehatan. Peningkatan jumlah pasien yang signifikan dan perubahan regulasi yang cepat membutuhkan suatu alat yang terintegrasi dengan SIMRS untuk membantu proses kendali mutu kendali biaya. Oleh karena itu, pengembangan SIMRS yang lebih efektif menjadi kebutuhan untuk meningkatkan kendali mutu, kendali biaya dan juga pentingnya menjaga kesinambungan pelayanan pasien BPJS Kesehatan agar mampu mempertahankan kualitas dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan SIMRS yang bisa mendukung proses kendali mutu kendali biaya pasien rawat inap JKN di RSUI. Desain penelitian ini adalah eksploratif untuk mengetahui masalah dalam pengembangan SIMRS dengan pendekatan design thinking. Permasalahan yang berhasil diidentifikasi adalah Pengguna merasa terhambat dengan proses manual dan ketidakjelasan status approval, yang mengganggu kelancaran layanan. Pengguna membutuhkan tampilan SIMRS berupa informasi secara real time, user friendly, ringkas dan informatif. Pengembangan SIMRS yang dapat dilakukan adalah penambahan persentase masing-masing komponen billing dan penambahan fitur untuk melihat proses approval Case Manager. Hasil test Prototype mendapatkan skor SUS 95, itu berarti Prototype ini sangat disukai dan diterima oleh pengguna. Prototype ini layak dipertimbangkan sebagai solusi yang efektif efisien untuk penggunaannya dalam skala besar.

The Indonesian government's effort to provide quality and affordable healthcare services is implemented through the National Health Insurance (JKN) Program. The financing of JKN patient healthcare services is tightly regulated through the INA-CBGs package. Universitas Indonesia Hospital (RSUI) has been collaborating with BPJS Kesehatan since late 2020 and has undertaken quality and cost control measures to manage BPJS Kesehatan financing. The significant increase in patient numbers and rapid regulatory changes require an integrated tool within the SIMRS to support quality and cost control processes. Therefore, developing a more effective SIMRS is necessary to enhance quality and cost control while maintaining service continuity for BPJS Kesehatan patients to ensure long-term quality. This study aims to develop a SIMRS that supports quality and cost control processes for JKN inpatient services at RSUI. The study employs an exploratory design to identify issues in SIMRS development using a design thinking approach. The identified problems include users feeling hindered by manual processes and unclear approval statuses, which disrupt service flow. Users need a SIMRS interface that provides real-time information, is user-friendly, concise, and informative. Proposed SIMRS enhancements include adding billing component percentages and features for tracking Case Manager approval processes. Prototype testing resulted in a SUS score of 95, indicating the prototype is highly favored and accepted by users. This prototype is considered a feasible, effective, and efficient solution for large-scale implementation.
Read More
B-2498
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mastika Talib; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Mardiati Nadjib, Amal Chalik Sjaaf, Lony Novita, Trisna B. Widjayanti
Abstrak: Sistem pembayaran prospektif dengan paket INA-CBGs pada pasien JKN menuntut rumah sakit agar dapat melakukan kendali biaya dan kendali mutu. Penelitian ini bertujuan untuk menilai upaya kendali biaya dan kendali mutu di RS MH Thamrin Salemba. Penelitian dilakukan pada kasus Demam Berdarah Dengue periode Januari-Maret 2017 secara kuantitatif (n=31), dengan membandingkan selisih klaim INA-CBGs dan tagihan rumah sakit, dan secara kualitatif dengan wawancara mendalam (6 informan). Selisih negatif yang didapat sebesar Rp177.880 dengan rerata selisih negatif sebesar Rp5.738 per kasus. Komponen kamar perawatan adalah komponen biaya tertinggi pada tagihan rumah sakit (30,62%). Manajemen rumah sakit menerapkan upaya kendali biaya mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi dengan tetap mengutamakan mutu. Upaya efisiensi biaya dilakukan pada komponen farmasi, pemeriksaan penunjang, jasa medis dokter, dan kamar perawatan. Formularium RS yang digunakan sesuai dengan formularium nasional. RS MH Thamrin Salemba belum memiliki clinical pathways untuk mengontrol dan mengevaluasi pelayanan. Sistem insentif yang digunakan adalah sistem fee for service yang tidak sesuai dengan metode pembayaran prospektif. Kata kunci: kendali biaya, kendali mutu, pembayaran prospektif, tarif INA-CBGs
Read More
B-1873
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Toki Himawati; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Dumilah Ayuningtyas, Rahma Indira Wardani, Amila Megraini
Abstrak: LATAR BELAKANG. Problem yang sangat mendasar dalam pemberian layanan kesehatan adalah masalah pembiayaan kesehatan. Untuk itu pemerintah membuat skenario pembiayaan kesehatan melalui Jaminan Kesehatan Nasional, yang pada hakekatnya merupakan lembaga asuransi untuk mengcover pembiayaan layanan kesehatan. Pelaksananya adalah Badan Pengelola Jaminan Kesehatan, sedangkan dasar pengenaan tarif untuk klaim ke BPJS oleh rumah sakit menggunakan Indonesian Case Base Groups (INA CBGs). Pada titik inilah mulai muncul persoalan bagi rumah sakit, dimana banyak layanan kesehatan dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien, biayanya jauh diatas paket INA CBGs yang sudah ditetapkan (overbudget). Apabila ini yang terjadi maka rumah sakit akan mengalami defisit. Salah satu kebijakan yang paling tepat untuk mengatasi overbudget adalah dengan kendali mutu kendali biaya, yang instrumennya adalah clinical pathway.
METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Informan dipilih secara bertingkat sebanyak 35 orang, mulai dari Pemegang Saham, Direksi, Komite Medik, DPJP, Pemberian Asuhan Pelayanan dan Coder.
HASIL PENELITIAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum informan setuju dengan penerapan clinical pathway, karena dapat meningkatkan mutu pelayanan, adanya kepastian prosedur dan dapat mengatasi overbudget, namun para DPJP sebagian besar enggan untuk menerapkan clinical pathway karena menganggap membatasi ruang gerak mereka, bertentangan dengan keilmuan dan profesionalitas, serta nerupakan alat BPJS untuk mengekang tindakan medis yang dilakukan DPJP. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada Rumah Sakit Urip Sumoharjo untuk menyusun dan mengimplementasikan clinical pathway sebagai alat kendali mutu kendali biaya
Read More
B-2050
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
May Hizrani;Penguji: Hafizurahman, Adang Bachtiar, Yayuk Hartriyanti, Muki Reksoprodjo, Emmy Salman
Abstrak:
Menghadapi pasar global dimana persaingan sangat terbuka maka industri pelayanan kesehatan harus mampu merubah paradigma lama, pelayanan yang berorientasi dokter ke pelayanan yang berorientasi pelanggan, tidak terkecuali rumah sakit. Upaya untuk pemenuhan tuntutan tersebut maka rumah sakit sebagai penyedia jasa layanan kesehatan harus selalu berupaya untuk meningkatkan mutu layanannya. Mutu pelayanan rumah sakit merupakan sesuatu yang abstrak sehingga banyak definisi dibuat oleh peneliti di bidang kesehatan. Disadari bahwa mutu sangat erat kaitannya dengan kondisi atau nilai -nilai yang dianut baik oleh rumah sakit sebagai penyedia jasa pelayanan maupun pasien sebagai penerima jasa pelayanan kesehatan. Sampai sa'at ini belum ada suatu standar baku atau alat ukur baku yang digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan terhadap mutu pelayanan rumah sakit. Penelitian ini menggunakan metode Servqual untuk rnengukur kepuasan pelanggan berdasarkan harapan dan persepsi mereka terhadap mutu pelayanan yang dikembangkan oleh Parasuraman dkk ( 1985 ) serta dilakukan juga penelitian terhadap minat beli ulang. Desain penelitian adalah cross sectional dengan analisis deskriptif dan merupakan penelitian survey terhadap 200 orang pasien yang dirawat di RS MMC Jakarta dengan menggunakan kuesioner Parasuraman dkk yang telah dimodifikasi sesuai kondisi rumah sakit. Kuesioner berisi lima dimensi mutu Servqual, yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty yang menggambarkan harapan dan persepsi pasien terhadap mutu pelayanan. Kepuasan adalah tingkat kesesuaian antara harapan dan persepsi pasien minat beli ulang dibagi menjadi empat subvariabel, seperti ; minat beli setelah melihat fasilitas, lingkungan fisik, pelayanan perawat dan pelayanan dokter. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa semua variabel mutu Servqual baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama mempunyai hubungan yang erat dengan kepuasan pelanggan. Metode Servqual bisa digunakan sebagai alat ukur kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan di rumah sakit. Kelima dimensi mutu pelayanan mempegaruhi kepuasan sebesar 44,6 %, sedangkan sisanya 55.4 % dijelaskan oleh faktor lain. Ketidak puasan pasien terlihat pada dimensi emphaty, reliability ( kehandalan pelayanan ) dan responsiveness ( ketanggapan pelayanan ). Pengaruh kepuasan terhadap minat beli ulang rawat inap adalah sebesar 42.1 % sedangkan sisanya 57.9 % dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan oleh rumah sakit sebagai salah saru alat untuk menyusun strategi perbaikan mutu pelayanan.

Facing thc global market and open competition, the health care industry, including hospital, needs a paradigm doctor-centered to patient-centeredb health serivices. In the effort to meet the needs, hospital as a health care sevice provider should seriously improve the quality of its services. Since quality is a relative term, many health serivices researchers have defined quality of hospital services. It is realized that quality is to a large extent is determined by the conditions and values of hospital as the service provider as well as the patients as the recipient of the health care services. Currently, there is no quality standard nor standardized instruments to measure customer satisfaction onthe quality of hospital care. This research utilized SERVQUAL method to measure customer satisfaction based on expectation and perception of patients on the quality of service developed by Parasuraman et al. ( 1985 ). In relation to satisfaction, behavioral intention to receive care from the same hospital is also investigated. The research design i s cross-sectional with descriptive analysis on a survey of 200 in-patients. Questionnaire developed by Parasuraman et al. ( 1985 ) is modified to accommodate a hospital condition.'I'he questionnaire contain tive dimension of the SERVQUAL quality, i.e. tangible, reliability, responsiveness, assurance, and emphaty that describes expectation and perception of the patients on quality of service provided hospital. The satisfaction is positive if the quality provides is perceived to be equal or better than expected. The behavioral intention to receive care from same hospital is classified into intention utter observing facilities, physical environment, nursing care, and doctor care. The investigation shows that all SERVQUAL quality variables, individually or collectively, correlate with the customer satisfaction. Hence, the SERVQUAL method may be employed as instrument to measure the in-patient satisfaction on the quality of hospital care. The live dimensions of SERVQUAL affects 44.6% of the satisfaction while the rest is determined by other factors. The effect of satisfaction onintention to receive care from same hospital is 42.1% and with strong correlation as shown by a score of 0.649. The results of this investigation is expected to provide the MMC Hospital Jakarta with data and informatiob in developing the hospital service quality imrovement.
Read More
B-601
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Raudatus Solihah; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Kalsum Komaryani, Muliawan Humaini
Abstrak:
Latar Belakang: Implementasi Clinical Pathway (CP) Sectio Caesarea (SC) merupakan instrumen strategis kendali mutu dan biaya era JKN. Clinical Pathway (CP) di RS Islam Namira pada kasus SC beberapa kali belum berjalan sehingga evaluasi pelayanan komprehensif mulai dari proses penyusunan hingga pelayanan yang ada penting dilakukan karena tingginya angka tindakan namun variasi pelayanan yang signifikan antar Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) masih ditemukan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi implementasi CP SC ditinjau dari praktik klinis, mutu, dan biaya. Metode: Studi kasus deskriptif evaluatif dengan pendekatan kuantitatif menilai pelayanan SC yang ada (melakukan telaah 123 rekam medis dan billing pasien SC elektif severity level 1 pada Agustus-Desember tahun 2025) dilanjutkan dengan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam 15 informan terdiri dari manajemen dan klinisi serta kuantitatif di RSI Namira Lombok Timur. Hasil: Dokumen CP eksisting belum sesuai pedoman Kementerian Kesehatan karena didesain lebih kepada evaluasi tarif tanpa kolom evaluasi klinis dan kolom varians. Variabel input diperoleh cukup lemah karena ketiadaan SK Tim CP dan SPO pengembangan CP. Tahap proses berjalan top-down tanpa forum konsensus (FGD) dan sosialisasi formal sehingga proses lebih banyak dilakukan dari manajemen dengan keterlibatan pelaksana yang masih kurang. Pada dimensi output, masih ditemukan keberagaman pelayanan klinis mencapai 100%  berbeda dari CP yang sudah ada pada aspek obat-obatan dan BMHP (terutama benang bedah) karena dominasi preferensi personal dokter penanggung jawab pasien (DPJP). Capaian mutu mobilisasi pasca tindakan SC dengan metode ERACS berjalan baik (1–2 hari) meskipun masih ditemukan ketidakseragaman pengetahuan lama waktu perawatan oleh pelaksana. Seluruh sampel mengalami balance negatif dengan rata-rata selisih tarif rumah sakit berbanding klaim INACBGs mencapai sebesar -Rp1.723.939 (-31%) per pasien. Kesimpulan: Implementasi CP SC belum optimal untuk mendukung kendali mutu klinis dan efisiensi biaya akibat masih banyaknya variasi praktik klinis yang ditemukan sehingga perlunya perbaikan pada proses tata kelola klinis dan manajemen, penegakan regulasi, serta konsensus interprofesional.

Background: The implementation of the Clinical Pathway (CP) for Cesarean Section (CS) serves as a strategic instrument for quality and cost control under the National Health Insurance (JKN) system. The CS CP at Rumah Sakit Islam Namira has repeatedly failed to operate effectively. Therefore, a comprehensive evaluation covering the entire spectrum from the development process to the clinical services provided is critical, particularly given the high volume of procedures alongside significant variations in practices among the attending physicians. This study aims to evaluate the implementation of the CS CP in terms of clinical practice, quality, and cost. Methods: An evaluative descriptive case study utilizing a quantitative approach to assess the current CS services (reviewing 123 medical records and billing files of severity level-1 elective CS patients from August to December 2025), complemented by a qualitative approach consisting of in-depth interviews with 15 management and clinician informants at RSI Namira, East Lombok. Results: The existing CP document does not align with the Ministry of Health guidelines as it is primarily structured around tariff evaluations rather than clinical evaluations, and lacks a variance tracking section. Analysis of the input variables revealed a weak baseline due to the absence of official CP Team decrees and CP development SOPs. The process stage operates in a top-down mechanism, completely lacking consensus building forums (FGDs) and formal socialization, which results in management driven processes with insufficient engagement from frontline practitioners. In the output dimension, clinical service variations reached 100% divergence from the established CP regarding pharmaceuticals and medical supplies (specifically surgical sutures) due to the dominating personal preferences of the attending physicians. Regarding quality metrics, patient mobilization following the ERACS method performed well (1-2 days), despite non-uniformity in the practitioners' knowledge regarding the appropriate length of stay. Consequently, 100% of the sample incurred negative financial balances, with an average deficit between hospital tariffs and INA-CBGs claims reaching -IDR 1,723,939 (-31%) per patient. Conclusion: The implementation of the CS CP has not functioned optimally to support clinical quality control and cost efficiency due to the persistent variations in clinical practices. This underscores the urgent need for structural improvements in clinical and administrative governance, the enforcement of regulatory frameworks, and the establishment of an interprofessional consensus.
Read More
B-2610
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jihaan Eka Ariyani; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Masyitoh, Mira Puspitasari , Sheirly Novan Indra
Abstrak:
Pengendalian mutu pelayanan medis merupakan bagian penting dalam tata kelola klinis rumah sakit karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien, efektivitas layanan, dan akuntabilitas profesional tenaga medis. RSU Bunda Margonda telah menerapkan sistem indikator mutu pelayanan medis rawat inap serta evaluasi kinerja dokter spesialis melalui mekanisme Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE). Meskipun keduanya telah berjalan sebagai bagian dari sistem tata kelola klinis, hubungan antara capaian indikator mutu pelayanan medis dengan hasil penilaian OPPE pada Kelompok Staf Medis (KSM) Bedah belum pernah dianalisis secara sistematis dan komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh capaian indikator mutu pelayanan medis rawat inap terhadap hasil penilaian OPPE dokter spesialis KSM Bedah di RSU Bunda Margonda tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory, di mana analisis kuantitatif terhadap 16 dokter spesialis dari 8 sub-spesialisasi bedah dilakukan terlebih dahulu, kemudian diperdalam melalui wawancara mendalam dengan informan kunci yang meliputi Kepala Bidang Medis dan Ketua Komite Mutu. Instrumen OPPE yang digunakan mencakup tiga dimensi utama, yaitu dimensi Perilaku (bobot 30%), Pengembangan Profesional (bobot 30%), dan Kinerja Klinis (bobot 40%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang nyata dan bermakna antara capaian indikator mutu pelayanan medis rawat inap dengan hasil penilaian OPPE dokter spesialis KSM Bedah. Rata-rata total skor OPPE KSM Bedah mencapai 4,086 dengan predikat B-Very Good, di mana 6 dokter (37,5%) meraih predikat A-Excellent, 8 dokter (50,0%) meraih predikat B-Very Good, dan 2 dokter (12,5%) berada pada predikat C-Good. Sub-spesialisasi Bedah THT-KL mencatat rata-rata skor tertinggi (4,326), sedangkan Bedah Umum mencatat rata-rata terendah (3,647) dengan variasi terlebar. Dimensi Kinerja Klinis mencapai capaian proporsional tertinggi (93,3% dari skor maksimum), sementara Dimensi Perilaku menjadi sumber variabilitas tertinggi antar dokter. Indikator outcome klinis, khususnya angka IDO/ILO (Infeksi Daerah Operasi/Infeksi Luka Operasi) dan angka re-operasi, ditemukan sebagai indikator yang paling dominan berkontribusi terhadap skor OPPE. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa indikator mutu pelayanan medis rawat inap, terutama kepatuhan visite DPJP, kelengkapan rekam medis, kepatuhan PPK/Clinical Pathway, kepatuhan Surgical Safety Checklist (SSC) dan IPSG, angka IDO/ILO, serta angka re-operasi, memiliki keterkaitan yang signifikan dengan hasil penilaian OPPE. Sistem OPPE RSU Bunda Margonda telah memiliki fondasi yang selaras dengan prinsip evidence-based clinical governance, namun masih terdapat lima kesenjangan dibandingkan standar internasional yang perlu diperkuat, meliputi mekanisme peer review formal, integrasi data indikator mutu secara otomatis, representasi keenam domain kompetensi ACGME, data volume kasus operatif per dokter, serta standarisasi mekanisme umpan balik kepada dokter. Penguatan sistem OPPE melalui pengembangan SIMRS, umpan balik berkelanjutan, dan peer review terstruktur direkomendasikan untuk mendukung tata kelola klinis berbasis data yang lebih kuat di RSU Bunda Margonda.

Quality control of medical services is a fundamental component of clinical governance in hospitals, as it directly influences patient safety, service effectiveness, and professional accountability of healthcare providers. RSU Bunda Margonda has implemented inpatient medical service quality indicators alongside a physician performance evaluation system through the Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE). Despite both systems being operational as part of clinical governance, the relationship between quality indicator achievements and OPPE assessment outcomes within the Surgical Medical Staff Group had not been systematically or comprehensively analyzed.  This study aims to analyze the influence of inpatient medical service quality indicators on OPPE assessment results among specialist doctors in the Surgical Medical Staff Group at RSU Bunda Margonda in 2025. The study employed a mixed methods approach with a sequential explanatory design, where quantitative analysis of 16 specialist doctors from 8 surgical sub-specializations was conducted first, followed by in-depth interviews with key informants including the Head of Medical Services and the Quality Committee Chair. The OPPE instrument comprised three main dimensions: Behavior (weight 30%), Professional Development (weight 30%), and Clinical Performance (weight 40%).  The findings confirm a significant and meaningful relationship between inpatient medical service quality indicator achievements and OPPE assessment results among Surgical Medical Staff doctors. The average total OPPE score for the Surgical Medical Staff Group reached 4.086 (B-Very Good), with 6 doctors (37.5%) achieving A-Excellent, 8 doctors (50.0%) achieving B-Very Good, and 2 doctors (12.5%) rated C-Good. The ENT-Head and Neck Surgery subspecialty recorded the highest average score (4.326), while General Surgery recorded the lowest average (3.647) with the widest variation. The Clinical Performance dimension achieved the highest proportional score (93.3% of maximum), while the Behavior dimension contributed the greatest variability among individual physicians. Clinical outcome indicators, particularly the surgical site infection (SSI/IDO-ILO) rate and re-operation rate, were identified as the most dominant contributors to OPPE scores.  In conclusion, inpatient medical service quality indicators particularly specialist physician visit compliance, medical record completeness, clinical pathway adherence, Surgical Safety Checklist (SSC) and IPSG compliance, surgical site infection rate, and re-operation rate demonstrated significant associations with OPPE assessment outcomes. The OPPE system at RSU Bunda Margonda has a foundation aligned with evidence-based clinical governance principles; however, five gaps remain compared to international standards: the absence of a formal peer review mechanism, manual integration of quality indicator data, incomplete representation of all six ACGME competency domains, unavailability of per-physician operative case volume data, and non-standardized physician feedback mechanisms. Strengthening the OPPE system through enhanced hospital information system (SIMRS) development, continuous feedback cycles, and structured peer review is recommended to support more robust data-driven clinical governance at RSU Bunda Margonda.
Read More
B-2624
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Safar; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Amal Chalik Sjaaf, Muhammad Dian Luthfy Lubis, Markus Waseso Suharyono
Abstrak: Pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi RS UI dalam mengedepankan pelayanan kepada pasien yang bersifat holistik, demi kepentingan dan keselamatan pasien. Case manager merupakan jabatan baru di RS UI, sehingga dianggap masih memiliki banyak celah dalam penerapannya. Peran case manager dirasakan belum optimal di lapangan, terutama oleh klinisi dan manajemen. Tujuan penelitian adalah untuk merumuskan tugas pokok fungsi case manager dalam pelayanan pasien Covid-19, dan mengidentifikasi peran yang telah dilaksanakan oleh case manager. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental kualitatif, menggunakan pendekatan fenomenologi dengan desain potong lintang. Peneliti menemukan bahwa case manager RS UI belum menjalankan peran sesuai rumusan tugas pokok fungsi case manager yang ada dalam standar akreditasi RS; rumusan tugas pokok fungsi case manager belum sesuai dengan kebutuhan pelayanan pasien Covid-19 di RS UI, sehingga case manager RS UI belum menjalankan peran sesuai rumusan tugas pokok fungsi case manager untuk kebutuhan pelayanan pasien Covid-19 di RS UI. Secara garis besar, terdapat tiga hambatan peran case manager, yaitu hambatan pengorganisasian, hambatan aktivitas, dan hambatan evaluasi. Peneliti merekomendasikan agar tupoksi case manager tetap memenuhi standar akreditasi, dan disesuaikan dengan karakteristik RS. Selain itu, perlu dilakukan penguatan case manager secara kualitas dan kuantitas, agar dapat berperan lebih optimal.
Read More
B-2251
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nita Nuryatin; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Pujiyanto, Alim A. Irsal,
Abstrak: Sejak tahun 2011, pemerintah telah menjamin layanan pengobatan bagi penderitathalassemia. Pengobatan suportif yang didukung oleh BPJS berupa transfusi darahdan obat khusus (kelasi besi) namun rumah sakit belum memiliki informasi akuratmengenai biaya riil. Penelitian yang dilakukan di RS Anna Medika Bekasi inimenggunakan metode ABC (Activity Based Costing) di mana aktivitas diperolehdari sampel 20 pasien thalassemia dewasa dengan rawat inap serta 20 pasienthalassemia anak-anak dengan rawat inap. Hasil studi menunjukkan bahwa biayasatuan pelayanan pasien thalassemia dewasa dengan rawat inap adalah Rp.8.559.433 dan Rp. 6.411.485 pasien thalassemia anak-anak dengan rawat inap perepisode. Pemicu biaya adalah biaya operasional (61%) dan tingkat pemulihanbiaya (cost recovery rate) adalah 108%.Kata kunci: Biaya, pemulihan biaya (cost recovery rate), thalassemia, ActivityBased Costing (ABC)
Since 2011, the government covered all treatment for thalassemia patients. BPJSprovide a supportive treatment including blood transfusion and chelating ironmedicine, but the hospital donot have accurate informationa on the real cost. Thisresearch done in Anna Medika Hospital was using Activity Based Costingapproach, activity on inpatient care of the patients was captured from sampled of20 adults and 20 children patients treated at the hospital. The study revealed thatunit cost per episode was Rp. 8.559.433 for adult thalassemia patient and Rp.6.411.485 for the thalassemia children patient with inpatient care. Cost driver wasoperational cost (60%). Cost recovery rate was 108%.Keywords: Cost, Cost Recovery Rate, Thalassemia, Activity Based Costing(ABC)
Read More
B-1802
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hana Apriyanti; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Prastuti Soewondo, Atik Nurwahyuni, Melanie Husna, Iin Rahayu Kurniawati
Abstrak: Penelitian ini merupakan studi kasus di salah satu rumah sakit swasta tipe C di Kabupaten Bojonegoro yang bertujuan untuk memperoleh biaya satuan pasien rawat inap COVID19 dan perbandingannya dengan tarif Kementerian Kesehatan berdasarkan KMK No.HK.01.07/MENKES/5673/2021 dan No.HK.01.07/MENKES/1112/2022. Biaya satuan yang dihitung untuk 1 pasien COVID-19 selama 1 episode rawat inap, dimulai dari pasien masuk ke IGD COVID-19 sampai pasien keluar rumah sakit, dengan menggunakan metode ABC. Penelitian dilakukan pada berkas klaim rawat inap pasien COVID-19 yang masuk rumah sakit 1 Oktober 2021-28 Februari 2022 dengan kriteria inklusi: berkas klaim yang memiliki resume medis lengkap, pasien yang termasuk dalam kriteria suspek, probable, dan konfirmasi; dengan kriteria eksklusi: pasien rawat inap COVID-19 yang pulang APS dan dirujuk, klaim tidak layak, berkas yang berstatus pending dan dispute per April 2022. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan melakukan telaah dokumen, wawancara, serta observasi dan terdiri dari 3 tahap pengumpulan data. Terdapat 57 berkas klaim rawat inap pasien COVID-19 dengan karakteristik sebagai berikut: 54,39% pasien perempuan; dengan usia <60 tahun sebanyak 61,40%; 49,12% pasien sudah pernah menerima 2 kali vaksin COVID-19; pasien yang tidak memiliki komorbid sebanyak 57,89%; dengan 78,95% LOS selama 1-5 hari; 84,21% keluar dari rumah sakit dangan keadaan sembuh; diagnosa U07.1 sebanyak 54,39%; 56,14% termasuk ke dalam kelompok A-4-9-I. Biaya satuan pasien rawat inap COVID-19 yang terbesar adalah pada diagnosa U07.1;E03.9 (A-4-19-II) senilai Rp 38.916.021,91, diikuti U07.1;E11.9;E88.0 (A-4-19-II) senilai Rp 31.122.007,44, kemudian U07.1;I11.0 (A-4-19-III) senilai Rp 30.558.210,40. Sedangkan biaya satuan pasien rawat inap COVID-19 yang terkecil adalah pada diagnosa U07.1;G40.9 yaitu senilai Rp 9.467.928,01 yang termasuk ke dalam kelompok diagnosa konfirmasi COVID19 level 2. Secara keseluruhan komponen biaya terbesar adalah biaya langsung yaitu bervariasi sebesar 85-99% dan biaya tidak langsung yaitu 1-15%. Komponen biaya langsung terbesar berupa biaya logistik (81-90%) yang dipergunakan selama perawatan pasien COVID-19 di rumah sakit, sedangkan biaya jasa pelayanan sebesar 10-19%. Terdapat selisih positif nilai biaya satuan pasien rawat inap COVID-19 apabila dibandingkan dengan tarif KMK No.HK.01.07/MENKES/5673/2021. Selisih positif terbesar pada diagnosa U07.1;I64;G81.9 yaitu senilai Rp 59.990.525,65. Selisih positif terkecil yaitu Rp 4.149.364,92 pada diagnosa U07.2 (A-4-18-I). Apabila dibandingkan dengan KMK No.HK.01.07/MENKES/1112/2022 terdapat selisih negatif pada 9 diagnosa ICD-10 dan 11 diagnosa ICD-10 memiliki selisih positif. Selisih negatif terbesar yaitu Rp 22.623.021,91(U07.1;E03.9) dan selisih negatif terkecil yaitu Rp 29.199,24 (U07.1;E11.1).
Read More
B-2286
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive