Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 20789 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Marsella Syah Putri; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Cesilia Meti Dwiriani
Abstrak:
Anemia gizi besi (AGB) masih menjadi masalah gizi mikro yang umum dialami oleh remaja perempuan di Indonesia. Salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi AGB adalah dengan mewajibkan fortifikasi zat besi pada tepung terigu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata asupan zat besi dari pangan berbahan tepung terigu berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada siswi SMAN 34 Jakarta tahun 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 65 siswi. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata asupan zat besi dari pangan berbahan tepung terigu sebesar 4,19 ± 1,58 mg/hari (27,93% dari AKG). Terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara frekuensi jajan, uang jajan, pengaruh teman, dan ketersediaan makanan berbahan tepung terigu dengan asupan zat besi (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa beberapa faktor berpengaruh terhadap kontribusi pangan berbahan tepung terigu terhadap kecukupan zat besi. 

Iron deficiency anemia (IDA) remains a prevalent micronutrient deficiency among adolescent girls in Indonesia. One of the government’s strategies to address IDA is mandatory iron fortification in wheat flour. This study aimed to analyze the differences in average iron intake from wheat-based foods based on influencing factors among female students at SMAN 34 Jakarta in 2025. A cross-sectional design was used with a total of 65 respondents. The results showed that the average iron intake from wheat-based foods was 4.19 ± 1.58 mg/day, which only meets 27.93% of the recommended dietary allowance (RDA). Significant differences were found in iron intake based on snacking frequency, amount of pocket money, peer influence, and availability of wheat-based foods at home (p < 0.05). It can be concluded that both internal and external factors influence iron adequacy from wheat-based foods among adolescents.
Read More
S-11893
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vioreyna Towi; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Teguh Jati Prasetyo
Abstrak:
Penilaian konsumsi gizi/dietary assessment merupakan metode penilaian status gizi untuk mendapatkan informasi terkait pola makan, baik berupa jumlah, jenis, hingga frekuensi pangan yang dikonsumsi. Salah satu metode yang sering digunakan dalam penelitian dengan topik pangan dan kesehatan adalah metode semiquantitative food frequency questionnaires (SFFQ). Namun, SFFQ memiliki berbagai kelemahan, salah satunya yaitu daftar makanan dalam kuesioner tidak dapat ditanyakan seluruhnya kepada seluruh kelompok populasi, sehingga diperlukan adaptasi serta tes validitas. Bahan makanan dalam SFFQ disusun berdasarkan penelitian terdahulu, hasil uji coba, dan observasi lingkungan sasaran. SFFQ yang terbentuk terdiri dari 19 bahan makanan dan 135 jenis pangan. Perbandingan dilakukan kepada satu kali pengambilan SFFQ untuk mencatat asupan selama sebulan terakhir dengan dua kali pengambilan 24-hour food recall untuk mewakili weekday dan weekend sebagai real intake. Sebanyak 73 siswa kelas 11 dengan rentang usia 16-18 tahun ikut serta dalam penelitian. Hasil uji t berpasangan menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara asupan energi, karbohidrat, dan protein SFFQ dengan recall. Setelah dilakukan energy adjustment, hasil uji korelasi menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara asupan SFFQ dengan recall. Hasil uji validitas menunjukkan tingkat validitas sedang (fair) dengan catatan hasil recall weekend saja tidak dapat dianggap sebagai asupan rata-rata harian akibat variance yang terlalu besar.

Dietary assessment is a method used to evaluate nutritional status by collecting information on eating patterns, including the quantity, types, and frequency of foods consumed. One commonly used tool in public health nutrition research is the semi-quantitative food frequency questionnaire (SFFQ). However, SFFQ has several limitations, including the fact that its food list may not be universally applicable across different population groups, requiring cultural adaptation and validation. The food items included in SFFQ were selected based on previous studies, preliminary testing, and environmental observations of the target population. The finalized SFFQ consisted of 19 food groups and 135 food items. A single SFFQ reflecting intake over the previous month was compared against two 24-hour food recalls representing weekday and weekend as the real intake. A total of 73 eleventh-grade students aged 16–18 years participated in the study. Paired t-test showed significant differences in energy, carbohydrate, and protein intake between SFFQ and recalls. After energy adjustment, correlation analysis showed no significant associations between nutrients derived from SFFQ and those from recalls. The validation results indicated a fair level of validity. However, recall data from the weekend alone should not be considered representative of usual daily intake due to high variability.
Read More
S-11930
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shakila Zakiyatunnisa; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Asih Setiarini, Qonita Rachmah
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan kumpulan kelainan metabolik yang terdiri dari obesitas abdominal, hiperglikemia, dislipidemia, dan hipertensi yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe 2, serta mortalitas dini. Sindrom metabolik menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius karena berkontribusi terhadap peningkatan beban penyakit tidak menular secara global, termasuk di Indonesia, dengan prevalensi pada populasi usia ≥15 tahun mencapai sekitar 32% pda tahun 2018 dan menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor utama yang berhubungan dengan kejadian sindrom metabolik pada penduduk Indonesia usia ≥15 tahun dengan menganalisis data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dan menentukan faktor dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi sindrom metabolik pada populasi adalah sebesar 38,4%. Variabel yang berhubungan signifikan dengan sindrom metabolik adalah usia, jenis kelamin, dan status gizi (IMT). Faktor dominan yang paling berpengaruh adalah status gizi, di mana dibandingkan dengan responden dengan status gizi normal, responden dengan berat badan kurang memiliki peluang lebih rendah untuk mengalami sindrom metabolik (AOR = 0,486; 95% CI: 0,369–0,641), sedangkan responden dengan berat badan berlebih memiliki peluang 2,510 kali lebih besar (AOR = 2,510; 95% CI: 2,145–2,939), kemudian meningkat pada obesitas tingkat I dengan peluang 5,864 kali (AOR = 5,864; 95% CI: 5,122–6,714), serta obesitas tingkat II dengan peluang 12,670 kali lebih besar mengalami sindrom metabolik dibandingkan status gizi normal (AOR = 12,670; 95% CI: 10,280–15,616).

Metabolic syndrome is a cluster of metabolic abnormalities characterized by abdominal obesity, hyperglycemia, dyslipidemia, and hypertension, which collectively increase the risk of cardiovascular disease, type 2 diabetes mellitus, and premature mortality. It has become a major public health concern due to its contribution to the growing burden of non-communicable diseases globally, including in Indonesia, where the prevalence among individuals aged ≥15 years was reported to be around 32% in 2018, showing an increasing trend compared to previous years. This study aimed to identify the main factors associated with metabolic syndrome among the Indonesian population aged ≥15 years using data from the 2023 Indonesia Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). Data were analyzed using chi-square tests and logistic regression to determine associated factors and identify the dominant determinant. The results showed that the prevalence of metabolic syndrome among the population was 38.4%. Variables significantly associated with metabolic syndrome included age, sex, and nutritional status (BMI). The most dominant factor was nutritional status, where compared to individuals with normal BMI, underweight respondents had a lower likelihood of developing metabolic syndrome (AOR = 0,486; 95% CI: 0,369–0,641), while overweight respondents had 2.510 times higher odds (AOR = 2,510; 95% CI: 2,145–2,939). The risk further increased among individuals with class I obesity, who had 5.864 times higher odds (AOR = 5,864; 95% CI: 5,122–6,714), and class II obesity, who had 12.670 times higher odds of experiencing metabolic syndrome compared to those with normal BMI (AOR = 12,670; 95% CI: 10,280–15,616).
Read More
S-12361
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wibisana Nauval Aqil Sidopekso; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Fajrinayanti
Abstrak:
Obesitas sentral adalah penumpukan lemak di area perut yang meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan proporsi obesitas sentral berdasarkan perilaku konsumsi makanan berisiko dan pola hidup sehat pada wanita usia produktif (15–40 tahun) di DKI Jakarta menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2023. Desain potong lintang dengan analisis chi-square digunakan pada data sekunder. Hasil menunjukkan prevalensi obesitas sentral 45,7%. Konsumsi makanan/minuman manis, berlemak, daging olahan, makanan instan, rendahnya konsumsi buah-sayur, dan kurang aktivitas fisik berkorelasi signifikan dengan obesitas sentral (p<0,05). Hasil ini mendukung pentingnya intervensi perilaku dan kebijakan promosi hidup sehat.


Central obesity is abdominal fat accumulation increasing risk of degenerative diseases. This study analyzed differences in central obesity prevalence based on risky food consumption behaviors and healthy lifestyle patterns among women aged 15–40 years in DKI Jakarta using 2023 Indonesian Health Survey data. A cross-sectional design with chi-square analysis was applied. Results showed 45.7% prevalence of central obesity. Consumption of sugary foods/drinks, fatty foods, processed meats, instant foods, low fruit-vegetable intake, and insufficient physical activity were significantly associated with central obesity (p<0.05). Findings underscore the need for behavioral interventions and health promotion policies.
Read More
S-12145
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Silviani J. Prissa; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Ansar Mursaha dan Ari Nofitasari
Abstrak:
Stunting juga dikenal sebagai "pendek", adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah 5 tahun akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan. Berdasarkan hasil SSGI tahun 2022, Provinsi Sulawesi Tengah menduduki peringkat ke 6 dengan prevalensi stunting mencapai 28,2%, turun 1,5% dari tahun 2021 yaitu 29,7% (peringkat 8). Namun, angka ini masih lebih tinggi dari rata–rata nasional sebesar 21,6 persen. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional yang faktor determinan stunting pada anak usia 6–23 bulan di Provinsi Sulawesi Tengah. Variabel independen dalam penelitian ini meliputi faktor anak, faktor ibu dan faktor rumah tangga. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat dan regresi logistik berganda model determinan. Hasil penelitian menunjukkan, faktor anak (jenis kelamin, berat badan lahir, ISPA dan riwayat imunisasi), faktor ibu (pendidikan ibu), faktor rumah tangga (ketahanan pangan rumah tangga, sanitasi jamban, jumlah balita dalam keluarga) berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6–23 bulan. Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6–23 bulan adalah BBLR (OR: 2,306) setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin, ISPA, riwayat imunisasi, pendidikan ibu, sanitasi jamban, dan jumlah balita dalam keluarga.

Stunting, also known as “shortness”, is a condition of failure to thrive in children under 5 years of age due to chronic malnutrition and recurrent infections especially in the period of the First 1,000 Days of Life (HPK), which is from the fetus until the child is 23 months old. Based on the results of the SSGI in 2022, Central Sulawesi Province is ranked 6th with a stunting prevalence of 28.2%, down 1.5% from 2021 which was 29.7% (rank 8). However, this figure is still higher than the national average of 21.6 percent. This study is a quantitative study with a cross-sectional design that determines stunting in children aged 6–23 months in Central Sulawesi Province. Independent variables in this study include child factors, maternal factors and household factors. Data analysis used the chi-square test and multiple logistic regression of the determinant model. The results showed that child factors (gender, birth weight, ARI and immunization history), maternal factors (mother's education), household factors (household food security, latrine sanitation, number of toddlers in the family) were associated with the incidence of stunting in children aged 6–23 months. The dominant factor associated with the incidence of stunting in children aged 6–23 months is LBW (OR: 2.306) after being controlled by variables of gender, ARI, immunization history, maternal education, latrine sanitation, and number of toddlers in the family
Read More
T-7053
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Michelle Kim; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Yulianti Wibowo
Abstrak:
Obesitas sentral merupakan kondisi akumulasi lemak berlebih di area perut (intra-abdominal fat) yang berperan sebagai faktor risiko utama penyakit kardiovaskular dan sindrom metabolik. Di Indonesia, termasuk wilayah Jakarta, prevalensi obesitas sentral menunjukkan tren peningkatan. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi adalah pola konsumsi minuman berpemanis atau Sugar-Sweetened Beverages (SSB), yakni minuman yang mengandung pemanis berkalori tinggi seperti soda, minuman rasa buah, teh/kopi kemasan, dan sejenisnya. Konsumsi SSB meningkat seiring dengan kemudahan akses dan kecenderungan masyarakat menjadikannya sebagai pelarian saat stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dengan kejadian obesitas sentral pada kelompok dewasa di perusahaan X. Penelitian dilakukan pada bulan April 2024 menggunakan desain cross-sectional dengan metode purposive sampling, melibatkan 86 responden. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi SSB (p=0,002), asupan energi (p=0,009), dan asupan karbohidrat (p=0,001) dengan kejadian obesitas sentral. Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara obesitas sentral dengan aktivitas fisik (p=0,536), jenis kelamin (p=1,000), pengetahuan mengenai SSB (p =0,647), asupan lemak (p=0,219), dan asupan serat (p=0,376). Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi SSB, asupan energi, dan karbohidrat perlu menjadi perhatian dalam upaya pencegahan obesitas sentral di kalangan dewasa pekerja.

Central obesity is a condition characterized by excessive fat accumulation in the abdominal area (intra-abdominal fat), which serves as a major risk factor for cardiovascular diseases and metabolic syndrome. In Indonesia, including the Jakarta area, the prevalence of central obesity continues to rise. One contributing factor is the pattern of consuming sugar-sweetened beverages (SSBs), which are drinks containing high-calorie sweeteners, such as soda, fruit-flavored drinks, packaged tea/coffee, and other sweetened liquid products. SSB consumption has increased due to easier access and the tendency for individuals to use these beverages as a coping mechanism during stress. This study aimed to examine the relationship between SSB consumption and the incidence of central obesity among adults in Company X. The research was conducted in April 2024 using a cross-sectional design and purposive sampling method, involving 86 respondents. The results showed a significant association between SSB consumption (p=0.002), energy intake (p=0.009), and carbohydrate intake (p=0.001) with the incidence of central obesity. Meanwhile, no significant association was found between central obesity and physical activity (p=0.536), sex (p=1.000), knowledge about SSB (p=0.647), fat intake (p=0.219), or fiber intake (p=0.376). These findings suggest that SSB consumption, energy intake, and carbohydrate intake are important factors to consider in efforts to prevent central obesity among working adults.
Read More
S-11921
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putu Neysa Kanti Widhisari; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Sandra Fikawati, Saraheni
Abstrak:
Obesitas sentral merupakan penumpukan lemak berlebih di area abdomen yang menggambarkan akumulasi lemak viseral dan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular. Provinsi Kalimantan Timur memiliki prevalensi obesitas sentral yang konsisten berada di atas angka nasional sejak 2007 dan pada tahun 2023 kembali meningkat hingga 43,6%. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian obesitas sentral pada penduduk usia ≥20 tahun di Provinsi Kalimantan Timur menggunakan desain studi cross-sectional dari data sekunder Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Sampel penelitian adalah penduduk usia ≥20 tahun di Provinsi Kalimantan Timur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, sebanyak 8.544 responden. Variabel dependen adalah obesitas sentral, sedangkan variabel independen meliputi faktor sosiodemografi, gaya hidup, pola konsumsi, dan status gizi. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan Rao-Scott Adjusted Chi-Square, dan multivariat menggunakan Complex Samples Logistic Regression. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi obesitas sentral keseluruhan sebesar 46,0%, dengan prevalensi pada perempuan sebesar 66,0% dan laki-laki sebesar 30,8%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, status perkawinan, wilayah tempat tinggal, perilaku merokok, dan konsumsi sayur berhubungan dengan obesitas sentral. Perempuan memiliki peluang 3,924 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan laki-laki (AOR=3,924; 95% CI: 3,352–4,594). Dibandingkan kelompok usia 20–24 tahun, peluang obesitas sentral lebih besar pada kelompok usia 25–34 tahun (AOR=1,984; 95% CI: 1,490–2,641), 35–44 tahun (AOR=2,411; 95% CI: 1,808–3,215), 45–54 tahun (AOR=3,158; 95% CI: 2,373–4,204), 55–64 tahun (AOR=2,801; 95% CI: 2,083–3,768), dan ≥65 tahun (AOR=1,879; 95% CI: 1,319–2,675). Responden yang menikah memiliki peluang 1,234 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan yang tidak menikah (AOR=1,234; 95% CI: 1,029–1,480). Responden di wilayah perkotaan memiliki peluang 1,586 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan perdesaan (AOR=1,586; 95% CI: 1,344–1,871). Perokok aktif memiliki peluang lebih rendah mengalami obesitas sentral dibandingkan bukan perokok (AOR=0,779; 95% CI: 0,633–0,957). Konsumsi sayur yang tidak cukup meningkatkan peluang obesitas sentral sebesar 1,291 kali dibandingkan konsumsi sayur cukup (AOR=1,291; 95% CI: 1,047–1,592). Terdapat interaksi bermakna antara jenis kelamin dengan usia (p<0,001), jenis kelamin dengan status perkawinan (p=0,004), jenis kelamin dengan wilayah tempat tinggal (p<0,001), usia dengan status perkawinan (p=0,017), usia dengan konsumsi sayur (p=0,007), status perkawinan dengan konsumsi sayur (p=0,014), serta wilayah tempat tinggal dengan perilaku merokok (p=0,015). Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan dengan obesitas sentral dalam model akhir meliputi jenis kelamin, usia, status perkawinan, wilayah tempat tinggal, perilaku merokok, dan konsumsi sayur, dengan jenis kelamin perempuan sebagai faktor dominan.

Central obesity is the accumulation of excess fat in the abdominal area, which reflects visceral fat accumulation and is associated with an increased risk of noncommunicable diseases. This study aimed to identify the dominant factors associated with central obesity among residents aged ≥20 years in Kalimantan Timur Province, employing a cross-sectional study design based on secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI 2023). The study sample comprised 8,544 respondents aged ≥20 years in Kalimantan Timur Province who met the inclusion and exclusion criteria. The dependent variable was central obesity, while independent variables encompassed sociodemographic factors, lifestyle behaviors, dietary consumption patterns, and nutritional status. Data were analyzed using univariate, bivariate (Rao-Scott Adjusted Chi-Square), and multivariate (Complex Samples Logistic Regression) approaches. The findings revealed an overall prevalence of central obesity of 46.0%, with prevalence among females at 66.0% and among males at 30.8%. Multivariate analysis demonstrated that sex, age, marital status, area of residence, smoking behavior, and vegetable consumption were significantly associated with central obesity. Females had 3.924 times greater odds of experiencing central obesity compared to males (AOR=3.924; 95% CI: 3.352–4.594). Relative to the 20–24 year age group, the odds of central obesity were higher among those aged 25–34 years (AOR=1.984; 95% CI: 1.490–2.641), 35–44 years (AOR=2.411; 95% CI: 1.808–3.215), 45–54 years (AOR=3.158; 95% CI: 2.373–4.204), 55–64 years (AOR=2.801; 95% CI: 2.083–3.768), and ≥65 years (AOR=1.879; 95% CI: 1.319–2.675). Married respondents had 1.234 times greater odds of central obesity compared to unmarried respondents (AOR=1.234; 95% CI: 1.029–1.480). Respondents residing in urban areas had 1.586 times greater odds of central obesity compared to those in rural areas (AOR=1.586; 95% CI: 1.344–1.871). Active smokers had significantly lower odds of central obesity compared to non-smokers (AOR=0.779; 95% CI: 0.633–0.957). Insufficient vegetable consumption was associated with 1.291 times greater odds of central obesity compared to adequate consumption (AOR=1.291; 95% CI: 1.047–1.592). Significant interaction effects were identified between sex and age (p<0.001), sex and marital status (p=0.004), sex and area of residence (p<0.001), age and marital status (p=0.017), age and vegetable consumption (p=0.007), marital status and vegetable consumption (p=0.014), and area of residence and smoking behavior (p=0.015).. The final model indicated that sex, age, marital status, area of residence, smoking behavior, and vegetable consumption were associated with central obesity, with female sex identified as the dominant factor.
Read More
S-12331
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhira Idelya Adrian; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Dieta Nurrika
Abstrak:
Konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) yang tinggi pada remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat karena berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, dan penyakit kardiovaskular hingga usia dewasa. Penelitian mengenai konsumsi MBDK pada remaja di Indonesia masih banyak berbasis frekuensi, sedangkan pengukuran dalam satuan volume masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata konsumsi MBDK berdasarkan faktor-faktor yang berhubungan pada siswa SMAN 81 Jakarta Timur tahun 2026. Penelitian observasional dengan desain cross-sectional ini melibatkan 199 siswa yang dipilih melalui convenience sampling. Konsumsi MBDK diukur menggunakan kuesioner BEVQ-15 dan dianalisis dengan uji Mann-Whitney U. Rata-rata konsumsi MBDK sebesar 349,58±422,87 mL/hari dengan median 184,38 mL/hari. Terdapat perbedaan konsumsi yang bermakna berdasarkan jenis kelamin, sikap terhadap MBDK, self-efficacy, kemampuan membaca label gizi, serta pengaruh konten dan iklan (p < 0,05), sedangkan uang jajan, pengetahuan terhadap MBDK dan label, status gizi, pengaruh teman sebaya, dan aksesibilitas MBDK tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p > 0,05). Dapat disimpulkan bahwa faktor individu serta paparan konten dan iklan di media digital berkaitan dengan perbedaan konsumsi MBDK pada remaja.

High consumption of sugar-sweetened beverages (SSBs) among adolescents is a public health concern, as it is associated with an increased risk of obesity, type 2 diabetes mellitus, and cardiovascular diseases in adulthood. Research on SSB consumption among adolescents in Indonesia has mostly focused on frequency-based measures, while volume-based assessment remains limited. This study aimed to analyze differences in the average consumption of SSBs according to associated factors among students at SMAN 81 East Jakarta in 2026. This observational study employed a cross-sectional design and involved 199 students selected through convenience sampling. SSB consumption was measured using the BEVQ-15 questionnaire and analyzed using the Mann–Whitney U test. The average SSB consumption was 349.58 ± 422.87 mL/day, with a median of 184.38 mL/day. Significant differences in SSB consumption were observed according to gender, attitudes toward SSBs, self-efficacy, nutrition label literacy, and exposure to digital content and advertisements (p < 0.05), whereas no significant differences were found according to pocket money, knowledge of SSBs and nutrition labels, nutritional status, peer influence, or SSB accessibility (p > 0.05). It can be concluded that individual factors, as well as exposure to digital content and advertisements, are associated with differences in SSB consumption among adolescents.
Read More
S-12412
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farisa Milla S; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Kusdinar Achmad, Nurfi Afriansyah
Abstrak: Kalsium merupakan zat gizi yang berperan penting dalam pertumbuhan. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan asupan kalsium berdasarkan frekuensi konsumsi susu, frekuensi konsumsi sumber kalsium lain, preferensi rasa susu, kebiasaan sarapan, aktivitas fisik, jenis kelamin, pengetahuan mengenai kalsium, dan uang saku. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dan dilakukan pada 120 siswa SMP Islam PB Soedirman Jakarta Timur selama bulan April 2016. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner dan asupan kalsium diukur dengan wawancara food recall 2x24 jam. Data dianalisis dengan menggunakan uji t-test independent. Hasil penelitian ini menunjukkan 46% memiliki asupan kalsium kurang dengan rata-rata asupan kalsium 428± 340,3 mg. Analisis bivariat menunjukkan terdapat perbedaan asupan kalsium yang signifikan berdasarkan frekuensi konsumsi susu, preferensi rasa susu, jenis kelamin, dan pengetahuan mengenai kalsium. Kata kunci : Kalsium, asupan kalsium, remaja, konsumsi susu, preferensi rasa
Calcium plays a central role in human's growth. This research aims to explore and determine the differences of calcium intake based on milk consumption frequency, other calcium-rich foods sources frequency, milk-taste preferences, breakfast habit, physical activity, sex, calcium-related knowledge, and pocket money. This research adapts cross-sectional design with a total of 120 students of PB Soedirman Islamic Junior High School in West Jakarta during April 2016. Data was collected using questionnaire and food recall (2x24 hours) method to measure calcium intake. The data was analyzed using t-test independent test. The results showed that 46% of the students had calcium intake below 924 mg/day and the average calcium intake was 428±340.3 mg. Bivariate analysis results showed significant mean-difference of calcium intake based on milk consumption frequency, milk taste preference, sex, and calcium-related knowledge. Keywords : Calcium, calcium-intake, adolescent, milk consumption, taste preference
Read More
S-9086
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indana Bintan Dzakiyyah; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Hera Nurlita
Abstrak: Minuman ringan berpemanis adalah beberapa jenis minuman manis berkalori yangketika dibeli sudah siap diminum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiperbedaan rata-rata konsumsi minuman ringan berpemanis pada siswa SMAN 48Jakarta Timur berdasarkan jenis kelamin, keterpaparan media massa, aksesibilitas,ketersediaan, pengaruh keluarga, pengaruh teman, pengetahuan gizi, sikap,aktivitas fisik, kebiasaan membawa air mineral, dan uang jajan. Penelitian iniadalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional yang dilakukanpada 168 sampel yang dipilih mengunakan metode quota sampling. Instrumen yangdigunakan, yaitu kuesioner (self-administered) dan alat peraga botol berbagaiukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi minuman ringanberpemanis secara umum, yaitu sebanyak 245,7 mL/hari. Rata-rata konsumsiminuman ringan berpemanis berdasarkan jenisnya secara berurutan dari yangterbanyak, yaitu minuman jenis teh/kopi (152,7 mL/hari), berperisa buah (77,1mL/hari), berperisa tanpa kandungan sari buah (65,7 mL/hari), sport (56,9mL/hari), karbonasi berkalori (42,2 mL/hari), dan energi (10,0 mL/hari). Hasilanalisis menggunakan uji t independen menunjukkan terdapat perbedaan yangsignifikan pada rata-rata konsumsi minuman ringan berpemanis berdasarkan jeniskelamin, keterpaparan media massa, ketersediaan minuman ringan berpemanis,pengaruh teman, dan sikap terhadap minuman ringan. Diperlukannya dukungandari berbagai pihak berwenang terkait kebijakan penjualan minuman ringanberpemanis dan penyediaan air mineral di tempat umum, khususnya sekolah.Kata kunci:minuman ringan berpemanis, siswa SMA, jenis kelamin, keterpaparan mediamassa, ketersediaan, pengaruh teman, sikap.
Read More
S-9216
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive