Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34174 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Susi Hartati Fatah; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Triyanti, Ratu Ayu Dewi Sartika, Salimar, Farida
Abstrak: Pemberian ASI eksklusif menjadi pelindung terhadap kejadian stunting pada anak balita, memberikan dampak pertumbuhan yang lebih baik pada bayi dalam enam bulan pertama, serta menunjukkan IQ poin yang lebih tinggi daripada yang tidak mendapat ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif di Provinsi Jawa Barat Tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan desain potong lintang. Data yang digunakan adalah data Riskesdas 2018 yang diperoleh dari laboratorium Manajemen Data Balitbangkes Kemenkes RI. Populasi penelitian ini berjumlah 604 ibu yang memiliki bayi usia 6 - 11 bulan, sampel penelitian adalah yang memiliki data riwayat pemberian ASI sebagai variabel dependen penelitian sebanyak 601. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 29,8% ibu memberikan ASI eksklusif selama enam bulan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif adalah IMD (p=0,010; OR=2,204) setelah dikontrol oleh variabel frekuensi ANC dan konseling. Variabel paling dominan yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif adalah IMD, ibu yang melakukan IMD berpeluang memberikan ASI Eksklusif sebanyak 2,204 kali dibandingkan ibu yang tidak melakukan IMD. Saran: Meningkatkan kegiatan edukasi pada ibu hamil maupun calon ibu tentang IMD dan manfaat pemberian ASI eksklusif melalui Posyandu serta bersinergi dengan lintas sektor
Exclusive breastfeeding protects against stunting in children under five, has a better impact on infant growth in the first six months, and shows higher IQ points than those who do not receive exclusive breastfeeding. This study aims to determine the factors associated with exclusive breastfeeding in West Java Province in 2018. This study is a quantitative study with a cross-sectional design approach. The data used is the 2018 Riskesdas data obtained from the Balitbangkes Data Management laboratory of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia. The population of this study amounted to 604 mothers who had babies aged 6-11 months the research sample was those who had history of breastfeeding as the dependent variable of the study as many as 601. The results showed that 29.8% of mothers gave exclusive breastfeeding for six months. Multivariate analysis showed that the variable associated with exclusive breastfeeding was Early Initiation of Breastfeeding (p=0.010; OR=2.204) after being controlled by the variable frequency of ANC and counseling. The most dominant variable related to exclusive breastfeeding is Early Initiation of Breastfeeding, mothers who do Early Initiation of Breastfeeding have the opportunity to give Exclusive Breastfeeding as much as 2,204 times compared to mothers who do not initiate Early Breastfeeding. Suggestion: Increase education activities for pregnant women and prospective mothers about Early Initiation of Breastfeeding and the benefits of exclusive breastfeeding through Posyandu and synergize with cross-sectors
Read More
T-6136
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amirania Alita Paramayra Firmanauda; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Siti Riptifah Tri Handari
Abstrak:
Anemia adalah suatu kondisi ketika konsentrasi hemoglobin dalam darah berada di bawah titik batas normal, dan rentan dialami oleh remaja putri karena rematri sedang dalam proses pertumbuhan yang pesat. Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa kejadian anemia di Indonesia termasuk dalam masalah kesehatan masyarakat tingkat sedang (26,8%) sementara kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri sangatlah rendah (1,4%). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi konsumsi TTD dan anemia serta faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi TTD dan anemia pada remaja putri usia 10-18 tahun di Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2018 dengan desain studi cross sectional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri usia 10-18 tahun di Nusa Tenggara Timur sebesar 13,9%. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada konsumsi TTD berdasarkan usia (p value = 0,000), tingkat pendidikan (p value = 0,030), dan tempat tinggal (p value = 0,000). Sementara itu, variabel yang berhubungan dengan anemia pada penelitian ini adalah konsumsi TTD (p value = 0,030). Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan pemantauan konsumsi TTD, pengecekan kadar Hb, dan edukasi gizi pada remaja putri untuk dioptimalkan.

Anemia is a condition in which the haemoglobin (Hb) concentration in the blood is lower than normal cut-off values, which young women are prone to experience it because they are experiencing a process of rapid growth. The results of Riskesdas 2018 show that the incidence of anemia in Indonesia is a moderate public health problem (26.8%), while the compliance with iron supplement consumption in adolescent girls is very low (1,4%). The purpose of this study was to determine the prevalence of iron supplement consumption and anemia, and the factors associated with iron supplement consumption and anemia in young women aged 10-18 years in East Nusa Tenggara. This study used secondary data from the Riskesdas 2018 with a cross-sectional study design. The results of this study indicate that the prevalence of anemia in young women aged 10-18 years in East Nusa Tenggara is 13,9%. The results of the statistical tests showed that there were significant differences in the consumption of iron tablets by age (p value = 0,000), level of education (p value = 0,000), and place of residence (p value = 0,000). Meanwhile, the variable associated with anemia in this study was the consumption of iron tablets. From the study result, the writer suggests to optimizes iron supplement consumption monitoring, Hb levels checking, and nutrition education for adolescent girls.
Read More
S-11472
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maulida Awaliya Fitri; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Andri Mursita
Abstrak: Anemia merupakan kondisi konsentrasi hemoglobin (hb) darah lebih rendah dari normal, dan telah memengaruhi berbagai populasi termasuk remaja putri. Remaja putri usia 10-14 tahun memiliki risiko tinggi untuk mengalami anemia yang dapat memengaruhi perkembangan kognitif dan motorik seperti gangguan kapasitas fisik dan kinerja dalam belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi anemia dan faktor-faktor yang berhubungan berdasarkan status menstruasi, perilaku konsumsi makanan hewani, perilaku konsumsi makanan berlemak, status gizi, perilaku konsumsi tablet tambah darah, status pendidikan, status pekerjaan ayah, dan daerah tempat tinggal pada remaja putri usia 10-14 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2018 dengan desain studi cross sectional. Hasil penelitian menyatakan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri usia 10-14 tahun di Indonesia sebesar 25,4%. Variabel yang berhubungan dengan kejadian anemia pada penelitian ini adalah status menstruasi (p value= 0,035) dan konsumsi makanan hewani (p value= 0,002). Perlu adanya program edukasi dan konseling remaja putri mengenai kesehatan seperti gizi seimbang dan anemia agar remaja putri lebih sadar akan kesehatannya.
Kata kunci: Anemia, remaja putri

Anemia is a condition of hemoglobin (hb) concentration lower than normal, and has affected various populations including adolescent girls. Adolescent girls ages 10-14 years have a high risk for anemia which can affect cognitive and motoric development such as impaired physical capacity and work performance. This study aims to determine the prevalence of anemia and related factors based on menstrual status, consumption of animal foods behavior, consumption of fatty food behavior, nutritional status, iron supplements consumption behavior, education status, father's employment status, and area of residence in adolescents girls ages 10-14 years in Indonesia. This study uses secondary data obtained from Riskesdas 2018 with a cross sectional study design. The results of the study stated that the prevalence of anemia in adolescent girls ages 10-14 years in Indonesia was 25.4%. Variables that have a significant relationship with the incidence of anemia in this study are menstrual status (p value = 0.035) and consumption of animal foods (p value = 0.002). It needs educational programs and counseling on health for adolescent girls such as balanced nutrition and anemia, so they can aware for their health.
Keywords: Anemia, adolescent girls
Read More
S-10516
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farah Farhanah; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Andri Mursita
Abstrak: Anemia merupakan salah satu penyebab dari sebagian permasalahan gizi di seluruh dunia,terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Menurut data Riskesdas,prevalensi kejadian anemia pada remaja putri di Indonesia sebesar 11,7% pada tahun 2007dan meningkat menjadi 22,7% pada tahun 2013. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putriusia 15-18 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional yangmenggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018. Sampel padapenelitian ini adalah seluruh remaja putri yang berusia 15-18 tahun. Jumlah sampelpenelitian sebanyak 1113 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensikejadian anemia pada remaja putri usia 15-18 tahun di Indonesia pada tahun 2018 sebesar28,4%. Hasil uji statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara status gizidengan kejadian anemia (p=0,030). Namun tidak terdapat hubungan yang signifikanantara konsumsi TTD, daerah tempat tinggal, paparan asap rokok, status pekerjaan ayah,pendidikan ibu, pendidikan remaja, dan jumlah anggota keluarga.Kata kunci:Anemia, Remaja Putri, Status Gizi.
Read More
S-10509
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Rahmawati; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Siti Arifah Pujonarti, Tiska Yumeida, Yuni Pradilla Fitri
Abstrak:
Anemia merupakan masalah yang dialami oleh 38,2% ibu hamil di dunia pada tahun 2011. Sekitar setengah dari kejadian anemia tersebut disebabkan karena defisiensi besi. Hasil RISKESDAS Tahun 2018 menunjukkan bahwa proporsi anemia ibu hamil adalah sebesar 48,9%, meningkat 11% dibandingkan data RISKESDAS 2013 sebesar 37,1%. Dampak anemia pada ibu hamil yaitu kelelahan, kapasitas kerja yang kurang baik, gangguan fungsi kekebalan tubuh, peningkatan risiko penyakit jantung bahkan kematian. Selain itu anemia berdampak terhadap persalinan prematur yaitu proses kelahiran bayi sebelum aterm. Keadaan ini akan menimbulkan masalah baru bagi bayi, seperti BBLR, penurunan status imun, kemungkinan adanya gangguan fisiologis, dan tumbuh kembang bayi. Pulau Jawa dan Bali termasuk wilayah dengan proporsi kejadian anemia yang cukup tinggi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui determinan anemia ibu hamil di Pulau Jawa dan Bali dengan data Riskesdas Tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan 414 sampel yang diperoleh dari total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data didapatkan dengan menggunakan kuesioner Riskesdas Tahun 2018. Analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan Anemia ibu hamil adalah usia kehamilan (p value=0,001). Analisis multivariat menunjukkan bahwa usia kehamilan menjadi faktor dominan pada kejadian anemia ibu hamil di Pulau Jawa dan Bali Tahun 2018 setelah dikontrol variabel usia ibu, konsumsi TTD, paritas, gangguan selama kehamilan, status gizi dan konsumsi sayur. (p value=0,001; OR=3,83; 95%, CI=1,85-7,93). Kata kunci: Anemia, Determinan Anemia, Usia Kehamilan, Pulau Jawa dan Bali

Anemia is a problem experienced by 38.2% of pregnant women in the world in 2011. About half of anemia cases are caused by iron deficiency. The results of the 2018 RISKESDAS show that the proportion of anemia in pregnant women was 48.9%, an increase of 11% compared to the 2013 RISKESDAS data of 37.1%. The impact of anemia on pregnant women is fatigue, poor work capacity, impaired immune function, increased risk of heart disease and even death. Apart from that, anemia has an impact on premature birth, namely the process of giving birth to a baby before term. This situation will cause new problems for the baby, such as LBW, decreased immune status, the possibility of physiological disorders, and the baby's growth and development. The islands of Java and Bali are areas with a fairly high proportion of anemia. The research aims to determine the determinants of anemia in pregnant women on the islands of Java and Bali using 2018 Riskesdas data. The research design used was cross sectional with 414 samples obtained from total sampling based on inclusion and exclusion criteria. Data was obtained using the 2018 Riskesdas questionnaire. Bivariate analysis showed that the variable associated with anemia in pregnant women was gestational age (p value=0,001). Multivariate analysis shows that gestational age is the dominant factor in the incidence of anemia in pregnant women in Java and Bali in 2018 after controlling for the variables of maternal age, TTD consumption, parity, disorders during pregnancy, nutritional status and vegetable consumption. (p value=0,001; OR=3.83; 95%, CI=1.85-7.93). Advice for pregnant women to be aware of the importance of consuming foods rich in iron, regularly carrying out ANC according to their gestational age and being obedient to taking TTD. Keywords: Anemia, Determinants of Anemia, Gestational Age, Java and Bali Islands
 
Read More
T-6998
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agatha Derta Donira; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Trini Sudiarti, Sandra Fikawati, Agus Triwinarto, Suparman
Abstrak: Hipertensi disebabkan karena interaksi yang kompleks antara gaya hidup yang kurang baik, faktor lingkungan disertai keturunan/genetika. Prevalensi hipertensi penduduk Provinsi Jawa Barat juga meningkat dari 29,4% menjadi 39,6%, sehingga menempatkan Provinsi Jawa Barat sebagai provinsi urutan ke-2 dengan prevalensi hipertensi tertinggi di antara provinsi lain di Indonesia pada tahun 2018 dan peringkat ke-4 pada tahun 2013. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor determinan kejadian hipertensi pada penduduk usia lebih dari 19 tahun di Provinsi Jawa Barat (analisis data IFLS-5). Sampel yang dipilih pada penelitian ini sejumlah 1.568 orang, dengan prevalensi hipertensi tertinggi pada IFLS-5 yang mewakili Provinsi Jawa Barat yaitu Kabupaten Cirebon, Kabupaten Karawang, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Bandung. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional menggunakan data sekunder IFLS-5 tahun 2014. Analisis data yang digunakan adalah Regresi Logistik. Hasil analisis bivariat pada semua usia menunjukkan variabel yang memiliki perbedaan proporsi secara signifikan dengan hipertensi adalah jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, konsumsi fastfood, Diabetes Mellitus, dan status gizi. Sedangkan pada kelompok usia produktif adalah jenis kelamin, kebiasaan merokok, konsumsi fastfood, Diabetes Mellitus, status gizi; pada kelompok usia tidak produktif adalah jenis kelamin, pekerjaan, dan status gizi. Hasil analisis multivariat yang menunjukkan faktor paling dominan berhubungan dengan kejadian hipertensi pada penduduk Provinsi Jawa Barat tahun 2014 yaitu usia (usia >19 tahun; OR:6,811; CI:4,674-9,925), Diabetes Mellitus (usia produktif >19 tahun; OR:6,139; CI:2,174-17,336), dan Diabetes Mellitus (usia tidak produktif; OR:5,436; CI: 0,518-57,01). Disarankan kepada masyarakat dengan semua kelompok usia untuk lebih memperhatikan peningkatan berat badan agar status gizinya dapat terjaga normal dan tidak sampai pada keadaan obesitas, meningkatkan konsumsi makanan berserat (sayur dan buah), minum air putih cukup minimal 8 gelas sehari atau setara dengan 2 liter, aktivitas fisik cukup, dan batasi konsumsi gula garam dan lemak.
Read More
T-6417
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anida Rahayu Adawiyah; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Ahmad Syafiq, Sintha Fransiske Simanungkalit
Abstrak:
Stunting merupakan merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak usia 0-59 bulan akibat dari kekurangan gizi kronis terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan sehingga anak terlalu pendek untuk kategori usianya dibanding anak lainnya. Kabupaten Tasikmalaya tercatat sebagai wilayah dengan prevalensi balita stunting tertinggi keempat di Jawa Barat yang mengalami kenaikan sebesar 2,8 poin dibandingkan angka stunting di tahun 2021. Penelitian ini membahas determinan stunting anak usia 6-23 Bulan di Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat menggunakan data SSGI 2022. Penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional ini berjumlah 244 sampel subjek. Variabel independen yang diteliti antara lain, usia anak, jenis kelamin, riwayat kecacingan, riwayat diare, IMD, ASI eksklusif, kolostrum, keragaman pangan, konsumsi sayuran, susu formula, protein hewani padat, MPASI komersial, IDL, Suplementasi vitamin A, Pemanfaatan posyandu, usia kandungan saat melahirkan, konsumsi TTD, Tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, dan kerawanan pangan. Hasil penelitian menunjukkan proporsi stunting sebesar 20,5%. Hasil analisis bivariat menunjukkan variabel yang berhubungan yaitu protein hewani padat (p-value:0,042; OR: 0,448 , CI 95% 0,216-0,928) dan MPASI Komersial (p-value:0,044; OR:0,460; CI 95% 0,226-0,934). Hasil analisis multivariat menunjukkan determinan stunting adalah pendidikan ibu dengan nilai OR: 2,872. Ibu yang berpendidikan rendah berisiko memiliki anak stunting 2,872 lebih tinggi daripada ibu dengan pendidikan yang tinggi setelah dikontrol dengan variabel usia anak, keragaman pangan, usia kandungan, dan konsumsi TTD. Ibu yang mempunyai pendidikan yang baik akan lebih selektif dan kreatif dalam memberikan makanan bergizi bagi anaknya. Disarankan pemerintah menyediakan akses sekolah yang lebih baik untuk masyarakat. Lalu pemerintah juga disarankan untuk mengadakan program promosi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi anak.

Stunting is a condition of failure to thrive in children aged 0-59 months due to chronic malnutrition, especially in the first 1000 days of life, resulting in children being too short for their age compared to peers. Tasikmalaya Regency in West Java has the fourth highest prevalence of stunted toddlers, with a 2.8 point increase from 2021. This research examines the determinants of stunting in children aged 6-23 months in Tasikmalaya Regency, West Java Province, using SSGI 2022 data. The study, with 244 subject samples, analyzes various factors including maternal education, food diversity, and gestational age. The research found a 20.5% stunting rate, with solid animal protein and commercial MPASI showing significant associations. Maternal education emerged as a key determinant, indicating that mothers with lower education levels have a significantly higher risk of having stunted children. Educated mothers are more likely to provide nutritious food for their children. Recommendations include improving school access and implementing health promotion programs to enhance mothers' knowledge of children's nutrition. Keywords: Stunting, Maternal education, baduta, Tasikmalaya Regency
Read More
S-11768
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Allisya Aurelia; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak:
Pemberian ASI eksklusif memiliki dampak positif baik bagi ibu maupun bayinya, namun persentase cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-5 bulan di Nusa Tenggara Barat berdasarkan data Riskesdas 2018, yaitu hanya sebesar 20,3%. Hal ini masih dibawah target pencapaian indikator ASI Eksklusif yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan, yaitu 80%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-23 bulan di NTB. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional dengan sampel berjumlah 802 bayi usia 0-23 bulan yang tinggal di NTB serta menggunakan data Riset Kesehatan Dasar 2018. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, analisis bivariat menggunakan chi square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil menunjukan bahwa dari 802 subjek, 56,7% diberikan ASI eksklusif. Analisis bivariat juga menunjukan antara paritas dan IMD dengan pemberian ASI eksklusif (p-value < 0,05). Analisis multivariat menunjukan bahwa paritas merupakan faktor dominan pemberian ASI eksklusif (p-value = 0,002 ; OR : 1,6 ; 95% CI : 1,1 – 2,1).

EBF has a positive impact for both the mother and the baby, but based on the Indonesia Basic Health Research (Riskesdas) in 2018, only 20,3% of infants aged 0-5 months in West Tenggara Province are exclusive breastfed. It is still has not reached target indicator set by the Ministry of Health, which is 80%. This study aims to identify the determinant factor and related factor associated with EBF in infants aged 0-23 months in West Tenggara Province. This research is a quantitative study with a cross sectional study design with a sample of 802 infants aged 0-23 months who live in West Nusa Tenggara. The data was obtained from the Indonesia Basic Health Research 2018. The association between risk factor and EBF were measured through chi square bivariate analysis. Multivariate analysis was done using multiple logistic regression. Among 802 subjects, 56,7% breastfed exclusively. This study found that parity and early initiation of breastfeeding (EIBF) were significantly associated with EBF (p-value < 0,05). Parity was the most dominant risk factor of EBF (p-value = 0,002 ; OR : 1,6 ; 95% CI : 1,1 – 2,1).
Read More
S-11397
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu maemunah; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Endang L. Achadi
Abstrak:
Anemia merupakan keadaan ketika jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal yaitu <13 g/dL bagi laki-laki, <12 g/dL bagi perempuan. Prevalensi anemia pada kelompok usia produktif tergolong dalam masalah kesehatan masyarakat tingkat ringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada kelompok usia produktif (15-64 tahun) di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional menggunakan data sekunder SKI 2023. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini meliputi analisis univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat dengan uji chi square, dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 27.826 subjek yang berasal dari populasi umum, 15,5% mengalami anemia. Sedangkan dari 983 subjek yang berasal dari remaja putri, 23% mengalami anemia. Analisis bivariat pada populasi umum menunjukkan hasil yang signifikan antara usia (p<0,001), jenis kelamin (p<0,001), tingkat pendidikan (p=0,001), tempat tinggal (p=0,047), konsumsi telur dan hasil olahannya (p=0,012), serta konsumsi sayur (p=0,030) dengan kejadian anemia. Kemudian analisis bivariat pada remaja putri menunjukkan hasil yang signifikan antara KEK (p=0,005) dengan kejadian anemia. Analisis multivariat menunjukkan bahwa kelompok lansia merupakan faktor dominan dari kejadian anemia pada populasi umum usia produktif (p<0,001, OR=1,931 (95% CI 1,581–2,358)), sedangkan KEK merupakan faktor dominan dari kejadian anemia pada remaja putri (p=0,028, OR 1,493 (95% CI 1,051 – 2,121)).

Anemia is a condition when the number of red blood cells or hemoglobin concentration in the blood is below the normal limit, which is <13 g/dL for men, <12 g/dL for women. The prevalence of anemia in the productive age group is classified as a mild public health problem. This study aims to determine the factors associated with the incidence of anemia in the productive age group (15-64 years) in Indonesia. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design using secondary data from SKI 2023. Data analysis performed in this study included univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis with chi square test, and multivariate analysis with simple logistic regression test. The results showed that out of 27,826 subjects from the general population, 15.5% were anemic. While out of 983 subjects from adolescent girls, 23% were anemic. Bivariate analysis in the general population showed significant results between age (p<0.001), gender (p<0.001), education level (p=0.001), residence (p=0.047), consumption of eggs and processed products (p=0.012), and vegetable consumption (p=0.030) with the incidence of anemia. Then bivariate analysis in adolescent girls showed significant results between Chronic Energy Malnutrition (p=0.005) and the incidence of anemia. Multivariate analysis showed that the elderly group was the dominant factor of the incidence of anemia in the general population of productive age (p<0.001, OR=1.931 (95% CI 1.581-2.358)), while Chronic Energy Malnutritio was the dominant factor of the incidence of anemia in adolescent girls (p=0.028, OR 1.493 (95% CI 1.051 - 2.121)).
Read More
S-12150
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fany Insani Fajri; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Siti Masruroh
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakterististik individu (usia, jenis kelamin, dan status gizi berdasarkan IMT/U), status sosial ekonomi (status pekerjaan orang tua, pendidikan orang tua, daerah tempat tinggal, dan pengeluaran untuk konsumsi), pola konsumsi (frekuensi makan, frekuensi konsumsi daging, sayuran hijau, dan buah), dan aktivitas fisik, serta faktor yang paling dominan dengan kejadian anemia pada remaja usia 15-19 tahun di Pulau Jawa. Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan data sekunder Indonesian Family Life Survey (IFLS) 2007 dari RAND Corporation. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh remaja di wilayah Pulau Jawa. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar hemoglobin remaja di wilayah Pulau Jawa pada tahun 2007 sebesar 13,61 g/dl. Persentase kejadian anemia di wilayah Pulau Jawa sebesar 16,6%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan karakteristik individu (jenis kelamin), status sosial ekonomi (status pekerjaan ibu), pola konsumsi (frekuensi konsumsi sayuran hijau), dan aktivitas fisik terhadap kejadian anemia pada remaja di wilayah Pulau Jawa. Secara multivariat, diketahui bahwa jenis kelamin merupakan faktor dominan terhadap kejadian anemia pada remaja di wiilayah Jawa Tengah pada tahun 2007. Kata kunci: anemia, remaja
Read More
S-9461
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive