Ditemukan 35872 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Royyan Mursyidan; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Fitra Yelda
Abstrak:
Rentang perilaku pacaran mulai dari berciuman bibir hingga hubungan seks pranikah merupakan tahapan dari kontak seksual yang menyebabkan remaja untuk melakukan perilaku seksual berisiko bersama pacar sehingga dapat menyebabkan remaja yang baru mengenal pacaran untuk memiliki perilaku pacaran yang berisiko (BKKBN, 2018). Menurut SKAP KKBPK tahun 2019, terdapat 3,8% remaja pria dan 1% remaja wanita di DKI Jakarta yang mengaku pernah melakukan hubungan seksual pranikah ketika berpacaran. Hal ini menyebabkan daerah perkotaan memiliki tantangan yang lebih besar dalam menghadapi masalah perilaku seks pranikah. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pola pacaran berisiko remaja adalah pengetahuan kesehatan reproduksi, sikap permisif, dan pergaulan teman sebaya. Desain penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat analitik dengan pendekatan cross-sectional yang bertujuan mengetahui peran pengetahuan kesehatan reproduksi, sikap permisif serta faktor pergaulan teman sebaya dengan pola pacaran remaja SMA di DKI Jakarta pada tahun 2023. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 10 dan 11 di SMAN 38 Jakarta dan SMAN 90 Jakarta dengan pengambilan sampel secara stratified proportional random sampling. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi terhadap pola pacaran beresiko remaja. Selain itu, peran sikap permisif terhadap pola pacaran remaja juga tidak memiliki hubungan yang signifikan. Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara pergaulan teman sebaya terhadap pola pacaran remaja. Oleh sebab itu, disarankan bagi institusi pendidikan untuk meningkatkan pendekatan dan pemahaman kepada siswa terkait pergaulan yang negatif guna mencegah siswa memiliki pola pacaran berisiko.
The range of dating behavior from kissing on the lips to premarital sex is a stage of sexual contact that causes teenagers to engage in risky sexual behavior with their boyfriends, which can cause teenagers who are new to dating to have risky dating behavior (BKKBN, 2018). According to the SKAP KKBPK 2019, there were 3.8% of male teenagers and 1% of female teenagers in DKI Jakarta who admitted to having had premarital sexual relations while dating. This causes urban areas to have greater challenges in dealing with the problem of premarital sexual behavior. Factors that can influence teenagers' risky dating patterns are reproductive health knowledge, permissive attitudes, and peer interactions. The design of this research is quantitative, analytical research with a cross-sectional approach which aims to determine the role of reproductive health knowledge, permissive attitudes and peer interaction factors in the dating patterns of high school teenagers in DKI Jakarta in 2023. The population in this study is 10th and 11th grade students at SMAN 38 Jakarta and SMAN 90 Jakarta using stratified proportional random sampling. The results of the study showed that there was no significant relationship between reproductive health knowledge and risky dating patterns among adolescents. Apart from that, the role of permissive attitudes on adolescent dating patterns also does not have a significant relationship. However, there is a significant relationship between peer interactions and adolescent dating patterns. Therefore, it is recommended for educational institutions to improve their approach and understanding of negative relationships with students in order to prevent students from having risky dating patterns.
Read More
The range of dating behavior from kissing on the lips to premarital sex is a stage of sexual contact that causes teenagers to engage in risky sexual behavior with their boyfriends, which can cause teenagers who are new to dating to have risky dating behavior (BKKBN, 2018). According to the SKAP KKBPK 2019, there were 3.8% of male teenagers and 1% of female teenagers in DKI Jakarta who admitted to having had premarital sexual relations while dating. This causes urban areas to have greater challenges in dealing with the problem of premarital sexual behavior. Factors that can influence teenagers' risky dating patterns are reproductive health knowledge, permissive attitudes, and peer interactions. The design of this research is quantitative, analytical research with a cross-sectional approach which aims to determine the role of reproductive health knowledge, permissive attitudes and peer interaction factors in the dating patterns of high school teenagers in DKI Jakarta in 2023. The population in this study is 10th and 11th grade students at SMAN 38 Jakarta and SMAN 90 Jakarta using stratified proportional random sampling. The results of the study showed that there was no significant relationship between reproductive health knowledge and risky dating patterns among adolescents. Apart from that, the role of permissive attitudes on adolescent dating patterns also does not have a significant relationship. However, there is a significant relationship between peer interactions and adolescent dating patterns. Therefore, it is recommended for educational institutions to improve their approach and understanding of negative relationships with students in order to prevent students from having risky dating patterns.
S-11549
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dastya Yusufina; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Zeba Evolusi
Abstrak:
Read More
Pada remaja perilaku pacaran erat kaitannya dengan pengalaman romantis yang berguna bagi perkembangan psikologis, terutama pengembangan keintiman. Namun, perilaku pacaran dapat menjadi berisiko apabila melakukan kontak seksual yang dimulai dari berciuman bibir hingga melakukan hubungan seks pranikah. Menurut data SKAP KKBPK tahun 2019, 3.8% remaja laki-laki dan 1% remaja perempuan mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah selama berpacaran. Dalam melakukan perilaku seksual berisiko remaja dipengaruhi oleh faktor individu dan lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan kesehatan reproduksi, sikap permisif, pergaulan teman serta pola asuh orang tua terhadap perilaku seksual berisiko pada remaja SMA di DKI Jakarta yang distratifikasi berdasarkan jenis kelamin dan pola asuh keluarga positif. Penelitian menggunakan desain kuantitatif yang bersifat analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data Survey Perilaku Remaja Siswa Sekolah Menengah di DKI Jakarta dengan sampel sejumlah 873 yang berasal dari seluruh kelas 10 dan 11 di SMAN 38 dan SMAN 90 Jakarta dengan pengambilan sampel secara total sampling. Hasil penelitian menunjukkan sikap permisif (p-value 0.036, OR=2.076 Cl 95%= 1.036-4.161) dan pergaulan teman sebaya (p-value 0.001, OR=8.500 Cl 95%= 3.950-18.293) memiliki hubungan yang signifikan terhadap perilaku seksual berisiko sedangkan pengetahuan kesehatan reproduksi (p-value 0.149, OR=0.618 Cl 95%=0.320-1.195) dan pola asuh orang tua positif (p-value 0.241, OR=1.480 Cl 95%=0.766-2.862) tidak memiliki hubungan terhadap perilaku seksual berisiko. Analisis stratifikasi menunjukkan bahwa jenis kelamin berpengaruh pada hubungan pergaulan teman sebaya terhadap perilaku seksual berisiko, namun pada hubungan sikap permisif terhadap perilaku seksual berisiko hanya berpengaruh pada jenis kelamin laki-laki saja. Pola asuh keluarga positif juga berpengaruh pada hubungan teman sebaya terhadap perilaku seksual berisiko. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan seminar serta secara rutin terkait kesehatan reproduksi kepada siswa sekolah. Kemudian disarankan kepada instansi kesehatan dan sekolah untuk berkolaborasi dan memberikan pembekalan edukasi kesehatan reproduksi kepada orang tua yang ikut andil dalam mendidik dan memonitoring perilaku pacaran remaja di lingkungan rumah.
In adolescent, dating behavior is closely related to romantic experiences that are useful for psychological development, especially the development of intimacy. However, dating behavior can be risky if it involves sexual contact that starts from kissing lips to having premarital sex. According to SKAP KKBPK data in 2019, 3.8% of male adolescents and 1% of female adolescents admitted to having had premarital sex during dating. Adolescent risky sexual behavior is influenced by individual and environmental factors. Therefore, this study aims to determine the relationship between reproductive health knowledge, permissive attitudes, peer association, and parenting patterns on risky sexual behavior among high school adolescents in DKI Jakarta stratified by gender and positive family parenting. The study used a quantitative design that was analytic in character with a cross-sectional approach. The data used were secondary data in the form of data from the Youth Behavior Survey High School Students in DKI Jakarta with a sample of 873 from all grades 10 and 11 at SMAN 38 and SMAN 90 Jakarta with total sampling. The results showed that permissive attitude (p-value 0.036, OR=2.076 Cl 95%= 1.036-4.161) and peer association (p-value 0.001, OR=8.500 Cl 95%= 3.950-18.293) had a significant relationship with risky sexual behavior while reproductive health knowledge (p-value 0.149, OR=0.618 Cl 95%=0.320-1.195) and positive parenting (p-value 0.241, OR=1.480 Cl 95%=0.766-2.862) had no relationship with risky sexual behavior. Stratification analysis showed that gender had an effect on the relationship between peer association and risky sexual behavior, but only male gender had an effect on the relationship between permissive attitudes and risky sexual behavior. Positive family parenting also had an effect on peer association on risky sexual behavior. Therefore, it is recommended to conduct seminars and regularly related to reproductive health to school students. It is also recommended for health agencies and schools to collaborate and provide reproductive health education to parents who take part in educating and monitoring adolescents dating behavior in their homes.
S-11665
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sasqia Rizqiana; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Intan Kusumawati
Abstrak:
Read More
Kementerian Kesehatan RI melaporkan bahwa prevalensi merokok pada usia 10-18 tahun pada tahun 2023 di Indonesia mencapai 7,4%. Tingkat merokok pada remaja dapat dikurangi dengan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku merokok. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan self-esteem, lingkungan keluarga merokok, pola asuh negatif, dan tekanan teman sebaya dengan perilaku merokok pada siswa SMA DKI Jakarta Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan data Survei Perilaku Remaja Siswa Sekolah Menengah di DKI Jakarta dengan menggunakan desain studi cross-sectional yang dianalisis secara univariat, bivariat, dan stratifikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan lingkungan keluarga merokok (p=0,0001), pola asuh negatif (p=0,0001), dan tekanan teman sebaya (p= 0,0001) dengan perilaku merokok pada siswa, sedangkan pada self-esteem tidak terdapat hubungan dengan perilaku merokok pada siswa (p=0,582). Analisis stratifikasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan self-esteem, lingkungan keluarga merokok, dan tekanan teman sebaya dengan perilaku merokok siswa perempuan, sedangkan pada laki-laki terdapat hubungan lingkungan keluarga merokok, pola asuh negatif, dan tekanan teman sebaya dengan perilaku merokok. Selain itu, terdapat pengaruh pola asuh negatif pada hubungan tekanan teman sebaya dengan perilaku merokok pada siswa. Sementara itu, tidak terdapat pengaruh pola asuh negatif pada hubungan self-esteem dengan perilaku merokok pada siswa. Oleh karena itu, disarankan untuk mengadakan layanan konseling dan program peer educator/peer counselor pada siswa.
The prevalence of smoking among 10-18 years old in Indonesia reach 7,4% in 2023. Understanding the factors associated with smoking behavior can reduce smoking rates in adolescents. The purpose of this study is to determine the relationship between self-esteem, smoking family environment, negative parenting, and peer pressure with smoking behavior among high school students in DKI Jakarta in 2023. This study uses data from the Adolescent Behavior Survey of High School Students in DKI Jakarta using a cross-sectional study design that was analyzed univariate, bivariate, and stratified. The results of the study showed a relationship between smoking family environment (p=0,0001), negative parenting (p=0,0001), and peer pressure (p=0,0001) with smoking behavior among students. Meanwhile, self-esteem (p=0,582) is not related to smoking behavior among students. Stratified analysis shows a relationship between self-esteem, smoking family environment, and peer pressure with smoking behavior among female students, while among male students, there is a relationship between smoking family environment, negative parenting, and peer pressure with smoking behavior. Apart from that, negative parenting influences the relationship between peer pressure and smoking behavior among students. Meanwhile, there was no influence of negative parenting on the relationship between self-esteem and smoking behavior among students. Therefore, it is recommended to provide counseling services and peer educator/peer counselor programs for students.
S-11658
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Serena Ade Sonya Pakpahan; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Mona Lisa
Abstrak:
Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-esteem dan pola asuh orang tua terhadap depresi pada siswa SMA di Jakarta Selatan tahun 2023. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional berdasarkan data sekunder dari Survei Perilaku Remaja tahun 2023. Sampel terdiri dari 866 siswa kelas 10 dan 11 dari SMAN 38 dan SMAN 90 Jakarta Selatan yang diambil secara total sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa self-esteem rendah (p < 0.001; OR = 7.35, CI 95%: 5.07–10.64) dan pola asuh negatif (p < 0.001; OR = 2.91, CI 95%: 2.16–3.91) memiliki hubungan signifikan dengan tingkat depresi siswa. Analisis stratifikasi berdasarkan jenis kelamin mengungkapkan bahwa self-esteem rendah memiliki hubungan yang lebih kuat terhadap depresi pada siswa laki-laki (OR = 9.71, CI 95%: 5.90–16.00, p < 0.001) dibandingkan siswa perempuan (OR = 5.81, CI 95%: 3.81–8.84, p < 0.001). Pola asuh negatif juga ditemukan memiliki dampak yang konsisten pada kedua jenis kelamin, meskipun variasinya lebih kecil. Penelitian ini merekomendasikan sekolah untuk menyediakan pelatihan bagi guru dan konselor dalam mendeteksi tanda awal depresi pada siswa, serta mengadakan layanan konseling yang mendukung siswa dengan self-esteem rendah dan pengalaman pola asuh negatif. Penting untuk mengadakan seminar terkait kesehatan mental dan pola asuh positif bagi orang tua, serta mendorong penelitian lanjutan dengan pendekatan longitudinal dan eksplorasi variabel lain yang relevan.
This study aims to analyze the relationship between self-esteem, parenting styles, and socioeconomic status on depression among high school students in South Jakarta in 2023. The study employed a quantitative design with a cross-sectional approach using secondary data from the 2023 Adolescent Behavior Survey. The sample consisted of 866 10th- and 11th-grade students from SMAN 38 and SMAN 90 Jakarta, selected through total sampling. The analysis showed that low self-esteem (p < 0.001; OR = 7.35, CI 95%: 5.07–10.64) and negative parenting styles (p < 0.001; OR = 2.91, CI 95%: 2.16–3.91) were significantly associated with depression levels. Stratified analysis by gender revealed that low self-esteem had a stronger association with depression among male students (OR = 9.71, CI 95%: 5.90–16.00, p < 0.001) compared to female students (OR = 5.81, CI 95%: 3.81–8.84, p < 0.001). Negative parenting styles were consistently associated with depression in both genders, though the variation was smaller. This study recommends that schools provide training for teachers and counselors to detect early signs of depression in students and establish counseling services to support students with low self-esteem and negative parenting experiences. Additionally, it is essential to organize seminars on mental health and positive parenting for parents and to encourage further research using longitudinal approaches and exploration of other relevant variables
Read More
This study aims to analyze the relationship between self-esteem, parenting styles, and socioeconomic status on depression among high school students in South Jakarta in 2023. The study employed a quantitative design with a cross-sectional approach using secondary data from the 2023 Adolescent Behavior Survey. The sample consisted of 866 10th- and 11th-grade students from SMAN 38 and SMAN 90 Jakarta, selected through total sampling. The analysis showed that low self-esteem (p < 0.001; OR = 7.35, CI 95%: 5.07–10.64) and negative parenting styles (p < 0.001; OR = 2.91, CI 95%: 2.16–3.91) were significantly associated with depression levels. Stratified analysis by gender revealed that low self-esteem had a stronger association with depression among male students (OR = 9.71, CI 95%: 5.90–16.00, p < 0.001) compared to female students (OR = 5.81, CI 95%: 3.81–8.84, p < 0.001). Negative parenting styles were consistently associated with depression in both genders, though the variation was smaller. This study recommends that schools provide training for teachers and counselors to detect early signs of depression in students and establish counseling services to support students with low self-esteem and negative parenting experiences. Additionally, it is essential to organize seminars on mental health and positive parenting for parents and to encourage further research using longitudinal approaches and exploration of other relevant variables
S-11856
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mardiah Hayati; Pembimbing: Endah Wuryaningsih; Penguji: Anwar Hasan, Sarining Rahajoe
S-5498
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Angeline Gloria; Pembimbing: Soekidjo Notoatmodjo; Penguji: Anwar Hassan, Kusdianti
Abstrak:
Berbagai permasalahan kesehatan reproduksi yang dialami remaja disebabkan oleh kurangnya pemahaman dan kesadaran akan reproduksi sehat. Penyuluhan kesehatan perlu diberikan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap mengenai kesehatan reproduksi remaja dan dapat dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya metode ceramah dan diskusi kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh penggunaan metode ceramah dan diskusi kelompok terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap kesehatan reproduksi remaja pada siswa SMP Negeri 281 Jakarta. Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan rancangan Non Equivalent Control Group. Subjek penelitian terdiri dari 27 siswa pada masing-masing kelompok eksperimen (metode ceramah dan diskusi kelompok) dan 31 siswa pada kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan peningkatan pengetahuan responden yang bermakna antara metode ceramah dan metode diskusi kelompok. Terdapat perbedaan peningkatan pengetahuan responden yang bermakna ketika metode ceramah ataupun metode diskusi kelompok dibandingkan dengan kelompok kontrol. Terdapat perbedaan peningkatan sikap responden yang bermakna antara metode ceramah dan metode diskusi kelompok. Terdapat perbedaan peningkatan sikap responden yang bermakna ketika metode ceramah ataupun metode diskusi kelompok dibandingkan dengan kelompok kontrol. Penyuluhan kesehatan dengan metode ceramah dan metode diskusi kelompok tidak memberikan perbedaan pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap siswa mengenai kesehatan reproduksi remaja.
Kata kunci: ceramah, diskusi kelompok, kesehatan reproduksi remaja, pengetahuan, sikap
Read More
Kata kunci: ceramah, diskusi kelompok, kesehatan reproduksi remaja, pengetahuan, sikap
S-8575
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jati Ismiyanto; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Anwar Hasan, Dewi Ramadhania
S-8464
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aribah Daffa Aji Putri; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Anastasia Maria Sri Rejeki
Abstrak:
Read More
Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS), prevalensi perokok elektronik di Indonesia meningkat hingga 10 kali lipat dalam kurun waktu 10 tahun. Hasil Riskesdas tahun 2018 juga menujukkan bahwa remaja adalah kelompok umur tertinggi pada angka perokok elektronik. Beberapa studi di berbagai negara menunjukkan masih rendahnya pengetahuan orang tua dari remaja terhadap rokok elektronik. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan praktik orang tua dari remaja terhadap rokok elektronik di Kelurahan Beji Timur. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan studi cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified random sampling yang diikuti sebanyak 145 responden dengan mengisi kuesioner tertulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua dari remaja di Kelurahan Beji Timur memiliki pengetahuan tentang rokok elektronik dalam kategori cukup (39,3%), sikap yang negatif terhadap penggunaan rokok elektronik (58,6%), dan praktik pencegahan rokok elektronik yang baik (51,7%). Berdasarkan hasil penelitian, maka diperlukan peningkatan program promosi kesehatan yang berfokus terhadap rokok elektronik, khususnya dengan sasaran remaja dan orang tua sebagai upaya pencegahan perilaku merokok elektronik di Kelurahan Beji Timur.
Based on the Global Adult Tobacco Survey (GATS), the prevalence of electronic cigarette smokers in Indonesia has increased up to 10 times in a span of 10 years. The results of the Riskesdas 2018 also showed that adolescents are the highest age group in terms of electronic cigarette use. Several studies in various countries have indicated the low level of knowledge among parents of adolescents regarding electronic cigarettes. Therefore, this research was conducted to understand the knowledge, attitudes, and practices of parents of adolescents towards electronic cigarettes in the Beji Timur Subdistrict. This study used a quantitative method with a cross-sectional design. The sampling was done using stratified random sampling technique, with a total of 145 respondents filling out written questionnaires. The results of the study showed that parents of adolescent in Beji Timur subdistrict’s knowledge about electronic cigarettes categorized as average (39,3%), negative attitudes towards electronic cigarette use (58,6%), and good practices in preventing electronic cigarette use (51.7%). Based on the research findings, there is a need for an improvement in health promotion programs that specifically focus on electronic cigarettes, particularly targeting adolescents and parents, as an effort to prevent electronic smoking behavior in the Beji Timur Subdistrict.
S-11387
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Amaliyah Nurmely Rahmah Saragih; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Martya Rahmaniati Makful, Melyana, Zhafira Aqyla
Abstrak:
Read More
Literasi kesehatan reproduksi merupakan kemampuan dalam mengakses, memahami, menilai, dan menggunakan informasi kesehatan reproduksi secara tepat untuk mendukung pengambilan keputusan yang sehat dan bertanggung jawab. Di era digital, media sosial menjadi salah satu sumber informasi, termasuk terkait isu kesehatan reproduksi. Instagram @taulebih.id merupakan inisiatif edukasi yang dirancang untuk meningkatkan literasi kesehatan reproduksi di kalangan remaja. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran aktivitas penggunaan Instagram dan self-efficacy terhadap literasi kesehatan reproduksi remaja. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan sampel sebanyak 255 remaja perempuan berusia 18–24 tahun yang merupakan pengikut akun @taulebih.id. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang mengadaptasi instrumen Social Media Activity Questionnaire (SMAQ), Generalized Self-Efficacy Scale (GSES), dan kuesioner literasi kesehatan reproduksi yang telah divalidasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas penggunaan Instagram berhubungan dengan literasi kesehatan reproduksi (p = 0,001). Self-efficacy juga memiliki hubungan dengan literasi kesehatan reproduksi (p = 0,001). Responden dengan aktivitas penggunaan Instagram dan self-efficacy tinggi cenderung memiliki skor literasi kesehatan reproduksi yang lebih tinggi. Self-efficacy ditemukan sebagai faktor yang memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan aktivitas penggunaan Instagram. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi peningkatan literasi kesehatan reproduksi perlu mengintegrasikan penguatan self-efficacy remaja dan optimalisasi penggunaan media sosial melalui partisipasi aktif, konten yang relevan, serta pendekatan interaktif. Strategi kolaboratif lintas sektor diperlukan untuk menciptakan ekosistem edukasi kesehatan reproduksi digital yang efektif, aman, dan berkelanjutan guna mendukung remaja dalam mengambil keputusan kesehatan reproduksi yang tepat dan bertanggung jawab.
Reproductive health literacy refers to the ability to access, understand, evaluate, and apply reproductive health information appropriately to support healthy and responsible decision-making. In the digital era, social media has become a major source of information, including on reproductive health issues. Instagram @taulebih.id is an educational initiative designed to improve reproductive health literacy among adolescents. This study aimed to analyze the role of Instagram use activity and self-efficacy on adolescents’ reproductive health literacy. A cross-sectional design was employed with a sample of 255 female adolescents aged 18–24 years who were followers of @taulebih.id. Data were collected through an online questionnaire adapting the Social Media Activity Questionnaire (SMAQ), the Generalized Self-Efficacy Scale (GSES), and a validated reproductive health literacy questionnaire. The results showed that Instagram use activity was significantly associated with reproductive health literacy (p = 0.001). Self-efficacy was also significantly associated with reproductive health literacy (p = 0.001). Respondents with higher Instagram use activity and greater self-efficacy tended to have higher reproductive health literacy scores. Self-efficacy was found to have a stronger influence compared to Instagram use activity. These findings indicate that interventions to improve reproductive health literacy need to integrate the strengthening of adolescents’ self-efficacy and the optimization of social media use through active participation, relevant content, and interactive approaches. Cross-sectoral collaborative strategies are required to develop an effective, safe, and sustainable digital reproductive health education ecosystem that supports adolescents in making appropriate and responsible reproductive health decisions.
Reproductive health literacy refers to the ability to access, understand, evaluate, and apply reproductive health information appropriately to support healthy and responsible decision-making. In the digital era, social media has become a major source of information, including on reproductive health issues. Instagram @taulebih.id is an educational initiative designed to improve reproductive health literacy among adolescents. This study aimed to analyze the role of Instagram use activity and self-efficacy on adolescents’ reproductive health literacy. A cross-sectional design was employed with a sample of 255 female adolescents aged 18–24 years who were followers of @taulebih.id. Data were collected through an online questionnaire adapting the Social Media Activity Questionnaire (SMAQ), the Generalized Self-Efficacy Scale (GSES), and a validated reproductive health literacy questionnaire. The results showed that Instagram use activity was significantly associated with reproductive health literacy (p = 0.001). Self-efficacy was also significantly associated with reproductive health literacy (p = 0.001). Respondents with higher Instagram use activity and greater self-efficacy tended to have higher reproductive health literacy scores. Self-efficacy was found to have a stronger influence compared to Instagram use activity. These findings indicate that interventions to improve reproductive health literacy need to integrate the strengthening of adolescents’ self-efficacy and the optimization of social media use through active participation, relevant content, and interactive approaches. Cross-sectoral collaborative strategies are required to develop an effective, safe, and sustainable digital reproductive health education ecosystem that supports adolescents in making appropriate and responsible reproductive health decisions.
T-7404
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kartika Ekasari; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Tiara Amelia, R. Arso Budiriyadi
Abstrak:
Read More
Konsumsi minuman berpemanis pada remaja terus meningkat, sehngga berpotensi meningkatkan risiko penyakit tidak menular. Penelitian ini bertujuan menggambarkan pengetahuan, sikap, dan praktik remaja SMA X Kota Bogor dalam mengonsumsi minuman berpemanis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Informan utama adalah siswa-siswi berusia 16-17 tahun, didukung oleh orang tua, guru, kepala sekolah, penjual minuman berpemanis, serta informan kunci seperti ahli gizi dan Balai POM. Data diperoleh melalui FGD, wawancara mendalam, dan observasi, lalu dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan bahwa pengetahuan remaja mengenai konsep minuman berpemanis dan dampak kesehatan jangka panjang tergolong baik, tetapi pemahaman mengenai dampak kesehatan jangka pendek masih terbatas. Sikap remaja terhadap minuman berpemanis terbentuk dari pemahaman yang cukup baik, respons emosional yang kurang konsisten, dan niat mengurangi konsumsi yang sering kali terhambat faktor lingkungan. Remaja laki-laki cenderung lebih sering mengonsumsi minuman berpemanis ketimbang remaja perempuan, dengan dipengaruhi oleh media sosial, situasi sosial, dan preferensi pribadi. Sebagian remaja mulai berupaya mengurangi konsumsi, sementara sebagian lainnya belum memiliki motivasi yang kuat. Diperlukan intervensi edukatif yang melibatkan berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran dan perilaku konsumsi yang sehat.
The consumption of sugar-sweetened beverages in adolescents continues to increase, potentially increasing the risk of non-communicable diseases. This study aims to describe the knowledge, attitudes, and practices of SMA X adolescents in Bogor City in consuming sugar-sweetened beverages. This study used a qualitative approach with phenomenological methods. The main informants were students aged 16-17 years, supported by parents, teachers, school principals, sugar-sweetened beverage sellers, as well as key informants such as nutritionists and the Food and Drug Administration. Data were obtained through FGDs, in-depth interviews, and observations, then analyzed thematically. The results show that adolescents' knowledge of the concept of sugar-sweetened beverages and long-term health impacts is good, but understanding of short-term health impacts is still limited. Adolescents' attitudes towards sugar-sweetened beverages are formed from a fairly good understanding, less consistent emotional responses, and intentions to reduce consumption which are often hampered by environmental factors. Male adolescents tend to consume sugar-sweetened beverages more often than female adolescents, influenced by social media, social situations, and personal preferences. Some adolescents are starting to make efforts to reduce consumption, while others do not have strong motivation. Educational interventions involving various parties are needed to increase awareness and healthy consumption behavior.S-12009
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
