Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31817 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ida Bagus Yudistira Nugraha Yustama; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Masyitoh, Prastuti Soewondo, Kalsum Komaryani, Ni Putu Ayu Prima Dewi
Abstrak:

Pemanfaatan ketiga indikator (casemix, CMI, dan HBR) secara berkala untuk mempertahankan mutu sembari menjaga efisiensi pelayanan RS di era JKN. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan strategi peningkatan capaian indikator casemix, casemix index dan hospital baserate RSU Bali Royal tahun 2019 - 2024.
Penelitian dilakukan di RSU Bali Royal selama bulan Mei - Juni 2025, menggunakan data primer wawancara mendalam dan focus group discussion dan sekunder yang didapatkan dari rekapitulasi elektronik klaim (e-klaim) Kemenkes, laporan keuangan, dan laporan rumah sakit. Penelitian ini menggunakan studi observasional pendekatan kualitatif untuk menganalisis capaian indikator Casemix, CMI dan HBR rawat inap dan rawat jalan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat unsur struktur (sumber daya manusia, material, mesin, anggaran, dan metode) dan unsur proses (manajemen pasien, manajemen koding, dan manajemen klaim) membuahkan unsur output (indikator casemix, casemix index, dan hospital baserate) Dinamika penambahan unsur struktur berdampak pada proses pelayanan pasien, efisiensi koding hingga 50%, dan keberhasilan klaim. Casemix rawat jalan tahun 2019 – 2024 diperoleh 11.393; 16.037; 32.763; 59.520; 111.193; dan 129.423. Casemix rawat inap kelas 1 tahun 2019 – 2024 diperoleh 907; 1.321; 2.657; 3.165; 3.829; dan 4.014. Casemix rawat inap kelas 2 tahun 2019-2024 diperoleh 818; 1.013; 1.800; 2.511; 3.052; dan 3.309. Casemix rawat inap keas 3 tahun 2019 – 2024 diperoleh 205; 539; 1.557; 2.023; 2.646; dan 3.038. Nilai CMI rawat jalan tahun 2019 – 2024 diperoleh 0,98; 1,11;1,16; 1,21; 1,35;dan 1,24. CMI rawat inap kelas 1 tahun 2019 – 2024 diperoleh 1,32; 1,60; 1,84; 1,57; 1,45; dan 1,37. CMI rawat inap kelas 2 tahun 2019 – 2024 diperoleh 1,17; 1,36; 1,58; 1,41; 1,33; dam 1,33. CMI rawat inap kelas 3 tahun 2019 – 2024 diperoleh 1,46; 1,82; 1,67; 1,54; 1,53; dan 1,45. HBR rawat jalan tahun 2019 – 2024 diperoleh 354.393; 333.231; 257.536; 243.675; 226.650; dan 238.494. HBR rawat inap kelas 1 tahun 2019 – 2024 diperoleh 5.257.416; 6.028.120; 5.477.120; 5.970.918; 6.542.667; dan 7.082.825. HBR rawat inap kelas 2 tahun 2019 – 2024 diperoleh 4.449.693; 5.628.665; 4.817.066; 4.993.043; 5.156.750; dan 5.563.012. HBR rawat inap kelas 3 tahun 2019 – 2024 diperoleh 3.616.138; 4.594.204; 3.746.071; 4.325.317; 4.584.260; dan 4.789.356. Nilai casemix dan casemix index mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan capaian CMI di atas standar rumah sakit swasta kelas C regional 2. HBR rawat jalan pada tahun 2021-2024 dibawah HBR nasional, namun HBR rawat inap kelas 1, 2, dan 3 selalu berada di atas HBR nasional. Strategi yang dapat ditempuh untuk peningkatan casemix, casemix index, dan penurunan HBR adalah optimalisasi unsur struktur dengan perbaikan sumber daya manusia dan pengkajian metode, efisiensi mesin, material, dan anggaran, dan evaluasi pada unsur proses (manajemen pasien, koding, dan klaim).


 

The periodic utilization of three key indicators—casemix, Casemix Index (CMI), and Hospital Base Rate (HBR)—is crucial for maintaining service quality while ensuring operational efficiency in hospitals, particularly within Indonesia's National Health Insurance (JKN) system. This study aimed to analyze factors influencing, and develop strategies for enhancing the performance of, casemix indicators, the Casemix Index, and the Hospital Base Rate at Bali Royal General Hospital over the period 2019–2024. The research was conducted at Bali Royal General Hospital from May to June 2025. Primary data were collected through in-depth interviews and focus group discussions, while secondary data were obtained from the Ministry of Health's electronic claim (e-claim) database, hospital financial reports, and institutional records. This study employed an observational design with a qualitative approach to analyze the performance of casemix indicators, CMI, and HBR for both inpatient and outpatient services. The findings revealed that structural elements (i.e., human resources, materials, machinery, budget, and methods) and process elements (i.e., patient management, coding management, and claims management) collectively determine output elements, identified as casemix indicators, the Casemix Index, and the Hospital Base Rate. Strategic enhancements to these structural elements were found to positively impact patient service processes, improve coding efficiency by up to 50%, and increase claim success rates. Results for the 2019–2024 period were as follows: Outpatient casemix counts were 11,393; 16,037; 32,763; 59,520; 111,193; and 129,423 for the years 2019 to 2024, respectively. Inpatient casemix counts for the years 2019 to 2024 were, respectively: Class 1: 907; 1,321; 2,657; 3,165; 3,829; and 4,014. Class 2: 818; 1,013; 1,800; 2,511; 3,052; and 3,309. Class 3: 205; 539; 1,557; 2,023; 2,646; and 3,038. Casemix Index (CMI) values for the years 2019 to 2024 were, respectively: Outpatient CMI: 0.98, 1.11, 1.16, 1.21, 1.35, and 1.24. Inpatient CMI: Class 1: 1.32, 1.60, 1.84, 1.57, 1.45, and 1.37. Class 2: 1.17, 1.36, 1.58, 1.41, 1.33, and 1.33. Class 3: 1.46, 1.82, 1.67, 1.54, 1.53, and 1.45. Hospital Base Rate (HBR) values for the years 2019 to 2024 were, respectively (currency unit not specified in the original text): Outpatient HBR: 354,393; 333,231; 257,536; 243,675; 226,650; and 238,494. Inpatient HBR: Class 1: 5,257,416; 6,028,120; 5,477,120; 5,970,918; 6,542,667; and 7,082,825. Class 2: 4,449,693; 5,628,665; 4,817,066; 4,993,043; 5,156,750; and 5,563,012. Class 3: 3,616,138; 4,594,204; 3,746,071; 4,325,317; 4,584,260; and 4,789,356. Overall, casemix counts and the Casemix Index exhibited an upward trend annually, with CMI performance exceeding the established standard for Class C private hospitals in Regional Area 2. While the outpatient HBR from 2021 to 2024 fell below the national HBR, the inpatient HBR for Classes 1, 2, and 3 consistently surpassed the national benchmark. Recommended strategies to enhance casemix performance, improve the Casemix Index, and reduce the Hospital Base Rate center on optimizing structural elements. This includes improving human resource competencies, refining methodologies, and increasing the efficiency of machinery, materials, and budget allocation. Furthermore, a rigorous evaluation of process elements—such as patient management, clinical coding accuracy, and claims management procedures—is deemed essential.

 

Read More
T-7325
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tomy Oeky Prasiska; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Mardiati Nadjib, Atik Nurwahyuni, Sholihul Absor, Benjamin Saut
Abstrak:
Casemix, casemix index dan hospital baserate merupakan indikator penting untuk melihat kinerja rumah sakit dengan pembayaran DRG. Indikator tersebut merupakan penyusun besaran tarif INA-CBGs, instrumen penilaian kinerja rumah sakit mitra BPJS Kesehatan dan instrumen penyusun pembayaran klaim mixed method INA-CBGs dan global budget yang mulai diujicobakan. Cakupan pelayanan rawat inap dan rawat jalan rumah sakit Muhammadiyah Jawa Timur didominasi pasien JKN, rumah sakit harus mempunyai keunggulan kompetitif dan dapat berkembang di era JKN. Penelitian bertujuan menganalisis capaian casemix, casemix index dan hospital baserate Rumah Sakit Muhammadiyah Jawa Timur tahun 2017-2020. Studi observasional dengan pengamatan selama empat tahun dilakukan pada 27 rumah sakit. Penelitian menggunakan data sekunder yang didapatkan dari elektronik klaim (E-klaim) Kementerian Kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan klasifikasi rumah sakit, jenis rumah sakit, kelas perawatan, dan lama hari rawat inap mempengaruhi capaian casemix, casemix index dan hospital baserate. Casemix, casemix index dan hospital baserate rumah sakit kelas B lebih besar dibandingkan rumah sakit kelas C dan kelas D, capaian indikator rumah sakit umum kelas C lebih besar dibandingkan rumah sakit khusus kelas C. Capaian indikator antar rumah sakit pada kelas yang sama dapat berbeda signifikan tergantung variasi dan derajat keparahan kasus. Rumah sakit yang menangani kasus derajat berat mempunyai nilai casemix, casemix index dan hospital baserate lebih besar. Hasil uji statistik menunjukkan lama rawat inap berpengaruh signifikan terhadap kenaikan hospital baserate rawat inap, semakin lama hari perawatan maka peluang peningkatan hospital baserate semakin besar (p<0,05). Rumah sakit yang menangani kasus hemodialisis dan operasi katarak mempunyai casemix, casemix index dan hospital baserate rawat jalan lebih besar. Pandemi COVID-19 pada tahun 2020 berdampak pada capaian casemix, casemix index dan hospital baserate rumah sakit. Sebanyak 19 rumah sakit (70,4%) mengalami penurunan capaian casemix rawat inap dan 20 rumah sakit (74,1%) mengalami penurunan casemix rawat jalan. Sebanyak 21 rumah sakit (77,4%) mengalami peningkatan hospital baserate rawat inap dan 23 rumah sakit (85,2%) mengalami peningkatan hospital baserate rawat jalan pada tahun 2020. Kesimpulan: capaian indikator casemix, casemix index dan hospital baserate dipengaruhi oleh klasifikasi, jenis rumah sakit, jumlah kasus, variasi dan derajat keparahan kasus serta lama rawat inap. Pandemi COVID-19 berdampak pada penurunan nilai casemix dan peningkatan hospital baserate rawat inap dan rawat jalan. Rumah sakit harus meningkatkan cakupan pelayanan, mengendalikan biaya pelayanan dan menjamin kualitas pengkodean diagnosis dan prosedur secara optimal. Rumah sakit harus memonitor capaian casemix, casemix index dan hospital baserate rawat inap dan rawat jalan secara berkala dan membandingkan dengan rumah sakit lain yang mempunyai kelas dan kapasitas yang sama

Casemix, casemix index and hospital baserate are important indicators to see the hospital performance with DRG payments. These indicators are the compilers of the INA-CBGs tariff rate, the performance assessment instrument for Healthcare and Social Security Agency partner hospitals and the instrument for compiling claims for the mixed method INA-CBGs and global budget which are being piloted. The coverage of inpatient and outpatient services at Muhammadiyah Hospitals in East Java is dominated by the National Health Insurance patients, therefore the hospitals must have a competitive advantages and be able to develop well in the JKN era. This study aims to analyze the achievement of casemix, casemix index and hospital baserate at Muhammadiyah Hospitals in East Java in year 2017-2020. An observational study within four years of observation was conducted in 27 hospitals. The study used secondary data obtained from the Ministry of Health's electronic claims (E-claims). The results showed that hospital classification, type of hospital, treatment class, and length of stay affected the achievement of casemix, casemix index and hospital base-rate. The casemix, casemix index and hospital base-rate of class B hospitals are higher than those of class C and class D hospitals, the indicator achievement of class C general hospitals is greater than those of special class C hospitals. The achievement of indicators between similar class hospitals can differ significantly. depending on the variety and severity level. Hospitals that handle severe cases have higher casemix, casemix index and hospital baserate values. The results of statistical tests showed that the length of stay had a significant effect on the increase of inpatient hospital baserate, the longer the days of stay, the greater the chance of increasing the hospital baserate (p <0.05). Hospitals that handle cases of hemodialysis and cataract surgery have a higher casemix, casemix index and outpatient hospital base-rate. The COVID-19 pandemic in 2020 had an impact on the achievement of casemix, casemix index and hospital base-rates. A total of 19 hospitals (70.4%) experienced a decrease in inpatient casemix achievement and 20 hospitals (74.1%) experienced a decrease in outpatient casemix. A total of 21 hospitals (77.4%) experienced an increase in inpatient hospital baserate and 23 hospitals (85.2%) experienced an outpatient hospital baserate increase in 2020. Conclusion: the achievement of the casemix, casemix index and hospital baserate indicators are influenced by classification, type of hospital, number of cases, variation and severity level and length of stay. The COVID-19 pandemic has resulted a decrease in casemix values and an increase in inpatient and outpatient hospital baserates. Hospitals must increase healthcare coverage, control costs and ensure optimal quality of diagnostic coding and procedures. Hospitals must monitor the achievement of casemix, casemix index and hospital baserates of inpatient and outpatient regularly and compare to other hospitals of the same class and capacity. Keyword : casemix, casemix index, hospital baserate, the National Health Insurance, outpatient, inpatient
Read More
B-2255
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kartika Malahayati; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Atik Nurwahyuni, Vetty Yulianty Permanasari, Muhamad Nur Ihwan, Purwa Kurnia Sucahya
Abstrak:
Casemix, casemix index dan hospital baserate merupakan indikator penting untuk melihat kinerja rumah sakit di bawah sistem pembayaran INA-CBGs. Indikator tersebut merupakan penyusun besaran tarif INA-CBGs, instrumen penilaian kinerja rumah sakit mitra BPJS Kesehatan dan instrumen penyusun pembayaran klaim mixed method INA-CBGs dan global budget yang mulai diujicobakan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis capaian dan determinan indikator casemix, casemix index dan hospital baserate RSPG Cisarua Bogor selama tahun 2017 – 2022. Penelitian akan dilakukan selama bulan Mei – Juni 2023 oleh peneliti langsung di RSPG Cisarua Bogor. Analisis capaian indikator casemix, casemix index dan hospital baserate rumah sakit menggunakan data sekunder yang didapatkan dari rekapitulasi data pada elektronik klaim (e-klaim) Kementerian Kesehatan. Determinan yang berpengaruh terhadap ketiga indikator yang dihitung dalam penelitian ini akan dianalisis secara crossectional melalui pendekatan analitik kuantitatif dari data sekunder berupa e-klaim dan laporan rumah sakit. Uji statistik berupa uji korelasi dan regresi linier sederhana digunakan untuk melihat determinan yang berkaitan dengan indikator casemix, casemix index dan hospital baserate. Hasil penelitian menunjukkan tren casemix rawat jalan dan rawat inap tahunan RSPG mengalami penurunan dari 2017 hingga 2021 seiring dengan penurunan jumlah kasus. Penurunan pada tahun 2020 dan 2021 diakibatkan adanya penurunan jumlah kasus yang signifikan selama pandemi Covid-19. Nilai casemix di tahun 2022 kembali naik seiring membaiknya kondisi pandemi di Indonesia. Capaian casemix index rawat jalan dan rawat inap RSPG Cisarua lebih rendah bila dibandingkan dengan rata-rata capaian casemix index RS Pemerintah Kelas A di regional I. Terjadi kenaikan casemix index saat pandemi Covid-19 dikarenakan masyarakat berobat dalam keadaan lebih parah di saat pandemi. Hospital baserate rawat jalan RSPG tahun 2017 dan 2021 masih berada di bawah tarif nasional, sedangkan tahun 2018, 2019, 2020, dan 2022 hospital baserate lebih tinggi dibandingkan tarif nasional. Hospital baserate rawat inap RSPG secara konasisten lebih tinggi dibandingkan tarif nasional. Artinya biaya yang dikeluarkan rumah sakit lebih tinggi dibandingkan tarif yang dibayarkan oleh BPJS dalam menangani kasus dengan nilai cost weight=1. Terdapat 5 variabel yang bernilai signifikan dengan p<0,05 terhadap casemix rawat jalan, yakni jumlah kasus, jumlah klinik rawat jalan, jumlah dokter spesialis, proporsi beban pegawai, dan proporsi beban penyusutan. Variabel yang berkorelasi secara statistik terhadap casemix rawat inap adalah jumlah kasus, severity level II dan III, lama hari perawatan, jumlah dokter spesialis, proporsi beban pegawai, dan proporsi beban penyusutan. Jumlah klinik rawat jalan dan proporsi beban pegawai memiliki hubungan dengan capaian casemix index rawat jalan. Jumlah kasus, severity level I dan III, lama hari perawatan, serta jumlah dokter spesialis yang praktek di rumah sakit secara statistik berpengaruh terhadap capaian casemix index rawat inap. Hospital baserate di rumah sakit dihitung dengan membagi total biaya dengan casemix. Jumlah klinik rawat jalan, jumlah dokter spesialis, dan proporsi beban pegawai memiliki hubungan (p<0,05) terhadap hospital baserate rawat jalan. Jumlah kasus, severity level I dan III, lama hari perawatan, dan proporsi beban pegawai merupakan determinan yang teridentifikasi terhadap hospital baserate rawat inap.

Casemix, casemix index and hospital baserate are important indicators to evaluate hospital performance under the INA-CBGs payment system. These indicators are the basis for the INA-CBGs tariff rates, the instrument for assessing the performance of BPJS Kesehatan partner hospitals and the constructing instrument of mixed method global budget claim payments for INA-CBGs which has begun to be trialled. This research was conducted to analyze the achievements and determinants of casemix, casemix index and hospital baserate RSPG Cisarua Bogor from 2017 to 2022. The research conducted on May - June 2023 at RSPG Cisarua Bogor. Analysis of the achievement indicators for casemix, casemix index and hospital base rate uses secondary data obtained from Ministry of Health's electronic claims (e-claims). The determinants that affect the indicators will be analyzed cross-sectionally through a quantitative analytical approach from secondary data form e-claims and hospital reports. Correlation and simple linear regression were used to see whether the determinants related to the casemix, casemix index and hospital baserate indicators. The results showed that the casemix trend for outpatient and inpatient at RSPG had decreased from 2017 to 2021 along with the number of visits. The decline in 2020 and 2021 was due to a significant decrease in the number of visits during the Covid-19 pandemic. The casemix in 2022 increased as the pandemic conditions improved in Indonesia. The casemix index for outpatient and inpatient care at RSPG Cisarua were lower than the average casemix index for Class A Government Hospitals in regional I. RSPG outpatient hospital baserate in 2017 and 2021 is still below the national rate, while the other years are higher. RSPG's hospital base rate of inpatient care is consistently higher than the national rate. This means that the costs incurred by the hospital are higher than the rates paid by BPJS in handling cases with cost weight = 1. There are 5 variables that have significant value with p
Read More
B-2348
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yofen Dhamigus; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Taufik Santoso, Melanie Husna
Abstrak:
Penelitian ini mengkaji analisis capaian casemix dan casemix index rawat inap di Rumah Sakit Kelas B Grup Primaya Hospital. Data dikumpulkan dari lima rumah sakit (PH1-PH5) dalam kelompok Primaya Hospital. Penelitian mengevaluasi sumber daya manusia, anggaran, material, metode, dan proses terkait capaian casemix dan casemix index. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi clinical pathways (PPK-CP) di PH1, PH2, PH3, dan PH5 efektif dalam meningkatkan standar klinis dan efisiensi operasional. Kelengkapan rekam medis di PH1 tertinggi (93.3%) dibandingkan dengan PH lainnya. Meskipun demikian, tingkat klaim tertunda masih menjadi tantangan, terutama di PH4. Ketepatan koding di PH5 terbaik dengan hanya 14.6% data klaim yang tertunda. Verifikasi klaim di PH1 mencapai 98.2%, menunjukkan kualitas pengajuan klaim yang baik. Hasil penelitian ini memberikan wawasan tentang hubungan antara input, proses, dan output dalam manajemen capaian casemix dan casemix index di rumah sakit tersebut. Implikasi dari temuan ini berpotensi untuk merumuskan strategi korporasi yang efektif dalam meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi operasional di rumah sakit kelompok Primaya Hospital.

This research examines the analysis of casemix achievement and casemix index inpatient care at Primaya Hospital Class B. Data were collected from five hospitals (PH1-PH5) within the Primaya Hospital group. The study evaluates human resources, budgets, materials, methods, and processes related to casemix achievement and casemix index. The results show that the implementation of clinical pathways (PPK-CP) in PH1, PH2, PH3, and PH5 is effective in improving clinical standards and operational efficiency. The completeness of medical records in PH1 is the highest (93.3%) compared to other hospitals. However, the level of delayed claims remains a challenge, especially in PH4. Coding accuracy in PH5 is the best with only 14.6% of delayed claim data. Claim verification in PH1 reaches 98.2%, indicating good quality of claim submission. The findings provide insights into the relationship between inputs, processes, and outputs in managing casemix achievement and casemix index at these hospitals. The implications of these findings have the potential to formulate effective corporate strategies to improve service quality and operational efficiency in Primaya Hospital group.
Read More
B-2483
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Devi Trias Tuti; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Adin Nulkhasanah, Riris Dian Hardiani
Abstrak:
Casemix, casemix index dan hospital baserate merupakan indikator penting untuk melihat kinerja rumah sakit di bawah sistem pembayaran INA-CBGs. Indikator tersebut merupakan penyusun besaran tarif INA-CBGs, instrumen penilaian kinerja rumah sakit mitra BPJS Kesehatan dan instrumen penyusun pembayaran klaim mixed method INACBGs dan global budget yang mulai diujicobakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis capaian indikator casemix, casemix index dan hospital baserate RSPON Mahar Mardjono tahun 2018 - 2022. Penelitian dilakukan di RSPON Mahar Mardjono selama bulan Maret - Juni 2024, menggunakan data sekunder yang didapatkan dari rekapitulasi elektronik klaim (e-klaim) Kemenkes dan laporan rumah sakit. Penelitian ini menggunakan studi cross sectional menggunakan pendekatan analitik untuk menghitung capaian indikator Casemix, CMI dan HBR rawat inap dan rawat jalan. Analisis multivariat dengan regresi linier digunakan untuk melihat variabel independen yang berkaitan dengan variabel dependen indikator casemix dan CMI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kasus, jumlah kasus dengan prosedur canggih, dan proporsi produktif berpengaruh signifikan terhadap casemix rawat jalan. Jumlah Kasus, Jumlah Kasus dengan Prosedur Canggih, dan Proporsi SL3 berpengaruh signifikan terhadap Casemix Rawat Inap. Jumlah Kasus, Jumlah Kasus dengan Prosedur Canggih, dan Proporsi Produktif berpengaruh signifikan terhadap CMI Rawat Jalan. Jumlah Kasus, Jumlah Kasus dengan Prosedur Canggih, Proporsi SL2, Proporsi SL3, dan Proporsi Meninggal berpengaruh signifikan terhadap CMI Rawat Inap. Casemix rawat jalan tertinggi pada bulan November 2022 yakni 7956, sedangkan casemix terendah terjadi pada bulan Mei 2020 sebesar 1929. Capaian rata-rata casemix rawat jalan tertinggi pada tahun 2022 yaitu 6.738,01. Casemix rawat inap tertinggi pada bulan Desember 2022 sebesar 2392 dan terendah pada Mei 2020 sebesar 1006. Capaian rata-rata casemix rawat inap tertinggi pada tahun 2022 yaitu 1980,98 CMI rawat jalan tertinggi pada bulan Maret 2021 sebesar 1,0821 dan terendah pada April 2018 sebesar 0,9461. Capaian rata-rata CMI rawat jalan tertinggi pada tahun 2021 yaitu 1,044. CMI rawat inap tertinggi terdapat pada bulan Februari 2018 sebesar 3,65 dan terendah pada Desember 2020 sebesar 2,18. Capaian rata-rata CMI rawat inap tertinggi pada tahun 2018 yaitu 3,009. HBR Rawat Jalan tertinggi pada tahun 2020 sebesar Rp548.434, dan terendah dicapai pada tahun 2018 sebesar Rp481.862. HBR Rawat Inap tertinggi pada tahun 2018 sebesar Rp12.852.109, dan terendah dicapai pada tahun 2021 sebesar Rp11.031.593. HBR Rawat Jalan dan rawat inap RSPON tahun 2018-2022 lebih tinggi dari HBR Nasional Kelas A Regional I yang berarti RSPON mengalami defisit dengan tarif INA-CBGs yang berlaku.

Casemix, casemix index and hospital baserate are important indicators for assessing hospital performance under the INA-CBGs payment system. These indicators determine the INA-CBGs tariff rates, serve as performance assessment tools for hospitals partnered with BPJS Kesehatan, and contribute to the payment claim structure of the mixed-method INACBGs and global budget being piloted. This research aims to analyze the achievements of casemix, casemix index, and hospital baserate indicators at RSPON Mahar Mardjono from 2018 to 2022. The research was conducted from March to June 2024 by researchers at RSPON Mahar Mardjono. Analysis of the achievement of casemix, casemix index and hospital baserate using secondary data obtained from data recapitulation on electronic claims (e-claims) of the Ministry of Health and hospital reports. This cross-sectional study employed an analytical approach to calculate the achievement of casemix, casemix index, and hospital baserate for both inpatient and outpatient care. Multivariate analysis with linear regression was used to examine independent variables associated with the dependent variables of casemix and casemix index. The results indicate that variables such as number of cases, number of cases with advanced procedures, and productive proportion significantly influence outpatient casemix. Similarly, the number of cases, cases with advanced procedures, and SL3 proportion significantly affect inpatient casemix. For outpatient casemix index, the variables influencing significantly are number of cases, cases with advanced procedures, and productive proportion. For inpatient casemix index, significant variables include number of cases, cases with advanced procedures, SL2 proportion, SL3 proportion, and mortality proportion. The highest outpatient casemix was in November 2022, at 7956, while the lowest occurred in May 2020 at 1929. The highest average outpatient casemix achievement in 2022 was 6,738.01. The highest inpatient casemix was in December 2022, at 2392, and the lowest was in May 2020 at 1006. The highest average inpatient casemix achievement in 2022 was 1980.98. The highest outpatient casemix index was in March 2021 at 1.0821, and the lowest was in April 2018 at 0.9461. The highest average outpatient casemix index achievement in 2021 was 1.044. The highest inpatient casemix index was in February 2018 at 3.65, and the lowest was in December 2020 at 2.18. The highest average inpatient casemix index achievement in 2018 was 3.009. The highest Hospital Baserate for outpatient care was IDR548.434 in 2020, and the lowest was IDR481.862 in 2018. The highest Hospital Baserate for inpatient care was IDR12.852.109 in 2018, and the lowest Rp11.031.593 in 2021. The Hospital Baserate for inpatient and outpatient care at RSPON from 2018 to 2022 was higher than the National HBR Class A Regional I, indicating that RSPON RSPON incurred a deficit with INA CBG's tariffs.
 
Read More
T-7010
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Wayan Okayeni; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Puput Oktamianti, Ida Ayu Oka Purnama Wati, Made Koen Virawan
Abstrak: ABSTRAK Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar telah mengimplementasikan wisata medis sejak tahun 2010, namun implementasi wisata medis tersebut belum dianalisis secara sistematis. Oleh karena, itu perlu dilakukan kajian lebih lanjut tentang implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar.Tujuan umum penelitian adalah untuk memperoleh gambaran tentang implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar. Tujuan khusus penelitian adalah untuk memperoleh gambaran tentang prosedur implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar; menganalisis kesesuaian prosedur implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar dengan Permenkes No. 76/2015; menganalisis kesesuaian prosedur implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar dengan diagram wisata medis model Deloitte 2008; dan menganalisis kepuasan wisatawan medis terhadap implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Pelayanan wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar mencakup pelayanan prarumah sakit, selama di rumah sakit, dan pascarumah sakit. Prosedur implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar belum sesuai dengan Permenkes No. 76/2015. Prosedur implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar sesuai dengan diagram wisata medis model Deloitte 2008. Wisatawan medis belum sepenuhnya puas terhadap pelayanan wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar. Kata kunci: wisata medis, rumah sakit, model Deloitte Bali Royal Hospital Denpasar has been implementing medical tourism since 2010, but the implementation of medical tourism has not been systematically analyzed. Therefore, it is necessary to do further study on the implementation of medical tourism at Bali Royal Hospital Denpasar. The general purpose of the research is to obtain an overview of the implementation of medical tourism at Bali Royal Hospital Denpasar. The specific objective of the study are to obtain an overview of procedures for the implementation of medical tourism at Bali Royal Hospital Denpasar; analyzing the appropriateness of procedures for the implementation of medical tourism at Bali Royal Hospital Denpasar with Health Minister Regulation No. 76/2015; analyzing the appropriateness of medical tourism implementation procedures at Bali Royal Hospital Denpasar with the medical tourism diagram of Deloitte 2008 model; and analyzing the satisfaction of medical tourists on the implementation of medical tourism at Bali Royal Hospital Denpasar. This research is a qualitative research with descriptive design. Medical tourism services at Bali Royal Hospital Denpasar include pre hospital, during the hospital, and post hospital services. The implementation procedure of medical tourism at Bali Royal Hospital Denpasar has not been in accordance with Health Minister Regulation No. 76/2015. The implementation procedure of medical tourism at Bali Royal Hospital Denpasar in accordance with the medical tourism diagram of Deloitte 2008 model. Medical tourists have not fully satisfied with medical tourism services at Bali Royal Hospital Denpasar. Key words: medical tourism, hospitals, Deloitte models ix
Read More
B-2019
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Ariyanto Haryoso; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Puput Oktamianti, Amila Megraini, Fiena Fitriah
Abstrak: Mutu dan keselamatan pasien saat ini merupakan salah satu tuntutan utama pengguna jasa layanan rumah sakit. Bahkan menjadi salah satu elemen penilaian akreditasi rumah sakit. Namun demikian, saat ini, mutu dan keselamatan pasien RSUD Kepulauan Seribu belum terakreditasi. Dengan demikian, RSUD Kepulauan Seribu berencana meningkatkan mutu dan keselamatan pasien agar dapat terakreditasi dua tahun mendatang. Tesis ini bertujuan menyusun rencana strategis RSUD Kepulauan seribu dalam peningkatan mutu dan keselamatan pasien untuk tahun 2019 2023.
Penelitian dalam tesis ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian menggali informasi dari informan untuk mendapatkan faktor-faktor internal dan eksternal sebagai bahan dasar menyusun strategi. Selanjutnya faktor faktor tersebut dianalisis menggunakan intrumen-instrumen Internal Factor Evaluation (IFE), dan Eksternal factor Evaluation (EVE), matriks I E, matriks TOWS, untuk menghasilkan strategi. Semua pegawai bersemangat melaksanakan kegiatan yang ditetapkan, sumber daya keuangan yang sangat banyak merupakan faktor kekuatan. Akan tetapi, sosialisasi visi dan misi yang belum maksimal, belum menetapkan prioritas program, dan belum melakukan pengukuran mutu dan keselamatan pasien masih menjadi faktor kelemahan RSUD Kepulauan seribu. Faktor peluang RSUD Kepulauan Seribu adalah Lembaga lintas sektor yang mendukung, sedangkan adanya gap kompetensi pegawai RSUD dengan puskesmas yang menghambat pelayanan adalah faktor ancaman yang harus diantisipasi. Skor IFE diperoleh 2,40 sedangkan skor EFE 2,31, sehingga RSUD Kepulauan Seribu berdasarkan matriks I-E berada pada kotak V. Dengan demikian, strategi paling tepat adalah hold dan maintain. RSUD Kepulauan Seribu, berdasarkan matriksTOWS, direkomendasikan melakukan penguatan arah kebijakan organisasi, optimalisasi anggaran, pemanfaatan kerjasama lintas sektor, pemantapan wawasan pegawai, dan penyusunan standar diklat, penyusunan program prioritas, pelaksanaan manajemen risiko, dan pengukuran mutu dan keselamatan pasien
Read More
B-2060
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Regina Destrina Damanik; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Surya Ede Darmawan, Helen Andriani, Titi Anggraeni, Jaka Supriyadi
Abstrak: Keselamatan pasien merupakan inti dari mutu pelayanan. Untuk mencapainya diperlukan komitmen yang kuat dari individu dan tim. Pentingnya budaya keselamatan ditekankan dalam sebuah laporan oleh Institute of Medicine (IOM) yang mengatakan budaya keselamatan pasien perlu dikembangkan agar selanjutnya akan difokuskan dalam upaya peningkatan reliabilitas dan keamanan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil capaian pemenuhan standar Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) dalam akreditasi Rumah Sakit berdasarkan SNARS Edisi 1. Penelitian ini menggunakan metode crossectional dari data sekunder hasil akreditasi RS yang berpedoman pada SNARS edisi 1 dalam kurun waktu tahun 2018-2019 dan khusus pada penilaian bab Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) yang bersumber dari basis data KARS. Kemudian dilanjutkan dengan metode kualitatif untuk mendapatkan faktor pendukung dan dan penghambat akan dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap informan sesuai dengan syarat informan. Penelitian dilakukan menggunakan data sekunder dari basis data SIKARS pada tahun 2018-2019 yang diperoleh dengan persetujuan Ketua Eksekutif KARS setelah melalui kaji etik. Kemudian setelah mendapatkan data sekunder dilanjutkan dengan wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini adalah dari 1271 rumah sakit yang telah diakreditasi oleh KARS tahun 2018-2019 hampir seluruh RS Kelas A, B, C dan D memenuhi secara lengkap standar fokus area 1 PMKP. untuk capaian fokus area 2, 3, 4 dan 5 PMKP, lebih banyak RS kelas A yang terpenuhii secara lengkap dibandingkan RS kelas B, C dan D. Dari uji komparatif ditemukan seluruh fokus area 1,2,3,4 dan 5 PMKP berhubungan dengan RS Kelas A,B,C dan D dengan nilai p <0,005. Faktor yang mendukung terhadap pemenuhan standar PMKP adalah adanya dukungan top manajemen, fasilitas yang mendukung budaya pelaporan mutu dan keselamatan pasien. Factor yang menghambat adalah kurangnya pelatihan yang mengenai Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
Read More
B-2211
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Gusti Gede Utara Hartawan; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Amila Megraini, Puput Oktamianti, Mustikasari, Komang Ayu Mustriawati
Abstrak: Peningkatan jumlah kunjungan pasien di UGD Rumah Sakit Bali Royal tidak diikutidengan perubahan jumlah ketenagaan perawat. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui beban kerja perawat dan kebutuhan perawat di UGD Rumah Sakit BaliRoyal. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Pengamatandilakukan oleh peneliti untuk mengetahui waktu yang dihabiskan oleh perawatdalam melayani pasien dengan menggunakan metode Time Motion Study. Hasilpenelitian menunjukkan beban kerja untuk pasien gawat darurat sebesar 63,4 menitper hari (1,1 jam per hari), pasien gawat tidak darurat 1.585,5 menit per hari (26,4jam per hari), dan pasien darurat tidak gawat 2.187,7 menit per hari (36,5 jam perhari) dan kebutuhan tenaga perawat di UGD Rumah Sakit Bali Royal sebesar 17orang. Diperlukan penambahan tenaga perawat pelaksana sebanyak 3 orang.Kata Kunci : unit gawat darurat, perawat, time motion study, beban kerja, kebutuhanperawat.
The increasing number of patients visit in the Emergency Unit of Bali RoyalHospital is not followed by a change in the number of nurses. The purpose of thisstudy was to determine the workload of nurses and nurses needs in the EmergencyUnit of Bali Royal Hospital. This research was a descriptive quantitative research.Observations were made by the researcher to determine the time spent by nurses inserving patients by using the Time Motion Study. The results shown the workloadfor critically emergency patients at 63.4 minutes per day (1.1 hours per day),critically non emergency patients 1,585.5 minutes per day (26.4 hours per day), and2,187 minutes per day (36.5 hours per day) for non critical-but emergency patientsand the need for nurses in the Emergency Unit of Bali Royal Hospital was 17 people.Nurses needed additional power as much as 3 people.Keywords : emergency unit, a nurse, time motion study, workload, the need fornurses
Read More
B-1611
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gede Harsa Wardana; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Adang Bachtiar, A. A. N. Biarta; Virawan, Made Koen
B-1992
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive