Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36864 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Silviani J. Prissa; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Ansar Mursaha dan Ari Nofitasari
Abstrak:
Stunting juga dikenal sebagai "pendek", adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah 5 tahun akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan. Berdasarkan hasil SSGI tahun 2022, Provinsi Sulawesi Tengah menduduki peringkat ke 6 dengan prevalensi stunting mencapai 28,2%, turun 1,5% dari tahun 2021 yaitu 29,7% (peringkat 8). Namun, angka ini masih lebih tinggi dari rata–rata nasional sebesar 21,6 persen. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional yang faktor determinan stunting pada anak usia 6–23 bulan di Provinsi Sulawesi Tengah. Variabel independen dalam penelitian ini meliputi faktor anak, faktor ibu dan faktor rumah tangga. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat dan regresi logistik berganda model determinan. Hasil penelitian menunjukkan, faktor anak (jenis kelamin, berat badan lahir, ISPA dan riwayat imunisasi), faktor ibu (pendidikan ibu), faktor rumah tangga (ketahanan pangan rumah tangga, sanitasi jamban, jumlah balita dalam keluarga) berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6–23 bulan. Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6–23 bulan adalah BBLR (OR: 2,306) setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin, ISPA, riwayat imunisasi, pendidikan ibu, sanitasi jamban, dan jumlah balita dalam keluarga.

Stunting, also known as “shortness”, is a condition of failure to thrive in children under 5 years of age due to chronic malnutrition and recurrent infections especially in the period of the First 1,000 Days of Life (HPK), which is from the fetus until the child is 23 months old. Based on the results of the SSGI in 2022, Central Sulawesi Province is ranked 6th with a stunting prevalence of 28.2%, down 1.5% from 2021 which was 29.7% (rank 8). However, this figure is still higher than the national average of 21.6 percent. This study is a quantitative study with a cross-sectional design that determines stunting in children aged 6–23 months in Central Sulawesi Province. Independent variables in this study include child factors, maternal factors and household factors. Data analysis used the chi-square test and multiple logistic regression of the determinant model. The results showed that child factors (gender, birth weight, ARI and immunization history), maternal factors (mother's education), household factors (household food security, latrine sanitation, number of toddlers in the family) were associated with the incidence of stunting in children aged 6–23 months. The dominant factor associated with the incidence of stunting in children aged 6–23 months is LBW (OR: 2.306) after being controlled by variables of gender, ARI, immunization history, maternal education, latrine sanitation, and number of toddlers in the family
Read More
T-7053
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shakila Zakiyatunnisa; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Asih Setiarini, Qonita Rachmah
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan kumpulan kelainan metabolik yang terdiri dari obesitas abdominal, hiperglikemia, dislipidemia, dan hipertensi yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe 2, serta mortalitas dini. Sindrom metabolik menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius karena berkontribusi terhadap peningkatan beban penyakit tidak menular secara global, termasuk di Indonesia, dengan prevalensi pada populasi usia ≥15 tahun mencapai sekitar 32% pda tahun 2018 dan menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor utama yang berhubungan dengan kejadian sindrom metabolik pada penduduk Indonesia usia ≥15 tahun dengan menganalisis data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dan menentukan faktor dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi sindrom metabolik pada populasi adalah sebesar 38,4%. Variabel yang berhubungan signifikan dengan sindrom metabolik adalah usia, jenis kelamin, dan status gizi (IMT). Faktor dominan yang paling berpengaruh adalah status gizi, di mana dibandingkan dengan responden dengan status gizi normal, responden dengan berat badan kurang memiliki peluang lebih rendah untuk mengalami sindrom metabolik (AOR = 0,486; 95% CI: 0,369–0,641), sedangkan responden dengan berat badan berlebih memiliki peluang 2,510 kali lebih besar (AOR = 2,510; 95% CI: 2,145–2,939), kemudian meningkat pada obesitas tingkat I dengan peluang 5,864 kali (AOR = 5,864; 95% CI: 5,122–6,714), serta obesitas tingkat II dengan peluang 12,670 kali lebih besar mengalami sindrom metabolik dibandingkan status gizi normal (AOR = 12,670; 95% CI: 10,280–15,616).

Metabolic syndrome is a cluster of metabolic abnormalities characterized by abdominal obesity, hyperglycemia, dyslipidemia, and hypertension, which collectively increase the risk of cardiovascular disease, type 2 diabetes mellitus, and premature mortality. It has become a major public health concern due to its contribution to the growing burden of non-communicable diseases globally, including in Indonesia, where the prevalence among individuals aged ≥15 years was reported to be around 32% in 2018, showing an increasing trend compared to previous years. This study aimed to identify the main factors associated with metabolic syndrome among the Indonesian population aged ≥15 years using data from the 2023 Indonesia Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). Data were analyzed using chi-square tests and logistic regression to determine associated factors and identify the dominant determinant. The results showed that the prevalence of metabolic syndrome among the population was 38.4%. Variables significantly associated with metabolic syndrome included age, sex, and nutritional status (BMI). The most dominant factor was nutritional status, where compared to individuals with normal BMI, underweight respondents had a lower likelihood of developing metabolic syndrome (AOR = 0,486; 95% CI: 0,369–0,641), while overweight respondents had 2.510 times higher odds (AOR = 2,510; 95% CI: 2,145–2,939). The risk further increased among individuals with class I obesity, who had 5.864 times higher odds (AOR = 5,864; 95% CI: 5,122–6,714), and class II obesity, who had 12.670 times higher odds of experiencing metabolic syndrome compared to those with normal BMI (AOR = 12,670; 95% CI: 10,280–15,616).
Read More
S-12361
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wibisana Nauval Aqil Sidopekso; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Fajrinayanti
Abstrak:
Obesitas sentral adalah penumpukan lemak di area perut yang meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan proporsi obesitas sentral berdasarkan perilaku konsumsi makanan berisiko dan pola hidup sehat pada wanita usia produktif (15–40 tahun) di DKI Jakarta menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2023. Desain potong lintang dengan analisis chi-square digunakan pada data sekunder. Hasil menunjukkan prevalensi obesitas sentral 45,7%. Konsumsi makanan/minuman manis, berlemak, daging olahan, makanan instan, rendahnya konsumsi buah-sayur, dan kurang aktivitas fisik berkorelasi signifikan dengan obesitas sentral (p<0,05). Hasil ini mendukung pentingnya intervensi perilaku dan kebijakan promosi hidup sehat.


Central obesity is abdominal fat accumulation increasing risk of degenerative diseases. This study analyzed differences in central obesity prevalence based on risky food consumption behaviors and healthy lifestyle patterns among women aged 15–40 years in DKI Jakarta using 2023 Indonesian Health Survey data. A cross-sectional design with chi-square analysis was applied. Results showed 45.7% prevalence of central obesity. Consumption of sugary foods/drinks, fatty foods, processed meats, instant foods, low fruit-vegetable intake, and insufficient physical activity were significantly associated with central obesity (p<0.05). Findings underscore the need for behavioral interventions and health promotion policies.
Read More
S-12145
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putu Neysa Kanti Widhisari; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Sandra Fikawati, Saraheni
Abstrak:
Obesitas sentral merupakan penumpukan lemak berlebih di area abdomen yang menggambarkan akumulasi lemak viseral dan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular. Provinsi Kalimantan Timur memiliki prevalensi obesitas sentral yang konsisten berada di atas angka nasional sejak 2007 dan pada tahun 2023 kembali meningkat hingga 43,6%. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian obesitas sentral pada penduduk usia ≥20 tahun di Provinsi Kalimantan Timur menggunakan desain studi cross-sectional dari data sekunder Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Sampel penelitian adalah penduduk usia ≥20 tahun di Provinsi Kalimantan Timur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, sebanyak 8.544 responden. Variabel dependen adalah obesitas sentral, sedangkan variabel independen meliputi faktor sosiodemografi, gaya hidup, pola konsumsi, dan status gizi. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan Rao-Scott Adjusted Chi-Square, dan multivariat menggunakan Complex Samples Logistic Regression. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi obesitas sentral keseluruhan sebesar 46,0%, dengan prevalensi pada perempuan sebesar 66,0% dan laki-laki sebesar 30,8%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, status perkawinan, wilayah tempat tinggal, perilaku merokok, dan konsumsi sayur berhubungan dengan obesitas sentral. Perempuan memiliki peluang 3,924 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan laki-laki (AOR=3,924; 95% CI: 3,352–4,594). Dibandingkan kelompok usia 20–24 tahun, peluang obesitas sentral lebih besar pada kelompok usia 25–34 tahun (AOR=1,984; 95% CI: 1,490–2,641), 35–44 tahun (AOR=2,411; 95% CI: 1,808–3,215), 45–54 tahun (AOR=3,158; 95% CI: 2,373–4,204), 55–64 tahun (AOR=2,801; 95% CI: 2,083–3,768), dan ≥65 tahun (AOR=1,879; 95% CI: 1,319–2,675). Responden yang menikah memiliki peluang 1,234 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan yang tidak menikah (AOR=1,234; 95% CI: 1,029–1,480). Responden di wilayah perkotaan memiliki peluang 1,586 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan perdesaan (AOR=1,586; 95% CI: 1,344–1,871). Perokok aktif memiliki peluang lebih rendah mengalami obesitas sentral dibandingkan bukan perokok (AOR=0,779; 95% CI: 0,633–0,957). Konsumsi sayur yang tidak cukup meningkatkan peluang obesitas sentral sebesar 1,291 kali dibandingkan konsumsi sayur cukup (AOR=1,291; 95% CI: 1,047–1,592). Terdapat interaksi bermakna antara jenis kelamin dengan usia (p<0,001), jenis kelamin dengan status perkawinan (p=0,004), jenis kelamin dengan wilayah tempat tinggal (p<0,001), usia dengan status perkawinan (p=0,017), usia dengan konsumsi sayur (p=0,007), status perkawinan dengan konsumsi sayur (p=0,014), serta wilayah tempat tinggal dengan perilaku merokok (p=0,015). Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan dengan obesitas sentral dalam model akhir meliputi jenis kelamin, usia, status perkawinan, wilayah tempat tinggal, perilaku merokok, dan konsumsi sayur, dengan jenis kelamin perempuan sebagai faktor dominan.

Central obesity is the accumulation of excess fat in the abdominal area, which reflects visceral fat accumulation and is associated with an increased risk of noncommunicable diseases. This study aimed to identify the dominant factors associated with central obesity among residents aged ≥20 years in Kalimantan Timur Province, employing a cross-sectional study design based on secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI 2023). The study sample comprised 8,544 respondents aged ≥20 years in Kalimantan Timur Province who met the inclusion and exclusion criteria. The dependent variable was central obesity, while independent variables encompassed sociodemographic factors, lifestyle behaviors, dietary consumption patterns, and nutritional status. Data were analyzed using univariate, bivariate (Rao-Scott Adjusted Chi-Square), and multivariate (Complex Samples Logistic Regression) approaches. The findings revealed an overall prevalence of central obesity of 46.0%, with prevalence among females at 66.0% and among males at 30.8%. Multivariate analysis demonstrated that sex, age, marital status, area of residence, smoking behavior, and vegetable consumption were significantly associated with central obesity. Females had 3.924 times greater odds of experiencing central obesity compared to males (AOR=3.924; 95% CI: 3.352–4.594). Relative to the 20–24 year age group, the odds of central obesity were higher among those aged 25–34 years (AOR=1.984; 95% CI: 1.490–2.641), 35–44 years (AOR=2.411; 95% CI: 1.808–3.215), 45–54 years (AOR=3.158; 95% CI: 2.373–4.204), 55–64 years (AOR=2.801; 95% CI: 2.083–3.768), and ≥65 years (AOR=1.879; 95% CI: 1.319–2.675). Married respondents had 1.234 times greater odds of central obesity compared to unmarried respondents (AOR=1.234; 95% CI: 1.029–1.480). Respondents residing in urban areas had 1.586 times greater odds of central obesity compared to those in rural areas (AOR=1.586; 95% CI: 1.344–1.871). Active smokers had significantly lower odds of central obesity compared to non-smokers (AOR=0.779; 95% CI: 0.633–0.957). Insufficient vegetable consumption was associated with 1.291 times greater odds of central obesity compared to adequate consumption (AOR=1.291; 95% CI: 1.047–1.592). Significant interaction effects were identified between sex and age (p<0.001), sex and marital status (p=0.004), sex and area of residence (p<0.001), age and marital status (p=0.017), age and vegetable consumption (p=0.007), marital status and vegetable consumption (p=0.014), and area of residence and smoking behavior (p=0.015).. The final model indicated that sex, age, marital status, area of residence, smoking behavior, and vegetable consumption were associated with central obesity, with female sex identified as the dominant factor.
Read More
S-12331
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Michelle Kim; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Yulianti Wibowo
Abstrak:
Obesitas sentral merupakan kondisi akumulasi lemak berlebih di area perut (intra-abdominal fat) yang berperan sebagai faktor risiko utama penyakit kardiovaskular dan sindrom metabolik. Di Indonesia, termasuk wilayah Jakarta, prevalensi obesitas sentral menunjukkan tren peningkatan. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi adalah pola konsumsi minuman berpemanis atau Sugar-Sweetened Beverages (SSB), yakni minuman yang mengandung pemanis berkalori tinggi seperti soda, minuman rasa buah, teh/kopi kemasan, dan sejenisnya. Konsumsi SSB meningkat seiring dengan kemudahan akses dan kecenderungan masyarakat menjadikannya sebagai pelarian saat stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dengan kejadian obesitas sentral pada kelompok dewasa di perusahaan X. Penelitian dilakukan pada bulan April 2024 menggunakan desain cross-sectional dengan metode purposive sampling, melibatkan 86 responden. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi SSB (p=0,002), asupan energi (p=0,009), dan asupan karbohidrat (p=0,001) dengan kejadian obesitas sentral. Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara obesitas sentral dengan aktivitas fisik (p=0,536), jenis kelamin (p=1,000), pengetahuan mengenai SSB (p =0,647), asupan lemak (p=0,219), dan asupan serat (p=0,376). Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi SSB, asupan energi, dan karbohidrat perlu menjadi perhatian dalam upaya pencegahan obesitas sentral di kalangan dewasa pekerja.

Central obesity is a condition characterized by excessive fat accumulation in the abdominal area (intra-abdominal fat), which serves as a major risk factor for cardiovascular diseases and metabolic syndrome. In Indonesia, including the Jakarta area, the prevalence of central obesity continues to rise. One contributing factor is the pattern of consuming sugar-sweetened beverages (SSBs), which are drinks containing high-calorie sweeteners, such as soda, fruit-flavored drinks, packaged tea/coffee, and other sweetened liquid products. SSB consumption has increased due to easier access and the tendency for individuals to use these beverages as a coping mechanism during stress. This study aimed to examine the relationship between SSB consumption and the incidence of central obesity among adults in Company X. The research was conducted in April 2024 using a cross-sectional design and purposive sampling method, involving 86 respondents. The results showed a significant association between SSB consumption (p=0.002), energy intake (p=0.009), and carbohydrate intake (p=0.001) with the incidence of central obesity. Meanwhile, no significant association was found between central obesity and physical activity (p=0.536), sex (p=1.000), knowledge about SSB (p=0.647), fat intake (p=0.219), or fiber intake (p=0.376). These findings suggest that SSB consumption, energy intake, and carbohydrate intake are important factors to consider in efforts to prevent central obesity among working adults.
Read More
S-11921
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marsella Syah Putri; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Cesilia Meti Dwiriani
Abstrak:
Anemia gizi besi (AGB) masih menjadi masalah gizi mikro yang umum dialami oleh remaja perempuan di Indonesia. Salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi AGB adalah dengan mewajibkan fortifikasi zat besi pada tepung terigu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata asupan zat besi dari pangan berbahan tepung terigu berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada siswi SMAN 34 Jakarta tahun 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 65 siswi. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata asupan zat besi dari pangan berbahan tepung terigu sebesar 4,19 ± 1,58 mg/hari (27,93% dari AKG). Terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara frekuensi jajan, uang jajan, pengaruh teman, dan ketersediaan makanan berbahan tepung terigu dengan asupan zat besi (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa beberapa faktor berpengaruh terhadap kontribusi pangan berbahan tepung terigu terhadap kecukupan zat besi. 

Iron deficiency anemia (IDA) remains a prevalent micronutrient deficiency among adolescent girls in Indonesia. One of the government’s strategies to address IDA is mandatory iron fortification in wheat flour. This study aimed to analyze the differences in average iron intake from wheat-based foods based on influencing factors among female students at SMAN 34 Jakarta in 2025. A cross-sectional design was used with a total of 65 respondents. The results showed that the average iron intake from wheat-based foods was 4.19 ± 1.58 mg/day, which only meets 27.93% of the recommended dietary allowance (RDA). Significant differences were found in iron intake based on snacking frequency, amount of pocket money, peer influence, and availability of wheat-based foods at home (p < 0.05). It can be concluded that both internal and external factors influence iron adequacy from wheat-based foods among adolescents.
Read More
S-11893
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vioreyna Towi; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Teguh Jati Prasetyo
Abstrak:
Penilaian konsumsi gizi/dietary assessment merupakan metode penilaian status gizi untuk mendapatkan informasi terkait pola makan, baik berupa jumlah, jenis, hingga frekuensi pangan yang dikonsumsi. Salah satu metode yang sering digunakan dalam penelitian dengan topik pangan dan kesehatan adalah metode semiquantitative food frequency questionnaires (SFFQ). Namun, SFFQ memiliki berbagai kelemahan, salah satunya yaitu daftar makanan dalam kuesioner tidak dapat ditanyakan seluruhnya kepada seluruh kelompok populasi, sehingga diperlukan adaptasi serta tes validitas. Bahan makanan dalam SFFQ disusun berdasarkan penelitian terdahulu, hasil uji coba, dan observasi lingkungan sasaran. SFFQ yang terbentuk terdiri dari 19 bahan makanan dan 135 jenis pangan. Perbandingan dilakukan kepada satu kali pengambilan SFFQ untuk mencatat asupan selama sebulan terakhir dengan dua kali pengambilan 24-hour food recall untuk mewakili weekday dan weekend sebagai real intake. Sebanyak 73 siswa kelas 11 dengan rentang usia 16-18 tahun ikut serta dalam penelitian. Hasil uji t berpasangan menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara asupan energi, karbohidrat, dan protein SFFQ dengan recall. Setelah dilakukan energy adjustment, hasil uji korelasi menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara asupan SFFQ dengan recall. Hasil uji validitas menunjukkan tingkat validitas sedang (fair) dengan catatan hasil recall weekend saja tidak dapat dianggap sebagai asupan rata-rata harian akibat variance yang terlalu besar.

Dietary assessment is a method used to evaluate nutritional status by collecting information on eating patterns, including the quantity, types, and frequency of foods consumed. One commonly used tool in public health nutrition research is the semi-quantitative food frequency questionnaire (SFFQ). However, SFFQ has several limitations, including the fact that its food list may not be universally applicable across different population groups, requiring cultural adaptation and validation. The food items included in SFFQ were selected based on previous studies, preliminary testing, and environmental observations of the target population. The finalized SFFQ consisted of 19 food groups and 135 food items. A single SFFQ reflecting intake over the previous month was compared against two 24-hour food recalls representing weekday and weekend as the real intake. A total of 73 eleventh-grade students aged 16–18 years participated in the study. Paired t-test showed significant differences in energy, carbohydrate, and protein intake between SFFQ and recalls. After energy adjustment, correlation analysis showed no significant associations between nutrients derived from SFFQ and those from recalls. The validation results indicated a fair level of validity. However, recall data from the weekend alone should not be considered representative of usual daily intake due to high variability.
Read More
S-11930
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Kurniawati; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Ahmad Syafiq, Christa Dewi, Siti Masitoh
Abstrak:

Obesitas merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat, termasuk di Indonesia. Pada anak dan remaja, obesitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, lingkungan, pola makan, dan status sosial ekonomi. Namun, penelitian yang secara khusus mengkaji obesitas pada kelompok usia ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan determinan obesitas pada anak dan remaja di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Desain penelitian ini adalah potong lintang, dengan sampel terdiri dari 115.053 anggota rumah tangga berusia 5–19 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil menunjukkan prevalensi obesitas sebesar 7,9% (95% CI 7,6–8,1). Faktor-faktor yang secara signifikan berhubungan dengan peningkatan risiko obesitas meliputi: jenis kelamin laki-laki [AOR 1,56; 95% CI 1,451–1,678], pendidikan ibu tinggi [AOR 1,197; 95% CI 1,106–1,296], ibu bekerja [AOR 1,14; 95% CI 1,063–1,223], tinggal di perkotaan [AOR 1,27; 95% CI 1,176–1,370], status ekonomi teratas [AOR 1,791; 95% CI 1,548–2,032], aktivitas fisik rendah [AOR 1,534; 95% CI 1,230–1,913], konsumsi makanan olahan lebih dari satu kali sehari [AOR 1,27; 95% CI 1,009–1,242], serta konsumsi buah dan sayur minimal satu porsi per hari [AOR 1,142; 95% CI 1,060–1,227]. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi promosi kesehatan yang menargetkan faktor-faktor tersebut penting untuk mencegah dan mengendalikan obesitas pada anak dan remaja di Indonesia.

Obesity is a global health problem with a steadily increasing prevalence, including in Indonesia. Among children and adolescents, obesity is influenced by various factors such as genetics, environment, dietary patterns, and socioeconomic status. However, research specifically focusing on obesity within this age group remains limited. This study aims to examine the prevalence and determinants of obesity among children and adolescents in Indonesia using data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI). A cross-sectional study design was employed, with a total sample of 115,053 household members aged 5–19 years who met the inclusion and exclusion criteria. The results showed an obesity prevalence of 7.9% (95% CI: 7.6–8.1). Factors significantly associated with increased obesity risk included: male gender [AOR 1.56; 95% CI: 1.451–1.678], higher maternal education [AOR 1.197; 95% CI: 1.106–1.296], working mothers [AOR 1.14; 95% CI: 1.063–1.223], urban residence [AOR 1.27; 95% CI: 1.176–1.370], highest socioeconomic status [AOR 1.791; 95% CI: 1.548–2.032], low physical activity [AOR 1.534; 95% CI: 1.230–1.913], consumption of processed food more than once a day [AOR 1.27; 95% CI: 1.009–1.242], and fruit and vegetable intake of at least one portion per day [AOR 1.142; 95% CI: 1.060–1.227]. These findings underscore the importance of targeted health promotion interventions addressing these factors to prevent and control obesity among children and adolescents in Indonesia.  


 

Read More
T-7372
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gita Maharani; PembimbingL: Milla Herdayati; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Dion Zein Nuridzin
Abstrak:
Latar Belakang.  Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah di Jawa Barat dengan beban kasus TB tertinggi yang dilaporkan pada Tahun 2022 yaitu berjumlah 15.433 kasus serta prevalensi yang mencapai 413/100.000 penduduk. Hal ini menunjukan upaya penurunan prevalensi TB di daerah Jawa Barat masih kurang baik. Metode. Metode yang digunakan meliputi uji korelasi Spearman dan analisis spasial overlay terhadap data sekunder tahun 2022 dari 40 kecamatan di Kabupaten Bogor. Variabel yang dianalisis meliputi proporsi tenaga kesehatan, rasio puskesmas cakupan imunisasi BCG, proporsi penduduk miskin, pendidikan rendah, PHBS, balita gizi buruk, kepadatan penduduk, pengelolaan air dan makanan, pengelolaan sampah, serta kualitas udara dalam rumah tangga. Kesimpulan. Variabel yang memiliki hubungan signifikan secara statistik dengan kasus TB adalah penduduk miskin (R = 0.492) (P = 0.001). Sementara variabel lain menunjukkan korelasi lemah dan tidak signifikan. Analisis spasial overlay mengungkapkan pola sebaran TB yang cenderung tinggi di wilayah dengan kombinasi kerentanan sosial dan lingkungan yang juga tinggi, seperti Jonggol, Sukaraja, dan Parung.


Background. Bogor regency is one of the regions in West Java with the highest reported TB burden in 2022, totaling 15,433 cases with a prevalence of 413 per 100,000 population. Indicating that TB prevalence reduction efforts in West Java remain suboptimal. Methods. This study employed Spearman correlation test and spatial overlay analysis on secondary data from 2022, covering 40 sub-districts in Bogor Regency. The analyzed variables included the proportion of healthcare workers, ratio of health facilities, BCG immunization coverage, proportion of poor population, low education levels, PHBS, malnourished children, population density, hygienic management of water and food, household waste management, and indoor air quality. Conclusion. The variable significantly associated with TB cases was the proportion of poor population (R = 0.492; P = 0.001) The spatial overlay analysis revealed that TB distribution tended to be higher in areas with a combination of high social and environmental vulnerability, such as Jonggol, Sukaraja, and Parung.
Read More
S-12142
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vita Yulia; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Putri Bungsu, Dhora Yufita Nurfitriani
Abstrak:

Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian balita di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi pneumonia pada balita di Indonesia sebesar 15%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita usia 12–59 bulan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan data sekunder dari SKI 2023. Sampel berjumlah 33.132 balita usia 12–59 bulan. Analisis data dilakukan dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia adalah umur balita 24–59 bulan (OR=0,72; 95%CI: 0,57–0,90), jenis kelamin laki-laki (OR=1,36; 95%CI: 1,09–1,69), riwayat BBLR (OR=1,70; 95%CI: 1,15–2,53), status imunisasi DPT-HB-Hib lengkap (OR=1,79; 95%CI: 1,00–3,21), dan riwayat penyakit sebelumnya (OR=10,28; 95%CI: 8,27–12,77). Pada karakteristik ibu, pendidikan tinggi berhubungan dengan kejadian pneumonia (OR=1,41; 95%CI: 1,10–1,81). Faktor lingkungan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan, sedangkan balita dari keluarga dengan status sosial ekonomi atas memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia (OR=1,50; 95%CI: 1,05–2,13). Kesimpulan: Pencegahan pneumonia perlu difokuskan pada kelompok risiko seperti balita laki-laki, usia 24–59 bulan, riwayat BBLR, riwayat penyakit sebelumnya, dan peningkatan edukasi pada ibu serta keluarga dengan status ekonomi tinggi.

Kata kunci: Pneumonia, Balita, Faktor Risiko, SKI 2023


Pneumonia is one of the leading causes of mortality among children under five in Indonesia. Based on the 2023 Indonesia Health Survey (SKI), the prevalence of pneumonia among children under five was 15%. This study aims to identify the factors associated with pneumonia among children aged 12–59 months in Indonesia. This research employs a cross-sectional design using secondary data from the 2023 SKI. The sample consisted of 33,132 children aged 12–59 months. Data were analyzed using the chi-square test. The results show that factors associated with pneumonia include being aged 24–59 months (OR=0.72; 95%CI: 0.57–0.90), male gender (OR=1.36; 95%CI: 1.09–1.69), a history of low birth weight (OR=1.70; 95%CI: 1.15–2.53), incomplete DPT-HB-Hib immunization (OR=1.79; 95%CI: 1.00–3.21), and a history of previous illnesses (OR=10.28; 95%CI: 8.27–12.77). Among maternal characteristics, a higher education level was associated with pneumonia incidence (OR=1.41; 95%CI: 1.10–1.81). Environmental factors were not significantly associated, while children from families with higher socioeconomic status had a greater risk of pneumonia (OR=1.50; 95%CI: 1.05–2.13). In conclusion, pneumonia prevention efforts should focus on high-risk groups, including male children, those aged 24–59 months, those with a history of low birth weight or previous illnesses, and families with higher maternal education and higher socioeconomic status.  Keywords: Pneumonia, Under-Five Children, Risk Factors, SKI 2023

Read More
S-12062
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive