Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39988 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Putri Nuraini; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Teguh Jati Prasetyo
Abstrak: Konsumsi buah dan sayur adalah salah satu aspek penting dalam gizi seimbang. Meskipun begitu, di Indonesia banyak masyarakat kurang mengonsumsi buah dan sayur, salah satunya anak usia sekolah. Jika fenomena ini diabaikan secara terus menerus, kebiasaan makan yang salah pada masa anak-anak dapat berlanjut menjadi bibit masalah kesehatan yang serius kedepannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran konsumsi buah dan sayur serta faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur pada anak usia sekolah 5-12 tahun di Provinsi Jawa Barat tahun 2023. Penelitian ini menggunakan data SKI 2023 dengan desain penelitian cross-sectional dan sampel sebanyak 9.097 orang. Analisis data menggunakan SPSS dan seperangkat komputer. Berdasarkan analisis univariat, rata-rata konsumsi buah dan sayur anak usia sekolah 5-12 tahun di Provinsi Jawa Barat sebanyak   0,85 porsi per hari dalam seminggu, dengan rincian rata-rata konsumsi buah sebanyak 1,14 porsi per hari dalam seminggu dan rata-rata konsumsi sayur sebanyak 1,21 porsi per hari dalam seminggu. Sementara itu, faktor-faktor yang menunjukkan hubungan signifikan, yakni jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan ayah, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ayah, status pekerjaan ibu, dan status ekonomi  yang termasuk di dalamnya status penerimaan bantuan sosial dengan masing-masing p<0,05, sedangkan tempat tinggal menunjukkan hubungan tidak signifikan dengan p-value 0,088 (p>0,05).
Fruit and vegetable consumption is one of the essential aspects of balanced nutrition. However, many people in Indonesia, including school-aged children, consume insufficient amounts of fruits and vegetables. Poor eating habits during childhood may develop serious health problems in the future. This study aimed to describe the consumption of fruits and vegetables and the factors associated with fruit and vegetable consumption among school-aged children (5–12 years old) in West Java Province in 2023. The study used data from the SKI 2023 with a cross-sectional design and sample of 7,086 individuals. Data were analyzed using SPSS and a set of computers. Based on univariate analysis, the average consumption of fruits and vegetables among school-aged children (5–12 years) in West Java Province was 0.85 servings per day over a week, with an average fruit consumption of 1.14 servings per day and an average vegetable consumption of 1.21 servings per day. Meanwhile, the factors that showed a significant relationship were gender, age, father's education level, mother's education level, father's employment status, mother's employment status, and economic status including social assistance recipient status with p<0.05 respectively, while place of residence showed an insignificant relationship with a p-value of 0.088 (p>0.05).
Read More
S-11972
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Layra Azkadzkiya Arradhin; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Sandra Fikawati, Khoirul Anwar
Abstrak:
Hipertensi merupakan kondisi peningkatan tekanan darah yang terus menerus tinggi di atas batas normal. Data saat ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan prevalensi hipertensi pada dewasa muda usia 25-34 tahun di Indonesia, tetapi banyak dewasa muda yang kurang menyadari jika mereka mengalami hipertensi sehingga hipertensi menjadi tidak terkontrol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran prevalensi hipertensi, hubungan antara hipertensi dengan faktor risiko hipertensi, serta mengetahui faktor dominan kejadian hipertensi pada dewasa muda usia 25-34 tahun di Provinsi Jawa Barat tahun 2023. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional menggunakan data sekunder SKI 2023 dengan sampel aktual sebanyak 6.105 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 18,9% dewasa muda usia 25-34 tahun mengalami hipertensi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin, status pekerjaan, konsumsi buah dan sayur, Indeks Massa Tubuh, lingkar perut, status konsumsi rokok, dan stres memiliki hubungan yang signifikan dengan hipertensi. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsumsi buah dan sayur merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan hipertensi pada dewasa muda usia 25-34 tahun di Provinsi Jawa Barat tahun 2023 dengan nilai OR = 2,741 (95%CI: 1,449 – 5,182). Berdasarkan temuan tersebut, pemenuhan konsumsi buah dan sayur harian penting dalam pencegahan hipertensi pada dewasa muda, serta diperlukan lingkungan yang mendukung penerapan perilaku konsumsi buah dan sayur melalui implementasi program CERDIK, optimalisasi program Cek Kesehatan Gratis dan Posyandu ILP, serta kolaborasi lintas sektor untuk melaksanakan program pencegahan hipertensi di lingkungan kerja. 

Hypertension is a condition of continuously elevated blood pressure above the normal  threshold. Current data shows an increasing prevalence of hypertension among young adults  aged 25–34 years in Indonesia. However, many young adults are unaware if they have  hypertension, resulting in uncontrolled blood pressure. The purpose of this study was to  determine the prevalence of hypertension, the association between hypertension and its  various risk factors, and to determine the dominant factor contributing to hypertension  among young adults aged 25–34 years in West Java Province in 2023. The research design  used was cross-sectional using secondary data from SKI 2023 with an actual sample of 6.105  samples. The results showed that 18,9% of young adults aged 25-34 years had hypertension.  The results of bivariate analysis showed that gender, employment status, fruit and vegetable  consumption, Body Mass Index, abdominal circumference, cigarette consumption, and  stress had a significant association with hypertension. Multivariate analysis showed that fruit  and vegetable consumption was the dominant factor associated with hypertension in young  adults aged 25-34 years in West Java Province in 2023, with an odds ratio (OR) of 2,741  (95% CI: 1,449–5,182). Based on these findings, adequate daily consumption of fruits and  vegetables is essential for hypertension prevention among young adults. It is also necessary  to create supportive environments to implement fruit and vegetable consumption behavior  through the implementation of the CERDIK program, optimization of Integrated Primary  Health Services (ILP) through Posyandu, and collaboration to implement workplace-based  hypertension prevention programs.
Read More
S-11957
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhia Qathrin Nada; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Asih Setiarini, Sandra Fikawati, Trini Sudiarti, Viera Lasmiana
Abstrak:
Karies gigi masih menjadi masalah kesehatan gigi dan mulut yang banyak terjadi pada anak dan remaja. Konsumsi makanan manis dan minuman berpemanis merupakan faktor perilaku yang dapat meningkatkan paparan gula pada gigi dan berkontribusi terhadap proses demineralisasi email. Selain itu, pola konsumsi pangan manis dapat dipengaruhi oleh karakteristik sosiodemografi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor sosiodemografi dengan konsumsi makanan manis dan minuman berpemanis, serta hubungan konsumsi makanan manis dan minuman berpemanis dengan kejadian karies gigi pada anak usia 12–16 tahun di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sampel penelitian berjumlah 3.222 anak usia 12–16 tahun di Provinsi Jawa Barat yang memenuhi kriteria penelitian. Variabel independen meliputi faktor sosiodemografi dengan variabel antara konsumsi makanan manis dan konsumsi minuman berpemanis, sedangkan variabel dependen adalah kejadian karies gigi. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan mempertimbangkan kandidat confounder, yaitu riwayat pemeriksaan gigi, perilaku menyikat gigi, dan jenis sumber air minum. Sebanyak 40,8% anak mengalami karies gigi. Proporsi konsumsi makanan manis tinggi sebesar 46,4%, sedangkan konsumsi minuman berpemanis tinggi sebesar 41,9%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa usia berhubungan signifikan dengan konsumsi makanan manis. Usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan konsumsi minuman berpemanis. Konsumsi makanan manis tidak berhubungan signifikan dengan kejadian karies gigi (OR = 1,137; 95% CI: 0,987–1,308; p = 0,075). Sebaliknya, konsumsi minuman berpemanis berhubungan signifikan dengan kejadian karies gigi (OR = 0,836; 95% CI: 0,725–0,965; p = 0,014). Kandidat confounder tidak mengubah nilai OR/AOR lebih dari 10%, sehingga tidak dikategorikan sebagai confounder. Faktor sosiodemografi tertentu berhubungan dengan konsumsi makanan manis dan minuman berpemanis. Konsumsi makanan manis tidak berhubungan signifikan dengan karies gigi, sedangkan konsumsi minuman berpemanis berhubungan signifikan dengan karies gigi.

Tooth decay remains a prevalent dental and oral health issue among children and adolescents. The consumption of sweet foods and sugary drinks is a behavioral factor that can increase sugar exposure on teeth and contribute to the demineralization process of enamel. In addition, the pattern of sweet food consumption can be influenced by sociodemographic characteristics. This study aims to analyze the relationship between sociodemographic factors and the consumption of sweet foods and sweetened beverages, as well as the relationship between the consumption of sweet foods and sweetened beverages and the incidence of dental caries in children aged 12–16 years in West Java Province. This study uses a cross-sectional design with secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The research sample consists of 3,222 children aged 12–16 years in West Java Province who meet the research criteria. The independent variables include sociodemographic factors with variables between sweet food consumption and sweetened beverage consumption, while the dependent variable is the incidence of dental caries. Data analysis was conducted univariately, bivariately using the chi-square test, and multivariately using logistic regression while considering confounder candidates, namely dental check-up history, tooth brushing behavior, and type of drinking water source. As many as 40.8% of children experience dental caries. The proportion of high sweet food consumption is 46.4%, while the proportion of high sweetened beverage consumption is 41.9%. Bivariate analysis results show that age is significantly related to sweet food consumption. Age, gender, and the mother's level of education are significantly related to the consumption of sweetened beverages. Consumption of sweet foods is not significantly associated with the incidence of dental caries (OR = 1.137; 95% CI: 0.987–1.308; p = 0.075). In contrast, consumption of sweetened beverages is significantly associated with the incidence of dental caries (OR = 0.836; 95% CI: 0.725–0.965; p = 0.014). Candidate confounders did not change the OR/AOR value by more than 10%, so they were not categorized as confounders. Certain sociodemographic factors are associated with the consumption of sweet foods and sweetened beverages. The consumption of sweet foods is not significantly associated with dental caries, whereas the consumption of sweetened beverages is significantly associated with dental caries.
Read More
T-7617
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rachel Janetta; Pembimbing: Asih Setiarini, Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Triyanti, Fadila Wirawan
Abstrak:
Konsumsi buah dan sayur adalah perilaku yang penting khususnya bagi remaja agar dapat mencegah berkembangnya masalah kesehatan yang mungkin timbul di masa depan. Akan tetapi, di Indonesia masih banyak masyarakat yang masih belum cukup mengonsumsi buah dan sayur di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran konsumsi buah dan sayur dan faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur pada remaja di Kalimantan Selatan tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan sampel sebanyak 3314. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS dengan seperangkat komputer. Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan hasil sebanyak 98,2% remaja masih belum cukup dalam mengonsumsi buah dan sayur. Setelah dilakukan analisis bivariat, ditunjukkan variabel yang signifikan yaitu daerah tempat tinggal (OR 2,165; 95% CI 1,285-3,645), pendidikan ayah (OR 2,245; 95% CI 1,340-3,762), dan pendidikan ibu (OR 2,229; 95% CI 1,235-3,479) berpengaruh terhadap konsumsi buah dan sayur. Faktor dominan pada penelitian ini adalah daerah tempat tinggal (OR 1,691).

Consumption of fruits and vegetables is an important aspect on daily diet, especially for adolescents, to prevent the development of potential health problems in the future. However, in Indonesia, many people still do not consume enough fruits and vegetables. The purpose of this study is to describe the consumption of fruits and vegetables and the factors associated with the consumption of fruits and vegetables among adolescents in South Kalimantan in 2018. The research design used is cross-sectional with a sample size of 3314. Data analysis was performed using SPSS with a computer device. Based on the data analysis results, it was found that 98.2% of adolescents still do not consume enough fruits and vegetables. After conducting bivariate analysis, it was shown that the significant variables are the region of residence (OR 2.165; 95% CI 1.285-3.645), father's education (OR 2.245; 95% CI 1.340-3.762), and mother's education (OR 2.229; 95% CI 1.235-3.479) which influence fruit and vegetable consumption. The dominant factor in this study is region of residence (OR 1,691)
Read More
S-11694
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jane Cornelia; Pembimbing: Yvonne Magdalena Indrawani; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Ida Ruslita
S-8873
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarah Mardiyah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Fatmah, Kusharisupeni, Rina Agustina, Nina Kemala Sari
Abstrak: Abstrak
Gangguan kepadatan tulang (osteoporosis dan osteopenia) merupakan masalah kesehatan masyarakat utama yang disebabkan oleh banyak faktor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan kepadatan tulang pada kelompok usia dewasa (30-55 tahun) di daerah urban dan rural terpilih Provinsi Jawa Barat tahun 2012. Disain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan sampel sebanyak 142 responden. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2012 di Pesona Khayangan, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok sebagai daerah urban dan Desa Pabuaran, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor sebagai daerah rural Provinsi Jawa Barat. Prevalensi gangguan kepadatan tulang dalam penelitian ini sebesar 31,7% (4,2% osteoporosis dan 27,5% osteopenia). 
Hasil analisis bivariat menunjukkan proporsi gangguan kepadatan tulang lebih banyak pada responden yang berusia ≥50 tahun (p-value=0,047) dan yang memiliki IMT <23,49 kg/m2 (p-value=0,003). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa responden yang memiliki IMT <23,49 kg/m2 akan mengalami gangguan kepadatan tulang sebesar 5,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang memiliki IMT >27,36 kg/m2 dan responden yang memiliki IMT 23,49-27,36 kg/m2 akan mengalami gangguan kepadatan tulang sebesar 2,2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang memiliki IMT >27,36 kg/m2 setelah dikontrol variabel usia, asupan vitamin D dan asupan protein. 
Pada penelitian ini, IMT merupakan faktor yang paling berhubungan dengan gangguan kepadatan tulang setelah dikontrol variabel usia, asupan vitamin D dan asupan protein. Semakin rendah IMT, semakin tinggi risiko gangguan kepadatan tulang. 
Bone density disorder (osteoporosis and osteopenia) is a major public health problem caused by multifactor. The purpose of this study was to find out factors related to adult bone density disorder (30-55 years of age) in the selected urban and rural area, West Java Province, 2012. It used cross-sectional method and the sample was 142 respondents. The data was taken on May-June 2012 in Pesona Khayangan, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok as the urban area and Desa Pabuaran, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor as the rural area. Prevalence of bone density disorder in this study was 31,7% (4,2% osteoporosis and 27,5% osteopenia). 
Bivariate analysis showed higher proportion of bone density disorder in respondent aged ≥50 years (p-value=0,047) and BMI <23,49 kg/m2 (p-value=0,003). Multivariate analysis verified that respondent with BMI <23,49 kg/m2 will 5,5 times higher to have bone density disorder than respondent with BMI >27,36 kg/m2 and respondent with BMI 23,49-27,36 kg/m2 will 2,2 times higher to have bone density disorder than respondent with BMI >27,36 kg/m2 after controlled by age, vitamin D and protein intake variable. 
In this study, BMI is the most related factor of bone density disorder after controlled by age, vitamin D and protein intake variable. The lower BMI, the higher risk of bone density disorder.
Read More
T-3709
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sharon Ferrani; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Trini Sudiarti, Kencana Sari
Abstrak:

Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia, dengan konsekuensi serius seperti stroke dan penyakit jantung koroner jika tidak segera ditangani. Dalam beberapa tahun terakhir, hipertensi semakin banyak terjadi pada dewasa muda, khususnya mereka yang berusia 25-34 tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada dewasa muda di Provinsi Jawa Barat tahun 2018 serta tindakan pencegahan melalui pengendalian faktor risiko. Desain penelitian yang digunakan adalah cross- sectional dengan sampel sebanyak 1.059 responden usia 25-34 tahun di Jawa Barat. Analisis data dilakukan menggunakan seperangkat komputer. Berdasarkan hasil analisis data, sebesar 22,7% responden mengalami hipertensi, dengan hipertensi sistolik sebesar 9,8% dan hipertensi diastolik sebesar 20,6%. Responden perempuan memiliki prevalensi hipertensi yang lebih tinggi (27,2%) dibandingkan dengan laki-laki (21,8%). Faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan hipertensi meliputi jenis kelamin (p=0,001), indeks massa tubuh (IMT) (p=0,000), dan kebiasaan merokok (p=0,000). Untuk hipertensi sistolik, faktor signifikan adalah IMT (p=0,000), konsumsi makanan tinggi lemak (p=0,002), kebiasaan merokok (p=0,004), dan stres (p=0,024), sedangkan untuk hipertensi diastolik, faktor yang berpengaruh signifikan meliputi jenis kelamin (p=0,000), IMT (p=0,000), asupan natrium (p=0,015), dan kebiasaan merokok (p=0,00). IMT diidentifikasi sebagai faktor dominan. IMT tinggi meningkatkan risiko hipertensi tiga kali lipat (OR=3,003). Penelitian lebih lanjut direkomendasikan untuk mengeksplorasi faktor-faktor lain yang mempengaruhi hipertensi dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan langkah-langkah pencegahan, seperti pengendalian asupan garam, menjaga IMT, mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak, terutama yang ditargetkan pada kelompok dewasa muda.


Hypertension is a major health problem in Indonesia, with serious consequences such as stroke and coronary heart disease if not treated immediately. In recent years, hypertension has been increasingly common in young adults, especially those aged 25-34 years. The purpose of this study was to identify factors associated with the incidence of hypertension in young adults in West Java Province in 2018 and preventive measures through risk factor control. The study design used was cross-sectional with a sample of 1,059 respondents aged 25-34 years in West Java. Data analysis was carried out using a computer set. Based on the results of data analysis, 22.7% of respondents had hypertension, with systolic hypertension of 9.8% and diastolic hypertension of 20.6%. Female respondents had a higher prevalence of hypertension (27.2%) compared to male respondents (21.8%). Factors significantly associated with hypertension included gender (p=0.001), body mass index (BMI) (p=0.000), and smoking habits (p =0.001). For systolic hypertension, significant factors were BMI (p=0.001), high-fat food consumption (p=0.002), smoking habit (p=0.004), and stress (p=0.024), while for diastolic hypertension, significant factors included gender (p=0.000), BMI (p=0.000), sodium intake (p=0.015), and smoking habit (p=0.000). BMI was identified as the dominant factor. High BMI increased the risk of hypertension threefold (OR=3.003). Further studies are recommended to explore other factors associated with hypertension and increase public awareness of preventive measures, such as controlling salt intake, maintaining BMI, reducing high-fat food consumption, especially targeting young adults.

Read More
S-11815
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aufa Hanifa; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Triyanti, Salimar
S-10504
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naomi Wiramah; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Siti Ariah Pujonarti, Yuni Zahraini
Abstrak:
Buah dan sayur kaya akan serat, vitamin, dan mineral sehingga bermanfaatuntuk melancarkan pencernaan, mencegah kegemukan dan penyakit kronis, sertameningkatkan sistem kekebalan tubuh. Namun, persentase perilaku kurangkonsumsi buah dan sayur pada masyarakat Indonesia tergolong tinggi, terutama diJakarta Selatan. Remaja diketahui merupakan kelompok usia yang paling jarangmengonsumsi buah dan sayur. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur pada siswa SMANegeri 97 Jakarta ini menggunakan metode cross-sectional. Pengambilan datadilakukan pada bulan Februari sampai Juni 2016, dengan besar sampel 148 siswa.Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner yang diisi sendiri oleh responden.Berdasarkan nilai mean skor konsumsi buah (1,51 porsi/hari) dan sayur(1,29 porsi/hari), diketahui bahwa 56,8% responden kurang mengonsumsi buahdan/atau sayur. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa konsumsi buah dansayur berhubungan positif dengan kesukaan (p-value= 0,0020; OR (95% CI=4,070 (1,712−9,677))), pengetahuan gizi (p-value= 0,0001; OR (95% CI= 3,903(1,908−7,983))), efikasi diri (p-value= 0,0010; OR (95% CI= 4,151(1,802−9,565))), pengaruh orangtua (p-value= 0,0001; OR (95% CI= 4,250(2,043−8,842))), dan ketersediaan (p-value= 0,0001; OR (95% CI= 3,593(1,750−7,379))), namun tidak berhubungan dengan pengaruh teman (p-value=1,0000; OR (95% CI= 1,323 (0,181−9,651)).Kata kunci :Konsumsi, buah, sayur, remaja, kesukaan, pengetahuan, efikasi diri, orangtua,teman, dan ketersediaan.

Fruits and vegetables are so rich in fibers, vitamins, and minerals that theycan be very useful to smooth the digestive system, prevent any obesity, chronicdisease and enhance the immune system as well. On the other hand, thepercentage of inadequate of consuming fruits and vegetables are still increasing bymost Indonesian people, especially many of whom are living in South of Jakarta.Adolescents are considerably known the average age of groups who rarely inconsuming both fruits and vegetables. The objective of this research is intended tofind out what factors are related to the students habitual activity regarding thementioned issue above on lack of consuming them by using a cross-sectionalapproach. Data collected from February through June of 2016, along with thesample size of 148 students. Data collected carried out by means of questionnairesfilled out by each respondent. Based on the mean score of the consumption offruits (1.51 servings/day) dan vegetables (1.29 servings/day) revealed that 56.8%of respondents have lack of fruits and vegetables consumption. The results of thebivariate analysis showed that fruits, vegetables consumption are positivelyrelated to preferences (p-value= 0.0020; OR (95% CI= 4.070 (1.712−9.677))),nutritional knowledge (p-value= 0.0001; OR (95 % CI= 3.903 (1.908−7.983))),self-efficacy (p-value= 0.0010; OR (95% CI= 4.151 (1.802−9.565))), parentsinfluence (p-value= 0.0001; OR (95% CI= 4.250 (2.043−8.842))), and availability(p-value= 0.0001; OR (95% CI= 3.593 (1.750−7.379)), but not related to friendsinfluence (p-value= 1,0000; OR (95% CI= 1,323 (0,181−9,651)).Keywords :Consumption, fruits, vegetables, adolescents, preferences, knowledge, self-efficacy, parents, friends, and availability.
Read More
S-9260
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Krisna Melinda; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Sri Muljati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur pada siswa di SMP Negeri 28 Jakarta dan SMP Negeri 1 Jakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2013. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan instrument penelitian berupa kuesioner dan FFQ. Hasil penelitian menunjukkan 50,3% responden sering mengonsumsi buah dan sayur. Hasil bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara frekuensi makan pagi (p-value 0,028; OR 3,054) dan contoh dari orangtua (p-value 0,002; OR 2,785).
 
Analisis multivariat menunjukkan bahwa contoh dari orangtua menjadi faktor yang paling berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur. Walaupun responden sering mengonsumsi buah dan sayur tetapi rata-rata buah dan sayur yang dikonsumsi setiap harinya masih sangat sedikit. Oleh karena itu, dibutuhkan contoh yang baik dari orangtua dalam hal mengonsumsi buah dan sayur serta lebih mengajak anaknya untuk teratur dalam makan pagi.
 

 
The purpose of this study was to determine factors associated with fruit and vegetable consumption among student in SMPN 28 Jakarta and SMPN 1 Jakarta. This study was held in April until May 2013. The method used in this study was cross sectional design with questionnaire and FFQ as an instrument. The result of this study showed that 50,3% respondent often consumed fruit and vegetable. From analyses data used chi-square, there were significant association between breakfast frequency and parents modeling.
 
Multivariate analysis showed that the strongest correlations fruit and vegetable consumption was parents modeling. Eventhough, they often consumed fruit and vegetable, the mean of fruit and vegetable which consumed everyday is so little. So that, parents must be a good models for their teenagers and ask their teenager to breakfast regularly.
Read More
S-8005
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive