Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38258 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Febrini Damayanti; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Anhari, Achadi, Ede Surya Darmawan, Syahrul Muhammad, Dante Saksono Harbuwono
Abstrak:

Latar belakang: Di Indonesia, tingkat kunjungan Antenatal Care (ANC) masih mengalami tantangan serius dengan angka yang terus menunjukkan tingkat partisipasi yang sangat rendah atau kepatuhan pemeriksaan yang rendah. Hal ini dipengaruhi oleh predisposing factors, enablings factors, dan reinforcing factors. Seiring perkembangan teknologi, dalam meningkatkan kepatuhan pemeriksaan ANC tersedia layanan telemedicine. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui hubungan karakteristik pada pasien pengguna telemedicine dengan pasien kunjungan langsung terhadap kepatuhan pasien kunjungan antenatal care di RSIA Marissa Palembang Metodologi penelitian: Penelitian ini merupakan jenis penelitian mixmethode dengan desain sequential explanatory dengan maksud untuk mengetahui tentang kepatuhan pasien yang menggunakan telemedicine dan yang tidak menggunakan dalam kunjungan rutin antenatal care. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2024 hingga Mei 2024. Hasil penelitian: Terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik pengetahuan, sikap,kondisi lingkungan, dan dukungan keluarga terhadap kepatuhan pemeriksaan antenatal care pada pasien pengguna telemedicine maupun bukan pengguna telemedicine. Kesimpulan: Telemedicine tidak membuat pasien malas berkunjung, penggunaan telemedicine sangat membantu pasien dengan akses terbatas ke fasilitias kesehatan sehingga program ini direkomendasikan bagi RSIA Marissa sehingga dapat membantu masyarakat dalam hal akses pelayanan kesehatan. Peningkatan faktor enablings dan reinforcing memainkan peran penting dalam meningkatkan angka kepatuhan pemeriksaan antenatal care pada pasien Kata kunci: Telemedicine; Kepatuhan Pasien; Antenatal Care


Background: In Indonesia, the level of Antenatal Care (ANC) visits still faces serious challenges, with participation rates remaining very low and compliance with examinations being inadequate. This situation is influenced by predisposing factors, enabling factors, and reinforcing factors. With the advancement of technology, telemedicine services are available to enhance compliance with ANC examinations. Objective: To determine the relationship between the characteristics of telemedicine users and in-person patients on compliance with antenatal care visits at RSIA Marissa Palembang. Methode: This study is a mixed-method research with a sequential explanatory design, aimed at understanding the compliance of patients using telemedicine versus those not using it in routine antenatal care visits. The research will be conducted from March 2024 to May 2024. Results: There is a significant relationship between the characteristics of knowledge, attitude, environmental conditions, and family support with compliance to antenatal care examinations among both telemedicine users and non-users. Conclusion: Telemedicine does not make patients reluctant to visit; instead, it greatly assists patients with limited access to healthcare facilities. Therefore, this program is recommended for RSIA Marissa to help the community access healthcare services. Enhancing enabling and reinforcing factors plays a crucial role in improving compliance rates for antenatal care examinations among patients. Key Word: Telemedicine; Patient Compliance; Antenatal Care

Read More
B-2475
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pandu Lesmana Putra; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Puput Oktamianti, Rachmad, Sumijatun
Abstrak:
Kinerja perawat dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk stres. Mengingat perawat adalah profesi yang rentan terhadap tekanan dan stres, penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi stres kerja dan kinerja mereka. Beberapa faktor yang relevan meliputi karakteristik individu, gaya kepemimpinan, dukungan organisasi, dan motivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor penyebab stres kerja pada perawat di Rumah Sakit AM Bekasi serta dampaknya terhadap kinerja perawat, dengan mempertimbangkan pengaruh motivasi kerja, karakteristik individu, dukungan organisasi, dan gaya kepemimpinan. Responden dalam penelitian ini adalah 50 perawat dari unit IGD, rawat jalan, rawat inap, ICU, perinatologi, kamar operasi, dan hemodialisis. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan metode univariat, bivariat, dan SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik individu dan dukungan organisasi memiliki hubungan yang signifikan dengan stres kerja dan kinerja perawat (p<0.05). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan, baik langsung maupun tidak langsung, antara stres dan kinerja perawat. Faktor usia, unit kerja, pendidikan, dan lama bekerja berhubungan signifikan dengan stres kerja, sementara usia, pengalaman, dan status pernikahan berhubungan signifikan dengan kinerja perawat. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik individu memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja dan stres, sementara dukungan organisasi berpengaruh terha6dap stres. Namun, variabel motivasi dan stres tidak berperan sebagai mediator dalam hubungan ini, dan gaya kepemimpinan tidak memiliki pengaruh signifikan dalam konteks penelitian ini

Nurses' performance can be influenced by various factors, including stress. Given that nursing is a profession prone to pressure and stress, it is important to identify the factors that can affect job stress and performance. Relevant factors include individual characteristics, leadership style, organizational support, and motivation. This study aims to examine the factors causing job stress among nurses at AM Hospital Bekasi and its impact on their performance, considering the influence of work motivation, individual characteristics, organizational support, and leadership style. The respondents of this study were 50 nurses from the emergency unit, outpatient care, inpatient care, ICU, perinatology, operating room, and hemodialysis unit. Data were collected through questionnaires and analyzed using univariate, bivariate, and SEM-PLS methods. The results showed that individual characteristics and organizational support have a significant relationship with job stress dan nurse performance (p<0,05). However, no significant direct or indirect relationship was found between stress and nurse performance. Factors such as age, work unit, education, and length of service are significantly related to job stress, while age, length of service, and marital status are significantly related to nurse performance. Overall, this study shows that individual characteristics have a significant impact on performance and stress, while organizational support affects stress. However, motivation and stress variables do not serve as mediators in this relationship, and leadership style does not have a significant influence in the context of this study.
 
Read More
B-2477
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maryam Afifah; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Prastuti Soewondo, Wachyu Sulistiadi, Evy Febrina Nurpeni, Martha L. Siahaan
Abstrak:
Rumah sakit memerlukan tata kelola yang baik sebagai instansi mandiri yang bergerak di bidang layanan kesehatan. Tata kelola dalam layanan kesehatan tersebut diturunkan bentuk tata kelola klinis yang dirumuskan dalam Clinical Pathway. Clinical Pathway merupakan alur klinis yang mengatur standar pelayanan kesehatan yang diberikan oleh beragam tenaga ahli kesehatan. Kepatuhan terhadap Clinical Pathway juga menjadi tolak ukur mutu rumah sakit yang menjadi salah satu dari 13 indikator mutu nasional. Kepatuhan terhadap Clinical Pathway di RSIA Kenari Graha Medika masih dibawah standar nasional, untuk itu dilakukan analisis terkait gambaran implementasi dan kepatuhan terhadap Clinical Pathway demam dengue di RSIA Kenari Graha Medika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara terhadap 10 informan dan pengambilan data tagihan pasien rawat inap sebagai data sekunder. Data kemudian dilakukan validasi dengan triangulasi data. Hasil peneltian didapatkan kurangnya diskusi tim, sosialisasi, pelatihan dan pendampingan pada proses implementasi Clinical Pathway membuat pengetahuan terkait Clinical Pathway rendah sehingga variasi penggunaan obat dan jumlah pemeriksaan juga masih sering terjadi. Hal ini menjadi salah satu penyebab selisih tarif rumah sakit dengan tarif inacbg. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan untuk dilakukan perbaikan sistem pada implementasi Clinical Pathway di RSIA Kenari Graha Medika.

Hospitals require good clinical governance as independent institutions operating of healthcare services. Clinical Governance is manifested in the form of Clinical Pathways, which regulate the standards of healthcare provided by various healthcare professionals. Compliance with Clinical Pathways is also a benchmark for the quality of hospitals, which is one of the 13 national quality indicators. Compliance with Clinical Pathways at RSIA Kenari Graha Medika is below national standards. Therefore, an analysis was conducted regarding the implementation and compliance with the dengue fever Clinical Pathway at RSIA Kenari Graha Medika. This qualitative study involved interviews with 10 informants and the collection of inpatient billing data as secondary data. The data was then validated through data triangulation. The research found that a lack of discussion, socialization, training, and mentoring in the implementation process of Clinical Pathway results in low knowledge related to Clinical Pathway, leading to frequent variations in drug usage and the number of examinations. This is one of the reasons for the discrepancy in hospital rates compared to inacbg rates. This study is expected to be a consideration for improving the system in the implementation of Clinical Pathway at RSIA Kenari Graha Medika.
Read More
B-2476
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Selvie Fitria Pinandita; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Adang Bachtiar, Dumilah Ayuningtyas, Evy Febrina Nurpeni, Cholid Yamani
Abstrak: Latar belakang : Ketidaktercapaian target kunjungan pasien rawat jalan di RSIA Kenari Graha Medika selama 3 tahun terakhir menunjukkan adanya masalah yang perlu segera diatasi. Tidak tercapainya target pasien lama selama periode tersebut mengindikasikan rendahnya minat pasien untuk kembali (repurchase intention). Komunikasi antara dokter dan pasien di unit rawat jalan RSIA Kenari Graha Medika menjadi perhatian karena beberapa kali mendapatkan komplain pasien. Tujuan : untuk mengetahui hubungan keterampilan komunikasi dokter dengan repurchase intention pasien rawat jalan di RSIA Kenari Graha Medika. Metode : Desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel sebesar 152 sampel. Variabel yang diteliti adalah keterampilan komunikasi dokter dihubungkan dengan repurchase intention yang dimediasi oleh variabel customer satisfaction. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat (deskriptif) dan multivariat dengan SEM PLS. Hasil : Dari analisis data didapatkan seluruh konstruk dinyatakan valid dan reliabel berdasarkan hasil perhitungan loading factor, AVE dan corbach alpha. Uji hipotesis menunjukkan semua variabel diterima. Kesimpulan : Keterampilan komunikasi dokter berhubungan positif dan signifikan terhadap repurchase intention melalui kepuasan pasien, semakin tinggi keterampilan komunikasi dokter maka semakin tinggi juga repurchase intention. Berdasarkan temuan bahwa keterampilan komunikasi dokter berhubungan signifikan dengan kepuasan pasien dan repurchase intention, penting untuk terus melatih dokter dalam keterampilan komunikasi yang efektif.
Background: The failure to achieve the target for outpatient visits at RSIA Kenari Graha Medika over the last 3 years indicates a problem that needs to be addressed immediately. Not achieving the old patient target during this period indicates the patient's low interest in returning (repurchase intention). Communication between doctors and patients in the RSIA Kenari Graha Medika outpatient unit has become a concern because several times patient complaints have been received. Objective: to determine the relationship between doctors' communication skills and repurchase intention of outpatients at RSIA Kenari Graha Medika. Method: Cross sectional research design with a sample size of 152 samples. The variable studied is the doctor's communication skills which are associated with repurchase intention which is mediated by the customer satisfaction variable. Data analysis was carried out using univariate (descriptive) and multivariate analysis with SEM PLS. Results: From data analysis, it was found that all constructs were declared valid and reliable based on the results of loading factor, AVE and Corbach alpha calculations. Hypothesis testing shows all variables are accepted. Conclusion: Doctors' communication skills are positively and significantly related to repurchase intention through patient satisfaction. The higher the doctor's communication skills, the higher the repurchase intention. Based on the finding that physician communication skills are significantly related to patient satisfaction and repurchase intention, it is important to continue training physicians in effective communication skills.
Read More
B-2487
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yunita Fenilho; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Puput Oktamianti, Sutomo
Abstrak:
Kebanyakan studi tidak berfokus secara primer kepada strategi apa dan bagaimana yang dapat dilakukan untuk menurunkan turnover karyawan, melainkan fokus pada identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi turnover karyawan yang tinggi. Indeks GETO Rumah Sakit Nirlaba X Palembang tahun 2022 tercatat melebihi target (9,3%) dan patut menjadi perhatian yang perlu dipelajari lebih lanjut. Penelitian ini berangkat dari sebuah pendekatan positif, yakni berfokus primer untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi faktor-faktor links, fit, dan sacrifice masing-masing on-the-job (organizational) ataupun off-the-job (community) yang mempengaruhi job embeddedness karyawan unggul bertahan di Rumah Sakit Nirlaba X Palembang. Desain penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif menggunakan kuesioner yang melibatkan 88 orang karyawan unggul. Job embededdness karyawan unggul di Rumah Sakit Nirlaba X Palembang pada tahun 2024 kuat yakni 88,6%. Analisis univariat menunjukkan bahwa faktor on-the-job (organizational) mempengaruhi job embededdness secara positif, khususnya fit pada jaring-jaring nilai-nilai organisasi, relasi kerja, dan otoritas serta tanggung jawab yang diberikan organisasi. Analisis menggunakan chi square, faktor on-the-job (organizational) dan off-the-job (community) menunjukkan korelasi yang tidak bermakna terhadap job embededdness.

Previous literatures were not focused primarily on strategies lowering employee turnover, instead of identified factors that contribute in increasing employee turnovers industriously. Non-profit Hospital X Palembang rang up good employee turnover (GETO) at 9,8% in 2022 which brought deep concern for further explanation. This study was set forth with positive approach and designed to explore factors that contribute embedding good employee in hospital; on-the job (organizational) and off-the-job (community) factors. This study was designed in quantitative using modified job embededdness questionaire that involved 88 good employees. Job embededdness among good employee is strong (88,9%) in Non-profit Hospital X Palembang. Univariat analysis shows that on-the-job (organizational) factors have positive correlation with job embededdness, especially fit, which are on organization’s values, positive work relations, and authority was given to employee. Further, chi square analysis’s result indicates that there is no correlation each on-the-job (organizational) and off-the-job (community) factors to job embeddedness.
Read More
B-2456
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Afiyani; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Ede Surya Darmawan, Purnawan Junadi, Sidhi Laksono Purwowiyoto, Slamet Agus Waluyo
Abstrak:
Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) di berbagai unit rumah sakit, termasuk Intensive Care Unit (ICU), bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan kesehatan. Di RSPAD sendiri implementasi RME telah diimplementasikan sejak bulan September 2023 dan belum pernah dilakukan evaluasi. Evaluasi dari perspektif pengguna sangat penting untuk memahami sejauh mana sistem ini efektif dan diterima oleh para tenaga kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode kombinasi kuantitatif dan kualitatif (mixed methods) dengan desain convergent parallel untuk mengevaluasi implementasi penerapan RME berdasarkan perspektif pengguna. Penelitian kuantitatif dan kualitatif dilakukan untuk mendapatkan analisa lebih mendalam mengenai perspektif pengguna RME. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi RME di ICU RSPAD Gatot Soebroto secara umum baik. Faktor pimpinan dan budaya organisasi sangat mendukung implementasi ini. Meskipun begitu, dalam implementasinya, masih banyak yang dapat ditingkatkan agar RME dapat mendukung pelayanan.

The implementation of Electronic Medical Records (EMR) in various hospital units, including the Intensive Care Unit (ICU), aims to enhance the efficiency and quality of healthcare services. At Gatot Soebroto Army Central Hospital (RSPAD), the EMR system has been in place since September 2023 and has not yet been evaluated. Evaluation from the users' perspective is crucial to understanding how effective and well-received the system is among healthcare professionals. This study employs a mixed methods approach with a convergen parallel design to evaluate the implementation of EMR from the users' perspective. The quantitative and qualitative data are collected to gain a deeper understanding of EMR users' perspectives. The results indicate that the EMR implementation in the ICU at RSPAD Gatot Soebroto is generally good. Leadership and organizational culture greatly support this implementation. However, many areas remain for improvement to ensure the EMR system can fully support healthcare services.
Read More
B-2465
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggraina Widiyanti; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Adang Bachtiar, Rakhmad Hidayat, Nana Mulyana, Sri Kuswahyuni
Abstrak:
Latar Belakang: Pencapaian kinerja Rawat Jalan, Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Bed Occupancy Rate (BOR) di Rumah Sakit (RS) Hermina Tangerang mengalami fluktuatif, belum mencapai target yang ditentukan dan trendlinenya cenderung mengalami penurunan pada periode tahun 2018-2023. Penilaian google review RS Hermina Tangerang adalah 4,1 dari 5, dimana masih didapatkan banyak keluhan mengenai kualitas pelayanan rawat inap di RS Hermina Tangerang. Hal ini mungkin menjadi penyebab rendahnya kunjungan ulang pasien ke RS Hermina Tangerang. Sehingga pencapaian Rawat Jalan, IGD dan BOR di RS Hermina Tangerang tidak mencapai target yang telah ditentukan. Apabila pencapaian tersebut dibiarkan terjadi terus menerus, akan berdampak signifikan pada pendapatan Rumah Sakit. Metode penelitian yang digunakan adalah mix methode, dengan tahap pertama survey, dan tahap kedua dengan action research.. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada pasien rawat inap di RS Hermina Tangerang dan wawancara dengan informan kunci. Analisis data kuantitatif dilakukan menggunakan model persamaan struktural (SEM) dengan pendekatan partial least square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Word Of Mouth (WOM) dan minat kunjungan ulang pasien. Dimensi kualitas pelayanan yang meliputi tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy, semuanya berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan WOM dan minat kunjungan ulang. Selain itu, WOM juga terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat kunjungan ulang pasien. Kesimpulan: Kualitas pelayanan rawat inap di Rumah Sakit Hermina Tangerang sudah baik. Namun masih ada nilai dalam dimensi kualitas pelayanan yang kecil, menjadi ruang untuk RS Hermina Tangerang melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitas pelayanan. Saran bagi manajemen rumah sakit adalah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan guna meningkatkan loyalitas pasien dan keberhasilan bisnis rumah sakit. Kata Kunci: Kualitas pelayanan, Word of Mouth, Minat Kunjungan Ulang

Background: The performance achievements in Outpatient Services, Emergency Department (ED), and Bed Occupancy Rate (BOR) at Hermina Hospital Tangerang have been fluctuating, not reaching the set targets, and the trendline has tended to decline during the period 2018-2023. The Google review rating for Hermina Hospital Tangerang is 4.1 out of 5, where there are still many complaints regarding the quality of inpatient services at Hermina Hospital Tangerang. This may be the cause of the low rate of revisit intention patient to Hermina Hospital Tangerang. As a result, the achievements in Outpatient Services, ED, and BOR at Hermina Hospital Tangerang do not meet the predetermined targets. If this situation is allowed to continue, it will have a significant impact on the hospital's revenue. Methode: The research method used is a mixed method, with the first stage being a survey, and the second stage involving CDMG (Consensus Decision Making Group). Data were collected through questionnaires distributed to inpatients at Hermina Hospital Tangerang and interviews with key informants. Quantitative data analysis was conducted using structural equation modeling (SEM) with a partial least square (PLS) approach. Result: The research results show that service quality has a positive and significant influence on Word Of Mouth (WOM) and revisit intention. The dimensions of service quality, including tangibles, reliability, responsiveness, assurance, and empathy, all contribute significantly to the increase in WOM and revisit intention. Moreover, WOM also has a proven positive and significant influence on revisit intention. Conclusion: The quality of inpatient services at Hermina Hospital Tangerang is already good. However, there are still low scores in certain service quality dimensions, providing an opportunity for Hermina Hospital Tangerang to make improvements and enhance service quality. The recommendation for hospital management is to continuously improve service quality to increase patient loyalty and business success of the hospital. Keywords: Service Quality, Word of Mouth, Revisit Intention
 
Read More
B-2480
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Brandon Clementius; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Adang Bachtiar, Dumilah Ayuningtyas, Tuan Juniar Situmorang, Fushen
Abstrak:

Latar belakang: Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) memberikan manfaat pembiayaan pelayanan kesehatan di rumah sakit (RS) termasuk pada layanan rawat jalan. Komposisi pasien rawat jalan (RJ) RS UKRIDA hampir seluruhnya menggunakan penjaminan program JKN. Berdasarkan analisa kondisi finansial RS, selain menjaga pemasukan dari program JKN, perlu adanya dorongan pemasukan dari komposisi pasien berbayar pribadi (out of pocket). Secara regulasi, pasien JKN diperkenankan iur biaya untuk layanan rawat jalan eksekutif. Oleh karena itu penelitian ini ingin melihat gambaran serta hubungan kepuasan pengalaman pasien / patient experiential satisfaction (PES), loyalitas pasien (LP), dan willingness to pay (WTP) untuk peningkatan layanan pada pasien layanan RJ RS UKRIDA. Metodologi: Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain cross-sectional menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Sampel adalah pasien RJ RS UKRIDA yang menggunakan jaminan program JKN pada lima poli yang ditetapkan. Sampling dilakukan dengan metode convenient sampling selama bulan Mei 2024. Hasil: Persepsi responden terhadap variabel inpenden dari PES sudah baik. PES dan LP juga sudah digambarkan baik oleh responden. Responden juga menunjukkan kesediaan membayar untuk peningkatan layanan yang ditawarkan dengan nilai rerata sebesar Rp 140.968,-. PES berpengaruh positif dan signifikan terhadap LP dan WTP, begitu juga LP terhadap WTP. LP menjadi variabel mediasi yang signifikan untuk hubungan PES terhadap WTP Kesimpulan: RS perlu mempertahankan dan meningkatkan PES dari pasien yang berobat sehingga terbentuk LP yang akan membangun budaya WTP pada pasien JKN untuk peningkatan layanan. Minat bayar tersebut dapat disalurkan melalui pengembangan layanan poliklinik eksekutif di RS Kata kunci: kepuasan pengalaman pasien, loyalitas pasien, kesediaan membayar, layanan rawat jalan, poliklinik eksekutif


Background: National Health Insurance (NHI) program in Indonesia provide health services financing benefit, including services at hospital outpatient clinics. At UKRIDA hospital itself, most patient utilise that NHI benefit. As for that, based on hospital financial condition, NHI patients must be maintained, but on the other side revenue from out-of-pocket patients should be improved. Indonesian health regulation permit hospital to charge extra fees from NHI patients for execuitve services. Therefore, this study picture patient experiential satisfaction (PES), patient loyalty (PL), and patient’s willingness to pay (WTP) for quality improvement at UKRIDA Hospital outpatients setting. Methodology: This is a quantitative cross-sectional study using questionnaire as it’s tool. Samples taken in May 2024 using convenient sampling method from UKRIDA hospital outpatients that utilise NHI benefit for five chosen departement clinics. Results: Respondents rate every PES’s independent construct as good. PES and PL also rated as good. Respondents show willingness to pay for every quality improvement given in the questionairre with average value at Rp 140.968,-. PES found to be significantly influence LP and WTP, as well as LP significantly influence WTP. LP acts as significant mediator for PES to influence patient’s WTP for quality improvement. Conclusion: UKRIDA Hospital need to maintain it’s performance to keep PES, therefore PL is formed. At this state, NHI patient’s WTP for quality improvement expected to be improved. To channel that interest, UKRIDA Hospital should develop executive clinics based on regulation. Keywords: Patient experiential satisfaction, patient loyalty, willingness to pay, outpatient, executive clinic

Read More
B-2473
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Osi Ramadia; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Pujiyanto, Wachyu Sulistiadi, Indro Chayadi Saleh dan Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Proses pemulangan pasien rawat inap adalah pelayanan rumah sakit untuk yang melibatkan DPJP, keperawatan, farmasi, administrasi dan pasien. Proses ini berimplikasi pada kepuasan pasien, penumpukan pasien IGD hingga efisiensi pelayanan. Metode lean merupakan metode yang dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi pelayanan proses ini. Penelitian riset operasional dengan metode lean ini bertujuan untuk menganalisa proses pemulangan pasien rawat inap di RS Restu Kasih. Hasil penelitian: lead time pasien jaminan BPJS yaitu 5 jam 30 menit, jaminan asuransi 5 jam 10 menit dan non-jaminan 4 jam 1 menit. Persentase kegiatan NVA DPJP: 11% jaminan asuransi, 25% jaminan BPJS; keperawatan: 52% non-jaminan, 64% jaminan asuransi, 53% jaminan BPJS; farmasi: 16% non-jaminan, 22% jaminan asuransi, 23% jaminan BPJS; administrasi: 11% non-jaminan, 57% jaminan asuransi, 14% jaminan BPJS; pasien: 51% non-jaminan, 75% jaminan asuransi, 85% jaminan BPJS. Waste pada pasien non-jaminan yaitu 89% motion, 11% waiting; jaminan asuransi yaitu 42% waiting, 32% motion, 16% deffects, 11% inventory; jaminan BPJS yaitu 50% motion, 43% waiting, 7% inventory. Implementasi visual management dan berkoordinasi dengan unit terkait penugasan pada pasien jaminan BPJS menghasilkan penurunan lead time 45% menjadi 3 jam 3 menit dan penurunan kegiatan NVA sebesar 48% dari 2 jam 5 menit menjadi 1 jam 5 menit.

Process of discharging inpatients is hospital service that involves doctors, nurses, pharmacy, administration and patient. This process have implications for patient satisfaction, stagnancy of ER patients and efficiency of services. Lean method could improve quality and efficiency of this process. This operational research study using a lean method approach aims to analyze the discharge process of inpatients at Restu Kasih Hospital. The results show, lead time for BPJS coverage is 5 hours 30 minutes, insurance coverage 5 hours 10 minutes and non-insurance 4 hours 1 minute. The percentage of non-value added activities of doctors: 11% insurance coverage, 25% BPJS coverage; nurses: 52% non-insurance, 64% insurance coverage, 53% BPJS coverage; pharmacy: 16% non-insurance, 22% insurance coverage, 23% BPJS coverage; administration: 11% non-insurance, 57% insurance coverage, 14% BPJS coverage; patient: 51% non-insurance, 75% insurance coverage, 85% BPJS coverage. Waste for non-insurance: 89% motion, 11% waiting; insurance coverage: 42% waiting, 32% motion, 16% defects, 11% inventory; BPJS coverage: 50% motion, 43% waiting,7% inventory. Visual management and coordinating with each unit implementation for BPJS coverage resulting on reducing lead time by 45% to 3 hours 3 minutes and reducing non-value added activity by 48% from 2 hours 5 minutes to 1 hour 5 minutes
Read More
T-6990
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ingrid Amadea Sucipto; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, Mohammad Budiman, Teuku Teuku Nebrisa Zagladin
Abstrak:

Manajemen farmasi yang efektif berperan krusial bagi operasional rumah sakit, serta memengaruhi statusnya sebagai cost center atau revenue center. Rumah Sakit Utama merupakan rumah sakit di wilayah kepulauan yang sering menghadapi tantangan dalam variabilitas waktu pengiriman obat, sehingga IFRS Utama memerlukan sistem logistik farmasi yang baik untuk menjamin ketersediaan obat secara efisien. Penelitian ini menganalisis sistem perencanaan dan pengendalian obat di RS Utama saat ini, sekaligus mengevaluasi potensi peningkatannya dengan mensimulasikan penerapan metode ABC Indeks Kritis (yang mengklasifikasikan obat menjadi kategori A, B, C berdasarkan data penggunaan periode Oktober 2024 – Maret 2025) yang dikombinasikan dengan perhitungan safety stock, reorder point, dan economic order quantity secara spesifik untuk obat Kategori A. Model perencanaan dan pengendalian perbekalan farmasi usulan ini kemudian disimulasikan dan kinerjanya dibandingkan dengan metode yang saat ini digunakan oleh rumah sakit, dengan evaluasi terfokus pada dampaknya terhadap nilai persediaan dan Inventory Turnover Ratio (ITOR) obat kategori A Indeks Kritis. Hasil simulasi menunjukkan bahwa metode yang diusulkan, berpotensi menghasilkan penurunan substansial pada rata-rata nilai persediaan serta peningkatan ITOR . Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi empiris dan landasan strategis bagi RS Utama dalam upaya optimalisasi sistem manajemen logistik farmasi, guna meningkatkan efisiensi operasional dan menjamin ketersediaan obat secara lebih efektif.

Kata kunci : ABC Indeks Kritis, safety stock, reorder point, economic order quantity, nilai persediaan, inventory turn over.


 

Effective pharmaceutical management is vital, determining whether the pharmacy as a cost or revenue center. For Utama Hospital, operating in an archipelagic region with variable drug delivery times, a highly efficient pharmaceutical logistics system at its Pharmacy Installation is essential for ensuring consistent and efficient drug availability. This study, therefore, analyzes Utama Hospital's current drug planning and control system, exploring potential improvements by simulating a new model that integrates an ABC-Criticality Index classification with calculations for safety stock, reorder point, and economic order quantity (EOQ). To achieve this, the research methodology involved analyzing drug usage data (October 2024 – March 2025), classifying drugs into categories A, B, and C using an ABC-Criticality Index approach, and then calculating key inventory parameters—safety stock, reorder point, and EOQ—specifically for Category A drugs. The proposed pharmaceutical supply planning and control model, incorporating these parameters, was subsequently simulated. Its performance was then benchmarked against the hospital's current methods, with a focused evaluation on changes to inventory value and the Inventory Turnover Ratio (ITOR) for these critical Category A drugs. The simulation revealed that the proposed method holds strong potential for substantially decreasing average inventory value while significantly boosting the ITOR. This research aims to offer an empirical contribution and strategic framework, enabling Utama Hospital to optimize its pharmaceutical logistics for enhanced operational efficiency and more effective, timely drug availability.  Keywords: ABC-Criticality Index, safety stock, reorder point, economic order quantity, inventory value, inventory turnover

 

Read More
B-2543
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive