Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36270 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Gina Relimba; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Robiana Modjo, Ibnu Uzail Yamani
Abstrak:
Rumah sakit merupakan tempat kerja yang berisiko tinggi terhadap terjadinya kecelakaan kerja dibandingkan industri lainnya. Perawat IGD harus selalu siap sedia 24 jam untuk menangani kasus kegawatdaruratan yang dialami oleh berbagai pasien yang datang ke rumah sakit sehingga dengan tanggung jawab tersebut, sangat rentan bagi perawat IGD untuk mengalami kelelahan kerja. Penelitian ini membahas faktor terkait kelelahan kerja pada perawat IGD Rumah Sakit X Tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang telah dilakukan pada bulan Juli-Agustus pada seluruh perawat IGD Rumah Sakit X yaitu sebanyak 35 responden. Pengukuran kelelahan kerja perawat menggunakan pengukuran secara subjektif dengan kuesioner Subjective Self Rating Test yang dikembangkan oleh Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) Jepang yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat IGD Rumah Sakit X lebih banyak mengalami kelelahan kerja ringan (71,4%) dan faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja yaitu kebisingan (P-Value=0,027). Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya pengendalian terhadap pajanan bising bagi perawat IGD di Rumah Sakit X dan juga perlu adanya prosedur fatigue management untuk mencegah dan mengendalikan tingkat kelelahan kerja pada perawat IGD Rumah Sakit X.

Hospitals are workplaces that have a higher risk of work accidents compared to other industries. ER nurses must always be ready 24 hours to handle emergency cases experienced by various patients who come to the hospital so that with this responsibility, ER nurses are very vulnerable to experiencing work fatigue. This research discusses factors related to work fatigue in ER nurses at Hospital. Measurement of nurses' work fatigue uses subjective measurements with the Subjective Self Rating Test questionnaire developed by the Japanese Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) which has been translated into Indonesian. The results of the study showed that ER nurses at Hospital X experienced more mild work fatigue (71,4%) and the factor related to work fatigue was noise (P-Value=0,027). Based on this, it is necessary to carry out various efforts to control noise exposure for emergency room nurses.
Read More
S-11801
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hazura Rindu Tuffahatti; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Baiduri Widanarko, Meilisa Rahmadani
Abstrak:

Kelelahan kerja adalah kondisi yang ditandai dengan perasaan yang menurun dalam kecepatan bekerja, gangguan sistemik saraf pusat akibat aktivitas yang panjang. Kelelahan kerja jika dialami secara terus menerus, maka akan menurunkan kinerja maupun produktivitas kerja. Banyak faktor yang dapat mengakibatkan kelelahan, maka dari itu penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan (faktor risiko individu dan faktor pekerjaan) pada Perawat di Rumah Sakit X tahun 2023. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain tudi cross-sectional. Data dikumpulkan menggunakan data sekunder yang ada di Rumah Sakit X. Sampel dalam penelitian ini dibutuhkan sekitar 60 responden Perawat yang terbagi dalam beberapa unit di Rumah Sakit X. Hasil analisis menunjukkan sebanyak 4 responden (6,7%) mengalami kelelahan ringan, 48 responden (80,0%) mengalami kelelahan sedang, dan 8 responden mengalami kelelahan tinggi (13,3%). Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelelahan kerja di Rumah Sakit X adalah Beban Kerja dengan p-value = 0,018 dan Jabatan Perawat dengan p-value = 0,040.

Kata kunci: Faktor Risiko, Perawat, Kelelahan


Work fatigue is a condition characterized by feelings of decreased work speed, central nervous system disorders due to long periods of activity. If work fatigue is experienced continuouslym it woll reduce work performance and productivity. Many factors can cause fatigue, therefore this study was conducted to analyze the risk factors for fatigue individual risk factors and work, in Nurses at the Hospital X  in 2023. Research was conducted using a quantitative approach with a cross-sectional study design. Data was collected using secondary data at the Hospital X. This research collected 60 respondents divided into several units at Hospital X. The results of the analysis showed that 4 respondents (6.7%) experienced mild fatigue, 48 respondents (80.0%) experienced moderate fatigue, and 8 respondents experienced high fatigue (13.3%). The risk factor that is closely related to the occurrence of work fatigue at the Hospital X is Workload with p-value = 0.018 and Nursing Position with p-value = 0.040.  

Keywords: Risk Factor, Nurse, Fatigue

Read More
S-11803
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wardani Adi saputra; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Fetrina Lestari
T-7715
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nursanti; Pembimbing: Hendra; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Laksita Ri Hastiti, Katherina Welong, Fera Liza
Abstrak:
Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan selama 24 jam sehari, sangat membutuhkan kesiapan fisik, mental dan waktu. Hal ini berpotensi menyebabkan kelelahan kerja, yang berdampak pada penurunan kewaspadaan dan konsentrasi, terganggunya pengambilan keputusan dan terjadinya kesalahan atau kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko tingkat kelelahan kerja subjektif pada perawat di RS.Otak DR.Drs. M. Hatta Bukittinggi Sumatera Barat tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 100 orang perawat yang dihitung menggunakan rumus simple random sampling. Responden pada penelitian ini mencakup perawat pada 5 unit kerja yang dihitung secara proporsional. Pengukuran kelelahan kerja dengan kuesioner SSRT(Subjective Self Rating Test) dari IFRC; beban kerja mental dengan kuesioner NASA-TLX (National Aeronautics & Space Administration Task Load Indeks); untuk peran, kontrol dan kepuasan kerja dengan kuesioner COPSOG (Copenhagen Psychosocial Questionnaire) III; pengukuran pencahayaan dengan lux meter; dan karakterik individu dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 79% perawat mengalami tingkat kelelahan kerja ringan dan tingkat kelelahan kerja sedang (21%). Terdapat 3 Faktor risiko yang dianalisis untuk melihat hubungannya dengan tingkat kelelahan kerja yaitu faktor risiko karakteristik individu, faktor risiko terkait pekerjaan dan faktor lingkungan kerja (pencahayaan). Dari faktor risiko karakteristik individu yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat kelelahan kerja adalah usia (p 0,013; OR = 6,82), status gizi kategori gemuk (p 0,020; OR = 3,77), durasi tidur (p 0,050; OR = 3,14). Untuk faktor risiko terkait pekerjaan yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat kelelahan kerja adalah shift kerja siang (p 0,028; OR 4,69) dan beban kerja (p < 0,001). Sedangkan untuk faktor lingkungan kerja : pencahayaan didapatkan hasil sesuai dengan standar (100%) sehingga tidak dapat dinilai hubungannya dengan tingkat kelelahan kerja. Kesimpulan didapatkan bahwa sebagian besar perawat mengalami tingkat kelelahan kerja ringan (79%) dan faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan adalah usia, status gizi gemuk, durasi tidur, shift kerja siang dan beban kerja. Penerapan manajemen kelelahan/fatigue manajement seperti promosi kesehatan dan peningkatan pengetahuan melalui pelatihan, pengawasan jadwal kerja, pengaturan beban kerja, diet gizi seimbang, pentingnya mendapatkan pemulihan antarshift/istirahat tidur adekuat, olahraga rutin dan teratur, skrining kelelahan secara berkala diharapkan dapat mencegah meningkatnya tingkat kelelahan kerja.

Nurses, in providing 24-hour nursing care, require physical readiness, mental preparedness, and time. This can potentially lead to work fatigue, which impacts alertness and concentration, disrupts decision-making, and increases the risk of errors or workplace accidents. This study aims to analyze the risk factors for the subjective level of work fatigue among nurses at RS.Otak DR.Drs. M. Hatta Bukittinggi, West Sumatra, in 2024. The study uses a cross-sectional design involving 100 nurses, calculated using the simple random sampling formula. Respondents in this study include nurses from 5 work units, calculated proportionally. Work fatigue was measured using the SSRT (Subjective Self Rating Test) questionnaire from IFRC; workload was measured using the NASA-TLX (National Aeronautics & Space Administration Task Load Index) questionnaire; roles, control, and job satisfaction were assessed using the COPSOG (Copenhagen Psychosocial Questionnaire) III; lighting was measured with a lux meter; and individual characteristics were assessed using a questionnaire. The results showed that 79% of nurses experienced mild work fatigue and 21% experienced moderate work fatigue. Three risk factors were analyzed for their relationship with the level of work fatigue: individual characteristics, work-related factors, and work environment factors (lighting). Among individual characteristics, the factors significantly associated with work fatigue were age (p = 0.013; OR = 6.82), nutritional status categorized as overweight (p = 0.020; OR = 3.77), and sleep duration (p = 0.050; OR = 3.14). For work-related factors, significant associations with work fatigue were found for daytime shifts (p = 0.028; OR = 4.69) and workload (p < 0.001). Regarding the work environment factor: lighting was found to meet the standard (100%), hence its relationship with work fatigue could not be assessed. The conclusion is that the majority of nurses experience mild work fatigue (79%), and the significant risk factors are age, overweight nutritional status, sleep duration, daytime shifts, and workload. Implementing fatigue management strategies such as health promotion and knowledge enhancement through training, monitoring work schedules, managing workload, maintaining a balanced diet, ensuring adequate rest between shifts, regular exercise, and periodic fatigue screening are expected to prevent an increase in work fatigue levels.
Read More
T-7073
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shalman Hafizh Aulia; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Yovsyah, Indri Hapsari Susilowati, Surya Mahendra
Abstrak:
Kelelahan kerja merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami oleh pekerja, termasuk pekerja di UPT Balai Yasa Tegal yang bertugas melakukan perbaikan dan perawatan gerbong kereta. Kelelahan kerja apabila dibiarkan dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK). Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja di UPT Balai Yasa Tegal. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor risiko individu (usia, kuantitas tidur, kualitas tidur), faktor risiko pekerjaan (beban kerja, jenis pekerjaan, manajemen perusahaan), dan faktor risiko lingkungan kerja (suhu, pencahayaan, kebisingan). Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan desain studi cross-sectional terhadap 80 pekerja di UPT Balai Yasa Tegal sebagai responden. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi kuesioner karakteristik individu dan pekerjaan, SSRT, PSQI, NASA-TLX, persepsi terhadap manajemen, dan persepsi terhadap lingkungan kerja. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa terdapat 58 pekerja (72,5%) yang mengalami kelelahan kerja ringan dan 22 pekerja (27,5%) yang mengalami kelelahan kerja sedang. Hasil analisis inferensial dengan uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur (p-value=0,003 ; OR=8,125), beban kerja (p-value=0,00 ; OR=15,217), suhu (p-value=0,003 ; OR=6,333), pencahayaan (p-value=0,000 ; OR=10,938), dan kebisingan (p-value=0002, ; OR=5,940) dengan tingkat kelelahan kerja pada pekerja di UPT Balai Yasa Tegal

Work fatigue is one of the health problems often experienced by workers, including UPT Balai Yasa Tegal workers who are tasked with repairing and maintaining railroad cars. If left unchecked, work fatigue can increase the risk of work accidents and work-related diseases. This research was conducted to analyze risk factors related to work fatigue in workers at UPT Balai Yasa Tegal. The risk factors studied included individual risk factors (age, sleep quantity, sleep quality), Work-related risk factors (workload, type of work, company management), and work environment risk factors (temperature, lighting, noise). The research was conducted using quantitative methods and cross-sectional study design on 80 workers at UPT Balai Yasa Tegal as respondents. The research instruments used include individual and job characteristics questionnaires, SSRT, PSQI, NASA-TLX, perceptions of management, and perceptions of the work environment. The results of the descriptive analysis showed that there were 58 workers (72.5%) who experienced mild work fatigue and 22 workers (27.5%) who experienced moderate work fatigue. The results of inferential analysis using the chi-square test show that there is a significant relationship between sleep quality (p-value=0.003 ; OR=8.125), workload (p-value=0.00 ; OR=15.217), temperature (p-value =0.003 ; OR=6.333), lighting (p-value=0.000 ; OR=10.938), and noise (p-value=0002, ; OR=5.940) with work fatigue.
Read More
S-11709
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Arifta Auliazaki; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Robiana Modjo, Heni Fitri Marinda
Abstrak:
Studi ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan stres kerja pada perawat perempuan di Rumah Sakit X Kota Depok, dengan menggunakan kerangka teoretis Model Job Demands-Resources (JD-R). Temuan utama dari penelitian ini menunjukkan bahwa 42,5% perawat perempuan di Rumah Sakit X Kota Depok mengalami gejala stres kerja pada tahun 2025, dengan tingkat keparahan bervariasi dari ringan hingga berat. Meskipun sebagian besar responden (98%) melaporkan beban kerja yang tinggi hingga sangat tinggi, dan sebagian mengalami konflik pekerjaan-keluarga (WFC), analisis kuantitatif tidak menemukan hubungan statistik yang signifikan antara tuntutan pekerjaan (beban kerja, work-interference with family, dan family interference with work) dengan gejala stres kerja. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sumber daya pekerjaan yang ada di Rumah Sakit X mungkin berperan sebagai penyangga, memitigasi dampak negatif dari tuntutan kerja yang tinggi . Secara kualitatif, rumah sakit telah mengimplementasikan berbagai mekanisme dan program untuk mendukung sumber daya pekerjaan perawat meskipun tetap harus diimplementasikan berbagai macam perbaikan. 


This study aims to analyze the risk factors associated with work stress among female nurses at Hospital X in Depok City, using the Job Demands-Resources (JD-R) theoretical framework. The main findings of this study indicate that 42.5% of female nurses at Hospital X in Depok City experienced symptoms of work-related stress in 2025, with severity ranging from mild to severe. Although the majority of respondents (98%) reported high to very high workloads, and some experienced work-family conflict (WFC), quantitative analysis did not find a statistically significant relationship between job demands (workload, work-interference with family, and family interference with work) and symptoms of work-related stress. This situation suggests that the existing workplace resources at Hospital X may act as a buffer, mitigating the negative effects of high work demands. Qualitatively, the hospital has implemented various mechanisms and programs to support nurses' workplace resources, although further improvements are still needed.
Read More
S-12138
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diva Mahardikawati; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Fatma Lestari, Tubagus Dwika Yuantoko, Bima Haryadi
Abstrak:
Pekerja konstruksi memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja karena karakteristik pekerjaannya yang melibatkan aktivitas fisik berat, durasi kerja panjang, serta paparan lingkungan kerja seperti panas dan kebisingan. Kelelahan kerja dapat berdampak pada penurunan konsentrasi, ketelitian, kecepatan respons, dan human performance pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja dan dampak kelelahan kerja terhadap human performance pada pekerja konstruksi di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 113 pekerja konstruksi. Variabel yang diteliti meliputi faktor individu, faktor terkait pekerjaan, dan human performance. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, pengukuran beban kerja fisik melalui denyut nadi, serta pengukuran lingkungan kerja kebisingan dan suhu. Instrumen yang digunakan meliputi Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, dan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial (analisis bivariat dan multivariat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja adalah waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik dengan nilai p-value masing-masing 0,000. Berdasarkan hasil analisis multivariat, diketahui bahwa terdapat tiga variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja, yaitu waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik. Variabel waktu perjalanan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kelelahan kerja dengan nilai OR = 17,057. Kelelahan kerja juga berhubungan signifikan dengan human performance dengan nilai p-value 0,023 dengan nilai OR 2,457. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja yang tidak mengalami kelelahan kerja memiliki peluang 2,457 kali lebih besar untuk memiliki human performance tinggi dibandingkan pekerja yang mengalami kelelahan kerja.

Construction workers are at high risk of experiencing occupational fatigue due to the characteristics of their work, which involve heavy physical activity, long working hours, and exposure to work environment factors such as heat and noise. Occupational fatigue may lead to decreased concentration, accuracy, response speed, and workers’ human performance. This study aimed to analyze the risk factors associated with occupational fatigue and the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X in 2026. This study used a cross-sectional design involving 113 construction workers as respondents. The variables examined included individual factors, work-related factors, occupational fatigue, and human performance. Data were collected using questionnaires, physical workload measurement through pulse rate assessment, and work environment measurements, including noise and temperature. The instruments used in this study included the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, and the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Data were analyzed using descriptive and inferential analyses, including bivariate and multivariate analyses. The results showed that factors associated with occupational fatigue were commuting time, sleep quantity, and physical workload, with p-values of <0.001 for each variable. Based on the multivariate analysis, these three variables had a significant relationship with occupational fatigue. Commuting time was identified as the most dominant factor associated with occupational fatigue, with an OR value of 17.057. Occupational fatigue was also significantly associated with human performance, with a p-value of 0.023 and an OR value of 2.457. This indicates that workers who did not experience occupational fatigue were 2.457 times more likely to have high human performance compared to workers who experienced occupational fatigue.
Read More
T-7713
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safira Hazzrah Medinah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Mohammad Zayyin
Abstrak:
Kelelahan atau fatigue pada pekerja tambang memiliki dampak yang besar terhadap tingkat absenteisme, penurunan produktivitas, biaya kesehatan, dan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan kelelahan pada pekerja di PT X serta menganalisis faktor-faktor yang berhubungan. Faktor risiko yang diteliti yaitu faktor terkait pekerjaan (beban kerja, masa kerja, waktu istirahat, area kerja, shift kerja, dan stres kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, kualitas dan kuantitas tidur, kebiasaan merokok, commuting time, pekerjaan sampingan, konsumsi kafein, status pernikahan, status gizi, dan olah raga). Untuk mengukur kelelahan menggunakan kuesioner Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), mengukur stres kerja menggunakan kuesioner Survei Diagnosis Stres (SDS), mengukur kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), mengukur beban kerja mental menggunakan NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), mengukur karakteristik responden menggunakan The Self-administered Questionnaire, dan untuk mengukur beban kerja fisik menggunakan alat Fingertip Pulse Oximeter. Penelitian ini dilakukan kepada 156 pekerja tambang di PT X dengan menggunakna desain penelitian cross-sectional. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja, waktu istirahat, usia, dan beban kerja mental dengan kelelahan. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pengembangan program pencegahan dan pengendalian kelelahan (fatigue management) di tempat kerja dan melihat hubungan faktor terkait pekerjaan yang lebih dominan terhadap kelelahan dibandingkan faktor tidak terkait pekerjaan.

Fatigue in mining workers has a huge impact on absenteeism rates, decreased productivity, medical costs, and accidents. This study aims to describe the level of fatigue in workers at PT. X and analyze the associated risk factors. The risk factors studied included work-related factors (workload, period of work, rest time, mining area, work shifts, and work stres) and non-work related factors (age, sleep quality and sleep quantity, smoking status, commuting time, side work, caffeine consumption, marital status, body mass indeks, and exercise). To measure fatigue, the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) questionnaire was used, Survey Diagnostic Stress (SDS) was used to measure job stress, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire was used to measure sleep quality, NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ) was used to measure mental workload, the Self-administered Questionnaire was used to measure respondent characteristics, and Fingertip Pulse Oximeter was used to measure physical workload. This research was conducted on 156 mining workers at PT. X by using a cross-sectional research design. Descriptive and inferential logistic regression was used to analyze the data. The results showed that there was a significant association between period of work, rest time, age, and mental workload. Therefore, it is necessary to develop a fatigue management program in the workplace and refers to see the result that the relationship between work related factors and fatigue is more dominant than non-work related factors.
Read More
S-11713
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fathul Masruri Syaaf; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Baiduri Widanarko, Heny Mayawati, Hayyu Rakhmia,
Abstrak:
Seiring peranan penting konstruksi dalam perekonomian dan berkembangnya sektor Jasa Konstruksi yang semakin kompleks dan tingginya tingkat persaingan layanan Jasa Konstruksi baik di tingkat nasional maupun internasional, seringkali perusahaan konstruksi menuntut pekerja bekerja secara maksimal sehingga seringkali kesehatannya terabaikan. Hal ini dapat berdampak pada kesehatan pekerja, seperti kelelahan kerja, yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. Penelitian ini ingin mengkaji hubungan antara kelelahan kerja dengan faktor diluar pekerjaan dan faktor pekerjaan tepada pekerja konstruksi di PT. X tahun 2022. Data mengenai faktor-faktor diluar pekerjaan (usia, status gizi/IMT, dan masa kerja), dan faktor-faktor pekerjaan (durasi kerja, beban kerja, dan suhu lingkungan kerja) terhadap terjadinya kelelahan pada pekerja proyek PT. X diteliti menggunakan kuesioner kepada 103 responden. Desain penelitian adalah penelitian analitik semi-kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Pengumpulan data hasil kuesioner dianalisis untuk melihat gambaran kelelahan kerja dan menguji hubungan pada dua variabel menggunakan uji Chi-Square. Dari hasil penelitian, 33% mengalami kelelahan kerja sedang dan 67% responden mengalami kelelahan kerja rendah. Dari analisis uji diferensial, terdapat hubungan antara status gizi (IMT) pekerja, durasi kerja dan beban kerja (p 0,000) terhadap kejadian kelelahan kerja pada pekerja di proyek PT. X tahun 2022. Sedangkan faktor usia (p 0.426), masa kerja (p 0.412) dan suhu lingkungan kerja (p 1,000) tidak berhubungan dengan kejadian kelelahan kerja pada pekerja. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa beberapa variabel tersebut berhubungan dengan kejadian kelelahan kerja yang dialami pekerja konstruksi di PT. X. Rekomendasi terkait fatigue management perlu dilakukan baik dari PT. X maupun pekerja guna meminimalisir dan mengendalikan kelelahan kerja serta meningkatkan produktifitas kerja di tempat kerja

Along with the important role of construction in the economy and the development of the Construction Services sector which is increasingly complex and the high level of competition in Construction Services services both at the national and international levels, construction companies often demand workers to work optimally so that their health is often neglected. This can have an impact on the health of workers, such as fatigue, which can lead to work accidents. This study wants to examine the relationship between work fatigue and factors outside of work and work factors for construction workers at PT. X year 2022. Data on nonwork-related factors (age, nutritional status/BMI, and years of service), and work-related factors (work duration, workload, and work environment temperature) on the occurrence of fatigue among project workers at PT. X was examined using a questionnaire to 103 respondents. The research design is a semi-quantitative analytic with a cross sectional study approach. Data collection was carried out using a questionnaire and analysis was carried out to see a description of work fatigue and to test the relationship between the two variables using the Chi-Square test. From the results of the study, 33% experienced moderate fatigue and 67% of respondents experienced low fatigue. From the differential analysis, there is a relationship between the nutritional status (BMI) of workers, duration of work and workload (p 0.000) on the occurence of fatigue in workers at the PT. X in 2022. Meanwhile, the factors of age (p 0.426), years of service (p 0.412) and working environment temperature (p 1.000) are not related to the occurence of fatigue in workers. The conclusion from this study is that some variables are related to the incidence of work fatigue experienced by construction workers at PT. X. Recommendations regarding fatigue management need to be implemented from both PT. X and workers to minimize and control fatigue as well as to increase work productivity at work.
Read More
T-6541
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nathania Andine Nariswari; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Mohammad Adiwirabrata
Abstrak:
Sektor konstruksi yang memiliki proses dan tahapan kerja yang kompleks membuat tempat kerjanya berisiko tinggi mengalami berbagai jenis kecelakaan kerja, tidak terkecuali cedera tangan dan jari. Cedera tangan dan jari, mulai dari luka sayat hingga cacat permanen pada tangan dan jari dapat mempengaruhi produktivitas bahkan dapat mengakhiri karir seseorang. PT X merupakan perusahaan sektor konstruksi dengan persentase cedera tangan dan jari yang mendominasi selama beberapa tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran risiko terkait cedera tangan pada sektor konstruksi, lebih tepatnya pada proses pemasangan dan pembongkaran aluminium formwork di Jobsite Y PT X. Penelitian menggunakan desain studi deskriptif dengan metode campuran, yaitu metode kualitatif dengan observasi lapangan dan konsultasi, serta metode semi kuantitatif untuk analisis risiko. Analisis risiko dilakukan secara mendalam mulai dari mengidentifikasi bahaya mekanik dan kejadian tak terduga, menganalisis tingkat kemungkinan, pajanan, dan konsekuensi, serta menghitung penurunan risiko dari upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh PT X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat risiko tertinggi terkait cedera tangan dan jari memiliki dampak tangan atau jari terputus, serta terendah dengan dampak cedera ringan akibat terkilir. Terdapat rata-rata penurunan risiko sebesar 37,53% dari upaya pengendalian yang telah dilakukan Jobsite Y PT X terkait cedera tangan dan jari.

The construction sector, which has complex work processes and stages, puts workplaces at high risk of experiencing various types of work accidents, including hand and finger injuries. Hand and finger injuries, ranging from cuts to permanent defects in the hands and fingers, can affect productivity and can even end a person's career. PT X is a construction sector company with a dominant percentage of hand and finger injuries over the last few years. This research aims to provide an overview of the risks related to hand injuries in the construction sector, more precisely in the process of installing and dismantling aluminum formwork at Jobsite Y PT X. The research uses a descriptive study design with mixed methods, namely qualitative methods with field observations and consultations, as well as semi-quantitative methods for risk analysis. Risk analysis is carried out in depth starting from identifying mechanical hazards and unexpected events, analyzing the level of probability, exposure and consequences, as well as calculating risk reduction from control efforts that have been carried out by PT X. The results of the study showed that the highest level of risk related to hand and finger injuries was due to a severed hand or finger, and the lowest was due to minor injuries due to sprains. There is an average risk reduction of 37.53% from the control efforts that have been carried out by Jobsite Y PT X regarding hand and finger injuries.
Read More
S-11669
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive